TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Minggu, 18 Oktober 2015

Tiga Dara Blogger


Fun Blogging sesi 3



ALKISAH pada akhir era kekaisaran Kangxi (Hokkian: Khong Hi) -Dinasti Qing- hiduplah tiga pendekar wanita yang sangat tersohor. Kalangan kangouw -dunia persilatan- menyebut Lu Soenio, Phang Eng, dan Phang Lim, sebagai "Tiga Dara Pendekar".

Bahkan, Liang Yusheng, melukiskannya dengan ciamik dalam novel berjudul sama: Kangouw Sam Lie Hiap. Dalam karya fiksi yang populer di Indonesia pada era 1970-an disadur kembali oleh Gan K.L. ini sangat menarik untuk dibaca.

Bukan saja berisi tentang sifat kepahlawanan dalam menghadapi tirani penguasa di Tiongkok pada abad ke 18. Melainkan karena novel silat itu memuat peran penting dari wanita yang akhirnya diakui memiliki hak sama dengan pria. Jika pria bisa belajar silat untuk bela diri, kenapa wanita tidak?

*       *       *

PADA era teknologi ini, internet tidak hanya didominasi kaum adam. Saat ini, banyak wanita yang memiliki legitimasi sama. Termasuk di dunia blog. Sekarang, sudah tidak ada kotak-kotak antara perbedaan status, usia, strata, hingga gender. Di mata internet, khususnya blog, semua sama.

11 Oktober lalu, saya genap lima tahun aktif di dunia blog. Tepatnya, ketika mendaftar di Kompasiana sebagai Kompasianer. Itu merupakan awal perkenalan saya sebagai blogger. Banyak yang saya dapat dari hasil ngeblog di platform gratisan tersebut. Termasuk teman dan berbagai komunitas.

Di sisi lain, saya ingat adagium lawas, "Setelah Mahameru, masih banyak puncak tertinggi di nusantara, seperti Rinjani, Kerinci, hingga Jaya." Itu terjadi ketika saya mengikuti suatu acara bertema "Dari Hobi Menjadi Profesi" pada pertengahan Posyamasa di jantung Ibu Kota. Sejak itu, saya jadi makin mantap jadi blogger.

Ya, tanpa Lu Soenio-Phang Eng-Phang Lim di era modern, belum tentu saya bisa seaktif ini dalam ngeblog. Bahkan, beberapa kali menang lomba berkat peran dari tiga dara tersebut. Maklum, awalnya saya merasa sebagai blogger itu ya menulis saja. Tanpa embel-embel apa pun, tidak idealis sih, tapi lebih untuk mengisi waktu luang saja.

Hingga, saat  ketiga dara itu menerangkan lebih lanjut, bahwa blogger pun bisa menjadi profesi, sukses membuka hati saya. Ya, bagaimanapun saya harus mengakui. Layanan internet di rumah per bulannya tidak gratis. Begitu juga dengan kopi dan rokok -jangan ditiru yaaaa, saya perokok aktif!- sebagai teman ngeblog pada malam hari.

Pada momentum itu, saya teringat dengan apa yang diuraikan ketiga dara tersebut. Yaitu, sebagai  blogger wajar jika menghasilkan profit. Misalnya, dengan ikut blog review, menghadiri peluncuran suatu produk, brand, perusahaan, aktif di media sosial untuk menjagai hubungan dengan sesama blogger, hingga turut dalam lomba.

Alhamdulillah, ngeblog jadi kegiatan yang penuh berkah. Seperti saat Ramadan lalu. Bahkan, tanpa bermaksud riya -pamer-, berkat mendapat bimbingan dari ketiga dara itu, saya berhasil memenangkan  beberapa lomba.

*       *       *

SEKADAR kilas balik dengan Fun Blogging yang 12 Oktober lalu genap setahun. Itu diawali percakapan singkat dengan Ani Berta. Bagi saya, blogger wanita ini tidak asing lagi karena sudah sering bertemu dalam berbagai acara.

Bahkan, Ani yang pertama kali mengenalkan saya dengan komunitas di luar Kompasiana. Kalau tidak salah ingat -maklum memori terbatas- ketika penulis buku "Harmoni di Balik Meja" ini mengajak untuk menghadiri milad ketiga Dblogger di Pisa Cafe, 28 Januari 2012.

Setelah itu, tidak terhitung banyaknya acara yang saya ikuti bersama Ani, seperti Kick Andy, Asean Blogger, BNN, Organisasi Perempuan, dan sebagainya. Salah satu momen yang saya belum lupa, ketika kami bertiga "dicuekin" di sebuah gedung instansi pemerintah ketika hendak menemui seseorang.

Bagi saya, sosok yang kemarin tepat empat tahun berteman -di facebook- ini sangat menjunjung tinggi komitmen dan profesionalitas. Itu yang membuat saya banyak belajar darinya. Maklum, sebagai manusia biasa, kadang saya suka menyepelekan sesuatu dan menganggap remeh yang hal kecil. Dengan komitmen, tentu bisa membuat hidup kian terarah dan dipercaya orang. Khususnya dalam menjalin hubungan sesama blogger.

