TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: 2026

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Sabtu, 16 Mei 2026

Kalian Tim PI atau Tim GI (Plaza Indonesia Vs Grand Indonesia)

PI vs GI (Versi Ojol)

Aura old money dan Orang Kaya Lama
sangat terasa di PI
(Foto: dokumentasi pribadi/@roelly87)


KELINCI Merah (Chituma) yang terbaik di antara kuda. Untuk pendekar, ada Lu Bu.

Ucapan Perdana Menteri Han Cao Cao pada abad 2 yang saya kutip ulang di artikel tiga tahun lalu berjudul Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona (https://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html).

Maksudnya, Lu Bu tak terkalahkan pada pengujung kejayaan Dinasti Han. Dalam novel Sam Kok/Kisah Tiga Negara, bahkan sukses menempur tiga bersaudara, Zhang Fei, Guan Yu, dan Liu Bei.

Sementara, Kelinci Merah merupakan nama kuda asal Ferghana, Asia Tengah. Dikenal dengan kawasan penghasil kuda terbaik yang banyak diimpor Cina saat itu.

Nah, artikel yang saya tulis ini bukan soal pendekar atau kuda. Melainkan, mal, plaza, atau pusat perbelanjaan yang bisa disebut terbaik di Jakarta.

Namun, ini banyak versi. Alias, bisa jadi debat kusir tak berujung terkait subyektivitas.

Sebagai ojol (ojek online), saya sudah pernah menyinggungnya sedikit dalam beberapa artikel:

- https://www.roelly87.com/2024/06/daftar-mal-elite-di-jakarta-dan-yang.html

- https://www.roelly87.com/2025/05/hilang-motor-akibat-parkir-liar-salah.html

- https://www.roelly87.com/2020/02/pi-pp-dan-ta-ini-daftar-mal-yang-kurang.html

- https://www.roelly87.com/2023/11/menara-kadin-yang-memanusiakan-manusia.html

Oke, menurut saya ada delapan mal elite di ibu kota -minus Jakarta Timur- dengan beragam variabel. Ini objektif saat saya hadir sebagai pengunjung atau ketika ambil orderan ojol.

1. Plaza Indonesia (Jakarta Pusat)

2. Plaza Senayan (Jakarta Pusat)

3. Pondok Indah Mal (Jakarta Selatan)

4. Grand Indonesia (Jakarta Pusat)

5. Senayan City (Jakarta Pusat)

6. Pacific Place (Jakarta Selatan)

7. Central Park (Jakarta Barat)

8. Mal Kelapa Gading (Jakarta Utara)

Btw, dari tujuh mal elite itu dan puluhan lainnya di ibu kota -minus Jakarta Timur yang jarang saya jelajahi-, versi saya paling favorit adalah Mal Ciputra di Grogol, Jakarta Barat.

Wajar, mengingat lokasinya hanya seperlemparan batu dari rumah saya. Kalo yang lempar batunya Hulk atau Thor... He he he!

Mal yang beken disebut Citra Land (CL) ini jadi favorit saya sejak masih kanak-kanak hingga rekan sebaya sudah punya banyak anak. Mulai dari tempat nongki, main game, bolos, cinmot alias cinta monkey, liatin pelajar tawuran, hingga ngabuburit di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung.

Era 1990-an hingga pertengahan 2000-an, CL jadi tempat suci bagi anak Jakbar. Bahkan, hingga kini saya jadi ojol, sering datang karena ada parkir gratis yang luas. (Sumber: https://vt.tiktok.com/ZSxeWtM43/ @roelly87)

Selain CL, favorit saya juga ada Topaz (kini ganti Roxy Square imbas Tragedi 1998), ITC Roxy Mas (dulu ada MCD yang jadi favorit), Plaza Gajah Mada (ada kolam renang), Mal Puri Indah, Golden Truly Gunung Sahari, dan Ratu Plaza.

Ketujuh mal itu jadi favorit saya hingga kini yang punya memori membekas.

*          *          *

Parkir khusus ojol dan kurir paket di P2
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


ADA dua mal elite yang bersebelahan atau berhadapan di Jakarta Pusat. Yaitu, Plaza Indonesia (PI) dengan Grand Indonesia (GI) yang sama-sama terletak di Jalan M.H. Thamrin.

Satu lagi di Jalan Asia Afrika, yaitu Plaza Senayan (PS) dengan Senayan City (Sency). Namun, kedua mal yang terletak di Kecamatan Tanah Abang ini mungkin akan saya bahas nanti.

Untuk PI dan GI, ternyata lokasinya di Kecamatan Menteng. Saya pikir, dulu keduanya ada di Kecamatan Tanah Abang.

Namun, setelah cek google maps, ternyata masuk Menteng. Meski, untuk GI, sebagian ada Tanah Abang, tepatnya di  di West Mal yang merupakan pintu masuk untuk parkir motor. 

Kendati ruangan utama (East Mal) tetap masuk Menteng bersama Hotel Kempinski dan Menara BCA.

Kesan saya ke GI? 

Rame poll. Apalagi, jika ambil orderan makanan atau paket di East Mal. Harus olahraga karena parkiran adanya di basement West. 

Secara keseluruhan, GI lebih familiar bagi saya. 

Istilahnya, lebih merakyat. Wkwkwkwk!

Sementara, PI?

Wow... Auranya beda!

Ketika menginjakkan kaki di lobinya, atmosfer OKL atau Crazy Rich pun menyapa. Saya bukan tipe inferioritas, tapi PI memang auranya berkelas banget.

Mungkin sedikit atau setara dengan Plaza Senayan (PS) dan Pondok Indah Mal (PIM). Ga perlu dibandingkan dengan GI, Sency, Pacific Place (PP), Central Park (CP), hingga Mal Kelapa Gading (MKG).

Jujur, itu yang saya rasakan. 

Itu mengapa, PI tidak menyediakan parkiran motor untuk umum baik pengunjung maupun karyawan. Alias, hanya roda empat ke atas. 

Jika pengunjung ingin masuk, terpaksa harus parkir di GI yang cukup jauh tapi resmi dengan nontunai Rp 2.000 per jam. Atau, bayar Rp 5.000 - 10.000 untuk parkir liar di Jalan Kebon Kacang XXX.

Saya pernah menulisnya sebelum pandemi dulu https://www.roelly87.com/2020/02/pi-pp-dan-ta-ini-daftar-mal-yang-kurang.html.

Untungnya, ojol dan kurir paket disediakan parkir di P2. Meski harus bayar secara nontunai. 

Minusnya, parkirannya sempit dan berbagi space dengan kendaraan niaga di loading dock. Jadi, kalo mau keluar, harus ekstra sabar. 

Sebab, gate-nya hanya 1 yang bergiliran dengan mobil bak, box, hingga truk. Beberapa kali mesin tap parkir error. Ampun dah ngantrenya. 

Pun demikian saat kartu emoney ga kebaca. Ya, wassalam...

Btw, bagi pengunjung atau karyawan jangan coba-coba parkir motor di P2. Sebab, bakal diusir security di pintu masuk. 

Secara, mereka selalu mengecek setiap motor yang melintas gerbang. Ojol pun dilihat orderannya apa dan wajib buka jok motor.

Tapi emang securitynya saya akui ramah-ramah. Kalo kita ga tahu bakal diinfokan secara detail parkir di mana, aturan malnya apa, dan lantai yang dituju.

Untuk aturan, seperti yang saya ulas dua tahun lalu, https://www.roelly87.com/2024/06/daftar-mal-elite-di-jakarta-dan-yang.html, ojol harus lepas jaket dan ditaruh di motor. Alias, tidak boleh ditenteng atau dibalik seperti mayoritas mal lainnya, termasuk GI yang masih memperbolehkan jaket ojol dibalik.

Saya pribadi ga masalah dengan aturan ini. Secara, sebagai tamu, saya harus ikut ketentuan tuan rumah.

Hanya, beberapa kali ada kejadian kocak. Tepatnya, ketika keluar dari lift barang di lantai LB, G, 1, 2, dan seterusnya menuju toko yang dituju. Nah, saya sering nanya alamat jika tidak tahu ke toko sekitar. 

Berhubung saya ga boleh bawa atribut ojol dan terkadang hanya mengenakan kemeja atau batik serta celana bahan, alhasil saya disangka mau belanja. Diajak masuk ke tokonya yang isinya mayoritas premium untuk lihat-lihat hingga ditawarkan berbagai koleksinya. 

Wkwkwkw!

Jujur, belanja di PI bukan level saya yang masih kelas mendang-mending. Berbagai busana di sana, seperti celana panjang branded harganya bisa dua minggu pendapatan saya ngojol!

Alhasil, saya pun memberikan gestur menolak tawaran itu. Sembari, memperlihatlan orderan ojol di layar hp untuk tanya alamat. 

Pas tahu saya ojol yang hanya ingin tanya lokasi toko atau resto, pramuniaga itu pun jadi likat. Akhirnya, kami sama-sama tertawa.

Btw, untuk kesan-kesan saya masuk PI dan GI baik sebagai ojol atau pengunjung, komparasinya ada di bawah ini.

Nah, kalian sebagai sesama ojol serta kurir paket dan pengunjung umum, pilih jadi Tim PI atau Tim GI?


