TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Prabowo Subianto

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Prabowo Subianto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prabowo Subianto. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 April 2025

Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja

Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja

Twitter lawas @Prabowo

PRABOWO Subianto jadi nama yang paling hangat dibicarakan masyarakat sejak era reformasi. Baik di dunia nyata seperti warung kopi (warkop), perkantoran, gedung bertingkat, kampus, hingga perpustakaan 

Pun demikian di dunia maya. Itu meliputi X atau Twitter, Facebook, Instagram, Thread, Youtube, Tiktok, dan sebagainya.

Terutama, setelah menjabat sebagai Presiden Kedelapan Republik Indonesia (RI) pada 20 Oktober lalu. Sejak itu, nama Prabowo selalu menghiasi alam bawah sadar masyarakat.

Termasuk, saya yang merupakan penggemarnya sejak 2008 silam. Khususnya, usai tiga kali mencoblos pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, 2019, dan 2024.

(Selengkapnya: Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)

Asa pun terpancar tinggi usai mengetahui Prabowo dan Gibran Rakabuming menang pada hari pencoblosan, 14 Februari 2024. Akhirnya, "jagoan saya" bisa jadi presiden usai dalam dua kontestasi dikalahkan Joko Widodo (Jokowi).

Hanya, bak adagium, jauh panggang dari api, pun demikian dengan apa yang dilakukan Prabsky dalam Kabinet Merah Putih. Sumpah, sebagai pemilihnya, saya benar-benar syok.

Hampir enam bulan kepemimpinannya, belum ada gebrakan yang benar-benar mensejahterakan rakyat. Isi kabinetnya aja udah gemuk dengan banyak penambahan menteri, wakil menteri, dan lembaga anyar lainnya.

Efisiensi yang dicanangkan hanya omon-omon. 

Oke gas... Oke gas!

Sebagai manusia, untungnya saya ga pernah mengkultuskan seseorang. Apalagi, politisi.

Ya, saya memang selalu menyisakan ruang ketidakpercayaan pada setiap insan. Termasuk, Prabowo yang saya idolakan lebih dari dua windu ini.

Namun, sejak awal eskpektasi saya memang tidak terlalu tinggi. Pencapaian Prabowo sebagai presiden bisa mendekati era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun sudah bagus.

Ya, bagi saya, kepemimpinan presiden keenam itu jadi bare minimum sejak era dipilih rakyat secara langsung. Kepemimpinan SBY ga jelek-jelek amat. 

Hanya, untuk dibilang bagus juga masih terlali jauh. Jokowi yang jadi penerusnya pun 11/12. 

Namun, kedua presiden itu tetap punya nilai positif. Ada sesuatu yang bisa dibanggakan dari warisannya.

Prabowo? 

Entahlah. Sudah lebih dari 150 hari kepemimpinannya, justru keadaan kian buruk.

Demo di mana-mana akibat ketidakpuasan masyarakat dan mahasiswa terkait RUU TNI. Aparat yang kian sewenang-wenang. 

TNI dan polisi main bunuh rakyat secara gampang. Intimidasi pun jadi santapan sehari-hari.

(Selengkapnya: Lulusan SMA Dibekali Senjata Itu Bernama Polisi = https://www.roelly87.com/2025/02/lulusan-sma-dibekali-senjata-itu.html)

Rupiah melemah. Harga pangan kian naik.

Di sisi lain, Prabowo seperti berada di menara gading. Seolah merasa rakyat saat ini baik-baik saja.

Putra dari begawan Soemitro Djojohadikoesoemo ini ngaku, bangun pagi sangat cerah. Pada saat yang sama, rakyat menyuarakan "Indonesia Gelap".

Duh...

Konklusinya, apakah saya menyesal memilihnya dalam tiga edisi pilpres?

Tentu saja nggak. 

Kan udah terjadi. Kalo di awal namanya pendaftaran.

Toh, saya sadar sejak dulu, kemampuan Prabowo itu ya "B aja".

Cukup sekian dan terima gaji!


*       *       *


TIGA jam lebih saya menyaksikan dialog Prabowo dengan enam jurnalis senior yang diselenggarakan di kediamannya, Minggu (6/4). Tentu, saya ga bisa nonton full saat video itu rilis di berbagai laman youtube media, sehari berselang.

Melainkan, secara maraton. Alias, dilakukan bertahap dalam beberapa hari ini.

Kesimpulan saya terhadap diskusi itu ya... Hambar!

Serius.

Ini penilaian saya. Murni.

Saya berusaha objektif. Baik ya bilang baik, buruk ya katakan buruk.

Saya apresiasi terkait inisiatifnya mengumpulkan para pimpinan media untuk diskusi. Bahkan, disiarkan secara utuh dengan seluruh jurnalis mengatakan wawancara itu tidak pakai script.

Alias, mengalir begitu aja. Tanpa harus setor pertanyaan terlebih dulu.

Bagi saya, ini suatu kemajuan. Sebelumnya, Jokowi yang dikesankan merakyat aja tidak pernah mengajak beberapa jurnalis untuk diskusi.

Sekarang, Prabowo berani dialog dengan para jurnalis senior. Bahkan, adu argumen, "Come On!"

Kebetulan, saya sering menonton wawancara dari beberapa jurnalis itu. Najwa Shihab udah lama dikenal dengan gaya intimidatifnya terhadap narasumber.

Apalagi, Uni Lubis, yang terkesan santai tapi beragam pertanyaannya sangat menusuk.

Nah, terkait Prabowo bisa menjawab dengan baik dan solutif itu perkara lain. Nanti akan saya bahas.

Saat ini, saya ingin menggarisbawahi niat Prabowo yang menegaskan bisa diajak diskusi. Sekaligus, membuktikan sebagai pemimpin yang tidak antikritik dan bersedia menjelaskan apa yang ingin dicapai ke depan.

Bahkan, Ketua Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini menyatakan siap berdialog dengan tokoh "Indonesia Gelap". Dua di antaranya, Refly Harun dan Rocky Gerung, yang disebut secara gamblang.

Jujur, saya berharap pria 73 tahun ini rutin mengadakan dialog terbuka. Tidak hanya kepada jurnalis saja, melainkan para pengamat seperti Refly, Rocky, aktivis hingga mahasiswa.

Jika itu terwujud, rakyat Indonesia bisa tahu terkait langkah Prabowo dalam mengarahkan bahtera ini ke depannya.

Yang penting, diskusi itu dua arah. Disertai solusi untuk mengatasi permasalahannya.

Prabowo udah melakukan itu pada Sarasehan Ekonomi, Selasa (8/4). Acara yang dihadiri berbagai perwakilan dari serikat pekerja, pelaku usaha, hingga  analis pasar modal ini menurut saya menarik.

Dalam dialog berdurasi empat jam di laman youtube Sekretariat Presiden itu tampak tabir gelap yang menyelimuti Prabowo perlahan mulai tersibak. Ya, Danjen Kopassus 1995-1998 itu sangat aktif menjawab sekaligus solutif dalam berbagai masalah dengan langsung memberi instruksi kepada menterinya.

Misalnya, terkait Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang regulasinya akan diubah lebih fleksibel. Atau, terkait impor yang selama ini dimonopoli pihak tertentu.

Jangan lupa, adanya Satgas PHK.

Bagi saya, semua ini menarik. 

Serius.

Tapi, saya mencium bau amis. Saya merasa, ada yang janggal dari setiap perkataan Prabsky saat itu.

Sebab, doi kerap bilang "Saya baru tahu". Ini aneh sih.

Bisa menimbulkan multitafsir di kalangan masyarakat. Eskalasinya menurut saya sangat membahayakan negara.

Secara, menyulut teori konspirasi selama ini. Bahwa, Prabowo mendapat informasi yang tidak utuh hingga diblokir dari para pembantunya di Kabinet Merah Putih. 

Bahkan, saya duga orang-orang terdekatnya kerap memberi info yang keliru. Kabar menyesatkan bahwa negara ini sedang baik-baik saja tidak seperti desakan masyarakat terkait Indonesia Gelap.



Faktanya, Prabowo menyangka demo yang dilakukan mahasiswa terkait RUU TNI itu sebagai aksi bayaran. 

Miris sih dengernya. Saya sampai menghela napas usai maraton nyimak diskusi Prabowo dengan jurnalis.

Namun, setelah menonton Sarah Sechan lebih detail, saya sedikit paham. Mungkin, -ini mungkin ya bisa saja asumsi saya keliru- banyak di Kabinet Merah Putih yang berjiwa ABS.

Asal Bapak Senang. 

Lapor yang bagus-bagus. 

Berita yang menyenangkan Prabowo.

Indonesia baik-baik saja.

Demo itu ada aksi bayaran.

Draft RUU TNI yang dipercaya masyarakat itu hoax.

Lebaran, harga pada turun mulai dari tiket pesawat, tol, hingga sembako.

Dll...

Apalagi, beredar rumor, Prabowo tidak pegang ponsel. Beda dengan SBY dan Jokowi yang meski punya admin, tapi tetap upload status di media sosial secara sendiri.

Bahkan, dalam sesi wawancara dengan jurnalis itu, Prabowo terkesan gagap teknologi (gaptek). Faktanya, ayah dari Ragowo Hediprasetyo Djojohadikoesoemo ini mengaku tidak tahu apa itu buzzer.

Saya enggan berspekulasi tentang ini. Bisa iya, juga bisa ga.

Hanya Prabowo sendiri dan Tuhan yang tahu.

Namun, saya ingat saat debat Capres 2019, Prabowo agak bingung saat ditanya Jokowi soal Unicorn. 

"Maksudnya yang online-online itu, iya?" kata Prabowo yang saat itu berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Aneh juga sih. Mantan jenderal bintang tiga yang punya banyak pasukan, pemilik partai tiga besar parlemen, dan kini jadi orang nomor satu di Indonesia, kok bisa gaptek.

Kalo faktor usia, bisa jadi. Namun, jika dikomparasi,  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang lima tahun lebih tua, masih aktif mencuit di X/Twitter.

Epilog, meski tidak punya ekspektasi tinggi pada Kabinet Merah Putih, tapi saya berharap Prabowo mampu melakukan gebrakan. Khususnya, yang berkaitan langsung dengan masyarakat.

Misal, penegakan hukum harus sama, tajam ke bawah dan juga atas. RUU Perampasan Aset disegerakan demi meminimalkan celah korupsi di antara pejabat.

Saya sempat memalingkan wajah saat Prabowo mengatakan apakah adil terhadap anak koruptor yang menderita akibat orangtuanya dihukum.

Duh, itu adil banget, Prabsky!

Bagaimana perasaan ratusan juta rakyat Indonesia yang masih di bawah garis kemiskinan akibat pejabatnya korup? 

Katanya, Anda mengagumi pemikiran Deng Xiaoping, sosok di balik kesuksesan Cina sejak 1980-an. Saat itu, Deng tega menghukum mati pejabatnya yang ketahuan korupsi.

Sementara, Anda? Malah kasihan kepada anak koruptor.

Hello...

Prabsky, Anda benar-benar hipokrit.

Jadi teringat twit seseorang pada 3 Oktober 2011, yang berbunyi, "Saya tidak bangga Indonesia dicap sebagai salah satu negara paling korup di dunia. Saya mendukung hukuman mati bagi koruptor."

Saya sudah 17 tahun mengagumi Anda. Namun, kesan gagah ala Prabsky berubah sejak 20 Oktober lalu.

Prabowo yang sekarang bukanlah seperti yang dulu lantang di podium. Kini, Prabsky yang saya kenal hanya seonggok tubuh tanpa semangat duduk di singgasana emas yang berada di menara gading...


