TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Anazkia

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Anazkia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anazkia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juni 2016

Lengkapnya Fasilitas Sinarmas World Academy (SWA) di BSD




Sinarmas World Academy (SWA) di BSD City, Tangerang, Banten, Indonesia


PENDIDIKAN merupakan kunci utama kesuksesan bagi suatu bangsa. Guru SMP saya pernah cerita, faktor utama keberhasilan Jepang saat ini salah satunya berkat pemerintahannya yang peduli pada pendidikan. Terutama ketika negara mereka hancur usai kekalahan di Perang Dunia II.

Saat itu, -konon- kaisar Jepang langsung memerintahkan bawahannya untuk mencari guru yang selamat. Bukannya, mencari jenderal, ahli strategi, menteri, apalagi pengusaha. Melainkan guru. Ya, guru... Namun, berkat keuletan para guru itu mendidik dan mengajar muridnya membuat Jepang kini menjelma sebagai salah satu negara terhebat di dunia.

Sementara, di dalam negeri, saya mendapat banyak kisah yang tak kalah hebatnya dibanding Jepang. Terutama mengenai kiprah tokoh pendidikan Indonesia yang berjuang untuk bakti kepada bangsa. Beberapa di antaranya seperti Ki Hadjar Dewantara yang dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, Ahmad Dahlan, Hasyim Ashari, Soerjono (Pak Kasur), dan banyak lagi.

Tanpa peran mereka, mungkin Indonesia tidak bisa maju seperti ini. Lantaran dari kerja keras mereka, sukses melahirkan banyak guru yang secara beruntun menurunkan ilmu kepada muridnya tanpa kenal lelah dan tanpa pamrih. Itu mengapa, guru kerap disebut sebagai "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa".


*       *       *
SIANG itu, Rabu (8/6), saya mendapat kehormatan untuk berkumpul dengan beberapa rekan blogger inspiratif di Sinarmas Land Plaza, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Bersama Emmy Kuswandari, blogger aktif yang juga perwakilan dari Sinarmas Group, Anazkia (pengelola Tempo Indonesiana), dan belasan blogger lainnya, kami berangkat menuju kawasan Bumi Serpong Damai (BSD).

Tujuan kami untuk tour ke sekolah. Tepatnya, mengunjungi fasilitas Sinarmas World Academy (SWA) di BSD City, Tangerang Selatan. Bagi saya, ini sangat menarik. Sebab, ini jadi pengalaman perdana saya sebagai blogger yang akhirnya "kembali ke sekolah".

Sekaligus, menambah daftar portofolio saya di dunia blogging. Maklum, sebelumnya saya pernah mengikuti berbagai aktivitas seperti tur dari stasiun ke stasiun, perumahan, kantor Bea Cukai, kantor pajak, pabrik ponsel, oli, sepeda motor, air mineral, dan kertas.

Untuk yang terakhir, kebetulan, termasuk dalam Sinarmas Group. Yaitu, PT Pindo Deli Pulp and Paper (APP) di Karawang, Jawa Barat, pada 19 April lalu. Sebelumnya, saya juga kerap menghadiri acara yang berkaitan dengan Sinarmas Group. Mulai dari perbankan, mal, arsitektur, televisi berbayar, hingga aplikasi canggih lainnya.

Tak heran jika saya penasaran untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Sinarmas World Academy. Bisa dipahami mengingat saya sering membaca di media mengenai sekolahan elite ini yang kerap mencetak murid/siswa-siswi berprestasi.

"Di sini, disiplin merupakan yang utama. Terutama bagi anak kecil yang baru masuk SWA. Kami selalu mengajarkan disiplin sejak dini agar ketika dewasa bisa terbiasa dengan kehidupan yang luas," tutur Sofia Tanuwaty, perwakilan dari Sinarmas World Academy yang memandu kami di kompleks sekolah seluas 51 ribu meter persegi ini.

