TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Fiksi Horor

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Fiksi Horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi Horor. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 September 2024

Yang Liu

 Yang Liu


Ilustrasi Patung Guan Yu
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


YANG Liu.

Begitu penuturan gadis berkuning langsat itu kepadaku dalam sebuah pertemuan di toko buku. Aku sempat terhenyak mendengar namanya yang sedikit asing, Yang Liu. 

Entah itu nama samaran atau aslinya bermarga Yang. Namun, yang kutahu dia hanya tersenyum seolah membaca pikiranku yang seakan hendak bertanya.

"Ya. Namaku Yang Liu. Ada yang salah?"

Hingga beberapa bulan selanjutnya saat liburan ke Kota Kembang, aku baru tahu arti nama tersebut dari seorang kenalan di dunia nyata. Ternyata, itu hanya nama pena. 

Alias. Berbeda dengan satu nama lagi yang dulu terdengar asing, namun asli, Liong Wei atau akrab kupanggil Lenny.

Yang Liu adalah nama lain dari suatu bumbu dalam masakan Cina. Aku sendiri tentu tidak tahu. 

Namun, famili dan leluhur keluargaku yang berasal dari Yunnan, jelas mengetahuinya. Ada apa dengan (nama) Yang Liu?


*      *      *


"JANGAN pernah bermain api kalau tidak ingin terbakar. Saat kecil, api itu kawan. Ketika besar berbalik jadi lawan," Laras, rekan kerjaku coba mengingatkan.

"Hanya mengagumi. Untuk saat ini tidak lebih dari itu," tuturku mencoba berkilah.

"Hai, 'untuk saat ini' kan? Bagaimana kalau besok, lusa, minggu depan, atau selanjutnya kamu malah tertarik kepadanya?"

"Entahlah. Tapi, aku berharap lebih baik perasaan ini terhadapnya padam daripada memudar."

"Jangan berandai-andai. Gadis itu seperti bunga yang dipenuhi duri penuh racun. Cepat atau lambat, kamu akan tertusuk duri hingga keracunan."

"Mungkin, ga sejauh itu kali. Bukankah kalian hampir mirip satu sama lain."

"Lha, kenapa tidak? Aku pertaruhkan segala yang kupunya, bahwa Yang Liu itu memang beracun. Percayalah."

"Tentu aku memercayaimu. Tapi, biarkan aku juga memercayai perasaanku sendiri. Setidaknya, untuk saat ini."

"Terserah..."


*      *      *


SEPANJANG hidup, aku menyukai banyak bunga. Di antara deretan empat bunga yang paling indah di dunia ini, Kimilsungia, Seroja, Anyelir, dan Magnolia. 

Aku mengagumi nama yang pertama. Hanya, bunga tersebut sudah kadung melekat dan menjadi simbol sebuah negara di Asia Timur, hingga membuatku mencari yang lain. 

Ya, Magnolia, entah kenapa aku terpikat setiap menatapnya.

Sebenarnya, meski indah, bunga tersebut biasa saja. Setidaknya jika dibandingkan dengan Seroja, Anyelir, bahkan Kimilsungia. 

Namun, indra perasa tentu memiliki alasan tertentu. Dan, alasan terbaik dalam menemukan suatu jawaban adalah tidak ada alasan sama sekali. 

Murni karena mengagumi.

Itu pula yang aku alami terhadap Yang Liu. Selain parasnya yang menawan dan gaya bahasa ceplas-ceplos. 

Biasa saja, dan tidak ada yang lain.

Kawasan pecinan di Pasar Pagi menjadi saksi bisu pertemuanku yang kedua dengan Yang Liu. Bisik-bisik mulai menjalar di antara pedagang yang dipenuhi etnis minoritas. 

Tak ketinggalan dari mulai penjual hio, petasan, arak, hingga kue bulan sekalipun di los seberang turut memandang sinis kepada kami.

"Ssst... Dia sama yang baru."

"Ya, calon korban, atau mau dikorbanin lagi?"

"Semoga tidak jadi seperti yang dulu-dulu."

