TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Pemilu 2024

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Pemilu 2024. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemilu 2024. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2024

Catatan sebagai Anggota KPPS: Drama Pemilu 22 Jam

Catatan sebagai Anggota KPPS: 

Drama Pemilu 22 Jam

Saya dan anggota KPPS melakukan proses
penghitungan dengan memastikan kotak
suara kosong di hadapan panwas dan saksi
(Foto: Anggota KPPS TPS 06)



AKHIRNYA, 14 Februari pun tiba. Pesta demokrasi yang ditunggu rakyat Indonesia ini pun berlangsung sukses.

Yaitu, Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Yang berlangsung tiap lima tahunan untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden diikuti calon legislatif (caleg) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Suatu kebanggaan bisa jadi bagian dari hajatan akbar ini sebagai anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Ya, saya dan enam orang lainnya bertugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 06, Jakarta Barat.

Kami didampingi dua Pengamanan Langsung (Pamsung), satu Panitia Pengawas (Panwas), dan lima saksi.

Untuk saksi di setiap TPS berbeda. Tergantung tim calon presiden (capres), caleg, atau partai yang menunjuknya.

Di tempat saya ada lima yang bertugas untuk Pemilu 2024. Dua dari capres dan tiga caleg.

Nah, jadi bagian pesta demokrasi ini benar-benar hal baru untuk saya. Maklum, pada edisi sebelumnya memang tidak pernah.

Alhasil, pada Hari-H sempat diwarnai drama. Yah, namanya juga hidup.

Ibarat Sayur Asem yang jadi makanan favorit saya, kurang lengkap jika tanpa bumbu dan cabe. Pun demikian situasi sepanjang Rabu (14/2) hingga Kamis (15/2) dini hari WIB.

Mulai dari kurang tidur. Ya, saya hanya bisa tidur kurang dari dua jam jelang pencoblosan.

Maklum, saya termasuk golongan nokturnal yang berkebalikan dengan mayoritas individu lainnya. Ngojol (ngojek online) aja tiap hari sebagai kalong: Beroperasi dari sore hingga pagi.

Pun dengan menulis di blog. Saya lebih lancar saat menuangkan ide pada dini hari ketimbang siang atau sore.

Nah, pas bangun tidur, rumah saya kebanjiran. Waduh, pertanda apa ini?

Pun demikian ketika mengangkut kotak suara dan bilik dari kelurahan ke TPS. Hujan masih menggelayuti dengan ramah.

Kondisi TPS? Jangan tanya. Acak-acakan akibat diterpa angin kencang. 

Beberapa informasi terkait pencoblosan yang ditempel basah semua. Duh...

Puncaknya, terjadi kekeliruan hitung suara. Tak heran, kami yang mulai pukul 05.00 WIB untuk bolak-balik TPS dari dan ke Kelurahan harus berakhir pukul 02.45 WIB!

Alias, nyaris 24 jam nongki-nongki di bawah tenda! Sumpah, benar-benar pengalaman baru...

Eit, kita sudahi mukadimahnya. Sekaligus, menyambung dua artikel sebelumnya yang masuk dalam Trilogi Catatan sebagai Anggota KPPS.

Untuk postingan pamungkas ini bakal lebih panjang. Anda bisa skip jika artikel ini terasa lama dibaca mengingat saya juga harus merekonstruksi kejadian lebih dari sepekan terakhir.

Saya cek, artikel ini memuat seribu lebih kata. Lumayan panjang. 

Namun, masih jauh dari Catatan Harian Ojol: Semesta Ekalaya yang per artikelnya berkisar 2.000-4.000 kata.


*       *       *


SALAH satu syarat keberadaan TPS adalah dengan didirikannya tenda di pinggir jalan. Untuk apa?

Agar aman pas hujan. Baik pemilih yang akan mencoblos juga anggota KPPS dalam melakukan penghitungan suara.

Sumpah, baru kali ini saya ikhlas melihat tenda di pinggir jalan. Sebelumnya, selalu memaki hingga sumpah serapah jika ada yang melakukannya UNTUK HAJATAN!

