TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Otomotif Harian TopSkor

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Otomotif Harian TopSkor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Otomotif Harian TopSkor. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Oktober 2014

Sisi Lain Pemanis Sirkuit



DALAM dunia olahraga, selain pelaku utama, baik tim maupun individu tidak lepas dari dukungan pihak lainnya. Terutama yang berasal dari kaum hawa sebagai faktor pemanis yang terkadang bisa sebagai pelepas bosan bagi penonton saat menyaksikan pertandingan.
Itu terjadi di sepak bola ketika sekumpulan penggemar perempuan, terutama kekasih atau istri. Mereka dikenal sebagai Wives and Girlfriends (WAGS) yang selalu mendukung pemain atau tim pujaannya berlaga.

Hal sama berlaku di arena tinju, ketika gadis-gadis cantik membawakan papan ronde yang bisa melepas suasana emosional akibat panasnya pertarungan. Juga peran caddy yang sangat membantu seorang pemain di lapangan golf.

Sementara, di arena balap juga terdapat istilah Umbrella Girls atau gadis yang memayungi pembalap sebelum start. Inti dari profesi mereka sama, sebagai penunjang kepopuleran suatu cabang olahraga. Selain itu, keberadaannya juga tidak hanya sekadar pelengkap atau pemanis belaka, melainkan untuk menyegarkan suasana agar tidak kaku di lintasan balap.

Hanya, adakalanya, peran Umbrella Girls kerap mendapat pandangan yang kurang baik. Maklum, busana yang mereka kenakan terkadang sangat minim. Itu membuat sebagian pihak kerap memandang profesi mereka dengan stigma negatif. Namun, tidak semua Umbrella Girls di arena balap seperti yang ditudingkan tersebut.

Itu diungkapkan Cindy Maulida yang sejak 2009 berprofesi sebagai pembawa payung di lintasan balap. Menurut dara manis penggemar bulutangkis ini, pekerjaan yang dijalaninya itu sebenarnya sama dengan profesi lainnya. Namun, mahasiswi semester delapan di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta ini mengakui masih ada stigma negatif dari sebagian pihak mengenai Umbrella Girls.

“Anggapan itu pasti ada, tapi tergantung persepsi orang juga,” kata Cindy, 24 tahun. “Yang pasti, selama ini saya belum pernah mengalami hal yang aneh-aneh. Memang sih, saya sering mendengar ada teman yang kerap digoda bos-bos nakal. Hanya, sekali lagi itu tergantung dari reaksi orang itu sendiri. Yang pasti, saya menjalani ini dengan niat baik.”

Dinamika Hidup

Apa yang dituturkan Cindy tidak jauh berbeda dengan rekannya, Finny, yang ditemui TopSkor di ajang Indoprix 2013, Sirkuit Sentul, Minggu (22/5). Mahasiswi jurusan Public Relations ini menganggap wajar dengan stigma negatif tersebut.  

“Pastinya, profesi yang saya jalani atas izin keluarga dan tidak sampai menyinggung khalayak ramai. Mengenai pro dan kontra keberadaan Umbrella Girls, itu merupakan dinamika dalam hidup,” ujar pengagum berat rider tim Yamaha Factory Racing di MotoGP, Jorge Lorenzo.
Ketika disinggung mengenai bayaran yang diterima dari sebuah ajang balap. Baik Cindy maupun Finny serempak menyebut nominal di kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung kualitas event tersebut. Di sisi lain, keduanya selalu bersikap profesional terhadap pembalap yang dipayungi maupun pihak promotor.