Yang menarik, ketika pertama kali bertemu pada acara Kompasiana Blogshop (29/10/2011), saya mengira Ani merupakan orang yang jutek. Ternyata, wajah bisa menipu. Lantaran, di balik kesannya yang dingin, Ani sangat ramah dan ringan tangan untuk membantu sesama blogger.

Selain Ani, sejak menghadiri acara Fun Blogging, saya pun jadi sering merecoki Shintaries Nijerinda dan Haya Aliya Zaki di media sosial. Bisa dipahami mengingat keduanya memang memiliki kapasitas yang mumpuni di bidangnya masing-masing.

Berkat penjelasan Shintaries sembilan bulan lalu, saya jadi berani utak-atik dashboard blog. Hasilnya, tampilan dua kolom dengan sidebar di kanan ini. Sebelumnya, desain blog saya ya, begitu deh. Alias, ga jelas karena terlalu banyak widget yang tidak perlu. Shintaries juga yang mengenalkan saya dengan Google Adsense  dan monetisasi Youtube.

Sementara, Haya, yang memiliki segudang pengalaman menulis sejak 1998 -buset, saat itu saya masih SD-, sukses "menyebarkan" virusnya. Saya banyak berkonsultasi dengannya terkait konten. Termasuk keikutsertaan saya dengan agregator blog seperti VivaLog yang ternyata mendongkrak keterbacaan blog.

*       *       *

"SELAMA gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar". Demikian pepatah kuno yang tidak pernah saya lupa. Saya beruntung pernah mengikuti acara Fun Blogging sesi tiga pada 10 Januari lalu. Sebagai pribadi, saya berharap Ani-Shintaries-Haya, tidak pernah bosan menyebar virus ngeblog untuk sesama blogger. Maklum, masih ada stigma di sebagian masyarakat, khususnya kaum hawa yang menilai, ngeblog itu hanya membuang waktu saja. Ini jadi tantangan buat ke depannya.

Ya, mereka memang bukan Lu Soenio-Phang Eng-Phang Lim. Namun, apa yang dilakukan ketiga penggawa Fun Blogging itu sangat bermanfaat bagi blogger untuk terus eksis tanpa harus mengganggu rutinitas pekerjaan. Saya termasuk yang merasakannya.*

*       *       *
Bersama tiga Kompasianer

*       *       *
Ada yang ngumpet...

*       *       *
Lagi-lagi tidak kelihatan

*       *       *
Bersama si kecil yang kini sudah remaja

*       *       *
Wow...

*       *       *
Ih... dia mah, menang terus

*       *       *
Semangat ya mbak
*       *       *
Foto 2016: Untuk kali pertama bisa memotret ketiga mentor 
*       *       *

Artikel terkait:
Kota Roma Tidak Dibangun dalam Semalam
Ngeblog: Antara Hobi dan Mendatangkan Profit
Tips Ngeblog Asyik: Pentingnya Mengisi Daftar Hadir
Sisi Lain Yoris Sebastian
Cantik Alami Bersama Iwita dan Pixy

*       *       *
- Cikini, 18 Oktober 2015

Kamis, 15 Oktober 2015

Sisi Lain Budi Waseso (Buwas): Pasukan Khusus, Ceplas-ceplos, dan Kritik Feodalisme di Kalangan Pejabat


Budi Waseso dalam acara Saresehan Advokasi P4GN bagi Kalangan Media


"TANPA berkelahi tidak akan jadi sahabat."

Jika Anda penggemar cerita silat Jin Yong, pasti tidak asing dengan penggalan kalimat itu yang ada di novel Ie Thian To Liong. Alias, dalam versi Indonesia dikenal sebagai Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga.

Demikian persepsi yang saya dapat ketika pertama kali bertemu dengan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso. Maklum, sejak Januari lalu, stigma saya terhadap pria 54 tahun ini bisa dibilang agak gimana gitu. Meski, tidak seekstrem kalimat dalam novel tersebut. Namun, kesan saya terhadap mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Bareskrim) ini tetap ya begitu.

Di sisi lain, saya juga mengingat jelas adagium lawas yang mengatakan, "Tak kenal maka tak sayang."

*      *      *

RATUSAN manusia tampak antusias memadati ruangan di Avara Function Hall, Epicentrum Walk, Jakarta Selatan, Selasa (13/10). Wartawan, pejabat undangan, praktisi, hingga blogger, tumplek jadi satu menyorot ke panggung.

Penyebab dari antusiasme mereka bukan lain demi mendengarkan pidato Budi yang jadi narasumber dalam Sarasehan Advokasi P4GN di Kalangan Media Elektronik bersama Roy Suryo dan Antar Sianturi. Pria yang tak masalah disapa Buwas -meski kadang mengaku kerap diplesetkan jadi "buas"- ini dengan bergelora menyatakan visi BNN untuk memerangi peredaran narkotika dan obat terlarang (narkoba).

Apalagi, kalau bukan mewacanakan hukuman mati atau minimal isolasi di pulau terpencil untuk bandar dan pengedar. Bahkan, tanpa tedeng aling-aling, Budi, mengaku sudah menyiapkan pasukan khusus untuk memerangi narkoba!