Dalam kesempatan itu, wanita murah senyum ini mengajak kami untuk mengunjungi berbagai fasilitas di Sinarmas World Academy. Mulai dari TK, SD, SMP, hingga SMA. Ternyata, setiap toilet dibedakan menurut jenjang sekolah.

Bagi saya ini menarik, karena ketika mengunjungi toilet TK, ternyata didesain untuk anak usia 4-6 tahun. Alias, klosetnya, benar-benar pendek. Begitu juga dengan wastafel yang ada pijakan untuk cuci tangan.

Untuk fasilitas lainnya, Sinarmas World Academy ini benar-benar memenuhi kebutuhan bagi para murid/siswa. Saya sempat kaget ketika menginjakkan kaki di lapangan berstandar internasional ini. Maklum, rumputnya berkualitas wahid yang bisa meminimalkan cedera. Bahkan, lapangan SWA ini kerap digunakan Liverpool International School Football Academy untuk latihan.

Ya, berbagai fasilitas itu dibangun untuk menunjang pendidikan murid/siswa di SWA. Termasuk, ketika kami mengunjungi gedung Design and Technology. Gedung empat lantai ini benar-benar "surga" bagi siswa yang suka bereksperimen. Sebab, semua fasilitas untuk tingkatan SMP-SMA tersedia di sini.

Dengan berbagai fasilitas tersebut, tak heran jika di lemari SWA tampak puluhan penghargaan. Baik kategori lokal, nasional, hingga internasional! Termasuk, meraih The International Award for Young People 2011. Setahun kemudian, salah satu siswanya, Christi Zakarias, jadi pelajar Indonesia pertama yang mendapat penghargaan The International Diana Award.

"Di sini, kami sejak dini mendidik dan mengajar siswa agar disiplin. Dengan disiplin akan menciptakan sistem yang teratur. Kelak, siswa kami dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk pada pelajaran yang jika konsisten bisa menuai prestasi," Sofia, mengungkapkan.

Apa yang dikatakan Public Relation SWA ini beralasan. Sebab, kota Roma memang tidak dibangun dalam semalam. Untuk itu, demi menciptakan pendidikan yang berkualitas di Indonesia, harus dimulai sejak dini yang secara disiplin dan berkesinambungan. Itu semua sudah diterapkan dengan baik di Sinarmas World Academy...

Informasi tentang SWA:
- Situs resmi: swa-jkt.com
- Fan-page Facebook: Sinarmas World Academy
- Twitter: @swa_jkt
- Instagram: @swa_jkt

Lokasi SWA:
Jalan TM Pahlawan Seribu CBD Lot XV, BSD City, Tangerang, Indonesia

Akses:
Kendaraan pribadi: Tol Jakarta-Serpong
Angkutan umum: Terminal BSD yang menghubungkan dengan berbagai titik di Jakarta
Kereta Api: Stasiun Rawabuntu dan Serpong

Perkiraan Jarak Tempuh:
10 Menit dari Alam Sutera dan Gading Serpong
20 Menit dari Bintaro dan Puri Indah
30 Menit dari Tomang dan Pondok Indah
40 Menit dari Menteng, PIK, Kemang, dan Senayan
50 Menit dari Sunter dan Kelapa Gading


*       *       *
Jarak dari pusat kota di Sinarmas Land Plaza, Jakarta Pusat, menuju SWA


*       *       *
#WeLoveSWA merupakan tagar yang menghubungkan siswa dengan orangtua murid, dan guru di media sosial


*       *       *
Perpustakaan superluas yang terletak di gedung Art Center


*       *       *
Diskusi rekan blogger dengan Emmy dan Sofia


*       *       *
Sofia yang membuka wawasan kami tentang pentingnya disiplin sejak dini


*       *       *
Siswa SWA jadi pembuka di ajang 13th World Wushu Championship 2015


