TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Prabowo

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Prabowo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prabowo. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 April 2025

Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja

Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja

Twitter lawas @Prabowo

PRABOWO Subianto jadi nama yang paling hangat dibicarakan masyarakat sejak era reformasi. Baik di dunia nyata seperti warung kopi (warkop), perkantoran, gedung bertingkat, kampus, hingga perpustakaan 

Pun demikian di dunia maya. Itu meliputi X atau Twitter, Facebook, Instagram, Thread, Youtube, Tiktok, dan sebagainya.

Terutama, setelah menjabat sebagai Presiden Kedelapan Republik Indonesia (RI) pada 20 Oktober lalu. Sejak itu, nama Prabowo selalu menghiasi alam bawah sadar masyarakat.

Termasuk, saya yang merupakan penggemarnya sejak 2008 silam. Khususnya, usai tiga kali mencoblos pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, 2019, dan 2024.

(Selengkapnya: Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)

Asa pun terpancar tinggi usai mengetahui Prabowo dan Gibran Rakabuming menang pada hari pencoblosan, 14 Februari 2024. Akhirnya, "jagoan saya" bisa jadi presiden usai dalam dua kontestasi dikalahkan Joko Widodo (Jokowi).

Hanya, bak adagium, jauh panggang dari api, pun demikian dengan apa yang dilakukan Prabsky dalam Kabinet Merah Putih. Sumpah, sebagai pemilihnya, saya benar-benar syok.

Hampir enam bulan kepemimpinannya, belum ada gebrakan yang benar-benar mensejahterakan rakyat. Isi kabinetnya aja udah gemuk dengan banyak penambahan menteri, wakil menteri, dan lembaga anyar lainnya.

Efisiensi yang dicanangkan hanya omon-omon. 

Oke gas... Oke gas!

Sebagai manusia, untungnya saya ga pernah mengkultuskan seseorang. Apalagi, politisi.

Ya, saya memang selalu menyisakan ruang ketidakpercayaan pada setiap insan. Termasuk, Prabowo yang saya idolakan lebih dari dua windu ini.

Namun, sejak awal eskpektasi saya memang tidak terlalu tinggi. Pencapaian Prabowo sebagai presiden bisa mendekati era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun sudah bagus.

Ya, bagi saya, kepemimpinan presiden keenam itu jadi bare minimum sejak era dipilih rakyat secara langsung. Kepemimpinan SBY ga jelek-jelek amat. 

Hanya, untuk dibilang bagus juga masih terlali jauh. Jokowi yang jadi penerusnya pun 11/12. 

Namun, kedua presiden itu tetap punya nilai positif. Ada sesuatu yang bisa dibanggakan dari warisannya.

Prabowo? 

Entahlah. Sudah lebih dari 150 hari kepemimpinannya, justru keadaan kian buruk.

Demo di mana-mana akibat ketidakpuasan masyarakat dan mahasiswa terkait RUU TNI. Aparat yang kian sewenang-wenang. 

TNI dan polisi main bunuh rakyat secara gampang. Intimidasi pun jadi santapan sehari-hari.

(Selengkapnya: Lulusan SMA Dibekali Senjata Itu Bernama Polisi = https://www.roelly87.com/2025/02/lulusan-sma-dibekali-senjata-itu.html)

Rupiah melemah. Harga pangan kian naik.

Di sisi lain, Prabowo seperti berada di menara gading. Seolah merasa rakyat saat ini baik-baik saja.

Putra dari begawan Soemitro Djojohadikoesoemo ini ngaku, bangun pagi sangat cerah. Pada saat yang sama, rakyat menyuarakan "Indonesia Gelap".

Duh...

Konklusinya, apakah saya menyesal memilihnya dalam tiga edisi pilpres?

Tentu saja nggak. 

Kan udah terjadi. Kalo di awal namanya pendaftaran.

Toh, saya sadar sejak dulu, kemampuan Prabowo itu ya "B aja".

Cukup sekian dan terima gaji!


*       *       *


TIGA jam lebih saya menyaksikan dialog Prabowo dengan enam jurnalis senior yang diselenggarakan di kediamannya, Minggu (6/4). Tentu, saya ga bisa nonton full saat video itu rilis di berbagai laman youtube media, sehari berselang.

Melainkan, secara maraton. Alias, dilakukan bertahap dalam beberapa hari ini.

Kesimpulan saya terhadap diskusi itu ya... Hambar!

Serius.

Ini penilaian saya. Murni.

Saya berusaha objektif. Baik ya bilang baik, buruk ya katakan buruk.

Saya apresiasi terkait inisiatifnya mengumpulkan para pimpinan media untuk diskusi. Bahkan, disiarkan secara utuh dengan seluruh jurnalis mengatakan wawancara itu tidak pakai script.

Alias, mengalir begitu aja. Tanpa harus setor pertanyaan terlebih dulu.

Bagi saya, ini suatu kemajuan. Sebelumnya, Jokowi yang dikesankan merakyat aja tidak pernah mengajak beberapa jurnalis untuk diskusi.

Sekarang, Prabowo berani dialog dengan para jurnalis senior. Bahkan, adu argumen, "Come On!"

Kebetulan, saya sering menonton wawancara dari beberapa jurnalis itu. Najwa Shihab udah lama dikenal dengan gaya intimidatifnya terhadap narasumber.

Apalagi, Uni Lubis, yang terkesan santai tapi beragam pertanyaannya sangat menusuk.

Nah, terkait Prabowo bisa menjawab dengan baik dan solutif itu perkara lain. Nanti akan saya bahas.

Saat ini, saya ingin menggarisbawahi niat Prabowo yang menegaskan bisa diajak diskusi. Sekaligus, membuktikan sebagai pemimpin yang tidak antikritik dan bersedia menjelaskan apa yang ingin dicapai ke depan.

Bahkan, Ketua Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini menyatakan siap berdialog dengan tokoh "Indonesia Gelap". Dua di antaranya, Refly Harun dan Rocky Gerung, yang disebut secara gamblang.

Jujur, saya berharap pria 73 tahun ini rutin mengadakan dialog terbuka. Tidak hanya kepada jurnalis saja, melainkan para pengamat seperti Refly, Rocky, aktivis hingga mahasiswa.

Jika itu terwujud, rakyat Indonesia bisa tahu terkait langkah Prabowo dalam mengarahkan bahtera ini ke depannya.

Yang penting, diskusi itu dua arah. Disertai solusi untuk mengatasi permasalahannya.

Prabowo udah melakukan itu pada Sarasehan Ekonomi, Selasa (8/4). Acara yang dihadiri berbagai perwakilan dari serikat pekerja, pelaku usaha, hingga  analis pasar modal ini menurut saya menarik.

Dalam dialog berdurasi empat jam di laman youtube Sekretariat Presiden itu tampak tabir gelap yang menyelimuti Prabowo perlahan mulai tersibak. Ya, Danjen Kopassus 1995-1998 itu sangat aktif menjawab sekaligus solutif dalam berbagai masalah dengan langsung memberi instruksi kepada menterinya.

Misalnya, terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang regulasinya akan diubah lebih fleksibel. Atau, terkait impor yang selama ini dimonopoli pihak tertentu.

Jangan lupa, adanya Satgas PHK.

Bagi saya, semua ini menarik. 

Serius.

Tapi, saya mencium bau amis. Saya merasa, ada yang janggal dari setiap perkataan Prabsky saat itu.

Sebab, doi kerap bilang "Saya baru tahu". Ini aneh sih.

Bisa menimbulkan multitafsir di kalangan masyarakat. Eskalasinya menurut saya sangat membahayakan negara.

Secara, menyulut teori konspirasi selama ini. Bahwa, Prabowo mendapat informasi yang tidak utuh hingga diblokir dari para pembantunya di Kabinet Merah Putih. 

Bahkan, saya duga orang-orang terdekatnya kerap memberi info yang keliru. Kabar menyesatkan bahwa negara ini sedang baik-baik saja tidak seperti desakan masyarakat terkait Indonesia Gelap.



Faktanya, Prabowo menyangka demo yang dilakukan mahasiswa terkait RUU TNI itu sebagai aksi bayaran. 

Miris sih dengernya. Saya sampai menghela napas usai maraton nyimak diskusi Prabowo dengan jurnalis.

Namun, setelah menonton Sarah Sechan lebih detail, saya sedikit paham. Mungkin, -ini mungkin ya bisa saja asumsi saya keliru- banyak di Kabinet Merah Putih yang berjiwa ABS.

Asal Bapak Senang. 

Lapor yang bagus-bagus. 

Berita yang menyenangkan Prabowo.

Indonesia baik-baik saja.

Demo itu ada aksi bayaran.

Draft RUU TNI yang dipercaya masyarakat itu hoax.

Lebaran, harga pada turun mulai dari tiket pesawat, tol, hingga sembako.

Dll...

