TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Nissan

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Nissan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nissan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juli 2019

Kenapa Harus Nissan All New Livina?


Nissan All New Livina yang dipamerkan di GIIAS 2019
(Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya)



GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 sedang berlangsung. Pameran otomotif terbesar di Tanah Air ini diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD pada 18 hingga 28 Juli mendatang.

Selama 11 hari ini, masyarakat di seluruh nusantara mendapat kesempatan untuk menyaksikan kendaraan dari berbagai kelas. Baik itu Multi Purpose Vehicle (MPV) hingga mobil konsep. Antusiasme masyarakat pun sangat tinggi untuk mengunjungi beragam booth yang terdapat di GIIAS 2019.

Termasuk, saya yang pekan lalu mengisi waktu luang ke pemeran rutin tahunan yang diselenggarakan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) ini .


Tentu,tidak untuk membeli. Atau, untuk saat ini belum. Melainkan, meninjau kendaraan apa yang cocok untuk saya miliki dalam beberapa waktu ke depan. Itu jika saya sudah mempunyai dana yang cukup. Biasanya, jika mendatangi suatu pameran, baik otomotif, rumah, mainan, dan lainnya, saya mencatat mana yang saya inginkan berupa daftar. Setelah dana terkumpul, baru saya siap membelinya


Nah
, booth Nissan yang terletak di Hall 6A jadi magnet bagi setiap pengunjung. Itu karena PT Nissan Motor Indonesia (NMI) menawarkan berbagai keseruan. Saya pribadi, kerap mengunjungi booth Nissan sejak GIIAS 2015. Kecuali, tahun lalu yang absen karena bentrok dengan jadwal liputan ke berbagai penjuru Tanah Air jelang Asian Games 2018.


Pada GIIAS 2019 ini, NMI turut memboyong berbagai mobil ikoniknya. Salah satunya, Nissan All New Livina yang diluncurkan Februari lalu. Sekilas, menurut saya mirip dengan Mitsubishi Xpander. Kendati, ada beberapa perbedaan. Sebab, All New Livina tetap mempertahankan ciri khas Nissan yang otentik.


Head of Product Communication PT Nissan Motor Indonesia Hana Maharani dalam diskusi dengan blogger yang turut saya ikuti pun menjelaskan. Menurutnya, Mitsubishi memang sudah jadi bagian dari keluarga Nissan sejak diakusisi pada 2016. Itu meliputi aliansi Nissan-Renault-Mitsubishi. Nissan juga membawahi merek Datsun yang menyasar ke masyarakat dan Infiniti sebagai brand premium.


Jadi, All New Livina tetap kendaraan dengan basis Xpander yang dikembangkan dengan ciri khas Nissan. Terutama, dari segi fitur dan teknologi dengan adanya Nissan Inteligent Mobility .


Bagi saya pribadi, All New Livina ini merupakan mobil paket lengkap. Untuk harga, tergolong kompetitif. Tidak terlalu mahal untuk ukuran MPV. Namun, juga tak murahan. Berkisar dari Rp 198 juta hingga Rp 261 juta.


Tak heran jika All New Livina ini jadi dambaan Donna Agnesia. Aktris ternama di Tanah Air ini merupakan pencinta Livina sejak generasi awal. Donna pun menilai All New Livina ini sebagai mobil ideal.


"Saya memiliki tiga anak. Dengan All New Livina ini sangat cocok. Saya, suami, tiga anak, dan nanny (pengasuh). Serta, untuk berbagai barang yang bisa dibawa," kata Donna yang merupakan pengguna Grand Livina yang berbagi kisah.


Ya
, All New Livina bisa memuat tujuh orang dengan komposisi 2-2-3. Interiornya terasa mewah dengan kabin yang lega hingga membuat pengemudi maupun penumpang merasa nyaman. Kesan premium terpancar dengan kursi berlapis kulit pada barisnya disertai dengan ruang kedap suara.


