TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: KBR

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label KBR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KBR. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Desember 2021

Deteksi Dini, Cegah Disabilitas akibat Kusta

Deteksi Dini, Cegah Disabilitas akibat Kusta

Ilustrasi: NLRInternational.org


SEBAGAI ojek online (ojol), saya paling merinding alias takjub jika melihat dua hal di jalanan. Tepatnya, kepada sesama rekan driver yang sama-sama mencari nafkah mengandalkan aplikasi. 

Pertama, rekan ojol yang difabel. Misalnya, yang saya sering lihat sehari-hari, driver tersebut hanya punya satu tangan, kaki, hingga bagian anggota tubuh lainnya yang tidak lengkap. Pun dengan penyandang disabilitas seperti tuna rungu dan wicara.

Selanjutnya, lady ojol. Yaitu, julukan untuk rekan driver wanita yang rela panas-panasan di bawah terik matahari saat siang hingga menari di bawah guyuran hujan deras. Tak jarang, lady ojol ini ada yang bawa anaknya demi mengantar makanan atau barang orderan customer.

Kedua tipe itu yang bikin saya takjub, sekaligus sangat hormat serta respek. Sebab, dengan keterbatasan fisiknya, ojol difabel mampu mandiri. Jujur, saya kadang suka kesal sama anak muda yang masih segar dan sehat jasmani, tapi malas bekerja.

Kadang, jika sedang bersama rekan ojol difabel, saya suka malu sendiri. Jika penyandang disabilitas saja giat mencari nafkah, tentu saya yang fisiknya lengkap tidak boleh loyo. Harus semangat seperti mereka.

Ya, kekurangan fisik tidak jadi halangan bagi penyandang disabilitas. Itu berlaku pada semua profesi. Alias, tidak hanya ojol saja. 

Contoh, saya sering membeli jajanan seperti kerupuk atau cemilan dari pedagang yang tuna netra. Hebatnya, beliau tidak ingin dikasihani. Alias, hanya mau menerima harga yang sudah disebutkan. 

Misalnya, kerupuk satu bungkus Rp5.000. Maka, pedagang tersebut dengan tegas menolak jika ada yang ingin memberi Rp10.000 atau lebih. 

Sikapnya, wajar. Pedagang itu enggan menjual drama kepada calon pembeli. Hebatnya lagi, beliau bisa tahu berapa nominal yang diterima hanya dari memegang lembaran kertas berdasarkan insting dan pengalaman sehari-hari. 

Bahkan, pendengaran dan penciumannya jauh lebih tajam ketimbang orang normal. Ya, Tuhan selalu memberi kelebihan lain di saat hambanya memiliki kekurangan.

Terkait difabel, saya baru ingat bahwa 3 Desember lalu merupakan Hari Penyandang Cacat Internasional. Momen yang setiap tahun diperingati di seluruh negara di kolong langit ini, termasuk Indonesia, jadi momen penting bagi banyak pihak untuk mengkampanyekan topik disabilitas dari berbagai sudut pandang.

Termasuk, yang terkait dengan kusta. Ya, sebagai ojol yang hobi menulis di blog, saya memang kerap mendengar tentang penyakit yang mitosnya akibat kutukan tersebut. 

Faktanya, kusta bisa disembuhkan. Hanya, memang butuh proses. Bahkan, jika orang yang menderita kusta tidak segera diobati dan luka yang ditimbulkan tak langsung ditangani, tentu berisiko mengalami disabilitas. 

Akibatnya, kualitas hidup mereka juga berpotensi menurun. Terlebih, stigma negatif kusta masih terus ada di masyarakat. 

Demikian, informasi yang saya dapat saat menyimak Talkshow Ruang Publik KBR - Yuk, Cegah Disabilitas karena Kusta! Bincang-bincang yang saya ikuti pada laman https://www.youtube.com/watch?v=Evr6v_6AUKo ini berlangsung Senin (20/12).

Talkshow itu terwujud berkat kolaborasi KBR dengan NLR Indonesia yang merupakan organisasi non-pemerintah alias Lembaga Swadaya Masyarakat untuk mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk kusta.

Maklum, berdasarkan data pada 2017 lalu, angka disabilitas penyandang kusta masih cukup tinggi. Yaitu, 6,6 per 1 juta penduduk. 

