TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: September 2026

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Kamis, 10 September 2026

Terima Kasih Nakes

.


TENAGA kesehatan (nakes), guru, pemadam kebakaran, Tim SAR, dan penjaga perbatasan merupakan profesi yang paling saya hormati. Baik sebagai bagian individu dari masyarakat Indonesia maupun saat saya bekerja sebagai ojek online (online).

Kita kesampingkan persoalan gaji dari mayoritas mereka yang masih kecil. Bahkan, tak layak.

Itu karena sebagai ojol saya sering dapat penumpang dari lima profesi tersebut. Tentu, sering mendengar langsung keluh kesah dapur mereka.

Next, akan saya buat artikel khusus yang lebih lengkap. Saat ini baru 1.400-an kata, alias masih belum selesai.

Artikel sekarang akan mengulas profesi yang pertama. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring hanya mengartikan nakes sebatas akronim, yaitu tenaga kesehatan.

Berdasarkan laman Kemenkes, nakes itu sangat kompleks. Bisa berarti dokter, baik umum atau spesialis, perawat, bidan, farmasi, ahli nutrisi, terapi, dan sebagainya

Sejak jadi ojol pada 2019 silam, saya pun lebih mengenal nakes. Maklum, hampir tiap hari saya mengantar atau jemput mereka, baik sebagai penumpang, kirim makanan, dan paket.

Saya respek dengan mereka. Khususnya saat pandemi Covid 19. Nakes merupakan garda terdepan bagi rakyat Indonesia dalam mengatasi Corona

Begitu juga saat ibu saya mulai sakit-sakitan pada 2023 lalu. Mama berulangkali harus ke rumah sakit. 

Baik rawat inap maupun rawat jalan. Maklum, mama mengidap diabetes sejak 2009 silam. 

Tiga tahun lalu, didiagnosis komplikasi. Bahkan, hingga diangkat tumor payudaranya. 

Alhamdulillah, bisa diatasi. Pun demikian dengan pembengkakan jantung pada Agustus 2025 dan paru (Desember).

Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara -kami bergantian nungguin mama di rumah sakit-, saya pun sedikitnya hafal beberapa nama dokter yang menangani. Untuk perawat, karena banyak, saya masih lupa.

Misal, Roy Pangayoman yang menangani mama di Rumah Sakit (RS) Immanuel, Bandung, pada 2010-2014 ketika mama kena diabetes. 

Lalu sejak 2023 ada Cahyo Baskoro (Jantung, RS. Tarakan), Arina Vegas dan Cindya Clarisa Simanjuntak (Penyakit Dalam, RS Taman Sari), Chintya Anugerah Suhendra (Saraf, RS Taman Sari), Addiena Primawati (Jantung dan Pembuluh Darah, RS Husada), Hanna Karmila (Saraf, RS Primaya PGI Cikini), dan Dicky Budiman Simanjuntak (Mata, RS Primaya PGI Cikini).

Untuk nama terakhir, kami belum sempat bertemu. Meski sudah jadwal untuk berobat pada Jumat (28/8) sore. 

Hanya, batal akibat mama masih dirawat di RS Husada pada 25-20 Agustus lalu. 

Jujur, saya merasa bersalah banget terkait pembatalan itu. Sebab, saya lalai untuk mengubah jadwal maksimal H-1 pemeriksaan di aplikasi Primaya Hospital setelah dapat rujukan dari Mobile JKN. 

Saya malah ganti jadwal pas hari H, Jumat pagi yang seharusnya maksimal Kamis. Alhasil, ga bisa diubah. 

Padahal biaya konsultasinya lumayan, sekitar Rp 410 ribu kalo mandiri, sementara pakai BPJS gratis terkait subsidi silang  

Maaf ya untuk pihak terkait (dokter, rumah sakit, dan BPJS), pasalnya hingga Jumat siang, saya masih belum tahu kepastian mama bisa pulang yang akhirnya diizinkan Minggu. 

Harus diakui, kadang saya agak lupa hingga kecampur juga saat mengurus administrasi di tiga rumah sakit berbeda dalam waktu berdekatan (Taman Sari, Husada, dan Primaya Cikini). 