Untuk kursi
, bisa dilipat sesuai kebutuhan. Baik penumpang tujuh orang atau barang. Misalnya, untuk menaruh sepeda. Dengan Nissan Inteligent Mobility, menambah keamanan dan kenyamanan. Misalnya pada Hill Start Assist, dengan kita berada di tanjakan membantu mobil berhenti sejenak agar tidak mundur ke belakang sebelum pengemudi memacu kembali kendaraan.


Selain itu, konektivitas pun selalu terjaga dengan kemudahan untuk terhubung smartphone. Kapan dan di mana saja untuk menikmati musik sekaligus navigasi ke mana saja dalam perjalanan.


Bagaimana dengan eksterior? Kesan elegan menyelimuti All New Livina. Terlebih dengan grille berdesain V-Motion seperti segitiga terbalik yang sangat memesona.


Yang paling saya suka dari PT NMI terkait layanan purna jual
. Itu meliputi berbagai suku cadang dan bengkel yang tersebar di Tanah Air. Bagi saya pribadi, layanan purna jual ini sangat penting dalam menjatuhkan pilihan untuk membeli sesuatu. Sebab, aftersales memberikan saya rasa nyaman.


"Terdapat jaringan diler Nissan pada 108 lokasi di Tanah Air
. Dengan Nissan Care Package yang inovatif membuat konsumen bisa mendapat suku cadang dan servis gratis hingga 50 ribu kilometer atau empat tahun," Hana, menjelaskan.


Nah
, ini gambaran saya tentang Nissan All New Livina. Bagaimana dengan pengalaman Anda?




*         *        *
Sesi diskusi dengan blogger yang diwakili Harris Maulana bersama Hana
Maharani dan Donna Agnesia

*         *        *
Jajal MPV dengan varian teranyar Nissan All New Livina

*         *        *
Nissan All New Livina memiliki bagasi yang lengkap

*         *        *
Booth Nissan terletak pada Hall 6A di ICE BSD

*         *        *


Artikel Terkait
Jemput Bola Jadi Andalan Nissan dalam Layanan Purna Jual kepada Konsumen
- Lebih Dekat dengan Nissan Mobile Service
Nissan Motor Indonesia Wujudkan Impian Nonton Final Liga Champions
Yuk, Berbagi Cerita Seru Berhadiah Jutaan di Booth Nissan dan Datsun


*         *        *
- Jakarta, 24 Juli 2019

Minggu, 11 Juni 2017

(Galeri Foto) Jadi Saksi Kekalahan Juventus dari Madrid di Final Liga Champions 2016/17


Selebrasi skuat Real Madrid yang juara Liga Champions 2016/17
(Klik untuk perbesar foto atau geser untuk melihat gambar lainnya)


HARI ini tepat sepekan lalu, jadi salah satu periode terindah dalam hidup saya. Bagaimana tidak, impian saya sejak 21 tahun silam untuk menyaksikan final Liga Champions akhirnya terwujud (Artikel sebelumnya: Nissan Motor Indonesia Wujudkan Impian Nonton Final Liga Champions).

Apalagi, pada laga pamungkas itu mempertemukan klub favorit saya, Juventus, versus Real Madrid. Meski, hasil akhirnya sudah kita ketahui. Tepatnya, setelah Juventus dikecundangi Madrid 1-4 di Stadion Millennium, Sabtu (3/6) atau Minggu dini hari WIB.

Yupz, pada duel yang dipimpin wasit asal Jerman, Felix Brych itu, Juventus memang tampil antiklimaks. Giorgio Chiellini dan kawan-kawan hanya bermain baik pada 20 menit awal. Namun, setelah itu, I Bianconeri tampil tanpa arah.

Tepatnya, saat Cristiano Ronaldo membuat Gianluigi Buffon harus memungut bola dari gawangnya. Tertinggal 0-1 memaksa skuat asuhan Massimiliano Allegri tampil menyerang. Terbukti, tujuh menit kemudian, Mario Mandzukic mencetak gol indah yang membuat seisi stadion bergemuruh. Skor 1-1.

Hanya, kedudukan imbang tidak bertahan lama. Tepatnya, seusai turun minum dengan Carlos Casemiro mencetak gol tambahan untuk Madrid pada menit ke-61. Kembali tertinggal membuat penggawa Juventus bermain frontal.

