TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Kamis, 12 November 2015

Ada Apa dengan Sinta?


Tari kecak Rahwana memperebutkan Sinta dari Ramayana


SINTA masih memandang jauh ke depan. Tepatnya, menerawang masa depannya. Wajahnya tampak layu. Namun, di balik sorot matanya, tersimpan ketegaran.

Sementara, di balik pintu kamarnya, menghamba Trijata dengan bersimpuh. Putri sulung Arya Wibisana itu dengan setia menungguinya. Di hadapannya, terdapat sumber angkara murka, Rahwana.

Yang menarik, jika kakak tertua Wibisana ini biasanya garang terhadap musuh, bahkan dewa pun dihadapinya. Namun, entah kenapa jika bertemu Sinta, tiba-tiba Rahwana seperti tak berdaya. Tepat pepatah mengatakan, tiga musuh utama kaum pria di marcapada selalu berakhiran "Ta". Harta, Takhta, dan Wanita.

"Etek, aku masih bingung. Kenapa hingga kini, kakang Ramayana tidak menjemputku," Sinta mengadu kepada Trijata.

Dengan lembut, keponakan Rahwana, mencoba menghibur Sinta.

"Duh, sis. Mungkin, bro Rama lagi sibuk. Percayalah pada etekmu ini, kekasihmu yang titisan Wisnu itu pasti akan menjmput dirimu."

"Tapi, sampai kapan etek? Waktu agan Anoman datang, katanya Rama mau menjemputku setelah satu purnama. Ini sudah belasan purnama. Apakah, purnama di New York dengan Jakarta beda?"

*     *     *
PADA satu hari dalam Phalguna, Anoman memang mendatangi Sinta. Saat itu, kera sakti ini merupakan agen rahasia yang diutus Rama. Dengan sopan, Anoman meminta Sinta untuk mengikutinya kembali ke Ayodya.

Hanya, Sinta menolak dengan tegas. Wanita yang di dalam raganya menitis Laksmi -dewi keberuntungan- sang istri Wisnu itu, hanya ingin dijemput Rama. Bisa dipahami, mengingat itu sudah jadi tugas Rama untuk menyelamatkan istri tercintanya.

"Duh, agan Anoman, sembah sujud saya kepadamu. Tapi, aku tidak bisa pergi. Aku istri Rama, sudah seharusnya dia yang menjemputku."

Sudah pasti, Anoman memahami keinginan sekaligus kerinduan Sinta. Namun, kehadirannya di Alengka sebagai duta. Tentu, tugasnya untuk membawa pulang Sinta demi "kliennya", Rama.

"Hampura atuh, sista. Da, aku mah hanya menjalankan tugas dari bro Rama. Sebagai duta, daku bakal malu tidak bisa membawa dirimu. Mungkin, jika gagal, aku tidak akan menemui bro Rama. Sebaliknya, daku lebih baik nyungsep ke dasar bumi," Anoman, memberi penjelasan.

"Aku paham gan. Untuk membuktikan dirimu telah berusaha untuk menjemputku, mari kita selfie dan uplad ke instagram. Nanti, tunjukkan kepada Rama, dengan foto ini, aku sebagai istri, hanya ingin dijemputnya."

*     *     *

KEHADIRAN Anoman ke Alengka ternyata diketahui Rahwana. Bukan Trijata yang memberi tahu. Melainkan, putra sulung Rahwana, Indrajit. Seketika, terjadi perang tanding antarsatria wayang itu. Meski berwujud kera, Anoman sangat sakti. Serbuan tentara Alengka tidak membuatnya gentar. Termasuk ketika Indrajit berkolaborasi dengan Rahwana.

Sadar kekuatannya terbatas menghadapi duet ayah-anak yang memiliki linuwih Rawarontek, Anoman pun sipat kuping. Bagaimanapun, tugasnya sudah selesai. Jadi, dia bisa mempertanggung jawabkannya kepada Rama.

Setelah goro-goro itu, Rahwana menghampiri kamar Sinta. Dengan muka memerah, dia mengira Sinta sudah lenyap dibawa Anoman. Sumpah serapah pun keluar dari mulutnya terhadap Trijata.

"Hee... Keponakanku, kurang baik apa aku selama ini. Aku telah memberimu keagungan di kerajaan ini. Namun, dirimu malah melepas Sinta. Untuk itu, aku kutuk kau jika menikah nanti dengan bangsa kera!"

Ya, angkara murka merupakan sifat Rahwana. Terhadap siapapun, dia selalu begitu. Di marcapada ini, hanya sekali Rahwana takluk. Yaitu, ketika dikecundangi Arjuna Sasrabahu yang juga merupakan titisan Wisnu.

"Duh, om Rahwana, tega dikau mengutuk keponakanmu itu. Sungguh aku tidak rela!" Tiba-tiba Sinta keluar dari kamarnya. Sontak, kehadiran pujaan hatinya membuat Rahwana luluh. Lagi-lagi, manusia berkepala 10 ini takluk terhadap paras elok dan sikap lembut Sinta.

