Informasi Sarasehan #2 Tau Dari Blogger (sumber foto: Dokumentasi TDB)
SAAT ini, blogger bukan lagi sebagai pelengkap informasi di masyarakat. Melainkan, sudah jadi salah satu sumber utama yang bersanding dengan media mainstream. Itu mengapa saat ini banyak blogger yang dipercaya untuk menjalin relasi dengan berbagai pihak. Baik itu perusahaan, brand, atau instansi pemerintah.
Alasannya jelas. Mereka bekerja sama dengan blogger karena target yang dituju tepat. Maklum, blogger terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, ekskekutif, legislatif, hingga ibu rumah tangga. Jadi, apa yang disampaikan dalam artikel yang dimuat di blog mereka jadi viral positif.
Salah satunya Tau dari Blogger (TDB). Ini merupakan salah satu komunitas yang saya kenal sejak bergabung di grup whatsapp pada 19 November lalu. Namun, saat ini, TDB tidak hanya eksis di grup aplikasi chat saja. Melainkan juga di beberapa media sosial. Seperti fan page facebook (www.facebook.com/taudariblogger) dan twitter (@taudariblogger).
"TDB dibentuk pada 9 September 2015. Pengurusnya (Mohamad) Muchtar dari PMI dan Hermini (Yuliati) dari blogger," kata salah satu pengurus TDB, Mohamad Sobari, saat saya hubungi melalui whatsapp, pagi tadi (12/2). "Intinya, (komunitas) ini sebagai wadah kegiatan dari, oleh, dan untuk blogger. Baik untuk belajar sesama blogger dan juga bersolidaritas dengan sesama."
Dalam kesempatan itu, pemilik blog www.darustation.com ini menjelaska, TDB kerap mengadakan kegiatan offline dan online. Teranyar, mereka berpartisipasi dalam workshop film I Am Hope.
"Anggota TDB (bebas) siapa saja. Baik dari PMI atau blogger. Serta mereka yang berpartisipasi untuk menulis. Sebelumnya, kami menyelenggarakan workshop sarasehan yang pertama pada 10 Januari bersama PMI, Pesona Indonesia, dan (band) Cokelat," Sobari, melanjutkan.
Memasuki bulan kedua pada 2016 ini, TDB kembali mengadakan sarasehan. Kali ini temanya, "Save and care for humanity" di kantor PMI Jakarta di Jalan Kramat Raya Nomor 47 Jakarta Pusat, pada Sabtu (20/2).
"Acaranya berlangsung pukul 11.00 WIB hingga selesai bersama PMI, siswa SMA Global Jaya yang ingin mengenalkan Hydro Solar, dan dimeriahkan penampilan Cokelat. Juga ada Dede Ariyanto yang akan berbagi info mengenai video blogging," tutur Sobari.
Selanjutnya, pria kelahiran 13 Oktober 1971 ini mempersilakan siapa saja untuk berpartisipasi. Baik itu anggota TDB, rekan-rekan blogger lainnya, dan masyarakat umum, "Kita ingin bikin citra positif untuk blogger. Bahwa, blogger juga bisa buat acara dan kegiatan sosial."
Tentang Sarasehan TDB #2
Waktu: Sabtu, 20 Februari 2016
Detail: Pukul 11.00 WIB hingga selesai
Lokasi: Kantor PMI Jakarta, Jalan Kramat Raya Nomor 47 Jakarta Pusat
Tema: Save and care for humanity
Acara: Bersama PMI, siswa Global Jaya, band Cokelat, dan sharing video blogging dengan Dede Ariyanto
Informasi: Gratis. Hubungi email/fb/twitter/ig TDB
Poster internasional The Revenant (sumber: 20th Century Fox)
"REVENGE is in God's hand, not mine." Demikian salah satu adegan dalam The Revenant yang saya saksikan di salah satu teater di selatan Jakarta, akhir pekan lalu. Ekspekstasi saya langsung pecah saat menonton film yang disutradari peraih Academi Awards (Oscars) 2015, Alejandro Gonzalez Inarritu.
Ya, The Revenant bukan sekadar film bak-bik-buk dengan tema balas dendam. Melainkan, agar sang tokoh utama Hugh Glass yang diperankan Leonardo Di Caprio mampu bertahan hidup dari berbagai rintangan.
Mulai dari ketika tubuhnya dikoyak-koyak beruang Grizzly, menghindari serbuan maut dari suku Indian Ree, hingga puncaknya ketika empat orang terdekatnya tewas: Istrinya yang diperankan Grace Dove, anaknya Hawk (Forrest Goodluck), rekannya Indian suku Pawnee, Hikuc (Arthur Redcloud), dan mentornya kapten Andrew Henry (Domhnall Gleeson).
