TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Selasa, 28 Oktober 2014

Momen Berkesan Ronny Wabia di Piala Asia 1996

Duet sehati. Itulah julukan masyarakat terhadap Ronny Wabia dan Widodo Cahyono Putro. Keduanya merupakan salah satu tandem paling dikenal sepanjang sejarah tim nasional (timnas) Indonesia.

Maklum, baik Ronny maupun Widodo tampil impresif di Piala Asia 1996. Mereka sama-sama mengemas dua gol ke gawang yang identik pula, Kuwait dan Korea Selatan (Korsel). Bahkan, Ronny sukses memberi assist kepada Widodo yang berhasil mencetak gol terindah ke gawang Kuwait melalui tendangan salto. Gol tersebut hingga kini disebut sebagai salah satu gol terbaik yang tercipta di Piala Asia.

“Tentu, saya masih mengingat momen berkesan tersebut. Hingga kini, saya tetap terharu ketika bola yang saya sodorkan ke Widodo berhasil dieksekusi melalui tendangan salto,” kata Ronny, 42. “Hebatnya, dia melakukan itu tanpa menoleh ke gawang sekaligus mengecoh lima barisan bek Kuwait. Itu membuktikan insting Widodo sebagai predator di antara bomber Asia lainnya.”

Setelah lewat belasan tahun, Ronny tetap menyebut Widodo sebagai sahabat di dalam dan luar lapangan. Begitu juga dengan Widodo yang kini menjadi pelatih Persegres Gresik United, tidak melupakan rekan setimnya tersebut.

Bahkan, saat Gresik bertandang ke Jayapura pada 28 April lalu, tempat yang dituju Widodo adalah kediaman Ronny. “Iya, kami sempat foto bersama, manggang berbeque, hingga karaoke bareng sambil bercerita saat masih satu tim,” tutur Ronny.

Meski sudah pensiun sebagai pemain profesional, Ronny tidak pernah melewatkan berita dan informasi sepak bola. Sosok yang kini menjabat sebagai ketua teller di Bank Papua cabang Jayapura itu, masih berhasrat kembali ke dunia sepak bola yang telah membesarkannya. Terutama karena sejak setahun silam dia telah mengambil lisensi kepelatihan grade B dari AFC.

Rencana Melatih

“Tentu dong. Saya ingin kembali lagi berkecimpung di dunia sepak bola, terutama menjadi pelatih. Hanya, itu semua kemungkinan bisa terwujud sekitar lima tahun ke depan. Karena, saya masih ingin konsentrasi di pekerjaan saya ini. Tapi, jika ada beberapa sahabat lama seperti Widodo dan pemain lawas lainnya yang berkunjung ke Jayapura, saya selalu menerimanya dengan senang hati,” pria yang mencetak empat gol bersama timnas Indonesia ini mengungkapkan.

Selanjutnya, Ronny juga berpesan kepada pemain yang membela timnas saat ini. Yaitu, agar lebih menjunjung tinggi sportivitas dan bangga bagian dari skuat “Garuda”. “Iya, Boaz (Salosso) dan lainnya harus punya semangat nasionalisme yang tinggi membela timnas. Itu agar timnas bisa berprestasi lebih dan ujung-ujungnya pemain juga yang akan mendapat berkah,” ujar Ronny, semringah.*

Sisi Lain Pemanis Sirkuit



DALAM dunia olahraga, selain pelaku utama, baik tim maupun individu tidak lepas dari dukungan pihak lainnya. Terutama yang berasal dari kaum hawa sebagai faktor pemanis yang terkadang bisa sebagai pelepas bosan bagi penonton saat menyaksikan pertandingan.
Itu terjadi di sepak bola ketika sekumpulan penggemar perempuan, terutama kekasih atau istri. Mereka dikenal sebagai Wives and Girlfriends (WAGS) yang selalu mendukung pemain atau tim pujaannya berlaga.

Hal sama berlaku di arena tinju, ketika gadis-gadis cantik membawakan papan ronde yang bisa melepas suasana emosional akibat panasnya pertarungan. Juga peran caddy yang sangat membantu seorang pemain di lapangan golf.