"Ya ampun Sinta. Maaf, aku telah mengeluarkan kutuk dan tidak bisa ditarik lagi," Rahwana menghela nafas.

"Etek, tenanglah. Aku akan berdoa kepada dewata, meski dirimu memiliki suami kera, namun kelak keturunanmu bakal mendapat suami titisan Wisnu."

"Terima kasih, sis. Om Rahwana, aku tidak melepas Sinta. Buktinya, dia ada di sini."

"Ya ya, aku mengaku salah. Sinta sudah memperbaikinya. Sekarang tinggalkan kami." Rahwana menitahkan yang disambut anggukan Trijata.

"Duh, om. Lembut napa sama orang. Jangan cuma ke aku aja lembutnya. Biar begitu, etek Trijata itu keponakan om sendiri."

"Wahai Sinta, kenapa harus memanggil diriku om? Aku toh bukan pamanmu. Usiaku memang jauh lebih tua darimu. Tapi, dalam urusan cinta, tidak pernah memandang usia, kasta, dan strata." Demikian, Rahwana menunduk. Segalak-galaknya sosok yang dijuluki Dasamuka (bermuka 10) ini, selalu lemah terhadap Sinta.

Itu mengapa Rahwana senantiasa menunggu tanggapan cintanya. Sudah bertahun-tahun berlalu. Dia tetap diacuhkan Sinta yang memang telah bersuami. Namun, Rahwana tidak kenal lelah. Menurutnya, Rama memang titisan Wisnu, dewa penjaga kehidupan. Rama juga tampan seperti Rangga yang tentu jauh darinya yang bermuka 10. Apalagi, Rama manusia, bukan seperti dirinya yang raksasa.

Hanya, Rahwana merasa memiliki satu kelebihan: Pengorbanan. Itulah yang tidak dipunya Rama. Faktanya, bertahun-tahun dia menyekap Sinta, tidak sekalipun, Rama menjemputnya. Yang ada, Rama malah menyuruh Anoman. Padahal, seharusnya, Rama sebagai suami yang bertanggung jawab atas keselamatan Sinta, istrinya.

Bahkan, demi cintanya itu, dia rela mengorbankan segalanya. Termasuk, kehormatan sebagai raja Alengka yang saat itu digdayanya melebihi Amerika Serikat.


*     *     *

"RAHWANA, aku tahu pengorbananmu terhadap diriku. Tapi, engkau juga harus mengerti bahwa aku sudah bersuami. Ingat, Rama merupakan titisan Wisnu. Di marcapada ini tidak ada yang bisa menandinginya. Aku harap, engkau mengerti itu. Aku berterima kasih atas sikapmu yang baik dan sopan selama ini..." Sinta berbicara dengan lembut.

Bergejolak Rahwana mendengarnya. Ada rasa kesal ketika mengetahui Sinta membandingkan dirinya dengan Rama yang memang titisan Wisnu. Seketika, dia ingin mengerahkan bala tentaranya, termasuk membangunkan Kumbakarna untuk menyerang Ayodya.

Di sisi lain, Rahwana terharu saat Sinta memangilnya dengan sebutan nama tanpa embel-embel "om". Itu membuktikan, sikap Sinta sudah berubah terhadapnya yang tidak lagi ketus.

Pada saat yang sama, Rahwana justru tidak menyadari perubahan sikapnya yang kini sudah "lebih baik". Dia tidak lagi terlalu mengumbar hawa nafsunya. Angkara murka, meski masih ada, namun sudah jarang dilampiaskan. Singkatnya, Rahwana kini sudah lebih keren dibanding sebelum bertemu Sinta.

Konon, rakyat Alengka sering memergokinya saat blusukan. Baik itu menyaksikan konser band tanpa pengawalan, melihat pertunjukkan seni, bahkan terjun ke gorong-gorong. Itu semua dilakukan Rahwana untuk membangun kejayaan negerinya yang akan diperlihatkan kepada Sinta.

Tak jarang, dia jadi gemar bersolek. Pakaiannya kini sudah lebih rapi. Pakaiannya brand ternama, mulai dari Armani, Dolce & Gabbana, hingga merek dalam negeri yang katanya sih demi memajukan UMKM rakyat Alengka. Sekali lagi, semua itu dilakukan untuk merebut hati Sinta dari Rama.

*     *     *
SEBAGAI manusia biasa, sudah pasti Sinta paham maksud baik Rahwana. Dia pun mulai tergoda akan keramahan sang penculiknya. Maklum, Sinta sudah lelah menunggu janji dari Rama yang tak kunjung tiba. Bahkan, lamanya melebihi purnama Rangga kepada Cinta yang bahkan sudah syuting untuk episode kedua.