Bisa dipahami mengingat The Revenant terinspirasi dari kejadian sebenarnya pada 1823 di Dakota, Amerika Serikat (AS). Insiden itu dijadikan novel berjudul sama karya Michael Punke yang terbit 2002.
Jadi, sekedar informasi dan meluruskan, The Revenant bukan berdasarkan kisah nyata (Based on True Story) seperti yang digemborkan media. Melainkan, terinsiprasi dari kejadian sebenarnya (Inspired by True Event) seperti yang ditegaskan dalam poster edisi internasional.
* * *
KISAHNYA dibuka dengan tim eskspedisi yang sedang melakukan perburuan untuk mendapatkan kulit di wilayah Montana. Tak lama, tim yang berjumlah 45 orang hanya menyisakan tidak lebih dari seperlimanya. Itu akibat serangan dari suku Ree. Puncaknya, ketika Glass yang sedang ronda diterkam beruang.
Ketika dalam kondisi memprihatinkan, Andrew mengambil keputusan penting: Mengorbankan satu orang untuk kepentingan kelompok atau mengorbankan semuanya demi Glass. Itu karena Glass yang sudah tertolong dalam keadaan cacat. Dan, seluruh tim kesulitan mengangkatnya untuk kembali ke kamp karena kondisi alam AS yang keras ditambah cuaca ganas.
Pilihan kedua dipilih Andrew dengan menugaskan dua anggotanya, John Fitzgerald yang diperankan aktor watak Tom Hardy dan Jim Bridger (Domhnall Gleeson) dengan bayaran besar untuk menjaga Glass hingga maut menjemput.
Keputusan sang kapten itu memengaruhi alur cerita secara keseluruhan. Sebab, pada akhirnya, Fitzgerald dengan tega melakukan tiga hal demi mengambil bayaran besar: Membunuh Hawk, membohongi Bridger, dan mengubur Glass hidup-hidup. Sikap Fitzgerald ini yang jadi titik tolak kebangkitan Glass hingga seperti mempunyai nyawa sembilan.
* * *
OKE, saya sudahi dulu sinopsisnya agar tidak jadi spoiler berhubung film ini masih tayang di berbagai bioskop di Tanah Air. Secara keseluruhan, saya harus jujur mengatakan, tidak ada hal baru dalam film ini. The Revenant bertema survival seperti yang banyak diperlihatkan insan Hollywood lainnya.
Namun, yang membuat saya kagum pada film berdurasi 156 menit ini karena dua hal: Sinematografinya yang sungguh memesona dan totalitas akting Di Caprio. Pantas jika film yang diproduksi 20th Century Fox ini mendapat 12 nominasi dalam Academy Awards ke-88.
Itu menandakan, The Revenant memang tidak hanya membuat penonton kagum, melainkan juga memikat juri Oscars. Sebab, dua pesaing terdekatnya, Mad Max yang diperankan Hardy hanya mendapat 10 nominasi dan The Martian (Matt Damon) tujuh nominasi.
Di antara 12 nominasi itu, saya menjagokan The Revenant meraih minimal tiga: Best Actor untuk Di Caprio, Best Director (Inarritu), dan Best Cinematography (Emmanuel Lubezki). Sebagai pencinta film, saya memiliki alasan jelas dengan mengenyampingkan faktor subjektif karena memang penggemar Di Caprio.
Pertama, menurut saya film ini memang dibuat agar Di Caprio memenangkan Oscars setelah tiga kali di-PHP sebagai Best Actor dalam The Wolf of Wall Street, Blood Diamond, dan The Aviator. Apalagi, di antara nomine tahun ini, tidak ada yang tampil lebih baik dibanding Di Caprio.
Faktanya, menurut saya pribadi, Damon terjebak nostalgia dengan film-film bertema penyelamatan, Michael Fassbender terlalu kaku untuk memerankan Steve Jobs, dan Bryan Cranston aktingnya kurang menggigit. Paling, yang menurut saya bisa merebut juri Oscars hanya Eddie Redmayne yang tampil ikonik dalam The Danish.
Jadi, 2016 ini kesempatan terbesar Di Caprio untuk mendapat Oscars setelah 10 Januari lalu memenangkan Golden Globe sebagai Aktor Drama Terbaik. Jika pria 41 tahun ini kembali gagal, entah kapan lagi bisa memenangkan penghargaan paling prestisius tersebut.