"Nanti (keberadaan pasukan khusus) ini pasti akan bikin gaduh. Apalagi, dari teman-teman wartawan ini pasti digaduhkan biar ramai. 'Memang nih pak Buwas ini bikin gara-gara terus.' Tapi yang terpenting bagi saya ini dari tujuan itu. Untuk bekerja memerangi narkoba. Untuk menyelamatkan nyawa. Menyelamatkan generasi bangsa ini. Itu yang paling penting. Akibatnya? Pasti ada. Tapi ya, kita harus hadapi," kata Budi sambil tersenyum seperti yang saya rekam dan unggah videonya di laman youtube.

Dalam kesempatan itu, Budi, membuktikan sebagai Kepala BNN tidak gentar terhadap siapa pun demi memerangi narkoba. Apalagi, jenderal bintang tiga itu menegaskan, posisinya saat ini sudah di bawah langsung presiden (Joko Widodo). Jadi, apa pun yang dilakukannya untuk memberantas narkoba, terkait pro dan kontra, tergantung kebijakan presiden.

Bagi saya, pernyataan itu sangat menarik. Sebab, berbeda 180 derajat dibanding Kepala BNN sebelumnya yang kini menjabat Kabareskrim, Anang Iskandar. Sebab, Budi lebih blak-blakan, ceplas-ceplos, dan agak -menurut saya- slengean dalam mengungkapkan sesuatu. Sementara, Anang, yang saya kenal, selain blogger aktif di blog pribadinya www.anangiskandar.wordpress.com, lebih kalem dalam menyikapi sesuatu.

Misalnya, menurut Budi, pengguna narkoba merupakan kriminal. Sedangkan, Anang menyebut pemakai sebagai korban yang memang harus direhabilitasi. Meski berbeda, bagi saya, keduanya merupakan putra terbaik bangsa ini yang mengemban tugas mahapenting di divisi masing-masing. Kesamaannya, baik Budi dan Anang sudah berpengalaman dalam tugas sebelumnya. Menurut saya yang termasuk masyarakat awam, mereka juga sama-sama komitmen dalam menunaikan jabatannya.

Sebagai blogger yang sejak 2012 lalu tergerak untuk ikut dalam kampanye BNN, tentu saya mendukung rencana Budi. Hanya, untuk saat ini memang, masih belum tepat. Itu mengingat usia jabatannya sebagai Kepala BNN yang baru sebulan setelah dilantik pada 8 September lalu. Mungkin, akan lebih elok jika penanganan soal hukum mati, kriminalisasi, isolasi, dan pasukan khusus untuk memerangi narkoba, diwujudkan dalam beberapa bulan ke depan sampai sarana dan prasarana tersedia.

*      *      *

CEPLAS-ceplos seperti sudah identik dengan Budi yang saya ikuti beritanya di media sejak menjabat Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Gorontalo. Menurut saya, apa yang dilakukannya sangat positif. Sebagai bagian dari generasi muda, jujur saya jadi berbalik mengaguminya setelah menghadiri acara BNN tersebut. Itu karena Budi dengan lantang mengaku tidak menyukai birokrasi yang bisa menghambat kinerjanya dalam memberantas narkoba.

"Kadang-kadang saya harus bertemu Ketua DPRD DKI, ya saya datangi. Tanpa harus saya kirim surat atau atur waktu. Bahkan lagi di mobil pun, jika perlu, saya telepon orangnya, saya langsung ke situ. (Tapi) kadang-kadang orang kan enggan, dengan mengatakan, masa malah Kepala BNN yang ke sini!" tutur Budi, yang tidak malu mengakui sebelumnya sempat jadi tukang ojek. "Kan kita kadang-kadang kebiasaan feodal masih dibawa-bawa. Minta dihargai, minta dihormati. Padahal, kita sendiri enggak pernah buat apa-apa. Nah ini yang selalu saya tanamkan kepada anggota (BNN) saya juga. Bahwa Kepala BNN punya tanggung jawab yang lebih."

Mendengar penuturannya itu jelas membuat saya merinding. Sangat sedikit pejabat di negeri ini yang seperti Budi. Jadi, selain wajahnya yang terkesan menyeramkan karena sudah terdoktrin "buas" sejak Januari lalu, ternyata penikmat kopi ini memiliki sisi lain yang positif. Ironisnya, itu jarang diketahui publik mengingat stigma negatif yang sudah kadung melekat.

"(Setiap hari) saya jam enam sudah di kantor dan jam 11 (23.00 WIB) baru pulang, itu karena beban tugas saya yang berbeda dengan anggota saya. Gaji saya dengan anggota saya sudah berbeda. Begitu juga fasilitas yang diberikan negara untuk saya dan anggota saya sudah berbeda. Jadi, sudah kewajiban saya yang bekerja lebih. Tidak boleh saya menuntut seperti anggota saya. (Kalau tidak mau seperti itu) ya jangan jadi Kepala BNN. Ini biasa bagi saya untuk kerja maksimal," Budi, menjelaskan.