*       *       *


- Jakarta, 11 April 2025


*       *       *


Artikel Terkait Politik: 


- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)


- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-gemoy-tapi-tangannya-berlumuran.html)


- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-presiden-2024-ganjar-mendagri.html)


- Anies adalah Liu Bei, Mega = Sun Quan, dan Jokowi = Cao Cao? (https://www.roelly87.com/2024/08/anies-adalah-liu-bei-mega-sun-quan-dan.html)


- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia


- 9 Naga dan 3 Capres


- Prabowo dan Kedaulatan Selera


- Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik


- Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona (https://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html)


- Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran...


- Manusia Lebih Anjing daripada Anjing


- Di Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil


- Jokowi, Sang Gubernur Gaul


- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif





Senin, 08 Januari 2024

Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran, dan Tindakannya

Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran, dan Tindakannya

Ilustrasi bayangan (@roelly87)



DEBAT ketiga calon presiden (capres) 2024, telah rampung, kemarin. Tepatnya, berlangsung di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (7/1).

Bagi saya pribadi, tema debat ini menarik. Yaitu, Pertahanan dan Keamanan, Hubungan Internasional dan Globalisasi, serta Geopolitik dan Politik Luar Negeri.

Sebagai penggemar Prabowo Subianto, tentu saya berharap debat ketiga ini jadi panggungnya. Maklum, pada edisi perdana, Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini tampil di bawah performa.

Tepatnya, dihajar habis-habisan oleh dua rivalnya, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Selengkapnya, ada dalam artikel saya 13 Desember lalu berjudul Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik  (http://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-kembali-ke-setelan-pabrik.html).

Faktanya? Yeeeeeeeeeeeee.

Masih jauh api dari panggang!

Tapi, ya sudahlah. Memang kalo soal debat, Prabowo kurang mumpuni.

Btw, ini merupakan artikel perdana saya pada 2024. Keenam sih, jika menilik draft. 

Maklum, lima lainnya masih belum dipublish karena kesibukan sehari-hari sebagai ojek online (online). Eaaa!

Hanya, artikel ini bukan soal debat kemarin. Sudah basi.

Melainkan, terkait situasi Prabowo saat ini. Sosok yang digadang-gadang sebagai suksesor Presiden Joko Widodo (Jokowi).

*       *       *

CAO Cao hanya bisa menghela napas usai menaklukkan Kota Luo Yang, markas rivalnya, Yuan Shao. Ini saya kutip dari novel Roman Kisah Tiga Negara (Romance of the Three Kingdoms/ Sam Kok/ San Guo Yan Yi).

Bukan sekadar geregetan akibat lamanya durasi pertempuran yang tergolong melelahkan hingga menghabiskan mayoritas logistik. Khususnya, dalam "Battle of Guandu". 

Melainkan, akibat Cao Cao mengetahui beberapa bawahannya, seperti jenderal hingga penasihat, yang diketahui melakukan korespondensi dengan Yuan Shao.

Maklum, saat itu, posisi Yuan Shao jauh di atasnya. Kendati, Cao Cao memegang legitimasi Dinasti Han sebagai Perdana Menteri.

Namun, dari segi prajurit dan logistik, ketika itu Yuan Shao lebih unggul. Bahkan, Cao Cao nyaris enggan membuka konfrontasi dengan mengalihkan ke Selatan lebih dulu.

Hingga, akhirnya peperangan dahsyat itu pun terjadi. Selanjutnya, sejarah yang bicara.

Apa yang dilakukan Cao Cao ketika mengetahui bawahannya yang melakukan "hubungan gelap" dengan pihak Yuan Shao?

Mengeksekusi?

Babat rumput hingga akar-akarnya?

Mutasi ke daerah terpencil?

Ya... Salah!

Yang dilakukan Cao Cao adalah... Membakar seluruh surat-surat tersebut!

Yuppiii...

Semudah itukah tindakan dari Pendiri Negara Wei tersebut. Padahal, Cao Cao dikenal sebagai sosok yang biasa membunuh orang tanpa berkedip.

Namun, sosok bermarga asli Xiahou itu punya sisi lain yang positif. Selain meritokrasi juga bijaksana.

Cao Cao bergeming dengan keadaan para bawahan yang kemungkinan bakal membelot. Sebaliknya, dia justru menutupi agar pasukannya tidak tahu.

Sebab, jika tersebar bakal menurunkan moral prajurit. Sementara, Cao Cao sedang bersiap untuk invasi ke selatan demi menyatukan Cina.

Nah, apa korelasinya dengan Prabowo?

Ga ada!

Iseng aja mengaitkannya kejadian dua milenium tersebut dengan kondisi sekarang. Btw, saya pernah mencuit di X twitter pada 22 September lalu terkait tiga capres, yaitu:

"Keberadaan 3 Bakal Calon Presiden 2024 jadi inget Kisah Tiga Negara (Samkok/Romance of the Three Kingdoms).

Liu Bei: Prabowo

Cao Cao: Ganjar

Sun Quan: Anies 

Di antara ketiga tokoh ini, siapakah yang akan dapat MANDAT LANGIT?

Atau, NEXT jangan2 muncul sosok seperti Sima Yi?!"

*       *       *

PILPRES 2024 berlangsung kurang dari sebulan lagi. Di antara tiga capres, sudah pasti Prabowo yang disorot.

Maklum, ini merupakan edisi ketiganya sejak 2014 dan 2019. Sementara, pada 2009, Prabowo sebagai calon wakil presiden bersama Megawati Soekarnoputri.

Berdasarkan analisis sotoy saya, detik-detik jelang pencoblosan 14 Februari nanti jadi yang paling mendebarkan bagi Prabowo. Maklum, pilpres ini merupakan palagan pamungkasnya.

Saya enggan menyematkan frasa "terakhir". Sebab, jika tahun ini kalah, Prabowo masih bisa ikut kompetisi pada 2029 mendatang. 

Namun, situasi nanti sangat berbeda. Tidak ada dukungan besar-besaran dari partai politik dan relawan seperti sekarang.

Kelak, lima tahun mendatang, sulit bagi Prabowo untuk mengejar presiden incumbent. Bisa Anies atau Ganjar.

Alhasil, 2024 ini jadi palagan pamungkasnya. Jika menang, Prabowo punya kans besar lanjut pada 2029.

Andai kalah, kemungkinan bakal pensiun setelah merampungkan jabatan Menteri Pertahanan. Bisa jadi, Prabowo akan bertani, berkebun, atau berkuda, mengisi hari-hari nanti.

Itu mengapa, putra dari Begawan Ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo ini harus memaksimalkan kesempatan 2024. Dukungan banyak partai besar, relawan, hingga langsung dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) jadi amunisi tambahan.

Tak heran jika berbagai survei menempatkan Prabowo selalu di posisi puncak. Jauh meninggalkan Anies dan Ganjar yang saling tikung.

Namun, ini juga bak dua sisi mata uang. Selalu ada harga mahal yang harus dibayar dalam mendapatkan dukungan tersebut.

Sebagai penggemarnya, saya berusaha menyelami apa yang dirasakan Prabowo sekarang.

Gamang.

Yupz... Serius.

Prabowo sekarang bergulat dengan perang batinnya. Antara meneruskan egonya yang memang sangat tinggi atau berusaha menginjak bumi.

Menurut saya, Prabowo merupakan sosok yang Megalomania. Jujur, saya harus menyematkan kata tersebut.

Faktanya, beragam survei tinggi itu bukan karena dirinya saja. Melainkan, faktor Jokowi.

Ya, keberadaan Gibran Rakabuming Raka yang merupakan putranya membuat Jokowi berusaha untuk memenangkan Prabowo. Itu harga mati.

Aliran darah tidak bisa dibohongi. Meski, Jokowi berkali-kali menegaskan netral dengan mendukung seluruh capres.

Fakta di lapangan? Tidak perlu jadi genius seperti Albert Einstein untuk mengetahui kondisi saat ini.

Di satu sisi, dukungan dari Jokowi itu jadi beban bagi Prabowo. Khususnya, slogan keberlanjutan yang digaungkannya.

*       *       *

MENURUT saya, Prabowo bakal merasa, jika menang ini berkat campur tangan Jokowi. Tentu, dia harus "membayarnya" nanti dengan harga yang tidak murah.

Sudah pasti, Jokowi tidak meminta apa pun. Saya percaya itu. 100 persen.

Sebab, usai purna tugas sebagai presiden, Jokowi berkali-kali menegaskan bakal kembali ke Solo. Kumpul dengan keluarga sekaligus mengasuh cucu.

Apalagi, keberadaan Gibran sebagai RI 2, sudah cukup membuat Jokowi bangga. Tidak ada lagi keinginan lainnya.

Hanya, Prabowo tentu ingin membayar lunas kepercayaan tersebut. Gengsi baginya, jika tidak memberikan sesuatu kepada Jokowi.

Terlebih, Prabowo merupakan sosok yang selalu menepati janji. Sekaligus tidak enakan kepada orang lain.

Apakah itu?

Entahlah. Yang pasti, tidak ada makan malam gratis.

Selain itu, Prabowo juga harus membayar kepercayaan kepada partai, relawan, dan berbagai pihak yang mendukungnya. Kecuali Gerindra, tentu beberapa partai besar pada minta jatah di kabinet.

Golkar sudah pasti. Maklum, partai kuning ini sudah mendukung Prabowo sejak 2014 bersama Partai Amanat Nasional (PAN).

Apalagi, kedekatan personalnya dengan Aburizal Bakrie yang memimpin Golkar pada 2009-2014. Sebagai individu yang tidak pernah lupa sahabat, tentu Prabowo akan memberikan kue yang terlezat.

Pun demikian dengan relawan. Khususnya, yang pindah haluan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yaitu, Budiman Sudjatmiko dan Maruarar Sirait.

Saya berani bertaruh, Prabowo bakal memberi kue spesial kepada keduanya. Menteri?

Sudah pasti.

Ga mungkin sekelas Budiman atau Ara, hanya diberi jatah wamen. Apalagi, sekedar jabatan di BUMN seperti komisaris atau direksi.

No!

Hanya, ini juga jadi dilema. Sebab, bakal menimbulkan kecemburuan internal.

Jangan lupakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang kadernya mati-matian membela setelah dulu sempat mencela. 180 derajat.

Runyam euy!

Namun, ya terserah. Itu urusan Prabowo.

Saya ogah menyelaminya.

Yang pasti, terkait kegamangan. Jika jadi Prabowo, tentu saya sadar diri.

Usia sudah kepala tujuh. Tepatnya, 72 tahun.

Tentu saja kita paham, bahwa, rezeki, jodoh, dan ajal, di tangan Tuhan. Andai menang 14 Februari mendatang, ada kesempatan bagi Prabowo untuk melanjutkannya pada 2029.

Jika tidak?

Ini hanya andai-andai. Namun, jika (lagi) saya sebagai Prabowo, tentu saya sudah menyiapkan berbagai rencana.

Plan A, B, C, hingga Z!

Yaitu, menjadikan Gibran sebagai penggantinya... Diikuti Agus Harimurti Yudhoyono.

Serius?

Sekali lagi, ini hanya andai-andai.

Namun, beralasan. 

Jika Prabowo merasa fisiknya tak sanggup karena faktor usia, maka Gibran yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan.

Rencana ini gampang dibaca.

Apalagi, kalau mencermati kepribadian Prabowo yang sangat menjunjung sikap ksatria. Tentu, doi sangat legawa memberi mandat kepada Gibran.

