TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Ahmad Dhani

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Dhani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Dhani. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Agustus 2023

Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia

Dhani, Rizieq, dan Ahok untuk 2024

(ilustrasi foto: @roelly87)


SAAT bangun tidur dini hari WIB ini, Kamis (15/2), sudah ada pengumuman definitif Kabinet 2024-2029 dari presiden kedelapan RI. Berdasarkan info dari portal berita ternama, untuk triumvirat, adalah:

Menteri Pertahanan: Ahmad Dhani

Menteri Luar Negeri: Rizieq Shihab

Menteri Dalam Negeri: Basuki Ahok

Menurut gw, ini menarik, sebab ketiganya pernah saling bermusuhan. Bahkan, uniknya sama-sama merasakan dinginnya jeruji besi. 

Namun, kini situasi telah berbeda. Ketegangan di antara mereka sudah jauh mereda. 

Mencair demi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketiganya bahu-membahu berkontribusi untuk Tanah Air.

*     *     *

TIBA-tiba, tangan kanan gw refleks menepuk pipi yang gatal akibat digigit nyamuk. Sementara, tangan kiri asyik scroll hp berisi pengumuman daftar menteri.

Yang menarik, nama Dhani, Rizieq, dan Ahok, tetap terdapat dalam daftar kabinet. Mau bilang ini mimpi, tapi kok pipi sakit.

Karena penasaran akibat tidak menyangka nama ketiganya ada di kabinet yang memegang peranan penting di pemerintahan, gw pun buka kanal berita lain. Hasilnya, sama. 

Dhani, Rizieq, dan Ahok, diberitakan serentak pada berbagai media. Bahkan, banyak beredar foto mereka yang semringah sambil bergandengan tangan usai pelantikan di beranda istana.

Bukan bermaksud membalik luka lama, tapi ketiganya memang pernah berkonflik. Dhani dengan Rizieq pada 2004 silam. Kemudian, bersatu untuk menghadapi Ahok pada 2016. 

Dalam periode itu, mereka sama-sama sempat merasakan dinginnya jeruji besi. Bahkan, para pendukungnya, apalagi yang fanatik buta saling benci.

Namun, demi Indonesia, ketiganya sudah menghapus noktah tersebut. Siap mengemban kewajiban masing-masing dalam lima tahun ke depan.

Tidak ada lagi itu saling sindir. Kampret, cebong, atau bahkan kadrun. 

Yang ada, hanya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selamat bertugas!

*     *     *

USAI mandi, gw menikmati secangkir kopi hitam ditemani asap kehidupan. Layar hp berganti ke logo "X" untuk melihat perkembangan terkini. 

Tampak, trending topic dikuasai pengumuman hasil kabinet. Termasuk, nama Dhani, Rizieq, dan Ahok, menghiasi timeline. 

Riuhnya pengumuman kabinet sukses membenamkan hasil pertandingan leg kedua 16 Besar Liga Champions 2023/24. Sebenarnya gw juga ga terlalu peduli akibat Juventus absen. 

Namun, gw tetap menatap trending topic yang ramai. Mulai dari "Dukung Kinerja Triumvirat", "Valentine 2024 Paling Berkesan", "Pemilu 2024", hingga "Jose Mourinho".

Yupz, nama terakhir merupakan satu-satunya alasan gw masih aktif menyimak perkembangan sepak bola Eropa hingga kini. Gw berharap, Mourinho bisa membawa kejayaan AS Roma di Benua Biru yang kini sudah menapak fase gugur Liga Europa 2023/24.

Eittt... Tunggu!

Perasaan ada yang aneh. Gw colek pipi, berasa. 

Cubit tangan, sakit. Ini bukan mimpi kan?

Memang, gw tidur dari sore. Hanya, sekarang sudah mandi yang airnya berasa dingin. 

Maklum, jelang subuh. Pun demikian dengan kopi yang masih ngebul di gelas. 

Namun, gw masih merasa aneh. Terutama, dengan pengumuman kabinet baru yang menyertakan Dhani sebagai Menhan, Rizieq (Menlu), dan Ahok (Mendagri).

Memang sih, di dunia ini, apa pun bisa terjadi. Apalagi, dalam ranah politik.

Hanya, gw masih berasa janggal. Gw coba tarik napas dalam-dalam hingga beberapa kali.

Tiba-tiba pandangan agak kabur. Tentu, ini bukan vertigo...

Langsung gw ambil alat tes diabetes. Hasilnya, normal tanpa hipoglikemia. 

Alias kadar gula gw ga menurun drastis meski belom makan dari sore. Begitu juga tensi darah, tetap normal.

Bahkan, gw juga cek dompet, isinya masih segitu-gitu aja. Ga kurang. 