Nah, saya aja yang sehat masih suka keliru, apalagi mama yang sedang sakit. 

Itu yang dialami mama yang baru dibolehkan pulang Minggu (30/8) setelah enam hari dirawat di RS Husada. Eh, dua hari kemudian harus balik lagi untuk pemeriksaan intensif.

"Ini RS Husada udah kayak jadi rumah kedua," kata mama berseloroh saat saya mengantarnya ke dokter Addiena. 

Ya, meski kondisinya belum pulih benar dan pakai kursi roda akibat masih ga kuat berdiri lama-lama, mama tetap optimistis berobat di tiga rumah sakit berbeda. 

Bahkan, pekan ini siap kembali ke Primaya PGI Cikini untuk ambil hasil MRI dan konsultasi dengan dokter Hanna.

Untuk dokter Dicky terkait pengobatan mata mama yang agak buram, kemungkinan pekan depan. Sebab, harus dapat rujukan dari dokter Hanna dan diagnosis hasil MRI.

*          *          *

SELAIN para dokter yang menangani mama, saya juga berterima kasih kepada perawat. Itu karena perawat yang paling sering kami repotkan saat mama dirawat. 

Misalnya, ketika infus habis, alat ga berfungsi, obat, atau saat mama saturasi oksigennya rendah. Bahkan, pada dini hari WIB pun saya menghubungi perawat. 

Alhamdulillah, mereka bekerja dengan tulus dan tanpa pamrih.

Respek banget saya sama mereka. Sumpah!

Dulu, saat masih awam, saya pikir perawat itu tugasnya hanya mengantar obat ke pasien, penghubung dokter, serta cek tensi, darah, oksigen, dan sebagainya. 

Namun, sejak beberapa tahun ini rutin mendampingi mama yang dirawat inap atau jalan, ternyata saya salah. Pasalnya, tugas perawat ga sesederhana itu.

Faktanya, perawat turut memandikan pasien, cebok, ganti pampers serta baju, suapin makan, dan lain-lain. Itu yang saya lihat selama ini terkait perlakuan mulia mereka kepada mama.

Misal, saat tiba di UGD RS Tamansari, Selasa (25/8). Saat itu ada beberapa perawat, -salah satunya saya lihat nametag bernama Beatrice- yang bergantian menggantikan pakaian mama, pampers, dan cebokin.

Maklum, mama ga bisa kemana-mana, apalagi ke kamar mandi, sebab kedua tangannya dipasang selang infus dan oksigen akibat saturasinya rendah. Alhasil, mama melakukan aktivitasnya di ranjang UGD hingga dini hari WIB dirujuk ke RS Husada menggunakan ambulans.

Berdasarkan data kemkes.go.id, RS Taman Sari tipe/kelas D yang hanya setingkat di atas Puskesmas. Sementara, RS Husada masuk tipe/kelas B.

Itu mengapa, dokter jaga di IGD RS Taman Sari memberi rujukan mama ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitas medisnya. Alhamdulillah, kami diterima RS Husada yang jaraknya hanya 1 km lebih dan masih di kawasan Mangga Besar.

*          *          *

"SELAMAT pagi, mas. Mamanya mau diganti pampers atau dibersihin?" ujar salah satu perawat yang mendatangi kami di Kamar Kelas 2 BPJS RS Husada, jelang fajar. 

Saya yang baru tidur ayam sejenak usai malamnya ngojol dan gantian jaga dengan adik pun langsung mengiyakan.

Dengan telaten perawat itu menyeka mama. Lanjut ganti sprei, selimut, pempers, dan pakaian.

Sumpah, merinding banget saya melihatnya. Bahkan, ini dilakukan perawat setiap hari!

Baik pagi, sore, atau situasi tertentu. 

Biasanya, di rumah kalo mama agak lemas terkait gula darahnya turun, ada adik pertama dan bungsu yang mengurusnya.

Itu wajar, karena kami anak-anaknya.

Namun, perawat di rumah sakit yang bukan keluarga, turut menyeka mama hingga bersih. 

Setiap hari.

Salut.

Tentu, bukan hanya mama saja yang dibersihkan, melainkan setiap pasien yang sedang rawat inap. Tanpa peduli apakah bayar mandiri, asuransi swasta, atau pakai BPJS.

