TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: KESEJAHTERAAN

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label KESEJAHTERAAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESEJAHTERAAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Oktober 2015

Dua Tahun Atur Uang demi Wujudkan Pernikahan Impian


(Sumber foto: dokumentasi pribadi/www.roelly87.com)


"KAPAN kawin?" Bagi para bujangan -termasuk saya- di seluruh Tanah Air, mungkin itu pertanyaan yang terkesan sederhana tapi sangat menohok. Ya, "kapan kawin?", "kapan nikah?", "kapan married?" sangat sering diutarakan keluarga, kerabat, teman sekolah, kawan masa kecil, rekan blogger, bahkan mantan! Untuk yang terakhir, bisa di skip saja.

Terutama jika Idul Fitri tiba dan kebetulan saya sedang berlebaran ke rumah keluarga besar, tetangga, dan teman. Duh, dari pagi seusai salat ied hingga mau salat isya lagi (malam harinya), pertanyaan itu pasti diucapkan mereka. Pertanyaannya sih singkat, cuma dua kata. Tapi, jawabnya harus mikir-mikir lagi.

Mau bilang "Iya, nanti. Ntar juga dikabarin." Eh mereka malah penasaran. Nanya kapan? Ingin lihat calonnya lah, ini lah, itu lah.

Terus, kalau bilang "Belum ada. Masih direncanain." Ini lebih rumit lagi. Mereka, -terutama kawan lama yang dulu pernah satu seperjuangan- malah memberondong pertanyaan lagi yang seperti menginvestigasi ala wartawan. "Kenapa sama yang itu batal?", "Ga jadi sama yang ini?" dan lain-lain. Bahkan, ujung-ujungnya malah "mempromosikan" teman atau saudaranya juga yang masih single. Alias jadi mak comblang! Wow...

Alhasil, biar cepat selesai, biasanya saya jawab "May." Ya, kedengaran mereka Mei tahun depan. Padahal, aslinya, "Maybe yes, maybe no."

*      *      *

SEBENARNYA, pertanyaan mereka itu tidak salah. Khususnya yang bertanya itu mayoritas sudah menikah (ya tidak mungkin juga, jika sama-sama belum nikah, nekat nanya kapan kawin ke orang lain!).

Hanya, menikah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak yang harus diurus, dibenahi, dan dikumpulkan. Bisa jadi, secara lahir saya siap (untuk menikah). Namun, batin? Begitu juga sebaliknya.

Berdasarkan saran dan nasihat dari beberapa orang dekat, selain mental, kita -maksudnya saya- juga harus mempersiapkan secara fisik. Yaitu, dana. Kebetulan, yang pertama saya sudah yakin 100 persen siap. Nah, untuk yang kedua ini belum sepenuhnya. Alias, masih berjalan.

Sejauh ini, saya masih mengumpulkan dana. Kalau dipikir-pikir, nikah itu -berdiri di pelaminan- hanya tiga jam. Tapi, ngumpulin dana sampai dua tahun. Ya, begitulah. Lantaran, nikah itu kan -Insha Allah- hanya sekali. Jadi, saya harus secara matang merencanakannya.

Setelah dalam dua tahun ini meminta saran, pendapat, curhat, hingga diskusi, dari banyak pihak, khususnya kedua orangtua saya, akhirnya saya merasa percaya diri untuk mengatur keuangan sebelum menikah.

Oh ya, tujuan saya bertanya kepada kedua orangtua saya karena beliau sudah memiliki pengalaman dalam mengatur keuangan sebelum menikah dulu. Apalagi, bertanya kepada kedua orangtua sendiri itu lebih nyaman dibanding sama teman, keluarga, atau lainnya yang kadang bikin risih karena sering jadi bahan guyonan.

Kesimpulan yang saya dapat dalam mengatur keuangan demi mewujudkan pernikahan impian itu dengan merencanakan bujet. Ini penting yang sudah saya lakukan sejak memasuki usia 20-an. Tapi, baru terlaksana dalam dua tahun terakhir mengingat saat itu sebagian besar dana dipakai untuk kebutuhan primer seperti melunasi sepeda motor dan renovasi rumah.

Rencana alokasi dana saya ambil dari hasil "wawancara" dengan teman-teman yang sudah menikah. Termasuk mengambil referensi dari kedua orangtua saya meski zamannya sudah berbeda. Lantaran, beliau menikah pada akhir dekade 1980-an dan saat ini memasuki pengujung 2015. Namun, tetap saja relevan.