Padahal, pemerintah sudah menetapkan, target angka disabilitas kusta kurang dari 1 per 1 juta penduduk. Tingginya grafik itu mengindikasikan adanya keterlambatan penangangan dan penemuan kasus kusta.

Terutama, saat ini yang masih masa pandemi akibat koronavirus. Alhasil, untuk penelitian dan sebagainya, pun sangat terbatas yang tentu harus dimaklumi.

Nah, dalam talkshow itu, ada banyak yang bisa kita petik dan bisa disebarluaskan demi manfaat untuk khalayak ramai. Terdapat, dua narasumber yang turut hadir.

1. Dr. dr. Sri Linuwih Susetyo, SpKK(K) - Ketua Kelompok Studi Morbus Hansen (Kusta) Indonesia PERDOSKI

2. Dulamin - Ketua Kelompok Perawatan Diri (KPD) Kec. Astanajapura Cirebon


*      
*      *

"KITA harus saling edukasi, terutama kepada masyarakat terkait kusta merupakan penyakit yang membahayakan. (Akibat) guna-guna. (Padahal), kusta akibat bakteri," kata Dulamin terkait pengalamannya yang selama ini berkecimpung dengan penderita kusta.

"Ini terjadi ketika orang lagi sakit (kusta), stigma masyarakat sedang tinggi. Akibatnya, penderita malah makin sakit. Ini merupakan reaksi orang yang mengidap kusta. Jadi, kita harus rileks. Agar, tidak menimbulkan reaksi lagi," Dulamin, menjelaskan terkait penderita kusta yang tertekan hingga bisa menyebabkan disabilitas.

Pernyataan senada diungkapkan Linuwih. Menurutnya, kusta tidak menimbulkan komplikasi. Namun, obatnya iya, terkait alergi yang bereaksi terkait saraf.

"Disabilitas yang menjangkiti penderita kusta akibat kuman itu sendiri. Saraf yang menyerangnya. Menyebabkan mati rasa, kelumpuhan, atau kekeringan pada kulitnya. Jadi, harus segera diperiksa. Sebab, mati rasa kan tidak disadari. Itu yang menyebabkan cacat jika terus berlanjut," ujar Linuwih.

"Ada kecenderungan kusta bisa menyebabkan disabilitas. Walaupun, tidak semua. Itu karena bisa kita cegah jika (terindikasi) kusta ditemukan lebih awal dapat ditangani. Hanya, kuman ini tempat utamanya bersarang pada saraf yang bisa jadi cacat," Linuwih, mengungkapkan.

*      *      *

Ya, mari kita sama-sama responsif terkait suatu penyakit, termasuk kusta. Untuk lebih jelasnya, bisa disimak pada laman youtube tersebut. Atau, di portal KBR.id dan NLRIndonesia.or.id.

*      *      *


Artikel Terkait Kusta:
Karena Kusta Bukan Kutukan
Kolaborasi Semua Pihak untuk Hapus Stigma Negatif Kusta

Artikel Terkait Disabilitas
Asian Para Games 2018 Bukan sekadar Menang atau Kalah, tapi...
Lewat Bahasa Isyarat, Volunteer Buktikan Keramahan Indonesia
Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak
- https://www.kompasiana.com/roelly87/59f2b720c226f95795022c92/galeri-foto-christie-damayanti-selenggarakan-pameran-filateli-ke-13?page=all
- https://www.indonesiana.id/read/63461/christie-ubah-keterbatasan-jadi-kelebihan


*      *      *

Jakarta, 21 Desember 2021

Jumat, 26 November 2021

Kolaborasi Semua Pihak untuk Hapus Stigma Negatif Kusta

Kolaborasi Semua Pihak untuk Hapus Stigma Negatif Kusta


Ilustrasi @roelly87


GRAFIK penurunan penderita Koronavirus sejak beberapa bulan terakhir jadi momentum terbaik bagi masyarakat Indonesia. Itu setelah Covid-19 melanda negeri ini sejak Maret 2020. 

Namun, seiring waktu berjalan, kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), hingga seluruh rakyat di nusantara sukses menekan laju penyebaran Koronavirus. Ini jadi kabar baik bagi semua orang. 

Termasuk, saya yang sehari-hari berada di jalan. Tepatnya, sebagai ojek online (ojol) yang sangat menyambut gembira. Itu terlihat dengan kemacetan di berbagai sudut ibu kota. 

