TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Polisi Kini Humanis tapi Jangan Didramatisir dan Puji Berlebihan, Memang Sudah Tugasnya

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Senin, 15 Juni 2026

Polisi Kini Humanis tapi Jangan Didramatisir dan Puji Berlebihan, Memang Sudah Tugasnya

Polisi Kini Humanis tapi Jangan Didramatisir dan Puji Berlebihan, Memang Sudah Tugasnya

Para petugas mengatur rekayasa jalan
di Tugu Selamat Datang
(Foto: dok.pribadi/@roelly87)



PETANG itu, jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (12/6) tampak lenggang. Tepatnya, berlangsumg usai Salat Jumat hingga matahari condong ke barat.

Itu karena ada unjuk rasa dari adik-adik mahasiswa di berbagai daerah yang akan kumpul di Tugu/Monumen Selamat Datang. 

.

<<<btw, saya lebih suka nulis ini secara formal ketimbang Bundaran HI, karena terkait merek. 

Selengkapnya: Bukan Bundaran HI, harusnya Monumen Selamat Datang - https://www.roelly87.com/2025/01/bukan-bundaran-hi-harusnya-monumen.html>>>

.


Alhasil, selentingan info yang saya dapat, konon mayoritas pekerja kantoran di kawasan tersebut pulang cepat. Alias, setengah hari demi antisipasi hal buruk.

Maklum, sepanjang Jalan Thamrin-Jenderal Sudirman merupakan pusat bisnis. Banyak kantor pemerintahan, BUMN, BUMD, swasta raksasa, kedutaan negara sahabat, media, dan sebagainya.

Namun, fakta di lapangan, normal-normal aja. Jalanan memang sepi tidak seperti Jumat biasanya yang macet akibat jam pulang kerja, tapi aktivitas kendaraan tetap lancar. 

Kecuali, Bus Transjakarta yang dialihkan sementara waktu. 

Sumber: https://vt.tiktok.com/ZSQQBdEkU/ dokumentasi pribadi - @roelly87

Alhamdulillah, aksi unjuk rasa yang dilakukan adik-adik mahasiswa berlangsung lancar. Mereka benar-benar demo untuk menyalurkan aspirasi rakyat. 

Ga ada yang aneh-aneh. Sumpah, itu yang saya amati terkait aksi mahasiswa yang orasi di Halte Tosari.

Tidak seperti Agustus 2025 yang ditunggangi para penyusup berujung rusuh di berbagai daerah.

Sebagai bloger yang berprofesi ojek online (ojol), saya tentu enggan melewatkan momen ini disela-sela keliling cari orderan. Salah satunya, melihat langsung kinerja aparat.

.


<<<untuk aktivitas terkait mahasiswa yang tertahan di Halte Tosari, akan saya ulas dalam POV lainnya nanti>>>

.

*          *          *


JALAN Imam Bonjol-Agus Salim-Mochamad Yamin merupakan titik singgah kepolisian yang bertugas dalam mengawal demonstrasi. Baik itu melakukan persiapan, tempat logistik, hingga istirahat dan makan.

Kebetulan, saya lewat beberapa kali. Sempat berbincang dengan mereka yang masih muda-muda dan energik.

"Bro, kok bawa beceng?" kata saya menghampiri kerumunan polisi berompi hitam.

Maklum, sebelumnya saya baca berita, Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya menegaskan, anggotanya tidak membawa senjata api. Mumpung lewat, jadi saya konfirmasi langsung.

"Bukan mas. Ini Gas Air Mata," ujar polisi yang sekilas mirip Bowo dalam film The Raid.

Rekannya di sebelah yang sedang pakai helm, menimpali, "Ini memang selalu dibawa, (tapi) ga dipake kok Mas. Hanya jaga-jaga. Opsi terakhir."

Saya pun mengangguk. Pas diamati seksama, emang bukan senapan seperti yang saya sering main game saat muda, Counter Strike dan Point Blank yang populer pada 2000-an.

"Kami selalu humanis kok dalam mengawal unjuk rasa. Adik saya dan sepupu aja mahasiswa," polisi mirip Bowo, menjelasakan.

Sejuk mendengar penjelasan itu. Saya percaya, seburuk apa pun instansi, termasuk kepolisian, tentu ada yang bagus. 

.