Selanjutnya, Best Director, secara logika Inarritu bisa mempertahankan pialanya. Itu jika melihat lima nomine seperti Adam McKay dengan The Big Short, Lenny Abrahamson (Room), Tom McCarthy (Spotlight), dan George Miller (Mad Max: Fury Road). Di antara empat rivalnya, nama terakhir yang mungkin bakal mengganjal Inarritu.
Terakhir, untuk sinematografi terbaik, sulit melepas dari Lubezki. Pasalnya, di tangan pria 51 tahun dan timnya ini membuat pemandangan dalam The Revenant mirip aslinya. Jujur, ini bukan film terbaik yang pernah saya tonton. Namun, The Revenant bisa dibilang sebagai film dengan sinematografi terindah yang pernah saya saksikan di bioskop.
* * *
TIADA gading yang tak retak. Pun, begitu dengan The Revenant. Secara cerita, plotnya datar dan nyaris tidak ada twist. Ini bukan hanya menurut saya pribadi, melainkan juga berdasarkan tanggapan dari berbagai kritikus.
Tolok ukurnya bisa dilihat dari Rotten Tomatoes hanya memberi rating 82% dari 282 reviewers dengan nilai rata-rata 8/10. Bagi saya, ini cukup menyedihkan untuk film sekelas The Revenant yang mendapat 12 nominasi Oscars. Bahkan, salah satu kritikus ternama, Carlos Boyero yang merupakan jurnalis El Pais, menilai, "Dalam durasi yang luar biasa panjang, saya hanya fokus pada keindahan gambar dan tata cahaya alami dari Lubezki."
Setali tiga uang dengan laman Metacritic yang memberi nilai 76 dari 100 untuk The Revenant. Pun begitu dengan laman Internet Movie Databes (IMDb) yang merating 8,2/10.
Beruntung, kritik negatif itu diimbangi sajian positif dari laman TIME edisi 22 Desember melalui kolumnisnya, Stephanie Zacharek, "Selain Lubezki (dalam sinematografi), film ini tertolong dengan tangan dingin Inarritu dan akting Di Caprio yang tampil menjiwai dalam perannya sebagai Glass."
Nah, bagaimana dengan Anda?
The Revenant versi www.roelly87.com
Cerita: 7/10
Pameran utama: 9/10
Pameran pembantu: 8/10
Alur: 7/10
Musik: 7/10
Sinematografi: 9/10
Keseluruhan: 8,5/10
Catatan: Tidak disarankan nonton film ini dengan membawa anak kecil atau bersama wanita hamil!
Artikel ini juga dimuat di blog Kompasiana dengan judul sama
* * *
Film ini tertolong sinematografi yang gila banget dan akting Leonardo Di Caprio (sumber foto: Facebook The Revenant)
SAYA merupakan penggemar angka tujuh. Entah mengapa, dalam berbagai hal nomor urut itu selalu terlihat seksi di mata saya. Termasuk, jika berbicara mengenai tempat wisata. Untuk dalam negeri, sejak kecil saya memiliki impian mengunjungi tujuh destinasi yang menurut saya tidak hanya indah, melainkan juga unik.
* * *
Empat di antaranya sudah saya singgahi seperti Batu Malin Kundang di kota Padang, Gunung Kintamani (Bali), pedalaman Baduy (Banten), dan yang teranyar Taman Bunaken (Sulawesi Utara).
* * *
Sementara, untuk Raja Ampat di Papua, Taman Nasional Komodo (Nusa Tenggara Timur), dan Gunung Bromo (Jawa Timur), masih jadi impian bagi saya. Namun, seperti kata orang tua dulu, kejarlah mimpi selagi kita nasih bernafas. Terbukti, pekan lalu, impian saya terwujud bisa ke Bunaken pada Kamis (4/2).
* * *
Itu berkat undangan dari Indosat Ooredoo melalui Astrid Sivara Damanik yang menjabat sebagai Departement Media Partnership & Analytic Divisi Digital Marketing. Wanita yang memiliki blog di alamat www.tehsusu.com ini mengajak saya untuk bergabung dengan tiga blogger lainnya. Yaitu, Ani Berta yang merupakan mentor saya, Aditya Prawira, dan Indra Hutapea.
* * *
Kami berempat bergabung dengan 30 redaktur ekonomi dan gadget di seluruh Tanah Air dalam Media Gathering 2016 selama tiga hari (2-4 Februari). Kebetulan, saat itu Indosat Ooredoo sedang mengenalkan aplikasi Dompetku Nusantara di Bitung, sehari sebelumnya (3/2).