Kesetiaan Sinta memang hanya untuk Rama. Namun, kalau mau jujur, jauh di lubuk hatinya, mulai terukir nama Rahwana.

Ya, bertahun-tahun, Rahwana tidak berhenti mendatanginya. Meski kata-katanya membosankan. Namun, Rahwana dengan tulus melakukannya. Sementara, suaminya, justru tidak sekalipun menjemputnya.

"Salahkah aku bila kini mencintaimu, Rahwana?" Sinta menggumam lirih. Satu pertanyaan yang sulit terjawab. Sama sulitnya dengan tindakan Rama yang tidak memerdulikan istrinya.*

*     *     *

- Jakarta, 12 November 2015

Selasa, 10 November 2015

Kenapa Harus Indar Atmanto?

Suasana konferensi pers di kantor LBH 

INDAR Atmanto. Siapa sih?

Mungkin, itulah pertanyaan saya dan mayoritas pengguna internet di seluruh Tanah Air. Sebab, nama Indar Atmanto menjadi trending topic di Twitter sejak semalam hingga saat ini masih berlangsung. Jujur saja, saya tidak mengenal Indar. Bahkan, ketemu saja belum pernah. Sebaliknya, beliau pun sudah pasti tidak kenal saya.

Namun, sebagai pengguna internet, khususnya blogger, tentu saya tidak boleh berdiam diri. Adagium lawas mengatakan, "Minum air harus ingat sumbernya" dan "Kacang tidak boleh lupa akan kulitnya".

Itu karena Indar merupakan salah satu sosok yang membidani perkembangan internet di Indonesia. Ironisnya, saat ini, suami dari desainer ternama di Tanah Air, Amy Ismanto itu, malah sedang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sukamiskin, Bandung.

Ya, sejak 5 Januari 2013, Indar harus merasakan dinginnya jeruji besi. Tentu, kenyataan itu sangat miris mengingat saya dan jutaan pengguna internet di seluruh nusantara justru sedang menikmati buah kerjanya setiap hari.


*       *       *

"PUTUSAN MA (Mahkamah Agung) ini mengakibatkan 300 penyelenggara internet di Indonesia juga terancam dipenjara," kata Direktur Eksekutif LBH Pers, Nawawi Bahrudin, kepada saya dan rekan-rekan dari media, blogger, dan aktivis lainnya, di kantornya, kemarin, Senin (9/11).

Di sisi lain, Nawawi menambahkan, "Kalau menurut saya sih, harus ada peraturan Presiden atau pernyataan dari Presiden (Joko Widodo) untuk kasus ini. Bahwasanya, sengkarut dalam bisnis di industri ini karena kesalahpahaman antara praktisi, jaksa, dan hakim."

Sebagai pengguna internet aktif sekaligus blogger, sudah pasti saya ingin tahu perkembangan kasus Indar. Itu mengapa kemarin saya turut menghadiri jumpa pers di Kantor LBH Pers, Kalibata, Jakarta Selatan.

Dalam acara yang juga dijadikan bahan diskusi itu, LBH Pers menyatakan empat sikapnya:

1. Menolak Putusan Peninjauan Kembali (PK) Indar Atmanto, karena berpotensi membelenggu kebebasan berekspresi di internet.

2. Menyatakan keprihatinan yang mendalam terhadap putusan MA yang berdampak sangat besar terhadap industri telekomunikasi, pelayanan masyarakat, serta perekonomina negara, yang mengakibatkan lebih dari 300 penyelenggara internet di Indonesia terancam dipenjara.

3. Mendorong Kementrian Kominfo sebagai instansi yang diberi kewenangan untuk melaksanakan Undang-undang Telekomunikasi untuk melakukan upaya-upaya nyata yang diperlukan agar terjamin kepastian hukum dan kepastian berusaha.

4. Mendukung Indar Atmanto untuk mengajukan PK sekali lagi demi terciptanya keadilan dan kepastian hukum.

Sedikit gambaran, saya kurang mengerti soal hukum. Apalagi, yang berkaitan dengan undang-undang mengenai teknologi. Namun, bukan berarti saya harus berdiam diri. Terutama saat ini yang bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November.

Untuk itu, sejak kemarin siang, saya coba mencari informasi dengan mendatangi Kantor LBH Pers demi mendapat referensi yang jelas dan terpercaya. Ya, sebagai blogger, saya wajib menulis apa yang saya ketahui secara langsung.

*       *       *

BERDASARKAN keputusan resminya, Rabu (4/11), MA menolak PK yang diajukan Indar. Seperti yang saya kutip dari beberapa referensi terpercaya, putusan itu diketok majelis hakim yang diketuai Wakil MA M. Saleh dengan anggota Hakim Agung Abdul Latief dan Hakim Agung HM Syarifuddin, 20 Oktober lalu.