Pertanda, situasi pada mayoritas wilayah di Tanah Air sudah membaik. Memang, belum normal seperti sediakala. 

Di sisi lain, sudah menunjukkan bahwa kehidupan di nusantara ini akan pulih kembali. Ya, itu jadi harapan semua pihak. 

Nah, bulan ini juga kita memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang jatuh setiap 12 November. Ini jadi momentum yang baik untuk mengingatkan semua pihak tentang pentingnya kesehatan.

Bisa dipahami, sebab seperti yang kita ketahui, kesehatan merupakan hak dan pelayanan dasar yang harus dipenuhi negara. Ini sebagaimana tercantum dalam UU No 39/tahun 2009 tentang kesehatan, perlu diselenggarakan secara berkeadilan dan tidak diskriminatif.

Artinya, setiap warga negara, tak terkecuali penyandang disabilitas, termasuk orang dengan atau yang pernah mengalami kusta, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu.

Hanya, berbagai tantangan dan keterbatasan sumber daya membuat pelayanan ksehatan seingkali belum aksesibel bagi mereka. Untuk itu, penyelenggaraan program layanan kesehatan inklusif terus diupayakan banyak pihak. Termasuk, LSM dan berbagai badan usaha melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) alias tanggung jawab sosial perusahaan.

Eit... Kenapa saya mengaitkan kusta dengan situasi pandemi saat ini?

Sebab, memang sangat berkolerasi. Seperti yang saya sempat bahas di blog pada bulan lalu. Jujur saja, menulis tentang kusta ini sangat berat. Beda jika harus mengulas terkait tema kesehatan lain. Misalnya, diabetes yang sering saya tulis di blog ini berdasarkan pengalaman ibu saya.

Sementara, kusta, untuk saat ini saya belum bersinggungan secara langsung. Beruntung, saya merupakan penggemar cerita silat (Cersil) yang dalam kisah Tiga Dara Pendekar disinggung terkait mitos penyakit kutukan ini.

Apalagi, setelah saya rutin menyimak kabar di KBR yang kerap berkolaborasi dengan para blogger. Termasuk, Komunitas Indonesian Soial Blogpreneur, yang biasa berbagi informasi terkait kehidupan sehari-hari, kesehatan, wisata, edukasi, hingga hobi.

Itu yang saya alami saat menyimak webinar terkait kesehatan dalam Ruang Publik KBR: Bahu Membahu untuk Indonesia Sehat dan Bebas Kusta. Bincang-bincang itu saya ikuti pada laman https://www.youtube.com/watch?v=NfKl_Qt21xA yang berlangsung Rabu (24/11).

Terdapat dua narasumber yang aktif berbagi info kepada seluruh peserta, termasuk blogger yang rutin bertanya. Itu meliputi, Ketua TJSL PT DAHANA (Persero) Eman Suherman, SSos dan Junior Technical Advisor NLR Indonesia dr Febrina Sugianto.

"HKN 2021 ini jadi momen yang ditunggu. Kami, dari NLR Indonesia berharap, lebih banyak partisipasi dari masyarakat," kata Febrina. "Partisipasi dari banyak pihak akan membuat kusta bisa diketahui masyarakat umum. Kami juga bersama banyak pihak melakukan edukasi terkait kusta beserta mitos yang menyertainya."

Eman menambahkan, "Dari kami sebagai bagian dari BUMN, ada banyak program. Termasuk,kusta untuk penanganan yang lebih luas sasarannya. Selain itu, ada peran dari semua pihak, terutama kami, dalam sosialisasi kepada masyarakat penderita kusta. Salah satunya, pengobatan gratis kepada warga. Juga, menghapus diskriminasi terkait penderita kusta kepada masyarakat."

Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Untuk menghapus stigma negatif kusta di masyarakat, dibutuhkan kerja sama banyak pihak. Tidak hanya pemerintah saja, melainkan swasta, LSM, hingga masyarakat itu sendiri, termasuk saya dan Anda, pembaca blog ini. 

