TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: VIVAlog

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label VIVAlog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label VIVAlog. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Agustus 2015

Ahmad Tohari dan Apresiasi PAB Terhadap Sastra


Ahmad Tohari menerima Penghargaan Achmad Bakrie XIII 2015 

"UNDANGAN menghadiri Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) XIII 2015? Wow, mau mbak!" Demikian jawaban saya ketika ditawari salah satu admin VIVALog untuk menghadiri PAB XIII 2015. Kebetulan, pagi itu saya masih terlelap. Namun, ketika menerima panggilan telepon dari nomor yang sudah tidak asing lagi, antusiasme saya langsung terbangun.

Wajar saja mengingat PAB merupakan salah satu penghargaan yang memiliki kredibiltas tinggi. Sebagai blogger, khususnya pegiat media, tentu saya antusias untuk bisa menghadirinya.

Selain undangannya yang eksklusif bersama sembilan rekan blogger lainnya, juga karena saya hampir setiap tahun menyimak acara ini di berbagai media, khususnya televisi. Apalagi ketika mengetahui ada salah satu sastrawan terkemuka di negeri ini yang menerima penghargaan tersebut: Ahmad Tohari.

*      *      *

PAB XIII 2015 yang diselenggarakan di Djakarta Theater, Jumat (21/8) dibuka dengan sambutan Aburizal Bakrie. Putra sulung pasangan Achmad Bakrie-Roosniah Bakrie ini menyampaikan pentingnya semangat dalam mengisi kemerdekaan.

Ya, PAB XIII ini memang berlangsung hanya berjarak empat hari dari HUT RI ke-70. Pernyataan pria yang akrab disapa bang Ical ini tentang "Menyongsong Datangnya Zaman Emas Indonesia" mengenai tepat di sanubari ratusan undangan yang memadati XXI Ballroom.

Setelah itu, pengumuman terhadap enam tokoh yang meraih PAB XIII 2015 dimulai. Mereka adalah:

Ayuzumardi Azra untuk Pemikiran Sosial
Ahmad Tohari (Kesusastraan)
Tigor Silaban (Kedokteran/ Kesehatan)
Suryadi Ismadji (Sains)
Kaharuddin Djenod (Teknologi)
Suharyo Sumowidagdo (Peneliti Muda Berprestasi)

Seperti yang sudah saya sebut di atas, di antara keenam penerima PAB XIII 2015 ini, yang paling saya kenal Ahmad Tohari. Bisa dipahami mengingat saya sudah beberapa kali menikmati berbagai karya sastrawan berusia 67 tahun ini. Salah satunya, novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang diangkat ke layar lebar berjudul "Sang Penari".

Ada yang menarik ketika Ahmad Tohari memberi sambutannya di podium. Saat itu, mantan redaktur harian Merdeka ini menyentil peran pemerintah yang dinilainya minim dalam memajukan sastra di Tanah Air. Padahal, menurut Ahmad Tohari, sastra itu sebagai penyeimbang otak kiri dan otak kanan. Terutama bagi pemimpin dalam mengambil keputusan.

"Kita butuh sastra. Karena sastra akan membuat orang tidak hanya cerdas, tidak hanya terampil, tidak hanya idealis. Tetapi, punya sensitivitas. Ini penting, (sebab) pintar tanpa sensitivitas saya kira berbahaya," kata Ahmad Tohari seperti yang saya rekam videonya berdurasi tujuh menit di bawah artikel ini.

Pernyataan sosok kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948 ini beralasan. Lantaran menurutnya, sastrawan di Indonesia saat ini justru terpinggirkan. Mayoritas dari mereka sangat miskin. Itu mengapa Ahmad Tohari mengapresiasi PAB yang sejak edisi perdana pada 2003 hingga ke-13 saat ini, konsisten terhadap sastra.