* * *
Berkat Zizy dan Ani, akhirnya saya kembali menginjakkan kaki di pulau yang juga disebut Celebes. Ini kali kedua dalam setahun terakhir setelah 2015 saya mendapat tugas dari kantor ke Makassar, Sulawesi Selatan.
* * *
Antara provinsi di selatan dan utara dari Sulawesi terpaut tepat 365 hari. Ya, saya tidak mengira akan kembali ke pulau Sulawesi. Kali ini sebagai blogger untuk berdiskusi dengan petinggi Indosat Ooredoo dan memetik ilmu bersama rekan-rekan media senior dan juga blogger, serta menikmati keindahan Sulawesi Utara, Mulai dari Manado, Bitung, Danau Linow, hingga Bunaken!
* * *
"Bunaken itu salah satu tempat terindah di Indonesia. Saya juga dari kecil bemimpi ke sini. Eh, kebetulan, dapat undangan dari Indosat Ooredoo buat meliput perkenalan aplikasi Dompetku Nusantara kepada masyarakat Sulut -Sulawesi Utara- di Bitung. Jadi, ketika kantor acc, ga pake lama saya berkemas," demikian penuturan rekan redaktur di sebuah media cetak ternama di Jakarta.
* * *
Perjalanan dimulai pukul 08.00 WITA selepas sarapan. Saya tergabung bersama sekitar 30 orang yang terdiri dari media, blogger, perwakilan Indosat Ooredoo, dan EO.
* * *
Karena kapasitas perahu hanya mampu memuat 10 orang, rombongan kami pun dibagi tiga. Kebetulan, saya, Ani, Aditya, dan Indra, dalam satu perahu bersama lima rekan media, satu pemandu wisata, dan perwakilan Indosat Ooredoo (Almansyah Auriyanto/ Public Relation Administrator).
* * *
"Kita sudah berada di Taman Laut Bunaken. Ini Glass Bottom Boat," kata Tour Guide, Lidya yang penjelasannya saya rekam melalui video yang sudah saya unggah di Youtube. Ternyata, di Bunaken ada ikan Louhan, Bandeng, Tongkol, dan Kembung!
* * *
"Kita bisa menyaksikan kehidupan bawah air dari atas perahu. Keberadaan ini (Glass Bottom Boat) sangat berguna bagi pengunjung Bunaken yang tidak bisa berenang atau fobia air tapi tetap ingin menikmati keindahannya," wanita asli Manado ini menjelaskan kepada kami diiringi lagu "Andai Saja" dari Anima yang membuat suasana kian berkesan.
* * *
Menurut kapten kapal, Roni yang ditemani wakilnya (Adam), perjalanan dari Manado ke Pulau Bunaken sekitar 15 km yang ditempuh dalam waktu 45 menit, "Ombaknya tidak terlalu tinggi. Kita aman."
* * *
Menyaksikan beningnya air laut di kedalaman 1-5 meter dari sisi kapal membuat saya takjub. "Mas beruntung dari (pulau) Jawa bisa ke sini. Saya saja yang sudah 40 tahun lebih tinggal di Sulawesi, baru sekarang kesampaian," ujar salah satu rekan redaktur, semringah.
* * *
Untuk masuk ke kawasan Taman Nasional Bunaken harganya relatif murah. Karcisnya hanya Rp 5.000 untuk wisatawan domestik dan Rp 150.000 (asing). Lho kenapa dibedakan? "Dari dulu sudah seperti itu mas. Mungkin buat nambah pemasukan kami (warga sini). Apalagi, mereka (turis asing) juga senang dengan keindahan di pulau ini dan sekitarnya," ucap salah satu penduduk setempat kepada saya.
* * *
Di Bunaken tidak hanya melulu soal keindahan bawah laut. Masih banyak yang belum dieskplorasi pengunjung. Salah satunya hutan mangrove seperti yang tertera di papan informasi pada pintu masuk. Sekadar info, air di sini sangat sulit. Jadi, wajar jika buang air kecil Rp 3.000 dan buang air besar Rp 15.000. "Kami ambil sendiri airnya dari pulau sebelah," kata Jamal, salah satu remaja setempat.
* * *
Foto bersama ketika menginjakkan kaki di Pulau Bunaken sebelum asyik menyelam dan snorkling. Tidak lupa, kami pun diminta untuk melakukan pemanasan terlebih dulu.
* * *
Untuk bisa menikmati keindahan bawah laut Bunaken, kami bisa menyewa peralatan snorkling melalui penduduk setempat.