Apalagi, beredar rumor, Prabowo tidak pegang ponsel. Beda dengan SBY dan Jokowi yang meski punya admin, tapi tetap upload status di media sosial secara sendiri.

Bahkan, dalam sesi wawancara dengan jurnalis itu, Prabowo terkesan gagap teknologi (gaptek). Faktanya, ayah dari Ragowo Hediprasetyo Djojohadikoesoemo ini mengaku tidak tahu apa itu buzzer.

Saya enggan berspekulasi tentang ini. Bisa iya, juga bisa ga.

Hanya Prabowo sendiri dan Tuhan yang tahu.

Namun, saya ingat saat debat Capres 2019, Prabowo agak bingung saat ditanya Jokowi soal Unicorn. 

"Maksudnya yang online-online itu, iya?" kata Prabowo yang saat itu berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Aneh juga sih. Mantan jenderal bintang tiga yang punya banyak pasukan, pemilik partai tiga besar parlemen, dan kini jadi orang nomor satu di Indonesia, kok bisa gaptek.

Kalo faktor usia, bisa jadi. Namun, jika dikomparasi,  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang lima tahun lebih tua, masih aktif mencuit di X/Twitter.

Epilog, meski tidak punya ekspektasi tinggi pada Kabinet Merah Putih, tapi saya berharap Prabowo mampu melakukan gebrakan. Khususnya, yang berkaitan langsung dengan masyarakat.

Misal, penegakan hukum harus sama, tajam ke bawah dan juga atas. RUU Perampasan Aset disegerakan demi meminimalkan celah korupsi di antara pejabat.

Saya sempat memalingkan wajah saat Prabowo mengatakan apakah adil terhadap anak koruptor yang menderita akibat orangtuanya dihukum.

Duh, itu adil banget, Prabsky!

Bagaimana perasaan ratusan juta rakyat Indonesia yang masih di bawah garis kemiskinan akibat pejabatnya korup? 

Katanya, Anda mengagumi pemikiran Deng Xiaoping, sosok di balik kesuksesan Cina sejak 1980-an. Saat itu, Deng tega menghukum mati pejabatnya yang ketahuan korupsi.

Sementara, Anda? Malah kasihan kepada anak koruptor.

Hello...

Prabsky, Anda benar-benar hipokrit.

Jadi teringat twit seseorang pada 3 Oktober 2011, yang berbunyi, "Saya tidak bangga Indonesia dicap sebagai salah satu negara paling korup di dunia. Saya mendukung hukuman mati bagi koruptor."

Saya sudah 17 tahun mengagumi Anda. Namun, kesan gagah ala Prabsky berubah sejak 20 Oktober lalu.

Prabowo yang sekarang bukanlah seperti yang dulu lantang di podium. Kini, Prabsky yang saya kenal hanya seonggok tubuh tanpa semangat duduk di singgasana emas yang berada di menara gading...


*       *       *


- Jakarta, 11 April 2025


*       *       *


Artikel Terkait Politik: 


- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)


- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-gemoy-tapi-tangannya-berlumuran.html)


- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-presiden-2024-ganjar-mendagri.html)


- Anies adalah Liu Bei, Mega = Sun Quan, dan Jokowi = Cao Cao? (https://www.roelly87.com/2024/08/anies-adalah-liu-bei-mega-sun-quan-dan.html)


- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia


- 9 Naga dan 3 Capres


- Prabowo dan Kedaulatan Selera


- Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik


- Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona (https://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html)


- Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran...


- Manusia Lebih Anjing daripada Anjing


- Di Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil


- Jokowi, Sang Gubernur Gaul


- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif





Senin, 24 Februari 2025

Lulusan SMA Dibekali Senjata Itu Bernama Polisi

Lulusan SMA Dibekali Senjata Itu Bernama Polisi

Beberapa polisi jadi makmum saat salat berjamaah disela-sela tugas pertandingan
final Piala AFF 2016 antara Indonesia vs Thailand di Stadion Pakansari
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


TOT... 

Tet... tot... 

Ngiung...

Tet... Tot... Tet!

Ngiung... Ngiung...

Tot!

Demikian raungan sirine kendaraan polisi yang melintasi Jalan Prof. DR. Satrio, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Ditambah dengan strobo dan rotator nan gemerlip yang membuat silau pengendara lainnya.

Ini merupakan pemandangan yang lumrah bagi masyarakat di Indonesia, khususnya Jakarta. Termasuk, saya yang setiap hari bertemu polisi nan arogan di balik kemudi mobilnya atau sepeda motor pengawalan.

Hal yang sumpah, ga bisa ditoleransi. Serius.

Seperti yang saya tulis pada artikel sebelumnya, Lawan Arogansi di Jalanan: Jangan Pernah Benarkan Hal yang Salah! (https://www.roelly87.com/2023/04/lawan-arogansi-di-jalanan-jangan-pernah.html).

Mereka ini, baik polisi, TNI, menteri, wakil menteri, anggota DPR, MPR, DPD, pejabat BUMN, dan sebagainya, seperti merasa jadi orang penting.

Yaitu, enggan mengalah dengan masyarakat di jalanan. Inginnya didahukan. 

Seolah kalo mereka telat pulang ke rumah, negara ini bubar. Sampah!

Padahal, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 43 Tahun 1993  Pasal 65 ayat 1 (Sumber: https://polri.go.id/pengawalan-jalan), kendaraan pribadi pejabat, polisi, TNI, DPR, menteri, dan lainnya itu ga termasuk.

Cukup presiden dan wakil presiden saja. 

Hanya, fakta di lapangan ya TST. Alias, tahu sama tahu. Atau, TTPPTT (tahu tapi pura-pura tidak tahu).

Ironisnya, polisi yang jadi penegak hukum malah bangga sebagai yang utama dalam melanggar hukum. Hipokrit.


*        *        *


"MAMPUS kalian. Semoga pada ketabrak. Aamiin!"

"Sok-sokan dikawal maksa minta lewat. Kita aja rakyat harus antre. Ini mereka malah nyontohin ngelanggar lalu lintas."

"Emang apa yang diharapkan dari polisi. Cuma lulusan SMA yang dibekali senjata. Petentengan kayak jagoan."

"Dih... Gerombolan halodek. Najis!"

Begitu bunyi sumpah serapah nan merdu yang terdengar dari samping hingga belakang motor saya. Tepatnya, saat kami menunggu lampu merah untuk memberikan kesempatan kepada pejalan kaki yang melintas di Satrio.

Saat itu, ada beberapa mobil polisi yang menyalakan klakson minta kami untuk maju. Sungguh manusia ga tahu diri sih.

Pantas disumpahin masyarakat. Secara, udah tahu lampu merah dan ada pejalan kaki yang sedang menyebrang, eh ini malah maksa ingin lewat.

Ya Tuhan... 

Sungguh, saya ga rela bayar pajak mahal untuk menggaji mereka. Sumpah!

Untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 ini, salah satunya dengan reformasi kepolisian. Saran saya, untuk Presiden Prabowo Subianto -kalo mampu- dan pemimpin yang akan datang, agar memecat mayoritas pejabat tinggi polisi.

Minimal memutus dua generasi. Agar, ke depannya, citra kepolisian membaik.

Jika seperti ini terus, ya susah. Instansi yang identik dengan seragam cokelat ini jadi momok bagi masyarakat.

Serius.

Saya sering mengalaminya di jalan akibat dipaksa minggir demi mereka atau pejabat yang dikawal lewat. Padahal, saya bayar pajak, lho.

Mereka? Belum tentu!

Di media sosial (medsos), khususnya X -hingga kini saya lebih enak nyebutnya Twitter-, bahkan polisi tanpa malu iring-iringan lewat "jalur langit". Yaitu, jalur khusus Bus Transjakarta rute Tendean-Ciledug.

Padahal, sesuai namanya, jalur itu khusus Bus Transjakarta. Okelah, kendaraan lain boleh lewat. 

Namun, lingkupnya terbatas. Yaitu, hanya untuk pemadam kebakaran, ambulans, atau kendaraan pemberi pertolongan darurat.

Namun, ini bisa-bisanya mobil polisi enak melintasi jalur tersebut. Ga malu ya, kerap jadi trending topic di Twitter?

Kalo saya punya keluarga seperti itu, udah saya ceramahi. Digaji pakai pajak dari rakyat tapi kelakuannya justru merugikan.

Eh, baru ingat. Ternyata, akses masuk Bus Transjakarta rute Tendean-Ciledug ada Markas Besar Kepolisian (Mabes Polri) di Jalan Trunojoyo.

Pantes, kendaraan mereka sering ikutan bareng Bus Transjakarta. Ya, lumayan ketimbang bermacet ria di Jalan Ciledug Raya yang selalu ada proyek abadi, baik galian kabel, saluran, perbaikan jalan, atau pekerjaan lainnya.

Hidup Polisi.

