TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Sabtu, 06 Maret 2021

Kompromi dengan Keadaan

Kompromi dengan Keadaan

Ilustrasi: Gambar hanya sebagai pemanis


MENJELANG pergantian hari, saya dapat orderan dari kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, menuju Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Saat itu, penumpang kekeh enggan memakai helm dengan alasan khawatir covid 19. 

Meski, saya sudah menawarinya untuk menggunakan hair cap yang bisa melindungi rambutnya. Karena tidak ada titik temu, saya pun ingin cancel.

Namun, ketika hendak menekan tombol batal, justru tangan ini berat. Terutama, mengingat dari sore baru dapat dua orderan. Itu pun jarak pendek, argo minimalis. 

Sementara, orderan ini jarak jauh. Argo kakap. Seketika, saya pun batal untuk meng-cancel dengan catatan penumpang tersebut meski tidak memakai tapi tetap harus memegang helm untuk berjaga-jaga jika ada razia.

Pada akhirnya, untuk kali perdana sejak jadi ojol, saya harus melanggar GBHN. Alias, garis besar haluan ngojek. Bisa dipahami mengingat saya biasanya sangat strict jika ada penumpang yang tidak pakai helm, merokok, dan main hape. 

Entah sudah berapa kali saya meng-cancel hingga menurunkan penumpang di tengah jalan yang melanggar tiga aturan tersebut, terutama dua teratas.

Namun, kondisi saat ini memaksa saya untuk menekan idealisme GBHN tersebut. Ya, kompromi dengan keadaan. 

Bukan soal benar atau salah. Sebab, se-idealis apa pun, tetap kalah dengan urusan dapur. 

Setidaknya, hingga saat ini.***


Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):

- Jakarta, 6 Maret 2021

Senin, 25 Januari 2021

Reuni Ahmad Band dan Riuhnya Netizen Zaman Now

Reuni Ahmad Band dan Riuhnya Netizen Zaman Now

Ahmad Band kembali reuni setelah dua dekade
Foto: Instagram.com/AhmadDhaniOfficial


Yang muda mabuk, yang tua korup

Yang muda mabuk, yang tua korup

Mabuk terus, korup terus

Jayalah negeri ini

Jayalah negeri ini

Merdeka...!


DEMIKIAN sepenggal lirik yang diteriakkan Ahmad Dhani dengan lantang pada Minggu (24/1) di akun Youtube official-nya, Video Legend. Tepatnya bersama beberapa sohibnya yang tergabung dalam Ahmad Band untuk tampil streaming di Studio Video Legend, Pondok Indah, Jakarta Selatan.


Saya yang menyaksikan penampilan impresif mereka pun sangat terpana. Bahkan, rela mematikan aplikasi ojek online (ojol) demi menyimak reuni dari supergrup tersebut. Padahal, ketika itu orderan sedang ramai mengingat hujan yang mengguyur ibu kota sejak pagi sudah reda.


Namun, godaan menyaksikan Ahmad Band secara langsung via smartphone, sukses meluluhkan keinginan saya untuk ngojol. Setidaknya, secara sementara dalam durasi dua jam. 


Sambil mengintip kemenangan Juventus atas Bologna, skor 2-0, yang membuat persaingan scudetto Serie A 2020/21 kian memanas demi mengejar AC Milan dan FC Internazionale yang pada giornata 19 justru sama-sama gagal menang.


Ya, reuni Ahmad Band jadi salah satu yang paling saya tunggu tahun ini. Itu setelah 1 Desember lalu menyimak akun instagram Dhani usai tampil dalam  konser Dul Jaelani, Segitiga Sang Pemuja. 


Saya mengenal Ahmad Band sejak 1998 silam. Alias, setelah supergrup itu merilis album pertama sekaligus satu-satunya, Ideologi, Sikap, Otak, yang cover depannya tergolong nyeleneh, Dhani pakai kopiah yang sekilas mengingatkan publik terhadap Bung Karno, proklamator negeri ini.


