TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: VIVA Group

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label VIVA Group. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label VIVA Group. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Desember 2015

Tujuh Rahasia Inter Sukses Dominasi Seri A Musim Ini




FC Internazionale sukses mendominasi Seri A Italia musim ini. Skuat asuhan Roberto Mancini itu melenggang sendirian di puncak klasemen sementara. Itu setelah mereka menekuk Udinese dengan empat gol tanpa balas di Stadion Friuli, Sabtu (12/12) atau Minggu dini hari WIB. Mauro Icardi jadi bintang kemenangan Inter berkat dua golnya pada menit ke-23 dan 83 diikuti Stevan Jovetic (31), dan Marcelo Brozovic (86).

Yang menarik, tak lama berselang, rival mereka justru gagal mendulang kemenangan. Napoli diimbangi AS Roma tanpa gol dan Fiorentian ditekuk Juventus 1-3. Alhasil, kini Inter kian mantap sebagai pemuncak klasemen dengan 36 poin dari 16 pertandingan. "I Nerazzurri" mengungguli Fiorentina dan Napoli yang sama-sama mengoleksi 32 poin, Juventus (30 poin), dan Roma (29 poin).

Apa saja rahasia Inter bisa mendominasi Seri A musim ini? Sebagai Juventini -julukan fan Juventus- saya akan "membongkarnya" satu per satu:

1. Erick Thohir
Musim ini, skuat Inter bertabur bintang. Wajar saja mengingat mereka menggelontorkan dana hingga 85 juta euro (sekitar Rp 1,3 triliun) pada bursa transfer musim panas lalu. Sosok di balik ambisi besar itu tentu saja Erick Thohir. Ya, pria 45 tahun ini memang tidak pernah tanggung-tanggung untuk mengembalikan kejayaan Inter di Eropa setelah terakhir kali meraih "Treble Winners" 2009/10. Sekadar informasi, Erick merupakan pengusaha muda sekaligus taipan media asal Indonesia. Termasuk menjabat sebagai board of commisioner VIVA Group yang membawahi TVOne, ANTV, viva.co.id.

2. Diuntungkan Jadwal Eropa
Ya, di antara posisi lima besar klasemen saat ini, Inter memang benar-benar diuntungkan. Sebab, Fiorentina dan Napoli harus terpecah karena tampil di Liga Europa. Begitu juga dengan Juventus dan Roma yang berpartisipasi di Liga Champions. Sementara, Inter yang musim lalu finish di posisi delapan, sudah pasti tidak lolos ke kompetisi Eropa. Namun, itu justru membuat Joao Miranda dan kawan-kawan lebih fokus di Seri A. Hasilnya terbukti, hingga pekan ke-16 musim ini, mereka merupakan tim yang paling konsisten.

3. Strategi Tidak bisa Ditebak
La Gazzetta dello Sport pernah menyebut Inter musim ini bermain bak bunglon. Betapa tidak, nyaris setiap pekan, Mancini selalu mengubah strateginya. Adakalanya menggunakan 4-3-3, 4-3-1-2, 4-2-3-1, atau bahkan 3-5-2! Misalnya, saat mengalahkan Genoa 1-0 (6/12), Inter memasang Rodrigo Palacio sebagai ujung tombak. Sepekan kemudian, Mancini malah menurunkan pola 4-2-3-1 dengan Icardi dibantu tridente Eropa Timur: Ivan Perisic-Jovetic-Adem Ljajic.

4. Faktor Mancini
Publik Eropa menjuluki Mancini sebagai "raja midas" di dunia sepak bola. Tentu, ini bukan hiperbola, melainkan nyata. Sebab, dari lima klub yang sudah dilatih sebelumnya, selalu berujung gelar. Tidak percaya? Simak, faktanya: Fiorentina pada 2001/02 sukses meraih Piala Italia pada akhir musim, Lazio 2002-2004 (Piala Italia 2003/04), Inter periode pertama 2004-2008 sukses memberikan tujuh trofi, termasuk tiga Seri A beruntun.