Bayar Bayar Bayar!


*        *        *


SAYA nulis artikel ini bukan berarti benci terhadap polisi. No!

Saya merupakan pribadi yang objektif. Baik saya bilang baik. Buruk, jelas saya bilang buruk.

Itu yang saya lakukan dalam setiap tulisan, entah terkait klub favorit, Juventus, atau tentang Prabowo. (Artikel selanjutnya: Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya Segitu).

Artikel ini saya buat aebagai bentuk kritik yang membangun. Serius.

Saya udah mengkritisi polisi sejak lama lewat tulisan di blog. Bahkan, menyampaikan unek-unek disertai solusi yang membangun depan petingginya langsung!

Bisa dilihat pada Fanpage Divisi Humas Polri, berjudul Polisi Siap Dikoreksi (https://www.facebook.com/share/p/19zcBV4a9V). 

Itu terjadi saat mereka mengajak masyarakat, termasuk bloger untuk diskusi terkait citra negatif kepolisian pada 21 Mei 2013. Alias, sudah 12 tahun silam.

Kebetulan, sebagai bloger, saya kerap ikut diskusi atau acara berbagai instansi. Baik kepolisian, BNN, TNI, kementerian, BUMN, dan sebagainya.

Jadi, ketika saya berani kritik yang solutif secara langsung di hadapan Perwira Tinggi Kepolisian, termasuk yang bintang satu dan dua saat itu, mustahil saya ga mampu melakukan hal yang sama lewat tulisan.

Bagi saya, kalo ada pihak atau individu yang jelek ya dikritik dengan memberikan solusi. Kalo bagus, tentu diapresiasi. 

Sesimpel itu.

Secara, saya sering nulis kritik terkait kepolisian. Daftarnya bisa dilihat di bawah ini.

Untuk apresiasi? Banyak juga. 

Saya bukan tipe orang yang subjektif. Sebagai penggemar olahraga, saya berusaha untuk menjunjung sportivitas.

Termasuk, terkait kepolisian yang saya apresiasi untuk sikap responsif. Itu terjadi pada malam Natal saat ikut anggota Polsek Setiabudi, Jakarta Selatan, melakukan olah tkp penjambretan hp yang dialami penumpang saya (Sumber: https://www.instagram.com/p/DD919SmS50p/?igsh=bW14cjNjM29va3Js).

Atau, 29 Oktober lalu, ketika saya mengantar masyarakat yang dijambret ke Polsek Pademangan, Jakarta Utara (Sumber:  https://www.instagram.com/p/DBrkA1YTlnC/?igsh=MXQxOXZ5eTlhYXN4Nw==).

Juga, 22 November 2022, ketika menemukan wanita yang seperti linglung atau kehilangan sesuatu. Anggota Polsek Tamansari, Jakarta Barat, memberinya ongkos untuk pegangan sehari-hari sebelum saya antar ke dinas sosial (Sumber: https://www.instagram.com/p/ClPBugeysyd/?igsh=MTA4cXVxZTlhYnVsMA==).


*        *        *


SAYA tergelitik ketika mendengar umpatan pengendara lain terkait, "Emang apa yang diharapakan dari polisi. Cuma lulusan SMA yang dibekali senjata."

Cuma lulusan SMA?

Cuma?

Lulusan?

SMA?

Cuma lulusan SMA?

Sama dong.

Saya yang berprofesi sebagai ojek online (ojol) pun hanya lulusan SMA. Bahkan, banyak pekerjaan lain yang juga berasal dari jebolan sekolah tingkat menengah ke atas dan sederajat.

Emang, apa salahnya lulusan SMA?

Toh, Prabowo saja pendidikan formalnya hanya sampai SMA (Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2024/10/20/173731171/resmi-dilantik-jadi-presiden-ini-latar-belakang-pendidikan-prabowo-subianto). Lalu, orang nomor satu di Indonesia ini lanjut masuk Akademi Militer (Akmil) untuk jadi tentara. 

Prabowo merangkak dari bawah. Sisanya, sejarah yang melukiskan.

Pun demikian dengan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Listyo Sigit Prabowo yang hanya tamatan SMA (Sumber: https://beritadiy.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-705357772/biodata-dan-profil-lengkap-kapolri-jenderal-listyo-sigit-prabowo-pendidikan-keluarga-hingga-karier?page=all). Setelah lulus masuk Akademi Kepolisian (Akpol), itu cerita lain.

Ya, jebolan SMA ga berarti rendahan. Itu tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Pun dengan umpatan kepada rombongan polisi yang saya dengar itu. Mayoritas, masuk polisi ya dari SMA. 

Mereka merintis dari bawah untuk menapak karier. Ada yang lanjut menempuh pendidikan lagi seperti di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) dan lainnya.

Atau, cukup dengan ijazah SMA.

Ya, sah saja. Bebas.

Toh, hidup adalah pilihan.

Hanya, mendengar umpatan "Lulusan SMA dibekali senjata", saya jadi familiar dengan berbagai olok-olok di internet.

Serius.

Anda bisa searching di Google atau X. Masukkan kata kunci "Lulusan SMA dibekali senjata", nanti akan menemukan banyak hasil yang... Aduhai!

Gitulah!

Ini fakta ya. Saya ga mengada-ada atau malah menjurus fitnah.

Setiap artikel yang saya tulis di blog ini sejak kali perdana jadi bloger pada 2009 silam, tentu sudah melalui verifikasi. Saya selalu mencantumkan sumber yang kredibel.

Apalagi, kalo kita berselancar di medsos, khususnya X/Twitter, terkait polisi mayoritas negatif. Banyak warganet yang menumpahkan kekesalan kepada instansi yang memiliki motto, "Rastra Sewakottama atau Polri adalah Abdi Utama dari pada Nusa dan Bangsa" ini.

Entah malas lapor kehilangan motor, mobil, atau barang berharga lain akibat dimintain uang bensin. Lalu, warga asing diperas saat menonton konser.

Anggota polisi membunuh remaja di Sumatera Barat dan Jawa Tengah. Membiarkan oknum TNI membawa kabur mobil rental hingga menewaskan pemiliknya 

Dan, sebagainya.

Banyak banget. 

Saya sampai lelah menemukan berbagak sumber di berita dan medsos. Ini fakta.

Secara, mereka yang mengalami langsung. Bahkan, ada ujar-ujar, "Lapor polisi hilang kambing, bisa jual sapi."

Duh, miris banget saya.

-Kalo ada yang tersinggung, ya silakan. Namun, harus data dilawan data ya. Bukan malah melakukan ancaman-

Jangan sampe saya punya masalah dengan kepolisian. Sumpah, ribet banget dah.

Sejauh ini sih, ga. Tepatnya belum.

Eh, udah deh. Itu terjadi enam tahun silam (Selengkapnya: Pengalaman Berurusan dengan Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat/https://www.roelly87.com/2016/12/pengalaman-berurusan-dengan-kejaksaan.html). Ketika itu, polisi yang menilang saya salah mengenakan pasal.

Namun, ya udah. Secara, saat itu saya memang melanggar, kendati harusnya dikenakan pasal 293 malah pasal 291. 

Jadi, tanpa banyak cincong, saya pun oke gas. 

Oke gas... Padahal gas langka gara-gara pejabat ga kompeten!

Hidup #IndonesiaCemas2045!

Ha.. Ha.. Ha...


*        *        *


LULUSAN SMA dibekali senjata melawan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan tinggi untuk mengubah masa depan negeri ini agar lebih baik.

Demikian narasi yang ramai di medsos dalam sepekan terakhir. Ditambah dengan tagar yang sukses memantik semangat mahasiswa dan masyarakat di penjuru Tanah Air.

#IndonesiaGelap.

#KaburSajaDulu.

#KamiBersamaSukatani.

Tagar terakhir terkait intimidasi polisi kepada band Sukatani yang lagunya berjudul "Bayar Bayar Bayar" sangat viral. Hasilnya, dua anggotanya meminta maaf yang disampaikan lewat video.

Medsos pun pecah. Segenap lapisan masyarakat turut mem-bully polisi.

Saya pun ikut mengutuk intimidasi itu!

Banyak yang menilai, tindakan represif aparat benar-benar mengekang kebebasan berpendapat. Apalagi, sebelumnya sudah ada pelukis yang gagal menggelar pameran akibat dinilai sangat sensitif.

Aneh sih.

Menurut saya, aparat kepolisian ini seperti ga belajar dari kesalahan masa lalu. Harusnya musisi, seniman, dan lainnya itu jangan dibatasin.

Itu kan hasil karya. Lagu dan lukisan merupakan perpanjangan ide sang pembuat berdasarkan keseharian masyarakat.