Sebagai gambaran, saat itu personel edisi pertama Ahmad Band meliputi:

Vokal: Dhani (Dewa 19)

Gitar: Andra Ramadhan (Dewa 19)

Gitar: Pay (Eks Slank)

Bas: Bongky (Eks Slank)

Drum: Bimo (Netral)


Namun, seiring waktu berjalan, Pay dan Bongky cabut. Alias, hanya ikut pada sesi rekaman dan manggung periode awal. Selanjutnya, masuk personel baru, Thomas Ramdhan (bas/Gigi) dan Jaya (Gitar/Roxx) yang turut tampil pada konser sekanjutnya.


Nah, pada live streaming kemaren, formasinya meliputi:

Vokal: Dhani 

Gitar: Andra 

Gitar: Stephen Santoso (Musikimia)

Bas: Thomas

Drum: Yoyo (Padi, Musikimia)


*       *       *


BAGI saya, kembalinya Ahmad Band jilid 2 atau 3 ini benar-benar memantik adrenalin. Maklum, warna musik mereka sangat ramai dipengaruhi ala seattlesound alias grunge, britpop, hingga rock klasik 1980-an. Pun dengan liriknya yang warna-warni, dari cinta, kemanusiaan, filsafat, hingga politik.


Minus, Aku Cinta Kau dan Dia. Namun, dalam list, tetap terdapat lagu ikonik Ahmad Band lainnya. Mulai dari Dimensi, Bidadari di Kesunyian, Sudah, hingga Distorsi.


Termasuk, Kuldesak yang masuk dalam mini album Dhani-Andra.


Menurut saya, apa yang dibawakan Ahmad Band edisi terbaru ini sangat luar biasa. Tentu, saya tidak bisa membandingkan dengan formasi 1998. Sebab, ketika itu saya masih memakai seragam putih-biru. Alias, tidak punya kesempatan untuk nonton konser langsung. Kaset pun sekadar dipinjami teman sebaya.


Penilaian saya, memang suara Dhani tidak bagus. Namun, berkarakter. Pada usia yang nyaris kepala lima, suaranya tetap khas. Dhani pun pintar memilih lagu yang akan dibawakan.


Misalnya, Sedang Ingin Bercinta dan Cinta Gila itu sangat fenomenal. Tidak cocok dibawakan Once atau Ari Lasso. Pun demikian dengan Bidadari, Sudah, Distorsi, dan lagu Ahmad Band lainnya. 


Sulit bagi musisi lain untuk meng-covernya. Memang banyak yang suaranya lebih bagus dari Dhani. Hanya, saat didengar seperti ada yang kurang. Beda rasa jika dinyanyikan Dhani, sang the one and only...


*       *       *


NYARIS dua jam memelototin layar smartphone yang menampilkan Ahmad Band diiringi rinai pada emperan rumah toko (ruko) di kawasan perbelanjaan Jakarta Selatan ditemani segelas plastik air mineral dan asap kehidupan. Saya pun merasa puas karena penantian 23 tahun terbayar lunas.


Meski, ada beberapa catatan kecil yang membuat saya termotivasi untuk kembali menuliskannya di blog. Maklum, sebelumnya saya beberapa kali memposting tentang Ahmad Dhani. Baik reportase, saduran, dan fiksi.


Terkait penampilan, memang secara personel, untuk Ahmad Band sekarang dengan edisi 1998 sangat beda.  Namun, secara kualitas, bisa diadu. 


Siapa yang tak kenal Thomas, sebagai salah satu basis wahid di negeri ini? Pun demikian dengan Yoyo yang gebukannya memacu adrenalin layaknya John Bonham bersama Led Zeppelin dan Dave Grohl (Nirvana). 


Stephan? Doi dikenal sebagai finisher. Alias, tangan dinginnya piawai meracik komposisi pada beberapa album musisi ternama di negeri ini.


