TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Asus A43E

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Asus A43E. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asus A43E. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Oktober 2017

ASUS VivoBook S15 S510UQ yang Memesona

ASUS VivoBook S15 S510UQ yang Memesona

ASUS VivoBook S15 S510UQ



ASUS dikenal sebagai brand premium. Dalam arti, harganya di atas rata-rata merek lain. Contoh nyata, pada smartphone yang saya miliki, ASUS Zenfone 3 (ZE520KL). Ponsel dari keluarga Zenfone ini sejak diluncurkan pada September 2016 hingga kini, harganya masih tetap wah.

Padahal, smartphone sejenis dari produsen lain, jika sudah setahun harganya bakal terjun bebas. Namun, tidak dengan ASUS. Seluruh produk mereka, harganya stabil. Itu membuktikan, kualitas dari setiap produk ASUS.

Pepatah mengatakan, ada harga ada rupa. Alias, kita membayar harga mahal untuk kualitas terbaik. Termasuk, ASUS Zenfone 3 (ZE520KL) ini yang sudah setahun menemani saya dalam berbagai aktivitas.

Mulai dari memotret, merekam video, menulis catatan, merekam suara, main game, dan tentunya browsing internet. ASUS Zenfone 3 (ZE520KL) ini yang membantu saya mendokumentasikan seluruh kegiatan dalam peliputan kantor seperti mengejar nara sumber, ngeblog, dan bersama keluarga.

Sejak lorong sempit di ibu kota, pelosok belantara, pesisir terpencil sampai pegunungan, hingga Cardiff. Kinerja ASUS Zenfone 3 (ZE520KL) dikolaborasi dengan laptop ASUS A43E yang lebih senior, karena sudah jadi kawan hidup sejak 2013 silam. Saya beruntung memiliki keduanya yang sangat membantu keseharian saya.

Yupz, ASUS tidak hanya tentang smartphone saja. Mereka memiliki berbagai divisi seperti laptop & PC 2-in-1, tablet, dekstop, motherboard, dan perangkat elektronik lainnya. Rata-rata mereka masuk kategori premium di Tanah Air.

Namun, segmentasi premium itu justru yang mendongkrak ASUS sebagai salah satu produsen terlaris di dunia. Bahkan, berdasarkan riset GfK 2017, ASUS memuncaki pasar notebook di Tanah Air. Itu terkait spesifikasi tinggi yang banyak menarik minat konsumen hingga mengantarkan ASUS pada peringkat satu terbesar dalam penjualan notebook di Indonesia.

Sebagai salah satu konsumen, tentu saya bangga. Sebab, ternyata keputusan saya sejak empat tahun silam menggunakan ASUS AE43E ditambah ASUS Zenfone 3 (ZE520KL) terbukti tepat. Bisa dipahami mengingat saya merupakan tipe orang yang tidak mudah jatuh hati dalam hal atau situasi apa pun. Namun, ketika sudah memiliki pilihan, saya enggan berpaling darinya.

Teranyar, ASUS merilis ASUS VivoBook S15 S510UQ. Sebagai pekerja lapangan yang hobi ngeblog, tentu saya sangat menyambut kehadiran seri ini. Maklum, seri VivoBook ini menawarkan kemampuan yang tinggi disertai beragam fitur menarik tapi dengan harga terjangkau.

Nah lho? Yupz, terjangkau di sini, bukan berarti murah atau harganya terjun bebas. Sebab, sejak saya kecil hingga kini rekan seangkatan sudah memiliki anak kecil lagi, ASUS identik sebagai brand premium.

Berdasarkan pengalaman pribadi, definisi murah versi ASUS tetap saja harganya di atas rata-rata brand lain. Ini fakta menurut penelusuran saya sebagai blogger yang menerapkan asas jurnalistik berdasarkan sembilan elemen Bill Kovach.

Dalam arti, setiap artikel yang saya tulis di blog ini sudah berdasarkan fakta di lapangan atau data-data resmi. Termasuk, mengenai ASUS VivoBook S15 S510UQ ini yang harganya dibanderol Rp 9.799.000.

Tentu, tidak murah, apalagi dibandingkan dengan ASUS A43E yang jadi andalan sehari-hari saya. Hanya, sudah pasti keduanya tidak bisa dikomparasi. Secara, ASUS A43E sudah beredar lebih dari empat tahun di Tanah Air.

Di sisi lain, ASUS VivoBook S15 S510UQ merupakan produk teranyar yang sudah disematkan berbagai fitur mumpuni. Misalnya, Intel Core i5 generasi ketujuh yang sangat bertenaga. Jangan lupa, grafis berbasis Nvidia GeForce. Dengan berbagai kelebihan itu, wajar jika ASUS VivoBook S15 S510UQ di pasaran harganya berkisar sembilan jutaan.

Murah? Tentu tidak.

Mahal? Juga tidak.

Menurut perhitungan saya sebagai pribadi yang butuh laptop dengan kualitas terbaik dengan brand premium dari ASUS, harga itu masih terjangkau. Itu kembali lagi pada analogi ada harga tentu ada rupa.

Apalagi, sebagai orang lapangan, harga bagi saya sangat sensitif. Saya tidak akan sembarangan merogoh kocek dalam-dalam kalau bukan untuk sesuatu yang dibutuhkan. Misalnya, ASUS VivoBook S15 S510UQ ini yang tampilan luarnya saja sangat memesona.

Ibarat gadis pujaan, ASUS VivoBook S15 S510UQ ini bukan hanya cantik saja. Melainkan juga manis yang tidak bosan dipandang sepanjang hari. Itu terkait tampilannya yang elegan.

Bisa dipahami mengingat ASUS VivoBook S15 S510UQ ini menyuguhkan desain yang unik. Itu karena panel layar 15,6" Full HD yang dengan ketipisan bezel dapat masuk ke dalam bingkai laptop khas ukuran 14 inci. Itu terkait bingkai NanoEdge 7,8mm yang super tipis hingga bisa memberiakn rasio 80% antara layar dengan body.

