Mimpi Basah The Gunners, Juve-Milan di Liga Malam Jumat
![]() |
| Percakapan dengan fan Arsenal di chat aplikasi ojol (@roelly87) |
KOMPETISI antarklub Eropa 2025/26, khususnya di "Big 6" telah selesai. Bagi yang menyimak perjalanan musim lalu, nyaris tidak ada kejutan.
Liga Primer Inggris dimenangkan Arsenal, diikuti La Liga Spanyol (Barcelona), Serie A Italia (Inter), Bundesliga Jerman (Bayern Muenchen), Ligue 1 Prancis (Paris Saint-Germain/PSG), dan Eredivisie Belanda (PSV Eindhoven).
Sebagai Juventini -julukan bagi fan Juventus- saya menilai wajar jika Inter scudetto. Skuat asuhan Cristian Chivu lebih matang dari rival-rivalnya.
Termasuk, Juve yang ironisnya terlempar dari empat besar Serie A 2025/26 hingga gagal ke Liga Champions musim depan.
Itu akibat Kenan Yildiz dan kawan-kawan harus puas finis di posisi enam di bawah AC Milan, Como, AS Roma, Napoli, dan Inter.
Kocak sih, sekelas Juve dikangkangi Como. Klub "anak bawang" yang baru promosi ke Serie A pada 2024/25.
Alhasil, Juve harus puas tampil di Liga Europa 2026/27 yang dijuluki "Liga Malam Jumat". Sebab, mainnya memang Kamis sore waktu Eropa atau Jumat dini hari WIB.
Julukan "Badut Eropa" seperti yang sering saya tulis di blog ini (Selengkapnya: Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit - https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html) memang nyata.
Saya Juventini. Sejak 1993 hingga mungkin akhir menutup mata tetap merupakan penggemar "Si Nyonya Besar".
Namun, saya tetap objektif. Bagus ya saya bilang bagus. Jelek? Ya, harus terima dikatain jelek.
Nah, selain Juve yang gagal lolos ke Liga Champions musim depan, ada satu klub lagi yang juga mengalami nasib sama: Milan yang finis di posisi lima Serie A 2025/26.
Wkwkwk.
Sumpah, waktu kali pertama baca info ini, saya kaget. Kok bisa, sekelas "Pangeran Eropa" bersanding dengan "Badut".
Namun, setelah melihat ulang rekaman perjalanan musim lalu, Milan memang 11/12 dengan Juve. Pantas, "Setan Merah" tertinggal jauh dari rival sekotanya, Inter yang justru scudetto.
Untuk liga di Eropa selain Serie A, yang menarik saya bahas ada Liga Primer berkat keberhasilan Arsenal. Sebenarnya, klub berjulukan "The Gunners" itu ga aneh untuk juara.
Sebab, dalam tiga musim beruntun (2022/23, 2023/24, dan 2024/25), Arsenal finis sebagai runner-up. Bahkan, dalam periode itu, sejak awal hingga sepertiga musim, Meriam London mendominasi.
Arsenal hanya gagal pada pekan-pekan terakhir hingga harus tergelincir di posisi kedua. Ya, mereka seperti apes aja.
Padahal, dalam periode itu, Manchester City dan Liverpool toh ga kuat-kuat banget. Nah, musim ini, Arsenal konsisten sejak awal hingga akhir kokoh di puncak Liga Primer.
Yang mengesankan, keberhasilan pasukan Mikel Arteta ini mengakhiri puasa gelar dalam 22 tahun! Ya, kali terakhir Arsenal juara Liga Primer 2003/04 saat diarsiteki Arsene Wenger.
Alias, lebih dari dua dekade silam, penggemar harus menantikan momentum pada Selasa (19/5) atau Rabu (20/5) dini hari WIB. Tepatnya, pada pekan ke-37 saat Man. City diimbangi Bournemouth 1-1 dan sebelumnya Arsenal mengalahkan 1-0.
Hasil kontras itu membuat Arsenal mantap dengan 82 poin diikuti Man. City (78). Dengan sisa satu pertandingan lagi, selisih poin kedua tim sudah tidak bisa berubah.
* * *
SORE itu, Rabu (20/5) jalanan ibu kota seperti biasa. Macet.