Jadi, untuk personel Ahmad Band saat ini, bagi saya tetap wah. Sebab, yang main merupakan para master.


Nah, untuk host atau mc alias pemandu acara ini yang perlu digarisbawahi. Yaitu, Rizky Billar dan Reymon Knuliqh. Tanpa bermaksud tendensius, namun duet host ini menurut saya kurang cocok.


Itu karena wawasan mereka yang masih tergolong minim. Terutama, saat sesi tanya jawab menyangkut sejarah Ahmad Band dan personelnya saat ini. Hanya, itu mungkin penilaian saya pribadi saja. Sebab, interpretasi setiap orang kan berbeda. Tergantung selera.


Kendati, untuk pembawaan, tentu Billar dan Reymon yang memang dikenal heboh, sukses mencairkan suasana. Itu dari segi positif kehadiran mereka yang di media sosial dan kolon komentar youtube mendapat pro dan kontra.


Kontra banyak banget. Namun, yang pro keduanya sebagai host pun tak sedikit.


Khususnya, Billar yang sedang naik daun. Banyak yang menilai, kehadiran kekasih Lesti Kejora ini sukses mendongkrak viewers streaming Video Legend jadi lebih dari 400 ribu.


Berdasarkan catatan saya, jumlah tersebut paling tinggi diantara streaming lainnya yang dilakukan di akun resmi youtube Dhani tersebut. Padahal, sebelumnya, Video Legend sudah rutin menyelenggarakan live streaming dengan bintang tamu dan host berbeda. 


Mulai dari Giselle Anastasia, Raffi Ahmad, Dul Jaelani, Tissa Biani, hingga Ari Lasso, dan Andre Taulany. Namun, jumlah viewers saat mereka jadi host pun kalah jauh dengan duet Billar-Reymond.


Itu mengapa, kolom komentar Video Legend dan media sosial jadi ajang pertempuran antara yang pro dengan kontra. Sebagian berharap, next live streaming memakai host yang benar-benar mengerti musik. Di sisi lain, ada juga yang meminta Dhani untuk mempertahankan Billar sebagai pembawa acara.


Saya yang sejak masih mengenakan seragam merah-putih sudah mengenal Dhani pun paham. Pentolan Republik Cinta Management ini merupakan sosok yang sulit ditebak. Dhani punya pendirian yang tegas tanpa terpengaruh pendapat orang lain.


Bisa jadi, pada live streaming selanjutnya, baik Ahmad Band, Dewa 19, Tribute to..., Triad, dan sebagainya, host tetap dipegang Billar. Alasannya, jelas. Mungkin, kehadiran Billar bisa mendongrak viewer Video Legend lagi. 


Sekaligus, menarik kalangan milenial agar lebih kenal lagu-lagu lawas dari Ahmad Band, Dewa 19, dan band besutan Dhani lainnya. Khususnya, agar musik Indonesia kembali jadi tuan rumah di tengah invasi K-Pop. 


Untuk yang ini, 100 persen saya sangat setuju dengan Dhani.***


*       *       *

Artikel Terkait: 
Ada Super Junior di Balik Kehebohan Panggung
- Ahmad Dhani dan Jalan Tengah Dewa 19 di Album Bintang Lima
- Ahmad Dhani di Antara Dewa 19 dan Reza
- Ahmad Dhani di Antara ISO, Queen, dan Rumi 
- KamaRatih


 *       *       *

- Jakarta, 25 Januari 2021

Selasa, 19 Januari 2021

Ketika Garuda Sudah Tidak Lagi di Dadaku

 Ketika Garuda Sudah Tidak Lagi di Dadaku

Ilustrasi 300 drone membentuk konfigurasi Garuda pada
countdown Asian Games 2018
(Sumber: Dokumentasi pribadi/www.roelly87.com)


Kala sang Garuda terhenyak
Menyaksikan keanehan yang terjadi di dalam negeri
Entah kapan akan berakhir
Mirip cekcok Batara Guru dengan Pandawa
Seperti gonjang-ganjing di Suralaya 

Hampir sama dengan di Senayan dan Istana
Begitulah yang terjadi di negeri ini
Padahal sewaktu perang kemerdekaan 

Semua rakyat saling bersatu melawan penjajah
Semuanya, mulai dari pemuda, orang tua, ibu-ibu
Hingga anak-anak kecil
Bersatu padu membawa bambu runcing
Untuk melawan mesiu yang mendesing 

Namun, 66 tahun kemudian
Keadaan sungguh terbalik
Sekarang
Bangsa ini sudah hebat
Sangat hebat malah! 

