TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: wulan guritno

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label wulan guritno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wulan guritno. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Desember 2017

Radio sebagai Teman Setia dan Berbagi Informasi


Press Conference Radio Day pada 11 Desember lalu

"Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu
Kutelepon di rumahmu sedang apa sayangku
Kuharap engkau mendengar
Dan katakan rindu..."

Demikian, lirik legendaris dari almarhum Gombloh yang populer  pada 1986 silam. Saya jadi teringat lagu itu ketika menyimak lini masa di twitter sepanjang Senin (11/12). Betapa tidak, saat itu pada pukul 07.45-08.00 WIB, masyarakat di Tanah Air, khususnya warga ibu kota tidak bisa mengakses radio.

Itu karena selama 15 menit, radio di DKI Jakarta serentak tidak mengudara. Tak heran jika tagar #RadioGueMati membahana. Bahkan, menjadi heboh ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) ikut mencuit. "Emang enak nggak ada radio. Saya Joko Widodo, pendengar radio. Kalau kamu?" ujar Jokowi.

Setelah itu, netizen di seluruh nusantara pun kompak menyuarakan hashtag, #RadioGueGakMati. Kami berharap -karena saya salah satu yang mencuit sebagai pendengar- radio tidak padam. Ya, meski zaman telah berubah seiring perkembangan teknologi, porsi radio tetap tak tergantikan.

Kebetulan, di rumah saya sering mendengarkan radio via konvensional. Sementara, ketika di jalan, saya mendengarnya lewat smartphone. Apa pun itu sarananya, bagi saya radio merupakan kawan sejati di mana pun dan kapan pun.

Pasalnya, beda dengan mendengar musik atau layanan streaming lain yang hanya satu arah. Sementara, di radio, saya bisa mengengarkan lagu terbaru, terpopuler, hingga kenangan, sambil dipandu penyiar. Bahkan, ketika masih abg, saya sering menitip salam kepada seseorang lewat udara. Dan, yang tak kalah penting, radio jadi media saling berbagi informasi untuk mengetahui info lalu lintas.

Sayangnya, pemilik atau pengelola radio justru harus mati-matian mempertahankan eksistensinya. Maklum, dibanding televisi atau media cetak, radio hanya mendapat porsi iklan sekitar satu persen. Yupz, 1%!

Padahal, dalam riset Nielsen CMV & RAM Q3 2017, terdapat 62,3 juta pendengar radio di Tanah Air, dengan 41,9 juta terpusat di pulau Jawa. Untuk DKI Jakarta dan sekitarnya terdapat 9 juta pendengar.

Demikian, fakta yang saya ketahui usai menghadiri press conference Radio Day di Ayana Mid Plaza, Jakarta Pusat, sore harinya. Acara itu diikuti 37 radio di Jakarta yang tergabung dalam Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI).

Kehadiran saya berkat informasi founder Indonesian Social Blogpreneur (Komunitas ISB) Ani Berta bersama tiga rekan blogger lainnya, yaitu Haya Aliya Zaki, Tuty Queen, dan Teddy Rustandi. Sebagai blogger, jelas kami peduli dengan masa depan radio.

"Tujuan diadakan Radio Day ini untuk membuktikan, radio bukan media yang konvensional atau jadul. Radio merupakan media yang dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman yang hingga kini dibutuhkan pendengarnya, khususnya masyarakat di DKI Jakarta," ujar Ketua Umum PRSSNI DKI Jakarta M. Rafiq.

Faktanya, radio memang memiliki keunggulan sebagai media yang dapat menjangkau dan diakses lebih dari 29% populasi lintas generasi seperti halnya media TV. Community dan emotional engagment jadi kunci terus eksisnya radio sebagai media komunikasi di era digital seperti sekarang.

Ini yang menjadikan radio selalu dekat dengan pendengarnya lebih dari dua jam per hari. Saya pribadi mengakses radio secara rutin pada pagi hari dan menjelang tidur. Sementara, siang harinya, saya mendengarkan radio ketika sedang dalam perjalanan. Tujuannya, selain untuk menemani bertugas, juga menyimak info terkini terkait lalu lintas serta kejadian penting di ibu kota.

Nielsen merilis, komposisi pendengar radio di DKI Jakarta dan sekitarnya didominasi anak muda dengan persentase mencapai 56%. Para pendengar radio merupakan generasi yang mencinti musik, sport, coking, dan snakcing, serta pencintan kopi.

"Bagi saya, peran radio sangat tidak tergantikan. Saya merupakan penggemar setia radio. Bahkan, saya ikut menggunakan radio sebagai promosi berbagai film saya," ujar Wulan Guritno yang merupakan aktivis di dunia hiburan Tanah Air.