Aneh aja, mereka yang nikah, tapi pengguna jalan yang direpotkan. Sebab, dengan adanya tenda kawinan itu membuat pengendara harus memutar lebih jauh.

Khusus untuk pemilu, wajar. Sebab, ini berlangsung lima tahun sekali.

Apalagi, sesuai rekomendasi Komisi Pemilihan Umum (KPU), setiap TPS harus memiliki luas tertentu. Gunanya, demi menampung warga yang menggunakan hak pilih.

Malam sebelum pencoblosan, tenda di tempat saya sudah siap dibangun. Pun demikian dengan meja, kursi, triplek, alat peraga, dan sebagainya.

Sejak Selasa (13/2) sore, kami bersembilan anggota KPPS dan Pamsung kerja bakti. Memasang berbagai instrumen di TPS hingga lewat tengah malam.

Saat itu, cuaca masih bersahabat. Kami pun pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat.

Sebab, pukul 04.30 WIB, dijadwalkan sudah harus kumpul di TPS. Sebagian ke kelurahan untuk ambil kotak suara dan bilik coblos.

Sisanya, memasang perangkat seperti printer, speaker, laptop, dan sebagainya. Rencananya, seperti itu.

Namun, adakalanya ekspekstasi tak sesuai dengan kenyataan. Sebab, pukul 03.00 WIB, ibu kota diguyur hujan lebat! 


*       *       *


SAYA bangun pukul 04.15 WIB saat alarm di hp bergema. Mata masih 5 watt akibat tidur kurang dari dua jam.

Namun, kantuk langsung hilang ketika keluar kamar, kaki menginjak genangan. Wow... Banjir!

Buka pintu, hujan terdengar deras. Air pun mengalir kencang.

Di depan gang tampak genangan di mana-mana. Padahal, halaman rumah sudah dibuat tanggul dari semen untuk mengatasi banjir terdahulu.

Ternyata, rembes. Duh...

Mata pun langsung segar. Sebab, harus olahraga membuang air di rumah dengan gayung dan ember.

Kerja bakti sebelum bertugas di TPS. Wkwkwkwk...

Setelah berpeluh keringat hampir sejam, saya pun menemui sesama anggota KPPS dan pamsung, yang sudah bersiap di tenda. Kami pergi ke kelurahan untuk ambil empat kotak suara, yaitu presiden, DPR, DPD, dan DPRD, juga empat bilik pencoblosan.

Di kelurahan, ternyata sudah ramai. Kami pun antre untuk bergiliran ambil.

Skip...

Skip...

Pukul 06.30 WIB, kami tiba di TPS dengan basah kuyup akibat kehujanan di jalan. Beruntung, kotak suara dan bilik aman karena ditutup plastik.

Langsung, kami bersembilan sat-set. Bagi tugas masing-masing.

Panwas dan saksi turut berdatangan.

Ada yang pasang ulang lembar informasi pemilihan  Ada yang menyiapkan sarapan, khususnya kopi.

Dan lain-lain.

Waktu sudah mepet. 

Namun, wajar mengingat ini force majeur.

Pukul 07.15 WIB, kami melakukan sumpah janji anggota KPPS dan Pamsung. Dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Di luar tenda, sudah ramai. Masyarakat antre sambil membawa payung untuk memberikan haknya sebagai warga negara pada Pemilu 2024.

Kami pun bongkar kotak suara disaksikan panwas, saksi, dan warga. Yang pertama, kotak suara presiden, lalu urutannya DPR, DPD, dan DPRD.

Selesai.

Ini akhir dari awal. Saatnya memulai tugas sebagai anggota KPPS pada Pemilu 2024.


*       *       *


Skip



*       *       *


ALHAMDULILLAH, pelaksanaan Pemilu 2024 di TPS kami berlangsung sukses. Ini berkat kerja sama semua pihak.

Mulai dari kami seluruh anggota KPPS, Pamsung, Panwas, Saksi, warga, Pengurus RT, RW, hingga perwakilan Kelurahan yang ikut berpartisipasi.

Terima kasih untuk semua pihak...