Pun demikian dengan saldo atm, ga bertambah. Listrik juga ga bunyi karena belom lama gw isi untuk sebulan.

Maklum, biasanya pandangan gw kerap menerawang kalo dompet tipis, atm kosong, dan listrik bunyi tit... tit... tit... Namun, sekarang normal-normal aja.

Gw coba mengingat apa yang janggal. Tarik napas lagi dalam-dalam.

Mencoba hening seketika. Pandangan gw pun kembali normal.

Yupz, gw baru sadar saat ini berada di semesta alternatif. Tepatnya di Bumi 378.

Sementara, gw tinggal di semesta utama. Bumi 87.

Apakah ini berarti gw lintas semesta? Yang berarti gw mendobrak ruang dan waktu.

Jujur, gw merasa lebih tenang di semesta ini. Gw pun ingat sempat iseng untuk mencoba berkelana ke beberapa universe lainnya.

Ada Bumi 69 yang salah satu calon presiden menyatakan gugatan hingga ricuh. Bumi 313 yang hanya menyisakan satu calon melawan kotak kosong.

Bagaimana dengan semesta gw, di Bumi 87?***

*     *     *


- Jakarta, 31 Agustus 2023



Senin, 25 Januari 2021

Reuni Ahmad Band dan Riuhnya Netizen Zaman Now

Reuni Ahmad Band dan Riuhnya Netizen Zaman Now

Ahmad Band kembali reuni setelah dua dekade
Foto: Instagram.com/AhmadDhaniOfficial


Yang muda mabuk, yang tua korup

Yang muda mabuk, yang tua korup

Mabuk terus, korup terus

Jayalah negeri ini

Jayalah negeri ini

Merdeka...!


DEMIKIAN sepenggal lirik yang diteriakkan Ahmad Dhani dengan lantang pada Minggu (24/1) di akun Youtube official-nya, Video Legend. Tepatnya bersama beberapa sohibnya yang tergabung dalam Ahmad Band untuk tampil streaming di Studio Video Legend, Pondok Indah, Jakarta Selatan.


Saya yang menyaksikan penampilan impresif mereka pun sangat terpana. Bahkan, rela mematikan aplikasi ojek online (ojol) demi menyimak reuni dari supergrup tersebut. Padahal, ketika itu orderan sedang ramai mengingat hujan yang mengguyur ibu kota sejak pagi sudah reda.


Namun, godaan menyaksikan Ahmad Band secara langsung via smartphone, sukses meluluhkan keinginan saya untuk ngojol. Setidaknya, secara sementara dalam durasi dua jam. 


Sambil mengintip kemenangan Juventus atas Bologna, skor 2-0, yang membuat persaingan scudetto Serie A 2020/21 kian memanas demi mengejar AC Milan dan FC Internazionale yang pada giornata 19 justru sama-sama gagal menang.


Ya, reuni Ahmad Band jadi salah satu yang paling saya tunggu tahun ini. Itu setelah 1 Desember lalu menyimak akun instagram Dhani usai tampil dalam  konser Dul Jaelani, Segitiga Sang Pemuja. 


Saya mengenal Ahmad Band sejak 1998 silam. Alias, setelah supergrup itu merilis album pertama sekaligus satu-satunya, Ideologi, Sikap, Otak, yang cover depannya tergolong nyeleneh, Dhani pakai kopiah yang sekilas mengingatkan publik terhadap Bung Karno, proklamator negeri ini.


Sebagai gambaran, saat itu personel edisi pertama Ahmad Band meliputi:

Vokal: Dhani (Dewa 19)

Gitar: Andra Ramadhan (Dewa 19)

Gitar: Pay (Eks Slank)

Bas: Bongky (Eks Slank)

Drum: Bimo (Netral)


Namun, seiring waktu berjalan, Pay dan Bongky cabut. Alias, hanya ikut pada sesi rekaman dan manggung periode awal. Selanjutnya, masuk personel baru, Thomas Ramdhan (bas/Gigi) dan Jaya (Gitar/Roxx) yang turut tampil pada konser sekanjutnya.


Nah, pada live streaming kemaren, formasinya meliputi:

Vokal: Dhani 

Gitar: Andra 

Gitar: Stephen Santoso (Musikimia)

Bas: Thomas

Drum: Yoyo (Padi, Musikimia)


*       *       *


BAGI saya, kembalinya Ahmad Band jilid 2 atau 3 ini benar-benar memantik adrenalin. Maklum, warna musik mereka sangat ramai dipengaruhi ala seattlesound alias grunge, britpop, hingga rock klasik 1980-an. Pun dengan liriknya yang warna-warni, dari cinta, kemanusiaan, filsafat, hingga politik.


Minus, Aku Cinta Kau dan Dia. Namun, dalam list, tetap terdapat lagu ikonik Ahmad Band lainnya. Mulai dari Dimensi, Bidadari di Kesunyian, Sudah, hingga Distorsi.