Sebagai gambaran kasar, sebagai pihak pria, misalnya alokasi dana saya -hanya perkiraan dan tidak mengikat karena terkait inflasi- Rp 25 juta yang bersama dipakai pihak wanita untuk:

- Sewa gedung (Karang Taruna di Kelurahan) sekitar Rp 2 juta
- Sewa tenda, janur kuning, dan sebagainya sekitar Rp 1 juta
- Kartu undangan (Rp 2.000 dengan desain ala gunungan wayang favorit saya x 500 lembar) sekitar Rp 1 juta
- Gaun pengantin (sudah disiapkan orangtua sebagai kado pernikahan) Rp 0
- Suvenir gantungan kunci pasangan Kamajaya-Kamaratih yang merupakan simbol langgeng di dunia wayang (Rp 5.000 x 500 lembar) sekitar 2,5 juta
- KUA Rp 600 ribu
- Mahar atau mas kawin (ini saya belum bisa pastiin, masih konsultasi) sekitar Rp 5 juta
- Pagar ayu atau penyambut tamu (4 x Rp 100 ribu) sekitar Rp 400 ribu
- Prasmanan (kami belum bisa tentukan, saat ini hanya perkiraan saja) Rp 8 juta
- Lain-lain (sewa audio dan sebagainya) sekitar Rp 500 ribu
- Biaya tak terduga (konon menurut penuturan beberapa pihak yang sudah menikah supaya saya jaga-jaga agar tidak defisit) Rp 4 juta

Melihat angka-angka di atas, awalnya membuat saya berkerut kening. Tapi, jika dijalani dalam dua tahun ini ternyata tidak berat. Apalagi, setelah saya mengikuti acara Jumpa Blogger dan Talkshow bersama Safir Senduk yang diselenggarakan Sun Life Indonesia, pada 1 Agustus lalu.

Saat itu, pria 41 tahun ini membeberkan cara mengatur keuangan dan menyiapkan dana untuk masa depan. Sontak, ilmu yang diterapkan Safir Senduk itu saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai blogger, saya sungguh beruntung bisa menghadiri acara tersebut. Meski durasinya singkat, kurang dari empat jam, tapi sangat menentukan masa depan saya. Apalagi, saya sudah tidak asing dengan PT Sun Life Financial Indonesia yang kerap mengadakan acara inspiratif untuk blogger. Termasuk waktu menghadiri diskusi dengan tema asuransi syariah dalam Kompasiana Nangkring pada 30 Agustus 2014.

*      *      *

NAH, setelah merencanakan bujet selama dua tahun plus mendapat tipsnya usai mengikuti acara Sun Life, selanjutnya apa? Tentu saja, mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari agar tidak sekadar wacana, apalagi NATO (No Action Talk Only).

Misalnya, gaji saya -sesuai UMP DKI Jakarta- Rp 2,7 juta. Dengan dana tersebut, biasanya saya alokasikan untuk:

- Keperluan sehari-hari (meliputi BBM sepeda motor, pulsa, listrik, kencan, dan buku) Rp 500 ribu
- Kirim ke Orangtua Rp 1 juta
- Cicilan KPR subsidi Rp 500 ribu
- Tabungan di bank untuk persiapan nikah Rp 500 ribu
- Biaya tak terduga (jika sakit di luar BPJS, sepeda motor mogok, ban bocor) Rp 200 ribu

Hanya, pembagian itu tidak mengikat. Adakalanya lebih dan kurang karena berbagai hal. Misalnya, ketika beberapa bulan lalu saya jatuh dari sepeda motor, hingga harus nombok karena keluar Rp 1,4 juta untuk perbaikan ke bengkel dan rumah sakit. Beruntung, sebagai blogger, saya kerap mendapat hadiah atau menang lomba yang bisa saya alokasikan untuk menutupi kekurangan sebelumnya.

Jadi, kalau dihitung-hitung, sejak dua tahun ini, Rp 500 ribu x 24 = Rp 12 juta. Tentu saja, belum ada setengah dari rencana terdahulu yang mencapai Rp 25 juta. Namun, saat itu saya sudah punya simpanan sekitar Rp 5 juta. Belum lagi hasil menyisihkan bonus dari kantor, THR, menang lomba blog, dan lainnya.

Tapi, lagi-lagi setelah dihitung ulang, saat ini dananya baru sekitar Rp 20 juta lebih sedikit. Alias belum mencapai target Rp 25 juta. Terus bagaimana? Ya, dijalankan setiap hari dengan komitmen penuh.

Yang penting, untuk menikah, kita -saya khususnya- tidak boleh meminta kepada orangtua apalagi calon mertua. Kalau minta saran, nasihat, tenaga, dan bantuan pakaian pengantin yang memang permintaan khusus dari mereka sebagai kado pernikahan kami, itu oke.

Tapi, bantuan uang untuk menikah? Tentu saja saya tidak setega itu. Mereka sudah melahirkan dan membesarkan saya selama lebih dari dua dekade. Masa, pas saya mau menikah harus dibantu juga. Sudah seharusnya, saya yang membahagiakan mereka. Salah satunya seusai menikah, saya akan menabung untuk memberangkatkan haji kedua orangtua dan memberikan cucu.