Pemungutan suara untuk warga yang menggunakan hak pilih Daftar Pemilih Tetap (DPT), Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), dan Daftar Pemilih Khusus (DPK) sejak pukul 07.30 WIB hingga 13.00 WIB berlangsung sesuai rencana.

Kendati, untuk penghitungan diwarnai drama. Pasalnya, dimulai usai kami makan pukul 13.30 WIB hingga baru rampung pukul 02.45 WIB!

Alias, 22 jam nongki-nongki di bawah tenda. Pantat pegal akibat kebanyakan duduk.

Mata sepat karena harus teliti memelototi ribuan lembar kertas. Tangan keriting akibat bolak-balik halaman.

Termasuk, saya sebagai ketua harus mengisi lebih dari 200 lembar surat suara dengan pulpen disertai tanda tangan. Masing-masing dikali empat tipe surat suara untuk presiden, DPR, DPD, dan DPRD.

Puji Tuhan, semua terbayar lunas. Tidak ada kesalahan fatal.

Yupiii...


*       *       *


KAMI tidak sempurna. Apalagi, saya dan anggota KPPS lainnya masih baru kali ini berpartisipasi dalam pemilu.

Jadi, meski tidak ada kesalahan fatal, tetap memiliki kekeliruan. Minor sih.

Namun, dampaknya bikin waktu selesai jadi molor. Saya sebagai ketua, udah komitmen penghitungan suara rampung sebelum pukul 22.00 WIB.

Apa daya, harus molor empat jam!

Maaf ya, kepada semua pihak. Khususnya, panwas dan saksi yang harus lama menanti kami selesai.

Kami harus menghitung ulang pada surat suara DPR. Sebab, ada hasil partai yang tidak sinkron dengan calon legislatif (caleg).

Contoh penjabarannya gini, Partai Anime dapat 40 suara di TPS kami. Untuk caleg:

1. Son Goku = 19 suara

2. Nobita = 11 suara

3. Ninja Hattori = 8 suara

4. Tuxedo Bertopeng = 8 suara

5. Pegasus Seiya = 5 suara

Nah, jika dijumlahkan lima caleg itu berjumlah 41 suara. Lebih euy.

Harusnya, kelimanya dapat 40 suara seperti total Partai Anime.

Gimana solusinya?

Ya, harus hitung ulang. Tidak mungkin kami asal tebak seperti cenayang, mana yang lebih atau kurang.

Alhasil, hitung ulang memakan waktu. 

Capek...

Tentu.

Harus bongkar kotak suara lagi. Meneliti lembar demi lembar.

Dan, yang penting harus izin panwas serta saksi. Sebab, mereka memegang peranan penting.

Agar, tidak ada dugaan manipulasi. Kami memang salah, tapi ga mau sampe difitnah menggelembungkan suara.

Ketika panwas dan saksi setuju, hitung ulang pun dimulai. Tetesan keringat sebesar biji jagung terlihat di salah satu anggota.

Maaf ya...

Sebagai ketua KPPS, saya yang bertanggung jawab penuh di TPS 06. Termasuk, jika ada kesalahan.

Namun, bagaimanapun hitung ulang harus dilakukan agar hasilnya sesuai. Secapek apa pun itu.

Apalagi, seperti yang saya tegaskan pada artikel pertama dari trilogi ini, bahwa kami supertim. Bukan superman yang one man show.

Salah satu, ya salah semua. Jika sukses, juga sukses semua.


*       *       *


TERNYATA, satu suara nyelip di Hattori. Harusnya, caleg itu dapat 7 suara.

Namun, saat penghitungan lebih satu. Ya, manusiawi mengingat kami sudah cukup lelah.

Yang pasti, ketika penyakit itu sudah diketemukan, selanjutnya selesai. Hitungan cocok seluruhnya dengan Partai Anime tetap dapat 40 suara. 

Yang berubah hanya komposisi caleg. Huff, lega...

Selesai?

Tentu saja, belum. Sebab, Aplikasi Sirekap error terus. 

Memang, sejak pertama kali Bimbingan Teknologi (Bimtek) sudah diwanti-wanti untuk antisipasi. Itu mengapa, setiap TPS ada dua anggota KPPS tugasnya berkaitan dengan laporan di Sirekap.