*      *      *

Artikel Terkait:
- Karena Kusta Bukan Kutukan

Artikel Terkait Disabilitas
Asian Para Games 2018 Bukan sekadar Menang atau Kalah, tapi...
Lewat Bahasa Isyarat, Volunteer Buktikan Keramahan Indonesia
Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak
- https://www.kompasiana.com/roelly87/59f2b720c226f95795022c92/galeri-foto-christie-damayanti-selenggarakan-pameran-filateli-ke-13?page=all
- https://www.indonesiana.id/read/63461/christie-ubah-keterbatasan-jadi-kelebihan

*      *      *

- Jakarta, 26 November 2021

Sabtu, 30 Oktober 2021

Karena Kusta Bukan Kutukan


Ilustrasi penanganan kusta (Foto: WHO.int)



UNTUK kali kedua secara berturut-turut, Hari Dokter Nasional yang diperingati setiap 24 Oktober ini berada dalam suasana kesunyian. Itu akibat Koronavirus yang melanda di muka bumi, khususnya Tanah Air sejak awal tahun lalu. Ya, pandemi memaksa mayoritas manusia di seluruh Indonesia untuk membatasi dalam aktivitas.

Namun, tidak dengan beberapa pihak, termasuk dokter dan tenaga kesehatan. Mereka tetap bekerja dalam senyap meski dalam situasi tidak menentu. Bahkan, akibat Covid-19 ini, hampir 2.000 tenaga kesehatan gugur, termasuk dokter.

Padahal, rasio dokter di Indonesia tergolong minim. Yaitu, hanya mencapai 0,4 per 1.000 jiwa. Alias, hanya terdapat empat dokter untuk melayani 10.000 penduduk. Bayangkan, dengan jumlah penduduk Indonesia yang berdasarkan sensus terbaru mencapai lebih dari 250 juta jiwa.

Nah, dengan banyaknya tenaga kesehatan yang berguguran, jelas berdampak pada layanan kesehatan yang tidak optimal. Salah satunya, kelompok yang terdampak adalah pasien kusta. Maklum, pada beberapa kasus, mereka harus terpaksa putus obat dan tidak mendapat layanan.

Akibatnya, temuan kasus baru menurun karena aktivitas pelacakan terbatas. Serta, angka keparahan atau kecacatan meningkat. Lalu, bagaimana perjuangan dokter untuk memberikan layanan kesehatan yang optimal. Termasuk, apa saja tantangan yang dihadapi para dokter dan tenaga kesehatan dalam mengatasi penyakit tropis terabaikan seperti kusta di tengah pandemi ini?

Fakta itu yang baru saya ketahui usai menyimak webinar bertajuk “Lika-Liku Peran Dokter di Tengah Pandemi”. Cerita menarik dari para dokter tangguh dalam talkshow itu disiarkan di laman youtube KBR, https://www.youtube.com/watch?v=88CKd4xSq4M.

Yaitu, portal penyedia konten berita berbasis jurnalisme independen yang berdiri sejak 1999 silam. KBR berkolaborasi dengan NLR Indonesia yang merupakan organisasi non-pemerintah alias Lembaga Swadaya Masyarakat untuk mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk kusta.

Acara tersebut disiarkan streaming pada Jumat (9/10) pukul 09.00 WIB. Namun, saya hanya mengikutinya tipis-tipis akibat malamnya ngalong sebagai ojek online (ojol) hingga membuat mata berat. Beruntung, dalam informasi yang saya dapat dari Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB), terdapat siaran ulang yang bisa saya saksikan di youtube KBR.

Dalam perbincangan itu terdapat dua narasumber. Yaitu, dr. Ardiansyah yang merupakan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia dan dr. Udeng Daman (Technical Advisor NLR Indonesia).

Sebagai masyarakat awam, saya mengakui, topik tersebut berat. Namun, sebagai ojol yang menghabiskan mayoritas waktunya di jalanan, tentu sedikitnya saya mengenal tentang kusta. Beserta, mitos yang menyertainya.

Apalagi, saya juga penggemar cerita silat (cersil). Seingat saya, ada salah satu tokoh rekaan Liang Yusheng berjudul Tiga Dara Pendekar (Jiang Hu San Nu Xia). Atau, dalam terjemahan populer bahasa hokkian yaitu, Kang Ouw Sam Lie Hiap yang berlatar pada abad 17 di Cina.

Dalam kisahnya, ada jagoan bernama Tok-liong Cuncia yang mahasakti tapi menderita akibat kusta yang menyebabkannya dikucilkan masyarakat. Hingga, dalam perjalanannya, sosok yang awalnya antagonis berubah jadi baik.

Bahkan, dengan hasil penemuannya di pulau terpencil bisa mengobati masyarakat yang menderita kusta. Maklum, dulu pengidap kusta mendapat sorotan negatif hingga dijuluki penyakit kutukan. Sebab, saat itu, teknologi belum secanggih sekarang.