Sementara, di arena balap juga terdapat istilah Umbrella Girls atau gadis yang memayungi pembalap sebelum start. Inti dari profesi mereka sama, sebagai penunjang kepopuleran suatu cabang olahraga. Selain itu, keberadaannya juga tidak hanya sekadar pelengkap atau pemanis belaka, melainkan untuk menyegarkan suasana agar tidak kaku di lintasan balap.

Hanya, adakalanya, peran Umbrella Girls kerap mendapat pandangan yang kurang baik. Maklum, busana yang mereka kenakan terkadang sangat minim. Itu membuat sebagian pihak kerap memandang profesi mereka dengan stigma negatif. Namun, tidak semua Umbrella Girls di arena balap seperti yang ditudingkan tersebut.

Itu diungkapkan Cindy Maulida yang sejak 2009 berprofesi sebagai pembawa payung di lintasan balap. Menurut dara manis penggemar bulutangkis ini, pekerjaan yang dijalaninya itu sebenarnya sama dengan profesi lainnya. Namun, mahasiswi semester delapan di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta ini mengakui masih ada stigma negatif dari sebagian pihak mengenai Umbrella Girls.

“Anggapan itu pasti ada, tapi tergantung persepsi orang juga,” kata Cindy, 24 tahun. “Yang pasti, selama ini saya belum pernah mengalami hal yang aneh-aneh. Memang sih, saya sering mendengar ada teman yang kerap digoda bos-bos nakal. Hanya, sekali lagi itu tergantung dari reaksi orang itu sendiri. Yang pasti, saya menjalani ini dengan niat baik.”

Dinamika Hidup

Apa yang dituturkan Cindy tidak jauh berbeda dengan rekannya, Finny, yang ditemui TopSkor di ajang Indoprix 2013, Sirkuit Sentul, Minggu (22/5). Mahasiswi jurusan Public Relations ini menganggap wajar dengan stigma negatif tersebut.  

“Pastinya, profesi yang saya jalani atas izin keluarga dan tidak sampai menyinggung khalayak ramai. Mengenai pro dan kontra keberadaan Umbrella Girls, itu merupakan dinamika dalam hidup,” ujar pengagum berat rider tim Yamaha Factory Racing di MotoGP, Jorge Lorenzo.
Ketika disinggung mengenai bayaran yang diterima dari sebuah ajang balap. Baik Cindy maupun Finny serempak menyebut nominal di kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung kualitas event tersebut. Di sisi lain, keduanya selalu bersikap profesional terhadap pembalap yang dipayungi maupun pihak promotor.

“Kami hanya sebatas menjalin hubungan pekerjaan, termasuk sekadar tukaran nomor ponsel. Tidak lebih,” tutur Cindy. “Tujuan saya mendukung pembalap dan tim sebelum balapan dimulai. Selepas acara, saya kembali menjadi mahasiswi yang harus fokus untuk belajar,” Finny, menambahkan.*

- Jakarta, 28 Oktober 2014 (Artikel ini dimuat di Harian TopSkor 27 Oktober 2014)

Jumat, 24 Oktober 2014

Dua Sisi Juventus: Belum Layak Tampil di Eropa?


Patrice Evra dan kawan-kawan belum mampu berbicara di Liga Champions


MUNGKIN tudingan banyak pihak yang menilai Juventus sebagai tim “jago kandang” itu memang benar. Yaitu, tim yang hanya sukses di kompetisi domestik atau “cuma” bisa menang jika tampil di markasnya sendiri.

Anggapan itu memang tidak salah. Lihat saja faktanya, Juventus merupakan penguasa Seri A dengan 30 kali juara. “Si Nyonya Tua” unggul jauh dibanding dua pesaing dekatnya yang sama-sama baru meraih 18 trofi, AC Milan dan FC Internazionale.

Namun, bagaimana prestasi Juventus di kompetisi Eropa, khususnya Liga Champions? Miris! Kesan tim yang identik dengan seragam hitam putih itu baru dua kali juara. Catatan itu sama dengan yang ditorehkan tim semenjana Eropa lainnya seperti Porto, Benfica, dan Nottingham Forets.

Menjadi ironis, sebab dua rivalnya di Italia malah sudah mengumpulkan 10 trofi. Milan memimpin dengan tujuh kali juara diikuti Inter yang meraihnya tiga kali. Fakta itu tentu membuat Juventini –julukan fan Juventus– menjadi miris.