Terlebih, layarnya didukung dengan 178° teknologi wide-view untuk memastikan warna dan kontras tetap hidup serta tajam. Baik itu saat dilihat pada sudut pandang mana pun. Ini cocok bagi yang gemar berbagi kontendengan teman dan kolega. Termasuk, untuk saya yang ingin mengirim parade foto hasil pertandingan atau liputan olahraga.

ASUS VivoBook S15 S510UQ ini sangat tipis, tapi koneksinya lengkap

Itu mengenai desain. Bagaimana dengan kinerjanya? Tentu, saya belum bisa mereviewnya. Maklum, ASUS VivoBook S15 S510UQ merupakan seri teranyar. Namun, jika menyimak keberadaan Intel Core i5 7200U, mungkin ini sudah bisa menjawab.

Apalagi, ditambah dengan Nvidia GeForce 940MX yang membuat seri ini kian bertenaga. Oh ya, yang membuat saya kian terpikat dengan ASUS VivoBook S15 S510UQ karena konektivitasnya lengkap. Ada dua colokan untuk USB 2.0, serta masing-masing satu colokan untuk HDMI, USB 3.1, dan USB 3.1 Type C.

Nah, yang terakhir ini bisa saya kolaborasikan dengan ASUS Zenfone 3 (ZE520KL) yang sehari-hari saya pakai. Konektor USB Type Creversibel dengan desain any-way-up ini membuat perangkat penghubung menjadi sederhana dan cepat.

Satu lagi, yang tak kalah penting dengan keberadaan keyboard backlit ergonomis. ASUS VivoBook S15 S510UQ ini sudah dipersenjatai full-size backlit yang sempurna untuk pengaturan cahaya rendah.

Jadi, saya tidak bakal kesulitan jika mengetik dalam bus dan mobil usai liputan pertandingan malam di stadion. Apalagi, konstruksi keyboard single-piece sangat kokoh dengan tombol 1,4 mm hingga membuat saya kian nyaman saat mengetik.

ASUS VivoBook S15 S510UQ dipersenjatai keyboard backlit ergonomois
dan sensor sidik jari


(Masih) satu lagi yang saya nyaris lupa usai memandangi ASUS VivoBook S15 S510UQ ini pada touchpad. Tepatnya, di sudut kanan atas seukuran jari. Ternyata, ini merupakan sensor sidik jari!

Jadi, saya tidak perlu lagi mengetikkan kata sandi setiap kali untuk masuk. Melainkan, hanya perlu sekali sentuh saja seperti halnya ketika saya menggenggam ASUSZenfone 3 (ZE520KL) yang sangat responsif.

Sejauh ini, demikian yang saya tahu tentang ASUS VivoBook S15 S510UQ berdasarkan pengamatan saya di situs resmi ASUS. Mungkin, ke depannya, saya akan coba membuat review secara menyeluruh. Yupz, selama air laut menghampar luas, jangan pernah khawatir kehabisan ikan. 


Artikel Terkait
ASUS The Incredible Race: Pengalaman Tak Terlupakan
ASUS Incredible Race Pecahkan Rekor MURI
Ini Parade Produk Anyar ASUS pada Zenvolution 2016
Zenvolution 2016: ASUS Rilis 3 Produk Anyar di Bali 7 September
Pengalaman Perdana Menghadiri ZenFestival 2015
ASUS Zenfone 2 Laser ZE500KL: Kualitas Bintang 5 dengan Harga Kaki 5
Review ASUS Zenfone 3 (ZE520KL) Bukan sekadar Ponsel
ASUS Luncurkan ZenPad 8.0, Tablet Multimedia Premium
Demi Hobi, Tidak Perlu Jadi Sultan untuk Memiliki ASUS ROG GX800
- Konten Kreatif Jadi Kunci Utama Ngeblog

*       *       *

KeteranganSeluruh foto di artikel ini milik ASUS Indonesia (www.asus.com/id)

*       *       *
Jakarta, 9 Oktober 2017

Rabu, 29 Maret 2017

Demi Hobi, Tidak Perlu Jadi Sultan untuk Memiliki ASUS ROG GX800


Dokumentasi ASUS Indonesia (Klik untuk perbesar foto)

ADAGIUM lawas mengatakan ada rupa tentu ada harga. Alias, kita membayar mahal untuk suatu barang yang memang pantas kita dapatkan. Itu yang saya rasakan ketika mengetahui ASUS Indonesia meluncurkan produk anyar dari brand Republic of Gamers (ROG).

Yaitu, ASUS ROG GX800 yang sudah dibenamkan prosesor Intel Core i7 7820HK. Maklum, notebook spesialisasi game ini dibanderol nyaris dengan harga satu mobil! Serius! Tepatnya, Rp 95.499.000.

Jujur, saya tidak habis pikir kenapa ASUS berani memasarkan laptop dengan harga selangit itu. Namun, setelah membedah lebih jauh, ternyata ASUS ROG GX800 ini memang pantas dihargai mahal. Maklum, spesifikasinya benar-benar luar biasa.

Itu yang dirasakan rekan-rekan media dan blogger yang sempat mengetes notebook tersebut di Empirica, SCBD, Jakarta, Rabu (22/3). Sayangnya, pekan lalu bertepatan dengan tugas kantor untuk meliput persiapan jelang Asian Games 2018 yang akhirnya saya tidak bisa mencoba ASUS ROG GX800.

Meski begitu, menyaksikan berbagai berita dan informasinya di media sosial ASUS seperi Facebook, Twitter, dan Instagram, sukses meluluhkan rasa penasaran saya tentang laptop yang mendapat julukan khusus untuk sultan atau kalangan elite. Benarkah begitu?