“Kami hanya sebatas menjalin hubungan pekerjaan, termasuk sekadar tukaran nomor ponsel. Tidak lebih,” tutur Cindy. “Tujuan saya mendukung pembalap dan tim sebelum balapan dimulai. Selepas acara, saya kembali menjadi mahasiswi yang harus fokus untuk belajar,” Finny, menambahkan.*

- Jakarta, 28 Oktober 2014 (Artikel ini dimuat di Harian TopSkor 27 Oktober 2014)

Minggu, 03 November 2013

Ketika Polwan Beraksi di Atas Moge

Ketika Polwan Beraksi di Atas Moge

13860262301529454879
Salah satu atraksi Polwan di atas Moge (www.kompasiana.com/roelly87)
Mendengar kata Moge atau motor gede, ingatan saya langsung mengarah seperti yang biasa dilihat di tayangan televisi. Misalnya, aktor Lorenzo Lamas yang sukses dalam serial Renegades yang pada dekade 1990-an menjadi tayangan “wajib” remaja, duet Antonio Banderas dan si manis Salma Hayek dalam film Hollywood, Desperado, atau salah satu pegulat Smackdown, The Undertaker.

Kalau dalam negeri, ada Indro Warkop yang terkenal dalam film Chips. Intinya, mereka pantas menunggangi “Si Kuda Besi” karena memang berperawakan tingi besar. Namun, bukan berarti orang yang berpostur kecil atau kaum wanita yang mungil tidak bisa menguasai motor berkapasitas di atas 600-cc tersebut.

Setidaknya, itu yang saya alami ketika menyaksikan atraksi barisan polisi wanita (Polwan) di atas Moge di lapangan Polda Metro Jaya, Minggu (1/12). Tepatnya, ketika salah satu produsen ban ternama dunia, Michelin, menyelenggarakan acara Road Safety Day

Kebetulan, acara yang berlangsung serentak bersama Car Free Day dan bertepatan dengan Hari Aids Sedunia itu diselenggarakan pagi hari. Jadi, sambil olahraga, saya bisa mengikuti hingga selesai Road Safety Day yang dijadikan kampanye “Keselamatan dalam Berkendara” oleh jajaran Polda Metro Jaya.

Selain atraksi yang dilakukan Polwan di atas Moge, acara itu juga meliputi mengayuh santai sepeda dengan rute Lapangan Polda Metro Jaya - Jalan Jenderal Sudirman - Bunderan Hotel Indonesia. Lalu, atraksi dari komunitas sepeda BMX, parade polisi cilik (Pocil), serta penampilan grup vokal dari Polwan Metro Jaya dan ditutup aksi Alexa, band yang sempat memeriahkan Kompasianival 2011.

Namun, tetap saja tujuan utama saya menghadiri Road Safety Day itu untuk menyaksikan aksi Polwan di atas Moge. Saat itu, belasan anggota  Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya sukses memamerkan keahliannya menunggangi “Si Kuda Besi”. Mereka yang tergabung dalam sub unit Brigade Motor (BM) Satuan Patroli dan Pengawalan begitu luwes meliuk-liuk di atas Moge.

Ada yang melakukannya sendiri sambil lepas satu tangan, dua tangan, berdiri, hingga tiduran. Bahkan, yang menarik ketika dua Polwan mempertontonkan kemampuannya dalam satu Moge. Layaknya aksi teatrikal di pentas drama, mereka menganggap apa yang dilakukannya merupakan hal yang biasa. Itu karena mereka dengan tenangnya mengendarai Moge sambil zig-zag seraya bergantian memegang kemudi tanpa takut terjatuh.

Padahal, pengunjung yang memadati Lapangan Polda Metro Jaya, banyak yang kaget dengan aksi mereka. Tak jarang, aplaus panjang bergema dari pengunjung, terutama kaum pria yang menyaksikan atraksi tersebut. Sebab, kedua Polwan itu unjuk kebolehan ketika Moge yang dikendarai sedang jalan. Tentu, tanggapannya jadi berbeda jika Moge berbagai merek itu dalam keadaan diam, alias sedang diparkir. Lantaran butuh kerja sama yang kuat dari kedua Polwan itu agar bisa seimbang di atas Moge.

Seusai atraksi, Komandan BM, Inspektur Polisi Dua (Ipda) Christin, mengatakan kepada saya, bahwa agar bisa melakukan seperti itu, setiap Polwan harus berani jatuh. Itu karena kegiatan tersebut merupakan santapan sehari-hari mereka yang tugasnya berpatroli di titik utama jalan protokol di Jakarta dan mengawal kendaraan Ibu Negara.