"Ah, belum tentu dia seperti itu. Itu kan hanya rumor, faktanya kan rezeki, jodoh, dan kematian yang mengatur Thian. Kita jangan usilan, mending kembali bekerja."


*      *      *


SEJAK itu, aku rutin menemuinya. Tak kuperdulikan apa kata mereka tentang Yang Liu, yang ironisnya tetangga sejak kecil. Terlepas latar belakangnya baik atau buruk. 

Toh, aku senang berteman dengan Yang Liu. Termasuk ketika menunggui di rumahnnya seusai pulang dari sembahyang di sebuah kelenteng.

Saat itu, ada seorang perempuan setengah baya menghampiriku. Tanpa tedeng aling-aling, beliau yang mengaku sebagai ahli nujum memintaku agar jangan mendekati Yang Liu. 

Sebuah permintaan yang nyaris mustahil kukabulkan. Bagaimanapun, aku punya hak untuk berteman dengan siapa saja tanpa dirintangi. 

Itu wilayah pribadi. 

Privasi.

"Terserah Anda kalau tidak percaya. Yang pasti, sebagai sesama manusia, saya sudah mengingatkan," ujar perempuan yang menyebut dirinya sebagai suhu, atau guru spiritual itu kepadaku. 

Saat itu, aku hanya mengangguk tanda menerima nasihatnya. Dan, dalam hati tentu saja menolak, sebab aku tidak ingin disetir orang lain.

"Sebelum pergi, saya ingin memberi sesuatu sebagai penangkal. Saya harap Anda menerimanya."

"Terima kasih, suhu."

"Satu hal lagi, lihatlah altar persembahan itu. Bukankah ada yang aneh dengan patung Guan Yu?"

"Ya Bu. Di kediaman kami, Patung itu memegang golok dengan tangan kanan. Tapi, di sini malah sebaliknya."

"Nah itulah. Yang penting Anda harus hati-hati," katanya sambil memberikan selembar daun yang penuh aksara.


*      *      *


PATUNG Guan Yu. Siapa yang tak mengenal tokoh dalam sejarah Cina, tepatnya pada dinasti Han di abad kedua. 

Dalam literatur klasik "Romance of the Three Kingdoms", Guan Yu dijuluki sebagai Dewa Perang. Sosok yang dikenal memiliki janggut indah itu melambangkan kesetiaan.

Tak heran bila saat menonton film mandarin atau Hong Kong, aku kerap melihat patung Guan Yu dengan tangan kanan memegang golok di altar persembahan di kantor polisi. 

Tapi, bila patung tersebut memegang golok di tangan kiri, berarti yang memujanya dari kalangan mafia atau triad.

Jadi...


*      *      *


"KAMU tentu sudah mendengar perkataan mereka. Khususnya dari perempuan usilan yang mengaku sebagai suhu?" Yang Liu membuka pembicaraan saat kami menikmati indahnya suasana sore di pantai utara ibu kota.

"Aku hanya mendengarkan perkataan mereka. Mungkin masuk telinga kiri keluar telinga kanan," ucapku.

"Lalu, Kamu percaya?"

"Aku sekadar mendengarkan ucapan orang yang lebih tua. Mengenai benar atau tidak. Di dunia ini aku hanya percaya kepada Tuhan. Sebagaimana dirimu memercayai adanya Thian."

"Ini pernyataan atau pertanyaan?"

"Dua-duanya tapi juga bukan dua-duanya."

"Bagus. Kamu berkata dengan jujur meski tidak berterus terang."

"Rambut manusia boleh sama hitam. Tapi pikiran, siapa yang tahu?"

"Ha ha ha..." Yang Liu tertawa dengan renyah. Tampak lesung pipit di pipi kirinya seperti keberadaan Venus yang berkilauan menjelang pagi hari. 

Usai menyeruput es kelapa, sejenak Yang Liu, melanjutkan ucapannya.

"Terus terang, sejak lahir aku seperti dinaungi bintang kematian. Tiada seorang pun yang dekat denganku bisa bertahan lama. Termasuk suamiku..."

"Maksudnya?"