Spesifikasi yang dibenamkan dalam ASUS ROG GX800 memang pantas diberi label harga fantastis. Namun, bukan berarti pembelinya hanya kalangan elite saja atau bahkan sultan. Masyarakat umum seperti saya jika memiliki dana cukup pun bisa membelinya. Apalagi, untuk hobi, seseorang tentu tidak akan ragu mengeluarkan kocek lebih.

Contohnya, saya memiliki rekan blogger yang rela mengeluarkan banyak untuk hobinya ber-snorkling ria di beberapa titik di Tanah Air dari Sumatera hingga Papua. Sementara,saya pribadi beberapa kali membeli buku lawas yang harganya untuk ukuran saya lumayan tinggi.

Salah satunya otobiografi Bung Karno edisi pertama pada 1966 yang kini langka dan jadi buruan kolektor. Pertengahan dekade 2000-an silam, saya nyaris menguras tabungan saya hasil kerja di tambang demi beberapa buku. Namun, ya itu tadi. Untuk hobi tidak ada kata mahal selagi mampu.

Begitu juga dengan ASUS ROG GX800 yang menggunakan teknologi terkini. Bagi gamers sejati, harga yang nyaris 100 jeti itu tentu akan diusahakan. Baik itu menabungnya lebih dulu atau mengajukan kredit. Yupz, pepatah mengatakan banyak jalan menuju kota Roma. Pun dengan ASUS ROG GX800 yang bisa kita dapatkan jika mau berusaha.

*       *       *

DILIHAT sekilas, ASUS ROG GX800 ini tidak berbeda dengan notebook lainnya di pasaran. Namun, harus diakui, jika ditelisik lebih lanjut, baru ketahuan gaharnya laptop yang memiliki ukuran 18,4 inci dengan resolusi Ultra HD 3.840 x 2.160 pixel alias 4K.

Sebagai gambaran, notebook kebanggaan saya, ASUS A43E yang saya pakai sejak 2013 silam, hanya berukuran 14 inci. Jadi, bisa dibayangkan gimana puasnya kita jika bermain game dengan ASUS ROG GX800 ini.

Yang saya suka, panel LID alias cover-nya beserta area keyboard dan palm rest terbuat dari alumunium. Ini membuat kesan ASUS ROG GX800 lebih eksklusif dengan cita rasa premium. Untuk kartu grafis, notebook ini sudah dibenamkan dua buah VGA Card GTX 1080.

Sebagai analogi, satu Nvidia GTX 1080 saja sudah membuat notebook jadi lebih gahar. Bagaimana dengan dua? Tentu saja, bikin ASUS ROG GX800 lebih istimewa. Tak heran jika berbagai media menjuluki ASUS ROG GX800 sebagai notebook dengan spek dewa.

Di sisi lain, untuk prosesornya, Intel Core i7 7820HK dikenal memiliki speed yang tinggi. Ini tentu berpengaruh saat kita bermain game karena meningkatkan frame rate (FPS). Sekaligus jadi solusi untuk berbagai aplikasi yang boros di dalam laptop.

Terlebih, ASUS juga mendesain ulang konsep pendinginan pada watercooling. Pada ASUS ROG GX800 ini, watercooling terbuat dari radiator yang mampu mengaliri dua GPU sekaligus CPU yang terpasang untuk mendinginkan sistem.

Untuk keyboard, bagi saya ini sangat memesona. Sebab, ASUS ROG GX800 sudah menggunakan mekanikal keyboard (Mechanical Tactile Advanced Gaming/ MechTAG) yang membuat kita tidak ingin lepas dari berbagai tombolnya. Apalagi, ada tombol aplikasi ASUS Gaming Center di sisi atas yang berdampingan dengan tiga tombol makro key, video record, dan volume.

Dalam berbagai foto dan video yang saya amati, trackpad-nya sangat luas hingga membuat jelajah jari kita jadi leluasa. Untuk mouse, saya belum bisa tulis banyak mengingat saya belum merasakan langsung. Namun, dalam rilis resminya, mouse ini memang khusus ditujukan untuk gamers sejati.

Dengan berbagai kelebihannya itu membuat saya jadi tergiur, setelah cicilan rumah lunas, bakal menabung untuk membeli ASUS ROG GX800. Ya, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin selagi kita berusaha.

Tentu, dengan catatan optimisme itu harus dibarengi dengan realistis. Kelak, jika saya sudah memiliki ASUS ROG GX800, bakal jadi bukti. Untuk hobi, tidak perlu jadi sultan.***



Main Spec.
ROG GX800 (G-SYNC)
CPU
Intel® Core™ i7-7820HK processor overclock up to 4,2GHz
Operating System
Windows 10 Home
Memory
64GB DDR4 up to 2800MHz
Storage
M.2 PCIEX4  NVMe 512G*3 RAID 0
Display
18.4” Anti Glare UHD IPS LED backlight (3840X2160)
with G-SYNC
Graphics
NVIDIA® GeForce® GTX 1080 SLI 16GB GDDR5 VRAM
Input/Output
1 x Microphone-in/Headphone-out jack, 1 x VGA port/
Mini D-sub 15-pin for external monitor, 3 x USB 3.0 port(s),
2 x USB 3.1 port(s), 1 x RJ45 LAN Jack for LAN insert, 1 x HDMI,
1x Thunderbolt
Camera
Built-in HD camera and array mic
Connectivity
Integrated 802.11ac, BT 4.0 support
Audio
Built-in Speakers and Analog Microphone, Built-in Azalia compliant audio chip, SonicMaster. Built-in subwoofer, 4 speakers. ESS Sabre Headphone DAC to enhance audio performance.
Dimension
 45.8(W) x 33.8(D) x 4.34 ~ 4.74 (H) cm
Battery
 74WHrs, 4S2P, 8 Cell Li-ion Battery pack
Keyboard
 Mechanical Keyboard with RGB LED
Warranty
2 years full global warranty