"Mari kita hidupkan kembali sastra Indonesia, karena pernah jaya justru pada masa lalu. Pada masa sekarang, sastra disingkirkan! Ga tahu kenapa. Ga tahu kenapa menganggap sastra tidak penting. Padahal, sastra menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan," Ahmad Tohari mengungkapkan.

*      *      *
SELAIN Ahmad Tohari dan sambutan lima tokoh lainnya yang menerima PAB XIII 2015, acara yang diselenggarakan Yayasan Achmad Bakrie yang bekerja sama dengan Freedom Institute dan VIVA Group, ini, juga menyuguhkan banyak hiburan.

Beberapa di antaranya yang saya kenal seperti Endah Laras yang melantunkan lagu keroncong khasnya, Sandy Sandoro membawakan "Symphony yang Indah", dan Ruth Sahanaya dengan "Indonesia Jaya" yang membuat seluruh undangan merinding karena terlecut rasa nasionalismenya. Itu sesuai dengan tema yang diusung dalam PAB XIII 2015 ini yaitu, "Patriotisme, Bangga Menjadi Indonesia".

Bagi saya, PAB bukan sekadar simbol semata. Melainkan, wujud dari apresiasi terhadap anak bangsa yang telah memberi kontribusi terhadap negeri ini melalui karya-karya mereka. Semoga, acara ini mampu memotivasi generasi selanjutnya untuk terus maju mengangkat harkat dan martabat Indonesia di mata dunia.

Satu hal lagi, saya berharap untuk edisi selanjutnya, tidak hanya ada penghargaan tokoh muda di bawah 40 tahun yang berprestasi untuk ilmuwan atau periset teknologi saja. Melainkan juga kategori lainnya seperti atlet, musisi, pelajar yang juara di olimpiade fisika, atau blogger yang keberadaannya kini sudah tidak lagi dipandang sebelah mata seperti pada pertengahan dekade 2000-an lalu.

Itu seperti diungkapkan Anindra Ardiansyah Bakrie, cucu Achmad Bakrie sekaligus Ketua Umum OC PAB XIII, "Hingga kini, sudah 51 tokoh yang diberi Penghargaan Achmad Bakrie. Insya Allah, kami bakal konsisten mengelarnya setiap tahun. Penghargaan Achmad Bakrie ini ditujukan untuk memacu putra-putri Indonesia agar berupaya melahirkan banyak ide cemerlang dan karya gemilang demi kemajuan Indonesia."

*      *      *
Enam tokoh penerima PAB XIII 2015. Dari kiri ke kanan: Ahmad Tohari, Suharyo Sumowidagdo, Suryadi Ismadji, Tigor Silaban, Azyumardi Azra, dan Kaharuddin Djenod

*      *      *
Foto bersama penerima PAB XIII 2015 dengan keluarga besar Bakrie

*      *      *
Aburizal Bakrie membubuhkan tanda tangan kepada beberapa undangan

*      *      *
Beberapa pejabat dan anggota dewan termasuk Tantowi Yahya

*      *      *
Salah satu undangan wefie dengan Nia Ramadhani, istri dari Anindra Ardiansyah Bakrie

*      *      *
Parade ucapan selamat di depan XXI Djakarta Theater

*      *      *
Kata mutiara dari almarhum Achmad Bakrie yang sangat menginspirasi
*      *      *
*      *      *
Berikut, video yang saya unggah di laman youtube sepanjang acara PAB XIII 2015:


Sentilan Ahmad Tohari untuk Pemerintah yang mengabaikan Sastra

*      *      *

Nasionalisme yang tinggi dari Suryadi Ismadji

*      *      *

Cita-cita mulia Suharyo Sumowidagdo

*      *      *

Ruth Sahanaya melantunkan "Indonesia Jaya"

*      *      *

Sandy Sandoro menyanyikan "Symphoni yang Indah" 
*      *      *

Keterangan: Seluruh foto dan video merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)

*      *      *
Artikel seni dan selanjutnya:
*      *      *
Artikel terkait muda, seni dan sastra sebelumnya:
- Sheila On 7
- Tipe-X
- Afgan