Yaitu, anggota 3 (tiga) yang utama pegang aplikasi dan 5 (lima) sebagai back-up. Apa daya, sejak H-14 aplikasi tersebut kerap error.

Grup WA Ketua KPPS di kelurahan pun kerap heboh. Puncaknya, pas Hari-H. 

Sejak sore, aplikasi Sirekap masih error. Itu barakibat kami kesulitan untuk mengirim laporan.

Maklum, pada Pemilu 2024 ini, memang hasilnya bisa langsung dilihat siapa saja di TPS. Baik itu saksi, wartawan, perwakilan tim survei, hingga warga pun berhak mengabadikan hasilnya, entah lewat foto maupun rekaman video.

Bebas.

Lalu, bagaimana saat pencoblosan? Apakah warga boleh untuk foto dan merekam ketika sedang menusuk kertas suara dengan paku?

Tidak!

Sesuai regulasi KPU, dilarang merekam di bilik suara. Kami pun mengikuti arahan tersebut.

Meski, ada saja yang secara diam-diam mencoba. Namun, ada anggota kami yang memberi tahu secara sopan.

Alhamdulillah, tidak ada masalah. Mereka mengerti dan langsung menyimpannya di saku.

Prosesi pencoblosan selama 5,5 jam pun berlangsung kondusif. Khususnya, pagi saat masih rinai.

Mereka antre dan duduk sesuai undangan surat memilih yang dibagikan pada h-3 sebelumnya. Kendati, di lapangan kami sepakat untuk memprioritaskan tiga tipe pemilih, yaitu:

1. Penyandang disabilitas

2. Ibu hamil

3. Lansia

Kebetulan, di TPS kami tingkat partisipasi warga cukup tinggi. Nyaris 200 pemilih yang hadir untuk menyalurkan suaranya.

Termasuk tiga di antaranya DPTb dan satu DPK.

Bagaimana dengan yang sudah hadir tidak bawa surat undangan? 

Tidak masalah.

Ada lebih dari 20 orang. 

Selama NIK tercantum di DPT Online dan bawa KTP asli atau fotokopinya, silakan. Setiap warga negara punya hak untuk memilih dan kami sebagai petugas, wajib melayaninya.

Bahkan, kami bangga karena beberapa pemilih ada yang jauh-jauh datang dari luar kota. Mereka masih 1 KK yang sedang tugas atau kuliah di luar kota tapi menyempatkan diri untuk hadir di DPT terdaftar.

Ya, satu suara sangat berharga demi menentukan arah negara ini dalam lima tahun ke depan. Salut dengan partisipasi warga!


*       *       *


SEBELAS hari setelah pencoblosan, akhirnya tugas saya dan anggota KPPS lainnya selesai. Tepatnya, setelah Minggu (25/2) grup antarketua diinfokan clear.

Alias, di kelurahan kami yang terdapat lebih dari 50 TPS sudah dilakukan penghitungan berjenjang di kecamatan. Hasilnya pun bisa diketahui di web resmi KPU.

Btw, penghitungan hasil coblosan untuk Presiden, DPR, DPD, dan DPRD memang bertingkat secara manual. Itu mengapa, KPU baru mengumumkan hasil resminya pada 20 Maret mendatang.

Bagi saya, sebagai warga negara, siapa pun presidennya, berharap mampu membawa Indonesia lebih baik ke depannya. Begitu juga dengan anggota legislatif (Aleg) terpilih di DPR, DPD, dan DPRD, semoga bisa menyuarakan aspirasi rakyat.

Akhir kata, Pemilu 2024 sudah selesai. Namun, jangan lupa masih ada satu lagi pada akhir tahun.

Yaitu, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang berlangsung 27 November mendatang. Termasuk, di DKI Jakarta yang dalam dua tahun terakhir dipimpin PJ Gubernur.

Saya berharap, pilkada nanti juga berlangsung damai. Secara pribadi, saya belum berencana untuk ikut serta lagi sebagai anggota KPPS.

