TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Metland Rumah Idaman Investasi Masa Depan

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Metland Rumah Idaman Investasi Masa Depan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metland Rumah Idaman Investasi Masa Depan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Desember 2014

Metland Rumah Idaman Investasi Masa Depan



Metland Rumah Idaman Investasi Masa Depan


Salah satu hunian berkualitas dari Metland (Sumber foto www.metroplitanland.com)

BERBICARA mengenai investasi untuk masa depan, menurut saya yang masih single tentu memilih dua hal: Emas (perhiasan) dan properti (tanah atau rumah). Dua bidang itu yang sejak zaman baheula hingga kini, masih mengakar di masyarakat luas. Termasuk saya pribadi. Maklum, baik emas dan properti memiliki tren yang selalu meningkat. Saya nyaris tidak pernah mendengar tentang merosotnya nilai emas atau properti di pasaran. Kecuali jika perhiasan itu imitasi dan tanah atau rumah dalam sengketa. Itu soal lain.

Nah, untuk yang masih single, baik pria maupun wanita, properti menjadi pilihan yang utama. Sebab, selain bisa ditempati juga sebagai investasi yang tepat di masa depan. Berbicara mengenai properti, tentu kita harus jeli untuk mengetahui seluk-beluknya. Agar, jangan sampai kita membeli kucing dalam karung. Banyak "tragedi" yang mengisahkan konsumen ditipu pengembang dengan iming-iming harga murah.

Untuk itu, kita harus teliti dalam menyimak profil dan sepak terjang dari si pengembang. Baik soal cicilan ringan, fasilitas memadai, akses terjangkau, bebas banjir (wajib), keamanan terjamin, hingga penyelesaian masalah dengan konsumen. Di antara beberapa depelover ternama di Indonesia yang saya ketahui, salah satu yang paling memenuhi kriteria itu adalah PT Metropolitan Land Tbk (Metland).

Perusahaan yang sudah didirikan 20 tahun silam ini sejak dekade 1990-an dikenal sebagai developer property terbaik di Indonesia dan tentu saja terpercaya. Maklum, dalam periode itu, Metland sukses menyelesaikan banyak proyek. Beberapa di antaranya adalah Metland Menteng, Puri, Transyogi, Tambun, Cileungsi, dan Cibitung.

Selain perumahan, Metland juga fokus terhadap sektor komersial yang memanjakan konsumen. Sebut saja, Mal Metropolitan Bekasi, Grand Metropolitan Bekasi, Hotel Horison Bekasi, @Hom Hotel Tambun, Hotel Horison Seminyak Bali, dan Metland Hotel Cirebon.

Denah persebaran proyek Metland (Sumber foto www.metroplitanland.com)


Berdasarkan fakta tersebut, wajar jika nama perusahaan yang pada 21 Februari 2015 nanti genap berusia 21 tahun ini mendapat tempat di hati masyarakat. Khususnya saya pribadi yang meski belum pernah memiliki produk properti keluaran Metland karena masih tinggal di rumah pribadi di kawasan Jakarta Barat. Tapi, saya beberapa kali mengunjungi proyek lainnya seperti Mal Metropolitan Bekasi saat mengikuti rangkaian acara blogger dan Metland Hotel Cirebon ketika sedang tugas ke luar kota.

Mengenai properti yang saat ini masih saya pelajari sebagai hunian di hari tua, Metland Menteng merupakan target utama. Lantaran, lokasinya yang strategis dekat pusat kota sekaligus banyak sarana olahraga dan memiliki fasilitas yang memadai. Selain itu, Metland Menteng pun memiliki akses yang tergolong mudah dari dan ke pusat kota melalui tol JORR yang menghubungkan dengan segitiga emas Jakarta. Dengan beragam kelebihan seperti itu, wajar jika saya menyebut Metland rumah idaman investasi masa depan.