*      *      *

- Cikini, 27 Agustus 2015

Jumat, 17 April 2015

Tujuh Alasan Pulau Bidadari Wajib Dikunjungi


Tujuh Alasan Pulau Bidadari Wajib Dikunjungi

Pulau Bidadari (foto: dokumentasi pribadi/www.roelly87.com)

INDONESIA dikenal sebagai negara kepulauan. Itu karena di negeri yang pada 17 Agustus mendatang merayakan HUT ke-70 ini memiliki sekitar 17 ribu pulau yang tersebar dari ujung Sumatera hingga Papua. Mayoritas pulau tersebut tidak dihuni manusia. Namun, ada beberapa di antaranya yang dikembangkan sebagai tempat wisata.

Salah satunya, Pulau Bidadari yang terletak di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Di pulau yang dikelola PT Seabreez Indonesia -anak usaha PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk- ini, menjelma dari pulau kosong tak berpenghuni jadi salah satu destinasi terbaik untuk wisatawan dalam dan luar negeri. Bisa dipahami mengingat Pulau Bidadari menawarkan berbagai kelengkapan yang akan memanjakan pengunjungnya.

Fakta itu juga yang saya dapatkan saat mengunjungi Pulau Bidadari dalam rangka Vlogger Gathering bersama VIVAlog. Sebagai blogger, tentu sudah tidak asing lagi dengan VIVAlog yang merupakan bagian dari VIVA.co.id. Yaitu, blog agregator yang ditujukan untuk semua kalangan blogger agar bisa berbagi, mempromosikan, dan meningkatkan trafik blog-nya di alamat log.viva.co.id/form.

Nah, berikut tujuh alasan bahwa Pulau Bidadari wajib dikunjungi:

1. Dekat dengan Jakarta
Ya, Pulau Bidadari merupakan salah satu pulau terdekat dari ibu kota. Jika dilihat melalui peta (google maps) jaraknya hanya sekitar lima kilometer dari bibir Jakarta Utara. Bahkan, saya yang tergabung dalam rombongan 40 vlogger hanya butuh 20 menit dari Pantai Marina, Ancol. Tak heran ketika sampai di dermaga Pulau Bidadari  saya masih bisa menyaksikan deretan gedung bertingkat di Jakarta.

2. Harga Relatif Terjangkau
Berbicara mengenai harga merupakan hal yang subyektif. Saya enggan menyebut wisata ke Pulau Bidadari ini murah. Hanya, untuk mengatakan mahal rasanya sangat tidak tepat. Sebab, mengingat kata pepatah, "ada harga ada rupa". Alias, kita membayar "mahal" atas apa yang memang pantas kita dapatkan.

Mungkin, kalimat yang ideal adalah "terjangkau". Sebagai gambaran, untuk acara One Day Tour yang tertera di website resminya senilai Rp 400.000. Itu sudah termasuk naik boat secara PP, minuman selamat datang, makan siang, serta berkeliling ke tiga pulau lainnya (Pulau Onrust, Pulau Kelor, dan Pulau Kahyangan). Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati sensasi Banana Boat, bercanda dengan Lumba-lumba, dan -yang terpenting- sudah termasuk asuransi.

3. Bisa Belajar Sejarah
Ini yang bagi saya sangat menarik. Karena, kita sebagai pengunjung dapat menyaksikan langsung sisa peninggalan sejarah masa lampau. Yaitu, Benteng Martello yang dibangun pada masa kolonial Belanda.

Bangunan yang terbuat dari batu bata berbentuk lingkaran ini masih bertahan hingga kini meski sudah lewat nyaris lima abad! Terlebih, pengunjung diperbolehkan menyusuri areal benteng yang konon memiliki jalur bawah tanah hingga ke Pulau Kelor yang terletak beberapa ratus meter di Timur Laut dari Pulau Bidadari.