<<<next POV anggota polisi/TNI yang nyambi jadi ojol untuk menambah penghasilan. Saat mengantar orderan, mereka "lebih ojol" daripada ojol biasanya>>>

.


Hanya, kadang sisi positif mereka tertutup aksi negatif oknum yang kalo dikumpulin bisa satu mabes!

Hahaha.

"Semoga kalian tetap memanusiakan manusia ya dalam melakukan pengawalan aksi unjuk rasa dari adik-adik mahasiswa," tutur saya hendak pamit karena aplikasi bunyi pertanda masuk orderan.

"86 mas." Mirip Bowo itu mengacungkan jempol.

"Aman mas. Kita selalu humanis terhadap para unjuk rasa dan tetap melakukan pendekatan persuasif," anggota lainnya mengomentari.

Ya, kebebasan berpendapat, termasuk unjuk rasa dijamin secara konstitusional dalam Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hak asasi ini jadi salah satu pilar utama dalam sistem demokrasi Indonesia.

Siapa pun berhak untuk melakukan demo. Baik mahasiswa, buruh, ojol, Guru atau Tenaga Pendidik, Nakes, dan sebagainya.

Hanya, harus diperhatikan waktu dan tempatnya. Terutama, agar tidak ditunggangi para penyusup seperti Agustus lalu.

Saat itu, saya menyaksikan langsung adanya provokasi dan penyusup saat unjuk rasa di kawasan Slipi dengan melempar batu. Di sisi lain, saya juga melihat dengan mata kepala sendiri, betapa polisi gampang terpancing hingga berlaku represif kepada massa.

Bisa disimak dalam rekaman video yang saya unggah di tiktok: 

- https://vt.tiktok.com/ZSAvXorX8/

- https://vt.tiktok.com/ZSQfmgvTX/

- https://vt.tiktok.com/ZSQfmfkkY/


Bersyukur, unjuk rasa 12 Juni lalu kondusif. Jika ada aksi demo lagi, saya harap tetap berlangsung aman.

Dan, yang terpenting, aspirasi mereka, adik-adik mahasiswa turut didengar pemerintah. Tujuannya, agar negeri ini lebih baik lagi... Aamiin!


*          *          *


SAYA enggan memberi pujian berlebih kepada polisi yang bertugas meski sudah berlaku humanis dan persuasif. Sebab, itu memang sudah tugasnya.

Ga perlu didramatisir lagi. Sesuai desk job-nya. Toh, mereka digaji bukan relawan tanpa pamrih. 

Sama halnya dengan profesi lain, termasuk ojol. Saya aja tetap menjalankan orderan ketika macet, hujan, banjir, ada demo, keos, dan sebagainya.

Ga bahaya?

Seperti kata Amado Carrillo Fuentes "El SeƱor de los Cielos" dalam Narcos: Mexico, bahwa krisis adalah peluang. Alhasil, saya tidak menyia-nyiakan setiap orderan termasuk di tempat demo. Yang penting jaga keselamatan aja.

Btw, untuk banjir, kalo di kawasan Kelapa Gading, Cengkareng, Bukit Duri, hingga Cipinang, itu santapan sehari-hari. Aman.

Beda cerita kalo banjir di Muara Karang, Muara Angke, Dadap, dan PIK, saya nyerah. Sebab, kawasan itu dekat pantai yang berarti banjirnya dari air laut. 

Senekat-nekatnya saya masih punya rasa takut. Sebab, air laut sangat bahaya bagi motor, khususnya mesin yang bisa korosi. 

Perbaikannya di bengkel resmi jauh melebihi ongkos ojol termahal sekalipun. Makanya, saya ogah kalo dapat orderan di tempat banjir dekat laut. 

Bukan maksud nolak rezeki, tapi antisipasi motor rusak akibat karat.


*          *          *

Situasi Jalan Thamrin yang cukup lenggang
meski di jam sibuk pulang kerja
(Foto: dok.pribadi/@roelly87



SELAIN ribuan polisi yang bertugas mengamankan demo, ada beberapa pihak lain yang turut aktif. Itu meliputi TNI, Damkar, Tim Medis, Dishub, Satpol PP, hingga Pasukan Oren (PPSU).

Mereka tersebar di berbagai titik Jalan Thamrin-Sudirman. Mulai dari Sarinah, Tugu Selamat Datang, Halte Tosari, Stasiun Sudirman-Bandara, hingga MRT Setiabudi. 