Termasuk, Kuldesak yang masuk dalam mini album Dhani-Andra.


Menurut saya, apa yang dibawakan Ahmad Band edisi terbaru ini sangat luar biasa. Tentu, saya tidak bisa membandingkan dengan formasi 1998. Sebab, ketika itu saya masih memakai seragam putih-biru. Alias, tidak punya kesempatan untuk nonton konser langsung. Kaset pun sekadar dipinjami teman sebaya.


Penilaian saya, memang suara Dhani tidak bagus. Namun, berkarakter. Pada usia yang nyaris kepala lima, suaranya tetap khas. Dhani pun pintar memilih lagu yang akan dibawakan.


Misalnya, Sedang Ingin Bercinta dan Cinta Gila itu sangat fenomenal. Tidak cocok dibawakan Once atau Ari Lasso. Pun demikian dengan Bidadari, Sudah, Distorsi, dan lagu Ahmad Band lainnya. 


Sulit bagi musisi lain untuk meng-covernya. Memang banyak yang suaranya lebih bagus dari Dhani. Hanya, saat didengar seperti ada yang kurang. Beda rasa jika dinyanyikan Dhani, sang the one and only...


*       *       *


NYARIS dua jam memelototin layar smartphone yang menampilkan Ahmad Band diiringi rinai pada emperan rumah toko (ruko) di kawasan perbelanjaan Jakarta Selatan ditemani segelas plastik air mineral dan asap kehidupan. Saya pun merasa puas karena penantian 23 tahun terbayar lunas.


Meski, ada beberapa catatan kecil yang membuat saya termotivasi untuk kembali menuliskannya di blog. Maklum, sebelumnya saya beberapa kali memposting tentang Ahmad Dhani. Baik reportase, saduran, dan fiksi.


Terkait penampilan, memang secara personel, untuk Ahmad Band sekarang dengan edisi 1998 sangat beda.  Namun, secara kualitas, bisa diadu. 


Siapa yang tak kenal Thomas, sebagai salah satu basis wahid di negeri ini? Pun demikian dengan Yoyo yang gebukannya memacu adrenalin layaknya John Bonham bersama Led Zeppelin dan Dave Grohl (Nirvana). 


Stephan? Doi dikenal sebagai finisher. Alias, tangan dinginnya piawai meracik komposisi pada beberapa album musisi ternama di negeri ini.


Jadi, untuk personel Ahmad Band saat ini, bagi saya tetap wah. Sebab, yang main merupakan para master.


Nah, untuk host atau mc alias pemandu acara ini yang perlu digarisbawahi. Yaitu, Rizky Billar dan Reymon Knuliqh. Tanpa bermaksud tendensius, namun duet host ini menurut saya kurang cocok.


Itu karena wawasan mereka yang masih tergolong minim. Terutama, saat sesi tanya jawab menyangkut sejarah Ahmad Band dan personelnya saat ini. Hanya, itu mungkin penilaian saya pribadi saja. Sebab, interpretasi setiap orang kan berbeda. Tergantung selera.


Kendati, untuk pembawaan, tentu Billar dan Reymon yang memang dikenal heboh, sukses mencairkan suasana. Itu dari segi positif kehadiran mereka yang di media sosial dan kolon komentar youtube mendapat pro dan kontra.


Kontra banyak banget. Namun, yang pro keduanya sebagai host pun tak sedikit.


Khususnya, Billar yang sedang naik daun. Banyak yang menilai, kehadiran kekasih Lesti Kejora ini sukses mendongkrak viewers streaming Video Legend jadi lebih dari 400 ribu.


Berdasarkan catatan saya, jumlah tersebut paling tinggi diantara streaming lainnya yang dilakukan di akun resmi youtube Dhani tersebut. Padahal, sebelumnya, Video Legend sudah rutin menyelenggarakan live streaming dengan bintang tamu dan host berbeda. 


Mulai dari Giselle Anastasia, Raffi Ahmad, Dul Jaelani, Tissa Biani, hingga Ari Lasso, dan Andre Taulany. Namun, jumlah viewers saat mereka jadi host pun kalah jauh dengan duet Billar-Reymond.


Itu mengapa, kolom komentar Video Legend dan media sosial jadi ajang pertempuran antara yang pro dengan kontra. Sebagian berharap, next live streaming memakai host yang benar-benar mengerti musik. Di sisi lain, ada juga yang meminta Dhani untuk mempertahankan Billar sebagai pembawa acara.


Saya yang sejak masih mengenakan seragam merah-putih sudah mengenal Dhani pun paham. Pentolan Republik Cinta Management ini merupakan sosok yang sulit ditebak. Dhani punya pendirian yang tegas tanpa terpengaruh pendapat orang lain.