*       *       *
Bebragai karya sastra klasik di perpustakaan SWA


*       *       *
Timelien SWA sejak 2008 hingga kini


*       *       *
Berbagai piala, piagam, dan penghargaan yang diraih SWA


*       *       *
Majalah dinding (mading) buka bersama


*       *       *
Ini kloset untuk murid TK


*       *       *
Wastafel untuk murid TK


*       *       *
Sejak dini diajarkan cinta lingkungan


*       *       *
Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang selalu tersedia di SWA


*       *       *
Pertunjukkan murid TK di teater SWA yang menampung 400 penonton


*       *       *
Lukisan raksasa yang merupakan hasil murid dan siswa SWA


*       *       *
Mural Laksamana Zheng He (Cheng Ho)


*       *       *
Gedung Gajah Mada 


*       *       *
Arena olahraga untuk basket


*       *       *
Kolam renang semi-olimpik


*       *       *
Gedung Desain dan Teknologi


*       *       *
Lambang The Vitruvian Man di pintu studio musik SWA


*       *       *
Hasil karya siswa SWA


*       *       *
Peralatan di dapur yang disediakan SWA untuk kegiatan siswanya


*       *       *
Berbagai hewan mati untuk diteliti di laboratorium SWA


*       *       *
Anatomi manusia di laboratorium


*       *       *
Ruang IT untuk belajar yang unik


*       *       *
Lapangan SWA yang berstandar internasional


*       *       *
Rumput di lapangan SWA berkualitas wahid


*       *       *
Siswa-siswi SWA belajar di pinggir lapangan


*       *       *
Pepohonan yang tumbuh alami


*       *       *
Orangtua dan murid foto bersama di depan taman yang ikonik


*       *       **       *       *
*       *       **       *       *
*       *       **       *       *

*       *       *

Artikel terkait Sinarmas Group
Kunjungan Blogger ke PT Pindo Deli Pulp and Paper (APP)
- Menikmati TSC 2016 Bersama Orange TV
Aplikasi OrangeKu bikin Mudah Cek Jadwal Pertandingan Sepak Bola
Jadi Sutradara dalam ProjecTV Genflix
Genflix Puaskan Penggemar Seri A
Piala Amerika dalam Genggaman Bersama Genflix
Grand ITC Permata Hijau bikin Kontes Modifikasi

*       *       *
- Jakarta, 11 Juni 2016

Rabu, 09 Maret 2016

(Esai Foto) Selamat Ulang Tahun ke-45 Tempo dan Terus Berkembang Indonesiana


#TEMPO45Tahun
"ALAMATNYA bukan di Mayestik, pak. Tapi, di Palmerah," kata saya kepada rekan sopir yang mengantar kepulangan dari Bandung.

"Lha, setahu saya deket Kebayoran. Soalnya, dua tahun lalu saya pernah ke sana," pria asal Tebet ini menjelaskan.

"Gue baca di tempo.co, alamat perusahaan di Palmerah Barat, bro. Tapi, (alamat) redaksinya di Mayestik. Coba aja datengin satu per satu," tutur rekan saya menimpali sambil memperlihatkan laman situs tersebut pada layar telepon seluler (ponsel).

"Ga tahu juga deh. Di majalahnya malah alamat redaksi dan perusahaan sama-sama di Palmerah. Tadi, sih mbak yang telepon cuma bilang lantai tujuh. Pas ane telepon balik malah ga aktif. Ya udah nanti turunin saya di kantor aja pak. Ntar dari GBK saya naik motor ke Palmerah, kan dekat," saya menjelaskan.
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Percakapan itu terjadi ketika kendaraan yang saya tumpangi memasuki kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Rencana saya mau ke kantor Tempo untuk mengambil hadiah pemenang lomba blog Indonesiana bertema Figur Inspiratif. Itu setelah pagi harinya saya mendapat telepon dari perwakilan mereka. 