*      *      *

TEGAS, berani, disiplin, dan sangat membela anak buah. Demikian kesimpulan yang saya dapat usai berbincang dengan Budi dari awal acara hingga lift saat mengantar kepergiannya. Namun, apakah benar demikian? Sebagai blogger, saya punya kewajiban untuk melakukan "verifikasi" alias cover both side dengan menggali sumber dari pihak kedua (ho ho ho, bahasanya berat).

Singkat kata, saya menemui beberapa anggota BNN lainnya untuk menanyakan komentar mereka terkait keberadaan Budi selama satu bulan di Cawang (markas BNN). Berdasarkan penuturan mereka, ternyata selain tegas, berani, dan disiplin, Budi juga merupakan sosok yang konsisten. Dalam arti, jika lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1984 ini sudah mengatakan A, ya harus A.

Mungkin, saya menyamakan Budi dengan Huang Yaoshi/Oey Yok Su, tokoh fiktif dalam novel Pendekar Pemanah Rajawali, yang mengatakan, "Nyemplung ke laut atau lompat ke api, sama saja. Ucapan ksatria laksana kuda yang dicambuk dan tidak bisa dikejar lagi."

"Pak Budi orangnya asyik. Beliau sangat disiplin dalam bekerja. Semangatnya tidak pernah kendur untuk memerangi narkoba. Meski baru sebulan, tapi kami berasa sudah lama mengenal beliau," ucap salah satu pejabat BNN. Pernyataan bernada sama diungkapkan anggota BNN lainnya ketika kami bertemu di depan pintu masuk mal, "Kalau perbedaan -dengan Anang, maksudnya- tentu banyak. Tapi, kami ambil sisi positifnya saja. Beliau (Budi) menularkan semangat kepada kami untuk bekerja keras demi negara."

*      *      *
Budi bersama Kabag Humas BNN, Slamet Pribadi

*      *      *
Tanya jawab Budi dengan media, undangan, dan blogger

*      *      *
Roy Suryo jadi narasumber dengan latar layar isu yang sedang hangat saat ini

*      *      *
Deputi Pencegahan BNN Antar Sianturi  

*      *      *
Data dan fakta peredaran narkoba hingga menyandang status "Darurat Narkoba"

*      *      *
Fakta: Setiap 100 orang, dua di antaranya ternyata pengguna narkoba!

*      *      * *      *      *
*      *      * *      *      *
 *      *      * *      *      * 
      

Rekaman video: "Saya tidak senang birokrasi! Kebiasaan feodal tidak boleh dibawa-bawa"
*      *      *

Rekaman video: Pasukan Siluman BNN
*      *      *

Rekaman video: Kami sedang melatih "Tim Pasukan Khusus" 
*      *      *

Keterangan: Seluruh foto dan video di artikel ini merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)

Artikel tentang BNN dan Narkoba lainnya:
Komitmen Slank Rela Tidak Dibayar untuk Konser Anti Narkoba/ Lomba Blog BNN
Presiden dan Kepala BNN Kompak: Bandar Narkoba harus Dihukum Mati!
Profil Anang Iskandar: Calon Kapolri yang Merupakan Blogger Aktif
Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
Diskusi Blogger dengan Kepala BNN yang Juga Blogger
Sinergi BNN dan Blogger untuk Mengatasi Darurat Narkoba 
Narkoba: Berawal dari Coba-coba, Ketagihan, hingga Maut Menjemput (Artikel di Okezone.com)

Pentingnya Terapi Keluarga untuk Kesembuhan Pengguna Narkoba
Mengapa Pecandu Narkoba Harus Lapor?
Alasan Rehabilitasi bagi Pengguna Narkoba
Bagaimana Menjauhkan Anak dari Narkoba?
Yuk, Mengenali Ciri-ciri Pengguna Narkoba
Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
Narkoba dan Faktor “Kegalauan” Anak Muda
Yuk, Hadiri Diskusi bersama BNN bertema 2014 Bebas Narkoba
Narkoba: Berawal dari Coba-coba, Ketagihan, hingga Maut Menjemput
Kisah Inspiratif Dua Kompasianer di Acara Titik Balik
Mengenalkan Bahaya Narkoba melalui Game Online
Peran Orang Tua dalam Mengatasi Tren Merokok di Kalangan Remaja
Langkah Awal BNN dalam Memberantas Narkoba

*      *      *

- Cikini, 15 Oktober 2015

Senin, 12 Oktober 2015

Memetik Manfaat dari Tokopedia Roadshow Jakarta 2015


CEO Tokopedia, William Tanuwijaya pada acara Tokopedia Roadshow Jakarta

"BELANJA di Tokopedia itu enak. Pesan pakai ponsel Smartfren, bayar di Bank Mandiri, dan barang diantar melalui JNE. Mudah banget kan." Demikian pernyataan Arie Kriting, salah satu narasumber di acara Tokopedia Roadshow Jakarta 2015.

Apa yang dikatakan comic -pelaku Stand-up Comedy- yang dalam beberapa tahun sukses malang melintang di blantika hiburan Tanah Air ini beralasan. Maklum, di era globalisasi ini, kemunculan banyak toko online, termasuk Tokopedia, memang sangat membantu masyarakat.