Bisa jadi, pada live streaming selanjutnya, baik Ahmad Band, Dewa 19, Tribute to..., Triad, dan sebagainya, host tetap dipegang Billar. Alasannya, jelas. Mungkin, kehadiran Billar bisa mendongrak viewer Video Legend lagi. 


Sekaligus, menarik kalangan milenial agar lebih kenal lagu-lagu lawas dari Ahmad Band, Dewa 19, dan band besutan Dhani lainnya. Khususnya, agar musik Indonesia kembali jadi tuan rumah di tengah invasi K-Pop. 


Untuk yang ini, 100 persen saya sangat setuju dengan Dhani.***


*       *       *

Artikel Terkait: 
- Ada Super Junior di Balik Kehebohan Panggung
- Ahmad Dhani dan Jalan Tengah Dewa 19 di Album Bintang Lima
- Ahmad Dhani di Antara Dewa 19 dan Reza
- Ahmad Dhani di Antara ISO, Queen, dan Rumi 
- KamaRatih
- 


 *       *       *

- Jakarta, 25 Januari 2021

Selasa, 29 Desember 2020

Ada Super Junior di Balik Kehebohan Panggung

Ada Super Junior di Balik Kehebohan Panggung 

Ahmad Dhani dalam konser Mahakarya
HUT RCTI ke-25 di GBK


"Megah!" Itulah kesimpulan yang  dapat saya simpulkan saat menyaksikan Mahakarya HUT RCTI ke-25 di Gelora Bung Karno (GBK), Sabtu (23/8). Acara yang diselenggarakan stasiun tv tertua di Indonesia itu sukses menuai pujian. Itu berkat kehadiran deretan musisi serta artis papan atas lokal dan dunia. Mulai dari Super Junior M, Ahmad Dhani, Kotak, Noah, Ungu, Agnes Mo, dan lainnya. Puncaknya sebelum acara berakhir dengan mementaskan kembang api yang sukses membuat langit di sekitar Senayan jadi berwarna.

Kebetulan, saya menjadi salah satu dari sekitar belasan ribu penonton yang memadati GBK. Meski, niat awalnya tidak ingin menonton karena harga tiket yang lumayan mahal. Mulai dari Rp 150 ribu untuk kategori tribune, Rp 350 ribu (festival), hingga Rp 1 juta (di kursi VVIP). Dengan nominal yang tergolong "wah" membuat saya cenderung menyaksikannya di layar televisi yang disiarkan secara live dan gratis!

Namun, menjelang maghrib, ada kawan yang bekerja di bidang media menawarkan saya tiket. Mulanya sih sempat menolak karena masih ingin meninkmati hari Sabtu yang panjang karena libur kerja. Tapi, kawan yang juga merupakan salah satu blogger di Kompasiana ini mengiming-imingi tiket "all access" alias VVIP! Sebuah tawaran yang membuat saya berpikir lagi karena bisa kesampaian untuk bertemu dengan idola saya semasa masih di Dewa 19, Ahmad Dhani.

Meski ketika saya tanya apakah dengan tiket VVIP itu saya bisa bertemu sang idola, Ahmad Dhani, kawan tersebut tidak berani menjamin. Sebab, menurutnya, tiket itu hanya untuk menonton gratis dari kursi VVIP hingga menyasar ke kelas festival. Ketika saya bilang tidak jadi karena niat datang ke GBK bukan untuk menyaksikan acara tersebut, apalagi melihat penampilan boyband seperti Super Junior.

Kawan tersebut pun mencoba meyakinkan saya agar berusaha sendiri dengan menyelinap di balik panggung. "Syukur-syukur lo ketemu Dhani. Kalo ga, ya itung-itung udah dapat tiket gratis yang kalo beli seharga cetiau," ujarnya berseloroh. Singkatnya, saya pun bergegas menuju GBK yang 6 Agustus lalu saya datangi untuk menyaksikan pertandingan Juventus versus ISL Stars.

*      *      *

Sesampainya di stadion terbesar di Indonesia itu, saya kagum dengan penempatan panggung yang berada di tengah lapangan. Selain besar, panggung tersebut juga unik karena bisa digeser untuk maju atau mundur saat musisi tampil yang memang baru pertama kali saya lihat sepanjang menghadiri acara musik. Sayangnya, saking besarnya GBK membuat penonton yang hadir terlihat sangat sedikit. Kemungkinan hanya belasan ribu penonton dan jauh dari yang ditargetkan panitia (60 ribu penonton).