Ibaratnya, mereka berperang dengan memunggungi sungai seperti halnya Han Xin, Cao Cao, dan Thariq bin Zayid (Artikel sebelumnya: Akhir Tragis dari Strategi Memunggungi Sungai ala Han Xin).

Sayanngya, strategi ofensif bukanlah ciri khas Juventus. Si Nyonya Besar terlalu panik dalam keadaan defisit satu gol. Terbukti, tiga menit kemudian, Ronaldo membuat papan skor jadi 3-1 untuk Madrid.

Seketika, saya melihat awan gelap menyelimuti Millennium Stadium. Bayang-bayang kekalahan di final terus menghantui saya. Sontak, euforia menyaksikan dominasi Juventus sejak fase grup hingga babak pamungkas jadi sirna.

Tidak ada lagi hegemoni saat mereka mengeliminasi tim sekelas Barcelona di perempat final, agregat 3-0. Yang ada, hanyalah sekumpulan pemain dengan mental yang jatuh akibat salah strategi.

Puncaknya, ketika Juan Cuadrado harus diusir wasit akibat kartu merah kedua pada menit ke-84. Bermain dengan 10 orang ketika pertandingan hanya tinggal enam menit pada waktu normal, jelas bukan perkara mudah. Gol Marco Asensio pada injury time membuat papan skor jadi 4-1 untuk Madrid.

Dengan tatapan nanar, saya melihat pasukan Zinedine Zidane bersuka cita saat mengangkat trofi Si Kuping Lebar (Artikel sebelumnya: Trofi Liga Champions yang Dekat di Mata tapi Jauh di Hati). Ya, Madrid berhak juara karena bermain lebih efisien.

Di sisi lain, saya tak tega ketika menyaksikan Buffon tertunduk lesu. Untuk kali ketiga, kiper veteran ini mengalami kekalahan di final Liga Champions. Sebelumnya, terjadi pada 2003 dari AC Milan dan 2015 (Barcelona).

Namun, inilah sepak bola. Ada yang menang, tentu (harus) ada yang kalah. Fakta getir itulah yang saya alami saat menyaksikan tim favorit saya kembali jadi kecundang. Tapi, kekalahan di final bukan akhir dari segalanya. Pepatah mengatakan, "Selama gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar".

Begitu juga dengan perjalanan Juventus di Liga Champions. Musim ini, mereka harus puas kembali jadi nomor dua. Tapi, masih ada kesempatan untuk jadi yang pertama. Tepatnya, jika lolos ke final Liga Champions 2017/18 yang berlangsung di NSC Olimpiyskiy Stadium, Kiev, Ukraina, pada 26 Mei 2018!

*          *          *
ARTIKEL ini merupakan edisi kedua dari seri Juventus dan Liga Champions 2016/17. Di bawah ini berbagai foto dan video (menyusul) terkait aktivitas di Stadion Millennium pada 3 Juni lalu. Keberadaan saya di antara 65 ribu penonton itu berkat Nissan Motor Indonesia (NMI).

Tepatnya, usai menjuarai Blog Competition berhadiah nonton langsung ke Cardiff. Terima kasih, Nissan, atas kesempatan berharga ini. Menyaksikan final Liga Champions 2016/17 jadi salah satu momentum terbaik dalam hidup saya.

*          *          *
Stadion Millennium yang jadi saksi duel Juventus versus Madrid

*          *          *
Nissan jadi salah satu sponsor utama Liga Champions

*          *          *
Madrid pantas juara karena bermain lebih efisien

*          *          *
Kalah di Cardiff, masih ada waktu menuju Kiev!

*          *          *
Persiapan gladi resik pada upacara pembukaan

*          *          *
Saya dan enam rekan lainnya yang berangkat dalam rombongan
Nissan Motor Indonesia

*          *          *
Semringah dengan syal Juventus...

*          *          *
Skuat Juventus melakukan pemanasan

*          *          *
Tribune VIP yang diisi perwakilan klub dan UEFA

*          *          *
Pemandangan yang menarik...