Tim PI vs Tim GI versi ojol:


Plaza Indonesia 

+ Ada parkiran khusus ojol/kurir paket (berbayar nontunai)

+ Mudah ke toko/tenant/merchant dari parkiran P2

+ Auranya beda (sekelas dengan PS dan PIM)

+ Customer mayoritas ganti biaya parkir


- Jaket harus dilepas (tidak boleh ditenteng/dibalik)

- Parkiran ojol/kurir paket sempit

- Mesin parkir sering error

- Masuk parkiran jauh, di Kebon Kacang 30, bukan di Jalan Thamrin


Grand Indonesia

+ Parkiran luas terlindungi dari panas dan hujan (nontunai untuk umum/ojol/kurir paket)

+ Jaket boleh ditenteng atau dibalik

+ Aura malnya bersahabat untuk semua kalangan (di bawah PI, PS, dan PIM, tapi masih sedikit di atas Sency, PP, CP, CL, Emporium, dan sebagainya)

+ Customer mayoritas ganti biaya parkir


- Lokasi parkiran jauh di basement West Lobby (jalan jauh kalo ambil order di East)

- Masuk parkiran muter di Jalan Teluk Betung I, bukan di Jalan Thamrin

- Ada 2 lobi (West/Arjuna dan East/Rama, harus diperhatikan detail orderannya agar tidak olahraga terlalu jauh)


=========✓=========✓=========✓


PI vs GI (versi umum/pengunjung)


Plaza Indonesia

+ Premium (aura berkelas yang setara atau lebih dari PS dan PIM)

+ Branded (produk yang dijual mayoritas kalangan elite)

+ Strategis di pinggir jalan raya

+ Akses transportasi umum (samping Halte TJ dan Stasiun MRT)


- Tidak ada parkiran motor (adanya parkir liar di pinggir kali)


Grand Indonesia

+ Parkiran luas terlindungi dari panas dan hujan (nontunai untuk umum/ojol/kurir paket)

+ Ada parkir eksklusif untuk taruh helm, jaket, dan sebagainya (berbayar Rp 20 ribu)

+ Aura malnya bersahabat untuk semua kalangan (di bawah PI, PS, dan PIM, tapi masih sedikit di atas Sency, PP, CP, CL, Emporium, dan sebagainya)


- Akses di lobi utama bagi pejalan kaki (West/Arjuna dan East/Rama) jauh di Jalan Teluk Betung

- Kurang integrasi ke transportasi umum (harus olahraga dari/ke Halte TJ dan Stasiun MRT)


#FaktaMenarik: PI jauh lebih tua karena diresmikan pada 24 November 1990 oleh Presiden Ke-2 RI Soeharto. Berselang 19 tahun, Grand Indonesia (20 Mei 2009) diresmikan Presiden Ke-7 RI Susilo Bambang Yudhoyono.


*          *          *


- Jakarta, 16 Mei 2026


Jumat, 08 Mei 2026

Ted Turner, CNN, WCW, dan Rivalitas dengan WWE - Vince McMahon

Ted Turner, CNN, WCW, dan Rivalitas dengan Vince McMahon

Ted Tuner bersama Rick Flair dan
Hulk Hogan (Foto: Istimewa)




INDUSTRI gulat hiburan kembali berduka. Tepatnya, dengan berita wafatnya Ted Turner, Rabu (6/5) waktu Amerika Serikat (AS).

Pria kelahiran Cincinatti, Ohio, ini meninggal pada usia 87 tahun. Ted dikenal sebagai taipan media.

Itu karena dia pemilik beberapa media ternama, termasuk Cable News Network (CNN) yang merupakan saluran berita 24 jam. Namanya disandingkan dengan Rupert Murdoch yang sama-sama taipan media.

Namun, bagi penggemar gulat, Ted lebih dikenal dengan serunya rivalitas bersama Vince McMahon. Yaitu, pendiri World Wrestling Entertainment (WWE) atau sebelum 2002 bernama World Wrestling Federation (WWF).

Sebagai penggemar gulat hiburan sejak 1990-an, tentu saya akrab dengan rivalitas WCW-WWE. Beberapa sudah saya ulas di blog ini atau platform Kompasiana.com/roelly87 dan sosial media di antaranya:

- John Cena Jual Jiwanya kepada The Rock, Sinetron ala WWE Menuju Klimaks (https://www.roelly87.com/2025/03/john-cena-jual-jiwanya-kepada-rock.html)

- Royal Rumble 2025 Antiklimaks, Jey Uso Mau Dibawa Kemana? (https://www.roelly87.com/2025/02/royal-rumble-2025-antiklimaks-jey-uso.html)

- John Cena Pensiun, Akhir WWE Ruthless Aggression Era? (https://www.roelly87.com/2024/07/john-cena-pensiun-akhir-wwe-ruthless.html)

- Edge Gabung AEW, Reuni Lagi dengan Christian dan Hardy Boyz (https://www.roelly87.com/2023/10/edge-gabung-aew-reuni-lagi-dengan.html)

*         *         *

WCW merupakan gulat hiburan pertama yang tayang di Indonesia. Saya kurang tahu tepatnya, tapi saya sudah menyaksikan pada 1996 atau 1997 silam di Indosiar saat Minggu siang. 

Bersanding dengan beberapa serial favorit luar negeri saat itu meliputi Kembalinya Pendekar Rajawali, Kera Sakti, Ular Putih, Hakim Bao, María Mercedes, Marimar, Paquita Gallego, Nagin, dan lain-lain.

Setelah itu, WWE tayang lewat brand Smackdown yang populer dengan MC Edwin-Jody di RCTI pada 2000. 

Sebelum era internet, pada 1990-an hingga awal 2000-an, saya biasa menyaksikan perkembangan gulat hiburan di televisi (Indosiar dan RCTI) dan media cetak. Yaitu, Tabloid Fantasi, Majalah Bobo, Tabloid Bola, Majalah Hai, Majalah Aneka, Kawanku, Gadis, dan sebagainya.

Vince resmi membeli WCW pada 2001. Saat itu, Ted diketahui sudah jenuh memilikinya sejak 1988 silam.

Ted memang bukan seperti Vince yang kerap turun ke ring memerankan sosok heel (antagonis). Melainkan, Ted nyaman  di balik layar memercayakan pengelolaan WCW kepada Eric Bischoff.

Nah, kolaborasi mereka sukses menggoyang Vince yang sudah lebih dulu merajain industri gulat hiburan. Bahkan, WCW berhasil mengudeta WWE hingga 83 pekan dalam Monday Night Raw.

Yaitu, program andalan dari masing-masing brand yang tayang Senin malam waktu AS. WWE dengan Raw dan WCW lewat Nitro pada September 1995 hingga Mei 1996.

Salah satu kunci kesuksesan WCW karena Ted berani menggelontorkan uang demi menggaet bintang WWE. Misalnya, Hulk Hogan yang meninggal tahun lalu, Scott Hall, Kevin Nash, hingga Bret Hart. 

Tak lupa, WCW juga punya produk andalan seperti Diamond Dallas Page (DDP), Bill Goldberg, hingga Sting (Steve Borden).

Pada Monday Night Raw akhir dekade 1990-an, bintang WCW beradu kreativitas dengan jagoan WWE. Vince memimpin diikuti Stone Cold Steve Austin, The Rock, The Undertaker, Kane, Mankind, Triple H, Chyna, dan banyak lagi.

Pokoknya, membicarakan WCW vs WWE itu seru banget!

Apalagi, dua dari tiga pegulat idola saya -selaim Jeff Hardy- awalnya di WCW. Yaitu, Kane yang kariernya sempat dicap gagal di WCW pada 1993-1994. 

Hijrah ke WWE sejak 1995 lewat gimmick The Big Red Machine dengan topeng ikonik hingga 2021 masuk Hall of Fame. Disela-sela kesibukannya sebagai pegulat, Kane sukses jadi Walikota Knox County dua periode (2018-2022 dan 2022-2026).

Pegulat favorit saya kedua, Chris Jericho, bahkan sukses di WCW pada 1996-1999. Termasuk, meraih sabuk WCW World Television Champions pada 10 Agustus 1998. 

Vokalis band heavymetal Fozzy ini hijrah ke WWE pada 1999. Kemunculan Jericho sangat ikonik dengan videotron Y2J. 

Yaitu, plesetan dari Y2K yang populer jelang pergantian milenium. Kini, Jericho berkarier di All Elite Wrestling (AEW) rival WWE yang nyaman dilalui dalam tujuh tahun terakhir.

Btw, selain Kane dan Jericho, ternyata banyak jebolan WCW yang sukses di WWE. Stone Cold, Undertaker, Triple H, hingga Big Show.

Alhasil, bagi saya sebagai penggemar gulat hiburan, WCW sukses memberi warna. Itu berkat Ted Turner yang berani mengusik kerajaan Vince McMahon.

Nama terakhir sudah tidak memegang WWE lagi pasca skandal 2023 lalu hingga melepasnya ke TKO Group yang juga memiliki UFC (Ultimate Fighting Championship). Namun, membicarakan gulat hiburan tidak pernah lepas dari Vince.

Bahkan, masih ada keluarganya yang turut mengelola WWE. Yaitu, putrinya Stephanie McMahon yang 17 April lalu dilantik sebagai WWE Hall of Fame (Class 2026). Menantu Vince, Triple H (Paul Levesque) yang juga suami Stephanie, kini menjabat sebagai Chief Content Officer (COO) WWE.