“Sebenarnya, tidak ada kemampuan khusus untuk mengendarai Moge ini. Apalagi, postur tubuh tidak begit berpengaruh, baik pria atau wanita bisa melakukannya. Yang penting, mereka harus siap jatuh kalau latihan agar terbiasa dalam melakukan pengawalan,” tutur Christin.

*     *     *
13860263422084820500
Ratusan masyarakat sebelum mengayuh sepeda santai
*     *     *
13860264331550806602
Aksi komunitas BMX melompati empat hingga 10 orang
*     *     *
1386026493428061882
Polisi cilik (Pocil) berbaris rapi
*     *     *
13860265361841215069
Grup vokal dari Polwan Polda Metro Jaya yang bening-bening
*     *     *
1386026589784129147
Jelang atraksi di atas Moge
*     *     *
13860267081485613315
Dua anggota Polwan mulai beraksi
*     *     *
138602675996741145
Kerja sama menjadi kunci menjaga keseimbangan mereka
*     *     *
1386026840711947376
Usai melakukan manuver dengan berganti pegang kemudi
*     *     *
1386026899923192142
Atraksi Polwan di atas Moge sendirian, bahkan sambil tiduran
*     *     *
*     *     *
Sebelumnya
*     *     *
Foto-foto merupakan koleksi pribadi (www.kompasiana.com/roelly87)

Jakarta, 3 November 2013

Kamis, 20 Juni 2013

Diana Crystal Lukmawati: Bisa Nyetting sejak SMP


Bisa Nyetting sejak SMP

Diana Crystal Lukmawati. Ya, nama itulah yang sukses mencuri perhatian saat gelaran Yamaha Cup Race (YCR) 2013 di Sirkuit Kanjen, Pekalongan, Minggu (16/6). Dara cantik asal Solo itu mampu menyuguhkan aksi yang mengundang decak kagum ribuan penonton.

Meski tidak mampu menjadi yang tercepat, alias hanya berada di posisi kedua kelas Mio J Ladies Bikers, tapi pembalap yang biasa disapa Diana berhasil tampil impresif. Kemampuannya bermanuver menjadi ciri khas tersendiri dari gelaran YCR edisi ketiga bersama Sulung Giwa yang menjadi Juara Umum Seeded dan Galang Hendra (Juara Umum Pemula).

Padahal, saat start Diana tidak begitu diunggulkan karena pada sesi kualifikasi hanya 
menempati urutan keempat. Namun, setelah lomba dimulai, Sosok yang mengidolai Nicky Hayden, pembalap tim Ducati di MotoGP ini langsung melesat dan semakin di depan.

“Saya bangga akhirnya bisa jadi runner-up. Ini merupakan debut saya di YCR setelah pada beberapa seri sebelumnya tidak ikut karena konsentrasi menghadapi ujian sekolah,” kata Diana, 18 tahun.

Perempuan yang sudah keliling Indonesia mengikuti balapan ini senang bisa mengikuti gelaran YCR di Pekalongan. Kendati jauh dari tempat tinggalnya di Solo, namun Diana yang didukung penuh keluarga sangat antusias menghadapinya.

Maklum, dia sudah menggemari balapan sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP). Meski saat itu sebatas hobi.Diana mengapresiasi event YCR yang membuat wadah resmi balapan bagi remaja seusianya dibanding harus balap liar di jalan raya.

“Selain hobi, saya menggeluti balapan karena enggak mau kalah dari laki-laki. Lalu, saya diajari Ayah untuk mengetahui seluk beluk mengenai motor. Termasuk mengendarai, merasakan ada yang tidak beres apa tidak pada motor, hingga cara nyetting. Itu semua dilakukan secara bertahap sejak SMP sampai sekarang lulus SMA,” Diana mengungkapkan.