Jangankan mesiu, rudal, roket, dan senjata super modern apapun akan kalah
Dan dihantam balik... 

Namun, benar kata pepatah
"Tombak yang terang dapat ditangkis Tapi anak panah gelap, sukar diterka..." 

Kawan, lihatlah kondisi bangsa ini sekarang
Penjajahan berlaku secara tidak langsung
Simaklah disekitar kita
Semua yang bernilai berbau luar

Serba "made in..."
Mulai dari elektronik, kendaraan, baju
Hingga hal-hal yang sepele sekalipun
Yaitu, gunting kuku... 

Atau saksikanlah beberapa kejanggalan yang terjadi
Ketika beberapa pemimpin menyerukan perjuangan
Yah, perjuangan di masa perdamaian
Justru inilah yang paling sulit
Dibanding era kemerdekaan... 

Dengan tekad berapi-api
Semangat berkobar menyala-nyala
Serta asa yang sangat menggebu
Namun tandas ketika sang lawan membisiki 

"Ssst, pak
Damai saja
Ini ada selembar cek dalam amplop
Bapak bisa isi berapapun yang dimau." 

Ketika Garuda sudah tidak lagi di dadaku...
Apakah kalimat itu terkesan vulgar?
Miripkah dengan kisah satir
Ataukah gembar-gembor belaka... 

Entahlah, hanya...
Hati nurani kita sendiri yang tahu
Dan menyadarinya...

*         *         *

Puisi ini sebelumnya dimuat di Kompasiana pada satu dekade silam (https://www.kompasiana.com/roelly87/5508de76a3331124452e3960/ketika-garuda-sudah-tidak-lagi-di-dadaku)

- Jakarta, 23 Januari 2020

Minggu, 10 Januari 2021

Bukan Sekadar Nostalgia, Alasan IDN Pictures Luncurkan Balada Si Roy

Bukan Sekadar Nostalgia, Alasan IDN Pictures Luncurkan Balada Si Roy

Foto bersama dalam jumpa pers Balada Si Roy
(Sumber: IDN Media)


SEBAGAI bagian dari generasi 90-an, tentu saya tidak asing dengan Balada Si Roy. Yaitu, novel legendaris karya Gol A Gong yang rilis pada dekade 1980. Selain Roy yang merupakan pameran utama, ada beberapa tokoh lainnya yang saya kenal. 

Mulai dari Ani, Dullah, Wiwik, dan sebagainya yang jadi teman bacaan saya saat itu. Maklum, pada dekade 19900an, internet belum semasif sekarang. Jadi, jika ingin tahu informasi, saya biasanya membaca media massa meliputi cetak seperti koran dan majalah, tv, dan radio. 

Dulu, saya sangat senang jika ada media yang mengulas tentang Roy yang jadi asupan bergizi usai membaca novelnya. Kendati, beberapa koleksi saya terkait buku fisik sudah lenyap akibat banjir, pindahan, hilang dipinjam teman, dan lainnya. Namun, pada era internet ini, saya kerap menyimak drama si Roy, baik di web, blog, hingga media sosial.

Gayung pun bersambut ketika jelang pergantian tahun, saya mendapat informasi Balada Si Roy bakal diangkat ke layar bioskop. Itu berkat inisiatif IDN Pictures yang jadi bagian dari grup IDN Media

Balada Si Roy jadi proyek perdana mereka yang judulnya sudah dipublikasi sejak November lalu. Rencananya, film yang disutradarai Fajar Nugros tersebut bakal tayang tahun ini. Yuppiii!