Maklum, masih cukup lama. Sekarang, fokus mencari nafkah untuk menyambut Bulan Suci Ramadan.

Sampai jumpa!


*       *       *

Pemasangan tenda sehari 
sebelum pencoblosan
(Foto: Anggota KPPS TPS 06)


*       *       *

Foto bersama seluruh anggota KPPS dan 
Pamsung sebelum memulai pencoblosan
(Foto: Anggota KPPS TPS 06)


*       *       *

Antrean warga untuk memilih dengan
sebelumnya menyimak informasi
pencoblosan Pemilu 2024 di depan TPS
(Foto: Anggota KPPS TPS 06)


*       *       *

Penyandang disabilitas, Lansia, dan
Ibu Hamil mendapat prioritas lebih awal
dalam pencoblosan pukul 07.30 WIb
(Foto: Anggota KPPS TPS 06)


*       *       *

Proses penghitungan suara yang
berlangsung hingga tengah malam
(Foto: Anggota KPPS 06 TPS)


*       *       *

Laporan ke grup WA KPPS
bahwa kotak suara, bilik, dan
perlengkapan pencoblosan
selesai dikembalikan ke kelurahan
(Foto/SS: @roelly87


*       *       *

Alhamdulillah, perhitungan suara
di tingkat kelurahan rampung


*       *       *

*       *       *


banjir euy


*       *       *




*       *       *





*       *       *





*       *       *





*       *       *






*       *       *







*       *       *





*       *       *



*       *       *



*       *       *


*       *       *


*       *       *


*       *       *


*       *       *

*       *       *

*       *       *


- Jakarta, 27 Februari 2024


*       *       *


Artikel Trilogi sebagai Anggota KPPS 


- Sehari Jadi Abdi Negara (I)

- Jadi Ketua dan Menerapkan Demokrasi Versi Mikro (II)


*       *       *


Artikel Terkait: 


- https://www.roelly87.com/2014/10/sosialisasi-pemilu-melalui-sepak-bola.html


- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f7134aa3331146228b4759/pesan-ketua-kpu-untuk-dua-kandidat-calon-presiden?page=all#sectionall


...

Jumat, 16 Februari 2024

Catatan sebagai Anggota KPPS: Sehari Jadi Abdi Negara

Catatan sebagai Anggota KPPS: 

Sehari Jadi Abdi Negara


Foto:

Suasana pembagian surat undangan 
memilih kepada warga
(Foto: @roelly87)



JADI abdi negara merupakan impian semua orang. Termasuk saya, sejak masih kanak-kanak.

Entah itu jadi Aparatur Sipil Negara (ASN), anggota Kepolisian Republik Indonesa (Polri), Tentara Nasional Indonesia (TNI), tenaga kesehatan (nakes), dan sebagainya.

Namun, karena berbagai hal, akhirnya, cita-cita itu batal. Setidaknya, hingga saat ini.

Sebab, sejak lulus sekolah berseragam putih dan abu-abu, saya langsung kerja di perusahaan swasta. Sekalian, menjelajah ke berbagai daerah menyalurkan hobi sebagai petualang.

Setahun.

Dua tahun.

Sewindu.

Dua windu.

Dan...

Hingga, akhirnya impian sebagai abdi negara itu tiba. Tentu, bukan sebagai anggota Polri, TNI, ASN, nakes, dan sejenisnya yang dilakoni dengan berjenjang.

Melainkan jadi anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Yaitu, tenaga lepas yang bekerja untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Pesta demokrasi ini berlangsung seharian. Tepatnya, pada Rabu (14/2).

Btw, Pemilu 2024 ini tidak hanya untuk memilih presiden dan wakil presiden saja. Melainkan juga suara untuk calon legislatif (caleg) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Suatu kehormatan bagi saya untuk bisa berpartisipasi dalam pesta demokrasi ini. Apalagi, ketika saya dipercaya sebagai Ketua KPPS di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Eh, tunggu...

Ketua?

Wow...

Mengatur diri sendiri aja masih kesulitan. Apalagi, harus mengurus delapan anggota lainnya?