Kendala Balapan

Di sisi lain, Diana menyadari tidak mudah menjadi pembalap, terutama dirinya yang kini sedang menatap jenjang profesional. Itu merujuk pengalamannya selama empat tahun terakhir menggeluti balapan. Salah satunya harus memakai kostum balap yang beratnya minimal lima kilogram saat lomba. Apalagi, sebagaimana seorang perempuan, Diana harus menghadapi masalah klasik: Haid atau datang bulan.

“Kalau kostum balap sih memang berat banget.  Untungnya sekarang sudah terbiasa karena selalu dipakai saat balapan, jadi tidak terlalu mengganggu. Nah, kalo haid itu yang terkadang jadi pikiran. Tapi, sejauh ini saya belum pernah mengalami kejadian aneh saat balapan,” tutur Diana.*

Profil Diana di Harian TopSkor 19 Juni 2013


Data Diri:
Nama lengkap             : Diana Crystal Lukmawati
Panggilan                    : Diana
Lahir                            : 17 April 1995
Tempat                        : Karanganyar, Solo
Hobi                            : Balapan dan Menyaksikan MotoGP
Cita-cita                      : Menjadi pembalap profesional
Prestasi                       :          

Yamaha Cup Race 2013         : Seri Pekalongan (Runner-up)
Kejuaraan Daerah                   : Bandung (Runner-up), Sentul (Posisi 3), Subang (Posisi 3).


Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 19 Juni 2013

Selasa, 18 Juni 2013

Yamaha Ingin Berkontribusi Lebih ke Masyarakat


Wawancara Eksklusif Manajer Motorsport Yamaha Indonesia, Supriyanto: 


Wawancara Supriyanto di Harian TopSkor


PEKALONGAN – “Semakin di Depan!” Itulah tagline utama dari Yamaha Motor Indonesia. Salah satu produsen sepeda motor terbesar di nusantara ini kian mengukuhkan sebagai sebuah produk yang tidak hanya mementingkan sisi komersial belaka. Melainkan Yamaha juga ingin berkontribusi lebih kepada masyarakat, khususnya pengendara roda dua.

“Tujuan kami menggelar Yamaha Cup Race ini tidak lain sebagai media bagi masyarakat yang ingin menyalurkan hobi balapan secara resmi. Itu sebagai wujud peran kami mencegah aksi balapan liar di jalan raya,” kata Manajer Motorsport Yamaha Indonesia, Supriyanto. Berikut petikan wawancara TopSkor dengan pria yang dikenal kalangan bikers sebagai sosok yang murah senyum.

Alasan Anda menggelar balapan seperti Yamaha Cup Race 2013?

Kami rutin mengadakan acara seperti ini sejak tahun 1990 atau sudah edisi ke-23. Tujuan kami di samping untuk promosi, agar mewadahi masyarakat yang hobi balap dengan membentuk lomba secara resmi. Selain itu, kami juga ingin mencari bibit pembalap dengan memfasilitasi mereka agar bisa mengharumkan Indonesia.

Kendalanya mengadakan acara ini?

Biasanya mengenai sirkuit, sebab sulit mencari areal dengan kriteria yang sesuai dengan standar kami. Minimal panjang satu km dan lebar 7-8 meter. Kebanyakan sirkuit di sini berada di tengah kota, hingga agak sulit mendapat izin karena letaknya di jalan raya bukan permanen.

Acara seperti Yamaha Cup Race 2013 ini apakah berdampak signifikan terhadap penjualan?

Tentu. Tapi, fokus kami mengadakan event seperti itu justru untuk menguatkan brand di mata masyarakat. Maklum, imej Yamaha kan identik dengan motorsport. Selain itu kami juga banyak mengenalkan tips, cara mengendarai yang sehat, dan pengembangan teknologi agar aman dan nyaman dikendarai masyarakat.

Bisa disebutkan anggaran untuk acara tersebut?

Standar saja. Namun, untuk setiap event tentu berbeda, alias tergantung wilayah. Seperti di Jakarta beda dengan Pekalongan. Selain itu, luar Jawa yang memerlukan biaya paling besar, karena butuh unit, tim, mekanik, termasuk mengirim ekspedisi lainnya.