Bahkan, saya melihat sendiri di pintu utama seperti sengaja dibuka lebar oleh petugas (?) dengan membiarkan banyak penonton yang masuk secara gratis. Padahal, yang di dalam sudah beli tiket dengan "berdarah-darah" alias menyisihkan uang saku agar bisa menyaksikan acara tersebut. Tapi, ya sudahlah. Anggapan saya, mungkin petugas atau panitia (?) sengaja membiarkan masuk penonton secara gratis dengan alasan acara sudah mulai dari tadi karena saya datang sekitar pukul 20.30 WIB.

Mahalnya tiket dan faktor disiarkan secara live membuat masyarakat lebih memilih untuk menyaksikan di rumah. Kecuali bagi fans musisi yang bersangkutan yang mayoritas remaja dan didominasi kaum hawa yang sangat menantikan aksi Super Junior. Betul saja, ketika boyband asal Korea Selatan itu tampil, suasana GBK menjadi bising karena teriakan penonton yang ingin ikut bernyanyi.

Saat mendekati panggung, banyak penonton yang terlihat digotong oleh panitia dan petugas kepolisian karena pingsan akibat terus berjingkrakan saat Super Junior tampil. Puncaknya, ketika beberapa anggota Super Junior melemparkan handuk bekas ke kerumunan penonton. Saat itu, banyak yang terhimpit seperti dengdeng saking semangatnya berebutan demi handuk yang dipakai untuk ngelap keringat.

Tapi, ya sudahlah. Saya tidak bisa menyalahkan mereka, terutama remaja putri yang seperti habis berkelahi sambil memamerkan handuk bekas Super Junior. Sebab, jika saya jadi mereka pun, saya mungkin akan melakukan hal yang sama untuk ikut berebutan. Tapi, bukan bekas handuk dari Super Junior yang dikasih pun tentu saya tolak. Melainkan handuk bekas sekelas personil Guns N' Roses, Muse, dan Foo Fighters. Atau, minimal handuk bekas dari para pemain sepak bola terbaik dunia seperti Andrea Pirlo dan Giorgio Chiellini.

Usai Super Junior, giliran Noah yang tampil. Kali ini penonton lumayan tertib menyimak lantunan lagu dari band asal Bandung tersebut. Bagi saya, bukan aksi mereka yang menarik dilihat. Tapi, rambut sang vokalis, Ariel yang berwarna putih yang sukses mencuri perhatian. Menyaksikan itu, pikiran saya jadi terlintas pada tokoh novel Tiongkok bernama Pek Hoat Mo Lie yang rambutnya memutih hanya dalam waktu semalam karena putus cinta. Atau, jangan-jangan, Ariel sedang putus cinta juga?

Puas menyaksikan parade "moshing" dari kaum remaja, dengan penuh perjuangan saking penuhnya kerumunan saya pun meringsek ke depan panggung. Nah, ini yang menarik, sebab, panggung yang bisa digeser maju mundur itu ternyata digerakkan secara manual. Maksudnya, panggung tersebut didorong oleh beberapa pekerja yang tampak "terengah-engah" seperti habis melontarkan jurus Kamehame layaknya film kartun Dragon Ball. Sementara, tepat di atas kepala mereka, berdiri dengan gagahnya musisi yang sedang tampil.

Bosan menyaksikan penampilan beberapa musisi, saya pun mencoba menyelinap ke ruang ganti artis yang berupa tenda. Awalnya, saya mengira ada penjagaan ketat dari panitia atau petugas keamanan. Tapi, yang ada malah areal ruang ganti tersebut bebas dilewati siapa saja. Kecuali jika ada musisi yang sedang berganti kostum karena ingin tampil dan tendanya ditutup dari dalam. Jadi, saya hanya bisa melihat dari kejauhan, vokalis Kotak, Tantri sedang memakai make-up dari balik tenda.

Hal serupa terjadi ketika saya hendak mendatangi tenda Ahmad Dhani yang dikerumuni penggemarnya. Tampak, istri Ahmad Dhani, Mulan Jameela pelantun si "Makhluk Tuhan Paling Sexy" sedang menunggui putra mereka yang akan tampil, Ahmad Al Ghazali (Al). Akhirnya, yang paling saya tunggu tiba, ketika di pengujung acara bisa menemui Ahmad Dhani ketika sedang dikerumuni media mengenai kasus putra bungsunya, Abdul Qadir Jaelani (El).

*      *      *


Artikel ini sebelumnya dimuat di Kompasiana (https://www.kompasiana.com/roelly87/54f5f14da33311a17c8b4660/di-balik-panggung-mahakarya-hut-rcti-ke25)
- Jakarta, 29 Desember 2020


Selasa, 05 Mei 2020

Ahmad Dhani dan Jalan Tengah Dewa 19 di Album Bintang Lima



Beragam koleksi HaiKlip, termasuk Risalah Lima Bintang tentang Dewa
(Foto: Koleksi pribadi 2011/@roelly87)


DENGAN bergabungnya Once dan Tyo (drum), Dewa mengalami revolusi bentuk. Perubahan terasa hampir menyeluruh. Bukan cuma pada warna vokal atau sound drum, tapi juga gaya penulisan. Lagu Cemburu yang bernuansa rock and roll secara tegas memperlihatkan hal itu. Hanya saja, tarik ulur emosi selama masa penggarapan nampaknya sulit dihindari.