Itu yang saya lihat di kamar yang berisi empat ranjang dengan penuh pasien. Para perawat selalu menawarkan kepada setiap pasien untuk dibersihkan atau ganti pakaian.

Yang lansia atau kedua tangan terpasang selang infus biasanya bersedia. Kecuali jika hanya satu selang dan bisa jalan ke kamar mandi akan melakukannya sendiri.

Mama pun awalnya menolak. Sungkan untuk merepotkan para perawat. Namun, mereka justru menjawab dengan simpatik, "Tidak apa-apa, bu. Ini memang tugas kami setiap hari untuk memastikan kesehatan pasien dan kebersihannya."

Ya, terima kasih banyak untuk para nakes yang bertugas. Semoga perbuatan mulia kalian mendapat balasan yang setimpal!

*          *          *

Disclaimer: Artikel ini murni pengalaman pribadi saya sebagai bloger yang berprofesi ojol. Ga ada pesanan dan tendensi apa pun. Video di akun youtube dan tiktok saya, @roelly87.

*          *          *

- Jakarta, 10

*          *          *


Artikel terkait Kesehatan, Nakes, Guru, dan Profesi Terkait:

- Mama, BPJS, dan Nakes Rumah Sakit yang Memanusiakan Manusia (https://www.roelly87.com/2026/08/mama-bpjs-dan-nakes-rumah-sakit-yang.html)

(https://www.kompasiana.com/roelly87/6a86202634777c3d4d387290/mama-bpjs-dan-nakes-rumah-sakit-yang-memanusiakan-manusia)

- Pengalaman Hari Pertama Mengantar Sekolah setelah 18 Tahun (https://www.roelly87.com/2016/07/hari-pertama-mengantar-sekolah.html)

(https://www.kompasiana.com/roelly87/5793ebeda123bdce2758f238/pengalaman-hari-pertama-mengantar-sekolah-setelah-18-tahun)

- Sejarah dan Pelajaran untuk Masa Depan (https://www.roelly87.com/2017/05/sejarah-dan-pelajaran-untuk-masa-depan.html)

- Rekam Jejak Satu Tahun IDKita Kompasiana (https://www.kompasiana.com/roelly87/55292d5df17e6175468b462a/rekam-jejak-satu-tahun-idkita-kompasiana)

- Mengenalkan Bahaya Narkoba melalui Game Online (https://www.kompasiana.com/roelly87/5512567ca33311ba56ba82f4/mengenalkan-bahaya-narkoba-melalui-game-online)

- Dampak Negatif Internet dalam Keseharian Siswa SD (https://www.kompasiana.com/roelly87/551f61fba33311a633b6675c/dampak-negatif-internet-dalam-keseharian-siswa-sd)

- Pengobatan dan Pencegahan Diabetes (https://www.kompasiana.com/roelly87/55006dcb813311a019fa773c/pengobatan-dan-pencegahan-diabetes)

- Kisah Ibuku yang Dibantu Insulin untuk Melawan Diabetes (https://www.kompasiana.com/roelly87/55008f08a33311e572511414/kisah-ibuku-yang-dibantu-insulin-untuk-melawan-diabetes)

- Nak, Sehat Itu Mahal, Nasehat Ibuku Yang Menderita Penyakit Diabetes... (https://www.kompasiana.com/roelly87/5508f5b8a333111e452e3981/nak-sehat-itu-mahal-nasehat-ibuku-yang-menderita-penyakit-diabetes)

- (Teaser) Melongok Wajah Baru Perbatasan Indonesia dengan Malaysia (http://www.roelly87.com/2018/04/melongok-wajah-baru-perbatasan.html)

- Di PLBN Entikong, Kedaulatan Indonesia Terjaga (http://www.roelly87.com/2018/04/plbn-entikong-perbatasan-indonesia.html)

- Proyek PLBN Entikong Tahap 2 Picu Ekonomi Kerakyatan (http://www.roelly87.com/2018/04/proyek-plbn-entikong-tahap-2.html)

- (Spin-off) Di Perbatasan, yang Sakti Hanya Kera! (http://www.roelly87.com/2018/05/di-perbatasan-yang-sakti-hanya-kera.html)














.