TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan

Di Perbatasan, Harga Diri Indonesia Dipertaruhkan
PLBN Entikong

Selasa, 16 Juli 2019

Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150






NARIK Go-Jek menggunakan sepeda motor sport? Yes, susah-susah mudah... Namun, karena tidak ada pilihan, terpaksa saya jalanin.

Secara, satu-satunya sepeda motor yang saya punya, merek Suzuki GSX-R150. Sebelumnya, saya sudah tanya-tanya ke beberapa rekan senior, yang sudah lebih dulu jadi Go-Ride alias pengemudi ojek online dengan bendera Go-Jek.

Menurut mereka, tak masalah. Hanya, dibanding sepeda motor jenis bebek atau matic, jelas sport lebih sulit. Fakta itu yang saya alami dalam tiga hari terakhir.

Tepatnya, sejak kali perdana narik pada Sabtu (13/7). Sebab, saya harus memilih calon penumpang. Biasanya, kaum hawa, terutama ibu-ibu kesulitan.

Itu karena jok GSX tinggi dibanding bebek atau matic. Apalagi, tidak ada untuk menaruh barang. Misalnya, matic dengan mengaitkan tas di leher kemudi.

Alhamdulillah, dari puluhan order, baru dua -semoga tidak nambah- yang cancel. Alasannya, wajar. Kedua calon penumpang itu kesulitan untuk duduk.

Saya pun memahami dengan meminta maaf dan bersedia cancel. Nah, yang menarik, justru mayoritas bersedia meski di jalan jadi susah.

Salah satunya, seorang wanita paruh baya yang tak keberatan dibonceng meski joknya kecil. Bahkan, beliau harus memegang dua plastik, di kanan berisi makanan beberapa dus dan kiri belasan buku tulis.

"Ga apa-apa mas. Saya kalau sudah pesan, ga enak untuk batalin," kata ibu tersebut saat saya jemput di kawasan Pasar Pagi, Jakarta Barat, Sabtu (13/7).

Saya beberapa kali mengajukan untuk cancel karena khawatir merepotkan. Justru, beliau bergeming. Sambil tertawa mengatakan, "Saya belum pernah naik motor seperti ini. Sekali-sekali jajal."

Sepanjang jalan menuju asrama salah satu angkatan di pinggir ibu kota, beliau pun sangat ramah. Termasuk, menceritakan buku tersebut untuk anaknya yang masih sekolah. Sementara, makanan untuk suguhan acara halal bi halal di kompleksnya.

Sampai tujuan, saya kaget. Sebab, ibu itu masih memberi tip. Padahal, beliau sepertinya juga pegal akibat kedua tangan menopang belanjaan. Ketika saya beri kembalian, ibu itu menolak karena biasanya kalau naik ojek online memang tidak mengambil kembalian.

Sejauh ini, saya memang mencari penumpang di kawasan yang ramai. Biasanya, di seputar SCBD, Senayan, Sarinah, Menteng, hingga Kuningan. Nah, lima kawasan itu yang menurut saya "gemuk". Alias, banyak order meski malam hari.

Ya, memang saya biasa narik sekitar pukul 23.00 WIB usai pulang kerja hingga 05.00 WIB dini hari. Bangun tidur, sekitar pukul 12.00 WIB, saya cari 3-5 orderan yang sedapatnya sebelum masuk kerja.

Kalau dihitung, berkisar 10 jam di jalan yang sehari bisa narik belasan penumpang. Bahkan, Minggu lebih ramai karena ada CFD di beberapa titik ibu kota.***

Ditulis sambil menunggu penumpang di kawasan Taman Menteng, Jakarta Pusat

- Jakarta, 16 Juli 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan obat kuat, virus, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik.

Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...

Terima kasih :)