Btw, setiap TPS terdapat tujuh anggota KPPS dan dua Pengamanan Langsung (Pamsung). Itu belum termasuk Panitia Pengawas (Panwas), saksi, dan sukarelawan.

Untuk saksi di setiap TPS berbeda. Tergantung tim calon presiden (capres), caleg, atau partai yang menunjuknya.

Di tempat saya ada lima. Dua dari capres dan tiga caleg.

Eits... Soal pengalaman ketua, akan saya ceritakan lebih lengkap pada artikel berikutnya dalam trilogi ini.


*       *       *


JADI anggota KPPS itu tidak hanya sehari. Melainkan, prosesnya cukup panjang.

Contoh, saya yang menyiapkan berkas sejak tiga bulan sebelumnya. Komisi Pemilihan Umum (KPU) membuka pendaftaran pada 11-20 Desember 2023.

Sebelumnya, saya sudah melakukan pemeriksaan di Puskesmas pada 29 November. Yaitu, untuk mendapatkan Surat Keterangan Sehat sebagai syarat jadi anggota KPPS.

Sekilas info, tahun ini KPU mengajukan syarat yang lebih ketat dibanding Pemilu 2019. Misalnya, usia dari 17 hingga maksimal 55 tahun. 

Tujuannya, untuk meminimalkan jatuhnya korban seperti lima tahun silam. Maklum, saat itu tercatat 894 petugas yang meninggal dunia dan 5.175 mengalami sakit.

Mayoritas, petugas lanjut usia lansia (lansia). Juga akibat kelelahan saat bekerja.

Tak heran, saya harus kembali ke Puskesmas untuk revisi Surat Keterangan Sehat (14/12). Sebelumnya, dalam catatan itu hanya mencantumkan nadi, nafas, suhu udara, golongan darah, dan hasil rekomendasi dokter.

Dua pekan kemudian, wajib ditambahkan dengan tekanan darah dan kolesterol. Alhamdulillah, hasilnya baik.

Meski, dokter memberi tahu agar sering makan daging, termasuk kambing. Secara, darah saya relatif rendah.

Untungnya, saya bukan tipe darting. Alias, darah tinggi yang suka marah ga jelas. He he he...


*       *       *


PENGUMUMAN sebagai anggota KPPS berlangsung sehari jelang pergantian tahun. Namun, untuk resminya baru 25 Januari 2024.

Yaitu, saat pelantikan di setiap kelurahan masing-masing. Sah...

Yuppi!

Sah euy, jadi anggota KPPS!

Jadi ingat meme yang berseliweran di media sosial (medsos). Senyum pun lebar tatkala postingan di Facebook, Twitter/X, Instagram, Youtube, Tiktok, dan sebagainya.

Pada saat yang sama, saya pun berharap tragedi korban jiwa pada Pemilu 2019 silam tidak terulang. Aamiin!


*       *       *


PROSES yang cukup panjang untuk jadi anggota KPPS. Untungnya, profesi sebagai ojek online (ojol), membuat saya lebih luwes dalam memaksimalkan waktu.

Antara nyari nafkah dan rapat terkait koordinasi pemilu. Bisa dipahami mengingat banyak pertemuan atau acara yang berlangsung acak. 

Bisa pagi, siang, sore, atau malam. Saya catat, ada 15 kali sebelum Hari-H.

Dengan PPS lima kali. Mulai pra Bimbingan Teknologi (Bimtek), bimtek, pelantikan, anggaran operasional, hingga pemetaan aplikasi Sirekap.

Sementara, dengan Ketua Rukun Warga (RW) dua kali. Yaitu, terkait pembahasan izin pendirian tenda di pinggir jalan, peninjaman kursi, meja, penerangan, dan sebagainya.

Pun demikian bersama seluruh anggota. Saya koordinasikan untuk kumpul bareng hingga empat kali sepanjang Januari-Februari.

Puncaknya, sejak Jumat (9/2) yang merupakan H-5 Pemilu. Saat itu, kami sudah mendapat surat undangan dari KPU untuk diedarkan kepada warga.

Waktunya? Hanya dua hari. 