Nah, kembali lagi. Seiring perkembangan zaman, saat ini, kusta bisa disembuhkan tanpa disertai kecacatan. Kuncinya, pengobatan secara tepat dan tuntas sejak dini. Itu mengapa, dokter dan tenaga kesehatan sangat dibutuhkan kehadirannya. Terutama, pada situasi pandemi ini yang membuat para dokter bekerja ekstrakeras untuk membantu penyembuhan penyakit.

“(Pada pandemi ini) kami, para dokter tetap bekerja seperti biasa. Selain itu, kami juga turut memberi edukasi. Namun, intinya peran serta masyarakat dalam kesadaran menjaga protokol kesehatan. Ini yang kami harapkan kerjasamanya, baik dari masyarakat, media untuk edukasi, dan seluruh elemen,” kata Ardiansyah.

Pada saat yang sama, terkait situasi pandemi yang berpengaruh pada dunia kesehatan, Udeng menegaskan, pelayanan terkait kusta berjalan lancar. Kendati, tidak seoptimal saat situasi normal.

“Di lapangan, (para dokter dan tenaga medis) menyesuaikan dengan kebijakan pada daerah masing-masing. Misalnya, ada PPKM level 1, 2, dan 3. Kegiatan pun terbatas. Namun, tetap ada solusi. Jika normal pemeriksaan door to door, sekarang bisa konsultasi via teknologi. Intinya, ada solusi di tengah pandemi ini untuk penanganan kusta,” Udeng, mengungkapkan.

Ya, stigma kusta yang masih negatif sekarang ini perlahan berkurang. Memang, ini penyakit jika tidak diobati berpotensi menularkan kepada orang lain dengan kontak erat dan dalam periode sama. Namun, jika melakukan pengobatan secara intensif, kusta bisa disembuhkan. Alias, bukan lagi kutukan seperti mitos yang selama ini beredar di masyarakat.***

*      *      *

Artikel Terkait Disabilitas
Asian Para Games 2018 Bukan sekadar Menang atau Kalah, tapi...
Lewat Bahasa Isyarat, Volunteer Buktikan Keramahan Indonesia
Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak
- https://www.kompasiana.com/roelly87/59f2b720c226f95795022c92/galeri-foto-christie-damayanti-selenggarakan-pameran-filateli-ke-13?page=all
- https://www.indonesiana.id/read/63461/christie-ubah-keterbatasan-jadi-kelebihan


*      *      *

- Jakarta, 30 Oktober 2021

Jumat, 31 Juli 2020

Antara Rokok, Cukai Naik, dan Pandemi


Talkshow yang diselenggarakan KBR dengan tema "Mengapa Cukai
Rokok Harus Naik Saat Pandemi" pada 29 Juli lalu


PANDEMI Koronavirus berdampak luas bagi umat manusia di kolong langit. Termasuk, di Tanah Air yang berdasarkan data dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 pada Kamis (30/7) sudah mencapai lebih dari 100.000 jiwa yang terdampak.

Imbasnya, tidak hanya berdampak pada kesehatan dan ekonomi saja yang dirasakan nyaris seluruh lapisan masyarakat. Melainkan juga berbagai faktor lainnya, misalnya, industri, pariwisata, pertanian, jasa, dan sebagainya.

Tentu, yang fatal saat ini terkait kesehatan. Apalagi, jika seseorang yang mengidap Penyakit Tidak Menular (PTM) dan terjangkit korona bisa berpotensi tinggi. Nah, berdasarkan riset Kementerian Kesehatan, salah satu faktor PTM adalah merokok.

Itu meliputi Kardiovaskular, Kanker, Paru Kronis, dan Diabetes atau Kencing Manis. Selain itu, rokok juga disebut jadi faktor risiko penyakit menular seperti TBC dan Infeksi Saluran Pernapasan.

Btw... Saya perokok! Yupz, jujur saja. Saya memang perokok aktif. Malah, sehari bisa sebungkus. Terlebih dengan profesi sebagai ojol alias ojek online yang membuat mayoritas waktu saya berada di jalanan. Alhasil, rokok sudah jadi tandem saya bersama kopi hitam dan cemilan yang meliputi gehu pedas dan kuaci.