Sponsor?

Tentu. Karena kami menjalin banyak kemitraan dari mereka yang merupakan vendor internal agar acara ini terlaksana dengan baik. Mulai dari Yamalube, Pertamax Plus, SMF, KYT, FDR, KYB, dan NGK. Selain itu setiap acara yang kami buat berkat dukungan semua pihak seperti Kepolisian, Ikatan Motor Indonesia (IMI), dan pastinya masyarakat luas.

Mengenai injeksi?

Produk kami hampir seluruhnya injeksi. Mulai dari matic, sport, hingga bebek kecuali Jupiter MX yang belum dan sedang menuju seperti itu. Intinya kami ingin menghasilkan produk yang penggunaan bahan bakar lebih ramah lingkungan dan tidak boros.

Tentang penyerataan tim balap yang wajib injeksi apakah sama dengan kebijakan Yamaha dan sudah siap?

Tergantung regulasi. Terutama IMI yang mengeluarkan kebijakan tersebut. Hanya, itu semua bertahap dan tidak bisa langsung. Di beberapa region masih menggunakan karbu pada semua motor. Dan, Yamaha bertanggung jawab dalam mempromosikan produk ramah lingkungan.

Maksudnya?

Yamaha itu imejnya sports. Tapi, kami juga irit dan efisien dalam konsumsi bahan bakar. Apalagi, segmen pasar kami di semua level, ada remaja, perempuan, ibu-ibu, hingga pekerja kantoran.

Rencana ke depan selain Yamaha Cup Race?


Kami ingin banyak lagi pembalap Indonesia yang berhasil dengan target menuju pentas dunia seperti Doni Tata. Saat ini ada beberapa pembalap yang sudah kami siapkan dengan membentuk karier dari awal dan menyiapkan segala sesuatunya. Terutama mental, moral, dan skill pembalap itu sendiri yang akan digenjot secara bertahap. Salah satunya melalui sekolah Yamaha Riding Academy yang dibentuk sejak 2005 lalu.***

Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 18 Juni 2013

Yamaha Cup Race 2013 Seri Pekalongan: Dominasi Pembalap Cilik

Salah satu rider termuda, Agung Didu yang berusia 10 tahun sukses mencuri perhatian penonton.





PEKALONGANAgus Setiawan kembali menjadi pembalap tercepat pada kelas Bebek 4Tak 125cc tune-up seeded di Sirkuit Kajen, Pekalongan, Minggu (16/6). Remaja kelahiran 18 Agustus 1997 ini berhasil menjadi yang tercepat dengan rekor waktu 48 menit dari 15 lap.

Hebatnya, Agus, begitu dia disapa, saat sesi kualifikasi juga memimpin lomba pada sehari sebelumnya, Sabtu (15/6). Tak pelak, aksi pembalap tim Yamaha Yamalube TDR FDR NHK Yonk Jaya itu mengundang decak kagum dari seluruh penonton yang menyaksikannya.

Penunggang Yamaha Jupiter Z 125cc itu menyebut kemenangannya merupakan hasil kerja keras tim. “Saya bangga bisa menjuarai lomba saat start dari posisi pertama hingga finis sebagai yang terdepan,” kata Agus, 15 tahun. “Tapi, ini bukan karena kehebatan saya semata. Melainkan juga berkat dukungan semua pihak, keluarga, dan tim mekanik yang selalu mengantisipasi pergerakan motor.”

Sementara, Tamy Pratama yang hanya menduduki peringkat dua dari 12 pembalap, mengaku tidak kecewa. Meski gagal menyalip Agus, tapi Tamy mampu menempel ketat dari lap pertama hingga akhir. “Senang sih dapat posisi kedua. Sebab, saya agak ngeri juga mengingat aspal ini baru dibuat hingga agak licin. Alhasil, saya main agak safety biar bisa mengimbangi,” Tamy, mengungkapkan.