Jika itu terwujud, mungkin pada Idul Fitri berikutnya, pertanyaan yang keluar dari keluarga besar dan juga teman, bukan lagi "kapan kawin?". Melainkan, "Sudah berapa anak sekarang?"***

*      *      *
Referensi tambahan:
*      *      *
Sebelumnya:
*      *      *

- Senayan, 24 Oktober 2015

Rabu, 19 Agustus 2015

Manfaat dari Jumpa Blogger Sun Life dan Talkshow Bersama Safir Senduk


Suasana jumpa Blogger Sun Life dan Talkshow bersama Safir Senduk (sumber foto: dokumentasi pribadi/ www.roelly87.com)
"Bukannya aye sok usil
Buat abang pegawai kecil
Gaji penuh sebulan
Cuman abis satu harian..."

SEPENGGAL lagu berjudul "Sayur Asem" yang dinyanyikan Ida Royani berduet dengan almarhum Benyamin Sueb itu sudah tidak asing lagi. Lantaran lirik yang dinyanyikan duet legendaris era 1970-an itu masih relevan hingga kini.

Berkisah tentang sulitnya seorang suami dalam mengelola keuangan rumah tangganya hingga gaji satu bulan habis hanya beberapa hari. Lagunya yang menggelitik dan tanpa tedeng aling-aling itu bisa dijadikan pelajaran: Bagaimana cara mengelola keuangan dengan bijak?

*       *       *

SIANG itu, Sabtu (1/8) suasana di Cafe XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, tampak ramai. Terdapat puluhan blogger yang mengikuti acara Jumpa Blogger dan Talkshow Bersama Safir Senduk yang diselenggarakan Sun Life Indonesia.

Bagi saya, ini kali kedua mengikuti event yang diadakan PT Sun Life Financial Indonesia. Sebelumnya terjadi saat menghadiri Kompasiana Nangkring bertema "Kenapa harus Asuransi Syariah" di Pisa Cafe, Jakarta Selatan, 30 Agustus 2014.

Jika tahun lalu  yang hadir sebagai pembicara di antaranya, Kepala Unit Syariah PT Sun Life Financial Indonesia, Srikandi Utami, dan Ketua DPS Sun Life Syariah, Fathurrahman Djamil. Untuk kali ini, ada Elin Waty yang menjabat Director and Chief Distribution Officer PT Sun Life Financial Indonesia.

Sosok yang berpengalaman di bidang asuransi selama 21 tahun ini membeberkan "rahasia perusahaannya". Yaitu, Sun Life memang secara resmi masuk ke Indonesia pada 1995. Namun, menurut Elin Waty, perusahaan asuransi yang berdiri sejak 1865 itu sudah ada di nusantara sejak awal abad 20 pada era kolonialisme yang dibuktikan dengan pencairan premi salah satu nasabahnya.

"Kunci kesuksesan Sun Life bertahan lebih dari 100 tahun itu karena kami selalu menganggap nasabah sebagai mitra terbaik yang harus dijaga," wanita yang fasih berbahasa Inggris dan Mandarin ini menjelaskan.

*       *       *

UNTUK kali ini, tema yang diusung Sun Life Indonesia adalah "Mengelola Keuangan dengan Bijak untuk Profesi dan Blogger". Sebagai blogger, jelas seminar ini sangat penting untuk saya ikuti. Maklum, kadang saya kerap bermasalah saat mengelola keuangan. Meski tidak seekstrem lagu Ida Royani-Benyamin Sueb yang gaji sebulan langsung habis sehari. Namun, dalam beberapa hal saya sempat "keteteran" juga.

Wajar, jika saya sangat antusias saat menyimak penuturan Safir Senduk mengenai investasi. Yaitu, menyisihkan sebagian (kecil) gaji untuk masa depan. Baik itu dibelikan tanah, rumah, emas, tabungan, hingga asuransi. Ini hal penting yang kerap dianggap sepele.

Bahkan, Safir Senduk memberi penegasan bagi puluhan blogger yang hadir, bahwa kekayaan seseorang bukan dilihat dari gaji atau penghasilannya. Melainkan, dari seberapa banyak, orang itu melakukan investasi. Sungguh pernyataan yang lumayan menohok. Terutama bagi yang menganggap remeh investasi.

"Salah satu cara berinvestasi dengan melakukan asuransi yang bisa diibaratkan sebagai payung. Dengan menggunakan payung memang tidak menjamin hujan tidak bakal turun. Tapi, berkat payung memastikan Anda tidak akan basah kalau hujan turun," tutur Safir Senduk yang disambut aplaus puluhan blogger yang hadir.

Yang menarik, pria 41 tahun ini memberikan tips bijak dalam mengelola keuangan itu dengan gaya yang mudah dipahami bagi masyarakat awam. Termasuk melontarkan lelucon segar terkait pentingnya berinvestasi untuk masa depan. Misalnya, "Hidup itu indah, yang bikin ribet tagihan-tagihannya", "Semua akan indah kalau ada duitnya", "Dompet tebal isinya belum tentu uang, bisa jadi kartu ATM dan struk".

*       *       *

Safir Senduk menjelaskan pentingnya investasi


*       *       *
Elin Waty menjelaskan sejarah Sun Life sejak 1865

*       *       *
Foto bersama blogger, Safir Senduk, dan perwakilan Sun Life

*       *       *

Cikini, 19 Agustus 2015