*       *       *
Foto-foto ASUS ROG GX800 dan saat pengetesan pekan lalu












*       *       *
Hasil benchmark pada mode extreme untuk membuktikan kegaharan ASUS ROG GX800




*       *       *
Hasil pengujian benchmark pada suatu game







*       *       *
Artikel Sebelumnya:

Konten Kreatif Jadi Kunci Utama Ngeblog

Prolog:
Asus Zenvolution 2016

Tetralogi Zenvolution 2016
Asus The Incredible Race: Pengalaman Tak Terlupakan
Asus Incredible Race Pecahkan Rekor MURI
Ini Parade Produk Anyar Asus pada Zenvolution 2016
Zenvolution 2016: Asus Rilis 3 Produk Anyar di Bali 7 September

Spin-off Zenvolution
Sensasi Menelusuri Sungai Citarik 9 Km
Menikmati Senja di Taman Jomblo: Antara Mitos dan Fakta

Prekuel Zenvolution
Pengalaman Perdana Menghadiri ZenFestival 2015
Asus Zenfone 2 Laser ZE500KL: Kualitas Bintang 5 dengan Harga Kaki 5

Epilog 
- Review Zenfone 3 (ZE520KL) Bukan sekadar Ponsel

Stop Press! 
Asus Luncurkan ZenPad 8.0, Tablet Multimedia Premium

*       *       *

Keterangan: Seluruh foto di artikel ini merupakan milik ASUS Indonesia (www.asus.com/id)

*       *       *
- Jakarta, 29 Maret 2017

Sabtu, 07 Januari 2017

Konten Kreatif Jadi Kunci Utama Ngeblog




Sejak 2013, ASUS A43E selalu menemani saya di mana pun dan kapan pun

BAGI saya, ngeblog itu salah satu kegiatan yang mengasyikkan, menyenangkan, dan penuh tantangan. Itu karena dengan ngeblog, saya bisa menambah wawasan, pertemanan, koneksi, hingga materi. Materi? Yupz. Tentu, materi itu tidak melulu terkait dengan uang. Melainkan, juga kepuasan lahir dan batin. Baik itu saat jadi juara lomba atau mendapat undangan ke luar kota sejak menggeluti dunia blog pada 2009.

Termasuk, September lalu ketika jadi bagian dari 551 peserta yang memecahkan Rekor MURI bersama ASUS Indonesia dalam kategori "Permainan dengan Peserta Terbanyak yang Dilakukan Perusahaan IT". Maklum, ASUS merupakan Top 2 produsen notebook konsumen dunia dan penghasil motherboard terbaik di dunia. Dalam berbagai perangkat laptop dan PC dekstop, ASUS sudah dibenamkan Intel Core i series dengan tiga varian umum seperti Intel Core i3, Intel Core i5, dan Intel Core i7 Procesor.

Menjelang pergantian tahun, saya juga mendapat kejutan sebagai pemenang lomba blog yang diselenggarakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR). Namun, seperti kata pepatah, kota Roma tidak dibangun dalam semalam.  Alias, untuk bisa menjuarai lomba blog atau jalan-jalan keliling Indonesia, tentu saya harus menghasilkan konten kreatif di blog. Tidak hanya tulisan saja, melainkan juga disertai foto, video, infografis, dan adakalanya menyisipkan meme buatan sendiri.

Ya, saya percaya, dengan pernyataan penulis terkemuka, Bob Mayer, yang mengatakan, "Content is King". Dalam arti, agar artikel yang saya buat di blog bisa diterima pembaca, saya harus membuat konten yang kreatif, menarik, dan unik. Nah, untuk menghasilkan konten kreatif, tentu harus didukung dengan perangkat yang mumpuni. Saya beruntung, sejak 2013 memiliki laptop ASUS A43E yang merupakan pemberian dari kantor. Selain untuk mengirim berita seperti hasil pertandingan di lapangan atau arena, wawancara atlet, hingga doorstop narasumber, notebook ini jadi sahabat saya yang menemani aktivitas ngeblog.

Maklum, sebagai orang lapangan, nyaris setiap hari saya membawa laptop bersama smartphone dan kamera. Sejauh ini, ASUS A43E yang saya miliki terbilang bandel alias tahan banting. Bisa dipahami mengingat notebook ini sudah dibekali Intel Core i3 2310M Processor. Apalagi, ASUS merupakan penghasil motherboard terbaik di dunia. Jadi, berbagai produknya merupakan jaminan mutu bagi pengguna.

Tak heran jika ASUS A43E jadi saksi bisu berbagai kegiatan saya di lapangan dalam rangka tugas kantor dan juga ngeblog. Dipakai di bawah terik matahari, oke. Digunakan di puncak gunung pun tetap oke. Itu berkat teknologi ASUS IceCool yang membuat area palm rest tetap dingin dengan memposisikan komponen penghasil panas jauh dari tangan saya.

Di sisi lain, seiring berkembangnya zaman pun berkolerasi dengan peningkatan pada teknologi. Termasuk, tentang laptop yang saya miliki. Kebetulan, bertepatan dengan HUT kantor saya ke-12 yang berlangsung kemarin (6/1), ada rencana untuk mengganti perangkat yang dimiliki saya dan rekan-rekan jurnalis lainnya.

Saya pribadi sudah mencantumkan seri ASUSPRO P2430U dalam daftar pembaruan laptop. Itu berarti, saya harus merelakan ASUS A43E yang memang inventaris untuk dikembalikan ke kantor dan menerima penggantinya yang baru.