"Langsung saja. Tiga kali aku menikah. Tiga kali pula aku harus kehilangan suamiku."

"Hubungannya denganku?"

"Entahlah. Tapi, menurut ramalan, kutukan itu akan punah setelah pernikahan keempat. Itu sebagai jumlah penggenapan agar aku terlepas selamanya."

"Bukankah bagi kalian angka empat itu melambangkan kesialan?"

"Ya. Bisa jadi sebagai ambiguitas. Sebab, semenjak dulu aku diajarkan, jika terkena bisa ular. Obat paling mujarab adalah gigitan dari hewan yang memiliki kadar bisa lebih keras dibanding ular."

"Racun dilawan dengan racun?"

"Tepatnya begitu," ujar Yang Liu menarik nafas dalam-dalam sambil memainkan rambutnya yang tergelung indah bak Magnolia yang sedang mekar.


*      *      *


SETELAH itu, aku larut dalam rutinitas sehari-hari yang kian menggunung. Begitu juga Yang Liu yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai penata rias. 

Hingga tujuh hari sejak pertemuan di tepi laut itu, aku mendapat kabar dari seseorang yang kukenal dekat, Laras.

"Aku tidak tahu harus sedih atau bahagia saat memberitahu hal ini."

"Tentang Yang Liu?"

"Dia akhirnya kembali ke asalnya. Hidup manusia berasal dari tanah, begitu juga dengan Yang Liu."

"Jadi, Yang Liu sudah..."

"Ya. Sekarang sedang dilaksanakan upacara pelepasannya"

"Kenapa dirimu tak memberitahu lebih awal?"

"Tragedi itu terjadi semalam. tepat di hari pernikahannya. Ketika suaminya yang buronan menjadikan Yang Liu sebagai tameng dari sergapan pistol petugas keamanan. Aku sedih menyaksikan akhir tragis Yang Liu. Di sisi lain, aku bahagia karena Yang Liu akhirnya terbebas dari penderitaan batin," tutur Laras dengan memelukku.

"Kenapa kamu harus bahagia? Bukankah kalian kakak-beradik." aku menjawab tegas sambil menepis tangannya. 

Prosesi kematian Yang Liu sedang berlangsung. Setidaknya, aku ingin menemuinya satu kali sebelum Yang Liu kembali menyatu dengan bumi.

Sementara, Laras hanya terdiam. Entah apa yang ada di pikirannya. 

Hanya, satu misteri yang masih membayangiku saat mendengar ucapan Laras: Bahagia.


*      *      *


Keterangan: Referensi tulisan ini berdasarkan novel Yang Liu karya salah satu penulis favorit saya, Lan Fang. Sayangnya, beliau terlalu cepat meninggalkan dunia ini sebelum saya mengenal tulisannya lebih jauh.


- Jakarta, 21 September 2013


*      *      *

*      *      *

*      *      *


PS: Cerpen ini dibuat 11 tahun silam di https://www.kompasiana.com/roelly87/552cb1186ea834f3478b45c5/yang-liu?page=all#section2 yang di-post ulang di blog ini dengan menambahkan ilustrasi Patung Guan Yu setelah tak sengaja melihatnya di kawasan PIK, Jakarta Utara (21/9/2024)








Senin, 06 Mei 2024

Siapa Pembunuh Pelayan Kedkop?

Siapa Pembunuh Pelayan di Kedai Kopi?

Suasana Terminal Kalideres saat arus balik
Idul Fitri 1445 H/2024
(Gambar hanya pemanis/@roelly87)



TERIAKAN menggema dari kedai kopi (kedkop) di pinggir jalan pada dini hari ini. Menyeruak memecah rinai yang tak henti sejak sore.

Warga yang sebagian masih terjaga pun berhamburan menuju kedkop tersebut. Tampak, Sinichi, salah satu pelayan kedkop sedang nangis.

Di sampingnya terbujur kaku rekan sesama pelayan kedkop, Freeza. Terdapat dua pisau yang menancap di tengah genangan air akibat tempias hujan ke dalam kedai.

Masing-masing di punggung dan perut dengan posisi telungkup. Warga pun kebingungan menyaksikan insiden tragis itu.