Kesulitan terutama dirasakan oleh Andra (gitar) yang sudah terbiasa dengan gaya vokal Ari Lasso. Menurut Dhani, vokal ngerock Once tergolong sulit dikawinkan dengan personel Dewa, termasuk Erwin Pras (bas). Jalan tengah yang diambil: Dewa mengikuti gaya Once. Hasilnya, ya, album Bintang Lima itu.

"Di album baru nanti, baru Once yang ngikutin gaya Dewa," katanya menjelaskan. Jika dikaitin ama konsep bermusik sebuah band, cara seperti ini tentu merupakan sebuah "penyelewengan". Rupanya dalam kerangka industri hiburan, gejala seperti ini sah-sah saja dilakukan. Toh, orang selalu bicara hasil akhir. Apalagi, di negeri dimana masyarakat musiknya selalu menggunakan angka penjualan sebagai barometer keberhasilan.

Sadar atau nggak, Dhani udah membiarkan dirinya larut dalam pusara tersebut. Dengan prinsip seperti itu, cowok yang melewatkan masa remajanya di Surabaya ini mampu bertahan dari kerasnya kehidupan Jakarta, dan berhasil membawa Dewa dari "band daerah" menjadi salah satu ujung tombak musik pop Indonesia.

Kini Dhani, yang belum lama menyelesaikan album solo Tere, tengah menuai hasil jerih payahnya selama ini. Ia memiliki rumah di jalan Pinang Emas, Pondok Indah, beberapa blok dari Mal Pondok Indah. Ia hidup tenang ditemani Maya Eksianty, mantan penyanyi latar Dewa 19, yang telah memberinya dua putra. Dhani juga punya studio pribadi yang terletak cuma "seperlemparan batu" dari rumahnya. 

Bangunan berlantai dua itu berfungsi sebagai kantor Dewa merangkap studio rekaman yang, menurutnya, dibiayai dari kocek pribadi. Untuk merenovasi rumah yang dikontraknya selama 4 tahun itu, dia mengeluarkan 100 juta rupiah.

Hasilnya memang funky. Pada dinding bagian atas tergambar dua relief bernuansa religius. Bagian kiri melukiskan umat Hindu tengah melakukan tapa sampai mati dan, diasumsikan, jiwanya sampai ke nirwana. Sedang bagian kanan memperlihatkan seorang pria berpakaian serba putih. Itulah varian dari ajaran Jalaludin Rumi, tokoh sufi yang dikaguminya. Dipadu dominasi warna pop art, Dhani nampaknya sengaja "membenturkan" dua kultur yang berbeda. Yakni, tradisional dengan modern.

Nah, dari tempat itulah dia mengekpresikan naluri seni, termasuk merekam album-album Dewa. Dia memanfaatkan waktu luang dengan bermain sepak bola bareng para kru dan personel Dewa lainnya. Penghuni tempat itu memang penggila bola semua.

Itulah Ahmad Dhani, figur dominan dalam Dewa. Dia pemain keyboard, vokalis, dan penulis sebagian besar lagu. Gerayangan tangannya bahkan sampai ke soal negosiasi dengan promotor atau pihak luar lainnya. Padahal Dewa sudah punya Didiet Dada sebagai manajer. Tapi, sampai sekarang, dia masih ikut turun tangan dalam masalah keuangan. Kalo mau jujur, kelebihan Ahmad Dhani ini sekaligus merupakan kelemahan Dewa dalam konteks profesionalisme.

"Kalo gua dinilai dominan, wajar saja. Dari dulu di Dewa apa-apa gua yang melakukan. Dari mulai nawarin master rekaman, naik turun bus kota di Jakarta, sampai ngurus kontrak sama promotor. Selain itu, di Dewa cuma gua yang anak pertama, lainnya kan bungsu semua. Mungkin karena itu, jiwa kepemimpinan gua lebih menonjol daripada yang lain."

Dhani lantas menganalogikan dirinya sebagai gabungan dari berbagai potensi. Dia adalah George Martin (produser The Beatles), Brian Epstein (manajer The Beatles), Paul Mc Cartney (penulis sebagian besar lagu The Beatles), Roy Thomas Baker (produser sejumlah album Queen) dan lain sebagainya.

Dengan kalimat ringkas, dia adalah sosok yang mampu melakukan beragam pekerjaan dalam waktu bersamaan. Boleh jadi, daftar ini akan bertambah panjang dengan pekerjaan baru yang ingin dilakukannya: Kontraktor!