MA menganggap, Indar yang saat itu menjabat sebagai Direktur Utama IM2, bertanggung jawab atas dugaan penyalahgunaan jaringan 2,1 Ghz atau 3G. Indar tetap diganjar hukuman sesuai dengan putusan kasasi MA, yaitu vonis delapan tahun dan denda Rp 300 juta serta hukuman uang pengganti sebesar Rp 1,358 triliun kepada IM2.

Yang menjadi pangkal permasalahan, IM2 tidak membangun jaringan seluluer (BTS). Sehingga, tidak dapat dikatakan telah menggunakan frekuensi sendiri. Posisi IM2 hanya sbebagai penyewa jaringan seluluer indosat mobile melalui BTS Indosat.

Itu dapat dibuktikan dengan kartu SIM yang digunakan utnuk mengakses internet dikeluarkan Indosat IM2. Tentu, yang wajib membayar biaya penggunaan pita frekuensi adalah Indosat sebagai BTS pemilik. Sedangkan, IM2 yang merupakan penyewa hanya perlu membayar sewa kepada Indosat.

Nah, pemahaman penegak hukum tentang penggunaan pita frekuensi tidak sejalan dengan tatanan teknis telekomunikasi dan regulasi. Maka, dapat dianalogikan, bahwa setiap orang, termasuk Hakim, dan Jaksa yang menggunakan smartphone, ponsel, atau laptop, untuk berinternet, juga bisa dikriminalkan menggunakan pita frekuensi tanpa izin.

Itu mengapa, Menteri Kemenkominfo menyatakan, dalam dua suratnya bahwa kerja sama Indosat dengan IM2 sudah sesuai peraturan perundangan dan peraturan pelaksaannya.

"Saya sangat prihatin," kata Menkominfo Rudiantara dalam konferensi pers penggiat telematika di Gedung Indosat, yang saya kutip dari Viva.co.id. "Pemerintah akan melakukan semaksimal mungkin untuk menangani masalah ini."

Pernyataan sama diungkapkan Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DKI Jaya, Kamsul Hasan seperti dilansir dari Kompas.com, "Indonesia bisa terancam blank spot, tidak ada jaringan internet karena para penyelenggara jasa internet merasa ketakuatan akan bernasib sama seperti pak Indar."

Menurutnya, apabila ancaman benar terjadi, akan memengaruhi perekonomian Indonesia. Bisa dipahami mengingat dunia usaha saat ini sangat bergantung dengan intenet. Sebab, kita nyaris melakukan transaksi dan sebagainya seperti perbankan serta belanja online ya di internet. Pun begitu dengan masa depan blogger yang bakal suram.

"Kalau Indonesia tidak ada internet, wartawan tidak bisa bekerja, bank tidak bisa online, bahkan pesawat juga terancam tidak terbang. MA seharusnya memperhatikan dampak tersebut," Kamsul, mengungkapkan.

Nah, bagaimana dengan Anda? Ingin turut menyuarakan melalui tagar #IndarAtmanto dan #FreeIndarAtmanto di twitter yang bukan hanya untuk Indar saja. Melainkan juga masa depan internet kita. Atau, memilih diam sambil menyongsong kiamat internet yang berarti, kita akan kembali ke masa lalu.

Semua pilihan ada di tangan kita.***

*       *       *
Direktur Eksekutif LBH Pers, Nawawi Bahrudin


Referensi tambahan:
Kompas.comViva.co.id, HukumOnline.comMerdeka.com, Kompasiana.com, Kontan.co.id

*       *       *
Artikel ini ditulis dalam rangka menyambut Hari Pahlawan
- Jakarta, 10 November 2015

Minggu, 08 November 2015

Selamat Hari Wayang Nasional


Koleksi wayang dan mainan saya


KEMARIN, Sabtu (7/11) tepat 12 tahun diresmikannya wayang sebagai warisan dunia oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (Unesco). Dalam lembaga yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu, wayang ditetapkan dalam daftar Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanitiy pada 7 November 2003.

Beberapa tahun berikutnya, menyusul lima warisan nusantara lainnya, seperti Keris, Batik, Angklung, Tari Saman, dan Noken. Ironisnya, hingga kini, pemerintah kita belum menetapkan adanya Hari Wayang. Mungkin, bagi sebagian pihak, tidak penting. Namun, sejatinya, dengan adanya peringatan Hari Wayang Nasional tentu tidak berlebihan. Sebab, wayang memang sudah dikenal di kolong langit ini sebagai warisan yang tak ternilai sebagai mahakarya. Bahkan PBB pun mengakuinya.

Sayangnya, sejak beberapa tahun terakhir, berbagai usulan dari komunitas wayang, praktisi, hingga dalang seperti Ki Manteb Soedharsono, mungkin dianggap pemerintah sebagai angin lalu. Padahal, apa sulitnya, sekadar menetapkan dalam kalender resmi, mengingat wayang sudah dikenal di seluruh Tanah Air. Meski begitu, saya berharap ke depannya, pemerintah atau instansi terkait, turut menetapkan Hari Wayang Nasional seperti halnya batik yang diperingati setiap 2 Oktober.