Sekaligus, balas jasa terhadap Jokowi yang dalam lima tahun ini sangat membantunya. Termasuk, usai debat yang justru sibuk wara-wiri adalah presiden.

Ya, bahkan Jokowi sampai pasang badan menanggapi tudingan Anies dan Ganjar. Sumpah, pilpres 2024 ini paling kompleks yang pernah saya ikuti.

He he he.

Saya mencoba menyelami perasaan Prabowo dari lubuk hatinya yang terdalam. Hanya, interpretasi setiap orang tentu berbeda.

Ada "garis batas" yang tidak bisa diungkapkan. Ya, lebih baik saya T2P2T2 alias TTPPTT.

Tahu tapi pura-pura tidak tahu.

Bahkan, saya percaya, mayoritas masyarakat, khususnya pembaca blog ini pun TST: Tahu sama tahu.

Ah... Sungguh, saya berharap Prabowo bisa menaklukkan palagan pamungkas di Pilpres 2024.

*       *       *

SELANJUTNYA, bagaimana?

Jika terpilih jadi presiden, apa yang akan dilakukan Prabowo?

Terus, begini aja?

*       *       *

- Jakarta, 8 Januari 2024

*       *       *


Artikel Sebelumnya:

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan

- Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik

- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah

- Prabowo dan Kedaulatan Selera

- 9 Naga dan 3 Capres

- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit

- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif

- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia (Bumi 378)

- Manusia Lebih Anjing daripada Anjing






.

Senin, 18 Desember 2023

Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan

Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan

Ilustrasi foto Prabowo-Gibran (@roelly87)

PEMILIHAN Presiden (Pilpres) 2024 kurang dari dua bulan lagi. Namun, tensinya kian intens antar calon presiden (capres).

Terutama, sejak Debat Capres pertama pada 12 Desember lalu. Seperti yang saya ulas di tulisan sebelumnya, "Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik".

Maklum, ketika itu, Prabowo Subianto jadi bulan-bulanan Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Khususnya, terkait sikap defensif menghadapi serangan dua rivalnya tersebut.

Sebagai penggemarnya, tentu saya agak bingung dengan taktik Prabowo. Kok bisa, Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini menjalankan strategi pasif.

Apalagi, saat diserang Anies. Tepatnya, ketika Prabowo disinggung tak tahan sebagai oposisi. 

Ini menarik. Hanya, saya enggan membahasnya lagi karena sudah basi.

Sebab, banyak anggota tim sukses (timses), konsultan politik, relawan, dan sebagainya yang telah menjelaskan.

Namun, ada satu yang saya anggap penting. Tepatnya, saat Prabowo mengatakan, jika terpilih sebagai presiden bakal merangkul semua pihak, baik yang mendukung maupun membencinya.

Itu diungkapkannya saat pidato dalam acara Konsolidasi Pemenangan Prabowo-Gibran di Bogor, Jawa Barat, Minggu (10/12).

Bagi saya ini menarik. Sangat luar biasa menarik.

Seketika, otak saya jadi travelling. Imajinasi pun membuncah.

Gimana jika Prabowo terpilih sebagai presiden, lalu dua rivalnya diangkat jadi menteri?

Ih... Keren!

Oke, saya akan buat dalam segi fiksi. Ide ini sudah ada sejak September lalu ketika menulis "Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit".

Dalam catatan di bawahnya, saya sematkan, "Artikel selanjutnya: Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (Bumi 666)".

Hanya, saat itu baru ada 20% dalam draft. Sebab, masih menunggu siapa calon wakil presiden yang dipilih Prabowo yang saya pikir salah satu dari Yusril Ihza Mahendra, Khofifah Indar Parawansa, atau Susi Pudjiastuti.

Namun, pada 22 Oktober, Gibran Rakabuming Raka yang terpilih. Alhasil, draft yang saya buat pun buyar.

Pasalnya, ada beberapa nama terkait yang harus saya coret dan tambahkan. Oke, artikel di bawah ini hanya fiksi atau imajinasi liar.

Mungkin, bisa jadi nyata di semesta lainnya. Jika, memang ada dunia paralel.

*       *       *

KABINET Persatuan Indonesia sudah diumumkan malam ini, Minggu (20/10). Berisi 38 menteri, 10 pejabat setingkat menteri, dan
wakil menteri.

Itu diungkapkan Prabowo yang pagi tadi dilantik secara resmi sebagai Presiden Indonesia 2024 bersama Gibran (Wakil Presiden). Pria 72 tahun ini memang gercep dengan langsung mengumumkan kabinet beserta isinya yang gw saksikan secara streaming.

Padahal, jadwalnya padat. Setelah pulang dari Gedung MPR/DPR, Prabowo langsung menuju Stasiun Gambir. Tepatnya, untuk mengantar tiga presiden sebelumnya yang akan menggunakan Kereta Api.

Ya, Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri berangkat ke Blitar untuk ziarah ke makam ayahnya, Presiden RI Pertama Soekarno. Lalu, Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menuju Pacitan. Pun demikian dengan Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi) yang kembali ke Solo.

Ketiganya kompak, dalam konferensi pers, menyatakan bakal cuci baskom. Alias, dalam dunia persilatan disebut pensiun.

Mega menyerahkan kepemimpinan PDI Perjuangan kepada Puan Maharani. SBY menegaskan, mulai saat ini tidak lagi ikut campur terkait Partai Demokrat. 

Sementara, Jokowi yang memang bukan pemilik partai mengungkapkan bakal menikmati hidup sebagai rakyat biasa usai 10 tahun memimpin. Sekaligus, menemani cucu-cucunya yang selama ini jarang ditemui.

Prabowo juga menegaskan sejak hari ini bukan sebagai ketua umum Gerindra. Dia ingin fokus sebagai presiden. 

Itu mengapa, Prabowo meminta Sufmi Dasco Ahmad untuk sementara memimpin partai. Hingga, beberapa pekan ke depan pemilihan resmi siapa yang akan jadi Ketua Umum Gerindra.

"Terima kasih untuk rekan-rekan jurnalis yang sudah capek mengikuti kegiatan dari Kompleks Parlemen, Stasiun Gambir, dan kini Istana Negara. Kalo ada pertanyaan, silakan," ujar Prabowo, tersenyum sambil menyeka keringat sebesar biji jagung di wajah hingga lehernya.

Usia memang tidak bisa bohong. Prabowo tampak kelelahan usai acara yang berlangsung maraton sejak pagi.

Namun, semangatnya memang tidak pernah pudar. Sebagai pemimpin, Prabowo menegaskan tekadnya untuk memajukan Indonesia.

"Saya dari media yang bermarkas di Palmerah, ingin bertanya terkait jabatan triumvirat. Apa alasan mendasar Anda terkait keberadaan tiga menteri tersebut yang dua di antaranya sempat jadi rival."

Prabowo langsung mengangguk. Gw yang menonton dari layar ponsel pun ga sabar mendengar penjelasannya.

Maklum, dua dari tiga triumvirat itu merupakan rivalnya pada pilpres lalu. Namun, Prabowo tetap memberi kepercayaan kepada Ganjar sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dan Anies jadi Menteri Luar Negerin (Menlu).

Sementara, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dipercaya sebagai Menteri Pertahanan (Menhan). Posisi itu yang sebelumnya diemban Prabowo pada 2019-2024 usai rekonsiliasi dengan Jokowi.

"Itu sesuai dengan bidangnya. Menurut saya, mereka pun sangat ahli. Misalnya, mas Ganjar yang sebelumya sudah dua periode jadi Gubernur Jawa Tengah. Saya optimistis, beliau bisa jadi Mendagri yang bakal menyerap aspirasi kepala daerah lainnya.

Untuk mas Anies, kita tahu beliau memiliki pergaulan yang luas. Apalagi, lama sekolah di luar negeri. Sebagai Menlu, tentu pengalaman mas Anies akan membuat Indonesia kian punya pengaruh dalam geopolitik.

Mas AHY? Ini sih ga usah saya jelaskan lagi. Saya percaya, kepemimpinan beliau sebagai Menhan akan jauh lebih baik dari saya. Mas AHY masih muda dan punya pengalaman sebagai prajurit yang akan menguatkan posisi Indonesia di mata dunia.

Terkait mas Anies dan mas Ganjar, ya itu biasa dalam politik. Bahkan, rivalitas saya dengan pak Jokowi lebih panas. Sampai dua pilpres pada 2014 dan 2019. Pada akhirnya, kami bersatu demi Indonesia lebih baik. Pak Jokowi yang meminta saya untuk membantunya. Begitu juga dengan saya yang meminta mas Ganjar dan Anies serta mas AHY untuk memajukan Indonesia.

Ada lagi? Masih banyak waktu sebelum kita makan-makan bareng ya di dalam. Santap berat. Kalo sekarang cemilan yang ringan-ringan dulu."

Gw melihat Prabowo asyik duduk ngedeprok dikelilingi wartawan yang juga pada santai posisinya. Baik itu cetak, televisi, radio, hingga online.

"Pak, saya dari media di Kuningan. Melihat daftar menteri, wakil, dan pejabat setingkat menteri, saya rasa ada keanehan. Maaf ya pak, ini saya bakal banyak tanya."

"Lanjut sist, borong aja pertanyaannya," ujar wartawan dari media di Kebayoran, menimpali.

Prabowo pun terkekeh mendengarnya. Sambil mencomot ubi cilembu yang hangat, Presiden ke-8 Indonesia ini pun mempersilakan jurnalis itu untuk lanjut bertanya.

"Satu, dalam daftar kenapa PDIP lebih banyak dari partai lainnya. Dua, semua partai yang berpartisipasi di pemilu legislatif ini masuk kabinet. Apa tidak bahaya untuk negara demokrasi yang terkesan sebagai bagi-bagi jabatan. Sebab, tidak akan ada ruang untuk oposisi. Tiga, apakah meritokrasi sudah diterapkan bagi setiap tokoh yang menjabat di Kabinet Persatuan Indonesia ini, baik yang dari partai maupun profesional. Empat..."

"Eit... Tunggu dulu. Saya punya jawabannya," Prabowo memotong dengan gaya jenaka.

"Bentar ya, ubi, singkong, dan cemilannya kayaknya kurang. Pak pengurus istana, boleh kita tambah nih cemilannya agar diskusi dengan teman-teman wartawan jadi lebih lancar. Sama, banyakin wedang jahe, sekoteng, bajigur, dan minuman hangat lainnya," ujar Prabowo kepada salah satu stafnya.

Seketika, suasana jadi ramai. Maklum, diskusi memang paling mantap disertai cemilan dan minuman hangat.

Tak lama, wartawan media di Gambir nyeletuk, "Pak presiden, maaf nih. Sebagai 'ahli hisap', apakah diperbolehkan untuk menyulut asap kehidupan di sini."

"Waduh, offside nih si bro," timpal jurnalis media dari Kebon Jeruk.

"Di Istana mana boleh merokok. Tahan dulu lah bro," kameramen media di Senayan, menambahkan.

Sambil tersenyum, Prabowo menjawab, "Saya kurang tahu apakah di kawasan Istana boleh merokok atau tidak. Namun, saya mengerti kalian para 'ahli hisap' pasti sudah asem dari tadi. Ha ha ha.

Bagi saya, merokok itu ga tabu. Di tentara banyak yang merokok. Begitu juga para kader saya di Gerindra ada yang merokok. Ya, sebenarnya silakan saja. Hanya, agak jauhan dikit agar asapnya tidak kena perokok pasif. 

Saya jadi ingat mas Bambang Pacul (Wuryanto) saat datang ke Hambalang. Beliau juga izin buat merokok supaya ilmunya keluar semua. Ha ha ha.