Itu yang saya lihat langsung. Untuk Semanggi-GBK-DPR, saya kurang tahu karena tidak ke sana.

"Pak dan Ibu, maaf ya arah Monas dialihkan. Bisa lewat alternatif Jalan Margono tembus Stasiun Karet atau via Dukuh Atas arah Galunggung ke Menteng."

Demikian himbauan dari petugas yang pakai seragam Dishub didampingi Satpol PP dan polisi di samping Wisma BNI 46, Jalan Sudirman. 

Saya acungi jempol terkait informasi yang mereka berikan sangat rinci. Jadi, masyarakat yang hendak melintasi Halte Tosari bisa cari alternatif lain ke arah utara.

Pun demikian sebaliknya, dari Tugu Selamat Datang menuju selatan yang sempat dialihkan lewat Imam Bonjol dan Kebon Kacang. Ada beberapa petugas yang turun tangan membantu pengendara motor dan mobil yang banyak kebingungan.

Keberadaan Dishub dan Satpol PP memberi sedikit kesan baik di mata saya. Maklum, dari dulu saya kurang suka sama kedua instansi itu.

Berdasarkan pengalaman pribadi, Dishub suka mengangkut kendaraan rakyat jelata dan taksi. Namun, jika mobil mewah dan milik pejabat, mereka pura-pura ga melihat seperti yang tiap hari ada di Senopati, Blok M, Kemang, dan mayoritas kawasan ramai di Jakarta.

Begitu juga dengan Satpol PP yang beraninya mengusir pedagang kaki lima, tapi gentar dengan restoran yang etalasenya menjorok ke jalan serta warung tenda yang berdiri di trotoar hingga menyulitkan akses pejalan kaki.

Sumpah, saya konsisten menulis di blog dari dulu, agar Dishub dan Satpol PP dibubarkan. Ga ada faedahnya.

Bagaimana dengan polisi? Banyak yang saya benci. Namun, saya ingat kalo bikin atau perpanjang SIM dan STNK butuh polkis.

TNI? Ya sama, 11/12, bahkan sejak era Prabowo Subianto jadi presiden, loreng ini makin ga beres. Oknum sih katanya. Mulai dari nyiram aktivis hingga jadi debt collector.

Duh, ga ada yang bener deh...

Kasian amat, rakyat jelata jadi WNI?

Namun, seperti kata eks menteri, "Jangan pernah lelah mencintai negeri ini!" 

Preeet! 

Doi duitnya banyak. Kentut juga wangi kalo yang ngomong hartanya melimpah. 

Hahaha!


*          *          *


Artikel Terkait:


- Pertamax Naik, Ojol pun di Persimpangan (https://www.roelly87.com/2026/06/pertamax-naik-ojol-pun-di-persimpangan.html)

- Sisi Lain Kerusuhan 28-31 Agustus: Demo Silakan, Anarkis Jangan! (https://www.roelly87.com/2025/09/sisi-lain-kerusuhan-28-31-agustus-demo.html)

- Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat (https://www.roelly87.com/2026/04/anak-cowok-jadi-homo-yang-cewek-pelakor.html)

- Terjebak di Toilet SPBU Kuningan (https://www.roelly87.com/2024/10/terjebak-di-toilet-spbu-kuningan.html)

- Lulusan SMA Dibekali Senjata Itu Bernama Polisi (https://www.roelly87.com/2025/02/lulusan-sma-dibekali-senjata-itu.html)

- Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja (https://www.roelly87.com/2025/04/saya-ga-menyesal-pilih-prabowo-memang.html)

- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)

- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-gemoy-tapi-tangannya-berlumuran.html)

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-presiden-2024-ganjar-mendagri.html)

- Anies adalah Liu Bei, Mega = Sun Quan, dan Jokowi = Cao Cao? (https://www.roelly87.com/2024/08/anies-adalah-liu-bei-mega-sun-quan-dan.html)

- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia

- 9 Naga dan 3 Capres

- Prabowo dan Kedaulatan Selera

- Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik

- Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona (https://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html)

- Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran...

- Manusia Lebih Anjing daripada Anjing

- Di Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil

- Jokowi, Sang Gubernur Gaul

- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif


*          *          *


- Jakarta, 15 Juni 2026




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan obat kuat, virus, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik.

Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)