Alasan saya memilih ASUSPRO P2430U karena laptop ini serba guna dan tingkatannya di atas ASUS A43E. Ya, wajar jika saya berharap mendapat notebook yang lebih baik dibanding sebelumnya. Mengenai apakah kantor akan memberikan seri ASUSPRO P2430U atau seri lainnya, tentu itu di luar kuasa saya.

Yang pasti, secara spesifik harus diakui, seri ASUSPRO P2430U lebih baik dari ASUS A43E. Fiturnya memang ditujukan untuk kalangan profesional yang memiliki mobilitas tinggi tapi tetap memiliki desain yang stylish dan elegan.  Itu mirip dengan saya yang hampir setiap hari pergi dari satu stadion ke arena olahraga lainnya, mengejar narasumber di bandara dan sebagainya, tapi tetap peduli pada penampilan. Meski di jalan diterpa panas dan hujan, saya selalu mengusahakan untuk tampil rapi setiap bertemu atlet atau pelaku olahraga.

Berdasarkan referensi dari www.asus.com, ASUSPRO P2430U ini disematkan prosesor Intel Core generasi keenam. Sementara, ASUS A43E yang saya pakai saat ini menggunakan prosesor Intel Core generasi kedua. Dari segi prosesor, sudah terlihat perbedaannya.

Meski, bagaimanapun, ASUS A43E tidak akan pernah saya lupakan karena berkat laptop yang sudah dibenamkan Intel HD Graphics 3000 ini saya bisa berkenalan dengan produk ASUS lainnya. Termasuk, saat ini yang saya pakai, smartphone ASUS Zenfone 3 (ZE520KL).

Nah, prosesor Intel Core generasi keenam ini membuat kinerja ASUSPRO P2430U lebih bertenaga. Apalagi, notebook ini sudah dibenamkan grafis Nvidia GeForce seri 900 yang dibuat berbasis arsitektur Maxwell untuk performa grafis yang mumpuni. Untuk memori utama, DDR4 sebesar 4GB yang kapasitasnya bisa ditambah. ASUSPRO P2430U memiliki dua slot memori yang bisa menampung RAM hingga 16GB. Dengan kemampuan seperti itu, tak heran jika laptop ini sangat mendukung produktivitas saya untuk multitasking.

Selain dalamannya yang "wah", ASUSPRO P2430U ini juga memiliki tampilan yang memesona. Itu berkat desainnya yang tipis nan elegan dengan tekstur bergaris berbahan alumunium. Bahkan, keyboard-nya sudah dilengkapi one-piece Chiclet Keyboard yang penempatan tombolnya lebar untuk memudahkan saat mengetik.

Satu lagi yang membuat saya tersengsem dengan ASUSPRO P2430U karena menyediakan empat buah port USB. Yupz, empat buah port USB! Jumlah tersebut lebih banyak dari mayoritas laptop yang beredar di Tanah Air. Rinciannya, tiga port untuk USB 3.0 yang menawarkan kecepatan transfer data 10 kali lipat dari USB 2.0. Bahkan, satu port USB 3.0 mendukung USB Charger+ yang bakal memudahkan saya melakukan charging pada gadget.

Bagaimana dengan keamanannya? Nah, ini yang penting. Ternyata, ASUSPRO P2430U sudah dilengkapi berbagai fitur keamanan pada hardware dan sistemnya. Sistem keamanan itu bisa diatur lewat aplikai ASUS Business Manager dengan menyetel fitur Security.

Ini sangat penting bagi saya sebagai orang lapangan yang kerap menggunakan laptop bersama-sama dengan sesama rekan jurnalis lainnya. Sistem keamanan pada ASUSPRO P2430U bisa mengunci fungsi USB dengan password. Alhasil, orang lain tidak bisa mentransfer atau mengambil data pribadi saya dari ASUSPRO P2430U tanpa seizin saya. Termasuk, dengan Harddisk-nya yang dapat dikunci menggunakan password dengan mengaktifkan fitur HDD user pasword protection.

Ini kisah saya bersama produk ASUS. Bagaimana dengan pengalaman Anda? Yuk, sharing di kolom komentar di bawah ini.***

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Asus yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Asus Indonesia.


ASUS A43E jadi saksi suka dan duka dalam keseharian saya
*       *       *
Seri ASUSPRO P2430U yang dengan fitur melimpah
*       *       *
 ASUSPRO P2430U memiliki desain yang elegan dan memesona
*       *       *
ASUS - Intel

*       *       *



Artikel Terkait:
- Review Zenfone 3 (ZE520KL) Bukan sekadar Ponsel
Asus Luncurkan ZenPad 8.0, Tablet Multimedia Premium
Asus Zenfone 2 Laser ZE500KL: Kualitas Bintang 5 dengan Harga Kaki 5
Pengalaman Perdana Menghadiri ZenFestival 2015

Artikel Sebelumnya:
Asus Zenvolution 2016
Asus The Incredible Race: Pengalaman Tak Terlupakan
Asus Incredible Race Pecahkan Rekor MURI
Ini Parade Produk Anyar Asus pada Zenvolution 2016
Zenvolution 2016: Asus Rilis 3 Produk Anyar di Bali 7 September

*       *       *
Jakarta, 7 Januari 2017

Sabtu, 08 Oktober 2016

Review Zenfone 3 (ZE520KL) Bukan sekadar Ponsel


Salah satu gambar yang saya ambil lewat kamera Zenfone 3 dengan mode auto

BAGI saya, ponsel bukan sekadar gawai (gadget) untuk bertelepon dan kirim pesan saja. Melainkan, sudah jadi pendukung kegiatan sehari-hari, baik dalam pekerjaan atau hobi seperti ngeblog. Kebetulan, saya memiliki ponsel sejak awal milenium ketika masih era monokrom hingga kini bisa membuka layar cukup dengan sentuhan jari.