*          *          *
Gianluigi Buffon melakukan pemanasan beberapa menit jelang pertandingan

*          *          *
Persiapan dari panitia untuk upacara pembukaan

*          *          *
Panitia menyeprot lapangan agar kondisinya tetap baik

*          *          *
Stadion Millennium memiliki kapasitas 74 ribu penonton

*          *          *
Juventus tampil baik dalam 20 menit pertama

*          *          *
Skuat Juventus melancarkan serangan ke barisan pertahanan Madrid

*          *          *
Kembali bertemu Giorgio Chiellini setelah pada 5 Agustus 2014
mewawancarainya secara eksklusif!

*          *          *
Papan elektroni di sisi lapangan dengan logo Nissan sebagai
salah satu sponsor Liga Champoins

*          *          *
Paulo Dybala bersiap mengeksekusi tendangan bebas

*          *          *
Kegembiraan fan Madrid usai Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan
memastikan juara yang ke-12 kalinya

*          *          *
Madrid jadi tim pertama dalam sejarah yang mampu mempertahankan
gelarnya di Liga Champions

*          *          *
Pemandangan kontras antara skuat Madrid dan Juventus

*          *          *
Selamat untuk Madrid. Jangan berkecil hati, Juventus!

*          *          *
Sumpah, saya tak tega melihat wajah sendu dari Gianluigi Buffon!

*          *          *
Antusiasme penonton menyaksikan selebrasi penggawa Madrid

*          *          *
Menang atau kalah, juara atau degradasi, saya tetap fan Juventus!

*          *          *
Ribuan penonton mengabadikan momentum juaranya Madrid melalui
smartphone masing-masing

*          *          *
Selamat tinggal Cardiff. Sampai jumpa, di Kiev!

*          *          *
Halaman #RoadToCardiff
Tentang Juventus dan Liga Champions
Nissan Motor Indonesia Wujudkan Impian Nonton Final Liga Champions

Artikel selanjutnya:
- Berkat Nissan, Akhirnya Saya Bisa Merasakan Sensasi di Kapal Pesiar
- (Galeri Foto) Sisi Lain dari Perjalanan ke Stadion Millennium
- Eksotisnya Bangunan Kuno di Cardiff
- Musim Panas di Britania Raya
- Satu Final Tembus Lima Negara

Artikel Tentang Juventus
Wawancara Eksklusif: Claudio Marchisio
Wawancara Eksklusif: Giorgio Chiellini
Wawancara Eksklusif: Andrea Pirlo
Trofi Liga Champions yang Dekat di Mata tapi Jauh di Hati
(Kilas Balik) Juventus Tur di Indonesia 2014

Foto-foto Legenda Juventus
Fabio Cannavaro, Edgar Davids, dan Gianluca Zambrotta
Fabio Cannavaro, David Trezeguet, dan Edgar Davids

*          *          *
Jakarta, 11 Juni 2017

Selasa, 06 Juni 2017

Nissan Motor Indonesia Wujudkan Impian Nonton Final Liga Champions


Saya di antara 65 ribu penonton final Liga Champions di Stadion Millennium
(Klik untuk perbesar foto dan geser untuk melihat gambar lainnya) 


"KOTA Roma tidak dibangun dengan semalam." Demikian, adagium lawas yang selalu terpatri dalam sanubari saya. Dalam arti, impian itu bisa terwujud dengan sungguh-sungguh. Tentu, dengan syarat, ada kemauan, kerja keras, mampu memanfaatkan peluang, dan faktor keberuntungan!

*          *          *

PAGI itu, 21 tahun silam, cuaca ibu kota tampak cerah. Saya yang masih bocah sudah berada di depan layar kaca dengan duduk manis usai mengenakan seragam sekolah. Menjelang berangkat, saya menyempatkan diri untuk melihat cuplikan selebrasi kemenangan Juventus atas Ajax Amsterdam di final Liga Champions. Tepatnya, berlangsung di Stadion Olimpico, Roma, pada 22 Mei 1996.

Tampak, di layar kaca berulang kali menegaskan adegan Marcello Lippi diarak penggawa Juventus usai mempersembahkan trofi "Si Kuping Lebar". Itu merupakan gelar kedua I Bianconeri setelah pada 1985 yang berujung tragedi di Belgia.