Pentolan Dewa jadi kontraktor? "Lho, mengapa tidak? Gua kan senang mendesain. Siapa tau nanti ada yang ngebutuhin model rumah hasil rancangan gua," katanya terkekeh.

Ya, tapi kalo Dhani yang merancang interior sebuah rumah, sudah terbayang ongkos yang harus dikeluarkan!

*        *        *

Sebelumnya:
- Ahmad Dhani di Antara Dewa 19 dan Reza
- Ahmad Dhani di Antara ISO, Queen, dan Rumi 

Artikel Terkait Ahmad Dhani
- KamaRatih

- Windy Ghemary
- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f5f14da33311a17c8b4660/di-balik-panggung-mahakarya-hut-rcti-ke25?page=all#sectionall


*        *        *
Keterangan: Artikel ini disadur secara utuh dari koleksi pribadi, HaiKlip 25 Years In Rock! #1/2002 yang diketik ulang, usai santap sahur 12 Ramadan 1441


- Jakarta, 5 Mei 2020

Kamis, 30 April 2020

Ahmad Dhani di Antara ISO, Queen, dan Rumi


Poster Dewa yang menghiasi kamar saya bersanding dengan Guns N' Roses
sebagai salah satu band terfavorit
(Foto: Koleksi pribadi/@roelly87)


PADA 1998 dia meluncurkan album solo Ideologi, Sikap, Otak (ISO) lewat kelompok bentukannya yang diberi nama Ahmad Band. Semua personelnya memiliki nama besar: Andra Junaidi (gitar, Dewa), Pay (gitar, BIP - mantan Slank), Bongky (bas, BIP - mantan Slank), dan Bimo drumer, mantan Netral).

Biar secara musikal layak diperhitungkan, album ini nggak ada cerita sukses komersilnya. Yang terungkap justru kegilaannya pada Soekarno, mantan Presiden pertama RI. Sampul albumnya aja menampilkan Dhani yang bergaya ala proklamator kemerdekaan itu.

Lagu-lagu Ahmad Band memperlihatkan keakraban Dhani pada musik rock, yang selama ini nggak pernah "menampakkan batang hidungnya" dalam lagu-lagu Dewa. Apalagi di awal karir musiknya, cowok kelahiran Jakarta 26 Mei 1972 ini sebenarnya lebih banyak memainkan jazz, yakni semasa bersekolah di Surabaya. Tapi meski pernah mengukir prestasi lewat grup Down Beat, Dhani akhirnya menyadari bahwa bakatnya bukan di situ. Lantas, dia pun pindah jalur dan mulai rajin menymak lagu-lagu pop dan rock.

"Di situ gua sadar bahwa John Lennon ternyata lebih besar dari Chick Corea," kenangnya. Toh, dia kesulitan untuk mendeskripsikan perbedaan kedua tokoh tersebut,bahkan dengan kalimat sederhana sekali pun. Dia terlihat lebih bersemangat saat menyinggung esensi dari musik rock itu sendiri. Rock baginya bukan semata-mata soal pencapaian estetika seni musik, tetapi juga pencapaian rasa. Artinya, untuk membuat karya rock yang baik nggak mungkin menyentuh kedua hal barusan dengan sepotong-sepotong.

"Karena itu, gua heran sampai sekarang masih ada pemusik yang menilai bahwa skill musik pemain jazz lebih bagus dari pemain rock. Atau skill pemain rock lebih bagus dari pemusik pop. Bagi gua musik apa pun bukan soal pencapaian estetika bentuk, kok," katanya panjang lebar.

Konon pencapaian rasa itu pula yang mengantar karir Dhani hingga seperit sekarang ini. Dengan mempertimbangkan energi rock sudah bercokol di benaknya, Dhani mengaku enggak akan bersedia menangani Reza lagi.

Walaupun mengidolakan John Lennon, toh grup musik yang berhasil embuatnya "jatuh cinta" setengah mati adalah Queen. Dia hapal di luar kepala nama produser yang menggarap semua album grup yang bubar karena ditinggal mati vokalisnya itu.

Bagi Dhani, The Beatles dan Queen adalah komposer terbesar setelah era John Sebastian Bach. Nggak kurang 50 album Queen tersimpan rapih di rumahnya. Koleksinya amat beragam dari Coldplay sampai Maria Callas. Referensi tersebut dikumpulkan dengan berbagai cara, termasuk rutin mendatangi pedagang kaset dan CD bekas di Taman Puring, Mayestik, Jakarta Selatan.

"Kalo diitung, investasi gua yang tertanam di sana (taman Puring, RED) ada 'kali 20 juta." Dhani juga doyan belanja laserdisc musik yang kini menurutnya sudah berjumlah 200-an.