*       *       *

APA sih yang menarik dari wayang? Sejak kecil saya saya sudah menggemari wayang. Jauh sebelum mengenal klub favorit seperti Juventus, kartun luar negeri Doraemon, Dragon Ball, Spider-Man, The Avengers, Superman, Tintin, dan sebagainya. Kalau tidak salah ingat, ketika usia saya masih beberapa tahun yang sering melihat pertunjukkannya di stasiun televisi nasional, TVRI.

Meski tidak mengerti bahasa Jawa dan bahasa Sunda saya masih minim, namun ada keasyikan tersendiri bisa menyimak pertunjukkan wayang. Baik di televisi, radio (pada dekade 1990-an), youtube, atau menyaksikannya langsung. Kebetulan, sejak menetap di Jakarta pada 2010, saya kerap menonton pementasan wayang, baik yang didalangi Ki Manteb Soedharsono, Ki Anom Suroto, Ki Sigit Ariyanto, hingga almarhum Asep Sunandar.

Ya, halangan bahasa (Jawa dan Sunda) yang minim tidak membuat saya patah arang.  Sebaliknya, justru ada keasyikan tersendiri jika melihat aksi panggung dan tata cahaya dalam pertunjukkan wayang. Terkadang jika saya menonton bersama teman yang bisa bahasa Jawa (ngapak, halus, dan kromo) dan Sunda, saya kerap meminta untuk diterjemahkan.

Apalagi, jika sedang rehat, dengan kehadiran punakawan dalam Goro-goro. Aksi, Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong, kerap membuat saya dan penonton terpingkal-pingkal. Tentu, kehadiran mereka tidak hanya sekadar melawak saja, melainkan juga memberi contoh yang menginspirasi. Ya, bagaimanapun, punakawan merupakan tokoh asli buatan nenek moyang kita yang tidak ada kaitannya dengan India, sebagai negara asal cerita wayang.

Sekadar info, memang terdapat sedikit perbedaan cerita antara wayang nusantara dengan versi India. Tapi, itu wajar mengingat proses asimilasi yang tentu tidak harus sama dengan versi asalnya. Apalagi, wayang itu sangat unik. Untuk satu cerita, bisa berbeda tergantung pada daerahnya. Misalnya, di kawasan Jawa Tengah antara Banyumas dengan Solo dan Yogyakarta, beda. Begitu juga dengan Bandung dan Cirebon atau Bali dan luar Jawa lainnya, tidak sama. Pun begitu di antara dalang yang tergantung improvisasi mereka.

Saya pribadi, cenderung menyukai Mahabharata yang mengisahkan peperangan Pandawa dengan Kurawa ketimbang Ramayana. Namun, untuk lakon, saya mengakui sangat mengidolai tema Kumbakarna Gugur. Entah berapa kali saya melihatnya hingga semalaman suntuk pun tidak pernah bosan.

Lantaran, ada filosofi dan nilai nasionalisme yang dipetik dari kematian Kumbakarna saat menghadapi Ramayana. Bukan untuk membela kakaknya yang diselimuti angkara murka, Rahwana, melainkan, demi mempertahankan negaranya, Alengka, dari serbuan bangsa asing. Momentum seperti itu yang rasanya sulit diteladani dari para pesohor dan pejabat negeri ini.

Sementara, untuk tokoh pewayangan, sejak Juventus menjuarai Liga Champions 1995/96 hingga musim lalu gagal di final, idola saya tetap Wisanggeni. Ya, putra dari Arjuna, sang penengah Pandawa ini murni ciptaan nenek moyang kita. Alias, tidak ada dalam kisah aslinya di India. Beberapa tokoh wayang terkait yang saya tahu seperti Antareja dan Antasena, serta empat punakawan.

Selain "produk lokal", Wisanggeni itu merupakan tokoh yang unik. Sakti mandraguna dan memiliki kekuatan dari Gatot Kaca yang dijuluki otot kuat tulang besi, Antareja (bisa tembus ke dasar bumi), serta Antasena (dapat menyelam di air). Tutur kata Wisanggeni bahkan lebih menyerupai pamannya, Bima, yang tidak pandang bulu, ketimbang Arjuna yang sangat halus.

Meski begitu, karena bukan berasal dari India, keberadaan Wisanggeni bersama Antareja dan Antasena, tidak seperti Gatot Kaca. Penciptanya terdahulu, sengaja "mematikan" ketiga tokoh muda itu sebelum perang Baratayuda yang jadi puncak Mahabharata. Lantaran, nenek moyang kita tidak ingin melanggar pakem dari kisah aslinya.

Ya, masih banyak lagi tentang wayang yang akan saya tulis dalam artikel berikutnya untuk memperingati 13 tahun wayang diakui sebagai warisan dunia sekaligus menyambut Hari Wayang Nasional yang entah kapan ditetapkannya.