Dalam tayangan lambat, terlihat Fabrizio Ravanelli, Gianluca Vialli, Antonio Conte, Didier Deschamps, dan skuat Juventus lainnya mengangkat trofi Liga Champions dengan ekspresi penuh haru. Tidak ketinggalan, Alessandro Del Piero yang sudah saya nantikan turut mengecup piala yang jadi lambang supremasi antarklub Eropa.

Adegan di tv itu hanya lima menit sebelum saya akhiri karena harus mengayuh sepeda ke sekolah. Namun, tayangan singkat itu sangat membekas dalam ingatan saya hingga dua dekade selanjutnya. Dalam hati, "Suatu saat, saya ingin menyaksikan penampilan Juventus di final Liga Champions secara langsung dari stadion!"

Sungguh, impian yang terlalu muluk-muluk bagi bocah yang masih berseragam putih-merah. Namun, sejak itu, saya selalu percaya, "Tetesan air hujan selalu bisa menghancurkan kerasnya batu karang."

*          *          *

28 MEI 1997, saya kembali duduk di layar tv pada pagi hari untuk menyaksikan cuplikan final Liga Champions. Kali ini, saya harus kecewa karena Juventus dikalahkan Borussia Dortmund di Olympiastadion, Muenchen. Satu gol Del Piero tidak cukup karena raksasa Jerman itu mencetak tiga gol.

20 Mei 1998, lagi-lagi saya kecewa. Pagi itu, Juventus kembali kalah, kali ini dari Real Madrid dengan skor tipis 0-1. Amsterdam Arena jadi saksi betapa buntunya strategi Lippi untuk membongkar pertahanan dari raksasa Spanyol tersebut.

Pun, dengan lima tahun setelahnya, di The Theatre of Dream, pada 28 Mei 2003. Juventus kalah adu penalti dari rival abadinya, AC Milan. Saat itu, saya rela bergadang untuk menyaksikan final yang berlangsung dini hari WIB meski paginya ada ujian.

Puncaknya, dua tahun lalu. Juventus melangkah mulus ke final untuk menantang Barcelona. Apa daya, Gianluigi Buffon dan kawan-kawan harus bertekuk lutut di stadion yang pada 2006 memberi trofi Piala Dunia keempat untuk Italia: Olympiastadion, Berlin.


*          *          *

LIMA kali sudah saya menyaksikan Juventus tampil di final melalui layar kaca. Asa untuk melihat langsung para pemain di stadion pada laga pamungkas tidak pernah pudar. Setiap ada kesempatan selalu saya ikuti dengan mengadu peruntungan seperti lomba blog, kontes, kuis, dan sebagainya yang diselenggarakan berbagai perusahaan sejak 2015. Sejauh itu, selalu buntu.

Tapi, mengibarkan bendera putih bukanlah cara saya. Pepatah mengatakan, "Selama gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar." Hingga, ketika saya melihat info pengumuman blog competition berhadiah nonton langsung ke Cardiff di laman instagram Nissan Motor Indonesia (NMI) @NissanID pada 23 Maret lalu.

Kebetulan, saya memang sudah lama mem-follow berbagai akun sosial media dari Nissan seperti facebook dan twitter. Langsung saja, saya membuat artikel berjudul Jemput Bola Jadi Andalan Nissan dalam Layanan Purna Jual kepada Konsumen.

Namun, sebagai blogger yang mengusung asas jurnalistik, terutama berdasarkan sembilan elemen Bill Kovach, tentu merasa kurang hanya mengandalkan informasi di situs resmi Nissan. Alias, saya tergerak untuk terjun langsung demi mengulik lebih lanjut keunggulan Layanan Purna Jual dari Nissan.

Tepatnya, dengan mendatangi Nissan cabang Pantai Indah Kapuk pada 27 Maret lalu. Alhasil, jadilah artikel berjudul Lebih Dekat dengan Nissan Mobile Service.

