TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Lifestyle

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lifestyle. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 April 2025

Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja

Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja

Twitter lawas @Prabowo

PRABOWO Subianto jadi nama yang paling hangat dibicarakan masyarakat sejak era reformasi. Baik di dunia nyata seperti warung kopi (warkop), perkantoran, gedung bertingkat, kampus, hingga perpustakaan 

Pun demikian di dunia maya. Itu meliputi X atau Twitter, Facebook, Instagram, Thread, Youtube, Tiktok, dan sebagainya.

Terutama, setelah menjabat sebagai Presiden Kedelapan Republik Indonesia (RI) pada 20 Oktober lalu. Sejak itu, nama Prabowo selalu menghiasi alam bawah sadar masyarakat.

Termasuk, saya yang merupakan penggemarnya sejak 2008 silam. Khususnya, usai tiga kali mencoblos pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, 2019, dan 2024.

(Selengkapnya: Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)

Asa pun terpancar tinggi usai mengetahui Prabowo dan Gibran Rakabuming menang pada hari pencoblosan, 14 Februari 2024. Akhirnya, "jagoan saya" bisa jadi presiden usai dalam dua kontestasi dikalahkan Joko Widodo (Jokowi).

Hanya, bak adagium, jauh panggang dari api, pun demikian dengan apa yang dilakukan Prabsky dalam Kabinet Merah Putih. Sumpah, sebagai pemilihnya, saya benar-benar syok.

Hampir enam bulan kepemimpinannya, belum ada gebrakan yang benar-benar mensejahterakan rakyat. Isi kabinetnya aja udah gemuk dengan banyak penambahan menteri, wakil menteri, dan lembaga anyar lainnya.

Efisiensi yang dicanangkan hanya omon-omon. 

Oke gas... Oke gas!

Sebagai manusia, untungnya saya ga pernah mengkultuskan seseorang. Apalagi, politisi.

Ya, saya memang selalu menyisakan ruang ketidakpercayaan pada setiap insan. Termasuk, Prabowo yang saya idolakan lebih dari dua windu ini.

Namun, sejak awal eskpektasi saya memang tidak terlalu tinggi. Pencapaian Prabowo sebagai presiden bisa mendekati era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun sudah bagus.

Ya, bagi saya, kepemimpinan presiden keenam itu jadi bare minimum sejak era dipilih rakyat secara langsung. Kepemimpinan SBY ga jelek-jelek amat. 

Hanya, untuk dibilang bagus juga masih terlali jauh. Jokowi yang jadi penerusnya pun 11/12. 

Namun, kedua presiden itu tetap punya nilai positif. Ada sesuatu yang bisa dibanggakan dari warisannya.

Prabowo? 

Entahlah. Sudah lebih dari 150 hari kepemimpinannya, justru keadaan kian buruk.

Demo di mana-mana akibat ketidakpuasan masyarakat dan mahasiswa terkait RUU TNI. Aparat yang kian sewenang-wenang. 

TNI dan polisi main bunuh rakyat secara gampang. Intimidasi pun jadi santapan sehari-hari.

(Selengkapnya: Lulusan SMA Dibekali Senjata Itu Bernama Polisi = https://www.roelly87.com/2025/02/lulusan-sma-dibekali-senjata-itu.html)

Rupiah melemah. Harga pangan kian naik.

Di sisi lain, Prabowo seperti berada di menara gading. Seolah merasa rakyat saat ini baik-baik saja.

Putra dari begawan Soemitro Djojohadikoesoemo ini ngaku, bangun pagi sangat cerah. Pada saat yang sama, rakyat menyuarakan "Indonesia Gelap".

Duh...

Konklusinya, apakah saya menyesal memilihnya dalam tiga edisi pilpres?

Tentu saja nggak. 

Kan udah terjadi. Kalo di awal namanya pendaftaran.

Toh, saya sadar sejak dulu, kemampuan Prabowo itu ya "B aja".

Cukup sekian dan terima gaji!


*       *       *


TIGA jam lebih saya menyaksikan dialog Prabowo dengan enam jurnalis senior yang diselenggarakan di kediamannya, Minggu (6/4). Tentu, saya ga bisa nonton full saat video itu rilis di berbagai laman youtube media, sehari berselang.

Melainkan, secara maraton. Alias, dilakukan bertahap dalam beberapa hari ini.

Kesimpulan saya terhadap diskusi itu ya... Hambar!

Serius.

Ini penilaian saya. Murni.

Saya berusaha objektif. Baik ya bilang baik, buruk ya katakan buruk.

Saya apresiasi terkait inisiatifnya mengumpulkan para pimpinan media untuk diskusi. Bahkan, disiarkan secara utuh dengan seluruh jurnalis mengatakan wawancara itu tidak pakai script.

Alias, mengalir begitu aja. Tanpa harus setor pertanyaan terlebih dulu.

Bagi saya, ini suatu kemajuan. Sebelumnya, Jokowi yang dikesankan merakyat aja tidak pernah mengajak beberapa jurnalis untuk diskusi.

Sekarang, Prabowo berani dialog dengan para jurnalis senior. Bahkan, adu argumen, "Come On!"

Kebetulan, saya sering menonton wawancara dari beberapa jurnalis itu. Najwa Shihab udah lama dikenal dengan gaya intimidatifnya terhadap narasumber.

Apalagi, Uni Lubis, yang terkesan santai tapi beragam pertanyaannya sangat menusuk.

Nah, terkait Prabowo bisa menjawab dengan baik dan solutif itu perkara lain. Nanti akan saya bahas.

Saat ini, saya ingin menggarisbawahi niat Prabowo yang menegaskan bisa diajak diskusi. Sekaligus, membuktikan sebagai pemimpin yang tidak antikritik dan bersedia menjelaskan apa yang ingin dicapai ke depan.

Bahkan, Ketua Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini menyatakan siap berdialog dengan tokoh "Indonesia Gelap". Dua di antaranya, Refly Harun dan Rocky Gerung, yang disebut secara gamblang.

Jujur, saya berharap pria 73 tahun ini rutin mengadakan dialog terbuka. Tidak hanya kepada jurnalis saja, melainkan para pengamat seperti Refly, Rocky, aktivis hingga mahasiswa.

Jika itu terwujud, rakyat Indonesia bisa tahu terkait langkah Prabowo dalam mengarahkan bahtera ini ke depannya.

Yang penting, diskusi itu dua arah. Disertai solusi untuk mengatasi permasalahannya.

Prabowo udah melakukan itu pada Sarasehan Ekonomi, Selasa (8/4). Acara yang dihadiri berbagai perwakilan dari serikat pekerja, pelaku usaha, hingga  analis pasar modal ini menurut saya menarik.

Dalam dialog berdurasi empat jam di laman youtube Sekretariat Presiden itu tampak tabir gelap yang menyelimuti Prabowo perlahan mulai tersibak. Ya, Danjen Kopassus 1995-1998 itu sangat aktif menjawab sekaligus solutif dalam berbagai masalah dengan langsung memberi instruksi kepada menterinya.

Misalnya, terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang regulasinya akan diubah lebih fleksibel. Atau, terkait impor yang selama ini dimonopoli pihak tertentu.

Jangan lupa, adanya Satgas PHK.

Bagi saya, semua ini menarik. 

Serius.

Tapi, saya mencium bau amis. Saya merasa, ada yang janggal dari setiap perkataan Prabsky saat itu.

Sebab, doi kerap bilang "Saya baru tahu". Ini aneh sih.

Bisa menimbulkan multitafsir di kalangan masyarakat. Eskalasinya menurut saya sangat membahayakan negara.

Secara, menyulut teori konspirasi selama ini. Bahwa, Prabowo mendapat informasi yang tidak utuh hingga diblokir dari para pembantunya di Kabinet Merah Putih. 

Bahkan, saya duga orang-orang terdekatnya kerap memberi info yang keliru. Kabar menyesatkan bahwa negara ini sedang baik-baik saja tidak seperti desakan masyarakat terkait Indonesia Gelap.



Faktanya, Prabowo menyangka demo yang dilakukan mahasiswa terkait RUU TNI itu sebagai aksi bayaran. 

Miris sih dengernya. Saya sampai menghela napas usai maraton nyimak diskusi Prabowo dengan jurnalis.

Namun, setelah menonton Sarah Sechan lebih detail, saya sedikit paham. Mungkin, -ini mungkin ya bisa saja asumsi saya keliru- banyak di Kabinet Merah Putih yang berjiwa ABS.

Asal Bapak Senang. 

Lapor yang bagus-bagus. 

Berita yang menyenangkan Prabowo.

Indonesia baik-baik saja.

Demo itu ada aksi bayaran.

Draft RUU TNI yang dipercaya masyarakat itu hoax.

Lebaran, harga pada turun mulai dari tiket pesawat, tol, hingga sembako.

Dll...

Apalagi, beredar rumor, Prabowo tidak pegang ponsel. Beda dengan SBY dan Jokowi yang meski punya admin, tapi tetap upload status di media sosial secara sendiri.

Bahkan, dalam sesi wawancara dengan jurnalis itu, Prabowo terkesan gagap teknologi (gaptek). Faktanya, ayah dari Ragowo Hediprasetyo Djojohadikoesoemo ini mengaku tidak tahu apa itu buzzer.

Saya enggan berspekulasi tentang ini. Bisa iya, juga bisa ga.

Hanya Prabowo sendiri dan Tuhan yang tahu.

Namun, saya ingat saat debat Capres 2019, Prabowo agak bingung saat ditanya Jokowi soal Unicorn. 

