TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Ramadan 2020

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Ramadan 2020. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadan 2020. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2020

Ahmad Dhani dan Jalan Tengah Dewa 19 di Album Bintang Lima



Beragam koleksi HaiKlip, termasuk Risalah Lima Bintang tentang Dewa
(Foto: Koleksi pribadi 2011/@roelly87)


DENGAN bergabungnya Once dan Tyo (drum), Dewa mengalami revolusi bentuk. Perubahan terasa hampir menyeluruh. Bukan cuma pada warna vokal atau sound drum, tapi juga gaya penulisan. Lagu Cemburu yang bernuansa rock and roll secara tegas memperlihatkan hal itu. Hanya saja, tarik ulur emosi selama masa penggarapan nampaknya sulit dihindari.

Kesulitan terutama dirasakan oleh Andra (gitar) yang sudah terbiasa dengan gaya vokal Ari Lasso. Menurut Dhani, vokal ngerock Once tergolong sulit dikawinkan dengan personel Dewa, termasuk Erwin Pras (bas). Jalan tengah yang diambil: Dewa mengikuti gaya Once. Hasilnya, ya, album Bintang Lima itu.

"Di album baru nanti, baru Once yang ngikutin gaya Dewa," katanya menjelaskan. Jika dikaitin ama konsep bermusik sebuah band, cara seperti ini tentu merupakan sebuah "penyelewengan". Rupanya dalam kerangka industri hiburan, gejala seperti ini sah-sah saja dilakukan. Toh, orang selalu bicara hasil akhir. Apalagi, di negeri dimana masyarakat musiknya selalu menggunakan angka penjualan sebagai barometer keberhasilan.

Sadar atau nggak, Dhani udah membiarkan dirinya larut dalam pusara tersebut. Dengan prinsip seperti itu, cowok yang melewatkan masa remajanya di Surabaya ini mampu bertahan dari kerasnya kehidupan Jakarta, dan berhasil membawa Dewa dari "band daerah" menjadi salah satu ujung tombak musik pop Indonesia.

Kini Dhani, yang belum lama menyelesaikan album solo Tere, tengah menuai hasil jerih payahnya selama ini. Ia memiliki rumah di jalan Pinang Emas, Pondok Indah, beberapa blok dari Mal Pondok Indah. Ia hidup tenang ditemani Maya Eksianty, mantan penyanyi latar Dewa 19, yang telah memberinya dua putra. Dhani juga punya studio pribadi yang terletak cuma "seperlemparan batu" dari rumahnya. 

Bangunan berlantai dua itu berfungsi sebagai kantor Dewa merangkap studio rekaman yang, menurutnya, dibiayai dari kocek pribadi. Untuk merenovasi rumah yang dikontraknya selama 4 tahun itu, dia mengeluarkan 100 juta rupiah.

Hasilnya memang funky. Pada dinding bagian atas tergambar dua relief bernuansa religius. Bagian kiri melukiskan umat Hindu tengah melakukan tapa sampai mati dan, diasumsikan, jiwanya sampai ke nirwana. Sedang bagian kanan memperlihatkan seorang pria berpakaian serba putih. Itulah varian dari ajaran Jalaludin Rumi, tokoh sufi yang dikaguminya. Dipadu dominasi warna pop art, Dhani nampaknya sengaja "membenturkan" dua kultur yang berbeda. Yakni, tradisional dengan modern.

Nah, dari tempat itulah dia mengekpresikan naluri seni, termasuk merekam album-album Dewa. Dia memanfaatkan waktu luang dengan bermain sepak bola bareng para kru dan personel Dewa lainnya. Penghuni tempat itu memang penggila bola semua.

Itulah Ahmad Dhani, figur dominan dalam Dewa. Dia pemain keyboard, vokalis, dan penulis sebagian besar lagu. Gerayangan tangannya bahkan sampai ke soal negosiasi dengan promotor atau pihak luar lainnya. Padahal Dewa sudah punya Didiet Dada sebagai manajer. Tapi, sampai sekarang, dia masih ikut turun tangan dalam masalah keuangan. Kalo mau jujur, kelebihan Ahmad Dhani ini sekaligus merupakan kelemahan Dewa dalam konteks profesionalisme.

"Kalo gua dinilai dominan, wajar saja. Dari dulu di Dewa apa-apa gua yang melakukan. Dari mulai nawarin master rekaman, naik turun bus kota di Jakarta, sampai ngurus kontrak sama promotor. Selain itu, di Dewa cuma gua yang anak pertama, lainnya kan bungsu semua. Mungkin karena itu, jiwa kepemimpinan gua lebih menonjol daripada yang lain."

Dhani lantas menganalogikan dirinya sebagai gabungan dari berbagai potensi. Dia adalah George Martin (produser The Beatles), Brian Epstein (manajer The Beatles), Paul Mc Cartney (penulis sebagian besar lagu The Beatles), Roy Thomas Baker (produser sejumlah album Queen) dan lain sebagainya.