4. Cottage Terapung yang Memesona
Secara total, Pulau Bidadari memiliki 60 kamar yang bisa disewakan pengunjung. Namun, bagi saya pribadi, yang paling menarik justru keberadaan floating cottage (pondok terapung) yang memiliki pemandangan langsung ke laut luas. Keberadaan cottage di atas laut ini yang menjadi salah satu dari keistimewaan Pulau Bidadari.

Debur ombak dan semilir angin bisa jadi membuat pengunjung enggan balik ke rumahnya. Apalagi, jika ada yang malas untuk mandi, tinggal nyebur ke laut untuk merasakan sensasinya. Tenang saja, airnya tidak dalam. Menurut pemandu wisata, jika dalam kondisi pasang, kedalamannya pun hanya mencapai dua meter. Jadi, masih aman untuk keluarga yang membawa anak kecil. Dengan catatan harus diawasi agar sang anak tidak berenang mendekati tali pembatas.

5. Bersahabat dengan Fauna Langka
Di Pulau Bidadari ini terdapat banyak hewan langka. Seperti Biawak yang memiliki populasi 100 ekor. Jadi, kami tidak kaget ketika sedang berkeliling pulau menyaksikan karnivora yang sekilas mirip Komodo ini. Tenang saja, mereka tidak bakal mengganggu karena takut dengan manusia. Jangan lupakan keberadaan penangkaran Rusa yang menjadi daya tarik tersendiri.

Yang menarik, di Pulau ini terdapat sarang Elang Bondol. Hewan yang dijadikan maskot Jakarta yang setiap hari sering kita lihat sosoknya di bus Transjakarta ini memiliki sarang di pohon tinggi dekat Benteng Martello!

6. Wisata Mengenal Flora
Aneka ragam flora langka juga terdapat di pulau seluas enam hektare (Ha) ini. Beberapa di antaranya Pohon Kayu Hitam dengan nama latin Diospyros Maritama, Pohon Glodokan (Polyalthea Longifolia),  Pohon Perdamaian (Baringtonia Exelsa), hingga Pohon Kepuh berusia 200 tahun (Sterculia Foetida). Jangan lupakan keberadaan Hutan Mangrove dan Labirin Tanaman yang tidak boleh dilewati saat berkeliling menyusuri pulau.

Oh ya, di utara pulau ini terdapat pohon tua yang dinamai sebagai Pohon Jodoh. Nah lho! Alasan disebut Pohon Jodoh karena konon -saya belum pernah mencobanya- pasangan yang berfoto di bawah pohon ini hubungannya akan tetap langgeng. Tapi, itu sekali lagi konon. Untuk mengetahui lebih lanjut apakah benar-benar nyata, tentu Anda dan pasangan harus mengunjungi Pulau Bidadari lebih dulu.

7. Ajang Pre Wedding
Selain menawarkan wisata yang lengkap, mulai dari pondok terapung yang memesona, flora dan fauna langka, hingga bangunan bersejarah. Di Pulau Bidadari ini juga kerap dijadikan sebagai ajang menyatakan cinta. Khususnya bagi pasangan yang sudah kenal dekat. Baik itu di kalangan remaja dan dewasa.

Saya sendiri melihat beberapa pasangan yang sedang melakukan sesi pemotretan sebelum melangsungkan pernikahan (Pre Wedding). Wajar, mengingat di Pulau Bidadari tersebar beberapa obyek menarik untuk diabadikan dalam bentuk foto yang sangat romantis. Misalnya di dermaga, Pohon Jodoh, atau properti depan Benteng Martello.

*       *       *
Peta untuk mengelilingi pulau

*       *       *
Cottage dengan pemandangan laut lepas

*       *       *
Pohon Kayu Hitam

*       *       *
Lumba-lumba

*       *       *
Benteng Martello

*       *       *
Sarang Elang Bondol

*       *       *
Penangkaran Rusa

*       *       *
Pohon Jodoh


- Cikini, 17 April 2015