"Jangan diangkat. Nanti sidik jari kalian melekat pada korban," ujar Nobita, salah satu warga memperingati rekan-rekan lainnya yang hampir memindahkan jasad Freeza yang darahnya menggenangi lantai.

"Sinichi, ini gimana ceritanya?" kata Ketua RT 10 Shura.

"Saya datang, sekitar lima menit lalu, Freeza udah tergeletak di lantai, pak RT," Sinichi, menjelaskan.

"Pak RT, saya udah hub Polsek. Mereka akan segera datang. Lebih baik kita bikin parimeter depan kedai agar tidak menimbulkan kemacetan akibat warga lainnya yang berkerumun," Boruto, warga setempat menimpali

"Silakan bro. Sambil nunggu polisi, kita rapikan kedai ini yang berantakan akibat hujan deras dari sore. Juga pel lantai takut licin," tutur Shura.

"Tapi, jangan ada yang sentuh Freeza. Biar polisi aja yang menangani. Kita cukup menunggu."

"Siap pak." Warga kompak mengiyakan.

"Bro Sinichi, ada yang mau saya bicarakan. Mumpung polisi belum datang."

"I... Iya, pak RT."


*       *       *


KEDKOP Sedjuk Segar Soiye (S3) memiliki lokasi yang strategis di Kota Namek Indah. Tepatnya, di deretan Ruko Permai Asyik,  Jalan Raya Nostalgia Kartun.

Pemilik Kedkop S3 adalah Buana Sakti perantau asal Distrik Baku Hantam. Ada enam karyawan yang dibagi tiga shift.

Freeza, Sinichi, Mu, Kuririn, Suneo, dan Rita. Kedkop S3 beroperasi 24 jam pada hari normal dan Ramadan.

Hanya, biasanya, setiap Idul Fitri libur sepekan. Sejak H-3 hingga tiga hari setelahnya.

Namun, Lebaran tahun ini, Kedkop S3 justru tetap buka untuk jualan mi instan, kopi, es, dan cemilan lain. Freeza yang menginisiasi usulan itu kepada Buana.

Maklum, Freeza merupakan warga setempat bersama Sinichi dan Rita. Sementara, tiga pelayan lain perantau dari pulau seberang.

Alasan Freeza, daripada gabut selama Lebaran ga ngapa-ngapain, mending jaga warung yang bisa nambah pemasukan. Buana pun meluluskan permintaan itu dengan memberi insentif lebih selama sepekan untuk Freeza dan Sinichi yang menyambut girang.

Namun, keputusan mulia itu harus dibayar mahal. Sebab, Buana yang sedang asyik tidur di kampung halamannya harus terbangun dini hari WIB usai ditelepon kepolisian.


*       *       *


"JADI, saat Anda tiba, saudara Freeza sudah tergeletak," ujar Inspektur Polisi Satu (Iptu) Hattori kepada Sinichi.

"Siap, Dan!"

"Maaf, mas Sinichi. Jangan panggil 'Dan'. Cukup mas, pak, atau bro, aja."

"Iya, pak."

"Berdasarkan kronologis yang Anda katakan tidak menyentuhnya sama sekali. Analisis awal, korban meninggal sekitar 30 menitan yang lalu."

Hattori, melanjutkan, "Saat itu, Anda sedang di mana?"

"Saya di warnet, pak. Sebelumnya, saya udah izin sama Freeza karena suasana lebaran ini, jadi kedai agak sepi. Saya pun iseng main game 2 jam. Ada billing-nya pak. Di warnet juga ada CCTV sebagai bukti saya di sana."

"Baiklah. Keterangan Anda, pak RT, saudara Nobita, dan Boruto, akan kami olah lagi. Sambil menunggu tim forensik bekerja, silakan Anda dan bapak-bapak saksi lainnya duduk," Hattori, menjelaskan.

"Istirahat aja dulu. Santai dan rileks. Jangan tegang, udah kayak nonton Manchester United FC aja, bawaannya deg-degan terus."