Tentu, saya pun tak sabar menantikan aksi legendaris Roy yang diperankan Abidzar Al Ghifari ini. Beberapa nama tenar turut membintangi film yang juga mengeksplorasi keindahan alam dan budaya Tanah Air ini. Misalnya, Febby Rastanty sebagai Ani, Bio One (Dullah), Zulfa Maharani (Wiwik), Sitha Marino (Dewi), Maudy Koesnadi (ibu Ani), dan sebagainya.

"Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk mengangkat Balada Si Roy ke layar lebar. Ini sangat istimewa mengingat jadi proyek perdana IDN Pictures. Ceritanya mengenai seorang anak muda yang sedang mencari jati diri dengan mendobrak tatanan yang ada," kata Fajar dalam jumpa pers, Desember lalu.

Head of IDN Pictures ini berharap, proyek perdana bagi perusahaannya itu bisa diterima masyarakat di Tanah Air. Sekaligus, mendobrak tatanan perfilman Indonesia agar terus jadi lebih baik.

Bisa dipahami mengingat saat ini sedang pandemi yang turut memengaruhi industri perfilman Tanah Air. Namun, saya optimistis, Fajar dengan dukungan IDN Pictures, para pemain, hingga kru, bisa mengembalikan gairah masyarakat Indonesia untuk kembali berbondong-bondong ke bioskop jika situasi sudah normal.



PERNYATAAN senada diungkapkan Susanti Dewi. Istri Fajar sekaligus produser Balada Si Roy ini optimistis, film yang sudah melakukan syuting sejak awal Januari itu dapat memberi warna pada industri sinema di Tanah Air.

"IDN Pictures pun telah menambahkan relevansi nilai pada proses penggarapan filmnya. Ini diharapkan dapat membuat Balada Si Roy jadi makin relatable dengan kehidupan anak muda zaman sekarang," pendiri Demi Istri Production yang kini berada di bawah naungan IDN Pictures itu menambahkan. 

"Misalnya, adanya ajakan untuk menghirup udara segar di luar. Kumpul bersama teman-teman serta mengenyampingkan gadget ketika bersua dengan kawan. Nilai-nilai seperti ini terkesan picisan atau sederahana, tapi esensinya tak jarang hilang."

Ya, apa yang dikatakan Dewi dan Fajar beralasan. Sebagai pencinta novel sekaligus penikmat film, tentu saya berharap Balada Si Roy bisa memenuhi ekspekstasi. Terutama mengingat sudah lama di Tanah Air tidak ada film berkualitas berdasarkan adaptasi novel.

Fakta itu diutarakan Daniel Mahendra sebagai salah satu inisiator dari komunitas Sahabat Balada Si Roy, "Bila harus dibandingkan dengan novel-novel seangkatan, (karya Gol A Gong) ini memang lebih realistis. Sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan remaja seperti biasanya."

Yupz, tak sabar bagi saya untuk segera menyaksikan si Roy dan kawan-kawan sambil menikmati segelas minuman dingin serta jagung khas di kursi bioskop. 

FYI, Balada Si Roy sudah syuting sejak awal bulan ini di beberapa kawasan di Banten seperti kota Serang dan Rangkasbitung. Bagi Anda yang tak sabar untuk menontonnya di layar lebar, bisa kepoin akun media sosial:

Instagram: @FilmBaladaSiRoy, @IDNpictures
Youtube: https://www.youtube.com/c/Idntimes