Khususnya saya pribadi yang meski tidak rutin, namun kerap membeli barang via online. Dalam beberapa bulan ini, Tokopedia merupakan salah satu yang paling sering saya kunjungi terkait kelengkapan produk dan sistem keamanan yang sudah terjamin.

*      *      *
PAGI itu, Sabtu (10/10) di Assembly Hall lantai 9 Plaza Bapindo, Jakarta Selatan, sudah dipenuhi ratusan orang. Kehadiran mereka tidak lain demi mengikuti acara bertajuk Ciptakan Peluangmu yang diselenggarakan toko online ternama di Indonesia, Tokopedia.

Roadshow di Jakarta ini merupakan satu dari rangkaian acara di 10 kota besar di Indonesia sepanjang 2015. Bagi saya, ini kali kedua mengikuti talk show yang diselenggarakan Tokopedia setelah acara bertajuk Temu Blogger (30/5).

Sebagai blogger yang kerap belanja online, kesempatan mengikuti Tokopedia Roadshow Jakarta 2015 ini tentu wajib diikuti. Meski malamnya harus begadang terkait banyaknya tugas dan sore harinya sudah ditunggu agenda yang setumpuk, talk show ini "haram" untuk dilewatkan.

Sebab, berdasarkan info yang saya dapat melalui twitter resminya @tokopedia, terdapat lima narasumber yang berbagi pengalaman inspiratif. Salah satunya, tentu yang sudah saya nantikan sejak Mei lalu. Yaitu, CEO Tokopedia William Tanuwijaya.

Bisa dipahami mengingat saya sering mendengar kisah "kenekatan" dari pemilik akun twitter @liamtanu ini. Alhasil, saya pun kian penasaran untuk melihat langsung sosok beliau. Ya, jarang-jarang bisa bertemu langsung dengan salah satu pendiri -bersama Leontinus Alpha Edison- Tokopedia ini.

Beruntung, William bukanlah tipe pengusaha sukses yang pelit akan informasi. Sebaliknya, lulusan Bina Nusantara University ini begitu rela memberikan tips keberhasilannya dan membeberkan pengalaman hidupnya.

"Membangun (Tokopedia) tidak mudah. Saya dan beberapa rekan harus jatuh bangun untuk mengenalkan kepada khalayak ramai," kata William yang memakai setelan jas berwarna hitam. "Sering kali saya diremehkan karena saat itu tidak dikenal. Ada yang bilang, saya ini siapa, pengalamannya apa, ada modal berapa, keturunan dari mana, dan sebagainya. Namun, itu semua tidak membuat saya putus asa. Sebaliknya, hal itu jadi tantangan untuk saya."

Bagi saya, pernyataan itu tentu sangat menarik sekaligus memberi motivasi. Seperti halnya adagium lawas yang mengatakan, "Jangan takut ombak jika ingin berlayar." Itu karena William merintis Tokopedia dari kecil hingga kini jadi salah satu toko online (Marketplace) terkemuka di Indonesia.

Bahkan, di kalangan pengguna internet seperti blogger dan netizen, Tokopedia sudah jadi nama generik. Lantaran jika kami ingin membeli barang atau produk melalui internet, pasti menyebutnya ke Tokopedia. Padahal, toko online di Tanah Air sangat banyak.

Namun, Tokopedia seperti sudah mendoktrin kami jika ingin membeli sesuatu, hanya mereka yang mampu menyediakannya secara lengkap disertai garansi, verifikasi penjual, keamanan transaksi, hingga harga yang kompetitif untuk berbagai produk.

"Negara ini sangat besar. Keberadaan Tokopedia ini untuk mewujudkan mimpi besar masyarakat Indonesia. Kami membuka peluang untuk bisa sama-sama dinikmati. Untuk itu, saya berusaha membangun kepercayaan dalam bisnis (online) ini. Agar, kita bersama membangun Indonesia lebih baik melalui internet," William, mengungkapkan.

Dalam kesempatan tersebut, William juga menceritakan masa lalunya. Ternyata, saya baru tahu jika beliau pernah jadi operator warung internet (warnet)! Sebuah pengakuan yang sudah tentu membuat kami terkejut sekaligus jadi terlecut. Ya, William yang dulunya operator warnet, kini menjelma jadi CEO salah satu startup ternama di nusantara yang sukses menggaet investor kakap sekelas Sequoia Capital dan SoftBank Internet and Media .

Jujur saja, jika bukan karena mengikuti Tokopedia Roadshow Jakarta 2015 ini, tentu saya tidak akan mengetahuinya. Sebab, awalnya saya mengira, William mendirikan perusahaan tersebut karena dukungan finansial dari keluarganya atau lantaran warisan keluarga. Ternyata, saya salah!

*      *      *

TOKOPEDIA Roadshow Jakarta 2015 tidak hanya menampilkan sang CEO dan comic saja yang dipandu MC kondang Kemal Mochtar. Melainkan juga turut mengundang beberapa narasumber yang kompeten untuk berbagi pengalaman dan kisah inspiratif.

Talkshow dibuka CEO Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) Abdul Rahim Tahir, yang membongkar kesuksesan perusahaannya di tengah pesatnya persaingan antarperusahaan pengiriman barang. Yaitu, bersedia menerima kritik dan saran dari pelanggan.