Singkatnya, saya tiba depan gedung yang menjulang gagah dan unik. Setelah bertanya ke petugas keamanan, ternyata bangunan berbentuk kubus itu yang atasnya diagonal itu memang benar milik Tempo. Di lobi berderet puluhan bunga ucapan dari berbagai perusahaan kakap di negeri ini untuk majalah yang Minggu lalu genap 45 tahun.
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Saat menuju lift, saya melewati ruangan yang berisi berbagai majalah atau koran yang mungkin akan diedarkan. Seketika, saya jadi teringat obrolan dengan Dahlan Iskan di mobil dinasnya ketika masih jadi Menteri BUMN medio 2013. Saat itu, pria asal Magetan, Jawa Timur itu memotivasi saya dengan cerita masa mudanya hingga menjelang paruh baya. Salah satunya ketika jadi wartawan Tempo yang secara eksklusif meliput kecelakaan Kapal Tampomas pada 1981. 

"Saya dibesarkan Tempo sebelum akhirnya memimpin Jawa Pos. Salah satu pengalaman yang paling berkesan dan menegangkan ketika menyasksikan mayat berserakan di laut dekat kapal itu," kata Dahlan dalam perjalanan dari kantornya di kawasan Medan Merdeka Selatan untuk mentraktir saya di restoran Bubur Kwang Tung, Pecenongan,
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Di sisi lift, terdapat berbagai informasi untuk kalangan internal Tempo. Ada jadwal pertandingan olahraga, informasi terkini yang sekilas seperti majalah dinding (mading) waktu saya sekolah, hingga iklan. Ternyata, Gedung Tempo juga menerima pihak swasta yang mau menyewa beberapa lantai atau ruangannya.

*       *       *
#TEMPO45Tahun

"Silakan menunggu ya mas. Mbak Widya (kalo ga salah, saya lupa namanya) sedang rapat," ucap salah satu pegawai Tempo di bagian informasi. Sambil membunuh waktu, saya iseng-iseng membaca Koran Tempo yang tersedia. Dibanding majalah, edisi harian ini memang lebih ringkas. Kebetulan, terakhir kali saya beli Koran Tempo pada edisi 15 Januari lalu. Saat itu, saya tertarik dengan halaman depan yang memuat lima foto utama Insiden Thamrin.
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Setelah selesai membaca Koran Tempo, saya pun iseng menuju jendela yang terletak di samping lift. Dari lantai tujuh, tampak wajah ibu kota yang sebenarnya. Di tenggara, terlihat deretan gedung bertingkat yang berdampingan dengan perumahan penduduk. Termasuk, kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) yang merupakan tempat saya kerja.

*       *       *
Foto: Instagram @Anazkia

"Ini mas ditandatangani sebagai bukti penerimaan. Oh ya, kita foto dulu ya untuk dokumentasi," ujar pegawai Tempo bernama -kalau tidak salah- Alif saat menyerahkan ponsel yang merupakan hadiah Lomba Blog Indonesiana Figur Inspiratif. Setelah mengucapkan terima kasih, saya meminta tolong kepadanya untuk dipertemukan dengan admin Indonesiana. Kebetulan, dua di antaranya sudah saya kenal sejak 2011, Rob Januar dan Anazkia. 

*       *       *
#TEMPO45Tahun

Sayangnya,  saya hanya berjumpa Anazkia. Sementara, Rob yang terakhir kali saya temui ketika menjelajah setiap sudut Gedung DPR/MPR bersama Komunitas Hobi Jepret (Kampret) pada 20 September 2014, sedang tidak ada. Saat itu, Anazkia langsung mengajak saya ke ruang kerjanya yang berbaur dengan berbagai desk Tempo lainnya.

Bahkan, novelis "15 November: Mengingatmu dalam Catatanku" ini, menjelaskan berbagai hal tentang Indonesiana. Maklum, saya pribadi belum lama aktif menulis di blog publik milik Tempo ini. Tepatnya, pada 18 Februari lalu dengan langsung menunggah artikel berjudul, "The Revenant: Tertolong Sinematografi dan Totalitas Di Caprio."