*         *         *

Novel legendaris Balada Si Roy karya Gol A Gong


*         *         *

- Jakarta, 10 Januari 2021

Selasa, 29 Desember 2020

Ada Super Junior di Balik Kehebohan Panggung

Ada Super Junior di Balik Kehebohan Panggung 

Ahmad Dhani dalam konser Mahakarya
HUT RCTI ke-25 di GBK


"Megah!" Itulah kesimpulan yang  dapat saya simpulkan saat menyaksikan Mahakarya HUT RCTI ke-25 di Gelora Bung Karno (GBK), Sabtu (23/8). Acara yang diselenggarakan stasiun tv tertua di Indonesia itu sukses menuai pujian. Itu berkat kehadiran deretan musisi serta artis papan atas lokal dan dunia. Mulai dari Super Junior M, Ahmad Dhani, Kotak, Noah, Ungu, Agnes Mo, dan lainnya. Puncaknya sebelum acara berakhir dengan mementaskan kembang api yang sukses membuat langit di sekitar Senayan jadi berwarna.

Kebetulan, saya menjadi salah satu dari sekitar belasan ribu penonton yang memadati GBK. Meski, niat awalnya tidak ingin menonton karena harga tiket yang lumayan mahal. Mulai dari Rp 150 ribu untuk kategori tribune, Rp 350 ribu (festival), hingga Rp 1 juta (di kursi VVIP). Dengan nominal yang tergolong "wah" membuat saya cenderung menyaksikannya di layar televisi yang disiarkan secara live dan gratis!

Namun, menjelang maghrib, ada kawan yang bekerja di bidang media menawarkan saya tiket. Mulanya sih sempat menolak karena masih ingin meninkmati hari Sabtu yang panjang karena libur kerja. Tapi, kawan yang juga merupakan salah satu blogger di Kompasiana ini mengiming-imingi tiket "all access" alias VVIP! Sebuah tawaran yang membuat saya berpikir lagi karena bisa kesampaian untuk bertemu dengan idola saya semasa masih di Dewa 19, Ahmad Dhani.

Meski ketika saya tanya apakah dengan tiket VVIP itu saya bisa bertemu sang idola, Ahmad Dhani, kawan tersebut tidak berani menjamin. Sebab, menurutnya, tiket itu hanya untuk menonton gratis dari kursi VVIP hingga menyasar ke kelas festival. Ketika saya bilang tidak jadi karena niat datang ke GBK bukan untuk menyaksikan acara tersebut, apalagi melihat penampilan boyband seperti Super Junior.

Kawan tersebut pun mencoba meyakinkan saya agar berusaha sendiri dengan menyelinap di balik panggung. "Syukur-syukur lo ketemu Dhani. Kalo ga, ya itung-itung udah dapat tiket gratis yang kalo beli seharga cetiau," ujarnya berseloroh. Singkatnya, saya pun bergegas menuju GBK yang 6 Agustus lalu saya datangi untuk menyaksikan pertandingan Juventus versus ISL Stars.

*      *      *

Sesampainya di stadion terbesar di Indonesia itu, saya kagum dengan penempatan panggung yang berada di tengah lapangan. Selain besar, panggung tersebut juga unik karena bisa digeser untuk maju atau mundur saat musisi tampil yang memang baru pertama kali saya lihat sepanjang menghadiri acara musik. Sayangnya, saking besarnya GBK membuat penonton yang hadir terlihat sangat sedikit. Kemungkinan hanya belasan ribu penonton dan jauh dari yang ditargetkan panitia (60 ribu penonton).

Bahkan, saya melihat sendiri di pintu utama seperti sengaja dibuka lebar oleh petugas (?) dengan membiarkan banyak penonton yang masuk secara gratis. Padahal, yang di dalam sudah beli tiket dengan "berdarah-darah" alias menyisihkan uang saku agar bisa menyaksikan acara tersebut. Tapi, ya sudahlah. Anggapan saya, mungkin petugas atau panitia (?) sengaja membiarkan masuk penonton secara gratis dengan alasan acara sudah mulai dari tadi karena saya datang sekitar pukul 20.30 WIB.