* * *
Saya tidak bisa berenang. Bahkan, sempat mengidap Aquaphobia lantaran dulu pernah tenggelam dan terseret arus di Pulau Pisang, Sumatera Barat. Tapi, siapa yang tidak tergoda dengan keindahan bawah laut ketika sudah tiba di Bunaken?
"Ayo mas, kesempatan nyemplung di Bunaken ini tidak setiap hari kita dapat. Kita beruntung sudah diajak Indosat Ooredoo untuk menikmati keindahan di sini," kata salah satu rekan media online menyemangati saya dengan memberi pelampung untuk berjaga-jaga.
* * *
"TIADA perjamuan yang tak berakhir." Demikian adagium lawas yang selalu saya ingat. Yaitu, ada pertemuan, sudah pasti ada perpisahan. Saya melirik arloji sudah menunjukkan pukul 14.20 WITA. Itu berarti, kami yang termasuk dalam rombongan Indosat Ooredoo harus menyudahi rangkaian acara di Bunaken untuk menuju Manado yang dilanjutkan ke Bandara Sam Ratulangi hingga Soekarno Hatta.
Namun, saya juga percaya dengan pepatah lainnya, "Selama gunung masih menghijau dan air laut tetap memancarkan ombak, masih ada waktu untuk bersama lagi." Saya percaya itu.
Terima kasih untuk Indosat Ooredoo yang telah memberikan salah satu pengalaman paling berkesan dalam seperempat abad lebih hidup saya sekaligus mengisi kepingan puzzle dalam mewujudkan impian saya mengunjungi tujuh tempat wisata yang ikonik.
Artikel Media Gathering Indosat Ooredoo 2016:
- Indosat Ooredoo Kenalkan Dompetku Nusantara untuk Mudahkan Masyarakat
- Menyaksikan Keindahan Bunaken yang Memesona
- Menikmati Ketenangan di Danau Linow
- Menelusuri Jejak Kuliner Khas Manado
- Sensasi Belah Duren di Jalan Boulevard
- Tentang Nona dan Nyong dalam Partisipasi Wisata Manado
* * *
Keterangan: Kecuali foto yang dijepret Ivan Pek dari Beritagar.id, seluruh foto dan video lainnya merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)
Perkenalan Dompetku Nusantara dari Indosat Ooredoo di Bitung, Sulawesi Utara, Rabu (3/2)
"SELAMAT siang pak Andri, saya Choirul..."
"Maaf pak, nama saya Andre bukan Andri. Lengkapnya. Andre Tirayoh."
"Oh iya, pak Andre Tirayoh. Saya Choirul Huda, blogger dari Jakarta. Bisa minta izin waktunya sebentar untuk wawancara."
"Blogger? Apa itu blogger pak? Beda tidakkah dengan wartawan?"
"Blogger itu merupakan penulis lepas di blog. Mirip wartawan, tapi kami tidak terafiliasi dengan media. Karena kami menuliskan laporan atau reportase secara lepas di website pribadi."
"Ooh... Saya baru tahu pak."
"Iya pak, tidak apa-apa. Maaf pak, bisa kita mulai wawancaranya."
"Iya, silakan pak. Kita ngobrol-ngobrol di dekat dermaga ya."
Demikian percakapan saya dengan Andre. Kebetulan, saat itu saya mendapat undangan dari Indosat Ooredoo untuk mengikuti Media Gathering 2016 bersama tiga rekan bloggerAni Berta, Aditya Prawira, dan Indra Hutapea.
* * *
SELAIN Andre, juga ada dua rekannya warga Bitung, Sulawesi Utara, yaitu Jefry Sanggune (perwakilan komunitas pekerja pelabuhan), dan Harry Mahmud (perwakilan outlet) yang mendapat penghargaan simbolis dari Chief New Business and Innovation Officer Indosat Ooredoo, Prashant Gokarn, dalam perkenalan layanaan Dompetku Nusantara, Rabu (3/2). Andre merupakan perwakilan komunitas nelayan di Bitung, yang menerima tong ikan untuk para nelayan setempat.
Dalam penuturannya kepada saya, Andre bersyukur dengan adanya layanan Dompetku Nusantara dari Indosat Ooredoo yang kian memudahkan mereka, masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Bitung, dalam menjalankan usahanya.