Saya baru saja menurunkan penumpang di Stasiun LRT Dukuh Atas. Ga lama, aplikasi bunyi.
Ada orderan menuju Kemang. Namun, masalahnya posisi jemput penumpang yang berada di gedung perkantoran Jalan Satrio. Jaraknya sekitar 2 km lebih.
Plus macet total karena jam pulang kerja. Estimasi di Google Maps 20 menit.
Saya pun minta foto untuk afirmasi bahwa penumpang sudah di lokasi. Sebab, banyak customer ajaib.
Jemput jauh, macet, plus layanan hemat, tapi pas saya di lokasi, eh penumpangnya masih di atas gedung. Entah lantai 10, 19, 25, 37, dan sebagainya. Kalo sudah gitu ya saya cancel.
Bagi saya, penumpang seperti itu ga layak untuk diantar. Ironisnya, mayoritas dari mereka pendidikan tinggi, jabatan mentereng, dan penampilan necis.
Namun, atitudenya justru nol. Padahal, adab lebih tinggi daripada ilmu.
Sebagai bloger yang berprofesi ojek online (ojol), saya berusaha untuk memanusiakan manusia.
Ga mau menyusahkan orang lain. Di sisi lain, ogah juga disusahkan orang lain.
Alhasil, saya selalu tekankan kepada penumpang, bahwa etika dijemput itu menunggu, bukan ditunggu. Itu bare minimum bagi penumpang.
Toh, jika naik kereta atau pesawat, penumpang yang harus menunggu kehadiran kereta atau pesawat. Bukan sebaliknya. Kalo telat, ya bakal ditinggal.
Kecuali kalo penumpang itu statusnya pejabat, tentu kereta bahkan pesawat bakal rela menunggu.
Pun demikian dengan saya saat dapat orderan, langsung berangkat ke lokasi. Ga harus ngopi dulu. Otw.
Btw, saya pernah ngalamin saat puasa lalu, jemput orderan di Stasiun Tanah Abang dari Patung Kuda. Saya udah di lokasi setelah 10 menit menembus kemacetan jelang maghrib, eh, penumpangnya masih di kereta.
Tepatnya mau masuk Stasiun Kebayoran Lama. Itu berarti, masih dua stasiun lagi, sebab setelahnya itu Palmerah diikuti Tanah Abang.
"Saya mau bukber mas di mal ***. Kalo pesan sudah di stasiun (Tanah Abang), biasanya nunggu lama. Makanya, ini saya order di kereta," jawaban penumpang saat itu yang bikin saya geleng-geleng kepala.
Udah jemput jauh, macet parah karena bertepatan jam pulang kerja + jelang buka puasa, ongkos hemat, eh masih harus nunggu lagi di lokasi.
Lalu?
Seru!
Drama banget...
Nantikan di artikel selanjutnya tentang sisi lain dunia ojol.
* * *
"BAJU putih Arsenal," kata penumpang di Satrio memberi konfirmasi usai kirim foto lokasi.
"ARSENAL?" ujar saya menjawab dengan huruf kapital. Maklum, capslock jebol!
Saya lanjut ketik, "OK SAYA BERI RESPEK UNTUK YANG AKHIRI PUASA 22 TAHUN!"
Penumpang itu ketawa lebar. Dia merupakan customer kedua saya hari itu yang memakai atribut Arsenal.
Keduanya sama. Sangat gembira menyaksikan akhirnya tim kesayangan meraih gelar Liga Primer. Trofi yang diidamkan lebih dari dua dekade!
"Gila, mas... Gw berasa ini mimpi," ujar penumpang cowo yang tujuannya ke kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
"Ini gw mau rapat di kafe kekinian. Kata bos gw, mau sekalian party ngerayain tim favorit gw juara," lanjutnya
Meski bukan penggemar Liga Primer, apalagi Arsenal, tentu saya ikut girang. Bagaimanapun, menunggu 22 tahun itu bukan sebentar.
Sebagai Juventini, saya pernah merasakan usai "I Bianconeri" degradasi ke Serie B 2006/07 akibat Calciopoli. Butuh enam tahun untuk melihat Juve kembali scudetto pada 2011/12.
"Gw bangun pagi, pas lihat hasil Man. City imbang, hampir ga percaya. Bagi gw dan fan Arsenal di kolong langit, akhir musim ini seperti mimpi basah di siang bolong," penumpang itu menuturkan.