Ya udah, jauhan dikit ga apa-apa. Sekarang kita dengar pertanyaan selanjutnya dari kakak wartawati ini. Jangan lupa, cemilan ditandaskan ya. Kita ngobrol santai saja, jangan ada yang tegang."

Gw yang menyaksikan streaming jadi kaget. Prabowo benar-benar lebih kalem. 

Auranya pun beda. Ga salah emang gw memilihnya sebagai presiden sejak 2014 meski baru edisi sekarang terwujud. 

Menurut gw, perubahan sikap Prabowo yang sangat simpatik ini salah satunya terkait bergaul dengan Jokowi. Semoga PS 08 bisa menakhodai Indonesia sesuai visi dan misinya dengan lancar... Aamiin.

"Pak Presiden, ini yang keempat," ujar sang wartawati. "Tentang nama-nama menteri sebelumnya yang kini kembali seperti pak (Ignasius) Jonan, pak Rizal (Ramli), bu Susi (Pudjiastuti), dan banyak lagi. Terakhir, lima, soal menteri profesional yang memiliki ikatan dengan Petamburan. Sebelumnya, kan mereka dikenal sebagai garis keras."

Seketika, suasana jadi hening. Gw lihat kekagetan dari para jurnalis usai mendengar pertanyaan sang wartawati.

Prabowo? Khidmat menyimak sambil mengangguk.

Spontan, gw pun membuka tab di browser untuk melihat daftar menteri. Benar apa yang dikatakan sang jurnalis tersebut.


*       *       *


KABINET PERSATUAN INDONESIA

Presiden: Prabowo Subianto

Wakil Presiden: Gibran Rakabuming

Menteri Dalam Negeri: Ganjar Pranowo

Menteri Luar Negeri: Anies Baswedan

Menteri Pertahanan: Agus Harimurti Yudhoyono

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi: Luhut Binsar Panjaitan

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan: Effendi Simbolon

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia: Yusril Ihza Mahendra

Menteri Keuangan: Sri Mulyani 

Sekretaris Kabinet: Basuki Tjahaja Purnama

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi: Budiman Sudjatmiko

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadimuljono

Menteri Kelautan dan Perikanan: Susi Pudjiastuti

Menteri Pendidikan: Ade Armando

Menteri Kebudayaan: Rocky Gerung

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Grace Natalia

Menteri Pariwisata: Deddy Cahyadi

Kepala Badan Ekonomi Kreatif: Ahmad Dhani

Menteri Lainnya:
Rizal Ramli
Ignatius Jonan
Dahlan Iskan
Fahri Hamzah
dll


Komposisi Menteri dari Partai

PDIP: 4
Golkar: 4
Demokrat: 3
Gerindra: 2
PAN: 2
PSI: 2
PBB: 2
PKS: 2
Gelora: 1
PKB: 1
Nasdem: 1
PPP: 1
Perindo: 1
--->TOTAL: 26

Menteri: 39
Pejabat Setingkat Menteri: 10
(Wakil Menteri: 25)

Total Menteri dan PSM: 49
Partai: 26 (53%)
Nonpartai: 23 (47%)

*Beberapa kementerian dipecah dari sebelumnya

*       *       *

GELAS berisi wedang jahe tandas diteguk Prabowo. Usai mengelap tangannya yang berminyak bekas cemilan, putra dari begawan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo ini pun bersuara.

"Ada lagi, kakak wartawati?"

"Cukup, pak. Kalo saya kebanyakan nanya, nanti yang lain ga kebagian."

"Padahal, satu lagi dapat sepeda."

"Ha... Ha... Ha..."

Suasana kembali riuh. Memang, sesi tanya jawab ini terkesan santai.

Prabowo juga memaklumi mengingat para jurnalis sudah bekerja dari pagi. Alhasil, dia pun menimpali dengan guyon agar suasana tidak kaku.

"Ini langsung saya jawab ya. Pertama, PDIP memang bukan bagian dari Koalisi Indonesia Maju. Namun, memiliki banyak kader yang bisa berkontribusi untuk negara. Termasuk, pak Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama yang sudah kita kenal sejak memimpin Jakarta. Saya kagum dengan karakter beliau yang tegas. Tanpa tedeng aling-aling. Makanya, saya izin ke bu Mega untuk memasukkan empat kader PDIP dalam kabinet ini.

Dua, jadi bagian pemerintahan dan oposisi itu sama-sama terhormat. Dalam ranah demokrasi, keduanya membentuk simbol Yin dan Yang. Mereka yang tidak ikut Koalisi Indonesia Maju bisa jadi oposisi meski ada menterinya di kabinet. Ini kan bagian dari check and balance. Saya bukan orang yang antikritik. Jika dalam pemerintahan dirasa kurang beres, siapa pun berhak mengkritisi. Baik itu partai politik, media, hingga masyarakat. 

Misalnya, dalam Rancangan Undang-Undang atau revisi. Anggota DPR berhak untuk menolak usulan pemerintah. Itu wajar.

Terkait bagi-bagi jabatan, saya pikir tidak ya. Contoh, Gerindra hanya ada dua menteri yang sama dengan PKS. Kalo kita konsepnya pilpres 'The Winners Takes It All', tentu partai yang saya dirikan itu dapat banyak jatah menteri. Faktanya? Tidak. Bahkan, ga ada keponakan atau keluarga saya dalam kabinet.

Ketiga, soal meritokrasi. Berdasarkan rembukan antara saya, mas Gibran, dan tim yang terdiri dari pakar dan perwakilan Koalisi Indonesia Maju beberapa waktu lalu, sepertinya sudah tepat. Saya memilih orang yang memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing. Mas Jonan akan membuat moda transportasi lebih baik. Tidak hanya di Jawa saja, tapi dari ujung Aceh hingga Papua. Begitu juga dengan bu Susi, mas Rizal, pak Rocky, dan sebagainya.

Saya izin minum dulu ya."

"Silakan pak," jawab para jurnalis, kompak.

"Keempat, ini berkaitan dengan yang ketiga. Intinya, mereka kompeten di bidangnya masing-masing.

Terakhir, soal menteri yang saya pilih terafiliasi dengan Petamburan atau dikenal garis keras? 

Saya teringat perkataan mendiang Deng Xiaoping saat sukses memajukan Cina. Yaitu, tidak peduli kucing warna putih atau hitam, yang penting bisa menangkap tikus. 

Begitu juga dengan saya saat memilih menteri. Yang bisa berkontribusi untuk negara sesuai kompetensinya masing-masing. Mengenai garis keras atau ekstrim, itu kan hanya cap luar saja. Mereka itu aslinya sangat cinta Indonesia. 

Jadi, clear ya."

...
...

Gw jadi membandingkan Prabowo dengan Cao Cao yang memimpin Negara Wei era Tiga Negara di Cina, dari segi positifnya. Cao Cao menerapkan betul meritokrasi pada akhir Dinasti Han. 

Cao Cao mengangkat siapa saja yang kompeten. Baik itu tukang arak, tukang jagal, penjual kasut, hingga orang yang hampir menebas lehernya, Zhang Liao.

Bahkan, Zhang Liao sangat berjasa pada Wei saat meladeni gempuran Shu dan Wu. 

Satu-satunya sosok kompeten yang tidak diambil Cao Cao adalah Lu Bu. Jenderal perkasa yang sayangnya berakhir tragis.

Koresponden dari majalah ternama Amerika Serikat, ikut bertanya, "Pak, apa tidak khawatir dengan conflict of interest di kabinet. Mengingat ada mas Fahri Hamzah dengan dua menteri PKS. Begitu juga AHY dan Demokrat dengan pihak lain?"

"Seperti yang saya katakan tadi. Para menteri, pejabat setingkat menteri, dan wakil menteri bekerja sesuai bidang masing-masing. Mereka itu kan sudah saling kenal sebelumnya. Saya pikir, mereka kompak, kok. Hanya, memang di luar kelihatan beda. Namun, demi kemajuan negara, mereka menekan ego masing-masing.

Eh, sudah hampir pergantian hari. Lumayan lama juga diskusi ini. Kita lanjutkan besok ya. Sekarang, kita makan bareng. Penghuni dalam perut saya juga sudah pada demo nih."

Bersambung...

*       *       *

- Jakarta, 13 Desember 2023


*       *       *


Artikel Sebelumnya:

- Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik

- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah

- Prabowo dan Kedaulatan Selera

- 9 Naga dan 3 Capres

- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit

- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif

- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia (Bumi 378)

- Manusia Lebih Anjing daripada Anjing



Artikel Selanjutnya:

- POV Prabowo

- POV Ganjar

- POV Anies

- POV AHY

- POV Ahok

- POV Ketua Partai Besar

- (What If) Prabowo Kalah Lagi




...




Rabu, 13 Desember 2023

Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik

Deja Vu 2014 dan 2019 Mulai Terlihat

Ilustrasi Iron Man dikeroyok Captain America dan Winter Soldier (Foto: @roelly87)

BELUM juga kering tinta yang saya tulis terkait Prabowo Subianto yang kini berubah dari tegas ke gemoy. Eh, sekarang kembali ke setelan pabrik.

Itu terjadi saat Ketua Umum Partai Gerindra ini mengikuti debat calon presiden (capres) 2024-2029. Acaranya diselenggarakan di Gedung Komisi Pemilihan Umum, Jakarta Pusat, Selasa (12/12).

Prabowo yang memiliki nomor urut capres 02 tampak kesulitan meladeni gempuran dari dua rivalnya. Yaitu, Anies Baswedan (01) dan Ganjar Pranowo (03).

Ajang pembantaian. Demikian, konklusi yang saya amati sepanjang debat.

Memang, saya tidak menyaksikannya secara utuh di Youtube. Melainkan, sempat terpotong akibat pada saat bersamaan memasuki jam sibuk.

Ya, sebagai ojek online (ojol) yang bermitra dengan lima aplikasi, tentu saya mengutamakan mencari uang lebih dulu. Sebab, pukul 16.00-21.00 WIB merupakan puncak dalam periode order antar penumpang, makanan, dan barang.

Apalagi, bertepatan dengan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 12/12. Sudah pasti, ramai orderan dari marketplace.

Saya memang sangat menantikan debat perdana capres 2024 ini. Namun, tetap dapur ngebul yang utama.

Itu mengapa, saya streaming di Youtube harus terpotong saat pengantaran order. Sisanya, baru disaksikan lagi jika selesai.

Begitu seterusnya hingga debat usai. Selain streaming, saya juga menyaksikan berbagai cuplikan dari Prabowo dan dua capres lainnya di media sosial.

Menurut saya, jujur saja debat capres 2024 perdana ini jadi panggung Anies. Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 itu sangat menguasai permasalahan.

Itu mengapa, saya turut mencuit di twitter (x) pada pukul 21.50 WIB.

"Prabowo memang agak kesulitan kalo debat/presentasi.

apalagi 2 lawannya sangat piawai bicara, Anies & Ganjar.

Nilai Peserta #DebatCapres 12/12:

01: 8
02: 6
03: 7

tapi ini hanya debat, dalam 2 bulan ke depan, semuanya bisa berubah hingga 14 Februari 2024

#CatatanHarianBlogger"

Btw, saking geregetnya menyaksikan penampilan Prabowo, saya sampai keliru saat menulis kata "blogger". Padahal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang benar adalah "bloger".

Alias "L-nya" sekali. Kalo "double L" berarti produk dari Google.

Sepele, tapi cukup mengganggu. Mengingat saya terbiasa menyematkan tagar tersebut di setiap postingan medsos.

Ya sudahlah.