Misalnya, banyak berita mengenai masyararakat yang harus jual sawah untuk masuk polisi. Bahkan, level menengah polisi pun ditipu sesama polisi saat mau naik jabatan. (Sumber: https://medan.kompas.com/read/2025/02/23/042300478/polisi-diduga-tipu-polisi-rp-850-juta-di-sumut-modus-janjikan-lulus-sekolah?page=all)

Faktanya, justru mereka dibungkam. Sebaliknya, pengusaha yang merugikan masyarakat malah dibela.

#IndonesiaTerbalik.

#Hipokrit.

Nah, biasanya setelah badai, bakal ada pelangi. Eh, salah.

Yang benar, setelah badai, nongol pahlawan kesiangan. Misal, terjadi saat Prabowo tampil meluruskan kenaikan PPN 12% dan langkanya gas.

Pada kasus Sukatani, muncul Kapolri yang menjelma bak superhero. Ya, Listyo menawarkan anggota band punk itu untuk jadi duta Polri. (Sumber: https://www.tempo.co/hukum/kapolri-listyo-sigit-tawarkan-band-sukatani-jadi-duta-polri-1211020)

Tujuannya sih, menurut saya sangat mulia. Yaitu, Listyo ingin Sukatani jadi duta atau juri untuk Polri demi koreksi dan perbaikan terhadap institusi.

Hmm...

Saya kok mencium bau amis, ya?

Bagi saya, pernyataan itu merupakan puncak komedi. Hello!

Harusnya, kalo ditawarkan jadi duta itu, sebelum adanya intimidasi. Jika sudah kejadian, ya buat apa?

-Penyesalan itu selalu belakangan. Kalo duluan namanya pendaftaran. Btw, masuk polisi emang daftarnya bayar?-

Serius. Berdasarkan pengalaman banyak warganet, usai diintimidasi itu pasti masih membekas.

Tidak hanya luka fisik saja. Melainkan, mental pun bisa terganggu.

Saya ga membayangkan ketika dua personel Sukatani ditanya-tanya anggota Polda Jawa Tengah. Pasti, mereka tersiksa sekali.

Dan, dengan entengnya sekelas Kapolri langsung menawarkan Sukatani jadi duta. Ini seperti ingin menghapus kemarau setahun dengan hujan semalam.

Tolong ya, pak Kapolri yang terhormat. Anda harus terjun langsung untuk melihat dan mendengar keluhan masyarakat terkait buruknya kinerja kepolisian.

Anda dan para petinggi Polri tidak bisa hanya duduk nyaman di puncak menara gading bertakhtakan permata di Trunojoyo. Sebab, para anggota di bawah kalian, termasuk yang level bawah seperti Polsek itu sangat buas dan brutal.

Kalau berkenan, saya siap mengantar Anda untuk melihat langsung di jalanan. Betapa banyak pungli dan pemerasan yang dilakukan polisi kepada masyarakat dari pemilik usaha hingga pengguna jalan.

Hanya, tawaran saya ini ga gratis. Serius.

Ogah banget saya harus memberi tumpangan cuma-cuma. Secara, Anda digaji tinggi dari pajak masyarakat, termasuk saya.

Apalagi, saya juga kalo mau ke Mabes Polri, kena parkir. Ada kang parkir berompi biru entah liar tapi dipelihara kalian, sudah menunggu setiap mobil atau motor yang masuk.

Bahkan, di Polda Metro Jaya aja, parkir motor ga sampe lima menit dikenakan Rp 4.000! (Sumber: https://www.instagram.com/p/CySufvYSaeD/?igsh=OGdkdndhcnFudGJs). 

Itu motor ya. Kalo mobil tentu jauh lebih mahal.

Slogan 3M (melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat) cuma sebatas template. Gimana warganya mau lapor, baru mau masuk gedungnya aja udah mikir akibat tarif parkirnya mahal.

#BayarBayarBayar


*        *        *


- Jakarta, 24 Februari 2025


*        *        *


Artikel Terkait Polisi: 


- Polri Ultah ke-78, Maaf Mahkota Kalian Masih Transit di DC Cirebon (https://www.roelly87.com/2024/06/polri-ultah-ke-78-maaf-mahkota-kalian.html)


- PSK dan Gigolo Lebih Mulia daripada Kang Parkir Liar (https://www.roelly87.com/2024/08/psk-dan-gigolo-lebih-mulia-daripada.html)


- Wabah Pak Ogah Merajalela, Polisi Bisa Apa? (https://www.roelly87.com/2024/04/wabah-pak-ogah-merajalela-polisi-bisa.html)


- Anak Perwira Dijambret di Samping Polda Metro Jaya (https://www.roelly87.com/2024/03/anak-perwira-dijambret-di-samping-polda.html)


- ?


- Bersama Polri Sebarkan Berita Baik demi Suksesnya Asian Games 2018 (https://www.roelly87.com/2018/06/bersama-polri-sebarkan-berita-baik-demi.html)


- Pengalaman Berurusan dengan Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat (https://www.roelly87.com/2016/12/pengalaman-berurusan-dengan-kejaksaan.html)


- Sinergi BNPT dan Blogger untuk Cegah Terorisme Melalui Tulisan (https://www.roelly87.com/2016/07/duta-damai-dunia-maya-bnpt-2016.html)


- Buwas yang Kian Buas: BNN Gagalkan Transaksi Sabu 39,6 Kg (https://www.roelly87.com/2016/04/buwas-yang-kian-buas-bnn-gagalkan.html)


- (Esai Foto) Jakarta Metropolitan Police Expo 2016: Demi 3M untuk Masyarakat (https://www.roelly87.com/2016/04/jakarta-metropolitan-police-expo-2016.html)


- Sisi Lain Krishna Murti: Catatan Polisi di Mata Blogger (https://www.roelly87.com/2016/03/sisi-lain-krishna-murti-catatan-polisi.html)


- Sisi Lain Budi Waseso (Buwas): Pasukan Khusus, Ceplas-ceplos, dan Kritik Feodalisme di Kalangan Pejabat (https://www.roelly87.com/2015/10/sisi-lain-budi-waseso-buwas-pasukan.html)


- (Esai Foto) Membongkar "Rahasia" Bea Cukai (https://www.roelly87.com/2015/11/membongkar-rahasia-bea-cukai.html)


- HUT Polantas ke-60: Dengarlah Aspirasi Masyarakat untuk Bersama Mengurai Kemacetan (https://www.roelly87.com/2015/09/hut-polantas-ke-60-dengarlah-aspirasi.html)


- Komitmen Slank Rela Tidak Dibayar untuk Konser Anti Narkoba (https://www.roelly87.com/2015/06/komitmen-slank-rela-tidak-dibayar-untuk.html)


- Sinergi BNN dan Blogger untuk Mengatasi Darurat Narkoba (https://www.roelly87.com/2015/05/sinergi-bnn-dan-blogger-untuk-mengatasi.html)


- Profil Anang Iskandar: Calon Kapolri yang Merupakan Blogger Aktif (https://www.roelly87.com/2015/02/profil-anang-iskandar-calon-kapolri.html)


- Presiden dan Kepala BNN Kompak: Bandar Narkoba harus Dihukum Mati! (https://www.roelly87.com/2015/02/presiden-dan-kepala-bnn-kompak-bandar.html)


- Ketika Polwan Meliuk-liuk di Atas Moge (https://www.roelly87.com/2013/12/ketika-polwan-meliuk-liuk-di-atas-moge.html)


- Nangkring Bareng KemenPU dan Sorotan "Proyek Abadi" Pantura (https://www.kompasiana.com/roelly87/54f76c86a33311a8368b47fc/nangkring-bareng-kemenpu-dan-sorotan-proyek-abadi-pantura)


- Kenapa Harus Blogger yang Kampanye? (https://www.kompasiana.com/roelly87/54f8185ca333113b618b4942/kenapa-harus-blogger-yang-kampanye)


- Pengalaman Sehari di Mabes Polri (https://www.kompasiana.com/roelly87/552bbed46ea834027a8b45e1/pengalaman-sehari-di-mabes-polri)


- Benarkah Polisi Segan dengan Dosen, Tentara dan Wartawan? (https://www.kompasiana.com/roelly87/550e82d7a33311a92dba815d/benarkah-polisi-segan-dengan-dosen-tentara-dan-wartawan)


- Ketika Polisi Juga Manusia Biasa Seperti Kita (https://www.kompasiana.com/roelly87/550e06a4813311be2cbc6153/ketika-polisi-juga-manusia-biasa-seperti-kita)


- Kucing-kucingan Antara Pengendara dan Penjaga Jalur Busway (https://www.kompasiana.com/roelly87/550d79d08133116d2cb1e337/kucing-kucingan-antara-pengendara-dan-penjaga-jalur-busway)


- Polisi Menggugat (https://www.kompasiana.com/roelly87/550bb640a33311d81a2e39ce/polisi-menggugat)


- Tidak Semua Polisi Berperilaku Kurang Baik (https://www.kompasiana.com/roelly87/550b8fb4a333119c1e2e3db8/tidak-semua-polisi-berperilaku-kurang-baik)


- Masyarakat Tidak Boleh Melewati Jalur Busway, Kalau Aparat? (https://www.kompasiana.com/roelly87/masyarakat-tidak-boleh-melewati-jalur-busway-kalau-aparat_550ac82ea333119b1e2e3a7d)




- P


-



Senin, 11 Desember 2023

Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah

Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah

Foto: @roelly87



PEMILIHAN Presiden (Pilpres) 2024-2029 akan didominasi suara generasi milenial. Menurut data, mencapai 55-60 persen. 