*       *       *
Dewi Kamaratih menabuh drum

*       *       *
Si Cepot sebagai vokalis dan gitaris

*       *       *
Suvenir pensil wayang dari Galeri Indonesia Kaya

*       *       *
Dalam novel ini ada kisah percintaan dramatis antara Arjuna dan Srikandi

*       *       *
Komik wayang karya RA Kosasih

*       *       *
Tugu Gunungan di Bandung

*       *       *
Museum Wayang yang sayangnya website sudah tidak aktif lagi

*       *       *
Koleksi lukisan Wisanggeni 

*       *       *
Koleksi kaos bergambar Wisanggeni

*       *       *
Berbindang dengan Ki Manteb Soedharsono di balik panggung

*       *       *
Wayang Golek Si Cepot

*       *       *
Properti Wayang Bocor di Galeri Indonesia Kaya

*       *       *
Koleksi wayang Sri Kresna dan Wisanggeni

*       *       *

*       *       *
Artikel ini sebenarnya ditulis sejak Jumat (6/11), namun karena satu hal baru bisa di-publish dan edit dua hari kemudian.
- Jakarta, 8 November 2015

Kamis, 05 November 2015

Solusi Mudah Cari Mobil di Mobil123.com


Herni Wijaya membedah fitur dan tampilan Mobil123.com


SAAT ini, mencari sesuatu itu sangat mudah. Lantaran semua serba digital. Misalnya, ingin berangkat sekolah, kuliah, atau ke kantor, bisa menghubungi ojek online. Mau makan tapi ga mau pergi, dapat menghubungi restoran cepat saji yang membuka pesan layanan antar.

Bahkan, teranyar beredar arisan online. Yaitu, orang yang ingin ikut tidak perlu pergi ke suatu tempat untuk berkumpul layaknya arisan konvensional. Melainkan, cukup duduk di depan komputer/laptop yang terhubung dengan koneksi internet dan fitur rekam video. Jadi, jika dikocok, kertasnya keluar, orang itu bisa langsung mengambil dananya lewat transfer internet banking.

Nah, bagaimana jika kita ingin membeli kendaraan? Saat ini pun, sudah beragam situs atau website yang menyediakan penjualan baik kondisi baru atau bekas secara online. Namun, tentu, beli kendaraan, khususnya mobil, tidak sama dengan memesan ojek, makanan cepat saji, arisan, atau membeli kacang goreng yang harganya Rp 2.000.

Sebab, dana yang dikeluarkan berkisar puluhan hingga ratusan juta rupiah. Jadi, calon pembeli harus jeli dan teliti untuk memilih situs jual beli mobil online yang kredibel. Sepanjang yang saya tahu, Mobil123.com memiliki berbagai persyaratan tersebut.

*      *      *
UNTUK kali pertama dalam beberapa bulan terakhir, saya telat menghadiri suatu acara. Biasanya, saya selalu datang on time, bahkan lebih awal. Tapi, tidak untuk kemarin. Tepatnya, saat menghadiri Blogger Gathering bersama Portal Mobil no 1, Mobil123.com, di Tartine Resto, mal FX, Jakarta Pusat, Rabu (4/11).

Saya tiba di lokasi dengan mata lima watt karena kurang tidur akibat malam harinya menyaksikan pertandingan sepak bola. Seusai subuh mematikan televisi, saya kembali terbangun sekitar pukul 07.00 WIB. Sambil mengisi rutinitas di depan layar laptop, saya melirik agenda hari itu untuk menghadiri Blogger Gathering.

Hanya, ketika melihat tempat acaranya berlangsung, saya sedikit menggampangkan. Itu karena lokasinya tepat di depan kantor saya yang tentu setiap hari saya lewati. Jadi, saya berangkat dari rumah pukul 09.30 WIB dengan asumsi setengah jam sampai dan saya tidak terlewat saat registrasi dan mengikuti beragam games interaktif.

Namun, saya lupa, saya biasanya berangkat kerja sore yang relatif lancar. Sementara, acara yang turut menghadirkan salah satu blogger inspiratif Shintaries dengan Tips Aman Mengemudi dan sharing SEO dari Rizky yang mewakili Mobil123.com ini berlangsung pagi hari yang sudah tentu macet sepanjang jalan Gatot Subroto hingga Asia Afrika. Belum lagi, ternyata saya alpa mengecek bensin sepeda motor yang minus dan harus antre di SPBU lebih dari 15 menit.

Selesai? Belum. Pasalnya, tempat parkir di basement FX sudah penuh hingga saya dengan bantuan security harus menggeser kendaraan lain agar sepeda motor saya muat. Puncaknya, ketika saya keliru melihat alamat restorannya di F8 (lantai delapan) hingga muter-muter lagi memakan waktu beberapa menit. Beruntung, dengan -lagi-lagi- petunjuk security diberitahu kalau Tartine itu di FB yang terletak di lantai bawah yang dari jalan raya pun kelihatan!