Selanjutnya, ada perwakilan Bank Mandiri, Narullah Saptija, yang membeberkan tips perencanaan keuangan untuk investasi. Lalu, Rizki Auliadi yang sukses menjadi penjual di Tokopedia karena sigap melihat peluang yang ada melalui Evriz Clay. Terakhir, Alit Susanto penulis buku best seller Shitlicious dengan mengatakan, pentingnya membangun self branding demi membuat pelanggan lebih percaya.

Bagi saya pribadi, keberadaan -meski terkantuk-kantuk- di acara Tokopedia Roadshow Jakarta 2015 itu tidak hanya sekadar ingin menyaksikan narasumber atau mendengarkan tips dan pengalamannya saja. Melainkan, bagaimana caranya agar -suatu saat- saya bisa seperti mereka. Ya, seperti yang ditegaskan William, bahwa peluang bukan dicari, melainkan (harus) diciptakan.*

*      *      *
Persiapan panitia menyambut peserta Tokopedia Roadshow Jakarta

*      *      *
Salah satu booth untuk cetak foto gratis via instagram

*      *      *
Foto saya di antara ratusan foto lainnya

*      *      *
Berbagai properti yang disediakan selama acara berlangsung

*      *      *
CEO JNE, Abdul Rahim Tahir mengungkap pelayanan perusahaanya

*      *      *
Perwakilan Bank Mandiri, Narullah Saptija memberikan tips perencanaan keuangan

*      *      *
Seluruh narasumber dalam Tokopedia Roadshow Jakarta

*      *      *
Booth Smartfren yang jadi salah satu sponsor Tokopedia Roadshow Jakarta

*      *      *
Booth JNE yang jadi salah satu sponsor Roadshow Tokopedia Jakarta

*      *      *
Para narasumber Tokopedia Roadshow Tokopedia 2015

*      *      *

*      *      *
Keterangan: Seluruh foto merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)

*      *      *

- Cikini, 12 Oktober 2015

Rabu, 07 Oktober 2015

50 Tahun Gugurnya Ade Irma Suryani dalam Kenangan Kakak Tercinta


Hendriyanti Sahara, di samping makam adinya, Ade Irma Suryani



SETENGAH abad bukanlah periode sebentar. Butuh kesabaran segenap hati dan mentalitas yang kuat untuk mengarungi rentang waktu selama 50 tahun. Luka, kepedihan, sedih, dendam, trauma, dan ikhlas menerima kenyataan, berbaur menjadi satu. Itulah yang dialami Hendriyanti Sahara selama ini.

Putri sulung almarhum Jenderal Besar Abdul Haris Nasution ini masih ingat peristiwa yang terjadi pada lima dekade lalu. Tepatnya, 30 September 1965 ketika kediamannya di Jalan Teuku Umar nomor 40, Menteng, Jakarta Pusat, diserbu sekelompok pasukan.

Saat itu, bu Yanti -panggilan saya kepada beliau- memang berhasil lolos dari sergapan pasukan tersebut bersama ayahnya yang melarikan diri ke kediaman sebelahnya. Namun, naas, adik tercintanya yang masih berusia lima tahun, terkena berondongan peluru. Sempat enam hari menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.

Hanya, takdir berkata lain. Ternyata Tuhan lebih sayang dengan Ade Irma Suryani dan memanggilnya lebih cepat dibanding harus menderita akibat terkena peluru tajam.

*       *       *

PAGI itu, Kamis (1/10) pelataran monumen Ade Irma Suryani didatangi banyak pengunjung. Ada dari perwakilan pemerintah, mahasiswa, pelajar, hingga wartawan cetak dan online. Kehadiran mereka tidak lain untuk ziarah ke makam dari putri bungsu jenderal bintang lima yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila.

Saya yang menyimak aktivitas mereka sangat takjub. Sebab, itu membuktikan kita, sebagai bangsa yang tidak lupa dengan jasa pahlawan terdahulu. Apalagi, Ade Irma Suryani, meninggal tanpa sempat menanyakan apa kesalahannya. Saat saya melihat beberapa foto yang sudah buram di monumen yang terletak di samping Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Jalan Prapanca Raya, sungguh menyentuh.

Terlebih, ketika menyaksikan beberapa pengunjung dengan takzim berdoa di depan makam. Apa yang dilakukan mereka itu bukan berarti mengkultuskan sesuatu apalagi makam. Melainkan, sebagai makhluk hidup, sudah jadi kewajaran untuk mendoakan sesama saudara se-Tanah Air yang telah tiada.

Termasuk saya pribadi yang meski hanya mengenal Ade Irma Suryani dari cerita masa kecil dan menyaksikan tayangan televisi pada era 1990-an serta kini mendapat info dari internet, tentu berharap apa yang terjadi 50 tahun silam itu tidak terulang lagi. Jujur saja, ada perasaan pilu setiap kali mendatangi tempat tersebut dan juga Museum Abdul Haris Nasution di Menteng.