*       *       *

MENYAKSIKAN debat capres 2024 perdana ini ibarat handicap dalam film Captain America: Civil War. Yaitu, saat Iron Man dikerubuti Captain America dan Winter Soldier di Siberia.

Ini memang cocoklogi. Namun, faktanya memang demikian.

Prabowo seperti diserang secara sporadis oleh Anies dan Ganjar. Tidak seimbang memang.

Meski, Prabowo sempat menyerang balik. Pada saat yang sama, Ganjar turut saling sikut dengan Anies.

Kalo dalam sepak bola, Prabowo itu menganut paham catenaccio. Anies dengan total football dan Ganjar (Tiki-taka).

Namun, keduanya seolah punya kesamaan musuh. Setelah reda berjibaku, Anies dan Ganjar kompak menyerang Prabowo.

Makjleb!

Seperti yang saya tulis sebelumnya, "Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit", memang Menteri Pertahanan (Menhan) ini lemah dalam menyampaikan pandangan kepada khalayak umum. Jangankan debat, untuk presentasi saja, Prabowo agak kepayahan.

Kendati, apa yang disampaikan sangat logis dan subtansinya sesuai. Kelebihannya, putra dari Soemitro Djojohadikusumo ini saat berorasi.

Itu yang mengingatkan saya pada Bung Besar: Soekarno.

Namun, debat merupakan kewajiban setiap capres. Apalagi, disaksikan jutaan rakyat Indonesia yang akan memilih pemimpin dalam lima tahun ke depan.

Tak heran jika Anies mati-matian untuk curi panggung. Pada saat yang sama, Ganjar turut mengintip peluang untuk menyerang keduanya.

Ha... Ha... Ha...

Seru!

Sekaligus, ini jadi alarm juga untuk Gibran Rakabuming. Maklum, putra sulung Presiden Joko Widodo ini juga akan mengikuti debat cawapres dengan Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD.

Yang menarik, dua pasangan capres-cawapres itu merupakan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM)! Sementara, Gibran dan Prabowo, bukan.

Jelas, pada debat antar cawapres nanti, Gibran bakal dirujak Muhaimin dan Mahfud yang jauh lebih senior di dunia politik. Saya ga bisa membayangkan, reaksi Walikota Solo itu saat meladeni Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) serta Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

*       *       *

INTONASI Prabowo tampak meninggi saat meredam serangan Anies. Raut wajahnya pun terlihat geregetan ketika disinggung soal kepindahan dari oposisi ke penguasa.

Ekspresi Prabowo pun menegang. Sumpah, gestur tubuhnya tidak bisa bohong.

Bagi saya, itu seperti Prabowo kembali ke setelan pabrik. Yaitu, saat jadi capres 2014 dan 2019.

Ketika itu, Prabowo memang terlihat emosional. Bahkan, sempat menggebrak podium.

Momen dua pilpres itu nyaris kembali terlihat, kemarin. Memang, gimmick gemoy belum buyar sepenuhnya.

Namun, ini bahaya bagi jutaan masyarakat yang menonton debat capres. Khususnya, generasi milenial yang sangat mengelu-elukan eks Danjen Kopassus tersebut.

Saya jadi teringat novel Pedang Langit dan Golok Pembunuh Naga karya Chin Yung (Jin Yong). Dalam satu adegan, diceritakan perwakilan aliran kepercayaan dari Persia mengatakan kepada Ketua Partai Gobi (Emei).

Bahwa, ilmu silat memang dapat ditingkatkan dengan pelajaran dan latihan. Sungai dan gunung mudah ditaklukkan, tapi watak manusia susah diubah.

Yupz!

Dalam empat tahun terakhir, Prabowo sudah berusaha mengubah perangainya. Dari terkesan tegas dan temperamen jadi gemoy.

Hanya, wataknya memang sulit diubah. Khususnya, dibanding dua capres lainnya.

Maklum, rival-rivalnya yang jebolan UGM tentu sudah beradaptasi dengan lingkungan Yogyakarta yang dikenal ramah dan egaliter. Apalagi, Anies merupakan akademisi yang pandai merangkai kata.

Sementara, Ganjar dikenal sebagai politisi ulung Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. Sebelum jadi Gubernur Jawa Tengah dua periode juga sudah berpengalaman di DPR 2004-2013.

Prabowo? Dibesarkan dalam keluarga ningrat.

Kakeknya, Margono Djojohadikusumo merupakan pendiri Bank Negara Indonesia dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung yang pertama. 

Ayahnya, Soemitro, dikenal sebagai begawan ekonomi. Juga sempat menjabat Menteri Keuangan, Perdagangan, dan Riset.

Mertuanya, Soeharto, merupakan Presiden Kedua Indonesia. Sekaligus, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) 1963-1965 yang 35 tahun berselang jejaknya diikuti Prabowo.

Ya, besar dari keluarga bangsawan dengan didikan militer membuatnya sulit untuk meladeni Anies dan Ganjar. 

Kedua rivalnya itu egaliter. Bisa berbaur dengan siapa saja yang membuat pergaulannya luas. Sementara, jalan hidup Prabowo yang keturunan ningrat sangat berliku.

Ini jadi PR bagi tim sukses (timses) dan konsultan politiknya. Saya yakin, di belakang panggung debat, mereka mati-matian untuk membisiki Prabowo terkait strategi selanjutnya.

Khususnya, terkait Pertahanan, Hubungan Internasional, dan Geopolitik yang kemungkinan jadi panggung Prabowo. Saya berharap, dalam empat debat (bersama cawapres) selanjutnya, Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia ini bisa counter attack!

Sebagai penggemarnya, saya juga optimistis Prabowo punya "Kartu Truf" yang akan dilepaskan pada momen yang tepat. 

Bagaimana pun, garam yang ditelan Prabowo sepanjang hidupnya mungkin lebih banyak dibanding butiran nasi yang dimakan Anies dan Ganjar.

Ya, "save the best for the last!"

Ih... Keren!***

*       *       *

- Jakarta, 13 Desember 2023

*       *       *

Artikel Sebelumnya:








Artikel Selanjutnya:

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (Bumi 666)

- (What If) Prabowo Kalah Lagi



...

Selasa, 07 November 2023

Prabowo dan Kedaulatan Selera

Prabowo dan Kedaulatan Selera

ilustrasi buku @roelly87


"WOOOOI, anteng banget bro. Main slot lo ya?"

"Ebuset. Gw lagi mantengin pertandingan AR Roma versus Lecce. Seru banget. Bener-bener detik terakhir menangnya."

"Lukaku ngegolin lagi?"

"Yongkru. Tadi sempat error dia, penalti ga masuk. Untung pas injury time berbalik jadi pahlawan."

"Gokil emang tuh 'Big Rom'. Efek Mourinho bikin doi gacor. Btw, lo kan Juventini, ngapa mantengin Roma. Udah murtad ye?"

"Asem! Gw dari 94 udah Juventini. Nyimak pertandingan Roma karena ada Mourinho sama Dybala aja."

"Ooh... Kirain, lo udah ninggalin 'Si Nyonya Tua' ke pelukan 'Serigala Ibu Kota'."

"Dih... Ogah."

"Ha ha ha."

Demikian percakapan antara gw dan Kemumaki di salah satu kedai kopi di Grey District, Jakarta. Tempat nongkrong yang strategis bagi warga ibu kota dengan harga makanan dan minuman murah meriah.

Selain gw dan Kemumaki, ada Dekisugi dan Kuririn juga yang asyik mengganyang makanannya masing-masing. Kami berempat memang kerap nongki-nongki di kedai ini sambil membicarakan banyak hal.

Mulai dari sepak bola, musik, hingga politik. Apalagi, jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, obrolan kami kian seru.

Kemumaki merupakan die hard-nya Ganjar Pranowo. Sementara, Dekisugi sangat militan dengan Anies Baswedan. Demikian dengan Kuririn yang sejak lama jadi simpatisan Prabowo Subianto.

Gw? Sekadar penggemar Prabowo. Alias, makhluk bebas yang tidak punya kepentingan apa pun terkait tiga capres tersebut.

"All, gw cabut dulu ya," kata Kuririn yang bersiap memakai sepatu.

"Kemane lo? Masih sore gini," Kemumaki menimpali.

"Jangan mampir ke 'warung sebelah' ya," gurau Dekisugi.

"Gelo. Dia ga mampir, tapi udah punya kartu langganan," gw menambahkan.

"Anjir lo pada. Kalian kira, gw cowo apaan," tutur Kuririn. "Dah, ah. Gw cabut. Pagi mau ke Bandung, 'ada proyek' biasa."

"Bawa oleh-oleh ya. Sekalian bayarin pesanan kita-kita ini."

"Nitip 'peuyeum'."

"Tanyain tipis-tipis ya, 2024, Jabar siapa yang maju."

"Au... Ah gelap!" Kuririn ketawa sambil mengacungkan dua jari tengahnya usai membayar pesanan kami ke kasir.

Obrolan khas bapak-bapak memang jadi santapan sehari-hari bagi para penghuni kedai kopi ini. Maklum, pengunjungnya heterogen. Termasuk, profesi dari yang serabutan, calo, pebisnis, politikus, akademisi, hingga penegak hukum.

Apalagi, lokasinya di Grey District yang sesuai dengan penamaannya: Abu-abu.

Ya, berbeda dengan Red District yang juga udah lama gw kenal. Di kawasan itu, semua sudah jelas. Mayoritas penghuninya terbagi antara hitam dan putih. 

Ada garis batas antara kawasan hitam yang dipenuhi pelacuran, perjudian, hingga narkoboy dengan warga. Ada yang tidak percaya Tuhan. Namun, di sebelahnya banyak yang sangat taat dengan Tuhan.

Sementara, Grey District ini semua jadi satu. Bahkan, mungkin penghuninya bisa merasa jadi Tuhan. 

Itu karena hitam dan putih bercampur. Tidak ada yang benar-benar jahanam. Pada saat yang sama, enggan jadi orang suci.

Grey District ini memang sangat unik. Sudah lama disorot banyak pihak. Baik ulasan media arus utama atau media sosial. 

Namun, sejauh ini penghuninya kompak. Jika ada orang luar yang mengusik, mereka langsung bertindak: Hantam dulu, bicara kemudian.

Konon katanya, mereka sudah bersikap seperti itu sejak zaman penjajahan. Penghuni di sana kerap merepotkan Belanda, Jepang, Inggris, dan para pengkhianat bangsa. 

Bahkan, jadi inisiator bersama para pahlawan dalam mempertahankan Tanah Air saat perang kemerdekaan, masa bersiap, gerakan September, hingga 1998 silam.

Salah satu petinggi aparat yang berwenang di negeri ini pun sudah mahfum. Misalnya, isu-isu minor yang berkaitan dengan dunia bawah tanah.

"Ya, kami TTPPTT aja lah. Yang penting, warganya sangat berkontribusi," ujarnya dalam suatu FGD. Alias, tahu tapi pura-pura tidak tahu.

Bisa dipahami mengingat Grey Area ini penghuninya sangat keras. Bahkan, mereka menolak tegas kehadiran ormas-ormas menjijikan yang kerjanya memeras rakyat jelata. 

Dibuktikan dengan tidak adanya spanduk, baliho, dan sebagainya. Termasuk, bebas parkir liar di setiap ruko atau restoran.

Sementara, untuk pemilu, baik pilpres maupun partai politik, mereka menyambut dengan senang hati. Termasuk, 2024 nanti yang terbagi dengan tiga kubu.

*       *       *

"BRO, lo gabung Kuririn yang sekarang udah masuk Ring tujuhnya Prabowo," teriak Dekisugi yang suaranya terdengar sayup-sayup akibat bertepatan dengan lewatnya kereta api.