Dengan kalimat ringkas, dia adalah sosok yang mampu melakukan beragam pekerjaan dalam waktu bersamaan. Boleh jadi, daftar ini akan bertambah panjang dengan pekerjaan baru yang ingin dilakukannya: Kontraktor!

Pentolan Dewa jadi kontraktor? "Lho, mengapa tidak? Gua kan senang mendesain. Siapa tau nanti ada yang ngebutuhin model rumah hasil rancangan gua," katanya terkekeh.

Ya, tapi kalo Dhani yang merancang interior sebuah rumah, sudah terbayang ongkos yang harus dikeluarkan!

*        *        *

Sebelumnya:
- Ahmad Dhani di Antara Dewa 19 dan Reza
- Ahmad Dhani di Antara ISO, Queen, dan Rumi 

Artikel Terkait Ahmad Dhani
- KamaRatih

- Windy Ghemary
- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f5f14da33311a17c8b4660/di-balik-panggung-mahakarya-hut-rcti-ke25?page=all#sectionall


*        *        *
Keterangan: Artikel ini disadur secara utuh dari koleksi pribadi, HaiKlip 25 Years In Rock! #1/2002 yang diketik ulang, usai santap sahur 12 Ramadan 1441


- Jakarta, 5 Mei 2020

Kamis, 30 April 2020

Ahmad Dhani di Antara ISO, Queen, dan Rumi


Poster Dewa yang menghiasi kamar saya bersanding dengan Guns N' Roses
sebagai salah satu band terfavorit
(Foto: Koleksi pribadi/@roelly87)


PADA 1998 dia meluncurkan album solo Ideologi, Sikap, Otak (ISO) lewat kelompok bentukannya yang diberi nama Ahmad Band. Semua personelnya memiliki nama besar: Andra Junaidi (gitar, Dewa), Pay (gitar, BIP - mantan Slank), Bongky (bas, BIP - mantan Slank), dan Bimo drumer, mantan Netral).

Biar secara musikal layak diperhitungkan, album ini nggak ada cerita sukses komersilnya. Yang terungkap justru kegilaannya pada Soekarno, mantan Presiden pertama RI. Sampul albumnya aja menampilkan Dhani yang bergaya ala proklamator kemerdekaan itu.

Lagu-lagu Ahmad Band memperlihatkan keakraban Dhani pada musik rock, yang selama ini nggak pernah "menampakkan batang hidungnya" dalam lagu-lagu Dewa. Apalagi di awal karir musiknya, cowok kelahiran Jakarta 26 Mei 1972 ini sebenarnya lebih banyak memainkan jazz, yakni semasa bersekolah di Surabaya. Tapi meski pernah mengukir prestasi lewat grup Down Beat, Dhani akhirnya menyadari bahwa bakatnya bukan di situ. Lantas, dia pun pindah jalur dan mulai rajin menymak lagu-lagu pop dan rock.

"Di situ gua sadar bahwa John Lennon ternyata lebih besar dari Chick Corea," kenangnya. Toh, dia kesulitan untuk mendeskripsikan perbedaan kedua tokoh tersebut,bahkan dengan kalimat sederhana sekali pun. Dia terlihat lebih bersemangat saat menyinggung esensi dari musik rock itu sendiri. Rock baginya bukan semata-mata soal pencapaian estetika seni musik, tetapi juga pencapaian rasa. Artinya, untuk membuat karya rock yang baik nggak mungkin menyentuh kedua hal barusan dengan sepotong-sepotong.

"Karena itu, gua heran sampai sekarang masih ada pemusik yang menilai bahwa skill musik pemain jazz lebih bagus dari pemain rock. Atau skill pemain rock lebih bagus dari pemusik pop. Bagi gua musik apa pun bukan soal pencapaian estetika bentuk, kok," katanya panjang lebar.

Konon pencapaian rasa itu pula yang mengantar karir Dhani hingga seperit sekarang ini. Dengan mempertimbangkan energi rock sudah bercokol di benaknya, Dhani mengaku enggak akan bersedia menangani Reza lagi.

Walaupun mengidolakan John Lennon, toh grup musik yang berhasil embuatnya "jatuh cinta" setengah mati adalah Queen. Dia hapal di luar kepala nama produser yang menggarap semua album grup yang bubar karena ditinggal mati vokalisnya itu.

Bagi Dhani, The Beatles dan Queen adalah komposer terbesar setelah era John Sebastian Bach. Nggak kurang 50 album Queen tersimpan rapih di rumahnya. Koleksinya amat beragam dari Coldplay sampai Maria Callas. Referensi tersebut dikumpulkan dengan berbagai cara, termasuk rutin mendatangi pedagang kaset dan CD bekas di Taman Puring, Mayestik, Jakarta Selatan.