Selepas dari Italia, tangan dingin pria 51 tahun itu berlanjut bersama Manchester City 2009-2013 dengan tiga gelar, khususnya Liga Primer 2011/12 yang mengakhiri penantian panjang 44 tahun! Terakhir, Mancini sukses menjuarai Piala Turki 2013/14 bersama Galatasaray. Apakah tradisi ini berlanjut dengan Inter pada akhir musim mendatang?

5. Tangguhnya Handanovic
Hanya kebobolan sembilan gol dari 16 pertandingan musim ini. Catatan itu menjadikan pertahanan Inter yang terbaik di top lima kompetisi Eropa. Yaitu, Seri A Italia, Liga Primer Inggris, La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman, dan Ligue 1 Prancis. Sudah pasti, gelar protagonista layak disematkan kepada Samir Handanovic. Kiper asal Slovenia ini ditahbiskan sebagai yang tertangguh di Eropa! Handanovic menyisihkan nama-nama tenar seperti penjaga gawang Juventus, Gianluigi Buffon, Gianluigi Donnarumma (AC Milan), Claudio Bravo (Barcelona), dan David De Gea (Manchester United).

6. Icardi telah Kembali
Inter tidak hanya kuat di lini belakang. Klub yang bermarkas di Pinetina, Milan, ini juga dahsyat di sektor depan. Memang, musim ini mereka baru mengemas 22 gol, alias masih kalah dibanding empat tim di lima besar klasemen. Namun, jangan lupa, Inter memiliki Icardi yang sukses meraih capocannoniere -gelar pencetak gol terbanyak di Seri A- musim lalu. Saat ini, kolaborasinya dengan Jovetic sudah menghasilkan 10 gol. Fakta itu lebih dari cukup untuk menggetarkan setiap lawan yang dihadapi.

7. Tifosi Sabar
Ini rahasia pamungkas dari kesuksesan Inter musim ini. Ya, betapa tidak, Interisti -julukan fan Inter- begitu sabar menunggu tim kesayangannya kembali merajai Seri A sejak terakhir kali juara pada 2009/10. Alias, sudah lima tahun mereka menunggu yang jika dianalogikan pacaran, mungkin sudah putus-nyambung. Bahkan, dalam periode itu, Inter menjelma sebagai "tim kelas dua"! Lantaran, selalu di bawah Juventus dan Milan yang mendominasi Seri A sejak 2010/11 hingga musim lalu.

Beruntung, Inter tidak PHP. Lantaran musim ini tampil konsisten hingga sukses melaju ke puncak dengan meraih 11 kemenangan, tiga imbang, dan hanya menelan dua kekalahan. Termasuk, saat menekuk Milan 1-0, Roma 1-0, dan imbang dengan Juventus 1-1. Sekadar informasi, di Tanah Air terdapat dua komunitas terbesar Interisti: Inter Club Indonesia (ICI) dan Indonesia Nerazzurra.

*        *        *
Artikel tentang Inter sebelumnya:
- Erick Thohir: Inter Incar Liga Champions
- Wawancara Eksklusif Erick Thohir: Saya Percaya Loyalitas Dua Arah
Kilas Balik 2014: Berakhirnya Pahlawan "Treble Winners" 2009/10
Diego Milito dan Angka 22
Kisah Ponsel Dua Presiden Seri A: Erick Thohir dan Andrea Agnelli
Fakta Menarik Ivan Zamorano dan Kostum No 1+8
- Cinta Lama Bersemi Kembali

Artikel tentang Interisti
- Giuseppe Meazza Pindah ke Jakarta
- ICI Syukuran HUT ke-11
- Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan Untuk Interisti
- Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti
Ultah Kelima IN Distretto Jakarta

Artikel tentang Seri A:
- Kenangan Bersama Andrea Pirlo saat Masih Perkuat Juventus
- Chiellini: Antara Suarez, Indonesia, dan Kedekatannya dengan Juventini
- Demam The Avengers Melanda Skuat Juventus
- Kembalinya "Il Sette Magnifico"
We are Rival, but Not Enemy