"Ogah. Untuk saat ini, masih pengen bebas."

"Bagus bro, ga usah ikut-ikutan. Dekisugi aja 2019 barengan Kuririn. Eh sekarang pecah kongsi. He he he," Kemumaki, menimpali.

"Biasa kawan, politik itu dinamis. Bisa jadi di putaran kedua, jagoan lo butuh suara dari Prabowo. Kalo Amin kan udah pasti lolos putaran pertama."

"Idih... Yakin bener. Survei aja mentok 20 persen."

"Ya, liat aja nanti pas valentine. Ya kan bro?" ujar Dekisugi meminta dukungan ke gw. Meski sambil ngobrol, tapi mulutnya aktif mengganyang mie instan campur nasi putih dan telur dadar.

"Ya, kalo gw sih, siapa aja yang menang bodo amat. Gw ke Prabowo sebatas penggemar. Kalo menang bagus, kalah pun ga masalah," jawab gw, sok diplomatis.

"Anjir, jawaban lo sok politikus. Wkwkwkw."

"Tapi ini kita ngobrol aja ya. Kalo Kuririn ga usah dibahas, soalnya udah masuk Rute Solo, alias bukan 'jalur H atau D'. Nah, lo ini kan ibaratnya swing voters, alias sekadar penggemar Prabowo tapi belum tentu nyoblosnya," Kemumaki, melanjutkan.

"Sementara, gw udah jelas. Ganjar itu punya prestasi usai 10 tahun jadi Gubernur Jawa Tengah. Begitu juga jagoan Dekisugi yang pengalaman mimpin Jakarta 2017-2022. Nah, pengalaman Prabowo baru sebatas Menteri Pertahanan aja. Bedain sama waktu tentara ya. Itu juga terakhir 1998 silam. Apalagi, doi kan penculik. Aneh sih, kalo gw jadi lo. Nah, pertanyaan gw, apa alasan lo milih Prabowo?"

Pertanyaan Kemumaki membuat Dekisugi yang sebelumnya lahap mengunyah mie langsung serius menatap gw. Keduanya, seperti para hakim yang memberi vonis hukuman mati dalam persidangan.

"Woi, pertanyaan lo serem banget, anjir. Gw berasa jadi terpidana. Ha ha ha."

"Tapi gw setuju sama Kemumaki nih bro. Jadi pinisirin denger jawaban lo," kata Dekisugi sambil meletakkan sumpit ke atas mangkuk dengan khidmat.

"Minta rokok lo Kem, asem. Sebats dulu," lanjutnya. "Anjir, ini rokok apaan. Mereknya aneh. Seumur-umur jadi 'ahli hisap' gw baru liat nih rokok."

"Udah pake aja. Sejak Corona, emang rokok yang beredar aneh-aneh. Gw cari yang bukan merek terkenal biar murah tapi tetap harus ada cukainya supaya pemerintah dapat pemasukan," tutur Kemumaki.

"Sama bjir. Gw juga ganti rokok dari merek satu huruf ke yang ga jelas ini," kata gw terkekeh menunjukkan sebungkus rokok berwarna hitam.

"Rokok kalian aneh ya. Padahal mau pilpres, momen cuan nih," Dekisugi menjawab seraya menyalakan rokok dengan korek kayu. 

Makhluk satu ini memang konservatif banget. Di saat korek gas atau cricket sudah lumrah, eh doi tetap setia dengan korek kayu yang kalau dinyalakan harus digesek lebih dulu.

"Eh bro, bener kata Kemumaki. Gw pinisirin sama jawaban lo."

"Anjay, dibahas lagi."

"Yoi, bro. Kalo pilihan gw, Ganjar, dan Anies sebagai jagoan Dekisugi udah jelas. Nah, lo gimana?"

"Ga gimana-gimana Kem. Ini soal selera aja. Gw menggemari Prabowo dari perbawanya sejak 2008. Udah itu aja."

"Prestasinya yang nol? Dipecat dari militer?" Kemumaki, menimpali.

"Capres abadi?" tambah Dekisugi, sarkas.

"Woi... Kalian berdua detail amat. Kalo Prabowo ini soal kedaulatan selera. Subyektif. Sama kayak penggemar fotografi, ada yang dari dulu nyaman dengan Nikon atau Canon. Atau di sepak bola, Kota Manchester terbelah jadi merah dan biru.

Begitu juga di dunia kuliner. Misalnya, lo pada doyan bubur diaduk atau ga diaduk? Kan kembali ke selera masing-masing."

"Gw diaduk sih," jawab Kemumaki.

"Gw mah ga diaduk. Geli anjir, kalo makan bubur diaduk gitu," Dekisugi, menimpali.

"Kalo gw mah bebas. Yang penting ga pake seledri sama kacang," ucap gw.

"Si oneng, jadi bahas makanan. Dah lanjut, pertanyaan gw tadi," kata Kemumaki.

"He he he. Apa ya? Oh soal kedaulatan selera? Ya itu. Meski banyak stigma negatif tentang Prabowo, tapi kalo udah suka ya mau gimana lagi. Ya, sekali lagi. Sekadar menggemari. Ga harus mati-matian membela doi. Sama kayak gw sebagai Juventini. Kalo Juve menang, bagus. Andai kalah, yo wis. Mau gimana lagi. Yang penting, gw tetao cinta Juve sejak 1994.

Terus, ke kalian ini dan Kuririn yang aktif sebagai simpatisan. Emang kalo Ganjar atau Anies menang, lo berdua bakal dilirik jadi menteri? Ga, kan. Jadi, ya kita harus punya garis batas. Jangan berlebihan dalam menyukai sesuatu."

Kemumaki menghisap dalam-dalam rokoknya usai mendengar penuturan gw. Pada saat yang sama, Dekisugi asyik memainkan sumpit layaknya stik drum yang diadu ke mangkuk.

"Dah ah, pembahasan politik bikin gw laper. Mau nambah seblak nih di seberang."

"Bro, gw nitip satu ya."

"Anjir, lo tadi udah makan mie pake nasi sama telor masih kurang aja," timpal Kemumaki.

"Kedaulatan selera, Kem. Tadi kan makan, kalo seblak ini ngemil."

"Gw nungguin uduk Mpok Gayong aja subuh nanti."

"Ha... Ha... Ha..."***

*       *       *

- Jakarta, 7 November 2023

Artikel Sebelumnya:







Artikel Selanjutnya:

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (Bumi 666)

- (What If) Prabowo Kalah Lagi

Senin, 23 Oktober 2023

9 Naga dan 3 Capres

9 Naga dan 3 Capres


PRABOWO Subianto sudah mengungkapkan bakal calon wakil presiden pilihannya, yaitu Gibran Rakabuming. Berarti, lengkap sudah kontestasi dalam Pemilihan Presiden 2024-2029. 

Sebelumnya, Anies Baswedan berpasangan dengan Muhaimin Iskandar yang didukung Koalisi Perubahan. Lalu, Ganjar Pranowo dan Mahfud MD yang disokong Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Keduanya, sama-sama sudah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada hari pertama, 19 Oktober lalu. Sementara, Prabowo-Gibran yang diusung Koalisi Indonesia Maju bakal daftar pada hari terakhir (25/10).

...

Terkait pasangannya Prabowo, sebagai penggemar saya agak kecewa. Sebab, awalnya saya pikir mantan Danjen Kopassus itu bakal memilih salah satu dari Yusril Ihza Mahendra, Khofifah Indar Parawansa, atau Susi Pudjiastuti.

Namun, ya dalam politik itu pragmatisme memang jadi santapan sehari-hari. Bukan berarti Gibran jelek, tapi agak kurang tepat.

Setidaknya, saat ini. Seperti yang diutarakan Basuki Tjahaja Purnama.

Meski saya beda pilihan dengan Ahok, tapi apa yang diungkapkannya terkait Gibran memang benar. 

...

BTP ini memang sosok yang langka: Jujur.

Hanya, panah sudah dilesakkan. Tidak mungkin kembali kepada busur.

Btw, terkait adanya sutradara "kawin paksa" Prabowo-Gibran itu santer banget. Bisa disimak pada media arus utama atau gosip-gosip di jalanan.

Namun, saya lebih antusias dengan para pengusaha di balik Prabowo dan dua capres lainnya. Ini jauh lebih menarik ketimbang menelisik aktor kawin paksa tersebut.

Saya jadi teringat Roman Kisah Tiga Negara. Yaitu, era perpecahan Dinasti Han di Cina yang terbagi jadi Cao Wei, Shu Han, dan Wu.

Ketiganya bak segitiga sama sisi. Saling mengikat satu sama lain. 

Ga ada yang lebih kuat hingga Zhuge Liang meninggal dan Sima Yi melakukan kudeta merangkak ke Wei. Sisanya, sejarah yang melukiskan.

Dalam setiap berdirinya kerajaan, ada 3 faktor utama.

- Kaum bangsawan

- Jenderal yang hebat

- Kaum pelajar

Cao Pi -putra Cao Cao- ga bisa mendirikan Wei yang mengakhiri Dinasti Han dengan mengudeta Kaisar Xian lewat cek kosong. Dukungan para bangsawan, khususnya pembesar yang membelot jadi aktor utama. 

Beberapa jenderal tangguh seperti Zhang Liao dan para pelajar pun tunduk. Maklum, dukungan kaum bangsawan yang berupa uang, tanah, hingga perbekalan untuk tentara, sangat dibutuhkan Cao Pi demi menstabilkan negara yang baru berdiri.

Nah, begitu juga dengan ketiga capres. Dukungan pengusaha sangat utama dalam periode kampanye merebut hati rakyat. 

Kendati, siapa yang dapat mandat langit, itu cerita lain. 

Namun, guyuran dana sangatlah krusial. Sebab, untuk bisa mengikuti pesta demokrasi lima tahunan ini, setiap calon harus mengeluarkan dana besar. 

Baik itu untuk mobilisasi massa, atribut, kampanye di berbagai media, saksi, hingga mungkin serangan fajar. Yang terakhir, bukan rahasia umum.

TTPPTT. Tahu tapi pura-pura tidak tahu.

Sejauh ini, capres terkaya Prabowo. Utamanya, karena didukung adiknya, Hashim Djojohadikusumo, yang memang pengusaha.

Lalu, Ganjar yang kekayaannya jauh di bawah Prabowo juga punya banyak sokongan. Termasuk, bukan Hary Tanoesoedibjo yang merupakan Ketua Partai Persatuan Indonesia (Perindo) sekaligus pemilik MNC Group.

Bagaimana dengan Anies? Ada Surya Paloh yang dikenal sebagai pengusaha ulet serta Ketua Partai Nasdem.

Ketiga capres ini punya dukungan kuat pengusaha elite di Tanah Air. Hanya, beberapa konglomerat itu bukan, atau belum masuk daftar paling terkaya di Indonesia.

Apalagi, jika dibandingkan dengan 9 Naga. Kelompok pengusaha yang konon menguasai banyak sektor ekonomi di Tanah Air.

Ketika kita rakyat jelata larut dalam euforia capres-cawapres, mereka malah sudah berhitung. Bahkan, sejak lama.

Maklum, sebagai pelaku usaha tentu punya kepentingan agar bisnisnya lancar. Mereka sebenarnya tidak peduli siapa presiden yang terpilih.

Yang penting, bagi mereka, presiden terpilih nanti tidak menyenggol bisnisnya. Syukur-syukur bisa kecipratan untuk melebarkan usaha.

Baik lewat tender atau program pemerintah. Ya, TST. Tahu sama tahu.

Atau, bisa juga tahu tapi pura-pura tidak tahu.