Pernyataan sama diungkapkan Category Manager ID Fuels Downstream Retail PT Shell Indonesia, Ratna Anggraini. Menurutnya, belanja iklan terbesar perusahaannya justru di radio, "Ya, mencapai 40-50 persen dari bujet kami."

Dalam kesempatan itu, Ratna mengakui, beriklan di radio sangat efektif. Sebab, mereka bisa memberi informasi rinci terkait produk-produknya kepada masyarakat lewat udara. "Buktinya, performa bisnis kami setiap tahun sangat baik. Itu berkat informasi yang tepat kepada customer kami yang juga pendengar setia radio," Ratna, melanjutkan.

Nah, saya Choirul Huda pendengar radio. Bagaimana dengan Anda? Yuk, saling berbagi pengalaman terkait radio pada kolom komentar di bawah ini!***


*        *        *
Ketua PRSSNI M. Rafiq (tengah)

*        *        *

Category Manager ID Fuels Downstream Retail PT Shell Indonesia, Ratna Anggraini

*        *        *
Diskusi terkait radio yang dilakukan rekan blogger Haya Aliya Zaki

*        *        *
Wulan Guritno menegaskan peran radio sangat tak tergantikan

*        *        *
Rekan blogger Tutty Queen dengan berbagai properti radio konvensional

*        *        *
Ketua INASGOC Erick Thohir yang juga wakil komisaris Mahaka Media yang
membawahi berbagai radio di Tanah Air

*        *        *
- Jakarta, 13 Desember 2017

Sabtu, 30 Januari 2016

Tentang Film "I Am Hope" dan Harapan Jelang Ajal Menjemput


I Am Hope dan Gelang Harapan (sumber foto: www.iamhopethemovie.com)


"TIADA perjamuan yang tak berakhir. Ada pertemuan, tentu ada perpisahan. Namun, selama gunung masih menghijau dan air sungai tetap mengalir, masih ada waktu untuk bersama lagi."

Demikian adagium lawas yang selalu saya ingat. Bahwa, ada kehidupan sudah pasti ada kematian. Ada yang datang, tentu ada yang pergi. Ada hitam juga putih. Hanya, hidup terkadang selalu memberikan pilihan di antara keduanya. Abu-abu.

Ya, abu-abu merupakan wilayah yang bisa disebut sensitif. Di sisi lain, bagi sebagian pihak, abu-abu juga menandakan suatu asa. Harapan akan hidup. Tentu saja, selama masih bernafas, asa itu akan selalu ada. Sebab, yang membuat manusia mampu bertahan hidup bukanlah kekayaan, kesehatan, atau pasangan itu sendiri. Melainkan harapan. Asa untuk bangkit dari keterpurukan. Mengenai harapan akan jadi kenyataan, itu cerita lain.

*         *         *

SORE itu, pada pertengahan bulan ini, saya menyaksikan tayangan ulang di televisi mengenai insiden di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Ada hal yang menggelitik saat salah satu reporter di tv swasta mewawancarai seorang pedagang kaki lima (PKL) di lokasi tersebut. Kalau tidak salah ingat, dialognya seperti ini.

"Anda berjualan di dekat lokasi peledakan. Hanya berjarak beberapa meter. Apa Anda tidak takut?"

"Takut? Tentu saja saya takut mbak. Tapi, saya lebih takut lagi kalau gara-gara insiden ini saya tidak jualan. Sebab, nanti anak dan istri saya mau makan apa? Saya harus jualan agar dapur tetap ngebul."

"Di lokasi ini yang beberapa jam lalu terjadi peledakan. Anda yakin?"

"Yakin mbak. Lha, wong sehari-hari saya dagang di sini. Seperti jodoh dan ajal saja mbak, rezeki itu sudah ditetapkan Tuhan. Jadi tidak ke mana-mana. Tapi, sebagai manusia, kita wajib mencarinya di mana-mana."

*         *         *

BEBERAPA hari kemudian, percakapan mereka kembali saya ingat. Tepatnya setelah tidak sengaja membuka twitter di sela-sela istirahat kerja. Saat itu, kebetulan sedang ramai tagar #IamHOPETheMovie yang bahkan sempat jadi trending topics. Karena saya penasaran, coba untuk menyimak lebih lanjut yang ternyata mengenai film bertema kanker: "I am Hope".