"Maksudnya yang online-online itu, iya?" kata Prabowo yang saat itu berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Aneh juga sih. Mantan jenderal bintang tiga yang punya banyak pasukan, pemilik partai tiga besar parlemen, dan kini jadi orang nomor satu di Indonesia, kok bisa gaptek.

Kalo faktor usia, bisa jadi. Namun, jika dikomparasi,  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang lima tahun lebih tua, masih aktif mencuit di X/Twitter.

Epilog, meski tidak punya ekspektasi tinggi pada Kabinet Merah Putih, tapi saya berharap Prabowo mampu melakukan gebrakan. Khususnya, yang berkaitan langsung dengan masyarakat.

Misal, penegakan hukum harus sama, tajam ke bawah dan juga atas. RUU Perampasan Aset disegerakan demi meminimalkan celah korupsi di antara pejabat.

Saya sempat memalingkan wajah saat Prabowo mengatakan apakah adil terhadap anak koruptor yang menderita akibat orangtuanya dihukum.

Duh, itu adil banget, Prabsky!

Bagaimana perasaan ratusan juta rakyat Indonesia yang masih di bawah garis kemiskinan akibat pejabatnya korup? 

Katanya, Anda mengagumi pemikiran Deng Xiaoping, sosok di balik kesuksesan Cina sejak 1980-an. Saat itu, Deng tega menghukum mati pejabatnya yang ketahuan korupsi.

Sementara, Anda? Malah kasihan kepada anak koruptor.

Hello...

Prabsky, Anda benar-benar hipokrit.

Jadi teringat twit seseorang pada 3 Oktober 2011, yang berbunyi, "Saya tidak bangga Indonesia dicap sebagai salah satu negara paling korup di dunia. Saya mendukung hukuman mati bagi koruptor."

Saya sudah 17 tahun mengagumi Anda. Namun, kesan gagah ala Prabsky berubah sejak 20 Oktober lalu.

Prabowo yang sekarang bukanlah seperti yang dulu lantang di podium. Kini, Prabsky yang saya kenal hanya seonggok tubuh tanpa semangat duduk di singgasana emas yang berada di menara gading...


*       *       *


- Jakarta, 11 April 2025


*       *       *


Artikel Terkait Politik: 


- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)


- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-gemoy-tapi-tangannya-berlumuran.html)


- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-presiden-2024-ganjar-mendagri.html)


- Anies adalah Liu Bei, Mega = Sun Quan, dan Jokowi = Cao Cao? (https://www.roelly87.com/2024/08/anies-adalah-liu-bei-mega-sun-quan-dan.html)


- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia


- 9 Naga dan 3 Capres


- Prabowo dan Kedaulatan Selera


- Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik


- Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona (https://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html)


- Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran...


- Manusia Lebih Anjing daripada Anjing


- Di Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil


- Jokowi, Sang Gubernur Gaul


- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif





Minggu, 15 September 2024

Astra, YDBA, UMKM, dan Kontribusi untuk Negeri

Astra, YDBA, UMKM, dan Kontribusi untuk Negeri

Agus Mulyana, salah satu pelaku UMKM
binaan YDBA dalam diskusi dengan bloger
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)



ASTRA Indonesia (PT Astra International Tbk) itu rajanya otomotif.

Ngomongin soal Astra, pasti tentang mobil

Bicarain Astra, ga jauh dari sepeda motor.

Ngebahas Astra, ada truk, alat berat, atau kendaraan lainnya.

Terkait Astra, jangan lupa dengan spare part.

Astra itu... Astra ini... Astra dari hulu ke hilir tentang...

Ya, bagi masyarakat awam, termasuk saya, jika mendengar kata Astra, pasti yang terlintas adalah tentang dunia otomotif. Wajar saja.

Stigma Astra = Otomotif emang ga salah. Secara, perusahaan yang berdiri pada 1957 ini memang dikenal sebagai produsen atau penyalur berbagai kendaraan di Tanah Air.

Misalnya, motor dengan merek Honda yang sangat populer di penjuru nusantara. Salah satu tipenya jadi andalan saya sehari-hari untuk mencari nafkah sebagai ojek online (ojol).

Untuk mobil, ada Toyota. Siapa yang ga kenal dengan kendaraan merek ini hingga dijuluki sejuta umat?

Jangan lupa dengan Daihatsu, Isuzu, Peugeot, BMW, dan Lexus, yang masuk jaringan Astra. 

Yupz, perusahaan yang berkantor pusat di Menara Astra, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat ini memang dikenal sebagai produsen, perakit, dan penyalur kendaraan. 

Namun, Astra tidak hanya tentang motor dan mobil saja.

Faktanya, mereka memiliki lebih dari 200 anak usaha yang terbagi dalam tujuh sektor. Itu meliputi:

- Otomotif

- Jasa Keuangan

- Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi

- Agribisnis

- Infrastruktur dan logistik

- Teknologi Informasi

- Properti

Ya, ada diversifikasi pada lini usaha Astra. Kebetulan, sebagai bloger, saya kerap menulis berbagai artikel terkait mereka.

Mulai dari asuransi, pembayaran digital, pembiayaan kendaraan, dan sebagainya. Banyak artikel yang sudah saya buat, baik di blog pribadi ini, www.roelly87.com atau Kompasiana (kompasiana.com/roelly87).

Di sisi lain, Astra juga dikenal sebagai perusahaan yang banyak memberi kontribusi untuk masyarakat di negeri ini. Mereka memiliki sembilan yayasan yang bergerak di berbagai bidang, yaitu:

- Yayasan Toyota dan Astra (YTA)

- Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA)

- Yayasan Astra Bina Ilmu-Politeknik Astra (YABI)

- Yayasan Astra Honda Motor (YAHM)

- Yayasan Amaliah Astra (YAA)

- Yayasan Karya Bakti United Tractors (YKBUT)

- Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR)

- Yayasan Astra Agro Lestari (YAAL)

- Yayasan Insan Mulia Pama (YIMP)


Selain sembilan yayasan itu, Astra juga rutin berkolaborasi dengan masyarakat. Misalnya, dalam 4 Gerakan Indonesia untuk Sehat, Cerdas, Hijau, dan Kreatif.

Perusahaan yang didirikan William Soerjadjaja ini pun setiap tahunnya rutin menyelenggarakan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards. Yaitu, apresiasi untuk generasi muda yang memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, dan teknologi.

Tak lupa, ada Kampung Berseri Astra dan Desa Sejahtera Astra. Kebetulan, pada 2018 lalu, saya pernah mengunjunginya bersama puluhan rekan bloger di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta. (https://www.roelly87.com/2023/04/bukber-blogger-perdana-sejak-pandemi.html)

Btw, untuk kali ini saya mau menulis tentang Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Kebetulan, kemarin, Jumat (13/9) saya turut mengunjungi Galeri YDBA untuk mengenal lebih dekat terkait peran Astra terhadap UMKM di Tanah Air.


*        *        *




SIANG itu, matahari bersinar malu-malu. Dari arah barat ibu kota saya menuju timur. 

Masih di Jakarta Utara sih, tepatnya Jalan Gaya Motor 1 No 10, Sunter, Tanjung Priok, yang merupakan kantor YDBA, bersebelahan dengan markas lama Astra.

Di lokasi tersebut juga ada Galeri YDBA. Saya tidak asing dengan kawasan tersebut, karena sering mengunjunginya sebelum Pandemi Covid 19.

Udah lumayan lama juga sih, terakhir 2018 silam. Untung, saya datang masih belum terlalu siang, jadi jalanan belum begitu macet. 

Beda dengan pulangnya, yang di sekitar Sunter padat akibat pakir kendaraan yang ingin menghadiri konser di Jakarta International Stadium (JIS).

Btw, saya baru ingat acaranya Jumat. Sedikit drama juga sih sebelum berangkat.

Sebagai makhluk nokturnal, saya biasa tidur pagi. Aktif mencari nafkah sebagai ojol biasanya sore hingga subuh.

Ya, saya mirip Manusia Kelelawar lah yang beroperasi malam hari di Gotham City. Ha... Ha... Ha...!

Nah, kemarin saya tidur sekitar pukul 07.00 WIB. Terbangun akibat panggilan telepon yang terus-terusan.

Awalnya ga diangkat, maklum nomor ga dikenal. Saya paling malas kalo angkat nomor yang ga ada di kontak.

Biasanya pihak bank yang rutin menawarkan kartu kredit, pinjaman online (pinjol) resmi, asuransi, KPR, hingga travel Kadang mikir, mereka ini aneh juga.

Udah tahu saya cuma ojol, tapi sering nawarin yang bukan untuk kapasitasnya. Ha... Ha... Ha...

Pas saya angkat, ternyata dari teman. Penting. Oke.

Lanjut mau tidur. Tapi ga bisa.

Lirik jam, menunjukkan pukul 08.55 WIB. Cek notif di WA, rame tapi normatif.

Baru inget, kemarin ada info di Grup Content Creators Astra untuk silurahmi ke Galeri YDBA. Katanya besok.

Saya pikir, besok itu Sabtu (14/9). Ga mungkin ada event bloger Jumat siang, karena untuk pria yang muslim terpotong Salat Jumat.

Biasanya Sabtu, Minggu, atau libur. Tapi, saya salah.

Eh, dipikir-pikir malah kepikiran.

Ternyata, Jumat! Nah, lho...

Beneran. Saya cek jadwalnya jam 10.00 WIB!

Waduh... 