Jadi, tidak salah kalau membicarakan industri gulat hiburan identik dengan Vince McMahon. Nah, pemberi warnanya adalah Ted Turner saat memimpin WCW.***


*          *          *


- Jakarta, 8 Mei 2026


Rabu, 29 April 2026

Rambut Memutih dalam Semalam

Rambut Memutih dalam Semalam


Ilustrasi gambar hanya pemanis (@roelly87)


(POV: SANDI)

IBU, istri, dan anak. Demikian prioritas dalam hidup saya yang berawal dari masa lalu, menjalani masa kini, dan menatap masa depan.

Ibu atau orang tua (ayah sudah meninggal) yang telah melahirkan, mendidik, dan membesarkan saya hingga kini.

Istri yang kini populer saya juluki MBG alias MyBiniGue merupakan pendamping hidup yang setia. Kami sudah melewati pahit manis kehidupan dalam belasan tahun pernikahan.

Anak? Masa depan kami semua. Saya punya dua anak yang masih dalam pertumbuhan. Sulung, laki-laki berseragam SMP. Sementara, bungsu, perempuan masih SD.

Begitu juga dengan mertua. Ayah dan ibu dari MBG. Keduanya sudah meninggal. Sang ibu wafat sebelum pandemi. Berselang tahun, babeh -panggilan akrab saya kepada ayah mertua- berpulang.

MBG sebagai anak tunggal mewarisi harta yang cukup peninggalan orang tuanya. Itu berupa beberapa kendaraan dan rumah.

Maklum, babeh merupakan saudagar ternama dari seberang. Masih memiliki hubungan darah dengan salah satu raja termasyhur di pulau itu. 

Meski begitu, istri enggan memanfaatkan status ningratnya. Bahkan, sejak lulus kuliah sudah mandiri untuk bekerja di kantor akuntan ternama.  

*         *         *

SEMUA baik-baik saja. Hingga, babeh meninggal akibat penyakit kronis. 

Berpulang dengan tersenyum. Kami pun ikhlas melepasnya.

Sayangnya, kami hidup di dunia nyata. Alias, bukan dongeng.

Sebab, masalah justru baru dimulai.

Usai tujuh harian, istri dan saya yang merupakan pegawai swasta mencoba mengumpulkan aset almarhum babeh dan enyak.

Kami dibantu beberapa sepupu dan keponakan istri.

....

Singkat kata, mayoritas aset sudah berganti nama jadi istri. Kecuali satu.

Ya, rumah berukuran sedang di Kota B. Sudah lama dihuni eks sopir yang dulu bekerja kepada babeh, sebut saja Gilman.

Namun, dia keluar akibat kecelakaan yang menyebabkan jadi tunadaksa. Itu karena kaki sebelahnya harus diamputasi.

Insiden berlangsung saat Idul Fitri. Alias, beliau sedang pulang kampung.

Karena kakinya sudah tidak bisa berfungsi untuk membawa mobil, dia pun mengajukan resign. Babeh dengan berlinang air mata menyetujui. 

Turut memberikan pesangon yang sangat besar. Meski kecelakaan bukan saat kerja, alias ketika cuti lebaran, tapi babeh tetap bertanggung jawab.

Bahkan, kelima anaknya disekolahkan hingga kuliah. Dua lulus, satu DO, dan dua kabur.

Ini fakta. Bukan mengada-ada. Memang babeh dan enyak semasa hidupnya sangat baik. 

Termasuk mewakafkan tanahnya di Kota M dan P untuk dibuat Panti Asuhan.

Nah, di Kota B, babeh ada rumah yang sempat ditempati sepupunya. Namun, setelah anak dari paman babeh itu berkeluarga, hijrah ke ibu kota meninggalkan rumah itu yang kosong.

Ujug-ujug Gilman tahu dan mendatangi babeh untuk menumpang di rumah tersebut. Babeh sifatnya ga tegaan. 

Apalagi, Gilman yang bersandar tongkat datang bersama istri dan ketiga anaknya yang masih kecil. Babeh pun mengizinkan.

Sebulan, dua bulan, setengah tahun, hingga puluhan purnama saat babeh meninggal, rumah itu masih ditempati Gilman.

...

Istri bersama sepupu dan keponakannya menemui Gilman. Maksudnya untuk silaturahmi sekaligus menengok rumah tersebut.

Gilman tahu babeh yang merupakan mantan bosnya meninggal. Turut mengucapkan duka cita dan minta maaf ga bisa hadir karena kondisinya.

Kami pun memaklumi keadannya. 

Nah, ketika MBG tiba, kagetlah melihat rumahnya. Sebab, dulunya saat ada babeh dan enyak, sangat terawat, kini jadi semrawut.

Pasalnya, di depan pekarangan hingga jalanan dipenuhi lapak dagangan. Rumah pun disekat untuk jadi kontrakan. 

Ternyata, itu disewakan kepada orang terdekat Gilman atau tetangganya.

Uang sewanya? Masuk kantong Gilman!

Yang lebih membagongkan, MBG, sepupu, dan keponakannya seperti tidak dianggap di rumahnya. Gilman layaknya bos besar hanya menerima di depan lapak pekarangan. 

Seperti mengusir secara halus. Bahkan, ketika keponakan istri nanya izin ke kamar mandi, tidak diberikan. Malah disuruh ke pom bensin.

Sontak, istri yang baru kehilangan ayahnya itu langsung naik pitam. Ditambah, perlakuan tidak sopan dari Gilman dan keluarganya.

Niat awal istri untuk mengecek rumah, jadi ingin mengambil alih. Wajar, punya orang tua sendiri.

Tahu jawaban Gilman?

"Enak aja, Ayah kamu yang kasih saya rumah ini untuk dikelola. Kamu jangan lancang, baru datang langsung mau rebut?"

Familiar?

Ya, mereka ini seperti bangsa Israel yang kabur dari Eropa dan izin menumpang kepada rakyat Palestina. Namun, berbalik jadi ingin menguasai tanah orang.

Jahat.

Gilman berkacak pinggang mengusir istri saya dan kedua saudaranya. Disertai teriakan dari keluarganya.

Dunia benar-benar udah terbalik.

MBG pun ga tinggal diam. Doi memberi ultimatum sebelum pergi: Pekan depan rumah harus dikosongkan dan utuh seperti semula.

*         *         *

TUJUH hari berselang, saya yang mendampingi istri untuk menenangkannya justru mendapat perlakuan ajaib dari Gilman.

Kami berdua dituding ingin menyerobot rumah orang di depan pengurus wilayah yang dihadirkan sebagai saksi. Gila!

Istri pun mengluarkan satu kartu truf: SHM sebagai legalitas kepemilikan tanah dan bangunan yang ditempati.

Toh, tetangga dan pengurus wilayah sudah tahu tentang babeh alias ayah dari istri saya itu.

Gilman membelokkan situasi. Disebut sudah diberi almarhum babeh secara lisan.

Stres!

Mana ada orang yang kasih rumah secara cuma-cuma. 

Ditanya buktinya apa, Gilman menjawab tanya aja di dalam kuburan babeh. Ironisnya, istrinya dan anak-anaknya turut mengamini.

Sungguh keluarga ga tahu diri.

Sampe sini, saya udah emosi. Namun, berusaha untuk menenangkan istri.

Benar-benar keluarga dajjal! Bangsa Israel yang mengejawantah ke diri Gilman dan keluarganya.

...

Singkatnya, deadlock.

Pengurus wilayah ga berani kasih solusi. Nah, di sinilah plot twist.

Ternyata, ada oknum pejabat setempat yang coba mengail di air keruh. Diimingi 'badu' alias bagi dua dengan Gilman atas hak kepemilikan rumah lewat duplikasi SHM.

Kini, musuh kami tidak hanya Gilman saja. Melainkan, oknum pengurus wilayah dan pejabat rakus. 

Hingga ke meja hijau berbulan-bulan, masih sengketa. Saya ingin turun tangan sendiri untuk menyelesaikan persoalan ini.

Namun, istri mencegah. Doi tahu, kalau saya sudah turun gunung, urusan bisa panjang.

Ya, saya pun coba untuk sabar. Berusaha untuk menguatkannya.

Bagaimanpun, itu rumah peninggalan orang tuanya. Kami, menantu dan anak tentu harus berjuang untuk mendapatkannya kembali.

Meski, prosesnya ga mudah. Sampe istri beberapa kali cuti dari pekerjaannya akibat fokus ke Gilman dan kroninya.

*         *         *

USAI makan malam, saya dan istri berbincang sejenak depan tv. Saat itu, kedua anak kami sudah tidur.

Obrolan ringan yang biasa kami lakukan jelang istirahat. Topiknya, beragam mulai dari drakor dan kpop kesukaan MBG, band, musik, pekerjaan di kantor masing-masing.

Istri cerita, ada saudara jauh, yaitu anak dari sepupu ayahnya siap membantu. Profesinya pengacara ternama yang sering tampil di tv.

Karena masih keluarga, alias kakek yang sama, pengacara itu turut menawarkan tanpa dibayar. Alias pro bono.

Istri pun menolak. Menurutnya, darah ya darah. Namun, ini sudah masuk urusan bisnis. Harus bayar.

Istri bersikeras untuk membayar sesuai tarif karena memang sanggup. Pengacara itu pun mengiyakan.

Usai cerita, kami istirahat ke ranjang. Istri langsung tidur karena seharian lelah di kantor dan pikirannya terganggu akibat sengketa rumah.