Berusaha dan berjuang sudah yang dilanjutkan dengan ikhtiar, senjata selanjutnya tentu doa. Saya beruntung, impian saya sejak 21 tahun silam dikabulkan-Nya. Itu terjadi pada Rabu (19/4) dini hari WIB ketika saya bangun tidur untuk menyaksikan perempat final Liga Champions 2016/17 antara Madrid kontra Bayern Muenchen di layar tv.

Sambil membuka twitter di aplikasi smartphone, mata saya tertuju pada pengumuman dari akun Nissan Indonesia: Selamat utk 3 pemenang #UCLNissanID Blog Competition. Kirimkan (Nama, Alamat, Telp, Email, Scan KTP, Scan NPWP) Via Message FB @NissanID.

Seketika, jantung saya berdegup kencang. Persis seperti ketika menyatakan cinta kepada kekasih. Yupz, ternyata nama saya tertera sebagai salah satu pemenang Nissan Blog Competition! Itu berarti, sebentar lagi impian saya menyaksikan final Liga Champions bakal terwujud!


*          *          *

PENANTIAN panjang itu berakhir. Kamis (1/6) saya tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta untuk bergabung dengan enam rekan lainnya yang sama-sama akan berangkat ke Cardiff. Yaitu, dua perwakilan NMI (Budi Nur Mukmin dan Joko Suyamto), Sudarwin, Herdiana, Faiz Dwi Aulia, dan Cika Mekasari untuk menumpang KLM Royal Dutch Airlines.

Kami tiba di Heathrow Airport, London pada Jumat (2/6) pagi waktu setempat. Selain menyaksikan final Liga Champions 2016/17 antara Juventus versus Madrid di Stadion Millennium (3/6), banyak kegiatan yang kami lalu dalam tiga hari berada di United Kingdom (UK) . Yupz, perjalanan tersebut merupakan lintasnegara karena harus singgah di Kuala Lumpur (Malaysia), Amsterdam (Belanda), London (Inggris), hingga Cardiff (Wales).

Berikut, berbagai foto yang saya dokumentasikan selama berada di UK. Seperti perjalanan wisata lainnya ke Palembang, Jakarta, Bromo, Bali, Yogyakarta, dan Manado, tentu akan banyak artikel yang akan saya posting di blog ini pada edisi selanjutnya.

Akhir kata, terima kasih Nissan Motor Indonesia yang telah mewujudkan impian saya untuk menyaksikan final Liga Champions, langsung dari Stadion Millennium serta berkesempatan ke Eropa.

Terima kasih juga saya haturkan untuk Hana Maharani selaku Head of Communications at Nissan Motor Indonesia, Budi Nur Mukmin (General Manager Marketing Strategy and Communication Division Nissan Motor Indonesia), Ivan Sumanta (Corporate Marketing Nissan Motor Indonesia, Yustien (Bounche Indonesia), Yoanna Dewi (JTB Indonesia), media tempat saya bekerja (Harian TopSkor/TopSkor.id), dan komunitas blogger yang banyak memberi inspirasi (Blogger Reporter Indonesia/ BRId dan Fun Blogging).***

*          *          *
Visa UK yang saya nantikan!

*          *          *
Setelah Schengen, bertambah lagi cap visa di paspor saya

*          *          *
Dari kiri ke kanan: Herdiana, Joko, Cika, Budi, Faiz, dan Sudarwin

*          *          *
Swafoto (Selfie) di atas KLM

*          *          *
Menyaksikan keramahan dari pramugari maskapai tertua di dunia

*          *          *
Untuk kali pertama saya baca The New York Times versi cetak di KLM
setelah selama ini dari edisi online

*          *          *
Terima kasih, Nissan Motor Indonesia!