Saya sudah lupa berapa kali memiliki ponsel. Namun, bisa dipastikan saya selalu identik dengan satu merek. Bahkan, jika tidak dibilang fanatik. Tepatnya, produsen dari negara asal legenda hidup Ajax Amsterdam, Jari Litmanen.

Terutama sejak 2009 dengan seri XpressMusic yang selalu menemani saya dalam berbagai kegiatan. Mulai dari kerjaan, pengajian, hingga ngeblog. Maklum, ponsel tersebut bisa dibilang lengkap, baik pada masanya atau pun sekarang.

Maklum, seri 5730 itu ada pada kameranya dengan optik Carl Zeiss. Hingga, meski resolusinya hanya 3,2 megapixel, tetap mampu menangkap obyek secara sempurna. Apalagi, jika saya ingin mengetik panjang lebar, bisa menggunakan keyboard qwerty yang tinggal digeser dari body.

Musik? Jangan ditanya. Suaranya sangat merdu, baik menggunakan headset atau secara langsung. Kelemahannya, sejak beberapa tahun terakhir, saya sulit untuk melakukan perbaikan dan ganti sparepart seiring akuisisi lini perusahaan mereka.

Tak heran jika dalam beberapa tahun terakhir, saya kerap harus berganti ponsel untuk mendampingi 5730. Secara kualitas, saya terbantu dengan kehadiran beberapa smartphone itu yang baik miliki pribadi atau ventaris dari kantor. Hanya, kalau bicara jujur, keberadaan mereka tidak bisa mendampingi XpressMusic hingga akhirnya saya mulai menemukan tambatan baru saat berkunjung ke Nusa Dua.

*       *       *
KEMARIN, tepatnya Jumat (7/10), tepat saya sebulan menggunakan Asus Zenfone 3 (ZE520KL). Seri teranyar dari Asus ini saya dapat ketika menghadiri Zenvolution 2016 di Bali pada 7-9 September lalu. Sebenarnya, sejak lima hari menggunakan smartphone dengan nomor model ASUS_Z017DB ini, saya ingin mengulasnya di blog ini.

Namun, saya tunda karena saya tahu, jika waktunya singkat bisa tidak maksimal. Akhirnya, saya putuskan untuk me-review hingga sebulan agar bisa lebih dalam untuk mengoprek luar dan dalam. Bisa dipahami mengingat Zenfone 3 ini merupakan ponsel Asus pertama yang saya miliki.

Sebelumnya, saya lebih familiar dengan perusahaan yang memiliki slogan "In Share of Incredible" ini pada lini produk laptop. Tepatnya, dengan notebook seri A43E yang merupakan andalan sehari-hari sejak 2013. Pun begitu dengan peralatan tempur di kantor yang memang sangat menunjang untuk kegiatan multimedia kami. Khususnya, mengolah data dan gambar dengan berbagai format pra-cetak.

Dalam rentang sebulan ini, Zenfone 3 sudah jadi bagian keseharian saya yang berdampingan dengan 5730. Mulai dari berpanas-panasan ria di stadion pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX hingga menggigil ketika harus memotret di rink di kawasan Bintaro pada TAFISA Games 2016. Bisa dibilang jika Zenfone 3 ini bukan sekadar smartphone yang lengkap. Melainkan juga  sudah mampu beradaptasi dengan keseharian saya.

Sebab, dengan kamera utama 16 megapixel yang dipadukan sensor Sony Exmor RS IMX298 membuat slogan Built for Photography benar-benar nyata. Buktinya, untuk mengabadikan gambar bergerak di lapangan dan arena olahraga, saya tidak perlu membawa kamera DLSR lagi. Alias, cukup menenteng Zenfone 3 yang hasilnya sangat bagus hingga saya percaya menuliskan caption, foto ini diabadikan melalui Zenfone 3.

Tapi, Zenfone 3 tidak hanya tentang kamera saja yang memang sudah dibenamkan  software PixelMaster 3.0. Melainkan juga banyak kelebihannya berdasarkan pengalaman saya sebagai blogger lifestyle yang menggunakannya sejak 7 September lalu.

Termasuk, tampilan luar yang sangat elegan. Ya, kesan mewah terpancar dari Zenfone 3 yang bagian depannya full kaca yang sekujurnya dilapisi metal. Jujur saja, ada kebanggaan tersendiri memegang smartphone ini dibanding beberapa ponsel sebelumnya yang saya punya mayoritas berbahan plastik.

Pun dengan finger print yang sangat responsif karena sensor sidik jarinya hanya butuh seperkian detik untuk mengunci dan buka layar. Apalagi, letaknya strategis, tepat di bawah kamera utama yang berbentuk lonjong tidak seperti merek lain yang rata-rata bulat.



*       *       *
"TIADA gading yang tak retak", demikian pepatah pada masa lampau yang berlaku hingga kini. Alias, di dunia ini tidak ada yang sempurna. Termasuk yang saya alami saat menggunakan Zenfone 3 dalam sebulan terakhir.

Sebagai blogger yang memegang asas jurnalistik berdasarkan sembilan elemen Bill Kovach, tentu saya wajib kritis untuk menuliskan sesuatu. Baik itu kelebihan atau kekurangan yang tidak hanya berguna sebagai pengingat untuk saya pribadi, melainkan demi pembaca blog ini dan produsen yang bersangkutan.

Menurut saya, kelemahan Zenfone 3 ada pada slot hybrid pada dual SIM Card dan Micro SD. Jadi, jika saya ingin menggunakan dua provider, saya harus merelakan tanpa memori eksternal. Sebaliknya, jika menggunakan memori eksternal, terpaksa saya hanya bisa memakai satu kartu.

Meski, hingga kini slot hybrid tidak terlalu masalah bagi saya mengingat memori internal Zenfone 3 sangat besar bagi ukuran saya yang mencapai 32 GB. Pasalnya, hingga kini, baru 13-an GB yang terpakai untuk aplikasi dan media (foto, video, musik, dan sebagainya).