"Kami sebagai pedagang kecil, pedagang ikan, sangat terbantu sekali dengan adanya Dompetku Nusantara. Keberadaan Dompetku Nusantara memudahkan kami yang sebelumnya melakukan transaksi dengan bank konvensional. Biasanya, kalau di sini kita langsung main tunai," tutur Andre yang semringah karena nelayan di Bitung mendapatkan bantuan tong ikan dan sembilan bahan pokok (sembako) dari Indosat Ooredoo.
"Kita dapat bantuan tong ini supaya kita punya ikan biar tetap fresh. Bantuan-bantuan ini saya rasa tepat sasarannya kepada pedagang-pedagang kecil, pedagang ikan. Semua dengan mudah kami dapati," Andre, melanjutkan.
Ya, Dompetku Nusantara merupakan salah satu dari 11 layanan digital Mobile Fianncial Services dari Indosat Ooredoo, yang meliputi:
1. Dompetku Plus
2. Dompetku Nusantara
3. Dompetku QR codes
4. Dompetku NFC D'Tap
5. Dompetku One Bill Payment
6. Dompetku International Remittance
7. Dompetku Pay Up
8. Dompetku VCN (virtual card number)
9. Dompetku Co Brand visa Debit Card
10. Dompetku Co Brand Master Credit Card
11. Dompetku Pinjaman Kilat
* * *
RENCANANYA, peluncuran Dompetku Nusantara akan berlangsung akhir Februari ini di Jakarta. Sementara, untuk pengenalan lebih lanjut mengenai layanan ini sudah dilakukan di kota Bitung, Sulawesi Utara, Rabu (3/2).
Saat itu, turut hadir beberapa petinggi Indosat Ooredoo untuk melakukan pengenalan kepada tiga komunitas (nelayan, pekerja pelabuhan, dan outlet). Yaitu, Randy Pangalila yang menjabat sebagai Group Head Mobile Financial Services), Rully Hariwinata (Division Head Product Strategy & Development), Deva Rachman (Group Head Corporate Communication), dan Prashant yang menggantikan Alexander Rusli (President Director & CEO).
Sulawesi Utara dipilih sebagai lokasi perkenalan Dompetku Nusantara dengan semangat untuk menerapkan Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai). Saat ini, platform yang terintegrasi itu dapat dinikmati di wilayan Manado dan Bitung yang bekerja sama dengan Bank Sulut, Adira Insurance, WOM Finance, dan BNP Paribas Asset Management.
Ke depannya, pelanggan dapat melakukan transaksi keuangan Dompetku Nusantara melalui ratusan agen yang tersebar di seluruh Tanah Air. Itu ditegaskan Randy sehari sebelumnya, dalam bincang-bincang dengan perwakilan redaktur media se-nusantara dan blogger di Swiss Bel-Hotel Maleosan, Manado, Selasa (2/2).
"Ada empat jenis layanan di dalamnya. Yaitu, Tabungan Mikro, Kredit Mikro, Asuransi Mikro, dan Investasi Mikro. Dompetku Nusantara merupakan salah satu dari 11 layanan baru MFS Indosat Ooredoo. Gunanya, untuk memudahkan masyarakat di Indonesia," kata Randy yang ditemani Rully dalam diskusi tersebut.
Pernyataan Randy ditegaskan Prashant, esoknya, "Dompetku Nusantara ditujukan untuk masyarakat Indonesia yang belum memiliki akses ke layanan keuangan konvensional. Kami hadir sebagai upaya mendukung program pemerintah untuk inklusi dan literasi keuangan serta memperluas akses layanan keuangan dengan memanfaatkan nomor seluler tanpa mengenal operator."
Ya, apa yang dikatakan Prashant, Randy, dan Rully, beralasan. Sebab, Dompetku Nusantara sangat bermanfaat bagi masyarakat umum hingag ke pelosok Tanah Air. Andre yang merupakan nelayan asli Bitung jadi salah satu di antara jutaan rakyat Indonesia yang mendapat kemudahan dari layanan tersebut.
Pasalnya, Dompetku Nusantara menjawab kemudahan masyarakat yang ingin pergi ke bank atau investasi di perbankan tanpa mengenal batasan waktu. Bisa dipahami mengingat jika kita ingin bertransaksi di bank konvensional, kerap terkendala jam operasional dari sekitar pukul 08.00 hingga 15.00. Sementara, dengan Dompetku Nusantara, akan memudahkan masyarakat yang ingin bertransaksi dengan jaringan agen yang telah diverifikasi Indosat Ooredoo.
