TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Traveling

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Oktober 2017

Menyelam Bersama Mola-mola dan Berbagai Ikan Lain di Toyapakeh


Dari bandara ke Toyapakeh bisa menyewa kendaraan di Omocars.com



Pulau Nusa Penida di provinsi Bali, dari dulu populer dengan diving spot-nya. Salah satunya adalah Toyapakeh.

Toyapakeh mempunyai pemandangan bawah laut yang benar-benar hidup dan indah, yang membuat betah para penyelam. Tempat menyelam yang dekat dengan pelabuhan Padang Bai ini juga mempunyai karang yang berlimpah dan sehat, ikan seakan berserakan begitu saja di airnya yang biru jernih.

Toyapakeh adalah taman bawah air yang bagus sekali untuk obyek fotografi. Terumbu karangnya indah, berwarna-warni dan penuh makanan. Sehingga di sini sering terlihat banyak ikan seperti ikan pelagis, tuna, pari marble, dan hiu karang.

Selain itu juga terdapat karang-karang unik yang berbentuk pilar setinggi 10-15 meter. Sehingga seperti membentuk semacam kota bawah air dengan gedung-gedung pencakar langitnya. Terdapat juga gorgonia (karang lunak berbentuk seperti kipas) berukuran besar dan ‘semak-semak’ karang lunak.

Toyapakeh adalah tempat menyelam dengan tipe arus sedang. Jarak pandang penyelam di sini cukup luas, sekitar 15-40 meter. Tempat ini paling ideal dikunjungi di bulan Desember.

Di kedalaman 6 meter kita akan menjumpai ikan triggerfish, sweetlip, ekor kuning, jackfish, kuwe, banner, buntal, scorpion, belut moray, terompet, dan pari.

Lebih dalam lagi, sekitar 10 meter, akan dijumpai ikan sweetlip, jackfish, kelelawar, napoleon wrasse, dan kura-kura. Jika mau menyelam lebih dalam lagi, kita akan bisa bertemu dengan ikan mola-mola.

Saat air tenang kita juga bisa melihat belut pita biru, kepiting orang utan dan sesiput laut nudibranch yang unik.

Transportasi ke Pulau Nusa Penida
Ada beberapa rute yang bisa dipilih dari pulau Bali menuju ke pulau Nusa Penida.

Jika dari bandara Ngurah Rai kita ingin menyewa mobil, disarankan untuk menyewa di  OMO cars. Pilih rute ke pelabuhan Padang Bai, lalu menyeberang ke Nusa Penida menggunakan kapal ferry.

Kalau kita tidak membawa mobil maka pilihan tempat menyeberang lebih banyak. Dari pantai Sanur kita bisa naik fast boat, atau naik sampan atau speed boat dari pelabuhan Tribuana.

Jika berangkat dari pantai Pesinggahan maka pilihannya adalah naik kapal kecil, dan jika dari Tanjung Benoa bisa menggunakan jasa Quicksilver Cruise Bali.


- Jakarta, 31 Oktober 2017

Selasa, 30 Juni 2015

Mengunjungi Masjid Hidayatullah yang Bersejarah dan Dikelilingi Gedung Bertingkat


Masjid Hidayatullah yang tanpa kubah sekilas seperti Kelenteng (Sumber foto: koleksi pribadi/ www.roelly87.com)
SEKILAS tiada yang aneh dengan tempat ibadah ini. Maklum, lokasinya seperti tersembunyi di antara deretan gedung bertingkat di kawasan pusat Jakarta. Namun, ketika melintasi gerbang dan masuk ke dalamnya, baru kita merasa takjub. Ya, Masjid Hidayatullah memang sangat memesona. Terletak di jantung ibu kota di kawasan elite segitiga emas, tepatnya di belakang salah satu gedung ikonik Sampoerna Strategic Square.

Namun, masjid yang berlokasi di Jalan Masjid Hidayatullah, Karet Depan (Dr. Satrio), Setiabudi, Jakarta Selatan ini, seperti tak lekang dimakan waktu. Maklum, tempat ibadah yang ditetapkan Dinas Museum dan Sejarah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini, memang unik. Lantaran bangunannya berbeda dibanding masjid pada umumnya karena tiada kubah, di sampingnya terdapat puluhan makam, dan kalau dilihat sepintas lebih mirip Kelenteng.