Saya belum ngantuk. Iseng nonton dracin yang singkat tapi menghibur. Beda dengan drakor yang episodenya panjang. Sementara untuk kisah seram sekaligus lawak, ada di drathai (Drama Thailand).

Saking serunya hingga ketiduran beberapa jam. Ternyata saya ngantuk juga. Langsung pasang alarm bangun subuh dan cas hape di pinggir kasur.

Tak lupa menutup selimut MBG tersayang yang sedang terlelap.

Namun, alangkah kagetnya pas melihat istri tampak berbeda. Rambutnya memutih...

Ini serius. Doi istri saya. Bukan hantu. 

Wajahnya tidak berubah. Hanya rambutnya yang tadinya hitam kini jadi putih.

Saya mencolek tangan kiri sendiri. Berasa.

Mencubit pipi kanan. Sakit.

Ini bukan mimpi.

Ya Tuhan, hanya dalam semalam rambut istri saya berubah jadi putih.

Sekelebatan saya ingat pada sosok Lian Nichang dalam novel Pek Hoat Mo Lie/Baifa Monü Zhuan, karya Liang Yusheng yang saya baca sejak 1990-an. 

Atau, Maria Antoinette, permaisuri Raja Prancis Louis XVI yang rambutnya memutih akibat frustrasi gagal kabur hingga akhirnya dipenggal.

...

Refleks saya ingin bangunkan istri. Namun, saya urungkan karena ga tega setelah melihatnya terlelap.

Perlahan, jari saya arahkan ke hidungnya. Alhamdulillah, bernafas.

Pun dengan denyut nadi. Normal.

Nyaris saja...

Hufft!

Saya perlahan ke westafel. Cuci muka. Hilang segala kantuk usai menyaksikan perubahan MBG tersayang.

Saya tatap dari kursi di seberang ranjang. Memandang dari dekat.

Bergeming.

Hingga, sinar matahari perlahan masuk ke celah jendela. Saya yang sedang mematung kaget karena istri balik menatap saya.

"Belum tidur?" katanya.

"Udah. Ini baru bangun," jawab saya berbohong yang pasti sudah diketahuinya.

Istri memandangi saya dengan likat. Hingga tersadar saat melihat rambutnya yang terurai. Langsung tarik napas.

Saya memberinya minum untuk menenangkan. Tidak ada perubahan pada wajahnya.

Namun, dari guratannya tidak bisa berbohong bahwa itu merupakan kesedihan yang nyata. Saya merangkul istri. 

Doi pun memeluk saya. Air mata tampak jatuh dari wajahnya. 

Rambutnya yang memutih terurai tidak bisa membuyarkan kecantikannya. Doi merupakan belahan hati saya dalam belasan tahun ini hingga nanti kami dipisahkan Sang Khalik.

Pagi itu jadi saksi sejoli yang sedang menjalani takdir.

Usai seperminuman teh, saat situasi sudah tenang, istri pun cerita. Ternyata, dalam beberapa hari ini doi mendapat teror yang diperlihatkan pada chat di hapenya.

Secara halus hingga brutal. Intinya, untuk "mengikhlaskan" rumahnya kepada para maling.

...

Sambil menyuapi teh manis yang masih hangat kuku, saya menguatkan hatinya. Sebagai suami, saya tentu akan melindunginya.

Saya ga sudi ada pihak yang melukai istri. 

"Tenang aja De," ucap saya perlahan sambil membelai rambut di kening istri yang sudah berhenti nangis. "Aku ga akan 'berada di bawah matahari yang sama' dengan para maling itu  Namun, tenang aja, aku akan bereskan dengan 'penuh kelembutan'!"

Pernyataan tegas yang merupakan reaksi saya sebagai kepala keluarga. Ya, seperti halnya sikap Sun Quan kepada Cao Cao yang ingin menginvasi wilayahnya dalam Sam Kok (Romance of the Three Kingdoms).

Di hadapan istri, saya berusaha untuk mengambil alih rumahnya dari para maling dengan damai meski secara hukum belum ada penyelesaian hingga kini. Namun, di lubuk hati yang daling dalam, saya bersumpah ga akan memaafkan Gilman dan para pencuri. 

Termasuk, ternak, anjing, dan tikus di rumah mereka akan saya sapu. Berapa pun harga yang harus saya bayar.

Kehormatan istri merupakan segalanya bagi pria.

Bersambung***


*         *         *

(Diceritakan ulang oleh suami yang sayang keluarga dengan modifikasi dan editing sewajarnya)

*         *         *

- Jakarta, 29 April 2026


*         *         *

Artikel Selanjutnya:

- Si Pengkor yang Cacat Otak


Kamis, 16 April 2026

Konflik dengan Ojol dan Pria Tanpa Kepala di Basement

Konflik dengan Ojol 

dan Pria Tanpa Kepala di Basement


(POV: AGUS)

GW cuma bisa menghela napas melihat rekan ojek online (ojol) bersandar di pos security. Ya, dia baru aja dapat opik (order fiktif) dari oknum customer laknat.

Orderannya ayam geprek dengan nominal 300 ribu. Ojol itu memperlihatkan orderan dan isi chat ke gw sebagai security di pintu masuk gedung.

Alamatnya benar. Namun, ga ada untuk kantor apa, lantai berapa, unit, atau divisi. 

Jelas, kami ga bisa terima. Apalagi, ini orderan COD alias cash on delivery.

Biasanya, customer langsung yang nemuin ojol untuk ambil makanan atau barang dari kurir paket. Maklum, ini gedung yang diisi banyak kantor. Jadi, lobi dan pos security ga terima titipan apa pun.

Gw lihat chat ojol dengan customer laknat itu lancar. Namun, untuk percakapan terakhir hanya centang dua. Alias, sekadar dibaca saja oleh customer tanpa dibalas.

Ini sudah lebih sepenanakan nasi. Gw kasian sama ojol itu. Namun, ga bisa apa-apa. Secara, customernya ga beri petunjuk kantor, unit, atau lantai berapa.

Ditelepon puluhan kali pun ga diangkat. Kayak ngeledek dan ngerjain, ini mah.

...

Sekilas, gw lihat nama customer sangat agamis. Namun, kelakuan mirip dajjal. 

Ya, bisa jadi, nama palsu. 

Secara, customer bebas pilih nama di aplikasi. Entah itu Ksatria Baja Hitam, Tuxedo Bertopeng, Maria Mercedes, Son Goku, atau Pangeran Hormutz.

Setelah dua jam tanpa kepastian, sebelum pamit ke gw dan tim security yang jaga, ojol itu menghubungi customer service aplikasi. Disarankan untuk diserahkan ke panti asuhan terdekat.

Gw pun memandang ojol dari kejauhan dengan tatapan pilu. Nunggu dua jam, ga tahunya opik dan harus jalan lagi ke panti asuhan.

*        *        *

SEBAGAI security, gw punya hubungan erat dengan ojol. Itu karena setiap hari kami bersinggungan. 

Apalagi, dua ponakan gw juga ojol dan kurir paket. Beberapa rekan kerja juga ada yang nyambi jadi ojol. Baik itu sesama security, OB, hingga level manajemen.

Jadi, gw sangat respek dengan profesi ojol.

Meski, beberapa kali pernah adu bacot. He... He... He...

Salah satunya, pekan lalu gara-gara ojol berhenti di tengah pintu keluar usai nurunin penumpang. Gw udah bilang baik-baik untuk majuan.

Namun, karena siang bolong, mungkin ojol itu ga diterima. Disangkanya, gw mengusir.

Padahal, maksud gw benar. Ada mobil yang akan keluar.

Gw yang sedang menjalankan SOP pun menghampirinya. Dengan baik-baik.

Hanya, entah ada masalah di rumah terbawa ke kerjaan, ojol itu malah teriak-teriak. Nyaris gw kepancing.

Beruntung, ada rekan ojol lainnya yang jaketnya sama turut memisahkan. Membela gw karena memang ada mobil yang mau keluar dari gedung.

...

Ojol itu pun berlalu dengan mengeluarkan kata-kata mutiara dari kebon binatang. Ya, terserah aja. 

Secara, gw cuma memberitahu agar tidak berhenti di pintu keluar.

Insiden itu ga cuma sekali. Namun, gw dan sesama security lain biasanya menanggapi dengan kepala dingin.

Biasanya, ojol dan kurir paket pun respek ke kami sebagai petugas.

Toh, di antara kami sama-sama sedang cari nafkah untuk keluarga.

*        *        *

SELAIN dengan ojol, ada konflik tak kalah serunya yang kerap dialami security. Yaitu, dengan makhluk halus 

Serius.

Entah itu jurik, dedemit, poci, neng kunti, soket, hantu, dan sebangsanya. Jujur, nyaris semua security pasti pernah ngalamin. 

Apalagi, jika dinas malam. Termasuk, gw di tempat kerja dulu di gedung perkantoran pusat kota, sebelum Covid 19.

Ceritanya, gw dan rekan, sebut aja bang SC alias Stone Cold. Secara, beliau perawakannya mirip pegulat WWE, Steve Austin, yang plontos tapi komuknya gahar.

Biasanya, tiap beberapa jam sekali, kami keliling ke gedung parkiran. Khususnya, yang tidak terjangkau CCTV.

Maklum, saat itu ramai pencurian spion mobil. Apalagi, jika jenis sedan yang jadi incaran empuk para pencoleng.