"Bayangin, 22 tahun nunggu dari gw masih bocah sampe sekarang rekan kerja gw udah pada punya bocah, akhirnya kesampean lihat Arsenal juara. Apalagi kalo akhir bulan bisa kawinin gelar Liga Champions, wah itu sesuatu," kata penumpang itu sambil melambaikan jersey lawas Arsenal dengan logo O2.
Saya yang melihatnya di spion pun ikut tersenyum. Kelak, mungkin saya akan melakukan hal yang sama jika Juventus juara Liga Champions.
Maklum, kali terakhir La Vecchia Signora mengangkat trofi UCL pada 1995/96. Alias, lebih dari 30 tahun lalu.
"Mas, lo Juventini kan, gw doain moga impian lo terwujud ke depannya," kata penumpang dengan sungguh-sungguh. "Menurut lo, final Liga Champions bakal gimana?"
Saya jawab dengan lugas, "Skuat PSG lebih merata. Namun, Arsenal punya momentum yang pas buat diledakkan. Gw Juventini bro, ga milih kedua tim. Hanya, gw juga pengen lihat Arsenal juara musim ini setelah PSG udah tahun kemaren."
Ya, final Liga Champions 2025/26 akan berlangsung akhir pekan, Minggu (30/5). Siapa pun yang menang, saya berharap kedua tim tampil impresif.
Untuk hati, cenderung pilih Arsenal.
* * *
EDIT, artikel ini dibuat pada 21-26 Mei lalu yang batal dipublish akibat kesibukan ojol. Ternyata, dini hari WIB tadi, PSG yang juara Liga Champions 2025/26 usai mengalahkan Arsenal via adu penalti.
Selamat untuk fan PSG yang sukses mempertahankan gelar.
Selamat juga bagi fan The Gunners yang sudah mengakhiri puasa Liga Primer 22 tahun.
Salam dari Juventini!***
![]() |
| Saling respek antar penggemar sepak bola |
* * *
Artikel terkait:
- Selamat untuk Inter, Salam dari Juventini (https://www.roelly87.com/2025/05/selamat-untuk-inter-salam-dari-juventini.html)
- Tanpa Mourinho, AS Roma Tak Lagi Sama (https://www.roelly87.com/2024/01/tanpa-mourinho-as-roma-tak-lagi-sama.html)
- (Galeri Foto) Jadi Saksi Kekalahan Juventus dari Madrid di Final Liga Champions 2016/17 (https://www.roelly87.com/2017/06/saksi-juventus-di-final-liga-champions.html)
- Abu-abu dalam Derby della Madonnina (https://www.roelly87.com/2017/10/abu-abu-dalam-derby-della-madonnina.html)
-
- Pria Sejati Tidak Akan Pernah Tinggalkan Kekasihnya (https://www.roelly87.com/2021/03/pria-sejati-tidak-tinggalkan-kekasihnya.html)
- Juve yang Sekarang Bukan Juve yang Dulu (https://www.roelly87.com/2021/05/juve-yang-sekarang-bukan-juve-yang-dulu.html)
- Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo (https://www.roelly87.com/2014/09/wawancara-eksklusif-andrea-pirlo.html)
- Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini (https://www.roelly87.com/2014/09/wawancara-eksklusif-giorgio-chiellini.html)
- Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio (https://www.roelly87.com/2014/10/wawancara-eksklusif-claudio-marchisio.html)
-
- (Kilas Balik) Juventus Tur di Indonesia 2014 (https://www.roelly87.com/2017/04/kilas-balik-juventus-tur-di-indonesia.html)
- Trofi Liga Champions yang Dekat di Mata tapi Jauh di Hati (https://www.roelly87.com/2017/04/trofi-liga-champions-yang-dekat-di-mata.html)
- Akhir Tragis dari Strategi Memunggungi Sungai ala Han Xin (Bei Shui Yi Zhan) (http://www.roelly87.com/2016/03/akhir-tragis-dari-strategi-memunggungi.html)
- Diego Milito dan Angka 22 (http://www.roelly87.com/2014/11/diego-milito-dan-angka-22.html)
-
* * *
- Jakarta, 31 Mei 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan obat kuat, virus, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik.
Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...
Terima kasih :)