Awalnya, setelah melihat bio di twitter-nya (@iamhopethemovie), saya mengira ini film barat mengingat judulnya memakai bahasa Inggris. Namun, setelah ditelisik lebih jauh, di dalam bio-nya ada akun yang memakai bahasa Indonesia, @gelangharapan. Saking penasaran, saya pun mengklik beberapa tweet  yang mengarah ke laman Youtube.

Membaca beberapa tokoh di balik layarnya seperti Adilla Dimitri sebagai sutradara dan Wulan Guritno (produser), serta diproduksi ALKIMIA Production & KANINGA Picture, murni sudah bahwa film yang akan ditayangkan empat hari setelah valentine ini buatan putra-putri Indonesia.

*         *         *

"BECAUSE, where there is courage, there is hope." Demikian, salah satu dialog dalam penggalan trailer berdurasi dua menit tersebut. Ah, sungguh percakapan yang menggoda.

Hanya, sebagai penikmat film action, saya butuh waktu lama untuk meresapi dialog dan makna "harapan" yang banyak diulang dalam trailer itu. Baru, setelah lima hingga enam kali replay, saya baru "ngeh".

Sebelumnya, saya hanya fokus pada dua pameran pria yang merupakan aktor senior dan sedang naik daun lagi berkat aksinya sebagai antagonis di suatu film laga tentang penyerbuan antargeng: Tio Pakusadewo dan Ray Sahetapy.

Jujur saja, selain mereka berdua dan Wulan Guritno yang penampilannya pada awal dekade 2000-an sering saya saksikan saat jadi presenter olahraga, saya kurang begitu mengenal pameran lainnya. Namun, setelah berulang kali menyaksikan trailernya, saya harus mengakui jika pepatah lama itu ternyata benar: Tak kenal maka tak sayang.

*         *         *

DUA menit merupakan waktu standar bagi setiap film untuk melakukan promosi melalui trailer atau teaser. Dengan menyaksikan tayangan singkat tapi padat itu, setidaknya penikmat film bisa meraba akhir dari cerita. Apakah berujung manis sesuai harapan, tragis, atau menggantung dengan adanya clue untuk sekuel selanjutnya.

Saya pribadi berharap "I am Hope" berakhir dengan manis, alias happy ending. Yaitu, Mia, tokoh utama pulih dan kembali merajut impiannya sejak kecil dengan menyelenggarakan berbagai pertunjukkan. Sosok yang diperankan Tatjana Saphira ini dalam dua video yang saya lihat di youtube melalui trailer dan teasernya, mengingatkan saya pada Sofia Vassilieva yang berperan sebagai Kate Fitzgerald dalam "My Sister Keepers" dengan sudut pandang berbeda.

Atau, bisa jadi, Mia bakal "pergi" seperti ibunya atau Kate. Tentu, kemungkinan terburuk akan selalu ada. Namun, berdasarkan pengalaman pribadi, kehadiran manusia di dunia ini bukan sekadar hidup atau mati saja. Melainkan, bagaimana caranya mengisi hari-hari dengan positif menjelang ajal menjemput.

Toh, pepatah mengatakan, "Di dunia ini manusia yang tidak bakal mati. Aku menggunakan sisa hidupku untuk mencatat kitab sejarah." Itu semua sudah dilakukan Mia yang enggan meratapi periode terakhirnya dengan kesedihan yang berlarut.

*         *         *

SEKADAR informasi yang saya dapat dari laman Uplek.com mengenai film yang akan tayang 18 Februari mendatang, saat ini sudah tersedia pre sale seharga Rp 150.000 di http://bit.ly/iamhoperk. Nominal tersebut sudah termasuk satu tiket bioskop @IAmHopeTheMovie dan satu @GelangHarapan special edition.

Yang menarik, sebagian dari hasil penjualan akan disumbangkan untuk yayasan dan penderita kanker sekaligus membantu untuk membangun rumah singgah.

Informasi lebih lanjut bisa di klik pada akun media sosial (medsos), laman, dan tagar berikut:
Twitter: @Gelangharapan dan @Iamhopethemovie
Instagram: @Gelangharapan dan @Iamhopethemovie
Laman Uplek: twitter @infouplek dan @Uplekpedia
Tagar: #GelangHarapan #IamHOPETheMovie #BraceletofHOPE #WarriorOfHOPE #OneMillionHOPE #SpreadHope

*         *         *

I am HOPE The Movie - Official Trailer - In Cinemas 18 Februari 2016

*         *         *

RAN - Nyanyian Harapan (#IamHOPEThemeSong)

*         *         *
Salah satu adegan inspiratif dalam I Am Hope (sumber foto: www.iamhopethemovie.com)

*         *         *

*         *         *
- Jakarta, 30 Januari 2016