Hari kedua Idul Fitri 1445 Hijriah ini memang suasana jalanan relatif sepi. Namun, berhubung ada kasus pembunuhan membuat warga sekitar dan luar jadi penasaran untuk melihat.

Apalagi pada era sosial media (sosmed) ini. Berbekal hp, mereka pun foto dan memvideokan yang di-share ke berbagai platform sosmed seperti Twitter/X, Facebook, Instagram, Tiktok, dan Youtube.

Tak heran jika atensi masyarakat kian kencang. Bahkan, hingga membuat petinggi di Trunojoyo tahu.

Kebetulan, Hattori ditugaskan kantornya untuk menyelidiki kasus ini. Dibantu juniornya di Akpol, Ipda Saga.

Sementara, Kapolsek Tunas Bangsa AKP Dekisugi sedang meninjau arus mudik di Tol Lintas Khayangan bersama jajaran Polres dan Polda. 


*       *       *


SEBAGAI polisi, Hattori berusaha untuk bersikap ramah. Terutama, menerapkan langsung motto 3M Kepolisian kepada masyarakat: Melindungi, Mengayomi, dan Melayani.

Meski terkesan klise dan retoris, tapi di Polsek Tunas Bangsa, benar-benar dilaksanakan. Jauh berbeda dibanding mayoritas polsek lainnya di Tanah Air yang kadang meyulitkan jika ada masyarakat ingin buat laporan.

Meski ramah, Hattori diam-diam mengamati mereka yang berada di kedai. Termasuk Aphrodite, pacar Freeza yang ternyata anggota organisasi masyarakat Santuy (Saya Anak Tanggul Uraa).

Matanya tampak berkaca-kaca usai memberi keterangan kepada petugas.

Otak Hattori pun berjalan untuk merekonstruksi penjelasan para saksi yang akan dipadukan keterangan tim forensik. Apalagi, mengingat laporan Buana via telepon, CCTV di kedai sudah lama mati. Alias, hanya jadi pajangan keberadaan dua monitor yang konon sekadar menakuti jika ada pelanggan rese dan tidak bayar.

Sementara, pemilik ruko dan warung lain yang ada CCTV di sebelah serta seberang kedai, tidak bisa dihubungi karena sedang mudik.

Sekilas Hattori merasa tidak ada yang aneh. Sudah beberapa kali penggemar Bubur Ayam tidak diaduk ini memperhatikan saksi dan warga yang berkerumun.

Sejauh ini sama sekali ga ada yang janggal. Termasuk, lima saksi utama yang berdasarkan pengakuan jadi yang terakhir ketemu dengan Freeza. 


1. Sinichi

Rekan kerja satu shift. Saat kejadian sedang main game di warnet.


2. Shura

Ketua RT. Saat kejadian sedang di rumah nonton bola.


3. Nobita

Kerabat jauh Freeza. Petinggi Ormas Mau Duit Ogah Kerja (MDOK). Saat kejadian sedang istirahat di markasnya.


4. Boruto

Warga biasa. Saat kejadian sedang di rumah.


5. Aphrodite

Pacar Freeza. Anggota Ormas Santuy. Saat kejadian sedang nonton drakor di kostannya.


*       *       *


"WOI... Kesambet lo ya? Senyam senyum, kadang geregetan. Ntar ketawa lagi," ujar Saga menepok bahu Hattori yang berdiri di seberang kedai diiringi rinai.

"Njir. Ngagetin aja lo. Gimana hasil olah TKP?" kata Hattori yang langsung menyulut asap kehidupan.

"Masih diolah," Saga menjawab sambil terkekeh. "Salah bosku. Lo nyalain rokok terbalik."

"Ha... Ha... Ha... Gw jadi kayak orang linglung."

"Menurut lo, siapa di antara lima saksi yang bisa jadi kuat sebagai terduga?"

"Bukan siapa, bro. Tapi, kenapa korban bisa terbunuh seperti ini."

"Hadeuh... Kalimat pasif. Rempong. Gw tebak, lo udah tahu siapa pembunuhnya," Saga kembali menyalakan rokok yang beberapa detik sebelumnya sudah dibuang karena habis.