*       *       *
SIANG itu, Jumat (26/6) cuaca ibu kota sungguh menyengat. Macet menjadi santapan sehari-hari bagi mayoritas warga Jakarta. Khususnya di jalan protokol seperti Jenderal Sudirman. Apalagi, bertepatan dengan suasana Ramadan. Ibaratnya, macet dan panas menjadi godaan terbaik bagi umat yang sedang menjalankan puasa untuk meredam ego di jalan raya.

Kebetulan, saat itu saya baru saja kembali dari suatu acara di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, menuju kantor. Ketika lewat kolong jalan layang Profesor Dr. Satrio, sayup-sayup terdengar suara azan Ashar. Dari samping gedung Sampoerna, mata saya tertuju pada plang berwarna hijau yang menunjukkan Jalan Masjid Hidayatullah.

Langsung saja saya membelokkan sepeda motor menuju jalan yang tersebut. Niatnya selain ingin menunaikan ibadah wajib juga ingin beristirahat sejenak setelah nyaris seharian berkeliling ibu kota. Dengan perlahan menyusuri jalan, saya mencari masjid atau musala yang ada di lokasi tersebut sambil melirik di sebelah kiri terdapat makam yang didampingi bangunan bercorak Tiongkok.

Hingga, akhirnya saya sampai di depan pagar bertuliskan Masjid Hidayatullah yang tengah direnovasi. Tentu, saya agak kaget, karena lokasi masjid tersebut bersebelahan dengan bangunan yang mirip Kelenteng. Karena penasaran, saya pun memarkirkan sepeda motor untuk mencari tahu. Ternyata, bangunan tersebut memang masjid yang mendapat pengaruh arsitektur Tiongkok.

Seusai menunaikan salat dan istirahat sejenak dengan merebahkan tubuh, saya pun mencoba untuk mencari tahu lebih lanjut dengan berkeliling areal tersebut. Yang menarik, selain terdapat makam yang kemungkinan merupakan para pendiri masjid atau keluarganya. Mata saya tertuju pada langit-langit dan jendela masjid yang mirip rumah adat Betawi.

Sambil meluangkan waktu sejenak di teras, saya pun mencoba untuk mencari tahu tentang masjid tersebut melalui layanan internet di ponsel. Berdasarkan informasi di website Jakarta.go.id, Masjid Hidayatullah masuk dalam daftar cagar budaya kategori B. Sementara, masih dalam situs yang sama namun dengan rincian lebih lengkap, ternyata melebihi ekspekstasi saya.

Lantaran, berdasarkan keterangannya, Masjid Hidayatullah awalnya musala yang dibangun pengusaha batik asal Tiongkok bernama Muhamad Yusuf pada 1921. Karena itu, wajar jika masjid ini memiliki pengaruh Tiongkok dalam arsitekturnya, khususnya pada atapnya yang memiliki dua lengkung di setiap sudut. Terlebih, ternyata tidak hanya gaya Tiongkok juga, melainkan juga pengaruh dari Persia dengan berdirinya dua menara.

Sayangnya, saya tidak berhasil menemui pengelola masjid untuk bertanya lebih lanjut walaupun sudah mendapat petunjuk dari juru parkir. Apalagi, waktu yang sudah sore yang membuat saya harus kembali ke kantor.

Meski begitu, saya sudah cukup puas menyambangi salah satu masjid bersejarah di ibu kota ini yang masih terjaga kendati dikelilingi gedung-gedung bertingkat. Ini mengingatkan saya pada salah satu cagar budaya lainnya di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat, yaitu Candra Naya.

Sekilas Masjid Hidayatullah
Lokasi: Jalan Masjid Hidayatullah, Karet Depan (Dr. Satrio), Setiabudi, Jakarta Selatan
Akses: Peta (google maps)
Status: Cagar Budaya golongan B
Fasilitas: Toilet dan tempat wudu untuk pria/wanita, Perpustakaan, kamera CCTV


*       *       *
Puluhan makam yang terdapat di sisi masjid (@roelly87)
*       *       *
Langit-langit di dalam masjid (@roelly87)

*       *       *
Beristirahat sejenak sebelum melanjutkan rutinitas (@roelly87)

*       *       *
Kamera CCTV untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan (@roelly87)

*       *       *
Dua pedagang yang tengah beristirahat (@roelly87)

*       *       *
Papan pengumuman (@roelly87)

*       *       *
Koperasi yang menjual berbagai peralatan dan perlengkapan ibadah (@roelly87)

*       *       *
Menara Masjid Hidayatullah yang berdampingan dengan gedung Sampoerna Strategic Square (@roelly87)

*       *       *

*       *       *
*       *       *

- Cikini, 30 Juni 2015