Tidur baru 1,5 jam. Mata masih lima watt tipis-tipis.

Apalagi, lokasinya cukup jauh dari tempat saya di barat. Hampir 30 km menuju YDBA.

Tapi, ya sudah kadung janji. Tancap gas.

Telat? Pasti...

Yang penting udah usaha.

Sampai di lokasi, sudah ramai. Ada perwakilan yayasan yang berdiri sejak 1980 ini, Agustin tengah berbagi info kepada rekan-rekan blogger yang sedang tour di Galeri YDBA.

Btw, saya pikir doi cw. Secara namanya Agustin. 

Eh, ga tahunya cw. Yasudah, maap.

Dalam kesempatan itu, Agustin turut menjabarkan pencapaian YDBA dalam menggandeng berbagai pihak, mulai dari masyarakat terpencil hingga pelaku Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Mulai dari bengkel, pertanian, perkebunan, makanan ringan, kopi, madu, tas, kain batik, hingga kerajinan tangan seperti miniatur alat berat. Saya pun berkeliling Galeri YDBA yang turut memasarkan hasil produk UMKM binaan mereka.

Sumpah, inspiratif banget. 

Ini bukan kali pertama saya menyaksikan berbagai produk UMKM binaan YDBA. Sebelummya, mereka kerap mempromosikan di berbagai event, termasuk pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang berlangsung tiap tahun.

Hanya, event itu tentatif. Tidak setiap hari.

Sementara, di Galeri YDBA, berlangsung tiap hari yang terbuka untuk umum.

Btw, sekadar saran untuk YDBA. Kalo bisa, Galeri YDBA "dipindahkan" ke pusat kota, misalnya di Menara Astra. 

Bagusnya di lantai dasar yang aksesnya mudah karena dekat dengan transportasi umum (cukup lompat dari Halte Transjakarta dan Stasiun MRT karena lokasinya persis depan gedung). 

Secara kalo di lantai atas sama aja, susah. Pengunjung harus berbagi tempat dengan karyawan kantor yang bekerja. Apalagi, aksesnya pasti ribet karena harus tukar identitas/KTP.

Atau juga di kawasan yang mudah dijangkau pelajar, mahasiswa, dan masyarakat luas.

Kenapa?

Sebab, di Sunter itu identik dengan kawasan industri yang kalo macet ampun dah. Banyak truk besar atau kendaraan berat yang lewat. 

Juga cukup jauh dari transportasi publik seperti Transjakarta, Angkot, Commuter Line, MRT, dan LRT.

Alhasil, kurang mendapat antusias dari masyarakat. Jujur aja, saya pun kalo ke sana lewat transportasi umum, agak berat. 

Apalagi, saya ojol, yang kemana-mana antar penumpang. Jadi, ya kalo ke Galeri YDBA lagi, tentu naik sepeda motor.

Bagi saya, Galeri YDBA ini bak mutiara yang terpendam. Berkilau dari kejauhan, tapi sulit dijangkau.

Oh ya, ini sekadar saran dari saya sebagai bloger.


*        *        *


"KAMI sangat inklusif kepada semua pihak. Baik masyarakat umum atau pelaku UMKM, ayo, kita sama-sama untuk maju. Kami selalu mendorong mereka untuk berhasil," kata Ketua Pengurus YDBA Rahmat Samulo dalam diskusi dengan bloger.

Menurutnya, dalam 34 tahun sejak didirikan, YDBA sudah banyak mengembangkan komunitas UMKM untuk mandiri hingga naik kelas. Alhasil, mereka dapat bersaing di pasar nasional atau global.

Hingga kini, YDBA turut membantu 1.328 UMKM di Tanah Air. Terbagi dalam lima sektor meliputi manufaktur, bengkel, pertanian, kuliner, dan kerajinan.

Bagi saya pribadi, ini luar biasa manfaatnya. Bayangkan, data itu hanya dari YDBA saja. Seribu lebih UMKM itu memperkerjakan berapa karyawan yang mencari nafkah untuk keluarganya.

Sementara, Astra memiliki delapan yayasan lainnya yang juga banyak membantu pelaku UMKM lainnya di penjuru nusantara hingga menggerakkan perekonomian masyarakat. 

Salut sih. Pantas Astra jadi salah satu grup usaha terbesar di Tanah Air. Secara, mereka sukses memanusiakan manusia.

Fakta tersebut diungkapkan Agus Mulyana pemilik CV. Anugrah Jaya Mandiri. Menurutnya, usaha yang dirintis sejak 2010 itu kian berkembang berkat dibina YDBA.

Mulai dari pelatihan dasar, pengenalan produk, hingga pemasaran. Sekarang, usahanya yang bergerak dibidang Supplier dan Manufaktur Wire Part Automotive Component, Proses Stamping untuk Electronik dan Electric Component ini sudah berkembang luas dengan memiliki puluhan karyawan.

"Saya bikin usaha dari nol. Awalnya dengan modal kurang sejuta dan tiga karyawan. Sangat susah untuk menembus pasar. Ya, namanya juga UMKM baru," Agus, menjelaskan.

"Enam bulan pertama, saya mau mengibarkan bendera putih. Beruntung, sejak kenal YDBA, saya benar-benar dibina hingga jadi," tuturnya, semringah. "Bahkan, sekarang gampang memasarkannya. Kenapa? Secara, saya sudah dikenal sebagai pemasok untuk Astra. Nama besar Astra jadi jaminan untuk mendapatkan customer."

Yupz, adagium mengatakan, proses ga pernah mengkhianati hasil, memang benar. Agus, mengakui banyak pihak yang berperan besar terhadap kemajuan usahanya.

Selain YDBA, juga karyawannya yang loyal. Jika dihitung satu karyawan memiliki istri atau suami dengan dua anak, berarti usaha tersebut turut membantu perekonomian masyarakat.

Itu baru satu pelaku UMKM saja. Masih ada ribuan Agus-Agus lainnya yang saat ini dibina YDBA.***


*        *        *

Perwakilan YDBA Agustin menjelaskan
kepada bloger saat tour di Galeri YDBA
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


*        *        *

Ketua Pengurus YDBA Rahmat Samulo
berbagi tips dan informasi terkait UMKM
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


*        *        *

Paparan jumlah UMKM aktif yang
dibina YDBA
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


*        *        *

Berbagai jeroan mobil yang komponennya
banyak dikirim dari mitra UMKM YDBA
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


*        *        *

Ekosistem Astra dengan menyediakan pembayaran dompet digital Astrapay 
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


*        *        *

Salah satu produk UMKM binaan YDBA
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


*        *        *

Miniatur alat berat euy, keren!

(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


*        *        *

Boneka yang lucu, harganya variatif
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


*        *        *



*        *        *



*        *        *

(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


*        *        *


- Tangerang, 15 September 2024


*        *        *



Artikel Terkait


========== YDBA: ==========


- YDBA Selenggarakan Konvensi QCC UKM Edisi Ketiga (https://www.roelly87.com/2018/09/konvensi-qcc-ukm-mitra-ydba-2018.html)

- YDBA Siap Libatkan UKM untuk Sukseskan Asian Games 2018 (https://www.roelly87.com/2017/12/ydba-ukm-asian-games-2018.html)

- Berangkatkan 22 UMKM ke Jepang, YDBA Lanjutkan Beri Kail Bukan Ikan (https://www.roelly87.com/2017/09/berangkatkan-22-umkm-ke-jepang-ydba.html)

- Konvensi QCC 2017 Dorong Mitra YDBA untuk Mandiri dan Lebih Kompetitif (https://www.roelly87.com/2017/08/ydba-konvensi-qcc-2017-yuk-ngimprove.html)

- Rayakan HUT ke-37, YDBA Luncurkan HebatnyaUKM.org (https://www.roelly87.com/2017/07/ydba-luncurkan-hebatnyaukmorg.html)

- 7 Alasan Harus Memiliki Daihatsu Sigra (https://www.roelly87.com/2016/08/7-alasan-harus-memiliki-daihatsu-sigra.html)


========== ASTRA: ==========

- Bukber Blogger Perdana sejak Pandemi (https://www.roelly87.com/2023/04/bukber-blogger-perdana-sejak-pandemi.html)

- Ada AstraPay di Balik Solusi Pembayaran Digital yang Terpercaya (https://www.roelly87.com/2021/09/ada-astrapay-di-balik-solusi-pembayaran.html)

- Pengalaman Perdana Ikut Bukber Astra (https://www.roelly87.com/2017/06/pengalaman-perdana-ikut-bukber-astra.html)

- Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya? (https://www.roelly87.com/2016/08/astra-berusia-60-tahun-selanjutnya.html)

- Peringati HUT ke-60, Astra Kembali Selenggarakan SATU Indonesia Awards 2017 (https://www.roelly87.com/2017/03/satu-indonesia-awards-2017.html)

- Yuk, Berkunjung ke Museum Astra (https://www.roelly87.com/2016/11/yuk-berkunjung-ke-museum-astra.html)

- Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016 (https://www.roelly87.com/2016/10/satu-indonesia-awards-2016.html)

- Apresiasi Astra untuk Guru dan Sekolah di Tanah Air pada Hari Guru Nasional (https://www.roelly87.com/2016/11/apresiasi-astra-untuk-guru-dan-sekolah.html)

- Memetik Inspirasi Bersama Astra (https://www.roelly87.com/2016/12/memetik-inspirasi-bersama-astra.html)