"Ini kasus menarik. Ada beragam kepentingan. Tapi, kecil kepentingan para ormas bangsat kayak MDOK, Santuy, dan Pengangguran Idaman Calon Mertua, ikut bermain."

"Gw telusuri riwayat korban ada hubungan dari tiga ormas itu. Gw pikir ini berkolerasi."

"Kayaknya tipis kalo dikaitkan ke arah sana meski kemungkinan tetap ada. Gw udah tahu penyebab korban tewas."

"Maksud lo, udah ketemu pembunuhnya? Satu di antara lima saksi?"

"Bukan..."

"Terus?"

"Korban tewas karena..." Hattori tidak melanjutkan. Sebaliknya, malah menyeringai di hadapan Saga yang spontan mundur setindak.***


Bersambung...


*       *       *


Kisah Selanjutnya

- Adu Cengkram MODK, PICM, dan Santuy di Namek Indah

- Freeza dan Kisah Lain dari Kedkop Triple S

 

*       *       *


- Jakarta, 6 Mei 2024


 ...

Kamis, 09 Maret 2017

Langkah Tanpa Wujud di Museum Bahari


Film abad pertengahan tentang perang maritim
yang diputar di lantai dua Museum Bahari (Klik foto untuk perbesar)


"DRA, bosan ah di sini terus. Kita ke atas yuk, itu kayaknya rame ada suara seperti studio."

"Ok Sum. Bentar, aku fotoin maket Sunda Kelapa abad XVII."

"Ya udah, gw duluan ya. Ntar lo nyusul. Gw ga mau sendirian di atas, takutnya ga ada orang."

"Iye bawel."

Siang itu, pada pertengahan periode phalguna, aku bersama Sumbadra mengunjungi Museum Bahari di kawasan Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Kebetulan, kami sama-sama libur, jadi daripada jenuh di cafe dan tempat hang-out lainnya, kami mengisi waktu senggang di tempat wisata yang kata orang sih, anti-mainstream. Alias, ke museum!

Terlebih, aku memang menyukai petualangan yang rutin ke cagar budaya seperti museum. Sementara, Sumbadra meski tidak terlalu sering tapi beberapa kali menemaniku ke tempat bersejarah. Terakhir, kami sama-sama tapak tilas ke Museum Prasasti.

"Sepi Sum. Kirain rame suara orang, ga tahunya audio ini," kataku menunjuk ke arah proyektor yang menayangkan film peperangan pada abad pertengahan.

"Iya."

"Lha, dirimu wangi bener. Perasaan di bawah ga kayak gini. Abis mandi?"

"Aku memang wangi dari dulu. Kamu ga tahu ya?" jawab Sumbadra dengan tersenyum manis sambil memamerkan deretan giginya yang putih dan bersih. Ah, dengan senyum yang memesona ini membuat pria mana yang tidak luluh?

"Kirain dirimu mandi di toilet sini. Ha ha ha."

"Dari dulu kan ga ada toilet di sini. Adanya di lantai bawah tahu."

"Oh, ga tahu aku Sum. Kalo ke sini ga pernah perhatiin toilet segala."

*        *        *

SETINDAK demi setindak kami menjelajahi lantai dua dari bangunan yang telah berdiri sejak 1718. Alias, sudah nyaris tiga abad. Pantas saja beberapa ornamen terlihat uzur. Meski begitu, secara keseluruhan, museum ini masih kokoh.

Tak heran jika Museum Bahari jadi salah satu tujuan wisata edukasi bagi rakyat Indonesia untuk belajar lebih tentang dunia maritim. Bisa dipahami mengingat museum ini menyimpan banyak koleksi menarik. Seperti benda bersejarah, lukisan, miniatur, biota laut, buku kuno, hingga atribut TNI.

"Wah, ada Malin Kundang juga. Jadi ingat waktu berkunjung ke sana dulu."

"Kamu udah pernah ke sana, Dra? Kok ga pernah cerita?"

"Lah, waktu itu kan aku pernah cerita pas dapat kiriman kripik balado."

"Oh..."