Tanpa bermaksud mengungkit masa lalu negeri ini yang pernah mengalami periode kelam. Khususnya, terkait insiden setengah abad silam, yang sudah seharusnya ditutup. Untuk diganti lembaran baru demi kelangsungan generasi mendatang. Sebagai manusia, kita harus memaafkan kesalahan yang telah lewat. Di sisi lain, kita juga tidak boleh melupakan sejarah masa lalu yang berguna untuk pelajaran di masa depan.

*       *       *
"SAAT kejadian, saya lari dari terjangan peluru. Kami -maksudnya bersama keluarga beliau- mengumpet hingga suasana reda. Ketika itu, ayah sudah melompat ke kediaman tetangga, Kedutaan Besar Irak. Kaki saya mendapat luka. Tapi, yang lebih sedih ketika saya dan ibu (alm Joanna Sunarti, istri Nasution) melihat Ade bersimbah darah," kata Hendriyanti di depan pusara adiknya.

Siang itu, Selasa (6/10) saya menemuinya di makam Ade Irma Suryani. Sebagai penggemar sejarah, sebelumnya saya sudah sering mengunjungi monumen ini atau bekas kediamannya yang kini dijadikan museum di Menteng untuk mencari informasi atau arsip terkait peristiwa memakan korban tak berdosa.

Maklum, sebagai blogger, saya berusaha untuk menggali informasi langsung dari sumber utama agar artikel yang saya buat lebih bernyawa. Namun, setelah tiga tahun, baru kali ini saya bisa bertemu dengan anggota keluarganya yang jadi saksi hidup insiden itu.

Ya, kemarin, tepat 50 tahun meninggalnya Ade Irma Suryani. Jika almarhumah masih hidup, mungkin saat ini sudah berusia 55 tahun.

"Waktu itu saya masih berusia 13 tahun dan Ade baru lima tahun... Peristiwa itu sudah lama terjadi. Kami sudah ikhlas melepas Ade," Hendriyanti mengungkapkan dengan tegar.

Kehadiran Hendrianti di makam sang adik ditemani keluarganya. Termasuk, suami dan anaknya. Beliau senang mengetahui kami, sebagai generasi muda, masih mengingat dengan tepat tanggal gugurnya Ade Irma Suryani. Saya pun, tak kalah senang selama nyaris dua jam mendengar langsung kisah penculikan itu yang ternyata, sedikit berbeda dengan versi yang beredar saat ini.

Diselingi guyon suaminya, pak Nurdin yang mencairkan suasana, kepada kami, Hendriyanti kembali mengenang peristiwa terdahulu. Kini, usianya, -kalau tidak salah dengar- menginjak 63 tahun dengan memiliki beberapa anak dan cucu. Namun, ingatan beliau tentang insiden itu masih segar yang seolah baru terjadi kemarin.

"Saya berharap, kejadian yang dialami kami hingga membuat Ade gugur, tidak terulang lagi. (Peristiwa) malam itu, semoga bisa dijadikan sejarah ke depannya," ujar Hendriyanti sambil menatap langit-langit yang saat itu cerah.

Tak lama kemudian, beliau sekeluarga memohon pamit. Dari kejauhan, kami memandangi kepergian mereka dengan diiringi kesunyian suasana makam siang itu.

*       *       *
Hendriyanti, suami, dan anaknya foto bersama dengan beberapa pejabat dan pekerja di gedung Wali Kota Jakarta Selatan

*       *       *
Saya beruntung bisa mendapat informasi langsung dari beliau

*       *       *
Hendriyanti dan keluarga bersiap meninggalkan makam adiknya

*       *       *
Tulisan "Adik" dari Hendriyanti di makam

*       *       *
Kompleks Monumen Ade Irma Suryani

*       *       *

Artikel Sebelumnya:
- Mengenang Ade Irma Suryani
- Sepenggal Kisah di Museum Abdul Haris Nasution
- Apel Kehormatan di Taman Makam Pahlawan Kalibata

*       *       *

- Cikini, 7 Oktober 2015

Sabtu, 03 Oktober 2015

Belajar Kenal Saham dan Investasi dalam Ngobrol Bareng Pakar di BEI


Diskusi rekan-rekan blogger dengan pakar di Gedung BEI 


TAK kenal maka tak sayang. Demikian adagium lawas yang masih relevan hingga kini. Setidaknya untuk saya pribadi.

Saat ini, siapa yang tak mengenal tentang saham, investasi, atau lantai bursa? Mayoritas masyarakat tentu sudah mengenalnya. Baik itu dari media online, cetak, atau televisi. Namun, tidak semua orang yang kenal itu memahaminya.

Jangankan untuk menanam saham, wong pergi ke gedung bursa efek saja sudah khawatir. Mereka beranggapan, saham itu seperti judi. Ya, tidak dapat disalahkan mengingat kurangnya pemahaman di masyarakat.

 *     *     *

SAYA beruntung bisa berkenalan dengan yang namanya saham, investasi, dan lantai bursa. Itu setelah saya menghadiri acara ngobrol santai dengan blogger di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di kawasan SCBD, Jakarta Pusat, sejak pagi hingga sore ini, Sabtu (3/10).

Dalam acara tersebut, saya tidak hanya bisa bersilaturahmi dengan rekan-rekan blogger lainnya. Tapi juga mendapat ilmu mengenai saham, investasi, dan lantai bursa. Maklum, terdapat beberapa orang yang kompeten di bidangnya dengan membagi pengalamannya yang sangat bermanfaa.