- Sensasi Menanam Gaharu Bersama Astra di Bukit Kasur Cianjur (https://www.roelly87.com/2016/12/sensasi-menanam-gaharu-bersama-astra-di.html)

- (Esai Foto) Petualangan Akhir Tahun Bersama Astra (https://www.roelly87.com/2016/12/petualangan-akhir-tahun-bersama-astra.html)

- Ini Alasan Astra Sediakan 4 Mobil untuk Hadiah Lomba Foto Astra dan Anugerah Pewarta Astra 2017 (https://www.roelly87.com/2017/08/Lomba-Foto-Astra-dan-Anugerah-Pewarta-Astra-2017.html)

- Di Balik Julukan Pahlawan Lembah Hijau Rumbia (https://www.roelly87.com/2016/12/di-balik-julukan-pahlawan-lembah-hijau.html)

- Astra Sponsori Asian Games 2018 (https://www.roelly87.com/2017/12/astra-sponsori-asian-games-2018.html)

- Yuk, Proteksi Diri dan Keluarga Bersama happyOne.id (https://www.roelly87.com/2018/10/yuk-proteksi-diri-dan-keluarga-bersama.html)


========== OTOMOTIF: ==========

- Kenapa Harus Rutin Ganti Oli? (https://www.roelly87.com/2024/04/kenapa-harus-rutin-ganti-oli.html)

- Menikmati Sensasi Perjalanan Bersama "Si Biru" Grand New Avanza (https://www.roelly87.com/2015/11/menikmati-sensasi-perjalanan-bersama-si.html)

- Magnet Grand New Veloz dan Grand New Avanza di GIIAS 2015 (http://www.roelly87.com/2015/08/magnet-grand-new-veloz-dan-avanza-di.html)

- Belajar Disiplin (Lagi) Berkat Mengunjungi Pabrik Toyota TMMIN (http://www.kompasiana.com/roelly87/belajar-disiplin-lagi-berkat-mengunjungi-pabrik-toyota-tmmin_5587d7351393730519daf31b)

- Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak hanya Memproduksi Mobil (http://www.kompasiana.com/roelly87/sisi-lain-toyota-tmmin-tidak-hanya-memproduksi-mobil_5578f28edf22bd0c1c302200)

- Keceriaan di Booth Daihatsu GIIAS 2016 (https://www.roelly87.com/2016/08/keceriaan-di-booth-daihatsu-giias-2016.html)

- Kopdar Kokgituya.com yang Menambah Pengetahuan Blogger (https://www.roelly87.com/2015/08/kopdar-kokgituyacom-yang-menambah.html)

- Mengintip Produksi Innova dan Fortuner di TMMIN Karawang Plant 1 (https://www.roelly87.com/2017/10/mengintip-produksi-innova-dan-fortuner.html)


Rabu, 21 Agustus 2024

Dan Terjadi Lagi... Pelecehan Seksual terhadap Ojol


Dan Terjadi Lagi... Pelecehan Seksual terhadap Ojol

Laporan ke aplikasi Gojek terkait
pelecehan seksual dari customer




PELECEHAN Seksual bisa menimpa siapa saja. Baik wanita maupun pria.

Dapat terjadi di mana saja dan kapan pun. Juga terkait profesi.

Baik yang kerja di kantoran, pabrik, restoran, hiburan, dunia malam, hingga pemerintahan. Pun demikian dengan pekerja lepas seperti ojek online (ojol) atau kurir paket.

Teranyar, dialami saya. Ini bukan yang pertama.

Melainkan, sudah berulang kali sejak saya jadi ojol pada 2019 silam (https://www.instagram.com/p/CHV-PwNLo_2/?igsh=MXYzdm92czM3bXFkMw==). Pelakunya, tentu pria juga.

Padahal, saya pun laki-laki.

Aneh.

Mau bingung, tapi ya ini bisa terjadi terhadap siapa saja. 


*       *       *


MALAM itu, cuaca sangat cerah. Usai mengantarkan paket dari kawasan Margonda, Depok ke Tebet, Jakarta Selatan, saya pun singgah sejenak di SPBU Jalan Rasuna Said.

Tujuannya, jelas. Isi bensin.

Sembari melempangkan kaki yang lumayan pegal akibat perjalanan hampir 22 km yang menempuh durasi setengah jam. Tak lupa, memesan kopi hitam di seberang Stasiun LRT Kuningan untuk menghilangkan kantuk.

Usai istirahat dan cuci muka di SPBU yang toiletnya benar-benar gratis, saya pun bergegas kembali ke barat. Bukan untuk mencari kitab suci bersama Sun Go Kong, Ciu Patkai, dan rombongan lainnya.

Melainkan, untuk pulang mengingat saat itu jelang pergantian hari. Hanya, saat lewat Jalan Satrio, hp saya berbunyi tanda orderan masuk.

Jemputnya di club seberang Ciputra World. Tujuannya, tempat hiburan di Pancoran dengan jarak kurang dari 4 km.

Dekat ini mah.

Saya pun siap ambil orderan itu.

Beda cerita kalo jaraknya jauh. Misal, ke Bekasi, Cilincing, atau Depok (lagi). 

Pasti saya cancel.

Secara, sudah lelah setelah bermacet ria sejak siang. 

Diiringi hiburan melihat keramaian di media sosial terkait Pilkada dan selingkuhnya selebgram.

Ha... Ha... Ha... Ga penting amat tuh berita. Namun, ga dilihat juga tetap berseliweran di timeline.

Jangan-jangan, konspirasi? Pengalihan isu Keputusan Mahkamah Keluarga eh, Mahkamah Konstitusi?

Entahlah.

Hidup saya udah terlalu berat, ogah ditambah dengan drama picisan tersebut.

Lanjut...


*       *       *


CUSTOMER ini pria. Masih muda. Usia ga jauh beda.

Tampak normal. Ga ada yang aneh.

Cuma, ogah pake helm dan minta buru-buru aja. Ga masalah. Tancap gas 

Namun, pas masuk Jalan Guru Mughni, ketika motor yang saya lajukan standar, kok tangannya memegang erat pinggang saya. Ga lama, meluk.

Anjir.

Dan, terjadi lagi...

"Bro, tangan lo lepas," ujar saya dengan nada sopan.

"Iya, bang," customer itu menjawab sambil ketawa.

Lanjut.

Jelang pertigaan Mughni-Jalan Perintis arah Mega Kuningan, kembali penumpang itu tangannya hendak memeluk. Saya rem mendadak.

Kebetulan, saat itu jalanan sepi. Saya pinggirkan motor.

"Bro, tangan lo diam ya. Sekali lagi, tangan lo 'piknik', gw hajar!" saya memberi ultimatum.

Setelah peringatan di awal dengan sopan ga mempan, ya terpaksa dikeraskan. Kalo ga, nantinya bisa ngelunjak.

"Iya, bang. Maaf ya. Ga lagi," penumpang itu mengungkapkan.

"Inget ya, kalo lo 'gerilya' lagi, bukan mulut gw yang bicara. Namun, ini," saya menunjukkan kepalan tangan yang siap untuk digunakan sebagai mestinya.

"I... Iya, bang. Maaf ya. Sekali lagi, maaf."

...

Customer itu kembali mengucapkan maaf ketika sudah di lokasi. Saya bilang, jangan diulangin lagi saat naik ojol. Bisa fatal.

Mending kalo ojolnya sabar, seperti saya. Kalo ojolnya temperamental? Bisa dihajar sampai babak belur!

Customer itu pun mengangguk. Masuk ke lokasi dengan tertunduk.

Saya?

Tentu, masih kesal. Namun, ya berusaha untuk kepala dingin.

Secara, ga bagus juga mengedepankan emosi. Bisa panjang urusannya.

Kendati, ini bukan yang pertama. Entah sudah berapa kali saya jadi korban.

Contohnya, pada 9 November 2020 silam. Saat masih pandemi. Hanya, pelecehan seksual ga mandang waktu. 

Saat itu saya sudah lapor ke Gojek yang merupakan mitra aplikasi. Namun, ya begitu.

Tadi pun, tak lama usai kejadian, saya lapor lewat fitur di aplikasi. Hanya, jawaban Gojek sekadar formalitas.

Sejauh ini ga pernah ada tindak lanjut dari laporan yang saya lakukan. Makanya, kadang malas juga.

Beda situasi kalo customer yang jadi korban. Gojek atau aplikasi lain pasti gercep.

Alias, gerak cepat mem-PM (putus mitra) ojolnya. Gini amat nasib jadi mitra rasa karyawan? :)


*       *       *


KAMUS Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring mengartikan pelecehan seksual sebagai, "pelanggaran batasan seksual orang lain atau norma perilaku seksual".

Saya masih bingung dengan maksudnya. Meski, saya paham "memeluk" -meski dari sesama pria- pun masuk dalam ranah pelecehan seksual.

Tentu, sebelum membuat artikel ini saya cari informasi lebih dulu. Supaya, tidak bias dan malah jadi fitnah.

Bisa dipahami mengingat dalam laman resmi Kemdikbud, agak bias.

Saya pun, googling lagi. Kali ini ditambahi kata kunci, "Apakah memeluk termasuk pelecehan?".

Hasilnya, ketemu. Hukumonline menulis, terkait kontak fisik.

Bahkan, laman Indonesia Baik yang dikelola Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, menulis dengan gamblang. Dalam artikelnya "21 Bentuk Kekerasan Seksual yang Dilarang!" memeluk ada di nomor 12.


*       *       *


TERNYATA, banyak ojol yang jadi korban pelecehan seksual. Itu yang saya dapat saat berselancar di google.