Di sisi lain, sebagai blogger dan juga (calon) konsumen Metland di masa depan, saya tentu harus kritis. Selain mengakui kelebihan perusahaan yang pertama kali sahamnya tercatat pada lantai Bursa Efek Indonesia pada Juli 2011 ini, saya juga harus mencari apa kekurangannya. Wajar, sebab, sekarang merupakan era teknologi (internet) yang gampang diketemukan informasi via online dan dapat diakses siapa saja.

Hanya, kita pun wajib memverifikasi apakah info tersebut layak atau tidak. Jangan sampai, yang ada seperti kalimat pada paragraf kedua dalam artikel ini, yaitu "membeli kucing dalam karung". Untuk Metland, saya sudah mencari informasinya di berbagai sumber -selain situs resmi-, baik itu media cetak, online, dan elektronik,

Sejauh ini, respons dari masyarakat terkesan baik. Terutama karena mereka tidak hanya berani jor-joran memasang iklan di media cetak hingga menumbuhkan kepercayaan dari pembaca untuk menjadi konsumennya. Melainkan juga terbuka dalam menerima keluhan. Sesuatu yang (mungkin) jarang terjadi pada developer lainnya yang mayoritas antikritik.

Bahkan, Metland merupakan satu-satunya perusahaan yang menerima anugerah Indonesia Property Award hingga hingga enam kali pada 2005, 2008, 2009, 2010, 2011, dan 2012. Secara total, sejak sembilan tahun terakhir, Metland sudah mendapat 27 penghargaan baik dalam maupun luar negeri.

Untuk tahun 2014 ini saja, perusahaan  yang sejak 2004 lalu itu memperoleh sertifikat ISO 9001:2008 dari URS (United Registrar System) sebagai pengakuan resmi standar manajamen internasional atas sistem manajemen mutu ini, sudah mendapat tujuh penghargaan:
The Most Innovative CEO 2014 (APTI 2014) - Ir. Nanda Widya
Anugerah Perusahaan Terbuka Indonesia (APTI) 2014
Asia Pacific Property Award 2014 (Highly Commended Residential Development Indonesia) untuk Metland Transyogi
Asia Pacific Property Award 2014 (Highly Commended Retail Development Indonesia) untuk Grand Metropolitan
Indonesia Property & Bank Award 2014 (First Integrated Premium Offices and apartments in Bekas - M Gold)
WOW Brand Award 2014 (residential property developers with assets under 10 trillion)
The Indonesian Public Company Award 2014 (Pioneer Company Business Hotel Integrated Popular Mal)

Hanya, terlepas dari beberapa fakta tersebut, semua kembali kepada pribadi masing-masing. Yang terpenting, dalam mencari  hunian berkualitas, penting bagi kita untuk menemukan pengembang yang tepat dan terpercaya.


Bebas banjir merupakan syarat wajib memilih rumah (Sumber foto www.metroplitanland.com)

-
Fasilitas dan kenyamanan merupakan daya tarik bagi konsumen, khususnya yang masih single (Sumber foto www.metroplitanland.com)

-
Rumah tidak hanya untuk dihuni tapi juga sebagai investasi masa depan (Sumber foto www.metroplitanland.com)

- Jakarta, 27 Desember 2014

Sabtu, 20 Desember 2014

Adu Akting Supernova versus Tongkat Emas (Arifin Putra vs Tara Basro)


Aksi Dara dalam Pendekar Tongkat Emas (sumber foto: roelly87.com)




Dua film fenomenal Indonesia dirilis bersamaan pada pengujung 2014. Dimulai dengan Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh yang serentak ditayangkan di layar bioskop pada 11 Desember lalu. Sepekan kemudian, giliran Pendekar Tongkat Emas yang diputar secara resmi (18/12).

Jujur saja, selain gembar-gembor di media, baik online, televisi, hingga cetak, serta khususnya media sosial di twitter. Sebenarnya, bagi saya kedua film tersebut tergolong biasa saja. Terutama jika dibandingkan dengan The Raid 2: Berandal yang bisa disebut sebagai film terbaik 2014. Baik dari segi cerita, pemeran, dan juga animo masyarakat.