Meski, sebagian kecil dari mereka dengan lantang menyebut Juventus merupakan klub pertama yang meraih Plakat UEFA. Itu berkat keberhasilan mereka meraih trofi utama di kompetisi Eropa. Mulai dari Piala Winners, Piala UEFA –kini Liga Europa–, dan Liga Champions.

Namun, itu hanya penghargaan nonformal. Pasalnya, dua rivalnya di Italia (lagi-lagi) justru menorehkan catatan yang lebih “wah”. Sebut saja, Milan yang dijuluki “Pangeran” di Liga Champions karena prestasinya hanya di bawah Real Madrid yang meraih 10 trofi. Berkat statistik itu, di Seri A, hanya Milan yang kerap mendapat julukan “DNA-Eropa”.

Sementara, Inter merupakan klub Italia pertama yang mampu meraih “Treble” pada 2009/10. Parameternya, dengan menjuarai Seri A, Piala Italia, dan Liga Champions dalam semusim. Inter bersanding dengan tiga raksasa Eropa lainnya yang juga pernah meraihnya. Mereka adalah Manchester United, Barcelona, dan Bayern Muenchen.

Tapi, sudahlah. Membicarakan prestasi Juventus di Eropa, terutama membandingkannya dengan Milan dan Inter tentu tiada habisnya. Debat kusir itu sama seperti mengatakan, siapa pemain terbaik dunia sepanjang masa? Ada yang menyebut Pele, Diego Maradona, Franz Beckenbauer, Michel Platini, atau Gaetano Scirea. Sisi positifnya bagi Juventini, klub favorit mereka bermain di Liga Champions musim ini ketimbang Milan yang absen dan Inter hanya tampil di Liga Europa.

Terancam Tersingkir

“Diangkat setinggi langit, lalu dijebloskan ke dasar bumi.” Adagium lawas itu pantas disematkan saat menyaksikan perjalanan Juventus di Liga Champions musim ini. Skuat asuhan Massimiliano Allegri itu berhasil meraih kemenangan meyakinkan atas Malmo FF 2-0 pada laga perdana di Juventus Stadium. Sedangkan, rival terkuat mereka sekaligus runner-up musim lalu, Atletico Madrid dibekap Olympiakos 2-3.

Nah, konstelasi keempat tim yang tergabung di Grup A itu berubah memasuki pekan kedua. Sebab, Juventus ditekuk Atletico 0-1 di Vicente Calderon dan Malmo mengalahkan Olympiakos 2-0. Sejak itu nada minor yang menyebutkan “I Bianconeri” sebagai tim jago kandang, sayup-sayup terdengar kembali.

Puncaknya, ketika Carlos Tevez dan kawan-kawan kembali menelan kekalahan 0-1 dari Olympiakos pada laga ketiga di Grup A. Duel di Stadion Georgios Karaiskaki, Rabu (22/10) atau Kamis dini hari jadi penegasan stigma “jago kandang” tersebut. Sebab, Juventus memang babak belur di kasta tertinggi sepak bola Eropa itu.

Mereka kini hanya menempati posisi ketiga Grup A dengan nilai tiga poin hasil dari sekali menang dan dua kekalahan. Perolehan  poin Juventus setara dengan Malmo meski unggul selisih gol. Hanya, jawara Liga Champions 1984/85 dan 1995/96 itu tertinggal dari Atletico yang memuncaki klasemen sementara dengan dua kemenangan dan sekali kalah. Pada urutan kedua ada Olympiakos yang memiliki nilai sama dengan Atletico namun kalah agresivitas gol.

Tak pelak, berdasarkan hasil tiga pertandingan itu membuat kans Juventus melaju ke babak 16 besar menjadi sulit. Bahkan, kegagalan lolos seperti musim lalu saat ditangani Antonio Conte mulai membayangi Allegri. Pasalnya, mereka memiliki selisih tiga poin dari Atletico dan Olympiakos.

Sapu Bersih

Meski secara matematis harapan Juventus untuk lolos tetap ada dengan syarat menyapu bersih kemenangan pada tiga laga sisa. Apalagi, dua dari tiga pertandingan itu bakal digelar di kandang sendiri. Yaitu saat menjamu Olympiakos pada 4 November dan Atletico (9/12). Satu-satunya laga tandang mereka saat menghadapi Malmo (26/11).