*          *          *
Saya di dek kapal pesiar Magellan Cruise dengan latar pegunungan Wales

*          *          *
Saya di anjungan kapal pesiar Magellan Cruise

*          *          *
Berkat Nissan Motor Indonesia, akhirnya saya bisa menggenggam selembar
kertas impian ini

*          *          *
Selfie dengan latar Stadion Millennium, Cardiff, Wales

*          *          *
Salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidup saya

*          *          *
Jadi saksi bersejarah dari final Liga Champions 2016/17

*          *          *
Kembali ke Tanah Air setelah tiga hari yang menyenangkan minus Budi
yang masih bertugas di London

*          *          *
Halaman #RoadToCardiff
- Tentang Juventus dan Liga Champions

Artikel Tentang Juventus
Wawancara Eksklusif: Claudio Marchisio
Wawancara Eksklusif: Giorgio Chiellini
Wawancara Eksklusif: Andrea Pirlo
Trofi Liga Champions yang Dekat di Mata tapi Jauh di Hati
(Kilas Balik) Juventus Tur di Indonesia 2014

Foto-foto Legenda Juventus
- Fabio Cannavaro, Edgar Davids, dan Gianluca Zambrotta
- Fabio Cannavaro, David Trezeguet, dan Edgar Davids

*          *          *
- Jakarta, 6 Juni 2017

Senin, 23 Januari 2017

Sensasi Bermain Gokart dalam Nissan Media Competition

Media Cokart Competition yang diselenggarakan Nissan (18/1)

KEMARIN, tepatnya Minggu (22/1) jadi hari bersejarah dalam dunia balap di Tanah Air. Untuk kali pertama, di Indonesia terdapat tayangan reality TV Show motorsport. Yaitu, Nissan GT Academy 2016 yang ditayangkan di RCTI pada 13.30 WIB.

Reality TV show Nissan GT Academy mengisahkan perjalanan prestasi wakil Indonesia yang menjadi runner-up Best Driver Nissan GT Academy di Sirkuit Silverstone, Inggris, Oktober lalu. Acara ini mengisahkan perjalanan prestasi tim Indonesia dalam rangkaian proses seleksi di empat kota.

Sekaligus, menginpirasi masyarakat melalui perjuangan ribuan anak bangsa yang ingin memulai debutnya di dunia balap. Dari permainan game virtual hingga berada di balik kemudi mobil balap yang didukung penuh PT. Nissan Motor Indonesia (NMI).

Beruntung, empat hari sebelumnya, Rabu (18/1) saya sudah mendapat bocoran terlebih dulu saat menghadiri jumpa pers tersebut. Yaitu, ketika mendapat undangan dari NMI untuk liputan di media saya, Harian TopSkor. Kebetulan, saya sudah sering menghadiri acara yang diselenggarakan NMI.

Dimulai saat buka puasa bersama dalam NMI Media Award 2016 pada 16 Juni lalu, pembukaan Nissan GT Academy (16/7), hingga pada Gaikindo Indonesia International Auto Show alias GIIAS 2016 lalu. Untuk event yang terakhir, saya beruntung meraih juara satu dalam Nissan-Datsun GIIAS Media Story Competition.

*        *        *
SIANG itu, langit ibu kota tampak cerah. Dari kantor Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saya menuju Restoran Dapur Sunda, Pancoran. Tujuan saya, untuk meliput jumpa pers Reality TV show Nissan GT Academy.

Dalam acara tersebut, turut dihadiri beberapa petinggi Nissan yang wajahnya familiar bagi saya. Yaitu, Presiden Direktur NMI Antonio "Toti" Zara, Davy Jeffry Tuilan (Vice President Director of Marketing and Sales), Budi Nur Mukmin (General Manager Marketing Strategy), dan Hana Maharani (Head of Communication).

Usai jumpa pers, saya dan sejumlah rekan jurnalis ditantang untuk adu cepat di lintasan balap. Yaitu, dengan mengikuti Media Gokart Competition di Speedy Karting, yang berada di lokasi yang sama. Bagi saya, ini menarik. Sebab, awalnya saya ragu untuk mengikutinya.

Maklum, saya masih trauma untuk mengemudi mobil. Itu terjadi sejak saya nyaris mengalami kecelakaan ketika masih bekerja di pertambangan. Beruntung, saat itu mobilnya 4WD, jadi tidak sampai terbenam ketika ngusruk di lumpur.

Namun, mendengar deru kendaraan di lintasan gokart itu membuat saya penasaran. Apalagi, saya belum pernah bermain gokart. Saat bertanya kepada instrukturnya, ternyata mudah. Kita cukup menggerakkan setir saja tanpa menggunakan gigi dan perangkat lainnya.