Selain diorama Malin Kundang, di Museum Bahari juga terdapat beberapa properti sejarah Indonesia yang dibuatkan patung dengan menyerupai ukuran aslinya. Seperti Raden Fatahillah, penyiar agama islam dari India dan jazirah Arab, pedagang Cina. Kehadiran, Laksamana Cheng Ho dan Cornelis de Houtman turut diabadikan.

Begitu juga dengan legenda atau mitos dengan keberadaan Ratu Pantai Selatan yang berdialog dengan Danang Sutawijaya dan petemuan Dewa Ruci dengan Werkudoro alias Bima, ksatra penegak Pandawa.

"Sum, fotoin aku dong di sebelah Bima."

"Ih, ga ah. Foto sendiri aja."

"Yaelah. Ya udah, sini aku foto dirimu di depan Ibnu Batuta."

"Enggak ah. Aku ga mau difoto!"

"Lha, tumben galak. Salah makan ya?"

"Kamu juga sih. Aku kan udah bilang ga mau foto dan difoto. Aku hanya ingin menemani kamu tapak tilas di lantai dua ini."

"Ok, ok. Cantik. Jangan ngambek."

*        *        *

MUSEUM
Bahari memiliki tiga lantai. Lantai dasar terdapat koleksi perahu, perkakas, dan peralatan TNI. Di lantai dua terdiri dari berbagai diorama dan perpustakaan. Sementara, lantai tiga kosong, biasanya dipakai untuk melihat pemandangan di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa.

"Buku-buku ini ga bisa dibawa pulang ya mbak?" ujarku kepada petugas perpustakaan.

"Ga mas, baca di sini aja. Bebas kok, dari pagi sampai tutup, yang penting isi absensi."

Di dalam ruangan perpustakaan yang tergolong besar ini terdapat berbagai koleksi buku menarik. Mulai dari tentang dunia maritim, profil TNI Angkatan Laut, hingga sejarah Indonesia. Di sisi kiri pintu masuk terdapat ruangan kecil untuk memnatau CCTV yang terdiri dari empat monitor dan beberapa PC.

"Dra, tolong isiin ya."

"Isi sendiri napa. Males banget? Tinggal tulis nama aja."

"Tolong dong."

"Ogah."

"Beneran nih, ga mau isiin?"

"Ga. Rempong ih."

"Oke, kalau begitu..."

"Iya, iya. Ini diisiin, jelek."

"Makasiiiih," ujar Sumbadra sambil ngeloyor.

Saat itu, meski senyap, perpustakaan lumayan ramai. Selain kami berdua, tampak beberapa pengunjung yang asyik membaca buku. Dari raut mereka, terlihat begitu serius yang seolah tidak memerdulikan kehadiran pengunjung lainnya kendati ada yang lalu lalang dan berdesakan di samping rak.

Begitu juga dengan anak-anak yang melompat dari satu kursi ke kursi lain. Sementara, orangtua atau mungkin keluarganya mengawasi anak-anak tersebut dengan pandangan ke depan.

"Mas Indra datang dengan berapa orang?" tanya mbak petugas perpustaan seusai aku mengisi buku daftar hadir.

"Berdua teman. Ini dia tadi minta isiin."

"Berdua?"

"Iya mbak."

"Oh... Oke mas, silakan dibaca-baca bukunya ya," tutur mbak tersebut dengan ramah meski tadi di wajahnya sempat terlihat kebingungan.

*        *        *

SAMBIL membaca buku "Maps of War" karya Ashley dan Miles Baynton-Williams, aku melirik ke arah Sumbadra. Tampak pemilik alis yang lancip itu sibuk mencari buku di rak sejarah. Tangannya yang lentik itu asyik membolak-balikkan beberapa buku yang ada di lorong tersebut. Tanpa sadar, aku benar-benar terpikat dengan rambutnya yang terurai indah sebahu.

Ketika asyik membaca perang maritim pada abad pertengahan, ponselku bergetar.

"Dra, di mana sih? Lama amat." demikian pesan dari aplikasi chat yang identik dengan logo telepon berwarna hijau.

"Lagi baca."

"Di mana?"