Namun, ambisi “sapu bersih” itu sepertinya pun sukar terjadi jika menyimak perjalanan mereka dalam tiga laga sebelumnya. Sebab, dalam periode itu Juventus hanya mampu mencetak dua gol dan tertinggal jauh dari Olympiakos (empat gol) serta Atletico (delapan gol). Dengan minimnya produktivitas mereka, rasanya sulit menyaksikan para pemain Juventus mencetak lebih dari satu gol setiap pertandingan.

Fakta itu menjadi ironis mengingat di kompetisi domestik, “La Vecchia Signora” sudah mengemas 14 gol dari tujuh laga. Rasio gol mereka mencapai dua gol per pertandingan musim ini. Catatan gol Juventus di Seri A itu setara dengan AS Roma dan hanya kalah dari Milan yang mengemas 16 gol.

Menilik komparasi seperti itu, wajar jika banyak yang menilai Juventus hanya tim jago kandang. Alias, superior di Seri A tapi melempem di Liga Champions. Atau, dengan kata lain, performa Juventus yang meraih tiga scudetto beruntun di kompetisi domestik, sesungguhnya belum layak tampil di Eropa?***

Opini  ini dimuat di Harian TopSkor edisi 24 Oktober 2014



Nobar Liverpool vs Real Madrid di Kampus Trilogi


Ketika Dua Kelompok Suporter Saling Respek

Suasana nobar Liverpool vs Real Madrid di Kampus Trilogi


REAL Madrid dan Liverpool merupakan dua klub besar di Eropa. Secara total, mereka sudah mengoleksi 15 trofi Liga Champions. Madrid yang berasal dari Spanyol memimpin dengan 10 kali juara dan Liverpool (Inggris) lima kali. Puncak rivalitas kedua tim terjadi pada final 1980/81 yang dimenangkan Liverpool atas raksasa La Liga tersebut.

Namun, 33 tahun kemudian, “The Reds” –julukan Liverpool– justru dibuat tak berdaya oleh Madrid. Bahkan, Steven Gerrard dan kawan-kawan dipermalukan tiga gol tanpa balas di Stadion Anfield. Fakta itu membuat suporter Liverpool yang menyaksikan pertandingan melalui nonton bareng (nobar) jadi tertunduk.

Aula Universitas Trilogi, Kalibata, Jakarta, Kamis (23/10) dini hari WIB jadi saksi wajah-wajah lesu fan Liverpool. Namun, tidak sebaliknya untuk “Madridista” –suporter Madrid– yang tampak berpesta menyaksikan tim kesayangannya menang 3-0. Ya, kedua suporter yang kalau ditotal sekitar ratusan orang itu memang mengadakan nobar serempak.

Selain demi mendukung tim masing-masing, mereka juga tetap respek terhadap pendukung lawan. Bahkan, seusai laga, puluhan Madridista “menggeruduk” barisan fan Liverpool untuk sama-sama menyanyikan lagu You’ll Never Walk Alone. Mereka saling berjabat tangan satu sama lain. Tampak, suasana kebersamaan itu menghapus rivalitas kedua pendukung sepanjang 90 menit pertandingan.

“Enaknya gini kalo nobar sama anak-anak Liverpool, terus bareng Madridista asyik-asyik orangnya. Ini saya sampai menyeret anak buah Louis van Gaal, biar selama 90 menit dukung Liverpool,” ujar Yenni, salah satu fan Liverpool meledek pacarnya yang kebetulan fan Manchester United. Meski kalah, tapi raut wajah Yenni dan rekan-rekannya tetap ceria.

Fan Madrid tetap respek terhadap suporter Liverpool


El Clasico di Otista

Sementara, Hafizh Alkautsar Septian, 21 tahun, bersyukur Madrid bisa menang di markas Liverpool yang selama ini angker, “Sayangnya ‘Los Blancos’ cuma menang 3-0. Meski begitu, saya yakin hasil di Anfield bisa membuat Madrid mengalahkan Barcelona pada ‘El Clasico’ nanti.”