Untuk gas, tinggal injak pedal di sebelah kanan dan rem di kiri. Ya, mirip bom-bom car yang ada di beberapa wahanan permainan di Jakarta. Bedanya, gokart lebih serius, mirip balapan mini di sirkuit yang mengandalkan kecepatan.

Saat itu, saya tergabung di Grup G bersama jurnalis dari Suara Merdeka, Suara, dan Tempo. Peraturannya, pemenang setiap grup melaju ke semifinal untuk diadu dengan juara grup lainnya. Total, ada 44 wartawan yang terbagi dalam 12 grup yang mengikuti Media Gokart Competition ini. Mayoritas, memang jurnalis yang biasa meliput otosport.

Mungkin, hanya saya yang bukan dari otosport, melainkan desk sepak bola. Lantaran saya lebih sering meliput bal-balan setiap harinya dari satu stadion ke lapangan hijau lainnya. Meski begitu, saya juga sempat beberapa kali meliput event balap nasional, khususnya sepeda motor mulai dari di Sentul, Pekalongan, hingga di Sidrap (Sulawesi Selatan).

Hanya, harus diakui jika liputan balap tidak rutin seperti halnya sepak bola. Bagaimanapun, media tempat saya bekerja mayoritas memberitakan sepak bola. Porsinya untuk non sepak bola (termasuk Olympic, Varia Olahraga, dan Otosport) hanya dua halaman dari total 16 halaman.

*        *        *
TERNYATA, bermain gokart itu penuh sensasi yang menyenangkan. Saya berhasil melahap tiga lap tanpa menyenggol pagar pembatas yang terdiri dari ban bekas. Saya yang start dari posisi buncit berhasil finis di posisi tiga. Ya, tidak buruk untuk pemula seperti saya.

Pasalnya, yang paling sulit itu ketika harus memberanikan diri kembali memegang setir untuk kali pertama dalam delapan tahun terakhir. Sempat ada perasaan was-was kalau saya menabarak pagar pembatas atau kendaraan lain.

Tapi, instrukturnya meyakinkan kalau gokart ini aman. "Paling-paling mas harus istirahat tiga hari tiga malam," katanya dengan tertawa saat melihat saya gugup berada di balik kemudi.

Dalam kesempatan itu, Wawan yang menempati urutan pertama di Grup G akhirnya juara. Wajar saja sih mengingat skill-nya luar biasa. Saya sama sekali tidak bisa mendekatinya dan harus puas berada di posisi tiga.

Mengikuti Media Gokart Competition yang diselenggarakan Nissan ini membuat saya jadi semangat untuk kembali belajar mengemudikan mobil lagi. Sekaligus, mengembalikan fungsi SIM A yang dalam satu windu terakhir hanya jadi pemanis saja di dompet saya karena tidak pernah digunakan.


*        *        *
Davy Jeffry Tuilan (tengah) bersiap membuka Nissan Media Gokart Competition

*        *        *
Memakai pengaman sebelum terjun ke lintasan

*        *        *
Narsis sejenak untuk mengatasi deg-degan

*        *        *
Bersedia...

*        *        *
Siap...

*        *        *
Mulai!

*        *        *
Instruktur membetulkan pengemudi gokart yang menyenggol ban

*        *        *
Adu cepat jurnalis di lintasan balap

*        *        *
Hana Maharani (kanan) bersama empat jurnalis yang jadi pemenang

*        *        *
Format dan nama jurnalis yang mengikuti Media Gokart Competition

*        *        *
Artikel Terkait:
Nissan, Mobil Terbaik Pilihan Keluarga Indonesia
Apalah Artinya Sebuah Nama

Artikel di TopSkor.id:
Nissan Tantang Wartawan Adu Cepat di Lintasan Balap
Resmi, Nissan GT Academy Tayang di RCTI Mulai 22 Januari
TopSkor Juara Nissan-Datsun Media Story Award 2016
Ketika Brand Nissan Tidak hanya Otomotif

*        *        *
- Jakarta, 23 Januari 2016