*        *        *

- Padang, 14 Desember 2015

Kamis, 27 Agustus 2015

Ahmad Tohari dan Apresiasi PAB Terhadap Sastra


Ahmad Tohari menerima Penghargaan Achmad Bakrie XIII 2015 

"UNDANGAN menghadiri Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) XIII 2015? Wow, mau mbak!" Demikian jawaban saya ketika ditawari salah satu admin VIVALog untuk menghadiri PAB XIII 2015. Kebetulan, pagi itu saya masih terlelap. Namun, ketika menerima panggilan telepon dari nomor yang sudah tidak asing lagi, antusiasme saya langsung terbangun.

Wajar saja mengingat PAB merupakan salah satu penghargaan yang memiliki kredibiltas tinggi. Sebagai blogger, khususnya pegiat media, tentu saya antusias untuk bisa menghadirinya.

Selain undangannya yang eksklusif bersama sembilan rekan blogger lainnya, juga karena saya hampir setiap tahun menyimak acara ini di berbagai media, khususnya televisi. Apalagi ketika mengetahui ada salah satu sastrawan terkemuka di negeri ini yang menerima penghargaan tersebut: Ahmad Tohari.

*      *      *

PAB XIII 2015 yang diselenggarakan di Djakarta Theater, Jumat (21/8) dibuka dengan sambutan Aburizal Bakrie. Putra sulung pasangan Achmad Bakrie-Roosniah Bakrie ini menyampaikan pentingnya semangat dalam mengisi kemerdekaan.

Ya, PAB XIII ini memang berlangsung hanya berjarak empat hari dari HUT RI ke-70. Pernyataan pria yang akrab disapa bang Ical ini tentang "Menyongsong Datangnya Zaman Emas Indonesia" mengenai tepat di sanubari ratusan undangan yang memadati XXI Ballroom.

Setelah itu, pengumuman terhadap enam tokoh yang meraih PAB XIII 2015 dimulai. Mereka adalah:

Ayuzumardi Azra untuk Pemikiran Sosial
Ahmad Tohari (Kesusastraan)
Tigor Silaban (Kedokteran/ Kesehatan)
Suryadi Ismadji (Sains)
Kaharuddin Djenod (Teknologi)
Suharyo Sumowidagdo (Peneliti Muda Berprestasi)

Seperti yang sudah saya sebut di atas, di antara keenam penerima PAB XIII 2015 ini, yang paling saya kenal Ahmad Tohari. Bisa dipahami mengingat saya sudah beberapa kali menikmati berbagai karya sastrawan berusia 67 tahun ini. Salah satunya, novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang diangkat ke layar lebar berjudul "Sang Penari".

Ada yang menarik ketika Ahmad Tohari memberi sambutannya di podium. Saat itu, mantan redaktur harian Merdeka ini menyentil peran pemerintah yang dinilainya minim dalam memajukan sastra di Tanah Air. Padahal, menurut Ahmad Tohari, sastra itu sebagai penyeimbang otak kiri dan otak kanan. Terutama bagi pemimpin dalam mengambil keputusan.

"Kita butuh sastra. Karena sastra akan membuat orang tidak hanya cerdas, tidak hanya terampil, tidak hanya idealis. Tetapi, punya sensitivitas. Ini penting, (sebab) pintar tanpa sensitivitas saya kira berbahaya," kata Ahmad Tohari seperti yang saya rekam videonya berdurasi tujuh menit di bawah artikel ini.

Pernyataan sosok kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948 ini beralasan. Lantaran menurutnya, sastrawan di Indonesia saat ini justru terpinggirkan. Mayoritas dari mereka sangat miskin. Itu mengapa Ahmad Tohari mengapresiasi PAB yang sejak edisi perdana pada 2003 hingga ke-13 saat ini, konsisten terhadap sastra.