Ya, ga ada makan malam yang gratis. Ke warteg aja sekarang dikenakan parkir!

9 Naga dan 3 Capres

Terkait para taipan ini, termasuk 9 Naga, tentu ga ragu untuk membantu capres pilihannya. Namun, sejak zaman kuda gigit besi, mereka tidak pernah menaruh seluruh telur dalam satu keranjang yang sama.

Alias, harus main dua kaki. Eh, sekarang tiga kaki dong.

Intinya, main aman. Sebab, risikonya besar jika mereka "all in" hanya ke satu calon.

Para taipan ini enggan berjudi. Orientasi mereka terhadap keuntungan. 

Toh, dalam sejarah pemilu, entah itu pilpres, pilgub, pilkada, dan sebagainya, sudah sering diisi lebih dari dua calon. Untuk pilpres, terakhir 2009. Sementara, level bawahnya ada pilgub DKI Jakarta 2017.

Nah, pada setiap "event" itu, para taipan termasuk 9 Naga turut menggelontorkan dana. Entah itu ke A, B, atau C.

Alhasil, saya kadang ketawa jika mendengar pihak calon ini dan itu yang apriori terhadap dukungan para taipan. Dipikirnya, untuk mengikuti pemilu, baik capres, cawapres, dan ke bawahnya itu gratis.

Btw, siapa sih 9 Naga? Saya sering mendengarnya secara samar.

Bisa jadi, mereka cenderung membumi. Enggan mendapat sorotan tapi aksinya nyata.

...

Yang menarik, justru keberadaan mereka yang cenderung dilebih-lebihkan. Sebab, konon katanya banyak kelompok yang jauh lebih kuat dari 9 Naga.

Misalnya... Sebut saja, 5 Gajah. 

Yaitu, lima taipan paling taipan yang konon menguasai sendi-sendi perekonomian negeri ini. Sekaligus sebagai penjaga stabilitas politik yang bergerak di bawah radar.

Mungkin, jika ingin mengguncangkan perekonomian negeri ini semudah mereka mengambil sesuatu di saku bajunya.

Akhir kata, Valentine 2024 nanti jadi momen yang paling ditunggu.***

- Jakarta, 23 Oktober 2023


*     *     *

Artikel Sebelumnya:

- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit

- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif

- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia (Bumi 378)


Artikel Selanjutnya:

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (Bumi 666)


Jumat, 29 September 2023

Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit

Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit

Ilustrasi: twitter @roelly87


PEMILIHAN Umum (Pemilu) 2024 tinggal menghitung hari. Tepatnya, diselenggarakan 14 Februari mendatang untuk memilih calon anggota dewan (DPR, DPD, dan DPRD), serta presiden. 

Ini merupakan pemilu kelima yang saya ikuti sejak kali pertama punya KTP. Sekaligus, yang ketiga beruntun untuk mencoblos sosok yang sama dalam pilpres.

Yaitu, Prabowo Subianto. 

Ya, saya sudah memilih beliau pada pilpres 2014 dan 2019 lalu. Keduanya, kalah dari Joko Widodo (Jokowi).

Pada 2009, saya juga mencoblos Prabowo. Namun, saat itu doi sebagai wakil mendampingi Megawati Soekarnoputri. Kalah juga, dari incumbent Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sementara, pada 2004 yang merupakan pilpres langsung perdana di Tanah Air, calon presiden (capres) pilihan saya juga kalah. Kadang, jadi bingung. 

Setiap sosok yang saya coblos, kok selalu keok. Rekornya dari 2004 hingga 2019, skor 0-4!

Namun, ya ga apa-apa. Ini negara demokrasi. Setiap warganya bebas menentukan hak dalam pilihan. 

Termasuk bagi saya, kalah atau menang itu biasa. Namanya juga hidup, ga semua yang kita inginkan bisa terwujud. 

Misalnya, dalam sepak bola. Saya merupakan penggemar Juventus sejak 1994. 

Hampir 30 tahun ini, saya menyaksikan "Si Nyonya Besar" enam kali melangkah ke final Liga Champions. Hasilnya, sekali juara dan berujung lima runner-up beruntun.

Itu terjadi pada 1996/97, 1997/98, 2002/03, 2014/15, dan 2016/17. Bahkan yang terakhir, saya menyaksikan langsung Juve dikecundangi Real Madrid 1-4!

Tepatnya, di Stadion Millennium, Cardiff  Wales, 3 Juni 2017. Suka dan duka pun berkecamuk saat jadi bagian dari 65 ribu penonton.

Sudah jauh-jauh terbang ke Negeri Paman Charles, eh Juve malah keok. Julukan Badut Eropa pun kian melekat di skuat asuhan Massimiliano Allegri tersebut.

Namun, mau gimana lagi. Sebagai Juventini Garis Lembut, saya tetap mengidolakan tim asal Kota Turin tersebut.

Saya tetap menantikan Juve bisa mengangkat trofi Si Kuping Lebar itu suatu saat nanti. Meski, jalannya masih sangat jauh. 

Sebab, sejak kekalahan pada 2017 silam, belum sekalipun Juve kembali melangkah ke final. Bahkan, meski diperkuat berbagai pemain bintang di setiap lini, termasuk Cristiano Ronaldo pada 2018-2021.

Ya, saya selalu percaya, selama gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar. Alias, selama bernafas, masih ada kesempatan menyaksikan Juve juara Liga Champions!

*     *     *

LALU, apa hubungannya antara Juve dengan Prabowo dalam postingan blog ini? Ya, ga ada.

Hanya, sebatas korelasi dua pihak yang saya dukung selalu kalah. Ha... Ha... Ha...

Btw, saya mengidolai Prabowo sejak 2008. Ketika itu, doi rajin muncul di media, khususnya tv usai mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang jadi kendaraan politiknya.

Namun, saya juga tidak pernah cinta mati terhadap apa dan siapa pun. Saya selalu legawa jika ternyata jagoan saya kalah. 

Contoh, Juve ketika dicukur Barcelona 1-3 pada final Liga Champions 2014/15 dan Madrid dua musim berikutnya. Saat itu, saya mengakui -meski kecewa- kedua lawan Juve memang bermain lebih baik.

Barca dan Madrid pantas juara. Sementara, Juve seperti antiklimaks dalam dua final tersebut.

Begitu juga dengan pilpres. Kendati pilihan saya keok dalam dua edisi beruntun, tapi saya tetap rasional.

Ga sekalipun saya ikut menjelek-jelekkan Jokowi. Prabowo kalah pada 2014 dan 2019 ya sudah, memang garis takdirnya seperti itu.

Sementara, untuk kritik sudah pasti. Yang membangun alias konstruktif, baik lewat blog ini atau media sosial.

Itu mengapa, saya juga kerap diajak dalam beberapa acara yang berkaitan dengan pemerintahan Jokowi. Beberapa di antaranya bisa dilihat dalam artikel "Catatan Dua Tahun Kepemimpinan Jokowi-JK" dan "Antara Presiden Jokowi, Asian Games 2018, Blogger, dan Tantangan Menghadapi Revolusi Industri 4.0".

Saya juga turut diundang Sekretariat Kabinet untuk menyaksikan langsung kehidupan di perbatasan pada 2018 lalu. Saat itu, kementerian yang dipimpin Pramono Anung ini mengajak blogger untuk menengok lebih jelas kehidupan masyarakat di Entikong, Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan Malaysia (Selengkapnya di Halaman http://www.roelly87.com/p/selamat-datang-di-halaman-khusus.html).

Jadi, saya berusaha untuk fair. Ada garis batas dalam mencintai sesuatu.

Tidak serta-merta, mengidolai Prabowo, harus menyerang lawan politiknya. Atau, mencaci Madrid dan Barca serta duo Milan yang jadi rival abadi Juve di Serie A.

No! Itu bukan gaya saya. 

Hidup saya terlalu indah untuk dikotori hal-hal negatif tersebut. Menyukai sesuatu boleh, tapi goblok jangan.

Ya, kita tidak boleh terlalu fanatik. Itu mengapa, saya mengaku sebagai fan Juve garis lembut. 

*     *     *

KENAPA harus Prabowo? 

Saya mengidolai Prabowo karena karismatik, berwibawa, dan elegan. Ini subyektif. 

Soal rasa. Ga bisa dijelaskan dengan logika. 

Termasuk, masa lalunya yang berlumuran darah terkait penculikan jelang reformasi. Itu fakta.

Banyak saksi dan media yang memuat insiden tersebut. Bahkan, Prabowo juga mengakui yang melakukannya.

Meski, korban penculikan sudah dipulangkan dan ada yang jadi anak buahnya di Gerindra. Tidak mengubah statusnya sebagai penculik. 

Bagi saya, sekali penculik tetap penculik. Titik!

Pada saat yang sama, saya juga percaya setiap orang bisa berubah. Itulah fase kehidupan.

Toh, di kolong langit ini, manusia mana yang tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa? Saya juga sering.

Itu mengapa saya sangat mengapresiasi jika ada orang yang mengaku sebagai mantan bajingan. Alias, dulunya dosa, sekarang berusaha untuk memperbaiki kesalahan.

Terkait penculikan, saya juga harus fair. Status Prabowo saat itu sebagai orang lapangan. 

Alias, kemungkinan hanya mendapat perintah dari atasannya. Siapa? 

Entahlah. 

Yang menarik, stigma penculik ini selalu panas menjelang pilpres. Itu berlaku sejak 2014 silam.

Grand design, kah? Khususnya, ada tangan-tangan tak kasat mata yang enggan doi berkuasa?

...

Padahal, Prabowo pernah jadi wakil Mega di pilpres 2009. Namun, saat itu seperti adem ayem.

Mungkin, ketika itu internet belum begitu masif di masyarakat Indonesia. Jadi, tidak ada yang memelintirnya.

Termasuk saya yang baru ngeblog pada 2009. Untuk media sosial, dimulai Facebook tahun yang sama diikuti Twitter (2010), dan Instagram (2012).

Bahkan, Prabowo juga dilantik Jokowi sebagai Menteri Pertahanan pada Kabinet Indonesia Maju 2019-2024. Tentu, presiden tidak sembarangan dalam mengangkat setiap orang yang akan membantunya dalam menjalankan roda pemerintahan.

Jadi, noktah merah Prabowo memang nyata. Kesempatannya untuk mendapat Mandat Langit, itu cerita lain.

*     *     *

PILPRES 2024 milih yang tua? Pasalnya, dua capres lain berusia jauh lebih muda.

Maklum, 17 Oktober mendatang, Prabowo genap 72 tahun. Sementara, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo saat ini sama-sama 54 tahun.

Selisih antara Prabowo dan kedua capres lainnya sekitar 18 tahun. Namun, ya dalam beberapa hal, usia hanya sebatas hitung-hitungan angka di atas kertas.

Apalagi, mengingat statusnya yang merupakan mantan prajurit dengan bintang tiga tersemat di pundak. Prabowo terlihat gagah. Auranya terpancar baik saat diam atau bicara.

Bahkan, saat orasi, Prabowo mengingatkan saya pada Bung Besar: Soekarno.

Meski, saya mencatat, Prabowo terlihat lemah dalam menyampaikan pandangannya kepada khalayak umum. Itu terjadi sejak debat capres 2014, 2019, dan yang teranyar saat dialog Mata Najwa di Universitas Gadjah Mada (19/9).

Jujur, ini nilai minus dari Prabowo. Meski, doi sangat hebat saat orasi. 

Entah mengapa, saya melihat Prabowo kerap kesulitan dalam memberi penjelasan dalam acara debat. Kendati, apa yang disampaikan sangat logis dan subtansinya sesuai.