Saya jelas bukan masuk kalangan tersebut. Sebab, lahir akhir 1980-an.

Namun, tetap saya merasa masih muda. Ya, minimal relevan dengan situasi terkini.

Termasuk, saat mencermati Pilpres. Meski, ini bias. 

Pasalnya, saya merupakan penggemar Prabowo Subianto yang jadi capres nomor urut 2 berpasangan dengan Gibran Rakabuming. Seperti beberapa artikel yang sudah saya tulis sebelumnya, kemungkinan besar saya akan memilih eks Danjen Kopassus tersebut pada 14 Februari mendatang.

Tentu, saya ga 100% pasti mencoblosnya. Melainkan, hanya 99%.

Ya, saya selalu menyisakan ruang dalam pilihan. Ada GBHN untuk Pilpres 2024

Alias, Garis Batas Haluan Nyoblos. Hingga valentine mendatang, apa pun bisa terjadi.

Termasuk, jika Prabowo melakukan blunder fatal. Atau, inkonstitusional.

Bahkan, makar hingga kudeta. Kemungkinan seperti itu memang kecil. 

Namun, dalam hidup, apa pun bisa terjadi. Khususnya, untuk kontestasi pilpres yang menyisakan jarak dua bulan lagi. 

Maklum, sepanjang lebih dari sepertiga abad berada di muka bumi ini, saya memang jarang percaya penuh kepada seseorang. Apalagi, kali terakhir saya percaya, saya nyaris kehilangan segalanya.

Itu mengapa, saya mentok di angka 99% untuk mencoblos Prabowo. Sisanya, terbagi antara Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo.

Untuk Anies, saya sudah kenal lama. Maklum, KTP saya DKI Jakarta. 

Bahkan, 2017 lalu saya mencoblosnya. Itu berkat adanya Prabowo di belakang Anies.

Meski, secara hati, saya cenderung memilih Basuki Tjahaja Purnama. Bisa dipahami mengingat saya juga penggemar Ahok.

Bahkan, saya menilai, meski singkat,  kepemimpinan Basuki di ibu kota sangat bagus. Tegas dan betul-betul kerja.

Bukan berarti periode Anies jelek. Sebab, banyak juga inovasi dari sepupu Novel Baswedan ini yang sangat saya apresiasi.

Mulai dari integrasi angkutan umum, seperti Jaklingko, hingga dihapusnya larangan sepeda motor melintasi Jalan Sudirman-Thamrin. 

Sementara, untuk Ganjar, terus terang saya kurang begitu mengenalnya. Kendati untuk partainya, PDI Perjuangan, saya turut mengapresiasi.

Khususnya, tiga kader. Yaitu, Effendi Simbolon, Adian Napitupulu, dan Bambang "Pacul" Wuryanto.  

*      *      *

KESAN tegas, wibawa, hingga kaku terhadap Prabowo yang selama ini melekat seolah luntur. Berganti jadi gemoy.

Alias plesetan dari gemas atau menggemaskan. 

Saya pribadi sempat mengernyitkan dahi ketika tahu Prabowo berubah 180 derajat. Kini, gimmick-nya jadi gemoy dan suka joget.

Dua jempol untuk tim sukses dan deretan konsultannya yang berhasil mengubah sosok gahar Prabowo pada 2014 dan 2019. Sekarang, kalo dilihat di media, baik arus utama maupun sosial, berganti jadi gemoy dan lucu.

Ini mengingatkan saya terhadap Presiden Filipina Bongbong Marcos. Saat kampanye pilpres 2022 lalu, ia menggandeng Sara Duterte, putri presiden sebelumnya, Rodrigo Duterte.

Bongbong memanfaatkan betul perkembangan teknologi dalam menggaet pemilih muda di pilpres Filipina. Termasuk, media sosial yang memang jadi santapan sehari-hari generasi milenial, khususnya Tiktok.

Dalam kampanyenya, Bongbong meromantisasi keberhasilan ayahnya, Ferdinand Marcos (Presiden Filipina 1965-1986). Yaitu, keberhasilan Filipina saat dipimpin Ferdinand kepada generasi milenial yang memang belum lahir.

Alhasil, Bongbong pun dapat suara mayoritas anak muda. Tidak tanggung-tanggung, kemenangannya sangat telak.

Bingbong meraih 58,7% suara. Jauh mengungguli rival terdekatnya, Leni Robredo (27,9%) yang sebelumnya diunggulkan terkait ketidakpuasan rakyat Filipina atas kepemimpinan Duterte.

Sementara, legenda hidup tinju Filipina, Manny Pacquiao, berada di urutan ketiga dengan 6,8%.

Alhasil, saya pikir, timses dan konsultan politik Prabowo pun mencoba untuk ATM. Amati, tiru, dan modifikasi cara Bongbong di Filipina untuk diterapkan di Tanah Air.

Sejauh ini, usaha mereka berhasil. Dalam beberapa survei, Prabowo selalu memimpin dibanding Ganjar dan Anies.

Teranyar, berdasarkan Lembaga survei Indikator Politik Indonesia, Sabtu (9/12). Prabowo unggul dengan 45,8% diikuti Ganjar (25,6%), dan Anies (22,8%).

Ini menarik, mengingat Prabowo dan Gibran belum full attack dalam kampanye. Maklum, keduanya masih menjabat dalam pemerintahan. 

Alias, hanya mengambil cuti kerja pada Sabtu, Minggu, dan hari libur saja untuk kampanye. Bandingkan, dengan Ganjar dan Anies yang rutin keliling Indonesia.

Epilognya, perubahan sikap Prabowo yang kini jadi gemoy memang sangat berdampak terhadap masyarakat, khususnya generasi milenial. Nah, apakah apakah mandat langit akan hinggap di Kertanegara, itu cerita lain.

*      *      *

MALAM itu, rinai masih membasahi ibu kota. Usai mengantar orderan dari salah satu aplikasi online di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, saya pun melajukan sepeda motor dengan konstan.

Sambil, melihat suasana jalanan yang cukup ramai. Pada saat yang sama, di atas tampak langit masih kelabu.

Maklum, hujan belum benar-benar reda. Alias, tetesan air pun masih menggelayuti helm yang saya pakai.

Saya pun istirahat sejenak sambil menyulut asap kehidupan ditemani segelas kopi hitam. Dari sisi jalan tampak berjejer spanduk, baliho, dan billboard peserta pilpres 2024.

Termasuk, Prabowo-Gibran yang sangat mendominasi. Kalau saya tidak salah, ada tujuh billboard pasangan capres-cawapres nomor urut dua itu sepanjang Jalan Warung Jati Barat-Buncit Raya-Mampang Prapatan Raya.

Itu belum termasuk spanduk, baliho, atau poster yang ditempel di pohon dan tiang listrik. Tentu, saya ga hitung. 

Yang pasti, alat peraga kampanye Prabowo-Gibran paling banyak dibanding Ganjar-Mahfud MD dan Anies-Muhaimin Iskandar. (Baca: 9 Naga dan 3 Capres)

Nah, dibanding dua capres tersebut, APK Prabowo-Gibran ini paling bervariasi. Mulai dari pose hingga penggunaan teknologi AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan.

Dalam beberapa gambar yang saya amati, tampak Prabowo-Gibran mengenakan kemeja biru. Berpadu dengan dasi kupu-kupu berwarna merah yang ikonik.

Sungguh, keren banget. Gemoynya dapat.

^_^

Wajar jika banyak anak muda yang mengidolakan Prabowo. Apalagi, keberadaan Gibran sebagai cawapres yang masih 36 tahun seolah jadi representasi generasi muda.

Terbukti, di media sosial, seperti facebook, instagram, twitter, youtube, hingga tiktok, pasangan nomor urut dua itu kerap trending. Gemoy plus muda bersatu.

:)

Hanya, memilih presiden dan wakil presiden, tidak cukup dengan gimmick. Rekam jejak wajib dikuliti.

Sebagai penggemar Prabowo, tentu saya sudah tahu masa lalunya. Berlumuran darah terkait penculikan aktivis jelang reformasi. 

Pun demikian dengan Gibran yang terkesan nepotisme. Kendati, ada sanggahan yang memilih nanti rakyat.

Nanti...

Namun, kita harus kritis. Jadi penggemar bukan berarti sebagai kerbau yang dicocok hidungnya.