Sebagai pemusik, Ahmad Dhani termasuk yang percaya pada kekuatan lirik. Untuk itu, dia selalu berusaha memberi roh pada setiap lirik yang ditulisnya. Referensinya untuk hal ini adalah setumpuk buku yang ditulis Jalaludin Rumi, tokoh sufi tahun 1200.

"Jadi, kalo orang menyangka gua penggemar Kahlil Girbran itu sebenarnya keliru," kata Dhani sambil memperlihatkan koleksi buku-bukunya.*

Bersambung...

*        *        *

*        *        *

Sebelum dan Selanjutnya:
#1 Ahmad Dhani di Antara Dewa 19 dan Reza
#3 Ahmad Dhani dan Jalan Tengah Dewa 19 di Album Bintang Lima

Artikel Terkait Ahmad Dhani
- KamaRatih

- Windy Ghemary
- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f5f14da33311a17c8b4660/di-balik-panggung-mahakarya-hut-rcti-ke25?page=all#sectionall


*        *        *
Keterangan: Artikel ini disadur secara utuh dari koleksi pribadi, HaiKlip 25 Years In Rock! #1/2002 yang diketik ulang, usai santap sahur 7 Ramadan 1441


- Jakarta, 30 April 2020

Rabu, 29 April 2020

Ahmad Dhani di Antara Dewa 19 dan Reza


Berbagai majalah sepak bola, musik, dan gaya hidup sejak 1998 hingga
dekade lalu. (Foto: koleksi pribadi/@roelly87)



KONTROVERSI ibarat permadani bagi langkah karir Ahmad Dhani. Sosoknya adalah muara pujian sekaligus hujatan. Dia nggak pernah tabu untuk berbeda pendapat. Bicaranya yang selalu blak-blakan, yang bagi sebagian orang mungkin kedengeran menjengkelkan, mengisyaratkan adanya rasa percaya diri yang besar.

Sebagai contoh, sekitar tahun 1996, dia pernah bilang bahwa dirinya bakal mencetak artis. Waktu itu, dia tengah menggarap debut album Reza Artamevia, pendatang baru yang sekian lama menjadi penyanyi altar Dewa 19. Seperti biasa, orang lantas menananggapinya sebagai bualan seorang Ahmad Dhani. Siapa sangka, ucapannya kemudian terbukti. Reza melambung sebagai solis ternama.

Begitu juga ketika Once Mekel muncul sebagai pengganti Ari Lassso, dan langkah formasi Dewa bagai meniti buih. Dhani yang sempat "gentar" ditinggal fans, malah sesumbar.

"Ari Lasso memang hebat, tapi Once juga bagus. Gua yakin album mendatang (Bintang Lima) bakal lebih dahsyat dari Pandawa Lima (album keempat)." Dia yakin betul ada beberapa lagu yang potensial menjadi hit.

Parameter apa yang digunakannya, padahal dalam bisnis musik belum ada metode yang bisa memastikan sebuah karya bakal diterima konsumen atau nggak?

"Gua yakin aja. Karena waktu mau merilis Pandawa Lima dulu juga begitu," katanya enteng. Seperti udah kita tahu, album Bintang Lima terjual 1,8 juta keping dan merupakan karya terlaris dalam sejarah karir Dewa. Dalam hal ini Dhani adalah bagian dari ketangguhan itu.

Optimisme selalu mendahului jauh sebleum karyanya dilepas. Untuk album ke-6 nanti, misalnya, Dhani yakin penjualannya akan meningkat pesat dibanding Bintang Lima. Pertimbangannya terdengar nyeleneh: dia enggak pengen publik membanding-bandingkan Dewa dengan grup lain, seperti yang selama ini berlangsung.

Yang pasti, biar ada Sheila On 7 dan Padi yang berhasil menjual album jutaan, Dewa terbukti nggak gampang dilibas pendatang baru. Paling enggak, sampai saat ini!*

Bersambung...

*        *        *

*        *        *

Selanjutnya:
- Pencapaian Rasa Ideologi, Sikap, dan Otak (ISO)
- Dewa Ikuti Gaya Once
#2 Ahmad Dhani di Antara ISO, Queen, dan Rumi 
#3 Ahmad Dhani dan Jalan Tengah Dewa 19 di Album Bintang Lima 

Artikel Terkait Ahmad Dhani
- KamaRatih

- Windy Ghemary
- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f5f14da33311a17c8b4660/di-balik-panggung-mahakarya-hut-rcti-ke25?page=all#sectionall


*        *        *
Keterangan: Artikel ini disadur secara utuh dari koleksi pribadi, HaiKlip 25 Years In Rock! #1/2002 yang diketik ulang, usai santap sahur 6 Ramadan 1441


- Jakarta, 29 April 2020