Mungkin, ini jadi PR bagi Prabowo dan timnya. Terutama, jelang kontestasi pilpres 2024 yang pendaftaran dibuka 19 Oktober mendatang. 

Jika terus seperti ini, Prabowo bisa dilewati dua kandidat lainnya. Sebab, saya punya catatan terkait para rival berdasarkan beberapa acara pada 2023 ini.

Anies:

+ Bicaranya lancar, mengalir khas akademisi

- Pembawaannya terlalu serius


Ganjar

+ Penampilannya luwes, mudah dicerna khususnya generasi muda

- Penyampainnya agak mutar-mutar


Btw, ngomongin ketiganya ini menarik. Pasalnya, seumur-umur saya belum pernah melihat langsung Prabowo.

Justru, dengan Anies sudah beberapa kali mengingat statusnya sebagai Gubernur DKI Jakarta 2017-2022. Untuk Ganjar baru sekali pada Kompasianival 2014 di Taman Mini Indonesia Indah.

Apa pun itu, ketiga capres ini merupakan putra terbaik bangsa. Meski saya mengidolai Prabowo, tapi tetap respek dengan Anies dan Ganjar.

Tentu, saya berharap Prabowo menang mengingat ini mungkin jadi palagan terakhirnya. Bisa dipahami mengingat pada 2029, usianya sudah 77 tahun.

Namun, andai Prabowo kalah lagi pun tak masalah. Sebab, apa pun hasilnya hidup saya harus tetap berjalan.

Saya berharap pilpres 2024 ini berlangsung damai tidak seperti dua edisi sebelumnya. Yaitu polarisasi dua kubu diiringi pujian kampret, cebong, dan kadrun!

Bahkan, saya menyaksikan dua orang yang dulunya erat jadi berseberangan. Ceuk urang Sunda mah, petonggong-tonggong. 

Alias, saling menghindar dan enggan menuapa saat bertemu sejak pilpres 2014. Padahal, Prabowo saja sudah rekonsiliasi dengan Jokowi usai pesta demokrasi empat tahun lalu dengan bersedia jadi menteri.

Namun, beberapa orang yang saya kenal, justru masih diam-diaman. Aneh, yang di atas sudah baikan, tapi di bawah masih belum sadar.

Epilog, pilpres 2024 ini jadi hattrick saya memberi suara kepada Prabowo. Jika menang, saya berharap berbagai program yang diusungnya sejak lama bisa segera dijalankan.

Andai kalah, saya tetap mengidolai Prabowo. Sama halnya saya menggemari Juve, Jose Mourinho, Hendra Setiawan, Mike Tyson, Nicky Hayden, Jeff Hardy, dan sebagainya!


*     *     *

- Jakarta, 29 September 2023 (Bumi 87)


*     *     *

Artikel Sebelumnya:

- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia (Bumi 378)

(http://www.roelly87.com/2023/08/dhani-rizieq-dan-ahok-bersatu-demi.html)

- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif

(http://www.roelly87.com/2017/01/soe-hok-gie-prabowo-cerdas-tapi-naif.html)


Artikel Selanjutnya:

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (Bumi 666)






.

Senin, 16 Januari 2017

Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif


Nisan Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti

SIANG itu, langit ibu kota tampak mendung. Pada purnama menjelang Kartika itu, Museum Taman Prasasti hanya sedikit mendapat kunjungan. Beberapa di antaranya membawa kamera untuk mengabadikan eksotisnya cagar budaya ini. Termasuk, saya dan rekan yang memang sudah lama ingin mengunjungi Museum Taman Prasasti.

Bagi saya, museum ini sama sekali tidak asing. Karena sejak dekade 1990-an sering mengunjunginya. Maklum, lokasinya yang terletak di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat, ini dekat dengan sekolah saya. Jadi, saya sering mendatanginya ketika berenang di Kolam Renang Kebon Jahe atau Perpustakaan Umum Jakarta Pusat yang berada tepat di sebelahnya.

Mengunjungi museum ini ibarat tapak tilas pada masa lalu. Sebab, terdapat makam dan nisan dari tokoh sejarah. Beberapa di antaranya seperti Rudolf Köhler yang merupakan tokoh militer Belanda pada era kolonialisme, Olivia Marianne (istri dari Thomas Raffles), dan Soe Hok Gie (aktivis mahasiswa dekade 1960-an).

*         *         *
"DARI pagi keluyuran dengan Prabowo ke rumah Atika, ngobrol dengan Rachma, dan membuat persiapan-persiapan untuk pendakian Gunung Ciremai." Demikian, penggalan dari catatan harian Soe Hok Gie pada 29 Mei 1969 yang saya baca dua tahun lalu. Tepatnya, menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 yang melibatkan Prabowo Subianto dengan Joko Widodo.

Saat itu, saya dipinjami buku berjudul "Catatan Seorang Demonstran". Jujur saja, saya kurang tertarik dengan keseluruhan isinya. Meski, ada beberapa yang saya suka mengingat saya merupakan penggemar sejarah. Salah satunya, terkait hubungan Soe Hok Gie dengan Prabowo.

Bagi saya ini menarik. Kebetulan, sejak 2008 saya memang mengagumi Prabowo. Tentu, itu terlepas dari sisi kontroversialnya terkait penculikan mahasiswa menjelang reformasi. Bagaimana pun, benar atau salah belum terungkap. Pasalnya, hingga kini Prabowo tidak pernah disidang dalam Mahkamah Militer yang biasanya ditujukan untuk perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dalam "Catatan Seorang Demonstran", terdapat beberapa tulisan mengenai Prabowo. Jelas, ini mengundang antusiasme saya kendati saya bukan penggemar Soe Hok Gie.Kebetulan, usia mereka terpaut nyaris sembilan tahun. Soe Hok Gie kelahiran 17 Desember 1942 dan Prabowo (17 Oktober 1951).

Kendati usianya selisih cukup jauh, mereka tetap bersahabat. Layaknya, Cao Cao dengan Guo Jia atau sumpah di bawah pohon persik antara Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei. Maklum, Prabowo merupakan putra begawan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo yang kerap memberi dukungan secara finansial kegiatan mendaki gunung.

Di sisi lain, Soe Hok Gie dikenal sebagai pencintan alam yang sering mendaki gunung di Tanah Air. Itu dilakukan hingga meninggal dunia akibat menghirup gas beracun, sehari sebelum merayakan HUT ke-27 pada 16 Desember 1969 di Gunung Semeru, Jawa Timur, yang merupakan puncak tertinggi di pulau Jawa.

Kendati lebih senior, Soe Hok Gie sangat mengagumi Prabowo. Itu diungkapkannya saat menghadiri deklarasi Gerakan Pembaruan di rumah Soemitro. Ketika itu, Prabowo yang baru lulus SMA dan belum genap 17 tahun membaca jurnal Indonesia terbitan Cornell University yang membuat seluruh peserta kagum dengan wibawanya.

Soe Hok Gie mengukirnya dalam catatan harian 25 Mei 1969, "Ia cepat menangkap persoalan dengan cerdas tapi naif. Kalau ia berdiam dua-tiga tahun dalam dunia nyata, ia akan berubah.

Bahkan, Daud Sinjal, jurnalis senior menyebut, sepatu yang digunakan Soe Hok Gie untuk melakukan pendakian terakhirnya ke Gunung Semeru, merupakan pinjaman Prabowo. Wajar saja mengingat Soe Hok Gie dan Prabowo bersahabat erat tanpa memerdulikan usia. Apalagi, Prabowo dikenal sebagai pribadi yang supel dan loyal terhadap siapa saja.

Itu diungkapkan Jopie Lasut, aktivis 66 yang juga jurnalis senior. Sebelum berangkat ke Gunung Semeru, Soe Hok Gie memang mencari sepatu yang berkualitas. Kebetulan, ekonomi Indonesia saat itu tidak seperti sekarang. Apalagi, Soe Hok Gie bukan berasal dari keluarga mampu yang dengan mudah membeli apa yang diinginkan.

Ketika itu, tidak banyak orang yang punya sepatu lars. Salah satunya, Prabowo yang meminjamkannya untuk Soe Hok Gie. Ternyata, itu jadi pemberian terakhirnya. "Prabowo sangat sedih karena Soe Hok Gie seorang idealis tapi meninggal di usia muda," tutur Jusuf Rawis, aktivis mahasiswa 66 mengenang persahabatan keduanya.

Tiga dekade kemudian, Prabowo mengikuti jejak Soe Hok Gie untuk melakukan pendakian ke gunung tertinggi. Namun, bukan di pulau Jawa atau Indonesia, melainkan Gunung Everest yang merupakan puncak tertinggi di dunia.

Itu terjadi pada 26 April 1997 saat Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) ini menaklukkan gunung yang terletak di perbatasan Nepal-Cina tersebut. Ketika itu, Prabowo melakukannya bersama Tim Nasional Indonesia yang terdiri dari anggota Kopassus, Wanadri, FPTI, dan Mapala UI. Untuk kali pertama, bendera merah putih berkibar di puncak tertinggi dunia yang ekspedisinya dimulai sejak 12 Maret 1997.

*         *         *
RINAI membasahi tanah di sekitar makam di Museum Taman Prasasti. Wangi harum tercium dari berbagai nisan setelah mendapat guyuran sang dewi hujan. Menjelang senja, pengunjung kian sedikit karena waktu operasi museum memang sudah berakhir. Menurut salah satu petugas, Museum Taman Prasasti buka sejak Selasa hingga Minggu pada pukul 09.00-15.00 WIB.

"Setiap hari buka kecuali Senin. Waktu tutup itu digunakan untuk membersihkan areal museum. Juga untuk melakukan perbaikan jika ada makam yang rusak dan perawatan rutin koleksi lainnya," tutur salah satu petugas yang berbincang dengan kami.

Beliau pun menunjukkan berbagai koleksi lainnya dari Museum Taman Prasasti. Termasuk, yang menarik perhatian kami setelah nisan Soe Hok Gie, "Itu, peti jenazah Bung Karno dan Bung Hatta. Kalau makamnya di Blitar, ini (peti jenazah) asli yang mengantar perjalanan Bung Karno menuju peristirahatn terakhirnya."

Ya, sama seperti nisan Soe Hok Gie yang kosong. Sebab, jenazahnya sudah dikremasikan dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango, Jawa Barat. Namun, namanya tetap harum hingga kini.

Nisan Soe Hok Gie di antara makam lainnya di Museum Taman Prasasti
*         *         *

Referensi: 
- Catatan Seorang Demonstran (koleksi rekan)
- Majalah Tempo Edisi Khusus Pemilihan Presiden 2014, 6 Juli 2014 (Koleksi Pribadi)
- Majalah Tempo Edisi Khusus Gie dan Surat-surat yang Tersembunyi, 10 Oktober 2016 (Koleksi Pribadi)
- http://kopassus.mil.id/profil-satuan/
- http://www.antarasumbar.com/berita/101435/prabowo-pada-usia-17-tahun-dirikan-lsm.html
- http://www.rmol.co/read/2014/06/07/158491/Soe-Hok-Gie-Pun-Memuji-Prabowo-sebagai-Orang-Cerdas-
- https://travel.detik.com/read/2015/10/09/101715/3040266/1519/nisan-dua-pribumi-di-museum-taman-prasasti-siapa-mereka
- http://jakartapedia.bpadjakarta.net/index.php/Museum_Taman_Prasasti

*         *         *
Artikel Terkait:
Cindy Adams dan Misteri Dua Paragraf Otobiografi Bung Karno

*         *         *
- Jakarta, 16 Januari 2016