Setidaknya menurut saya pribadi yang sudah menyaksikan tiga film tersebut dengan yang terakhir Pendekar Tongkat Emas yang memanfaatkan ketenaran Nicholas Saputra. Kebetulan, aktor yang identik dengan tatapan mata elang itu sedang jadi hit setelah "membintangi" mini seri dari lanjutan Ada Apa dengan Cinta? (AADC?) yang dibuat sebuah produk asal Korea Selatan, bulan lalu.

Tapi, yang ingin saya ulas ini bukan keberadaan Rangga dan sebagainya. Melainkan korelasi dua pasangan papan atas selebriti saat ini yang, kebetulan tampil dalam dua film berbeda. Arifin Putra dalam Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh dan Tara Basro (Pendekar Tongkat Emas).

Terus terang, saya sempat kaget dan tak habis pikir jika sang aktor, Arifin Putra, yang sebelumnya berlaku telengas sebagai anak bos mafia di The Raid 2: Berandal. Tiba-tiba menjadi kemayu saat memerankan tokoh Reuben yang merupakan pasangan gay dari Dimas (Hamish Daud). Tanpa bermaksud lain, jelas dua karakter bertolak belakang yang diperankan Arifin Putra membuktikan dirinya sebagai aktor watak layaknya Ray Sahetapy atau Onky Alexander.

Fakta itu yang saya dapat saat menyaksikan film yang diadopsi dari novel legendaris Dewi "Dee" Lestari di sebuah teater di kawasan Senayan seusai pulang kerja (14/12). Bagaimana tidak, dengan asyiknya, Arifin Putra memegang tangan Hamish Daud untuk membuat sebuah novel ilmiah. Padahal, beberapa bulan sebelumnya, banyak penggemar film yang takjub akan aksinya yang sangat ambisius untuk menjadi ketua mafia. Bahkan, saat itu, Arifin Putra yang berperan sebagai Uco, tega menembak mati Bangun (Tio Pakusodewa), ayah sekaligus atasannya.

Sementara, kekasihnya di dunia nyata, Tara Basro pun tak kalah sadis dan dinginnya saat memerankan tokoh Gerhana di Pendekar Tongkat Emas. Seolah enggan kalah pamor dibanding pacarnya yang memerankan Uco di The Raid 2: Berandal, gadis 24 tahun ini juga dengan telengas membunuh sang guru, Cempaka, yang diperankan Christine Hakim. Jika di Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, pasangan Arifin Ilham sesama pria, sebaliknya di Pendekar Tongkat Emas, pasangan Tara Basro adalah Reza Rahadian (Biru).

Menarik mencermati akting pasangan kekasih tersebut dalam dua film berbeda dalam sepekan terakhir ini. Khususnya, Tara Basro yang dingin dan ambisius karena penuh dendam saat membunuh gurunya. Tapi, ketika dirinya tewas oleh pasangan Elang (Nicholas Saputra) dan Dara (Eva Cecilia), sukses membuat puluhan penonton di sebuah teater di kawasan Cihampelas, Kamis (18/12) terhenyak, hingga berteriak "ah...".

Wajar, sebab, kematiannya meninggalkan sang putra yang kelak akan diasuh Dara. Itu seperti menjadi siklus tak berujung. Lantaran, Cempaka mengasuhnya sejak kecil disebabkan merasa hutang darah setelah membunuh orangtua Biru.

Jadi, ada kemungkinan Pendekar Tongkat Emas bakal dibuat sekuelnya atau spin-off oleh Mira Lesmana selaku produser bersama Kompas-Gramedia Studio. Atau, malah kolaborasi Miles Films dan KG-Studio lebih memilih untuk merampungkan AADC 2 yang terbukti masih diminati meski sudah lewat 12 tahun?


Sosok anak Gerhana (Tara Basro)



- Bandung, 20 Desember 2014