Juga pernah ada kasus mobil goyang. Pas dicek ada yang lagi indehoy. Hadeuh!

Punya mobil tapi ga mampu sewa hotel. Mana viral lagi. Untung karena faktor U, sebut aja UANG jadi "bisa diselesaikan dengan baik-baik".

...

Gw inget betul. Saat itu, malam Selasa kliwon. Cuaca di luar rinai. Pandemi pula. Udah ketahuan sepinya gimana.

Namun, ada beberapa pegawai *** yang masih meeting. Mobilnya pada parkir rapi di basement.

Gw dan Stone Cold pun patroli. Berdua. Sebab, untuk memudahkan jika terjadi apa-apa ketimbang sendirian di area yang lumayan luas ini.

Btw, bang SC yang karakternya di industri gulat hiburan berani lawan bos seperti Vince McMahon, Triple H, hingga The Undertaker. Di kalangan tim security, beliau ini dikenal pemberani.

Jangankan makhluk halus, bahkan ormas paling menyeramkan pun disikat saat ketahuan kasih proposal bukber. 

Alasannya untuk donasi anak yatim. Faktanya, buat mabok dan judol. Sial! 

Latar belakang bang SC emang keturunan jawara tapi orangnya sangat baik, rendah hati, suka menolong, dan rajin menabung.

"Kuping gw kayak ada yang niup," kata bang SC sebelum patroli rutin.

"Neng Kunti di pojokan kali bang," jawab gw asal.

Maklum, gedung ini dulunya dibangun di atas pemakaman. Jadi, hal-hal di luar nalar udah jadi santapan sehari-hari bagi kami.

"Eh biji kedondong. Asal jeblak aje lo. Mau didatengin si eneng kunti di pojokan kayak yang ditemuin si Rojali pas takbiran?"

"Ogah bang. Makasih deh."

"Ha... Ha..." Bang SC tertawa puas meledek gw. "Kita mau ke basement dulu atau parkiran atas?"

"Terserah lo bang, senior. Gw mah ikut."

"Lantai *** dulu aja kali ya baru basement. Biar ga bolak-balik. Apalagi, cuacanya gerimis gini. Kalo udah selesai kita pesan nasi uduk di Mpok Gayong."

"86 'Dan'!"

*        *        *

SEPEMBAKARAN hio berlalu saat kami keliling di lantai atas. Ga ada yang aneh. 

Kami pun menuju basement. Parkiran ini biasa untuk supplier yang akses keluar masuknya cukup mudah bagi mobil ukuran besar, bak, maupun box.

Seklias, ga ada yang aneh. Gw pake senter keliling ditemani bang SC sambil bersiul ala Axl Rose saat menyanyikan Patience.

Tiba-tiba senandungnya berhenti. 

"Gus, coba lo senter itu orang," kata bang SC.

Gw refleks menyorot orang nunduk sambil bersandar seperti mau kencing ke mobil di ujung parkiran dengan membelakangi kami. Gw pikir mabuk.

Udah ga aneh di kawasan ini. Meski pandemi, mabok dan party merupakan harga mati bagi sebagian pegawai elite.

Tiba-tiba angin bertiup kencang. Belakang telinga gw kayak ada yang niup.

Bulu kuduk gw pun berdiri.

Spontan gw lirik bang SC. Eh, dia pun sama. Kami saling tatap kayak di sinetron remaja. 

Etapi ga aneh-aneh, secara gw dan bang SC, normal. Kami cowo tulen dan masing-masing udah punya anak, njir!

Pas menoleh, pria di mobil itu menghampiri kami.

Anjing!

Ga ada kepalanya!

Demi apa pun itu, ini kali pertama gw lihat penampakan. Namun, ini nyata.

Jalannya diseret kayak zombie. Perlahan.

Hingga berjarak dua tombak, terlihat jelas.

Sekilas mengingatkan gw pada film Pengabdi Setan yang rilis dua tahun sebelum gw lahir.

Tapi ini nyata.

Ga ada kepala.

Woi, orang ini ga ada kepala. Bukan sulap bukan sihir. Cuma badan, kaki, tangan, dan leher sambil jalan mendatangi kami.

Gw yang agnostik seketika langsung ingat Tuhan. Refleks baca-baca doa pengusir setan.

Bang SC? Tampak tenang dengan membaca doa yang gw tahu Ayat Kursi.

Bulir-bulir keringat sebesar jagung menetes di dahi bang SC. Namun, gw kagum karena dia tetap tenang.

Beda sama gw yang mandi keringat. Gemeteran. Sumpah.

...

Anjir, pria itu lehernya dibelatungin. Tanpa kepala woi.

Srek... Srek... Srek...

Dia lewat depan kami. 

Eh, berhenti.

Gw mau kabur ga bisa. Tangan gw kaku. Apalagi kaki, kayak mati rasa. 

Mulut mau muntah saking baunya tuh makhluk. Anjir banget.

Baru kali ini -setelah sekian lama- gw inget Tuhan. Berharap makhluk tanpa kepala itu segera pergi.

Sumpah, biasanya gw ga takut hantu. Secara, gw lebih takut bokek alias ga punya duit. 

Sebab, MBG alias My Bini Gw bisa ngamuk kalo gajian ga gw setorin full. Maklum, gw punya dua bocah yang sedang masa pertumbuhan dengan hobi jajan.

Namun, ini setan tanpa kelapa sumpah sungguh menyeramkan. Di batang lehernya uget-ugetan belatung.

Baunya?

Jangan ditanya.

Meski ga sebau jempol kuku kaki kanan yang gw sering korek dan cium. Alamak, sedapnya!

*        *        *

"KITA beda alam. Jika ada urusan duniawi yang belum diselesaikan, silakan lakukan saja," ujar bang SC di samping makhluk itu. "Kami berdua sedang patroli menjalankan kewajiban untuk mencari nafkah. Nafsi-nafsi ya..."

Gw yang dengar aja gemeteran. Padahal, gw waktu muda ga takut ngadepin bajingan sekalipun. Termasuk, kang parkir liar, ormas, hingga warlok yang minta jatah reman.

Namun, di hadapan makhluk tanpa kepala ini, gw seperti pengecut. Boro-boro mau melawan dengan nonjok atau tendangan berputar mengingat gw punya basic Muaythai.

Lah, ini kaki dan tangan gw aja kaku. Andai ga ada bang SC, mungkin gw udah sipat kuping atau bahkan, pingsan kali.

Makhluk tanpa kelapa itu seperti mengangguk usai mendengar penuturan bang SC. Tak lama setelah berhenti di hadapan kami, lanjut melangkah ke pintu keluar.

Gw melihat secara nyata. Ini bukan mimpi.

Juga bukan tipuan trik semata. Apalagi, AI murahan.

Dari suara langkah kakinya, bau, hawa suram, itu memang nyata.

Gw bahkan masih menyaksikan makhluk itu belok ke lorong yang di atasnya banyak CCTV. Sementara, gw bergeming terpaku hingga bang SC menyadarkan.

"Udah, ga apa-apa. Doi cuma numpang lewat. Kebetulan berpapasan dengan kita. Yuk Gus, kita ke pos," tutur bang SC sambil memencet pundak gw dengan keras biar sadar.

Dengan sisa-sisa tenaga yang masih lunglai gw pun bergegas mengikuti bang SC. Pas di tikungan, gw penasaran menoleh.

...

*        *        *

(Diceritakan ulang dari security yang ngaku wajahnya mirip Tao Ming Se)


*        *        *


Jakarta, 16 April 2026


Senin, 13 April 2026

Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat

Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat


(POV Mama Lisa)

ALHAMDULILLAH mudik tahun ini berlangsung sukses. Ya, gw bersama misua -anagram dari suami- dan kedua anak merayakan Idul Fitri 1447 H di timur ibu kota.

Tepatnya, di kampung halaman misua yang identik dengan kuliner berkuah nan khas. Kami menginap di rumah mertua selama delapan hari.

Menikmati eksotisnya alam dan suasana segar minim polusi ketimbang di Jakarta. Saking nyamannya, selama sepekan ini badan gw jadi melar.

Habisnya, tiap hari cuma makan, main dengan dua bocah di air terjun, mandi di sungai, keliling pematang, balik makan lagi, dan tidur.

Banyak cerita menarik di tempat kelahiran My Misua. Apalagi, ini kali pertama kami mudik dalam tiga tahun terakhir.

Sebab, 2024 justru mertua yang mendatangi kami. Katanya, "kangen cucu".

Padahal, kami udah siap-siap berangkat. Namun, semalam sebelumnya, umi -panggilan kepada ibu mertua- bilang bersama abi justru mau ke Jakarta.

Tahun kemarin kami juga tidak pulkam. Secara, mertua umrah jelang lebaran.

Jadi, betapa senangnya My Misua waktu tiba di kampung halamannya setelah dua tahun absen. Meski udah dewasa, namanya laki ya kelakuannya kayak bocah.

Main kelereng bareng anak-anak kecil. Ikutan Galasin. Kejar layangan. Hingga kecemplung di pematang sawah akibat sok-sokan balap egrang.

Sontak, pakaianya berlumur lumpur semua bersama beberapa teman masa kecil -kini udah setengah baya- dan anak-anak. Namun, justru itu kebahagian My Misua yang terpancar sangat girang.