Masalahnya, Sabtu (10/2) bertepatan dengan Tahun Baru Imlek. Jangan lupakan libur panjang sejak Isra Miraj, 8 Februari. 

Alhasil, banyak warga yang sejak pagi bepergian. Alias, tidak ada di rumah.

Kami pun mensiasatinya dengan keliling bergiliran sesama anggota untuk distribusi surat undangan pemilu di 3 RT. Bahkan, hingga hampir tengah malam!

Jika warga atau Asisten Rumah Tangga (ART) juga tidak ada, terpaksa kami mengetuk pintu Ketua RT. Ya, mereka ini penyelamat kami yang bersedia dititipkan surat undangannya.

Sebab, Minggu sore (11/2), sisa surat undangan harus segera dikembalikan ke KPU. Pusing dah...

Untungnya (lagi), semua itu berhasil kami lewati. Ya, di TPS saya ini, memang saya tegaskan, bahwa kami supertim, bukan super man.

Alias, semua kerjaan wajib dilaksanakan setiap anggota. Termasuk, saya sebagai ketua, harus jemput bola.

Ya, sebagai abdi negara, tentu kami laksanakan dengan sepenuh hati. Suatu kebanggaan bisa dipercaya untuk berkontribusi dalam pesta demokrasi...


*       *       * 

Motivasi di Grup WA
bahwa kami supertim
bukan superman


*       *       * 

bimtek dengan KPPS
(Foto: @roelly87)


*       *       * 

Suasan pelantikan KPPS di Lapangan 
Persima, Jakarta Barat
(Foto: @roelly87)


*       *       * 

Menitipkan beberapa surat undangan
Pemilu 2024 kepada Ketua RT
karena warga banyak yang pergi
(Foto: Dokumentasi anggota KPPS)


*       *       * 

- Jakarta, 16 Februari 2023


*       *       *




Artikel Trilogi sebagai Anggota KPPS 

- Sebagai Ketua dan Hak Veto (II)

- Pemilu Kerja 22 Jam (III)


*       *       *


Artikel Terkait dengan KPU: 

- https://www.roelly87.com/2014/10/sosialisasi-pemilu-melalui-sepak-bola.html


- https://www.kompasiana.com/roelly87/54f7134aa3331146228b4759/pesan-ketua-kpu-untuk-dua-kandidat-calon-presiden?page=all#sectionall


...

Kamis, 31 Agustus 2023

Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia

Dhani, Rizieq, dan Ahok untuk 2024

(ilustrasi foto: @roelly87)


SAAT bangun tidur dini hari WIB ini, Kamis (15/2), sudah ada pengumuman definitif Kabinet 2024-2029 dari presiden kedelapan RI. Berdasarkan info dari portal berita ternama, untuk triumvirat, adalah:

Menteri Pertahanan: Ahmad Dhani

Menteri Luar Negeri: Rizieq Shihab

Menteri Dalam Negeri: Basuki Ahok

Menurut gw, ini menarik, sebab ketiganya pernah saling bermusuhan. Bahkan, uniknya sama-sama merasakan dinginnya jeruji besi. 

Namun, kini situasi telah berbeda. Ketegangan di antara mereka sudah jauh mereda. 

Mencair demi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketiganya bahu-membahu berkontribusi untuk Tanah Air.

*     *     *

TIBA-tiba, tangan kanan gw refleks menepuk pipi yang gatal akibat digigit nyamuk. Sementara, tangan kiri asyik scroll hp berisi pengumuman daftar menteri.

Yang menarik, nama Dhani, Rizieq, dan Ahok, tetap terdapat dalam daftar kabinet. Mau bilang ini mimpi, tapi kok pipi sakit.

Karena penasaran akibat tidak menyangka nama ketiganya ada di kabinet yang memegang peranan penting di pemerintahan, gw pun buka kanal berita lain. Hasilnya, sama. 

Dhani, Rizieq, dan Ahok, diberitakan serentak pada berbagai media. Bahkan, banyak beredar foto mereka yang semringah sambil bergandengan tangan usai pelantikan di beranda istana.