Singkatnya, saya tiba dengan basah kuyup di lokasi pada pukul 10.45 WIB. Wow... Telat 15 menit yang jadi rekor keterlambatan sejak Mei lalu!

*      *      *
"BERAPA lama yang dibutuhkan untuk membeli mobil?" Demikian pertanyaan yang dilontarkan Head of Sales Mobil123.com, Herni Wijaya. Jawaban dari 35 blogger yang hadir saat itu tentu saja beragam. Termasuk saya yang rencananya mungkin, butuh waktu lima tahun. Mulai dari sekarang pilih mobil yang cocok, menyelesaikan administrasi, hingga mengumpulkan dana untuk uang muka.

Menurut Herni, berdasarkan riset perusahaannya, mayoritas calon pembeli butuh 1,9 bulan untuk bisa mendapatkan mobil pilihannya. Diawali dengan memilih jenis, merek, hingga transaksi. Bagi saya, diskusi itu sangat menarik. Meski belum memiliki mobil, setidaknya saya jadi tahu gambarannya jika kelak ingin membeli kendaraan roda empat tersebut.

Itu yang jadi alasan kedatangan saya ke Blogger Gathering tersebut. Kendati awalnya sempat ragu untuk mengikuti acara tersebut, karena bertema soal mobil, sementara kendaraan yang saya punya baru sepeda motor. Namun, saya tetap antusias. Ya, bagaimanapun, saya masih bermimpi untuk punya mobil dalam beberapa tahun ke depan. Jadi, dengan mengikuti Blogger Gathering, saya kini bisa merencanakan lebih awal.

Apalagi, ketika Herni yang dibantu MC Mariana, membedah tampilan dan fitur dari situs Mobil123.com. Terus terang saja, sejak akhir tahun lalu, saya sudah sering buka website ini. Tapi, bukan untuk mencari mobil. Melainkan, saat ingin mencari sepeda motor sepupu yang rencananya waktu itu mau diganti dari matik ke bebek sport.

Oh ya, meski namanya identik dengan "mobil", tapi situs Mobil123.com ini juga menjual sepeda motor. Bahkan, ada fitur yang jadi favorit saya, yaitu "Cek Harga". Biasanya, kalau lagi senggang, saya suka iseng-iseng komparasi harga mobil dari satu merek ke merek lain.

Termasuk ketika acara Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2015 berlangsung. Kebetulan, saat itu saya dua kali berjunjung ke pameran yang berlokasi di kawasan Serpong tersebut. Pulangnya, seusai bertanya dengan brand ambassador/ SPG untuk beberapa merek yang meliputi fitur, fungsi, dan harga, saya kerap membandingkannya dengan yang ada di Mobil123.com. Biasanya, hasilnya tidak beda jauh. Kecuali untuk mobil bekas.

Apalagi, di Mobil123.com ini, terdapat 202.678 mobil yang diiklankan (data 5 November). Yang menarik, calon penjual tidak dibebankan biaya untuk mengiklankan kendaraan. Alias gratis! Meski begitu, Herni menegaskan, setiap orang yang ingin menjual kendaraannya di Mobil123.com, wajib mengikuti persyaratan ketat.

Salah satunya, foto asli kendaraan tersebut dengan kondisi yang sebenarnya, -misal mobil bekas disebutkan apa kekurangannya- yang nanti akan diverifikasi pihak mereka. Itu berguna agar calon pembeli tidak tertipu pada setiap mobil yang diiklankan di Mobil123.com. Tak heran jika dalam beberapa tahun ini mereka jadi rujukan terpercaya bagi calon pembeli mobil.

*      *      *
Suasana Blogger Gathering di Tartine Resto, FX

*      *      *
Rekan blogger Nur Terbit menjawab berapa lama waktu untuk membeli mobil

*      *      *
Ada fitur cek harga yang bermanfaat sebelum membeli mobil

*      *      *
Shintaries yang ternyata sudah mengemudi sejak sekolah! Padahal saat itu saya masih mengejar layangan dan bermain kelereng :)

*      *      *
Rizky berbagi ilmu mengenai tips mendongkrak SEO

*      *      *
Foto bersama penggawa Mobil123.com dan perwakilan blogger

*      *      *

- Jakarta, 5 November 2015

Selasa, 03 November 2015

Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak



Christie Damayanti


WAJAHNYA tampak letih. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Namun, gerakannya tetap gesit saat menyambut pengunjung. Dia juga antusias menerima ajakan foto bersama dari puluhan orang yang mendatangi pameran tersebut. Tak jarang, dia membereskan letak frame atau dekorasi yang jatuh akibat tersenggol karena padatnya pengunjung di mal yang didesainnya sebelum sakit.