Ya, Sabtu (25/10) Madrid akan menjamu musuh bebuyutannya, Barcelona di Santiago Bernabeu. Tak heran jika, kemenangan atas Liverpool membuat ratusan Madridista optimistis timnya bisa melakukan hal yang sama pada “El Clasico”. Itu diungkapkan Ihsan Haikal, Ketua Pena Real Madrid Indonesia (PRMI) yang mengadakan nobar tersebut.

“Kemenangan telak malam ini merupakan pesan serius untuk Barcelona agar berhati-hati di Bernabeu. Lihat saja faktanya, meski tidak diperkuat (Gareth) Bale dan (Sergio) Ramos, tapi Madrid tetap bisa menggilas Liverpool,” tutur Ihsan yang menyebut PRMI kembali mengadakan nobar “El Clasico” di GOR Otista, Jakarta Timur, akhir pekan ini.*

Suporter Liverpool tetap semangat mendukung tim kesayangannya



Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 24 Oktober 2014


Rabu, 22 Oktober 2014

Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti

Bendera raksasa dari Interisti pada HUT ICI 2013 (foto: roelly87)


Wajah-wajah antusias terlihat dari ratusan orang yang serempak mengenakan kostum hitam biru. Tidak ada raut kelelahan meski mereka baru saja melakoni perjalanan panjang dari Jakarta menuju Cianjur selama lebih dari enam jam. Termasuk ketika bus yang ditumpangi harus mengalami pecah ban.

Justru, di sana terlihat kebersamaan dari mereka yang menamakan dirinya sebagai Interisti -fan FC Internazionale-  sejati. Di tengah cuaca terik dan awak bus mengganti ban yang bocor. Interisti tetap semangat dengan menyanyikan lagu-lagu wajib dari tim yang sukses meraih treble winners 2010.

Ya, mereka semua berkumpul di tempat wisata The John’s, Cianjur, Jawa Barat, dengan kendaraan yang berbeda. Ada yang menggunakan bus, mobil pribadi, truk, dan konvoi sepeda motor dari seluruh pelosok Indonesia. Bahkan, terdapat empat Interisti yang bela-belain datang dari kawasan terjauh, Ambon.

Itu semua dilakukan demi mengikuti perayaan satu dekade Inter Club Indonesia (ICI) Moratti selama dua hari, Sabtu-Minggu, 7-8 September 2013. ICI Moratti yang dibentuk pada 24 Agustus 2003 merupakan salah satu kelompok suporter klub tertua di Indonesia. Keberadaan mereka juga diakui secara resmi oleh manajemen Inter di Italia.

Bahkan saat “I Nerazzurri” melakoni tur ke Indonesia pada 24 dan 26 Mei 2013, CEO Inter, Ernesto Paolilo turut merestui pemberian nama Moratti di belakang Inter Club Indonesia. Moratti sendiri merupakan kepanjangan dari Massimo Moratti yang menjabat Presiden Inter sejak 1995.

“Perayaan satu dekade ICI Moratti ini dihadiri 600 Interisti yang tergabung dari seluruh region di Indonesia,” tutur Irfan, salah satu panitia yang bertanggung jawab dengan kesuksesan acara tersebut.

Selain memperingati satu dekade, ICI Moratti juga mengadakan beberapa acara sepanjang dua hari kemarin. Mulai dari lomba koreografi, yel-yel, api unggun, dan outbond malam. Tak ketinggalan beberapa aksi Interisti cantik yang tergabung dalam Internona dengan donor darah dan bakti sosial.


Sementara, salah satu pentolan ICI Moratti, Arden, menilai, banyaknya kegiatan yang lakukan sebagai wujud eksistensi mereka. “Kami melakukan ini semua karena ICI Moratti adalah satu keluarga yang tak terpisahkan dari Inter. Kami yang berada di Indonesia tetap akan mendukung Javier Zanetti dan kawan-kawan. Baik saat Inter meraih prestasi atau dalam performa terburuk sekalipun. Apalagi setelah ditangani Walter Mazzarri, kami, ICI Moratti optimistis Inter akan kembali menjadi tim besar di Italia dan dunia.”*


Perayaan yang meriah dan penuh kesan


Artikel ini dimuat di Harian TopSkor edisi 9 September 2013