"Mari kita hidupkan kembali sastra Indonesia, karena pernah jaya justru pada masa lalu. Pada masa sekarang, sastra disingkirkan! Ga tahu kenapa. Ga tahu kenapa menganggap sastra tidak penting. Padahal, sastra menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan," Ahmad Tohari mengungkapkan.

*      *      *
SELAIN Ahmad Tohari dan sambutan lima tokoh lainnya yang menerima PAB XIII 2015, acara yang diselenggarakan Yayasan Achmad Bakrie yang bekerja sama dengan Freedom Institute dan VIVA Group, ini, juga menyuguhkan banyak hiburan.

Beberapa di antaranya yang saya kenal seperti Endah Laras yang melantunkan lagu keroncong khasnya, Sandy Sandoro membawakan "Symphony yang Indah", dan Ruth Sahanaya dengan "Indonesia Jaya" yang membuat seluruh undangan merinding karena terlecut rasa nasionalismenya. Itu sesuai dengan tema yang diusung dalam PAB XIII 2015 ini yaitu, "Patriotisme, Bangga Menjadi Indonesia".

Bagi saya, PAB bukan sekadar simbol semata. Melainkan, wujud dari apresiasi terhadap anak bangsa yang telah memberi kontribusi terhadap negeri ini melalui karya-karya mereka. Semoga, acara ini mampu memotivasi generasi selanjutnya untuk terus maju mengangkat harkat dan martabat Indonesia di mata dunia.

Satu hal lagi, saya berharap untuk edisi selanjutnya, tidak hanya ada penghargaan tokoh muda di bawah 40 tahun yang berprestasi untuk ilmuwan atau periset teknologi saja. Melainkan juga kategori lainnya seperti atlet, musisi, pelajar yang juara di olimpiade fisika, atau blogger yang keberadaannya kini sudah tidak lagi dipandang sebelah mata seperti pada pertengahan dekade 2000-an lalu.

Itu seperti diungkapkan Anindra Ardiansyah Bakrie, cucu Achmad Bakrie sekaligus Ketua Umum OC PAB XIII, "Hingga kini, sudah 51 tokoh yang diberi Penghargaan Achmad Bakrie. Insya Allah, kami bakal konsisten mengelarnya setiap tahun. Penghargaan Achmad Bakrie ini ditujukan untuk memacu putra-putri Indonesia agar berupaya melahirkan banyak ide cemerlang dan karya gemilang demi kemajuan Indonesia."

*      *      *
Enam tokoh penerima PAB XIII 2015. Dari kiri ke kanan: Ahmad Tohari, Suharyo Sumowidagdo, Suryadi Ismadji, Tigor Silaban, Azyumardi Azra, dan Kaharuddin Djenod

*      *      *
Foto bersama penerima PAB XIII 2015 dengan keluarga besar Bakrie

*      *      *
Aburizal Bakrie membubuhkan tanda tangan kepada beberapa undangan

*      *      *
Beberapa pejabat dan anggota dewan termasuk Tantowi Yahya

*      *      *
Salah satu undangan wefie dengan Nia Ramadhani, istri dari Anindra Ardiansyah Bakrie

*      *      *
Parade ucapan selamat di depan XXI Djakarta Theater

*      *      *
Kata mutiara dari almarhum Achmad Bakrie yang sangat menginspirasi
*      *      *
*      *      *
Berikut, video yang saya unggah di laman youtube sepanjang acara PAB XIII 2015:


Sentilan Ahmad Tohari untuk Pemerintah yang mengabaikan Sastra

*      *      *

Nasionalisme yang tinggi dari Suryadi Ismadji

*      *      *

Cita-cita mulia Suharyo Sumowidagdo

*      *      *

Ruth Sahanaya melantunkan "Indonesia Jaya"

*      *      *

Sandy Sandoro menyanyikan "Symphoni yang Indah" 
*      *      *

Keterangan: Seluruh foto dan video merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)

*      *      *
Artikel seni dan selanjutnya:
*      *      *
Artikel terkait muda, seni dan sastra sebelumnya:
- Sheila On 7
Tipe-X
Afgan

*      *      *

- Cikini, 27 Agustus 2015