"Jonggol."

"Serius?"

"Iya dua rius.Ini nemenin Sony Wakwaw di Jonggol."

"Dra, aku serius. Jangan bercanda terus ah."

"Di sampingmu. Ini duduk di meja, lagi baca. Udah dapet bukunya Sum?"

"Buku. Apa lagi?"

"Lha, bukannya dirimu lagi cari buku..." jawabku seusai mengetil langsung menoleh ke sebelah kiri. Namun, tidak ada Sumbadra. Aku cari dari setiap lorong, tetap tidak ada. Begitu juga dengan pengunjung lainnya. Saat itu, di ruangan hanya ada aku dan mbak petugas perpustakaan beserta rekannya. Tak lama, ponselku kembali memunculkan notifikasi.

"Please Dra, aku tunggu kamu di bawah. Samping kita beli tiket."

"Iya bawel."

*        *        *

"CEPAT amat. Tadi kulihat lagi cari-cari buku," kataku kepada Sumbadra, yang duduk menyandar di kursi panjang.

"Aku dari tadi cari kamu ga ada. Katanya mau nyusul ke lantai dua. Tapi kosong. Sampe aku..." jawabnya dengan nada lemah.

"Mas," ujar salah satu petugas keamanan yang berada di samping Sumbadra, menyelak. "Mbak ini tadi pingsan. Kami temukan di lantai dua pas ada guide dan wisatawan luar negeri yang lapor."

"Serius, pak?"

"Masak, kami bohong mas."

"Dra, apa yang kamu lakukan ke aku itu jahaddd. Aku tunggu-tunggu ga muncul. Aku sendirian di atas..." tutur Sumbadra dengan wajah yang sendu. Ah, sungguh bodoh jika ada pria yang membuatnya menitikkan air mata.

"Aku tadi kan keliling lantai dua sama kamu, Sum. Terus, kita juga baru dari perpustakaan."

"Aku tadi sendirian Dra. Aku takut... Aku..."

"Ya udah, masnya sama mbak ini pulang aja. Tapi, sementara, bisa istirahat di depan buat beli air mineral. Mbaknya tenang aja, udah ga ada apa-apa kok."

"Terima kasih ya pak. Sum, ayuk kita beli air dekat parkiran."

"Aku takut Dra. Aku mau langsung pulang aja. Aku ga mau dibawa naik kapal Jung lagi."

"Pak, kami duluan ya. Terima kasih."

"Ya mas, hati-hati di jalan."

"Iya pak," tuturku sambil memapah Sumbadra ke arah parkiran sepeda motor yang ketika bersentuhan terasa kulitnya hangat dengan keringat bercucuran sebesar jagung. Berbeda ketika kami berada di lantai dua museum yang saat itu terasa dingin dan sangat harum.***


Cerita ini hanya fiktif.
Jika ada kesamaan nama, tempat, dan pengalaman,
hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.


Lorong di lantai dua Museum Bahari

*        *        *

Artikel Terkait
- Tapak Tilas Museum Bahari
Intip Sejarah Nusantara di Museum Bahari
Langkah-langkah Tanpa Wujud di Pojok Museum Bahari (Kisah Horor)
Mengarungi Dunia lewat Museum Bahari
Jalesveva Jayamahe: Di Lautan Kita (Pernah) Jaya
Titik Nol di Menara Syahbandar

Cerita Horor Sebelumnya
Kado Ultah Terakhir dari Alena
- Jembatan Penyeberangan Kalideres
Pagutan Lembut Sang Gadis, Ternyata... (http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2011/12/13/mirror-pagutan-lembut-sang-gadis-ternyata-421445.html)
Bersekutu dengan Setan (http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2011/12/16/mirror-bersekutu-dengan-setan-422453.html)
Kenangan Main Petak Umpet (http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2013/08/14/kenangan-main-petak-umpet-583688.html)
Yang Liu (http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/09/21/yang-liu-593693.html)

Artikel Cagar Budaya Lainnya
Museum Prasasti
Museum Naional
Patung Soekarno-Hatta

*        *        *
- Jakarta, 9 Maret 2017