Pelakunya? Pria juga!

Benar-benar aneh.

Hanya, tidak semua mau bersuara. Alasannya malu. 

Ribet kalo dipanggil ke kantor aplikasi. Mayoritas bilang, mending nyari duit daripada buang-buang waktu ngurusin gituan. 

Maklum, customer selalu dibenarkan aplikasi. Ojol di mata mereka selalu salah.

Bahkan, ada yang menghindar. Toh, ngegebukin customer pelaku pelecehan seksual malah nanti berujung pidana.

Itu yang saya baca saat buka puluhan grup WA dan FB.

Ga salah juga sih. Saya aja tadi lapor aplikator tanggapannya normatif.

Namun, sebagai blogger, tentu saya harus menyuarakan lewat tulisan. Apalagi, ini sudah berulang.

Apakah nanti ada tindak lanjut atau tidak dari aplikasi, itu soal lain.

Setidaknya, tetap berusaha hingga saat ini.***


*       *       *

Kasih bintang 1!


*       *       *

Rating customer jelek banget,
4,48 dari 124 order
sepertinya diduga sering melakukan
pelecehan kepada ojol lain 


*       *       *

Tanggapan pihak Gojek
yang sayangnya terlalu
normatif dan tidak ada solusi


*       *       *


Referensi:

- https://paudpedia.kemdikbud.go.id/berita/jenis-jenis-kekerasan-seksual?do=MTk1MC1mMjE0NGYwNw==&ix=NDctNGJkMWM0YjQ=#:~:text=Fisik%3A%20tindakan%2Dtindakan%20yang%20melibatkan,tanpa%20izin%20atau%20keinginan%20korban.


- https://www.hukumonline.com/klinik/a/apakah-memandang-termasuk-pelecehan-seksual--lt4ecccd3905227/


- https://indonesiabaik.id/infografis/21-bentuk-kekerasan-seksual-yang-dilarang


- 

*       *       *


Artikel terkait:

- https://www.kompasiana.com/roelly87/550dee86813311852cbc6101/waspadai-pelecehan-seksual-bagi-perempuan-saat-mengendarai-motor


- 


- 


Kamis, 06 Juni 2024

Niat Mulia Ajak Boikot tapi Caranya Salah

Niat Mulia Ajak Boikot tapi Caranya Salah


Ilustrasi perjuangan dalam mencari nafkah
(Foto: dokumentasi pribadi/@roelly87)




MEMASUKI pertengahan 2024, situasi politik dan keamanan di muka bumi ini kian memanas. Perang, invasi, aneksasi, hingga genosida kian menggila.

Khususnya, di Timur Tengah yang sangat panas akibat ulah Israel terhadap rakyat Palestina. Sejak 7 Oktober 2023, masyarakat di Kota Gaza dan sekitarnya tak henti mendapat gempuran dari kaum zionis.

Btw, bedakan ya antara Israel sebagai negara, Yahudi agama yang dianut, dan paham zionis. Ketiganya berlainan.

Banyak juga warga Israel yang beragama Yahudi sangat mengecam tindakan pemerintahnya. Untuk zionis ya, kalian pembaca blog ini tentu sudah tahu.

Oke, lanjut.

Imbas tindakan sewenang terhadap Palestina membuat masyarakat dunia pun mengecam Israel. Dari berbagai penjuru, melakukan demo dan boikot produk yang berafiliasi dengan negara yang seupil tapi tingkahnya tengil itu.

Termasuk, di Indonesja yang memang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Baik dari sikap resmi pemerintah, pejabat, hingga rakyat jelata sangat mengecam invasi Israel.

Demo pun dilakukan segenap elemen masyarakat. Juga boikot terhadap produk, baik di dunia nyata maupun secara online.

Sebagai pribadi yang berusaha untuk memanusiakan manusia, sudah pasti saya sangat mendukung boikot tersebut. Tentu, asal tidak merugikan segenap rakyat Indonesia lainnya.


*       *       *


SIANG itu, cuaca sangat terik. Saya pun istirahat sejenak di emperan rumah toko (ruko) yang kosong di kawasan barat ibu kota sambil menunggu orderan selanjutnya. 

Lumayan, buat nyender sekaligus melempengkan kaki sebelum kembali melanjutkan tugas sebagai ojek online (ojol). Termos mini berisi kopi hitam yang tak lagi panas pun jadi teman setia.

Ga ketinggalan asap kehidupan yang menambah suasana kian syahdu. Meski sejak pandemi mereknya jadi aneh.

Termasuk, yang saya hisap sekarang. Bukan merek terkenal dan bahkan brand-nya ga jelas saking murahnya.

Maklum, sebagai ahli hisap, yang penting bisa ngelepus. Beda saat masih kerja atau sebelum pandemi, ga pernah jauh dari produk premium keluaran Surabaya dan Kudus.

Ga lama, ada pria dengan perkiraan usia sedikit lebih muda menghampiri. Pakaiannya formal dan rapi.

Sepatunya tandas nan mengkilap. Saya pun mengangguk sebagai tanda menyambut.

"Sendirian, mas? Kayaknya cape banget nih."

"Iya, bro."

"Istirahat?"

"Yongkru, sambil nunggu orderan."

Saya kembali menyeruput kopi. Scroll hp pun lanjut untuk melihat berbagai info di portal berita.

Pada saat yang sama, pria tadi sudah di depan saya. Bahkan, melongok hp yang saya buka.

"Asyik nih mas. Liat apa?"

"Biasa bro. Berita aja."

"Israel laknat masih rame diberitain?"

"Iya, bro."

"Anjing itu ya, ga mau diazab itu negara. Saya berharap secepatnya Israel dihilangkan dari muka bumi."

"..."

"Iya kan mas?"

"Yoi bro."

"Menurut kamu gimana mas?"

"Kenape bro?"

"Soal Israel laknat?"

"Ya, ga gimana-gimana."

"Lho, kamu kan lagi baca berita?"

"Maksudnya?"

Berbagai pertanyaan pria tadi bikin mood saya berubah. Saya yang sedang istirahat dan baca berita hasil pertandingan olahraga semalam, jadi merasa keganggu.

"Kamu dukung boikot Israel dan produk yang terafiliasi seperti ***, ****, *****?"

"Iya bro."

"Udah dilakuin?"

"Maksud lo apa nih?"

"Iya, boikot ga pake produknya, makan, dan minum produk yang nyumbang dana untuk Israel? Sudah dilakuin belom? Atau tidak pernah?"

"Hubungannya sama gw ini apa ya?"

Tensi saya langsung naik ketika ada yang menyinggung privasi. Saya memang mendukung adanya boikot terhadap produk atau brand yang terafiliasi dengan Israel.

Namun, itu untuk konsumsi pribadi. Yang berhak tahu hanya saya dan Tuhan.

Lah, ini ada orang ga kenal udah sok asyik menyelidiki ranah pribadi. Bahkan, lancang nanya-nanya yang menyerempet privasi.

Ga heran jika saya sedikit terpancing. Tadinya sopan memanggil 'bro' jadi lo dan gw.

Pertanda saya udah ga nyaman dengan seseorang. Ditambah, situasi lagi terik dan saya sedang ingin istirahat setelah keliling mengurai macetnya jalanan.

"Mas, kamu kan ojol ya. Sering anter makanan dari resto ***, ****, dan *****?"

"Woi, lo apaan sih. Nanya-nanya ga jelas."

"Ga mas, kita kan simpati sama Palestina."

"Iya, sebagai manusia, gw juga simpati. Tapi, hubungannya pertanyaan lo itu apa?"

"Gini... Mas, sesama manusia, saya hanya mengingatkan. Jika dapat orderan ojol antarmakanan dari resto itu mending dicancel aja. Ga ada faedahnya. Kebanyakan mudarat."

"..."

"Kalo mas tetep anter, sama aja secara ga langsung mas nyumbang ke Israel untuk membantai warga Palestina. Tolakin aja orderan dari resto ***, ****, *****, dan lainnya ya mas. Demi kebaikan mas juga. Biar berkah."

Mendengar uraian pria itu membuat saya tersenyum. Saya pikir, ini orang ga waras.

Seharusnya, menghadapi manusia ga punya otak kayak gini, lebih baik ditinggal. Ga usah diladenin biar dia capek sendiri.

Di sisi lain, saya pikir kalo ini orang dibiarkan, bakal berabe. Seolah udah berasa maha benar.

Jadi, saya pun harus kasih pelajaran biar dia kapok. Supaya ini pria ga terlalu ikut campur urusan orang lain.

"Berarti lo ngelarang kalo gw ambil orderan dari resto yang diduga terafiliasi atau menyumbang pendanaan Israel itu?"

"Benar mas. Biar berkah."

"Bro... Ini gw kasih nasihat terbaik buat lo sekarang dan ke depannya ya. Jangan pernah sekali-kali dalam hidup lo untuk ganggu orang yang lagi ibadah, kerja, dan makan. Urusannya fatal."

"Kok gitu, mas? Ini kan cuma..."

"Ngebacot lagi, ini termos melayang ke kepala lo. Gw hitung sampe tiga, kalo lo ga enyah, siap-siap..."

"..."

Dengan terburu-buru, pria itu pun sipat kuping. Gw langsung menginjak puntung rokok yang tersisa setengah batang akibat belum sempat dihisap manusia ga jelas itu.

"Huff..."


 *       *       *


SEPEMBAKARAN hio pun berlalu. Situasi dan tensi saya mereda usai kepergian pria tersebut.