Ya, terlepas kekurangan tersebut yang sebetulnya bisa diatasi, Zenfone 3 ini benar-benar sangat membantu saya. Itu mengapa, bagi saya, smartphone yang kameranya dilindungi lensa berlapis sapphire ini bukan sekadar ponsel saja. Melainkan, sebagai kawan di mana pun dan kapan pun.

*       *       *

Artikel Asus Lainnya:



Prolog:
Asus Zenvolution 2016

Tetralogi Zenvolution 2016
Asus The Incredible Race: Pengalaman Tak Terlupakan
Asus Incredible Race Pecahkan Rekor MURI
Ini Parade Produk Anyar Asus pada Zenvolution 2016
Zenvolution 2016: Asus Rilis 3 Produk Anyar di Bali 7 September

Spin-off Zenvolution
Sensasi Menelusuri Sungai Citarik 9 Km
Menikmati Senja di Taman Jomblo: Antara Mitos dan Fakta

Prekuel Zenvolution
Pengalaman Perdana Menghadiri ZenFestival 2015
Asus Zenfone 2 Laser ZE500KL: Kualitas Bintang 5 dengan Harga Kaki 5

Epilog 
- Review Zenfone 3 (ZE520KL) Bukan sekadar Ponsel

Stop Press! 
Asus Luncurkan ZenPad 8.0, Tablet Multimedia Premium

*       *       *
- Jakarta, 8 Oktober 2016

Selasa, 06 September 2016

Zenvolution 2016: Asus Rilis 3 Produk Anyar di Bali 7 September


Logo Asus (foto: roelly87)


ASUS Indonesia siap menggebrak blantika gadget di Tanah Air. Tepatnya, dengan merilis tiga produk anyar bertema Zenvolution 2016, Rabu (7/9). Bali mendapat kehormatan sebagai saksi dari peluncuran Zenbook 3, Transformer 3, dan ZenFone 3.

Zenvolution merupakan lanjutan dari setiap produk yang diluncurkan Asus. Sebelumnya, bertema ZenFestival 2015 di Ballroom Ritz Carlton Pacific Place, 19 November 2015. Kebetulan, saat itu saya jadi saksi dari peluncuran berbagai lini produk telepon seluler (ponsel) Asus dengan empat varian terbaru. Yaitu, ZenFone 2 Deluxe Special Edition, ZenFone 2 Laser, ZenFone Max, dan ZenFon Selfie.

Berdasarkan informasi di website resmi dan sosial media Asus Indonesia (facebook, twitter, instagram), tahun ini bertambah dengan lini laptop. Bisa dipahami mengingat seri notebook Asus sudah lama beredar di Indonesia. Saya pribadi sehari-hari menggunakan seri A43E sejak 2013 lalu. Baik untuk kegiatan kantor, ngeblog, dan aktivitas di luar lapangan.

Berikut, sekilas mengenai tiga produk anyar Asus yang akan diluncurkan besok, Rabu (7/9) dan juga disiarkan secara live di sosial media Asus:

*           *          *

Asus Zenbook 3 (foto: Asus.com)

Asus Zenbook 3

SALAH satu notebook tipis yang memiliki kemampuan gahar. Menurut website resmi, Asus Zenbook 3 tebalnya hanya 11,9 mm dengan berat 910 gram dan layar 12,5 inci. Untuk spesifikasi lebih lengkap, akan saya update melalui artikel ini seusai mengikuti Zenvolution 2016 di Bali.


*           *          *

Asus Transformer (foto: Asus.com)

Asus Transformer 3

SERI Transformer ini jadi salah satu andalan Asus. Sekaligus jadi favorit saya suatu saat nanti. Tentu, tidak saat ini mengingat saya masih nyaman dengan seri A43E. Maklum, meski sudah tiga tahun lebih saya pakai, A43E sangat bandel. Alias tahan banting ketika digunakan di segala medan.

*           *          *

Asus Zenfone 3 (foto: Asus.com)

Asus Zenfone 3

LINI smartphone Zenfone 3 ini yang bikin saya penasaran. Hingga kini, saya belum memiliki gambaran terhadap smartphone penerus Zenfone 2 ini. Mungkin, jawabannya akan bisa saya dapatkan setelah menghadiri Zenvolution 2016. Dan, tentunya bakal saya share di blog ini.

*           *          *

Referensi:
Asus.com, Zentalk.id, Antaranews.com, Rosid.net

Tentang Zenvolution 2016:
Streaming Facebook: Link
Streaming Youtube: Link

Sosial Media Asus:
Facebook: AsusIdOfficial
Twitter: Asus_Indonesia
Instagram: AsusId
Tagar (Hashtag) di Sosial Media: #ZenvolutionID

*           *          *

Artikel Asus Sebelumnya:
Pengalaman Perdana Menghadiri ZenFestival 2015
Asus Zenfone 2 Laser ZE500KL: Kualitas Bintang 5 dengan Harga Kaki 5

*           *          *

- Jakarta, 6 September 2016

Senin, 23 November 2015

Pengalaman Perdana Menghadiri ZenFestival 2015



Suasana ZenFestival 2015


LOYALITAS dan kepercayaan merupakan kunci keberhasilan suatu perusahaan untuk menggaet konsumen. Biasanya, banyak perusahaan besar di dunia yang tidak hanya mengandalkan penjualan saja atau layanan after sales (garansi), melainkan juga menjalin hubungan baik dengan pembelinya. Yaitu, melalui berbagai program promosi di media sosial.

Gunanya, selain untuk mempertahankan pembeli yang sudah ada sebelumnya (pelanggan), juga menambah konsumen baru. Itu mutlak diaplikasikan beberapa perusahaan ternama di kolong langit ini. Termasuk di bidang industri elektronik dan telekomunikasi.