"Siapa pun boleh bergabung dan menulis di Indonesiana," kata Anazkia yang mendapat penghargaan Srikandi Blogger 2013 ini. "Indonesiana juga memperbolehkan penulis atau blogger yang menyalin artikelnya dari blog pribadi. Yang penting, tulisan itu asli dan bukan copy-paste. Setiap harinya terdapat ratusan tulisan yang beredar di Indonesiana."

Pernyataan dari wanita yang saya kenal sejak bergabung dengan Komunitas Blogger Hibah Buku ini memang beralasan. Sebab, Indonesiana menyandang nama besar Tempo sebagai bagian dari grup media yang mengutamakan jurnalime investigatif. Serupa dengan Kompasiana yang merupakan adik kandung dari Harian Kompas.
*       *       *
#TEMPO45Tahun

Setelah ngalor-ngidul nyaris satu jam, saya pun pamit kepada Anazkia untuk kembali ke kantor. Namun, sosok yang dinobatkan sebagai Perempuan Inspiratif Nova 2014 ini mengajak saya untuk "tur" di sekitar gedung. Termasuk memperlihatkan huruf T raksasa di langit-langit ruangan tersebut. "Saya saja baru tahu huruf itu waktu Dian (Sastrowardoyo) datang ke sini," kata Anazkia menyebut pameran Cinta dalam film AADC ini yang dimuat Tempo edisi 22 Februari lalu.

*       *       *
#TEMPO45Tahun

Ketika menuju lift, ternyata terdengar suara musik yang mengalun indah. Saya pun penasaran yang dijawab Anazkia, "Itu paduan suara untuk memperingati ulang tahun Tempo ke-45. Acaranya sore ini. Datang aja rul."

Sayangnya, waktu di ponsel saya sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Alhasil, saya langsung pamit untuk kembali ke kantor dengan membawa hadiah dan segudang cerita. Ya, adagium lawas mengatakan, "tiada perjamuan yang tak berakhir."

*       *       *
#TEMPO45Tahun

Esok harinya, kebetulan saya libur kerja. Jadi, mempunyai waktu untuk membongkar gudang demi mencari beberapa koleksi Tempo. Kebetulan, saya sudah membaca majalah mingguan tersebut sejak awal 2000-an ketika masih berseragam abu-abu. Pasalnya, keluarga di rumah sering beli eceran di kios depan stasiun yang berlangsung hingga kini.

Seperti yang dikatakan Dahlan tiga tahun lalu, Tempo bukan sekadar majalah berita mingguan saja. Melainkan sudah jadi alternatif sumber berita  utama di berbagai kalangan. Mulai dari masyarakat umum hingga instansi pemerintah.

*       *       *
#TEMPO45Tahun

Selain faktor jurnalisme investigatif yang kerap saya adopsi dalam penulisan blog, yang saya suka dari Tempo karena sampulnya. Ya, di era "senjakala media" saat ini, satu foto (atau karikatur) jadi lebih bermakna dibanding ribuan kata yang jadi pemikat untuk pembaca. Itu seperti yang diungkapkan Bob Mayer, "Content is King. Promotion is Queen."

Ya, selamat ulang tahun ke-45 Tempo. Terus berkembang Indonesiana!

*       *       *
Artikel Terkait
- Beda Nasib Kartini-Kartono
- Tertawa ala Goenawan Muhamad
- Sisi Lain Dahlan Iskan
- Dahlan Iskan dan Gerbong Terakhir
- Wawancara Eksklusif: Dahlan Iskan
- Resensi Buku Anazkia: 15 November
- Gerakan Hibah Sejuta Buku
- 45 Pemenang Figur Inspiratif
- Christie Ubah Keterbatasan Jadi Kelebihan

Esai Foto sebelumnya:

*       *       *
- Jakarta, 8 Maret 2016