Benar-benar manusia aneh. Niatnya sih mulia, tapi caranya sungguh salah.

Ngajak boikot sambil maksa orang kerja untuk menolak orderan itu sungguh terlalu. Apalagi, urusan dapur itu sensitif.

Hanya, ya sudah lah. Malas dibahas lagi.

Intinya, saya mendukung boikot atau kampanye anti Israel. Namun, jangan sampe merugikan bangsa sendiri.

Contoh, di media sosial ada video sekelompok orang yang teriak-teriak anti Israel di resto cepat saji. Bahkan, ada yang merusak properti dan membuat keresahan warga sekitarnya.

Padahal, yang berada di lokasi itu kan karyawan yang justru tidak tahu apa-apa. Mereka sedang bekerja demi sesuap nasi untuk keluarganya.

Memangnya, kalo sampe para karyawan dipecat, para pemboikot dan pendemo mau tanggung jawab? Hello!

Inget ya, zaman sekarang cari kerja sulitnya minta ampun. Jadi, ga usah terlalu goblok dengan menyusahkan orang lain.

Ditambah dengan berbagai kebijakan aneh pemerintah yang kian menyulitkan rakyatnya. Duh...

Pada saat yang sama, ada menteri korupsi yang tertangkap basah. Duitnya, ternyata dipake untuk sunatan cucu, minum wine, beli aksesoris mobil anak, hingga bayar biduan.

Ya... Tuhan!

Udah pemerintahnya ga peka dengan bikin kebijakan yang aneh-aneh, menterinya korup, pejabatnya kalo lewat jalan macet pake pengawalan yang minta diutamain sambil bunyi ngiung-ngiung tet-tot-tet-tot. 

Eh, ditambah sekelompok orang yang kampanyekan anti Israel tapi merugikan sesama saudaranya se-Indonesia. Hipokrit.


*       *       *


- Jakarta, 6 Juni 2024


*       *       *


Artikel terkait:

- https://www.roelly87.com/2023/04/lawan-arogansi-di-jalanan-jangan-pernah.html

- https://www.roelly87.com/2024/04/wabah-pak-ogah-merajalela-polisi-bisa.html

- https://www.roelly87.com/2024/03/anak-perwira-dijambret-di-samping-polda.html

- https://www.roelly87.com/2023/07/manusia-lebih-anjing-daripada-anjing.html

- https://www.kompasiana.com/roelly87/5508de76a3331124452e3960/ketika-garuda-sudah-tidak-lagi-di-dadaku

 - https://www.kompasiana.com/roelly87/5500b657a33311531850fa19/standar-ganda-sang-aktivis?page=all#section1


- https://www.kompasiana.com/roelly87/5508dddda33311b9422e3945/surat-untuk-penghuni-istana?page=all#section2



....

Selasa, 05 Maret 2024

Anak Perwira Dijambret di Samping Polda Metro Jaya

Anak Perwira Dijambret di Samping PoldaMetro Jaya


Depan Polda Metro Jaya sebelum Semanggi
(Foto: @roelly87)




TEMPAT paling aman adalah tempat yang berbahaya. Demikian adagium lawas yang populer.

Saya jadi ingat saat baca novel cerita silat (cersil), Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali. Di Tanah Air pada dekade 1980-an dikenal dengan Sia Tiauw Hiap Lu, yang alihbahasa Hokkian, Cina, atau Inggrisnya, The Return of the Condor Heroes (ROCH).

Tentang Kiu Cian Ce, adik dari "si Tapak Besi" Kiu Cian Jin, yang menyembunyikan pil obat pemunah racun Lembah Putus Cinta. Korbannya, Yo Ko (Yang Guo, Mandarin), bersama Bibi Lung.

Pasangan murid dan guru itu sudah mencari obatnya di seluruh pelosok Lembah Cinta Putus. Namun, ternyata pil itu ada di aula utama di depan kursi Kiu Cian Ce.

Tempat yang terang benderang. Sekaligus, yang setiap hari didatangi Yo Ko dan Bibi Lung.

Adaptasi novelnya populer dalam serial tv Tanah Air pada pertengahan 1990-an. OST-nya pun terkenal berkat dibawakan Yuni Shara.

Demikian, mukadimah artikel ini. Lalu, apa hubungannya keberadaan Yo Ko di Lembah Putus Cinta dengan Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Metro Jaya?


*       *       *


MALAM itu, menjelang pergantian Phalguna, cuaca tampak dingin. Rinai membuat suasana ibu kota jadi lebih sejuk.  

Saya yang berprofesi sebagai ojek online (ojol) pun kian semangat melajukan kuda besi. Dari pusat bisnis Tanah Air menuju ke salah satu rumah dinas petugas berwarna cokelat.

Kebetulan, customer saya di salah satu aplikasi itu merupakan anak polisi. Jadi, saya iseng bertanya terkait kedinasan orang tuanya.

Hingga, saya syok mendengar pengalamannya beberapa waktu lalu. Tepatnya, saat melewati patung ikonik di jantung ibu kota, yang membuat saya mengernyitkan dahi.

Yaitu... Nyaris dijambret!

Kok, bisa ya?

Itu kan, markas polisi. Masa, sampe terjadi di tempat yang konon paling angker di Jakarta?


*       *       *


BEGINI, ceritanya. Penumpang saya itu, -sebut saja- Mawar, punya pengalaman buruk saat jalan kaki dari Stasiun MRT Istora menuju Halte Mapolda Metro Jaya untuk naik bus.

Menurutnya, saat itu belum larut. Cukup sore, untuk waktu Jakarta. 

Sekitar pukul 21.00-22.00 WIB. Ya, berkisar seperti itu.

Hanya, di samping Mapolda memang sepi. Lampu jalan pun sangat temaram.

Saya membuktikannya sendiri. Setelah mengantarnya ke mes di pinggiran, saya iseng foto samping Mapolda yang bersisian dengan Jembatan Semanggi arah Patung Pemuda.

Lanjut...

Mawar cerita saat jalan kaki dihampiri orang tak dikenal (OTK) 

Pria.

Usia tidak tahu. Namun, katanya berkisar 30-40 tahunan.

Pria tersebut mendekatinya. Perlahan.

Mawar pun ga begitu sadar. Dipikirnya, orang lewat.

Maklum, sisi timur laut Mapolda kan memang pedestrian tempat lalu-lalang pejalan kaki. Wajar, jika Mawar tidak menganggap aneh.

Hingga, ketika OTK menarik tasnya. Mawar pun kaget.

Beruntung, reaksinya cepat. Mawar tetap memegang tasnya dengan erat.

"Kami sampe tarik-tarikan, pak. Tahu kan, gimana besarnya tenaga cowo?" kata Mawar merekonstruksi insiden tak terlupakan itu.

Syukurnya, adu tarik itu tak berlangsung lama. OTK tersebut pun sipat kuping.

Mungkin, menyadari kalo targetnya gigih. OTK itu enggan ambil risiko.

Sebab, lokasi penjambretan tepat di samping Mapolda Metro Jaya. 

Sekali lagi, MARKAS KEPOLISIAN!

OTK itu pun kabur. Sementara, Mawar yang syok langsung menghubungi orangtuanya yang juga polisi.

Entah Perwira Tinggi (Pati) atau Perwira Menengah (Pamen). Yang pasti, orang tua Mawar punya jabatan lumayan di kepolisian.

Bagaimana kisah selanjutnya? 

Entahlah.

Yang pasti, Mawar sudah lapor ke orang tuanya. Apalagi, di sekitar Mapolda Metro Jaya terpasang CCTV.

Namun, yang saya ga habis pikir, kok bisa ya. Ada orang nekat berbuat kriminal di sekitar markas polisi.

Apalagi, ini Mapolda. Levelnya sudah tinggi. 

Di atas Pos Lalin, Pospol Subsektor, Mapolsek, dan Mapolres.

Apa tidak ada anggotanya yang keliling. Atau, minimal mengamati CCTV.

Ya, seperti yang saya ulas pada awal artikel. Tempat paling aman, bisa jadi tempat yang berbahaya.

Termasuk, di kawasan Ring Satu Istana Negara. Kebetulan, saya pernah menulisnya di Kompasiana pada 2013 silam, tentang maraknya balap liar di Jalan Medan Merdeka Utara yang kerap menimbulkan korban jiwa.

Termasuk, pengendara yang lewat dan pedagang yang tak bersalah harus jadi korban. 

Kalo pembalapnya? Sebodo teuing. Menyusahken bebaturan wae!

Lokasinya? Hanya seperlemparan batu dari Markas Besar TNI AD!

Wow...

Serius? Yoi.

Ini linknya, artikel saya pada 2013 lalu, https://www.kompasiana.com/roelly87/552c62e86ea83417078b456e/ketika-kawasan-istana-jadi-arena-balap-liar?page=all.

Artikel itu juga masuk Harian Kompas dalam edisi Freez. Yaitu, lembaran khusus untuk memuat hasil karya Kompasianer -penulis Kompasiana- pada dekade lalu.

Linknya di Kompas masih ada, https://nasional.kompas.com/read/2013/05/01/04044622/kawasan.istana.jadi.arena.balap.liar.

Nah, 11 tahun berselang, balap liar itu masih ada. Serius.

Yongkru, kan saya ojol. Sering nongki-nongki di Stasiun Gambir.

Kendati, rute balap liar sedikit dimodifikasi. Alias, tidak lagi lewat Medan Merdeka Utara. Sebab, jalan tersebut kalo Jumat, Sabtu, dan Minggu malam atau libur, diblokade dengan pagar kawat.