Gw dan kedua bocah pun antusias mengiringi My Misua. Pokoknya, di kampung itu, kami benar-benar kayak makhluk tanpa beban.

Hepi terus bawaanya.

*         *         *


HUKUM Karma.

Demikian celetuk gw saat suami cerita eks pejabat daerah di kampung sebelah. Sosok yang dulu "berkuasa dan bergelimang uang" kini terbujur di ranjang kayu.

Tiap hari berharap belas kasihan orang lain. Beruntung ada saudara jauh yang masih setia merawatnya.

Itu karena sedikit kebaikan dari sang pejabat saat berkuasa dulu.

Mirip yang dilakukan Penasihat Dinasti Han, Cai Yong yang menangisi mayat Perdana Menteri Dong Zhuo nan lalim dalam Romance of the Three Kingdoms.

Gw yang dengar ceritera dari suami sampe menghela nafas. Kok ada ya, orang seperti pejabat itu.

Awalnya My Misua main ke tempat teman masa kecil di kampung sebelah. Nah, saat nongki-nongki itu, salah satu sohibnya cerita kalo tidak jauh dari lokasi ada rumah eks pejabat X.

Dulunya, pejabat itu yang juga kerap dijuluki -raja kecil- sangat berkuasa. 

Zalim.

Menginjak hak masyarakat.

Tukang serobot tanah warga.

Memupuk kekayaan sendiri sementara lingkungan diabaikan. Termasuk, jalan rusak ga peduli.

Dibenci anak buah akibat kikir.

Paket lengkap deh.

...

Nah, ga lama usai jabatannya habis, tiba-tiba Mr X jatuh dari tangga. Diagnosis medis menyatakan stroke.

Uang simpanannya yang menggunung pun akhirnya tersedot. Baik untuk pengobatan medis maupun alternatif.

Hingga sekarang belum sembuh.

Warga sekitar menyebut kena hukum karma. Akibat disumpahin masyarakat yang menderita saat Mr X masih menjabat.

Setelah bertahun-tahun berobat tanpa hasil dengan biaya yang besar, akhirnya Mr X pun jatuh miskin. Rumah besar, kontrakan, sawah, kebun, mobil, hingga motor dijual.

Dari sini karma kian kencang.

Sebab, istrinya terpincut berondong asal kota sebelah. Kabur dengan bawa perhiasan dan sisa harta.

Selentingan kabar mengatakan, istrinya ogah mengurus suami ga berguna.

Anak sulungnya yang perempuan, pun 11/12 dengan sang ibu. Kabur dari rumah usai digerebek bersama laki orang hingga viral di medsos.

Putra bungsu? Jadi homo. Alias gay.

Itu akibat tekanan mental dibully warga yang dulunya tertindas. Dunia berbalik 180 derajat. 

...

Kini, sekeluarga harus siap merasakan karma. Dulunya, mereka hidup bermewah-mewahan.

Orang pertama di kawasan itu yang punya parabola. Rumah besar. Sawah berhektar-hektar.

Namun, dibalik gemerlap mereka, banyak sisi negatif. Menjijikan kalo kata warga sekitar.

Asisten rumah tangga (ART) banyak yang digaji minim. Bahkan, seikhlasnya. Padahal kerja rutin. 

...

Suka menyerobot tanah tetangga. Mengandalkan ormas yang bisa dibayar, Mr X enteng aja mematok lahan warga.

Pokoknya, banyak hal negatif dari Mr X yang kalo dibuat buku bisa berjilid-jilid.

Bukti, bahwa karma itu berlaku. 


*         *         *


(Diceritakan ulang dari IRT yang anaknya penggemar Blackpink dengan editing sewajarnya)


- Jakarta, 13 April 2026

Jumat, 10 April 2026

Yuk, Ikut Majukan UMKM lewat Artikel di Blog

Yuk, Ikut Majukan UMKM lewat Artikel di Blog

Saya ikut praktek mengisi kulit telur di
pinggir bingkai 
(Foto: Dok.Pribadi/@roelly87)



LEBIH dulu mana, telur atau ayam?


Demikian anekdot sejak zaman baheula hingga kini yang masih jadi tanda tanya. 


Kalo ditanyakan ke saya, jelas. Jawabannya simpel: Ga peduli, siapa lebih dulu, yang jelas baik telur atau ayam merupakan menu favorit saya.


Telur bisa dibuat jadi dadar, ceplok, bulat, pindang, mata sapi, balado, dan lain-lain.


Sementara, ayam bisa digoreng, bakar, panggang, tepungin, geprek, tumbuk, rica-rica, suir, dan sebagainya.


Namun, artikel ini bukan membahas tentang senioritas antara telur dan ayam.  

 

*        *        *


LIMBAH telur jadi karya seni. Wow, keren!


Saya pun berdecak kagum usai mengetahuinya lebih lanjut. Tepatnya, saat menghadiri Halal Bihalal Bersama Pewarta yang diselenggarakan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), di resto kawasan Cikini, Jakarta Pusat, kemarin (9/4).


Ya, event yang berlangsung Kamis pagi itu dihadiri media, content creator (termasuk bloger seperti saya), Keluarga Besar YDBA, dan Teguh Joko Dwiyono selaku pemilik Wayang Art. Yaitu, UMKM binaan YDBA yang bergerak di bidang kerajinan tangan dengan salah satunya memanfaatkan limbah kulit telur.


Eh serius? Cangkang telur yang bagi masyarakat awam seperti saya tidak berguna justru berhasii dimanfaatkan Teguh sebagai karya yang memiliki komersial tinggi.


"Awalnya, ini ga sengaja," kata Teguh yang penampilannya sekilas mengingatkan saya pada almarhum Gombloh.


"Istri lagi masak nasi goreng. Kan pakai telur. Nah, cangkangnya jatuh. Ga sengaja saya injak. Saat itu, saya pandangi pecahan kulit telurnya kok indah banget. Ada nilai seninya."


Teguh mengingat, kejadiannya pada 1995. Namun, dia ga langsung menjadikannya produk. Butuh proses.


Berlatar seniman, Teguh pun mengakui tidak mudah dalam mengembangkan usahanya. Pria 70 tahun itu terus belajar hingga kini demi memasarkan produknya.


"Saya sempat mengalami krisis, bahkan bangkrut. Untungnya, dibina YDBA. Alhamdulillah, banyak mendapat ilmu yang ditularkan," Teguh, mengungkapkan disela-sela 'praktek' yang kami lakukan langsung dengan kulit telur.


Ya, YDBA memang rutin menggandeng para pelaku usaha di Tanah Air. Termasuk, pada level UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang sedang berkembang.


Beberapa sudah saya ulas di blog ini sejak kali perdana kenal YDBA pada 2016 silam. Mulai dari berangkatkan mitra UMKM ke Jepang (https://www.roelly87.com/2017/09/berangkatkan-22-umkm-ke-jepang-ydba.html) hingga mengajak UMKM untuk berpartisipasi di Asian Games 2018.


Kebetulan, saat itu Indonesia jadi tuan rumah. Astra sebagai sponsor utama turut menggandeng berbagai yayasan termasuk YDBA dan mitra UMKM untuk mensukseskan event akbar tersebut (https://www.roelly87.com/2017/12/astra-sponsori-asian-games-2018.html).


Sebagai bloger, dalam satu dekade ini, saya cukup rutin untuk ikut dalam berbagai acara Astra dan YDBA. Terakhir, pekan lalu (https://www.roelly87.com/2026/04/satu-indonesia-awards-2026-dan.html).


Nah, terkait UMKM, dalam halal bihalal itu, YDBA mengajak masyarakat untuk ikut kompetisi. Tepatnya, dalam Apresiasi Yayasan Astra untuk Pewarta 2026 (#AYukPewarta2026).


Temanya menarik: Bersinergi Untuk Masa Depan Lintas Generasi UMKM Indonesia.


Btw, ada enam kategori yang bisa diikuti dengan hadiah jutaan rupiah plus produk UMKM binaan YDBA. Wow!


1. Pemberitaan Foto Terbaik

2. Pemberitaan Artikel Terbaik

3. Reels Terbaik

4. Konten Blog Terbaik

5. Pewarta dengan Pemberitaan Foto Terbanyak

6. Pewarta dengan Pemberitaan Artikel Terbanyak


Kalo saya sih jelas ingin ikut yang konten blog. Maklum, saya kan bloger. 


Kebetulan durasinya cukup panjang. Jadi, saya, Anda, kalian, dan kita semua punya banyak waktu untuk mengumpulkan bahan.


- Periode Kompetisi: 9 April - 30 September

- Penjurian internal YDBA: 1-5 Oktober

- Penjurian Dewan Juri: 12-16 Oktober

- Pengumuman Pemenang: 6 November


Btw, artikel atau konten terkait kontribusi YDBA dalam membina UMKM di Tanah Air. Selain Teguh dengan limbah telur, banyak yang bisa diulas dari mitra UMKM pada daftar ini: https://bit.ly/umkmbinaanYDBA26.


Nah, sebagai epilog, mari kita ramaikan #AYukPewarta2026 dengan mengulas lebih dalam kemajuan para pelaku UMKM di penjuru nusantara yang mendapat binaan dari YDBA!