Bagaimana dengan rekam jejak dua pasangan lain? Ya, 11/12.

Alias, serupa tapi tak sama.

Ganjar identik sebagai petugas partai. Belum lagi dengan insiden Wadas dan batalnya Piala Dunia U-20

Mahfud kerap inkonsistensi. Sebagai  Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) adakalanya melempar isu di luar kewenangan.

Anies? Gubernur pilihan saya. He he he.

Jakarta di bawah kepemimpinan Anies cukup baik. Namun, masih jauh di bawah ekspekatasi saya, khususnya dalam penanganan banjir dan macet.

Muhaimin? Cocok jadi pemimpin dalam beberapa tahun ke depan. 

Gayanya luwes. Paling asyik diantara lima peserta capres-cawepres 2024.

Hanya, Cak Imin terkendala isu terkait pelengseran Gusdur di Partai Kebangsaan Bangsa (PKB). Noktah ini yang sangat mengganjal. 

Khususnya, pencinta Gusdur. Cak Imin ini menurut saya, oportunis. Jika diibaratkan pesepak bola ya, Filippo Inzaghi.

Konsklusinya terkait capres-cawapres 2024 ya tergantung selera. Jika saya yang sudah ikut nyoblos sejak 2014, tentu punya pilihan sendiri.

Nah, bagi generasi milenial yang baru kali pertama kali ikut pilpres, wajib menyimak berbagai rekam jejak dari sang calon. Jangan percaya dengan gimmick di medsos. 

Pasalnya, itu sudah dipoles sedemikian rupa. Harus kritis dalam menentukan pilihan.

Sebab, itu akan menentukan nasib Indonesia dalam lima tahun ke depan.

Selanjutnya, siapa pun nanti yang terpilih, baik calon nomor urut 1, 2, dan 3, itu adalah Presiden Indonesia.***

*      *      *

- Jakarta, 11 Desember 2023

*      *      *

Artikel Sebelumnya:







Artikel Selanjutnya:

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (Bumi 666)

- (What If) Prabowo Kalah Lagi







Selasa, 07 November 2023

Prabowo dan Kedaulatan Selera

Prabowo dan Kedaulatan Selera

ilustrasi buku @roelly87


"WOOOOI, anteng banget bro. Main slot lo ya?"

"Ebuset. Gw lagi mantengin pertandingan AR Roma versus Lecce. Seru banget. Bener-bener detik terakhir menangnya."

"Lukaku ngegolin lagi?"

"Yongkru. Tadi sempat error dia, penalti ga masuk. Untung pas injury time berbalik jadi pahlawan."

"Gokil emang tuh 'Big Rom'. Efek Mourinho bikin doi gacor. Btw, lo kan Juventini, ngapa mantengin Roma. Udah murtad ye?"

"Asem! Gw dari 94 udah Juventini. Nyimak pertandingan Roma karena ada Mourinho sama Dybala aja."

"Ooh... Kirain, lo udah ninggalin 'Si Nyonya Tua' ke pelukan 'Serigala Ibu Kota'."

"Dih... Ogah."

"Ha ha ha."

Demikian percakapan antara gw dan Kemumaki di salah satu kedai kopi di Grey District, Jakarta. Tempat nongkrong yang strategis bagi warga ibu kota dengan harga makanan dan minuman murah meriah.

Selain gw dan Kemumaki, ada Dekisugi dan Kuririn juga yang asyik mengganyang makanannya masing-masing. Kami berempat memang kerap nongki-nongki di kedai ini sambil membicarakan banyak hal.

Mulai dari sepak bola, musik, hingga politik. Apalagi, jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, obrolan kami kian seru.

Kemumaki merupakan die hard-nya Ganjar Pranowo. Sementara, Dekisugi sangat militan dengan Anies Baswedan. Demikian dengan Kuririn yang sejak lama jadi simpatisan Prabowo Subianto.

Gw? Sekadar penggemar Prabowo. Alias, makhluk bebas yang tidak punya kepentingan apa pun terkait tiga capres tersebut.

"All, gw cabut dulu ya," kata Kuririn yang bersiap memakai sepatu.

"Kemane lo? Masih sore gini," Kemumaki menimpali.

"Jangan mampir ke 'warung sebelah' ya," gurau Dekisugi.

"Gelo. Dia ga mampir, tapi udah punya kartu langganan," gw menambahkan.

"Anjir lo pada. Kalian kira, gw cowo apaan," tutur Kuririn. "Dah, ah. Gw cabut. Pagi mau ke Bandung, 'ada proyek' biasa."

"Bawa oleh-oleh ya. Sekalian bayarin pesanan kita-kita ini."

"Nitip 'peuyeum'."

"Tanyain tipis-tipis ya, 2024, Jabar siapa yang maju."

"Au... Ah gelap!" Kuririn ketawa sambil mengacungkan dua jari tengahnya usai membayar pesanan kami ke kasir.

Obrolan khas bapak-bapak memang jadi santapan sehari-hari bagi para penghuni kedai kopi ini. Maklum, pengunjungnya heterogen. Termasuk, profesi dari yang serabutan, calo, pebisnis, politikus, akademisi, hingga penegak hukum.

Apalagi, lokasinya di Grey District yang sesuai dengan penamaannya: Abu-abu.

Ya, berbeda dengan Red District yang juga udah lama gw kenal. Di kawasan itu, semua sudah jelas. Mayoritas penghuninya terbagi antara hitam dan putih. 

Ada garis batas antara kawasan hitam yang dipenuhi pelacuran, perjudian, hingga narkoboy dengan warga. Ada yang tidak percaya Tuhan. Namun, di sebelahnya banyak yang sangat taat dengan Tuhan.

Sementara, Grey District ini semua jadi satu. Bahkan, mungkin penghuninya bisa merasa jadi Tuhan. 

Itu karena hitam dan putih bercampur. Tidak ada yang benar-benar jahanam. Pada saat yang sama, enggan jadi orang suci.

Grey District ini memang sangat unik. Sudah lama disorot banyak pihak. Baik ulasan media arus utama atau media sosial. 

Namun, sejauh ini penghuninya kompak. Jika ada orang luar yang mengusik, mereka langsung bertindak: Hantam dulu, bicara kemudian.

Konon katanya, mereka sudah bersikap seperti itu sejak zaman penjajahan. Penghuni di sana kerap merepotkan Belanda, Jepang, Inggris, dan para pengkhianat bangsa. 

Bahkan, jadi inisiator bersama para pahlawan dalam mempertahankan Tanah Air saat perang kemerdekaan, masa bersiap, gerakan September, hingga 1998 silam.

Salah satu petinggi aparat yang berwenang di negeri ini pun sudah mahfum. Misalnya, isu-isu minor yang berkaitan dengan dunia bawah tanah.

"Ya, kami TTPPTT aja lah. Yang penting, warganya sangat berkontribusi," ujarnya dalam suatu FGD. Alias, tahu tapi pura-pura tidak tahu.

Bisa dipahami mengingat Grey Area ini penghuninya sangat keras. Bahkan, mereka menolak tegas kehadiran ormas-ormas menjijikan yang kerjanya memeras rakyat jelata. 

Dibuktikan dengan tidak adanya spanduk, baliho, dan sebagainya. Termasuk, bebas parkir liar di setiap ruko atau restoran.

Sementara, untuk pemilu, baik pilpres maupun partai politik, mereka menyambut dengan senang hati. Termasuk, 2024 nanti yang terbagi dengan tiga kubu.

*       *       *

"BRO, lo gabung Kuririn yang sekarang udah masuk Ring tujuhnya Prabowo," teriak Dekisugi yang suaranya terdengar sayup-sayup akibat bertepatan dengan lewatnya kereta api.

"Ogah. Untuk saat ini, masih pengen bebas."

"Bagus bro, ga usah ikut-ikutan. Dekisugi aja 2019 barengan Kuririn. Eh sekarang pecah kongsi. He he he," Kemumaki, menimpali.

"Biasa kawan, politik itu dinamis. Bisa jadi di putaran kedua, jagoan lo butuh suara dari Prabowo. Kalo Amin kan udah pasti lolos putaran pertama."

"Idih... Yakin bener. Survei aja mentok 20 persen."

"Ya, liat aja nanti pas valentine. Ya kan bro?" ujar Dekisugi meminta dukungan ke gw. Meski sambil ngobrol, tapi mulutnya aktif mengganyang mie instan campur nasi putih dan telur dadar.

"Ya, kalo gw sih, siapa aja yang menang bodo amat. Gw ke Prabowo sebatas penggemar. Kalo menang bagus, kalah pun ga masalah," jawab gw, sok diplomatis.

"Anjir, jawaban lo sok politikus. Wkwkwkw."