Itu diakui beberapa undangan yang hadir menilai Dompetku Nusantara sesuai dengan program Laku Pandai yang dicanangkan pemerintah. Tiga di antaranya yang kompeten di bidangnya masing-masing, yaitu Astera Primanto Bhakti yang merupakan Staf Ahli Bidang Penerimaan Negara Kementerian Keuangan RI, Elyanus Pongsoda (Kepala OJK Provinsi Sulawesi Utara), dan perwakilan Gubernur Sulawesi Utara.
* * *
SEKILAS tentang Dompetku Nusantara:
Merupakan layanan keuangan mikro untuk kredit pinjaman,a suransi, dan tabungan melalui agen.
Keunggulannya:
- Proses registrasi dan tarik tunai yang mudah.
- Satu-satunya transaksi keuangan dalam satu nomor seluler untuk empat layanan keuangan (Tabungan Mikro, Asuransi Mikro, Kredit Mikro, dan Investasi Mikro).
- Biaya admin yang terjangkau dan dapat dilakukan di agen yang bertanda Dompetku Nusantara terdekat.
Empat Layanan Keuangan Dompetku Nusantara
1. Tabungan Mikro dimulai dari Rp 10.000 hingga Rp 20.000.000.
2. Pinjaman Mikro dimulai dari Rp 2.000.000.
3. Asuransi Mikro dimulai dari Rp 10.000.
4. Investasi Mikro dimulai dari Rp 100.000.
Registrasi Dompetku Nusantara:
1. Pelanggan registasi ke agen terdekat, isi formulir, dan memberikan foto kopi KTP.
2. Agen menginput data pelanggan dan melakukan verifikasi enam digit angka token melalui aplikasi Dompetku Nusantara.
3. Layanan keuangan Dompetku Nusantara akan aktif setelah 3x24 jam setelah registrasi.
4. Selanjutnya, pelanggan dapat melakukan transaksi keuangan yang diinginkan.
Cara Transaksi Dompetku Nusantara:
1. Datang ke agen terdekat dengan menginfokan nomor ponsel dan memberikan uang.
2. Agen memverifikasi data pelanggan dan membagi uang tersebut berdasarkan permintaan pelanggan.
3. Pelanggan memberikan token yang dikirim melalui SMS ke agen untuk validasi transaksi.
4. Pelanggan menerima tanda terima daria gen dan mendapatkan notifikasi transaksi via SMS.
Info lebih lanjut bisa menghubungi 185 (Agent Contact Center) atau 186 (Informasi produk Indosat Ooredoo).
Website: Indosat Ooredoo Dompetku Nusantara
* * *
Randy Pangalila, Group Head Mobile Financial Services Indosat Ooredoo
* * *
Rully Hariwinata, Division Head Product Strategy & Development Indosat Ooredoo
* * *
Andre Tirayoh perwakilan dari komunitas nelayan Bitung
* * *
Petinggi Indosat mengunjungi agen Dompetku Nusantara yang dimiliki Harry Mahmud
* * *
Wefie yang dilakukan Chief New Business and Innovation Officer Indosat Ooredoo, Prashant Gokarn, bersama Angelique Pongoh (Nona Manado 2015) dan Bennedick Narande (Wakil II Nyong Manado 2015)
* * *
Wefie yang dilakukan Angelique bersama Randy, Prashant, Astera, dan Bennedick
* * *
Prsashant bersama petinggi Indosat Ooredoo dalam diskusi bersama media dan blogger di Sutan Raja Hotel seusai perkenalan Dompetku Nusantara
* * *
Empat perwakilan blogger: Ani, Aditya, saya, dan Indra
Artikel selanjutnya (Media Gathering 2016):
- Menyaksikan Keindahan Bunaken yang Memesona
- Menikmati Ketenangan di Danau Linow
- Menelusuri Jejak Kuliner Khas Manado
- Sensasi Belah Duren di Jalan Boulevard
- Tentang Nona dan Nyong dalam Partisipasi Wisata Manado
* * *
Seluruh foto dan video di youtube merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)
- Jakarta, 5 Februari 2016
Pengalaman Liburan di Ragunan: Murah, Meriah, dan Mengedukasi
Gajah sedang makan di Ragunan
MURAH, meriah, dan mengedukasi.
Demikian kesan saya saat menikmati liburan di Kebun Binatang Ragunan. Ya, di
tempat wisata yang terletak di kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini,
menjadi alternatif bagi mayoritas warga ibu kota dan sekitarnya. Kenapa? Sebab,
untuk tiket masuknya, pengunjung hanya perlu merogoh kocek Rp 4.000 untuk
dewasa dan Rp 3.000 (anak-anak). Murah banget kan.