"Kalo diitung, investasi gua yang tertanam di sana (taman Puring, RED) ada 'kali 20 juta." Dhani juga doyan belanja laserdisc musik yang kini menurutnya sudah berjumlah 200-an.

Sebagai pemusik, Ahmad Dhani termasuk yang percaya pada kekuatan lirik. Untuk itu, dia selalu berusaha memberi roh pada setiap lirik yang ditulisnya. Referensinya untuk hal ini adalah setumpuk buku yang ditulis Jalaludin Rumi, tokoh sufi tahun 1200.

"Jadi, kalo orang menyangka gua penggemar Kahlil Girbran itu sebenarnya keliru," kata Dhani sambil memperlihatkan koleksi buku-bukunya.*

Bersambung...

*        *        *

*        *        *

Sebelum dan Selanjutnya:
#1 Ahmad Dhani di Antara Dewa 19 dan Reza
#3 Ahmad Dhani dan Jalan Tengah Dewa 19 di Album Bintang Lima

Artikel Terkait Ahmad Dhani
- KamaRatih

- Windy Ghemary
- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f5f14da33311a17c8b4660/di-balik-panggung-mahakarya-hut-rcti-ke25?page=all#sectionall


*        *        *
Keterangan: Artikel ini disadur secara utuh dari koleksi pribadi, HaiKlip 25 Years In Rock! #1/2002 yang diketik ulang, usai santap sahur 7 Ramadan 1441


- Jakarta, 30 April 2020

Rabu, 29 April 2020

Ahmad Dhani di Antara Dewa 19 dan Reza


Berbagai majalah sepak bola, musik, dan gaya hidup sejak 1998 hingga
dekade lalu. (Foto: koleksi pribadi/@roelly87)



KONTROVERSI ibarat permadani bagi langkah karir Ahmad Dhani. Sosoknya adalah muara pujian sekaligus hujatan. Dia nggak pernah tabu untuk berbeda pendapat. Bicaranya yang selalu blak-blakan, yang bagi sebagian orang mungkin kedengeran menjengkelkan, mengisyaratkan adanya rasa percaya diri yang besar.

Sebagai contoh, sekitar tahun 1996, dia pernah bilang bahwa dirinya bakal mencetak artis. Waktu itu, dia tengah menggarap debut album Reza Artamevia, pendatang baru yang sekian lama menjadi penyanyi altar Dewa 19. Seperti biasa, orang lantas menananggapinya sebagai bualan seorang Ahmad Dhani. Siapa sangka, ucapannya kemudian terbukti. Reza melambung sebagai solis ternama.

Begitu juga ketika Once Mekel muncul sebagai pengganti Ari Lassso, dan langkah formasi Dewa bagai meniti buih. Dhani yang sempat "gentar" ditinggal fans, malah sesumbar.

"Ari Lasso memang hebat, tapi Once juga bagus. Gua yakin album mendatang (Bintang Lima) bakal lebih dahsyat dari Pandawa Lima (album keempat)." Dia yakin betul ada beberapa lagu yang potensial menjadi hit.

Parameter apa yang digunakannya, padahal dalam bisnis musik belum ada metode yang bisa memastikan sebuah karya bakal diterima konsumen atau nggak?

"Gua yakin aja. Karena waktu mau merilis Pandawa Lima dulu juga begitu," katanya enteng. Seperti udah kita tahu, album Bintang Lima terjual 1,8 juta keping dan merupakan karya terlaris dalam sejarah karir Dewa. Dalam hal ini Dhani adalah bagian dari ketangguhan itu.

Optimisme selalu mendahului jauh sebleum karyanya dilepas. Untuk album ke-6 nanti, misalnya, Dhani yakin penjualannya akan meningkat pesat dibanding Bintang Lima. Pertimbangannya terdengar nyeleneh: dia enggak pengen publik membanding-bandingkan Dewa dengan grup lain, seperti yang selama ini berlangsung.

Yang pasti, biar ada Sheila On 7 dan Padi yang berhasil menjual album jutaan, Dewa terbukti nggak gampang dilibas pendatang baru. Paling enggak, sampai saat ini!*

Bersambung...

*        *        *

*        *        *

Selanjutnya:
- Pencapaian Rasa Ideologi, Sikap, dan Otak (ISO)
- Dewa Ikuti Gaya Once
#2 Ahmad Dhani di Antara ISO, Queen, dan Rumi 
#3 Ahmad Dhani dan Jalan Tengah Dewa 19 di Album Bintang Lima 

Artikel Terkait Ahmad Dhani
- KamaRatih

- Windy Ghemary
- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f5f14da33311a17c8b4660/di-balik-panggung-mahakarya-hut-rcti-ke25?page=all#sectionall


*        *        *
Keterangan: Artikel ini disadur secara utuh dari koleksi pribadi, HaiKlip 25 Years In Rock! #1/2002 yang diketik ulang, usai santap sahur 6 Ramadan 1441


- Jakarta, 29 April 2020