Dari sembilan kelas yang dilombakan, salah satu aksi yang paling memikat terjadi pada lomba kelas 110cc Tune-up Seeded. Itu karena aksi kejar-kejaran Sulung Giwa yang berasal dari tim Yamaha Yamalube NHK 3M FDR Ridlatama RT dengan Anggi Permana (Yamaha Yamalube FDR KYT Trijaya).

Keduanya sukses mengundang perhatian ribuan penonton yang menyaksikan balapan di sirkuit yang terletak 25 km dari kota Pekalongan tersebut. Hanya, Anggi yang sempat melakukan manuver ciamik di tikungan berbahaya, harus merelakan posisinya dibalap Sulung.

Aksi Pembalap Cilik

Sementara, Agung Didu yang merupakan pembalap termuda (10 tahun) tidak mau kalah. Penunggang tim Yamaha Yamalube FDR KT Trijaya asal Makassar ini tidak canggung kendati harus berduel dengan rider yang usianya jauh lebih tua. Kendati tidak berhasil juara, tapi Didu sukses menempati posisi runner-up di kelas 4Tak 110cc Standar Pemula. 

Mmh... Gimana ya, saya sih sudah berusaha maksimal. Start dari pertama, malah dapatnya kedua. Yang pasti sih, balapan Yamaha Cup Race 2013 di sini (Seri Pekalongan) seru juga dan menegangkan,” kata rider cilik asal Makassar itu dengan wajah polosnya.*



HASIL LOMBA:

1. Bebek  4Tak 125cc Tune up Seeded

Nama – Nomor urut – Asal – Tim - Waktu
1.      Agus Setiawan – 47 – Solo – YAMAHA YAMALUBE TDR FDR NHK YONK JAYA – 48.786
2.      Tamy Pratama – 135 – Bandung – YAMAHA AYMALUBE KYT FDR SND – 48.909
3.      Yoga Adi – 115 – Yogyagakarta – YAMAHA YAMALUE NHK 3M FDR RIDLATAMA RT – 49.270

2. Bebek 4Tak 110 cc Standar Pemula

Nama – Nomor urut – Asal – Tim – Waktu
1.      Erfin Firmansyah – 85 – Pekalongan – PUTRA SRI JAYA GKM – 53.538
2.      Agung Didu – 152 – Makassar – YAMAHA YAMALUBE FDR KT TRIJAYA – 53.538
3.      Dafa Krisna – 105 – Yogyakarta – YAMAHA BKHN DITS – 54.196

3. Xeon RC Standar Showroom

Nama – Nomor urut – Asal – Tim – Waktu
1.      M. Ilham – 138 – Sulawesi – HALET JAYA NAGOYA BOB’S DRMS NHKA – 58.207
2.      M. Rovic – 56 – Solo – JIMZ32 FREEDOM HMTC JOGJA – 58.443
3.      Rizki Kevin PSJ – 192 – Pati – PUTRA SRI JAYA GKM DENI SPEEED MG – 58.981

4. Bebek 4Tak 110cc Tune up Seeded

Nama – Nomor urut – Asal – Tim – Waktu
1.      Sulung Giwa – 95 – Tulung Agung – YAMAHA YAMALUBE NHK 3M FDR RIDLATAMA RT – 49.529
2.      Anggi Permana – 158 – Tasikmalaya – YAMAHA YAMALUBE FDR KYT TRIJAYA – 49.709
3.      Tamy Pratama – 135 – Bandung – YAMAHA YAMALUBE KYT FDR SND – 49.698

5. Bebek 4Tak 125cc Tune up Pemula

Nama – Nomor urut – Asal – Tim – Waktu
1.      Rheza Danica – 123 – Yogyakarta – YAMAHA YAMALUBE FOR KYT TRIJAYA – 49.175
2.      Galang Hendra – 99 – Yogyakarta – YAMAHA YAMALUBE NHK 3M FDR RIDLATAMA RT – 49.563
3.      Dohan Akbary Zariah – 9 – Tangerang – YAMAHA TDR WARID NHK RACING TEAM – 49.428

d


Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 17 Juni 2013
J