Nah, sebagai ojol, tentu saya punya banyak waktu luang untuk melihat perkembangan informasi terkait Koronavirus. Tidak hanya di berita online saja, melainkan juga media sosial seperti twitter, facebook, dan instagram, serta rutin mengecek youtube. Bukan sekadar untuk dengar lagu atau mencari video klip terbaru, tapi juga untuk mengamati data terbaru mengenai Koronavirus.

Termasuk, saat menyimak talkshow yang diselenggarakan Kantor Berita Radio (KBR). Awalnya, terkesan akward mengingat saya perokok. Sementara, perusahaan media yang menyokong berita untuk 600 radio di Tanah Air dari Aceh hingga Papua ini mengusung tema yang menurut saya "agak berat". Yaitu, Mengapa Cukai Rokok Harus Naik Saat Pandemi?

Saya pun sempat mengernyitkan dahi. Sebab, sepengetahuan saya, berapa pun harga rokok, pembelinya pasti ada. Itu berdasarkan pengalaman saya yang kerap mengunjungi suatu tempat dan tetap beli rokok.

Misalnya, di Singapura yang per bungkus dibanderol 20 S$. Kalikan dengan Rp 10.000 per dolar Sin. Pun demikian ketika mengunjungi Malaysia, yang banderolnya 30 ringgit dan Wales, 10 poundsterling. Sementara, rata-rata rokok di Tanah Air, "hanya" Rp 20.000. Tergolong murah dan sangat menggoda bagi seluruh lapisan masyarakat.

Namun, saya juga sadar. Di tengah pandemi ini, Indonesia pun terkena dampak ekonomi. Itu mengapa, pemerintah menekankan kepada setiap individu, untuk memangkas pengeluaran yang tidak perlu. Termasuk, rokok yang bagi sebagian orang, termasuk saya, sudah jadi kebutuhan sehari-hari.

Masuk akal jika saat pandemi ini, cukai rokok dinaikkan. Memang, tidak serta-merta membuat orang untuk berhenti merokok. Minimal, akan berusaha mengurangi alokasi bujet untuk rokok. Termasuk, saya pribadi yang sudah melakukannya sejak April lalu terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Maklum, ketika itu, pendapatan berkurang drastis akibat dihentikannya sementara layanan penumpang. Alhasil, biaya untuk rokok pun direlokasi. Tadinya merek lumayan jadi "kelas bawah". Termasuk, awalnya beli per bungkus, menurun jadi setengah. Bahkan, saking bokeknya pada Mei lalu yang bertepatan dengan Ramadan membuat saya hanya mampu beli ketengan, per hari enam atau tiga batang.

Rasa penasaran saya terkait kenaikan cukai rokok pun terjawab saat menyimak lebih lanjut diskusi yang diselenggarakan KBR dengan menampilkan dua narasumber kompeten. Yaitu, Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau Profesor Hasbullah Thabrany dan Dosen serta Peneliti Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia Renny Nurhasana.

Ya, intinya kenaikan cukai tidak dimaksudkan untuk menghentikan konsumsi rokok di masyarakat. Namun, tindakan ini mampu mengendalikan peredaran rokok. Terutama, di kalangan mengengah ke bawah. Maklum, jadi ironi juga mengingat saat pandemi ini, perusahaan rokok mengklaim peningkatan jumlah produksi dan kenaikan permintaan rokok saat pandemi.

Saya pribadi mendukung rencana pengendalian tersebut. Meski saat ini masih aktif, tapi memang saya berencana untuk berhenti merokok, kelak. Mungkin, ketika sudah memiliki anak. Sebab, tidak lucu juga ketika asyik merokok, asapnya malah mengotori ruangan di rumah.

Niat saya untuk berhenti juga didasari pengalaman teman blogger yang merupakan perokok aktif sejak puluhan tahun. Namun, beliau bisa langsung berhenti seketika pada dekade lalu. Tepatnya, ketika berbincang dengan kolega sesama perokok di ruang tamu rumahnya.

Tidak lama, putranya yang masih balita langsung mencomot rokok dari asbak dan menghisapnya dengan gaya meniru sang ayah. Alhasil, wajah teman saya memerah karena enggan anaknya ikut-ikutan merokok. Sejak saat itu, teman saya pun berhenti ngudut hingga kini yang jadi inspirasi saya di masa depan.

"Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini."

*         *         *


- Jakarta, 31 Juli 2020