Mahalnya tiket dan faktor disiarkan secara live membuat masyarakat lebih memilih untuk menyaksikan di rumah. Kecuali bagi fans musisi yang bersangkutan yang mayoritas remaja dan didominasi kaum hawa yang sangat menantikan aksi Super Junior. Betul saja, ketika boyband asal Korea Selatan itu tampil, suasana GBK menjadi bising karena teriakan penonton yang ingin ikut bernyanyi.

Saat mendekati panggung, banyak penonton yang terlihat digotong oleh panitia dan petugas kepolisian karena pingsan akibat terus berjingkrakan saat Super Junior tampil. Puncaknya, ketika beberapa anggota Super Junior melemparkan handuk bekas ke kerumunan penonton. Saat itu, banyak yang terhimpit seperti dengdeng saking semangatnya berebutan demi handuk yang dipakai untuk ngelap keringat.

Tapi, ya sudahlah. Saya tidak bisa menyalahkan mereka, terutama remaja putri yang seperti habis berkelahi sambil memamerkan handuk bekas Super Junior. Sebab, jika saya jadi mereka pun, saya mungkin akan melakukan hal yang sama untuk ikut berebutan. Tapi, bukan bekas handuk dari Super Junior yang dikasih pun tentu saya tolak. Melainkan handuk bekas sekelas personil Guns N' Roses, Muse, dan Foo Fighters. Atau, minimal handuk bekas dari para pemain sepak bola terbaik dunia seperti Andrea Pirlo dan Giorgio Chiellini.

Usai Super Junior, giliran Noah yang tampil. Kali ini penonton lumayan tertib menyimak lantunan lagu dari band asal Bandung tersebut. Bagi saya, bukan aksi mereka yang menarik dilihat. Tapi, rambut sang vokalis, Ariel yang berwarna putih yang sukses mencuri perhatian. Menyaksikan itu, pikiran saya jadi terlintas pada tokoh novel Tiongkok bernama Pek Hoat Mo Lie yang rambutnya memutih hanya dalam waktu semalam karena putus cinta. Atau, jangan-jangan, Ariel sedang putus cinta juga?

Puas menyaksikan parade "moshing" dari kaum remaja, dengan penuh perjuangan saking penuhnya kerumunan saya pun meringsek ke depan panggung. Nah, ini yang menarik, sebab, panggung yang bisa digeser maju mundur itu ternyata digerakkan secara manual. Maksudnya, panggung tersebut didorong oleh beberapa pekerja yang tampak "terengah-engah" seperti habis melontarkan jurus Kamehame layaknya film kartun Dragon Ball. Sementara, tepat di atas kepala mereka, berdiri dengan gagahnya musisi yang sedang tampil.

Bosan menyaksikan penampilan beberapa musisi, saya pun mencoba menyelinap ke ruang ganti artis yang berupa tenda. Awalnya, saya mengira ada penjagaan ketat dari panitia atau petugas keamanan. Tapi, yang ada malah areal ruang ganti tersebut bebas dilewati siapa saja. Kecuali jika ada musisi yang sedang berganti kostum karena ingin tampil dan tendanya ditutup dari dalam. Jadi, saya hanya bisa melihat dari kejauhan, vokalis Kotak, Tantri sedang memakai make-up dari balik tenda.

Hal serupa terjadi ketika saya hendak mendatangi tenda Ahmad Dhani yang dikerumuni penggemarnya. Tampak, istri Ahmad Dhani, Mulan Jameela pelantun si "Makhluk Tuhan Paling Sexy" sedang menunggui putra mereka yang akan tampil, Ahmad Al Ghazali (Al). Akhirnya, yang paling saya tunggu tiba, ketika di pengujung acara bisa menemui Ahmad Dhani ketika sedang dikerumuni media mengenai kasus putra bungsunya, Abdul Qadir Jaelani (El).

*      *      *


Artikel ini sebelumnya dimuat di Kompasiana (https://www.kompasiana.com/roelly87/54f5f14da33311a17c8b4660/di-balik-panggung-mahakarya-hut-rcti-ke25)
- Jakarta, 29 Desember 2020