Ya, itulah kegiatan yang dilakukan Christie Damayanti sepanjang pekan lalu saat mengadakan Pameran Filateli di Mal Central Park. Tepatnya, sejak Senin, 26 Oktober hingga Minggu (1/11). Puncaknya, tentu pada hari terakhir yang memang libur hingga membuat pameran tersebut diserbu pengunjung.

Yang menarik, ribuan koleksi itu bisa dinikmati secara gratis. Plus, pengunjung dapat informasi, kiat, dan pengalaman langsung dari Christie, mengenai cara mengirim surat. Khususnya ditujukan pada tokoh terkenal.

"Aku senang rul, akhirnya selesai juga," kata Christie, 46 tahun. "Terima kasih untuk rekan-rekan blogger yang telah datang ke sini. Pameran ini tidak akan terwujud tanpa dukungan banyak pihak. Mal Central Park, Kominfo, PFI (Persatuan Filateli Indonesia), KFJ (Kantor Filateli Jakarta), dan semuanya yang tidak bisa aku sebut satu persatu."

Setelah badai, biasanya terbit pelangi. Itu yang dirasakan Christie usai mengalami stroke pada Januari 2010, justru membuatnya termotivasi untuk kembali menekuni dua hobinya: Menulis sebagai blogger dan mengumpulkan koleksi filateli yang akhirnya sejak 2012 hingga kemarin sudah terlaksana tujuh pameran tunggal.

Berikut, obrolan saya dengan pemilik blog christiesuharto.com ini.

Bagaimana awal perkenalan Anda sebagai blogger?
Awal kenal sebagai blogger sebenarnya untuk terapi otak karena stroke. Aku ga pernah peduli walau ga ada yang baca -tulisannya-. Bagiku, menulis merupakan terapi terbaik untuk otak.

Apa sih yang melatari Anda untuk hobi ngeblog?

Untuk terapi. Titik. Aku ga pernah punya niat yang lain seperti sekarang.

Bisa disebutkan prestasi terbaik Anda sebagai blogger?

Prestasi? Banyak. Yang pertama, sebagai Kompasianer of the Year 2011. Yang terakhir, sebagai juri nasional lomba menulis surat remaja selama empat tahun beruntun. Aku juga jadi pembicara dan diwawancarai semua media. Punya tiga buku yang sudah terjual puluhan ribu eksemplar. Semuanya itu dari menulis...

Bagaimana dengan titik terendah Anda atau kejenuhan saat ngeblog?

Titik terendah? Tidak pernah. Selama ngeblog empat tahun ini justru aku semakin semangat.

Kiat untuk mengatasi hal tersebut?

Ada. Cara mengatasinya dengan tetap menulis, menulis, dan terus menulis. Jangan pernah mikir siapa yang baca atau berapa orang yang baca. Kalo kita tahu, kekuatan dari menulis itu sungguh luar biasa!

Rahasia Anda dalam beraktivitas di dunia blogging tanpa terganggu pekerjaan sehari-hari.

Aku menulis tidak di laptop -Christie hanya bisa menggunakan satu tangan-. Aku menulis di hp (ponsel). Selama macet, menunggu, atau jam istirahat di kantor. Saat menulis tidak pernah menggangu kegiatanku. Aku menulis untuk satu artikel sekitar 1.000-1.500 kata hanya dalam satu jam. Biasanya itu waktu perjalanan dari rumah ke kantor atau sebaliknya.

Impian Anda selanjutnya sebagai blogger yang belum tercapai?

Yang belum tercapai? Untukku sudah semua, karena aku tidak berambisi untuk jadi blogger hebat. Aku menulis untuk terapi otak. Tapi, Tuhan memberikan lebih indah dari sekadar jadi blogger.

Kapan Anda berencana memutuskan untuk berhenti ngeblog? Dan, sebutkan alasannya?

Berhenti ngeblog? Ga lah... Karena jika aku berhenti menulis, otakku juga berhenti terapi. Jika otakku berhenti terapi, semakin lama mengecil... Jadi, dengan menulis akan menyembuhkanku.

Kembali soal pameran. Setelah ini ada rencana lagi?
Ya, ada dua lagi pameran yang akan aku gelar (dalam waktu dekat).

Mengenai acara ini, Anda mengadakan pameran dengan menyewa tempat yang lumayan luas di salah satu mal termewah di Indonesia. Kalau tidak salah, setahu saya untuk menyewa areal ini sepekan bisa mencapai ratusan juta. Tentu ini tidak mudah. Bagaimana dengan dananya? Sementara, pameran ini terbuka untuk umum.

Kebetulan, aku bekerja di Agung Podomoro Grup -pengembang yang memiliki Central Park-. Jadi, aku diberi tempat oleh mereka. Meski begitu, aku harus ajukan proposal terlebih dulu di hadapan manajemen. (Dalam komentar terpisah, Christie, mengakui Central Park merupakan rancangannya sebelum dirinya sakit).***

*      *      *


- Jakarta, 3 November 2015