Alhasil, balap liar muter dari Medan Merdeka Timur ke Jalan Perwira dan Taman Pejambon.

Btw, di kawasan itu kan ada Markas Komando Garnisun 1 Jakarta dan Markas Komando Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

MARKAS KOSTRAD...

Eh?

Kok...

Waduh!


*       *       *


JADI, apa konklusinya dari artikel ini? Entahlah.

Intinya, ya tempat paling aman, bukan berarti tidak bahaya.

Alhasil, kita harus hati-hati. Contohnya nyata.

Di samping Mapolda Metro Jaya aja rawan jambret. Juga depan Markas Kostrad kerap balap liar yang bisa menimbulkan korban.

Duh...

Bener2 seram!

Jadi ingin ikut Yo Ko dan Bibi Lung ke Lembah Putus Cinta!


*       *       *

Samping Polda Metro Jaya arah Patung Pemuda
(Foto: @roelly87)


*       *       *


- Jakarta, 5 Maret 2023


*       *       *

*       *       *




...


Selasa, 06 Februari 2024

Simulasi Jualan Kolak untuk Sambut Ramadan

Simulasi Jualan Kolak untuk Sambut Ramadan


Ilustrasi kolak pisang favorit saya 
(foto: @roelly87)


 

"PAK air mineral yang ukuran besar satu ya. Sama *** sebungkus."

"Adanya merek X aja, mas. Yang biasa Z, ga ada."

"Apa aja pak, yang penting ukuran besar. Kalo yang 600ml ga cukup. He he he."

"Semuanya jadi Rp XXX ya mas."

"Iya, pak."

" Ini kembaliannya, mas."

"Terima kasih, pak."

Demikian percakapan saya dengan pedagang warung sembako di pinggir jalan perbatasan ibu kota. Tepatnya untuk membeli air minum dan sebungkus XXX.

Sambil membasahi tenggorokan yang memang kering, saya pun menoleh ke samping warung. Terdapat meja panjang berisi gorengan dan kolak dengan dibungkus cup plastik.

Kolak?

Wow...

Jadi inget puasa. Namun, sekarang kan masih cukup jauh menuju Ramadan?

Tepatnya, awal Februari. Untuk konversi ke penanggalan Hijriah, saya lihat di aplikasi baru dua pertiga Rajab 1445 H.

Sementara, Ramadan kemungkinan jatuh 11-12 Maret mendatang. Alias, masih sebulan lebih lagi.

"Pak, itu jualan kolak ya?" tanya saya kepada empunya warung sembako.

"Iya, mas. Uduk, gorengan, sama kolak. Tiap sore bukanya."

"Kolaknya lumayan banyak ya pak."

"Iya, ada beberapa menu. Mau beli mas?"

"Iya, pak. Mau jajal. Udah lama ga makan kolak."

"Bentar ya, saya panggil saudara saya yang jualan. Masih di dalam goreng bala-bala."

"Siap, pak."

Yuhuu...

Kolak, euy. Makanan yang kerap saya santap usai buka puasa atau menjelang sahur.

Namun, untuk hari-hari biasa, bisa dibilang jarang. Terakhir makan Kolak Ubi saat Ibu saya buat, awal Desember lalu. 

Selain itu, hanya Ramadan saja. Kebetulan, saya emang doyan kolak.

Yaitu, Kolak Singkong, Ubi, Tape, Pisang, Biji Salak, dan sebagainya. Cemilan ini sangat enak disantap saat masih hangat.

Ketika Ramadan, biasanya kolak masuk urutan kedua yang saya sentuh. Pertama, jelas air untuk membatalkan puasa.

Baik itu air putih, teh manis, atau es ketimun suri. Lalu, kolak deh.

Setelah maghrib diisi dengan gorengan. Untuk makanan berat, bisa disantap usai tarawih.

Gunanya, agar tidak kekenyangan. Sebab kalo makan nasi pas buka puasa, biasanya bikin ngantuk saat tarawih.

He he he.


*       *       *


"MAU kolak apa mas?"

"Tape bu, satu."

"Gorengannya, mau mas?"

"Ga bu. Makasih, baru siap makan. Mau yang manis-manis. Kebetulan abis dari warung sebelah lihat kolak, jadi sekalian beli."

"Iya, tadi saya di dalam. Tanggung, masih goreng bala-bala. Kalo ditinggal takut gosong."

"Ibu jualan kolak ini memang tiap hari biasa? Maksudnya, di luar Ramadan?"

"Ga mas. Ini baru tiga hari. Kebetulan ada pesanan Majelis Taklim di komplek sebelah, sekalian aja buat dagang. Kan bentar lagi Isra Miraj. Biasanya, penutupan pengajian menjelang puasa. Jadi, itung-itung simulasi jualan kolak untuk sambut Ramadan.

"Ha... Ha... Ha... Pantas. Soalnya, masih sebulanan lagi bu. Tapi, kolaknya banyak macam juga ya. Ada Kolak pisang, ubi, tape, dan singkong. Kurang satu, andalan saya. Kolak Biji Salak."

"Kalo menu, tergantung orderan. Kebetulan, pengajian di komplek seberang pesan kolaknya empat menu. Kalo Minggu depan, baru banyak. Ada bubur jali juga. Ntar kalo mau, saya sisain ya mas."

"Siap bu. Terima kasih ya."

"Sama-sama, mas."

Di jalan, saya baru sadar. 2024 ini sudah lewat 31 hari lebih. 

Untuk penanggalan Hijriah, sekarang menjelang bulan kedelapan, yaitu Syakban. Jadi ingat, dulu...

Ketika masih bocah, sering puasa pada awal Rajab dan Syakban. Tepatnya, untuk melunasi absen Ramadan tahun sebelumnya.

Sekarang, boro-boro. Puasa Ramadan tembus 10 hari aja udah keren banget!

Ga kuat, euy!

Entah faktor U atau M. Alias, umur dan malas. He he he.

Tapi, emang iya. Sejak menginjak dewasa, puasa saya jadi sering bolong.

Bahkan, tahun kemarin lebih parah. Puasanya, ga sampe hitungan lantai mal.

Alias, cuma pada hari pertama, pertengahan, dan terakhir jelang takbiran. Sisanya, kalo kuat aja.

Maklum, kerja sebagai ojek online (ojol) di jalanan, panasnya minta ampun. Belum lagi kalo antar atau jemput ke lantai atas pasar.

Misalnya, Pasar Pagi, Tanah Abang, Senen, Asemreges, atau Kramat Jati. Lumayan keringetan juga.

Ditambah, jika harus angkat barang yang lumayan besar ke motor. Bahkan, beberapa kali manggul satu dus berisi pakaian yang lumayan berat dan besar.

Di emperan pasar, kalo liat es tebu itu berasa kena angin surga. Sumpah, menggoda sekali!

Jujur, saya ga tergiur dengan aneka masakan, termasuk gorengan. Namun, jika melihat Es Tebu atau Tuak Aren di Kolong Semanggi, duh... Sulit!


*       *       *


KEMBALI ke kolak. Menjelang puasa memang identik dengan makanan, cemilan, atau minuman yang manis.

Saya lihat di berbagai minimarket sudah berjejer sirup dengan aneka rasa. Ini, jelas.

Tanda-tanda puasa sudah dekat.  

Kalo dulu, sebelum ada larangan, sinyal mendekati Ramadan dengan ramainya bunyi petasan. Bahkan, saat bocah, saya pernah jualan.

Dagang keliling sering. Pempek, agar-agar, choipan, piscok, hingga koran sore seperti Suara Pembaruan, Harian Terbit, Berita Buana, Tabloid Bola, Go, dan sebagainya.

Waktunya, sepulang sekolah saat berseragam putih merah dan biru. Kalo abu-abu, udah beda zaman.

He... He... He...

Untuk petasan, biasa beli langsung grosiran di Pasar Pagi atau Pasar Tanah Abang. Tak jarang, harus naik kereta ke Parung Panjang, Bogor, yang terkenal dengan gudangnya.

Pertengahan dekade 1990-an hingga awal milenium, memang larangan petasan tidak terlalu ketat. Alhasil, semacam Petasan Korek, Jangwe, Mercon, Batu, Kembang Api, dan sebagainya, sangat laris.

Mungkin, itu yang membedakan suasana dulu dengan sekarang sambil sedikit komparasi dan nostalgila. Setelah imsak, kami larut bermain di lapangan sekalian menunggu pagi.

Entah main bola, kelereng, layangan, petasan, dan sebagainya. Menjelang buka, giliran main dampu, congklak, monopoli, ludo, ular tangga, dan lain-lain.

Momen seperti itu yang tidak saya lihat pada anak-anak sejak dekade 2010-an. Itu terkait perkembangan teknologi yang membuat bocil larut dengan ponselnya masing-masing.

Hanya, ya beda era. Tentu, situasi juga tidak sama.

Namun, untuk menu berbuka puasa, sudah pasti kolak masuk daftar wajib. Bersama kurma dan gorengan.