Dari Asia, salah satu yang mencuat dalam satu dekade terakhir adalah Asus. Bagi saya, mereka perusahaan yang unik. Bukan karena saya sejak 2013 menjadi konsumen setianya dengan notebook bermerk Asus. Melainkan juga cara mereka menjalin relasi dengan pelanggan.

Itu mengapa perusahaan asal Taiwan ini sukses bersaing dengan nama-nama besar dari pesaingnya yang sudah lebih dulu ada. Termasuk di Indonesia dengan produk keluaran Asus -mayoritas notebook- sudah memiliki penggemar yang loyal.

*      *      *

"SELAMAT siang mas, maaf acaranya sudah mau berakhir," demikian kata salah satu petugas wanita yang tersenyum manis ketika saya ingin masuk ke dalam Ballroom Ritz Carlton Pacific Place, Kamis (19/11). Itu terjadi ketika saya baru tiba dan menyodorkan tiket undangan ZenFestival 2015.

Kebetulan, saat itu saya datang sekitar pukul 13.50 WIB. Sementara, acara berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB. Ya, saya memang hadir sangat telat karena harus melaksanakan tugas dari kantor di luar Jakarta. Namun, sehari sebelumnya (18/11), saya telah mengirim email mengenai keterlambatan hadir saya kepada pihak penyelenggara di digitalmarketing@asus.co.id.

Sekitar pukul 13.00 saya baru kembali ke kantor yang berada di kawasan Gelora Bung Karno (GBK). Setelah mengirim file dan dan merapikan dokumen terlebih dulu, saya pun meminta izin atasan untuk keluar kantor selama satu jam sebelum pukul 15.30 WIB saat kami akan memulai rapat. Setelah itu, saya langsung ngibrit dari GBK ke Pacific Place yang letaknya hanya dipisahkan Jalan Jenderal Sudirman.

Dengan harap-harap cemas saya menyaksikan tiket yang saya dapat sejak Jumat (13/11) itu di-scan kedua petugas. Saat itu, saya berharap, meski acaranya sudah berakhir, setidaknya saya bisa diberi masuk sejenak untuk melihat kemeriahan acara dan mengabadikannya sebagai bukti saya sudah hadir ke acara ZenFestival 2015.

Namun, saya beruntung. Karena acara memang masih berlangsung. Ternyata, komentar salah satu petugas itu hanya guyon saja usai melihat saya yang pakaiannya basah kuyup masuk dengan menenteng tiket undangan.

Sambil memberikan tiket saya kembali yang ditukar dengan satu tas penuh berisi merchandise, salah satu dari mbak manis kembali bersuara, "Silakan masuk mas. Maaf ya, tadi bercanda. Acaranya memang dari jam sembilan sampe 16 WIB yang dilanjutkan sesi khusus malam harinya. Saat ini masih berlangsung kok. Kalau mas mau makan silakan menuju arah kanan. Setelah itu mas bisa melihat-lihat atau mencoba augmented reality balapan di ruangan pojok."

Meski perut keroncongan dan sempat tergiur dengan deretan menu mewah di meja makan yang disediakan secara gratis oleh pihak Asus, namun saya memutuskan untuk masuk ke dalam lebih dulu. Saat itu ada presentasi mengenai beragam produk telepon seluler (ponsel) Asus terbaru dengan tipe Zenfone.

Oh ya, saya sendiri pengguna Asus sejak 2013, tapi di seri laptopnya, yaitu A43E. Untuk ponsel, hingga kini saya belum punya. Itu mengapa saya antusias datang ke acara ZenFestival 2015. Selain saya ingin mengetahui berbagai keluaran Zenfone teranyar, juga karena saya merasa tersanjung dengan undangan mereka.

Jujur saja, untuk kali pertama sejak saya aktif ngeblog pada 2009, baru kali ini saya dikirimi tiket fisik langsung oleh pihak penyelenggara! Sebelumnya, biasanya saya hanya mendapat tiket secara online melalui email yang kemudian saya print sendiri. Namun, berbeda dengan Asus yang membuat saya terharu.

Lantaran, selain mengirim tiket undangan via email, perusahaan yang pada 2014 lalu meraih 4.326 penghargaan di seluruh dunia dari organisasi terpandang dan media IT ini, juga mengirimkannya lewat jasa kurir! Tentu, itu merupakan suatu penghormatan bagi saya yang mendaftar melalui forum Asus ZenTalk.

Alhasil, meski telat banyak, saya pun berusaha untuk "membayar" kepercayaan mereka yang sudah mengundang dan menjamu saya dengan baik. Ya, satu jam lebih sedikit keberadaan saya larut dengan ratusan manusia, mulai dari pihak Asus, undangan, media, hingga blogger, di Ballroom Ritz Carlton Pacific Place dalam ZenFestival 2015. Kendati waktunya singkat, cukup bagi saya untuk mengenal lebih jauh mengenai Asus dan lini produk smartphone-nya.

*      *      *
Ratusan orang memadati ballroom Ritz Carlton Pacific Place untuk mengikuti ZenFestival 2015

*      *      *
Foto bersama dari rekan blogger

*      *      *
Ruangan yang memamerkan berbagai produk Asus

*      *      *
Dua SPG sedang menunjukkan cara bermain Augmented Reality dengan smartphone Asus

*      *      *
Tamu undangan WNA turut mencoba Augmented Reality bersama Asus

*      *      *
Selfie dengan produk Asus dari lini smartphone

*      *      *
Scan tanda pengenal sebelum meninggalkan acara
*      *      *
Ini notebook Asus A43E yang menemani saya sehari-hari saat bekerja dan ngeblog
*      *      *
Artikel terkait:
Asus Zenfone 2 Laser ZE500KL: Kualitas Bintang Lima dengan Harga Kaki Lima

*      *      *

- Jakarta, 22 November 2015