Ngobrol bareng itu dibuka dengan Direktur Pengembangan BEI, Nicky Hogan. Selanjutnya, ada pendiri aplikasi Jojonomics, Indrasto Budisantoso, perwakilan blogger Arsyad, Presiden Direktur Phillip Securities Indonesia, Daniel Tedja, perwakilan Divisi Corporate Communication Bursa Efek Indonesia, Kemas Rumaiyar. Satu pembicara lagi berhalangan hadir, namun tetap memberikan informasinya kepada kami melalui video, yaitu pakar ekonomi, Rhenald Kasali.

"Investasi merupakan kebutuhan hidup," kata Hogan membuka sesi acara. Menurut mantan Presiden Direktur PT Reliance Securities TBK ini, banyak manfaat yang didapat masyarakat dengan menanamkan investasi. Salah satunya, bisa menyiapkan bekal untuk hari tua. Gunanya, agar kita tidak khawatir saat mau pensiun.

Hal sama diungkapkan Indrasto. Sosok murah senyum ini pernah melakukan survei bersama perusahaannya. Yaitu, mayoritas masyarakat ternyata khawatir jika berhadapan dengan tanggal tua. Sambil tersenyum, Indrasto, memberi tips kepada kami. Yaitu, mulai membiasakan diri untuk melakukan investasi sejak dini agar tidak kaget ketika sudah dewasa.

Di sisi lain, Daniel, mengungkapkan, bahwa saham, investasi, dan sebagainya itu bukan judi. Sebab, keduanya dilakukan dengan cara patungan yang melakukan kalkulasi secara matang. Beda dengan judi yang tercipta akibat spekulasi dan hitung-hitungan mencari untung besar. "Tapi, itu tergantung persepsi di masyarakat juga," kata Daniel, yang mengenalkan aplikasi Phillip Poems, yang membuat pengguna lebih memahami saham dan investasi. Aplikasi ini tersedia di google store dan apple store yang bisa diunduh melalui ponsel atau smartphone secara gratis!

Sementara, Kemas, mengakui, stigma saham dan investasi sama seperti judi membuat masyarakat takut mendatangi Gedung BEI. Padahal, menurut pria berpenampilan flamboyan ini, Gedung BEI terbuka untuk umum. Itu kami buktikan ketika istirahat, kami yang mengelilingi Galeri Sejarah BEI, banyak pelajar yang datang. Kebetulan, ternyata acara yang kami ikuti itu bertepatan dengan hari jadi ke-20 dari gedung yang diresmikan mantan presiden Soeharto pada 3 Oktober 1995 ini.

"Sudah saatnya persepsi itu (saham sama dengan judi) di kalangan masyarakat diubah. Jangan lupa, saham ini salah satu aspek yang menggerakkan ekonomi bangsa. Mayoritas perputaran uang di negeri ini beredar dari gedung ini," kata Kemas sambil mengajak kami berkeliling di Galeri Sejarah BEI.

Ya, apa yang dikatakannya beralasan. Tak kenal maka tak sayang. Untuk itu, kebetulan saya bisa mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Gedung BEI agar selanjutnya bisa banyak belajar soal saham dan investasi dari pakar dan ahlinya.***

 *     *     *
Direktur Pengembangan BEI, Hosea Nicky Hogan

 *     *     *
Perwakilan blogger, Arsya

 *     *     *
Pendiri Jojonomics, Indrasto Budisantoso

 *     *     *
Perwakilan Divisi Corporate Communication Bursa Efek Indonesia, Kemas Rumaiyar

 *     *     *
Presiden Direktur Phillip Securities Indonesia, Daniel Tedja

 *     *     *
Lima pembicara bersama MC Aakar Abyasa dan Indah Hapsari

 *     *     *
Pentolan band Padi, Piyu, pun anggota Asia Charts

 *     *     *
Suasana ngobrol bareng bersama puluhanb logger

 *     *     *
Ruangan utama di BEI (idx.co.id)

 *     *     *
Suvenir dan pernak-pernik yang dijual untuk umum

 *     *     *
Galeri sejarah BEI

 *     *     *
Diorama suasana di BEI

 *     *     *
Berbagai properti dan pameran foto sejarah pasar modal di Indonesia

 *     *     *
Diskusi blogger mengenai sejarah BEI dan pasar modal di Indonesia

 *     *     *
Gedung BEI ini tepat diresmikan 20 tahun silam

 *     *     *
Saya sudah belajar kenal saham dan investasi, giliran Anda kapan?

 *     *     *
Ingin kenal saham dan investasi lebih lanjut? Cek info di bawah ini:

Situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI): www.idx.co.id
Situs resmi Asia Charts: www.asiacharts.net
Situs resmi Phillip Securities Indonesia: www,phillip.co.id, poems.co.id, dan www.poems.web.id
Situs resmi Janus Financial: www.janusfinancial.co.id
Situs resmi Jojonomic: www.jojonomic.com

 *     *     *
Keterangan: Seluruh foto merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)
- SCBD, 3 Oktober 2015