*       *       *


- Jakarta, 6 Februari 2024


*       *       *


Artikel Kuliner Sebelumnya:

- Dapat Orderan Raja Terakhir: Mie Gacoan! (https://www.roelly87.com/2024/01/dapat-orderan-raja-terakhir-mie-gacoan.html)

- Stik Kentang Terlezat di Jakarta (https://www.roelly87.com/2024/01/stik-kentang-terlezat-di-jakarta.html)

- Menikmati Sensasi Sop Durian buatan Annisa (http://www.roelly87.com/2016/01/menikmati-sop-durian-buatan-annisa.html)

- Bernostalgia dengan Legitnya Ketan Durian Khas Sumatera Barat (https://www.kompasiana.com/roelly87/54f4acd7745513792b6c8cf9/bernostalgia-dengan-legitnya-ketan-durian-khas-sumatera-barat?page=all#section2)

- Menikmati Nasi Kucing di Sudut Utara Ibukota (https://www.kompasiana.com/roelly87/551075e9a333111c37ba86eb/menikmati-nasi-kucing-di-sudut-utara-ibukota)

- Menikmati Jajanan di Bursa Kue Subuh, Pasar Senen (https://www.kompasiana.com/roelly87/552b035bf17e614660d623b6/menikmati-jajanan-di-bursa-kue-subuh-pasar-senen)

- Sensasi Berburu BTS Meal (http://www.roelly87.com/2021/06/sensasi-berburu-bts-meal.html)

- Chitato Rasa Mi Goreng dan Sensasi yang Bikin Ketagihan (http://www.roelly87.com/2016/03/chitato-rasa-mi-goreng-dan-sensasi-yang.html)


...

Minggu, 14 Januari 2024

Stik Kentang Terlezat di Jakarta

Stik Kentang Terlezat di Jakarta

Ilustrasi stik kentang di Stasiun Tebet
(Foto: @roelly87)

STIK kentang goreng termasuk cemilan yang paling banyak tersebar di Jakarta. Harganya murah meriah.

Mulai dari Rp 5.000 per bungkus. Kemasannya simpel.

Hanya dibungkus plastik. Plus tusuk lidi.

Beda dulu ketika saya masih kecil pada 1990-an. Biasanya stik kentang hanya tersedia di beberapa restoran ternama seperti M*D, KF*, A*W, CF*, Tex*s, dan sebagainya.

Memasuki pergantian milenium sudah bisa beli yang frozen. Tinggal digoreng sendiri. Harganya pun ketika itu cukup terjangkau.

Lanjut, kini stik kentang sebungkus berisi belasan hingga puluhan kentang. Bentuknya macam-macam.

Mayoritas vertikal, ya namanya juga stik. Namun, ada juga yang gepeng atau cenderung bulat.

Apa pun itu, sah-sah aja. Tergantung yang jual.

Yang pasti, sebungkus berisi belasan hingga puluhan stik. Ditambah bumbu bubuk.

Entah itu pedas, asin, atau manis. Untuk saos, opsional.

Tergantung penjualnya. Ada beberapa yang menyediakan, beberapa ga. Alias cukup bumbu bubuk.

Yang pasti, bagi saya pribadi, stik kentang merupakan cemilan idaman. Hanya dengan mengeluarkan Rp 5.000, cukup untuk menangsal perut.

Tentu, stik kentang ga bikin kenyang. Wajar saja, mengingat itu sekadar cemilan.

Kalo mau kenyang ya makan nasi. Bisa di Warung Tegal (Warteg), Padang, Sunda, dan sebagainya.

Kebetulan, sebagai ojek online (ojol), saya sering membeli stik kentang. Selain harganya murah, pedasnya nampol, juga tersebar luas di penjuru ibu kota.

Ya, hampir seluruh stik kentang yang dijual di Jakarta sudah saya coba. Lima di antaranya:

1. Tiangseng, Jakarta Pusat
2. Stasiun Cawang, Jakarta Selatan
3. Gang Kancil, Jakarta Barat
4. Turunan Darussalam, Jakarta Selatan
5. Stasiun Tebet, Jakarta Selatan

Yupz, mayoritas di Jakarta Selatan (Jaksel) dengan tiga penjual. Sisanya, Pusat dan Barat.

Bagaimana dengan dua wilayah lainnya?

Utara? Biasa aja. Ada di Tanah Merah dan Teluk Gong, yang sama-sama di Kecamatan Penjaringan.

Timur? Pernah coba di Kawasan BKT, Pulo Gadung, dan Condet.

Hanya, sejauh ini standar. Enak tapi ga berkesan.

Ya, namanya juga selera. Apa pun itu, pasti subjektif.

*       *       *

TERKAIT penjelasan stik kentang favorit di lima lokasi tersebut, adalah:

1. Tiangseng, Jakarta Pusat

Lokasi: di Kawasan Mangga Dua, perbatan antara Jakarta Pusat dengan Barat. Tepatnya, di pasar kaki lima seberang Stasiun Jayakarta.

Harga: Mulai Rp 5.000 per bungkus.

Rasa: Paling enak se-Jakarta. Apalagi kalo garing baru digoreng. Kriuk-kriuknya teopebegete.

Kelebihan: Ada saosnya.

Kekurangan: Kalo Sabtu dan Minggu malam, susah aksesnya akibat jalanan penuh.


2. Stasiun Cawang, Jakarta Selatan

Lokasi: Persis depan Stasiun Cawang yang jadi favorit Anak Kereta (Anker).

Harga: Mulai Rp 5.000 per bungkus

Rasa: Sangat enak. Biarpun lembek kalo belinya udah lama, tidak bau amis

Kelebihan: Ada saosnya.

Kekurangan: Kalo jam sibuk atau pulang kerja, susah akses. Kehalang parkiran motor dan ojol. Ha ha ha.



3. Gang Kancil, Jakarta Barat

Lokasi: Jalan Keamanan, belakang Mall Paragon

Harga: Mulai Rp 5.000 per bungkus

Rasa: Mungkin ini stik kentang pertama yang saya beli sejak ngojol. Porsinya banyak banget. Murah meriah. He he he

Kelebihan: Akses cukup. Komposisi pas. Isinya melimpah sampe tumpah

Kekurangan: Ga ada


4. Turunan Darussalam, Jakarta Selatan

Lokasi: Samping Kuningan City, Jalan Dr. Satrio

Harga: Mulai Rp 5.000 per bungkus
Rasa: Enaklah. Ada saosnya. Bentuknya agak gepeng atau bulat ga mirip stik. Tapi tetep kentang goreng. Ha ha ha

Kelebihan: Enak

Kekurangan: Macet kalo jam sibuk di Jalan Dr. Satrio.


5. Stasiun Tebet, Jakarta Selatan

Lokasi: Depan Stasiun Tebet, pintu barat

Harga: Mulai Rp 5.000 per bungkus

Rasa: Cukup enak

Kelebihan: Enaklah

Kekurangan: Ga ada. Akses gampang, ga jauh dari tikungan.


*       *       *

NAH, demikian catatan saya tentang stik kentang terlezat di ibu kota. Next saya akan tulis cemilan lainnya.

Misalnya, stik ayam di Cengkareng. Harganya mulai Rp 10.000 dengan saos tomat, keju, bbq, hingga mozzarella...

Mantul!

Untuk chiki, juga banyak. Maklum, sebagai ojol, tentu saya butuh cemilan setelah makan berat dan kopi untuk mendongkrak semangat dalam perjalanan.



*       *       *

- Jakarta, 14 Januari 2023



*       *       *



Artikel Kuliner Sebelumnya:

- Menikmati Sensasi Sop Durian buatan Annisa (http://www.roelly87.com/2016/01/menikmati-sop-durian-buatan-annisa.html)

- Bernostalgia dengan Legitnya Ketan Durian Khas Sumatera Barat (https://www.kompasiana.com/roelly87/54f4acd7745513792b6c8cf9/bernostalgia-dengan-legitnya-ketan-durian-khas-sumatera-barat?page=all#section2)

- Menikmati Nasi Kucing di Sudut Utara Ibukota (https://www.kompasiana.com/roelly87/551075e9a333111c37ba86eb/menikmati-nasi-kucing-di-sudut-utara-ibukota)

- Menikmati Jajanan di Bursa Kue Subuh, Pasar Senen (https://www.kompasiana.com/roelly87/552b035bf17e614660d623b6/menikmati-jajanan-di-bursa-kue-subuh-pasar-senen)

- Sensasi Berburu BTS Meal (http://www.roelly87.com/2021/06/sensasi-berburu-bts-meal.html)

- Chitato Rasa Mi Goreng dan Sensasi yang Bikin Ketagihan (http://www.roelly87.com/2016/03/chitato-rasa-mi-goreng-dan-sensasi-yang.html)





Minggu, 01 Oktober 2023

Tentang Pedagang Asongan di Simpang Jalan

 Tentang Pedagang Asongan di Simpang Jalan


Foto: Instagram.com/roelly87



SEMANGAT, ya Pak!

Anda adalah pahlawan bagi keluarga...


Disclaimer: Foto ini saya ambil diam-diam saat menunggu lampu hijau di persimpangan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (1/10). Bagi saya, foto ini merupakan contoh nyata bagaimana seseorang sedang berjuang untuk mencari nafkah demi keluarganya.

Laku ga laku, itu urusan lain. Setidaknya, beliau sudah berusaha. Modal sendiri. Tidak seperti kebanyakan orang yang ingin dapat uang dengan tanpa modal/usaha.

Misalnya, kang parkir liar yang jelas-jelas sudah ada tanda gratis parkir. Atau, pak ogah yang justru bikin macet di tikungan, pertigaan, persimpangan, dll. Juga penjaga komplek/perumahan yang hanya semangat buka portal jika diberi salam tempel.

Ya, maruah laki-laki itu bekerja. Bukan mengandalkan kedua tangan menengadah ke atas.

*     *     *

- Jakarta, 1 Oktober 2023