"Tapi ini kita ngobrol aja ya. Kalo Kuririn ga usah dibahas, soalnya udah masuk Rute Solo, alias bukan 'jalur H atau D'. Nah, lo ini kan ibaratnya swing voters, alias sekadar penggemar Prabowo tapi belum tentu nyoblosnya," Kemumaki, melanjutkan.

"Sementara, gw udah jelas. Ganjar itu punya prestasi usai 10 tahun jadi Gubernur Jawa Tengah. Begitu juga jagoan Dekisugi yang pengalaman mimpin Jakarta 2017-2022. Nah, pengalaman Prabowo baru sebatas Menteri Pertahanan aja. Bedain sama waktu tentara ya. Itu juga terakhir 1998 silam. Apalagi, doi kan penculik. Aneh sih, kalo gw jadi lo. Nah, pertanyaan gw, apa alasan lo milih Prabowo?"

Pertanyaan Kemumaki membuat Dekisugi yang sebelumnya lahap mengunyah mie langsung serius menatap gw. Keduanya, seperti para hakim yang memberi vonis hukuman mati dalam persidangan.

"Woi, pertanyaan lo serem banget, anjir. Gw berasa jadi terpidana. Ha ha ha."

"Tapi gw setuju sama Kemumaki nih bro. Jadi pinisirin denger jawaban lo," kata Dekisugi sambil meletakkan sumpit ke atas mangkuk dengan khidmat.

"Minta rokok lo Kem, asem. Sebats dulu," lanjutnya. "Anjir, ini rokok apaan. Mereknya aneh. Seumur-umur jadi 'ahli hisap' gw baru liat nih rokok."

"Udah pake aja. Sejak Corona, emang rokok yang beredar aneh-aneh. Gw cari yang bukan merek terkenal biar murah tapi tetap harus ada cukainya supaya pemerintah dapat pemasukan," tutur Kemumaki.

"Sama bjir. Gw juga ganti rokok dari merek satu huruf ke yang ga jelas ini," kata gw terkekeh menunjukkan sebungkus rokok berwarna hitam.

"Rokok kalian aneh ya. Padahal mau pilpres, momen cuan nih," Dekisugi menjawab seraya menyalakan rokok dengan korek kayu. 

Makhluk satu ini memang konservatif banget. Di saat korek gas atau cricket sudah lumrah, eh doi tetap setia dengan korek kayu yang kalau dinyalakan harus digesek lebih dulu.

"Eh bro, bener kata Kemumaki. Gw pinisirin sama jawaban lo."

"Anjay, dibahas lagi."

"Yoi, bro. Kalo pilihan gw, Ganjar, dan Anies sebagai jagoan Dekisugi udah jelas. Nah, lo gimana?"

"Ga gimana-gimana Kem. Ini soal selera aja. Gw menggemari Prabowo dari perbawanya sejak 2008. Udah itu aja."

"Prestasinya yang nol? Dipecat dari militer?" Kemumaki, menimpali.

"Capres abadi?" tambah Dekisugi, sarkas.

"Woi... Kalian berdua detail amat. Kalo Prabowo ini soal kedaulatan selera. Subyektif. Sama kayak penggemar fotografi, ada yang dari dulu nyaman dengan Nikon atau Canon. Atau di sepak bola, Kota Manchester terbelah jadi merah dan biru.

Begitu juga di dunia kuliner. Misalnya, lo pada doyan bubur diaduk atau ga diaduk? Kan kembali ke selera masing-masing."

"Gw diaduk sih," jawab Kemumaki.

"Gw mah ga diaduk. Geli anjir, kalo makan bubur diaduk gitu," Dekisugi, menimpali.

"Kalo gw mah bebas. Yang penting ga pake seledri sama kacang," ucap gw.

"Si oneng, jadi bahas makanan. Dah lanjut, pertanyaan gw tadi," kata Kemumaki.

"He he he. Apa ya? Oh soal kedaulatan selera? Ya itu. Meski banyak stigma negatif tentang Prabowo, tapi kalo udah suka ya mau gimana lagi. Ya, sekali lagi. Sekadar menggemari. Ga harus mati-matian membela doi. Sama kayak gw sebagai Juventini. Kalo Juve menang, bagus. Andai kalah, yo wis. Mau gimana lagi. Yang penting, gw tetao cinta Juve sejak 1994.

Terus, ke kalian ini dan Kuririn yang aktif sebagai simpatisan. Emang kalo Ganjar atau Anies menang, lo berdua bakal dilirik jadi menteri? Ga, kan. Jadi, ya kita harus punya garis batas. Jangan berlebihan dalam menyukai sesuatu."

Kemumaki menghisap dalam-dalam rokoknya usai mendengar penuturan gw. Pada saat yang sama, Dekisugi asyik memainkan sumpit layaknya stik drum yang diadu ke mangkuk.

"Dah ah, pembahasan politik bikin gw laper. Mau nambah seblak nih di seberang."

"Bro, gw nitip satu ya."

"Anjir, lo tadi udah makan mie pake nasi sama telor masih kurang aja," timpal Kemumaki.

"Kedaulatan selera, Kem. Tadi kan makan, kalo seblak ini ngemil."

"Gw nungguin uduk Mpok Gayong aja subuh nanti."

"Ha... Ha... Ha..."***

*       *       *

- Jakarta, 7 November 2023

Artikel Sebelumnya:







Artikel Selanjutnya:

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (Bumi 666)

- (What If) Prabowo Kalah Lagi

Jumat, 29 September 2023

Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit

Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit

Ilustrasi: twitter @roelly87


PEMILIHAN Umum (Pemilu) 2024 tinggal menghitung hari. Tepatnya, diselenggarakan 14 Februari mendatang untuk memilih calon anggota dewan (DPR, DPD, dan DPRD), serta presiden. 

Ini merupakan pemilu kelima yang saya ikuti sejak kali pertama punya KTP. Sekaligus, yang ketiga beruntun untuk mencoblos sosok yang sama dalam pilpres.

Yaitu, Prabowo Subianto. 

Ya, saya sudah memilih beliau pada pilpres 2014 dan 2019 lalu. Keduanya, kalah dari Joko Widodo (Jokowi).

Pada 2009, saya juga mencoblos Prabowo. Namun, saat itu doi sebagai wakil mendampingi Megawati Soekarnoputri. Kalah juga, dari incumbent Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sementara, pada 2004 yang merupakan pilpres langsung perdana di Tanah Air, calon presiden (capres) pilihan saya juga kalah. Kadang, jadi bingung. 

Setiap sosok yang saya coblos, kok selalu keok. Rekornya dari 2004 hingga 2019, skor 0-4!

Namun, ya ga apa-apa. Ini negara demokrasi. Setiap warganya bebas menentukan hak dalam pilihan. 

Termasuk bagi saya, kalah atau menang itu biasa. Namanya juga hidup, ga semua yang kita inginkan bisa terwujud. 

Misalnya, dalam sepak bola. Saya merupakan penggemar Juventus sejak 1994. 

Hampir 30 tahun ini, saya menyaksikan "Si Nyonya Besar" enam kali melangkah ke final Liga Champions. Hasilnya, sekali juara dan berujung lima runner-up beruntun.

Itu terjadi pada 1996/97, 1997/98, 2002/03, 2014/15, dan 2016/17. Bahkan yang terakhir, saya menyaksikan langsung Juve dikecundangi Real Madrid 1-4!

Tepatnya, di Stadion Millennium, Cardiff  Wales, 3 Juni 2017. Suka dan duka pun berkecamuk saat jadi bagian dari 65 ribu penonton.

Sudah jauh-jauh terbang ke Negeri Paman Charles, eh Juve malah keok. Julukan Badut Eropa pun kian melekat di skuat asuhan Massimiliano Allegri tersebut.

Namun, mau gimana lagi. Sebagai Juventini Garis Lembut, saya tetap mengidolakan tim asal Kota Turin tersebut.

Saya tetap menantikan Juve bisa mengangkat trofi Si Kuping Lebar itu suatu saat nanti. Meski, jalannya masih sangat jauh. 

Sebab, sejak kekalahan pada 2017 silam, belum sekalipun Juve kembali melangkah ke final. Bahkan, meski diperkuat berbagai pemain bintang di setiap lini, termasuk Cristiano Ronaldo pada 2018-2021.

Ya, saya selalu percaya, selama gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar. Alias, selama bernafas, masih ada kesempatan menyaksikan Juve juara Liga Champions!

*     *     *

LALU, apa hubungannya antara Juve dengan Prabowo dalam postingan blog ini? Ya, ga ada.

Hanya, sebatas korelasi dua pihak yang saya dukung selalu kalah. Ha... Ha... Ha...

Btw, saya mengidolai Prabowo sejak 2008. Ketika itu, doi rajin muncul di media, khususnya tv usai mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang jadi kendaraan politiknya.

Namun, saya juga tidak pernah cinta mati terhadap apa dan siapa pun. Saya selalu legawa jika ternyata jagoan saya kalah. 