Bukan bermaksud membalik luka lama, tapi ketiganya memang pernah berkonflik. Dhani dengan Rizieq pada 2004 silam. Kemudian, bersatu untuk menghadapi Ahok pada 2016. 

Dalam periode itu, mereka sama-sama sempat merasakan dinginnya jeruji besi. Bahkan, para pendukungnya, apalagi yang fanatik buta saling benci.

Namun, demi Indonesia, ketiganya sudah menghapus noktah tersebut. Siap mengemban kewajiban masing-masing dalam lima tahun ke depan.

Tidak ada lagi itu saling sindir. Kampret, cebong, atau bahkan kadrun. 

Yang ada, hanya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selamat bertugas!

*     *     *

USAI mandi, gw menikmati secangkir kopi hitam ditemani asap kehidupan. Layar hp berganti ke logo "X" untuk melihat perkembangan terkini. 

Tampak, trending topic dikuasai pengumuman hasil kabinet. Termasuk, nama Dhani, Rizieq, dan Ahok, menghiasi timeline. 

Riuhnya pengumuman kabinet sukses membenamkan hasil pertandingan leg kedua 16 Besar Liga Champions 2023/24. Sebenarnya gw juga ga terlalu peduli akibat Juventus absen. 

Namun, gw tetap menatap trending topic yang ramai. Mulai dari "Dukung Kinerja Triumvirat", "Valentine 2024 Paling Berkesan", "Pemilu 2024", hingga "Jose Mourinho".

Yupz, nama terakhir merupakan satu-satunya alasan gw masih aktif menyimak perkembangan sepak bola Eropa hingga kini. Gw berharap, Mourinho bisa membawa kejayaan AS Roma di Benua Biru yang kini sudah menapak fase gugur Liga Europa 2023/24.

Eittt... Tunggu!

Perasaan ada yang aneh. Gw colek pipi, berasa. 

Cubit tangan, sakit. Ini bukan mimpi kan?

Memang, gw tidur dari sore. Hanya, sekarang sudah mandi yang airnya berasa dingin. 

Maklum, jelang subuh. Pun demikian dengan kopi yang masih ngebul di gelas. 

Namun, gw masih merasa aneh. Terutama, dengan pengumuman kabinet baru yang menyertakan Dhani sebagai Menhan, Rizieq (Menlu), dan Ahok (Mendagri).

Memang sih, di dunia ini, apa pun bisa terjadi. Apalagi, dalam ranah politik.

Hanya, gw masih berasa janggal. Gw coba tarik napas dalam-dalam hingga beberapa kali.

Tiba-tiba pandangan agak kabur. Tentu, ini bukan vertigo...

Langsung gw ambil alat tes diabetes. Hasilnya, normal tanpa hipoglikemia. 

Alias kadar gula gw ga menurun drastis meski belom makan dari sore. Begitu juga tensi darah, tetap normal.

Bahkan, gw juga cek dompet, isinya masih segitu-gitu aja. Ga kurang. 

Pun demikian dengan saldo atm, ga bertambah. Listrik juga ga bunyi karena belom lama gw isi untuk sebulan.

Maklum, biasanya pandangan gw kerap menerawang kalo dompet tipis, atm kosong, dan listrik bunyi tit... tit... tit... Namun, sekarang normal-normal aja.

Gw coba mengingat apa yang janggal. Tarik napas lagi dalam-dalam.

Mencoba hening seketika. Pandangan gw pun kembali normal.

Yupz, gw baru sadar saat ini berada di semesta alternatif. Tepatnya di Bumi 378.

Sementara, gw tinggal di semesta utama. Bumi 87.

Apakah ini berarti gw lintas semesta? Yang berarti gw mendobrak ruang dan waktu.

Jujur, gw merasa lebih tenang di semesta ini. Gw pun ingat sempat iseng untuk mencoba berkelana ke beberapa universe lainnya.

Ada Bumi 69 yang salah satu calon presiden menyatakan gugatan hingga ricuh. Bumi 313 yang hanya menyisakan satu calon melawan kotak kosong.

Bagaimana dengan semesta gw, di Bumi 87?***

*     *     *


- Jakarta, 31 Agustus 2023