Itu
yang saya alami saat mengajak adik saya yang paling kecil, Putry Jelita, ke
Ragunan beberapa waktu lalu. Bagi saya, keberadaan Ragunan ini bukan sekadar
alternatif saja. Melainkan sudah menjadi primadona, khususnya bagi kalangan
menengah ke bawah. Lantaran, harga tiket masuknya jauh lebih murah ketimbang
harus ke tempat rekreasi seperti Dunia Fantasi (Dufan) atau Taman Safari.
Apalagi,
di Ragunan, saya bisa sekalian mengedukasi adik saya untuk lebih mengenal
keanekaragaman hewan secara luas. Maklum, menurut informasi yang saya dapat
melalui brosur di pintu masuk, di Ragunan terdapat ribuan margasatwa yang
terbagi dalam empat jenis. Mulai dari mamalia, reptil, burung, hingga aneka
hewan air.
Namun,
tidak semua kandang atau penangkaran satwa itu yang kami kunjungi. Karena
keterbatasan waktu, juga terkait kondisi fisik Putry. Adik saya itu sebenarnya enjoy saja diajak seharian berkeliling
Ragunan sambil berlarian ditemani balon bergambar Angry Bird yang selalu
digenggamnya. Hanya, saya pribadi tidak tega, lantaran khawatir Putry
kelelahan.
Alhasil,
saya hanya mengunjungi beberapa lokasi saja. Yang pertama, jelas Gajah. Sebab,
sejak beberapa hari sebelumnya, Putry memang kesengsem dengan binatang berkuping
lebar yang memiliki belalai panjang. Wajar, karena adik saya itu hobi membaca
majalah Bobo yang terdapat serial bergambar dengan judul Bona, Gajah Kecil
Berbelalai Panjang.
Tak
heran jika Putry sangat antusias ketika kami tiba di lokasi kandang Gajah
Sumatera. Dia pun banyak bertanya mengenai jenis kelamin, makannya apa, hingga
tidur di mana, yang merupakan pertanyaan khas anak-anak. Berbekal papan
informasi di depan kandang dan juga hasil searching
di internet, saya pun menjelaskan kehidupan hewan darat terbesar di dunia itu
yang disambut anggukan Putry.
Selanjutnya,
berbekal kamera dari ponsel lawas Nokia 5730 XpressMusic, saya bersama Putry
asyik menjepret beberapa Gajah yang lalu lalang. Tak lupa, sebelum berlalu
menuju hewan berikutnya, kami foto bersama dengan latar Gajah yang sedang
makan.
Seperti
bisa ditebak, ketika sampai di rumah, Putry langsung memamerkan foto kami
dengan latar Gajah itu kepada teman-temannya. Heboh banget, hingga saya terharu
menyaksikannya! Ada perasaan bangga karena saya bisa mengajaknya ke tempat
wisata yang mengedukasi.
Selain
Gajah, saya mengajak Putry untuk mengunjungi beberapa kandang hewan lainnya.
Mulai dari Singa, Komodo, Beruang Madu, Rusa Totol, hingga Orangutan
Kalimantan. Untuk hewan yang terakhir, saya menjelaskan bahwa dulu pernah
dimuat di uang kertas Rp 500 keluaran Bank Indonesia (BI) 1992.
Putry
sempat kaget karena menurutnya Orangutan berbeda dengan Monyet yang dipelihara
tetangga saya. Tentu, saya sedikit menerangkan, bahwa Orangutan itu dilindungi
Undang-undang lantaran keberadaannya sangat langka karena hanya ada di
Kalimantan dan Sumatera. Sementara, Monyet yang dipelihara tetangga saya,
banyak terdapat di beberapa daerah di Indonesia.
Setelah
nyaris seharian berkeliling dan berfoto dari satu kandang ke kandang lainnya,
saya pun mengajak Putry ke Sarana Rekreasi. Yaitu, naik bom-bom car, kereta keliling, hingga wahana permainan yang menurut
saya, harganya sangat murah meriah. Menjelang pulang, baru kami membeli cindera
mata untuk oleh-oleh beberapa temannya yang disambut Putry dengan mata berbinar.
Bagi
saya, berwisata ke Kebun Binatang Ragunan mengajarkan satu hal. Yaitu, untuk
membahagiakan keluarga, dalam hal ini Putry, saya tidak perlu mengeluarkan uang
mahal. Apalagi, dengan mengunjungi Ragunan tidak hanya memberi hiburan semata
untuk mengisi waktu liburan. Melainkan juga memberikan edukasi untuk anak-anak.
Utamanya, agar mereka lebih mengenal dan menyayangi hewan.