Contoh, Juve ketika dicukur Barcelona 1-3 pada final Liga Champions 2014/15 dan Madrid dua musim berikutnya. Saat itu, saya mengakui -meski kecewa- kedua lawan Juve memang bermain lebih baik.

Barca dan Madrid pantas juara. Sementara, Juve seperti antiklimaks dalam dua final tersebut.

Begitu juga dengan pilpres. Kendati pilihan saya keok dalam dua edisi beruntun, tapi saya tetap rasional.

Ga sekalipun saya ikut menjelek-jelekkan Jokowi. Prabowo kalah pada 2014 dan 2019 ya sudah, memang garis takdirnya seperti itu.

Sementara, untuk kritik sudah pasti. Yang membangun alias konstruktif, baik lewat blog ini atau media sosial.

Itu mengapa, saya juga kerap diajak dalam beberapa acara yang berkaitan dengan pemerintahan Jokowi. Beberapa di antaranya bisa dilihat dalam artikel "Catatan Dua Tahun Kepemimpinan Jokowi-JK" dan "Antara Presiden Jokowi, Asian Games 2018, Blogger, dan Tantangan Menghadapi Revolusi Industri 4.0".

Saya juga turut diundang Sekretariat Kabinet untuk menyaksikan langsung kehidupan di perbatasan pada 2018 lalu. Saat itu, kementerian yang dipimpin Pramono Anung ini mengajak blogger untuk menengok lebih jelas kehidupan masyarakat di Entikong, Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan Malaysia (Selengkapnya di Halaman http://www.roelly87.com/p/selamat-datang-di-halaman-khusus.html).

Jadi, saya berusaha untuk fair. Ada garis batas dalam mencintai sesuatu.

Tidak serta-merta, mengidolai Prabowo, harus menyerang lawan politiknya. Atau, mencaci Madrid dan Barca serta duo Milan yang jadi rival abadi Juve di Serie A.

No! Itu bukan gaya saya. 

Hidup saya terlalu indah untuk dikotori hal-hal negatif tersebut. Menyukai sesuatu boleh, tapi goblok jangan.

Ya, kita tidak boleh terlalu fanatik. Itu mengapa, saya mengaku sebagai fan Juve garis lembut. 

*     *     *

KENAPA harus Prabowo? 

Saya mengidolai Prabowo karena karismatik, berwibawa, dan elegan. Ini subyektif. 

Soal rasa. Ga bisa dijelaskan dengan logika. 

Termasuk, masa lalunya yang berlumuran darah terkait penculikan jelang reformasi. Itu fakta.

Banyak saksi dan media yang memuat insiden tersebut. Bahkan, Prabowo juga mengakui yang melakukannya.

Meski, korban penculikan sudah dipulangkan dan ada yang jadi anak buahnya di Gerindra. Tidak mengubah statusnya sebagai penculik. 

Bagi saya, sekali penculik tetap penculik. Titik!

Pada saat yang sama, saya juga percaya setiap orang bisa berubah. Itulah fase kehidupan.

Toh, di kolong langit ini, manusia mana yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa? Saya juga sering.

Itu mengapa saya sangat mengapresiasi jika ada orang yang mengaku sebagai mantan bajingan. Alias, dulunya dosa, sekarang berusaha untuk memperbaiki kesalahan.

Terkait penculikan, saya juga harus fair. Status Prabowo saat itu sebagai orang lapangan. 

Alias, kemungkinan hanya mendapat perintah dari atasannya. Siapa? 

Entahlah. 

Yang menarik, stigma penculik ini selalu panas menjelang pilpres. Itu berlaku sejak 2014 silam.

Grand design, kah? Khususnya, ada tangan-tangan tak kasat mata yang enggan doi berkuasa?

...

Padahal, Prabowo pernah jadi wakil Mega di pilpres 2009. Namun, saat itu seperti adem ayem.

Mungkin, ketika itu internet belum begitu masif di masyarakat Indonesia. Jadi, tidak ada yang memelintirnya.

Termasuk saya yang baru ngeblog pada 2009. Untuk media sosial, dimulai Facebook tahun yang sama diikuti Twitter (2010), dan Instagram (2012).

Bahkan, Prabowo juga dilantik Jokowi sebagai Menteri Pertahanan pada Kabinet Indonesia Maju 2019-2024. Tentu, presiden tidak sembarangan dalam mengangkat setiap orang yang akan membantunya dalam menjalankan roda pemerintahan.

Jadi, noktah merah Prabowo memang nyata. Kesempatannya untuk mendapat Mandat Langit, itu cerita lain.

*     *     *

PILPRES 2024 milih yang tua? Pasalnya, dua capres lain berusia jauh lebih muda.

Maklum, 17 Oktober mendatang, Prabowo genap 72 tahun. Sementara, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo saat ini sama-sama 54 tahun.

Selisih antara Prabowo dan kedua capres lainnya sekitar 18 tahun. Namun, ya dalam beberapa hal, usia hanya sebatas hitung-hitungan angka di atas kertas.

Apalagi, mengingat statusnya yang merupakan mantan prajurit dengan bintang tiga tersemat di pundak. Prabowo terlihat gagah. Auranya terpancar baik saat diam atau bicara.

Bahkan, saat orasi, Prabowo mengingatkan saya pada Bung Besar: Soekarno.

Meski, saya mencatat, Prabowo terlihat lemah dalam menyampaikan pandangannya kepada khalayak umum. Itu terjadi sejak debat capres 2014, 2019, dan yang teranyar saat dialog Mata Najwa di Universitas Gadjah Mada (19/9).

Jujur, ini nilai minus dari Prabowo. Meski, doi sangat hebat saat orasi. 

Entah mengapa, saya melihat Prabowo kerap kesulitan dalam memberi penjelasan dalam acara debat. Kendati, apa yang disampaikan sangat logis dan subtansinya sesuai.

Mungkin, ini jadi PR bagi Prabowo dan timnya. Terutama, jelang kontestasi pilpres 2024 yang pendaftaran dibuka 19 Oktober mendatang. 

Jika terus seperti ini, Prabowo bisa dilewati dua kandidat lainnya. Sebab, saya punya catatan terkait para rival berdasarkan beberapa acara pada 2023 ini.

Anies:

+ Bicaranya lancar, mengalir khas akademisi

- Pembawaannya terlalu serius


Ganjar

+ Penampilannya luwes, mudah dicerna khususnya generasi muda

- Penyampainnya agak mutar-mutar


Btw, ngomongin ketiganya ini menarik. Pasalnya, seumur-umur saya belum pernah melihat langsung Prabowo.

Justru, dengan Anies sudah beberapa kali mengingat statusnya sebagai Gubernur DKI Jakarta 2017-2022. Untuk Ganjar baru sekali pada Kompasianival 2014 di Taman Mini Indonesia Indah.

Apa pun itu, ketiga capres ini merupakan putra terbaik bangsa. Meski saya mengidolai Prabowo, tapi tetap respek dengan Anies dan Ganjar.

Tentu, saya berharap Prabowo menang mengingat ini mungkin jadi palagan terakhirnya. Bisa dipahami mengingat pada 2029, usianya sudah 77 tahun.

Namun, andai Prabowo kalah lagi pun tak masalah. Sebab, apa pun hasilnya hidup saya harus tetap berjalan.

Saya berharap pilpres 2024 ini berlangsung damai tidak seperti dua edisi sebelumnya. Yaitu polarisasi dua kubu diiringi pujian kampret, cebong, dan kadrun!

Bahkan, saya menyaksikan dua orang yang dulunya erat jadi berseberangan. Ceuk urang Sunda mah, petonggong-tonggong. 

Alias, saling menghindar dan enggan menuapa saat bertemu sejak pilpres 2014. Padahal, Prabowo saja sudah rekonsiliasi dengan Jokowi usai pesta demokrasi empat tahun lalu dengan bersedia jadi menteri.

Namun, beberapa orang yang saya kenal, justru masih diam-diaman. Aneh, yang di atas sudah baikan, tapi di bawah masih belum sadar.

Epilog, pilpres 2024 ini jadi hattrick saya memberi suara kepada Prabowo. Jika menang, saya berharap berbagai program yang diusungnya sejak lama bisa segera dijalankan.

Andai kalah, saya tetap mengidolai Prabowo. Sama halnya saya menggemari Juve, Jose Mourinho, Hendra Setiawan, Mike Tyson, Nicky Hayden, Jeff Hardy, dan sebagainya!


*     *     *

- Jakarta, 29 September 2023 (Bumi 87)


*     *     *

Artikel Sebelumnya:

- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia (Bumi 378)

(http://www.roelly87.com/2023/08/dhani-rizieq-dan-ahok-bersatu-demi.html)

- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif

(http://www.roelly87.com/2017/01/soe-hok-gie-prabowo-cerdas-tapi-naif.html)


Artikel Selanjutnya:

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (Bumi 666)






.