Berbagi inspirasi dari pelaku UMKM
binaan YDBA kepada media dan bloger



*        *        *


- Jakarta, 10 April 2206

*        *        *


Rabu, 01 April 2026

SATU Indonesia Awards 2026 dan Tantangan Bagi Generasi Muda

 SATU Indonesia Awards 2026 dan Tantangan Bagi Generasi Muda


Kick Off SATU Indonesia Awards 2026
(Foto: Dok.Pribadi/@roelly87)



17 tahun merupakan fase bersejarah bagi setiap insan. Tepatnya, saat manusia beranjak dari remaja menuju dewasa.

Itu mengapa, usia ke-17 jadi titik tolak mayoritas individu dalam menghadapi kerasnya kehidupan.

Di sisi lain, bagi perusahaan, lembaga, yayasan, dan sejenisnya, bisa memasuki usia ke-17 jadi bukti konsistensi. Bahwa, mereka sudah mampu melewati pahit, asam, dan manis kehidupan untuk memasuki fase berikutnya.

Tidak mudah untuk mencapai ke arah sana yang tentu jalannya berliku. Itu yang dilakukan PT. Astra International Tbk yang rutin menyelenggarakan penghargaan untuk putra-putri terbaik bangsa.

Tepatnya, lewat Semangat Astra Untuk (SATU) Indonesia Awards. Ya, tahun ini merupakan edisi ke-17 dengan tajuk: Terhubung dalam Aksi.

Edisi perdana Satu Indonesia Awards berlangsung pada 2010. Sejak saat itu, Astra rutin menyelenggarakan event yang merangsang kreativitas putra-putri terbaik bangsa.

Termasuk, ketika pandemi Covid 19. Menurut saya, itu jadi oase bagi para generasi muda untuk menularkan inspirasinya di tengah keadaan yang terbatas.

Kini, setelah pandemi berlalu dan kehidupan mulai membaik, Astra kembali menantang generasi muda lewat Satu Indonesia Awards 2026.

"Kami terus mendorong setiap inisatif untuk tidak berhenti sekadar di ide saja. (Melainkan) terus dikembangkan dan diimplementasikan secara berkelanjutan. Termasuk, menjangkau masyarakat hingga ke pelosok penjuru," kata Chief of Corporate Affairs Astra Boy Kelana Soebroto saat Kick-off SATU Indonesia Awards 2026 di Menara Astra, Jakarta Pusat, Rabu (1/4).

"Kami percaya, pada akhirnya perubahan yang berkelanjutan lahir dari aksi yang saling terhubung dan diperkuat bersama untuk hari ini dan masa depan Indonesia.”

Tema SATU Indonesia Awards 2026 ini bagi saya sangat menarik. Sebagai ojek online (ojol) yang hobi ngeblog, narasi "Terhubung dalam Aksi" ini merupakan tantangan bagi generasi muda, baik individu maupun kelompok.

Untuk info lebih lengkapnya, bisa dibuka link ini: https://satuindonesiaawards.astra.co.id.


*          *          *


"SUATU kehormatan bagi saya jadi pengamat dan menyaksikan bagaimana langkah kecil yang dibuat anak muda yang sangat peduli untuk melakukan sesuatu yang punya dampak kepada masyarakat sekitar," tutur Dian Sastrowardoyo dalam sambutannya sebagai juri.

Aktris sekaligus pegiat seni ini memang aktif mengamati ribuan peserta SATU Indonesia Awards. Dimulai sejak 2019 ketika jadi juri tamu.

"Mungkin langkah-langkah ini (para peserta) memang awalnya kecil. Namun, ini bisa tumbuh secara signifikan. Bahkan bisa menginspirasi orang lebih banyak lagi untuk melakukan hal yang sama," Dian, menambahkan.

Ya, dalam SATU Indonesia Awards 2026 ini, mendorong para penerima apresiasi untuk berperan sebagai "local champions". Sehingga, inisiatif yang lahir dari para penggerak perubahan dapat memberikan dampak sosial yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Astra juga memperkuat kolaborasi integrasi antara dua program kontribusi sosial unggulannya, yaitu SATU Indonesia Awards dan Desa Sejahtera Astra. 

Berdasarkan data resmi, hingga kini, SATU Indonesia Awards telah melahirkan 792 generasi muda inspiratif yang berkontribusi di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi. 

Sementara itu, Desa Sejahtera Astra telah membina 1.533 desa yang tersebar di 35 provinsi di Indonesia.

Dalam artikel yang saya tulis tahun lalu (https://www.roelly87.com/2025/03/satu-indonesia-awards-2025-dan-misi.html), yang daftar mencapai 17.708 peserta. Melonjak drastis dari edisi perdana pada 2010 yang berkisar 120 saja.

Tahun ini, turut hadir penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2013 bidang wirausaha, Rizki Dwi Rahmawan. Pria asal Banyumas ini juga membagikan tips bagi calon peserta.

Menurutnya, jika peserta berhasil meraih apresiasi di SATU Indonesia Awards 2026 ini bukan sekadar "menang" saja. Melainkan, jadi langkah awal untuk bisa berkontribusi kepada khalayak ramai.

Itu diungkapkan Rizki yang sukses memberdayakan para penderes. Yaitu penyadap pohon kelapa atau nira. Rizki terjun langsung bersama petani dalam mengolah nira di Desa Kemawi yang kini telah melebarkan pasar sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi warga setempat.

Nah, SATU Indonesia Awards 2026 kini akan memunculkan Rizki-Rizki baru yang bermanfaat bagi sesama.***


*          *          *


- Jakarta, 1 April 2026


 

Rabu, 25 Maret 2026

Menanti CLBK Grup Djarum-PBSI di Polytron Indonesia Open 2026

Menanti CLBK Grup Djarum-PBSI di Polytron Indonesia Open 2026


Ilustrasi ganda putra Mohammad Ahsan/
Kevin Sanjaya Sukamuljo
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)



INDONESIA kehilangan salah satu putra terbaiknya pada 19 Maret lalu. Tepatnya, saat Michael Bambang Hartono meninggal dunia. 


Peraih medali perunggu Asian Games 2018 ini dikenal dengan kecintaannya pada dunia olahraga. Bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, merupakan pemilik Grup Djarum.


Korporasi yang dulu identik dengan rokok. Seiring waktu berjalan, Djarum melakukan diversifikasi usaha di berbagai bidang.


Misal, keuangan dengan Bank Central Asia (BCA), media (Kaskus dan Mola), elektronik (Polytron), marketplace (Blibli), dan sebagainya.


Di dunia olahraga, melalui Djarum Foundation (PB Djarum) identik dengan bulu tangkis. Saya, Anda, kalian, dan kita semua pasti tidak asing dengan nama-nama atlet yang mengharumkan Indonesia di kancah dunia ini.


Mulai dari Liem Swie King, Alan Budikusuma, Hariyanto Arbi, Yuni Kartika, Ivana Lie, hingga Kevin Sanjaya Sukamuljo.


Bahkan, 2019 lalu, Hartono Bersaudara ekspansi ke Negeri Piza. Tepatnya, dengan membeli Como 1907.


Dengan tangan dingin mereka, akhirnya klub yang dulu berkubang di kasta terbawah sepak bola Italia itu menjelma jadi raksasa. Terbukti, hingga giornata ke-30, Como kokoh di peringkat empat klasemen Serie A 2025/26!


Klub yang dilatih Cesc Fabregas itu sukses mengekor FC Internazionale, AC Milan, dan Napoli. Como juga unggul tiga poin dari Juventus yang tertahan di posisi lima.


Sebagai Juventini garis lembut, saya berasa ironis sih. Raksasa Italia itu bahkan harus rela dikecundangi Como dua kali musim ini. Juve takluk dengan skor 0-2 di kandang sendiri pada 21 Februari lalu dan di markas Como (19/10).


Meski ga rela melihat klub favorit saya jadi badut di hadapan Como, tapi saya tidak terlalu kecewa. Sebab, itu membuktikan Como berada di tangan yang tepat di bawah naungan Djarum.


Saya enggan overproud hanya karena pemilik Como asal Indonesia. Namun, fakta bahwa Como bisa masuk empat besar Serie A dan berpeluang tampil di Eropa musim depan, memang tak terbantahkan.


Ya, selain QRIS, ternyata masih ada yang dibanggakan dari Indonesia di mata dunia.


*         *         *


CINTA Lama Bersemi Kembali alias CLBK. Ya, kisah romantisasi antara dua pihak yang pernah terikat tapi terhalang jurang nan dalam.


Namun, kali ini kita tidak membicarakan tentang ceritera sejoli. Melainkan, antara Djarum dengan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).


Ya, sejak pisah akibat kontraknya selesai pada 31 September 2020, pencinta bulu tangkis di Tanah Air merasa seperti "ada yang hilang". 


Termasuk, saya yang turut merasakan heningnya atmosfer turnamen bulu tangkis di Indonesia. Khususnya, yang prestisius seperti Indonesia Open.


(Artikel Terkait: https://www.roelly87.com/2024/06/indonesia-open-2024-sepi-kok-bisa.html)


Nah, menyambut Indonesia Open 2026, Djarum pun turun gunung. Mereka kembali akan mensponsori turnamen elite Super 1000 ini yang setara dengan All England, China Open, dan Malaysia Open.


Tepatnya, lewat anak usaha Polytron. Ya, turnamen yang bakal digelar 2-7 Juni mendatang itu bakal bertajuk Polytron Indonesia Open 2026.


Ini kali perdana Grup Djarum jadi sponsor Indonesia Open sejak pandemi. Untuk 2020 tidak diselenggarakan akibat wabah Covid 19.


Sebelumnya, mereka aktif berkolaborasi dengan PBSI lewat Djarum Indonesia Open pada 2004-2013, BCA (2014-2017), dan Blibli (2018-2019).


Hanya, kerja sama itu buyar sejak akhir 2020. Itu seiring dengan pergantian pengurus baru PBSI.


Entah ada korelasinya atau tidak, sejak saat itu hingga kini, hanya sekali wakil Merah-Putih juara. Tepatnya, saat Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon mengalahkan ganda putra Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi pada Indonesia Open 2021.


Sementara, pada 2022 hingga 2025 lalu, nirgelar. Alias, kita harus puas jadi penonton di rumah sendiri saat atlet luar berpesta.


Saya pribadi, berharap dengan CLBK Djarum-PBSI bisa mengembalikan prestasi di Polytron Indonesia Open 2026.


Berharap itu wajar. 


Di sisi lain, sebagai makhluk logis, saya juga harus realistis dengan tidak memasang ekspektasi yang berlebihan. Pasalnya, belum tentu dengan masuknya Djarum lewat Polytron di Indonesia Open 2026 ini bisa memberi gelar.


Ga ada jaminan.


Serius!


Faktanya, dalam 16 edisi Djarum dan anak usah jadi sponsor utama Indonesia Open (2004-2019), ada tujuh kali nirgelar dari wakil Merah-Putih.


Itu terjadi pada Indonesia Open 2007, 2009, 2010, 2011, 2014, 2015, dan 2016.


Jadi, kita sebagai penggemar tepok bulu pun wajib menapak tanah. Romantisasi Grup Djarum-PBSI bukan berarti mendatangkan tsunami gelar.


Namun, setidaknya memberi secercah harapan.


Ya, bisa dilihat di media sosial saat info Djarum kembali kolaborasi dengan PBSI lewat Polytron Indonesia Open 2026 disambut antusiasme warganet. Khususnya, BL alias Badminton Lovers.


Sebagai penggemar, saya hanya bisa mendukung para atlet yang berjuang di Polytron Indonesia Open 2026 untuk mengakhiri paceklik sejak 2021. 


Apa pun hasilnya kita terima, secara, semua pihak tentu sudah berusaha mempersembahkan yang terbaik. Baik Atlet, PBSI, dan Grup Djarum.


Eaa... Eaa... Eaa!


*         *         *


Sumber: 


- https://bwfworldtour.bwfbadminton.com/tournament/5528/polytron-indonesia-open-2026/overview/


- https://money.kompas.com/read/2015/04/10/113200826/Ini.Bisnis.Sampingan.Grup.Djarum.di.Luar.Rokok


- https://m.kumparan.com/amp/kumparansport/djarum-foundation-akan-dukung-indonesia-open-2026-and-ajang-bergengsi-lain-25tO2AMFH03


- https://www.kompas.com/badminton/read/2020/12/17/16392808/kerja-sama-dengan-pbsi-berakhir-djarum-tetap-sokong-bulu-tangkis?page=all



*         *         *


- Jakarta, 25 Maret 2025

Senin, 16 Maret 2026

Nelangsa Pekerja Malam Saat Ramadan

Nelangsa Pekerja Malam Saat Ramadan


(POV: Miss G)


HAI, gw Miss G. Huruf ke tujuh dalam alfabet itu merupakan inisial nama asli gw.


Ya, bisa Gadis, Gladys, Gina, Gince, Gani, Gunawan...


Eh, yang terakhir itu nama cowo. Gw kan cewe, hehehe.


Namun, kalian juga bisa manggil gw Agni. Dalam bahasa sanskerta disebut api. 


Pun demikian dalam kisah wayang atau Mahabharata, Agni merupakan Dewa Api. 


Sebagaimana air yang bisa membuat perahu berlayar tapi juga dapat menenggelamkannya. Begitu juga dengan api yang merupakan sumber kehidupan sekaligus kematian.


Ingat pembakaran Hutan Khandava oleh Agni? Peristiwa itu nyaris membuat Raja Dewa Indra dengan tega membunuh dua makhluk utama, Arjuna dan Kresna.


Nama pertama bisa dibilang "anak biologis" Indra hasil hubungannya dengan Kunti secara niyoga. Sementara, Kresna merupakan awatara Dewa Wisnu, sang pemelihara alam.


Hanya, akibat keinginan Agni untuk melahap Hutan Khandava menyebabkan Arjuna dan Kresna nyaris dilenyapkan Indra jelang Bharatayuda.


Yes! Panggil gw Miss G atau Agni.


Cukup sekian dan terima gaji!



*       *       *


MAYORITAS umat muslim sangat bersedih ketika tahu Ramadan akan pergi. Namun, gw termasuk sedikit yang justru senang.


Ya, saat ini udah masuk sepertiga Ramadan. Alias, kurang dari sepekan lagi Idul Fitri.


Bukannya gw ga menghargai bulan suci ini. Namun, jujur aja gw benar-benar mengharapkan Ramadan cepat berlalu.


Alasannya sederhana. Gw kerja di dunia malam.


Asal kalian tahu, pembaca artikel ini yang budiman. Sepanjang Ramadan, tempat kerja gw di Red District Jakarta Barat full ditutup.


Gw sedih.


Secara, gw ga bisa nafkahin keluarga.


Bukan cuma gw. Rekan seprofesi juga pada nganggur.


Termasuk LC, dancer, bartender, kasir, security, dan sebagainya. Selama sebulan ini, mereka ga dapat pemasukan.


Itu akibat peraturan pemerintah yang melarang tempat hiburan malam beroperasi sepanjang Ramadan. Niatnya mulia, untuk menghormati bulan suci.


Hanya, efek dominonya terasa. Kami, maksudnya gw dan pekerja malam, ga punya pemasukan untuk menyambut lebaran.


Gw pribadi ga punya keahlian. Mau kerja apa?


Zaman sekarang kan anomali. Jangankan yang halal, yang haram aja susah!


Untung gw masih punya sedikit tabungan sebagai mitigasi yang udah gw lakukan sejak pandemi. Juga memiliki hubungan dekat dengan pejabat daerah yang kami juluki raja-raja kecil.


Mereka ini kerap mengirim angpao untuk menambah kebutuhan sehari-hari gw dan keluarga.


Alhamdulillah, rezeki anak sholeh...


*       *       *


HANYA, ga semua pekerja malam beruntung seperti gw.


Btw, ga usah nanya gw kerjanya apaan ya. Juga, jangan nebak gw sebagai LC, dancer, dll.


Yang pasti, gw kerja di dunia malam. Tepatnya, di tempat hiburan yang kerap dijuluki sekeping kenikmatan bagi kaum pria.


Hanya, lokasinya dekat pemukiman penduduk yang sangat padat. Itu mengapa, tempat kerja gw ditutup full selama bulan suci.


Beda cerita jika lokasinya tidak berdampingan dengan warga seperti yang dimiliki kakak bos gw. Di sana, aman sentosa ga bakal dirazia.


Bahkan, bila ada pengunjung yang datang Jumat sore bisa bebas pulang Senin pagi.


Atau, milik sepupu bos gw yang lokasinya di hotel bintang empat. Masih bisa beroperasi karena sesuai peraturan.


Memang, bos gw sempat punya niat untuk buka. Ya, kucing-kucingan lah dengan aparat.


Toh, di dunia yang abu-abu ini, dengan uang bisa lebih mudah. Tinggal setor ke "kepala", wasit, ormas, dan pemilik wilayah, sudah dipastikan 99% tempat usaha kami beroperasi.


Namun, niat itu diurungkan. Sebab, bos gw memiliki ipar di pemerintahan dan besan calon dewan 2029.


Tentu, mereka sudah memberi sinyal agar bos gw sementara mengerem. Bos gw yang gw tahu dulunya bandit tanpa ampun yang biasa membunuh orang tanpa berkedip layaknya Cao Cao dalam Sam Kok, ternyata masih punya liangsim.


Bos pun benar-benar tutup total usahanya. Sebab, jika memaksa buka yang berujung diketahui publik hingga viral, bakal membuat susah ipar dan besannya.


H-5 Ramadan sebelum pengumuman resmi pemerintah, bos memberi seluruh karyawannya uang saku yang dianggap cukup untuk pengganti libur. 


Nominalnya setara UMR.


Sayangnya, kami yang biasa kerja di dunia malam, sudah terlena mendapatkan uang melimpah dengan mudah. Alhasil, uang saku dari bos justru banyak yang sudah habis saat awal Ramadan.


Termasuk, gw yang biasa mengandalkan tip dari tamu. Khususnya, saat raja-raja kecil datang.


He he he...


Nah, seperti yang gw utarain di awal, ga semua karyawan beruntung kayak gw yang punya hubungan dengan raja-raja kecil itu.


Alhasil, mereka lintang pukang dalam menyambut Ramadan 1447 H ini. Sebisa mungkin beberapa kali gw bantu mereka dengan membelikan makanan untuk sahur atau buka.


Atau, ada yang anaknya nangis minta baju lebaran. Kalo harganya masih masuk akal, gw bantu belikan online.


Sedihnya, karena gw dan beberapa teman yang beruntung ga bisa terus-terusan kasih mereka. Maklum, kami terkendala keterbatasan dana.


Alhasil, beberapa ada yang kembali nyebur. Padahal, gw dan mereka sebelumnya udah lama kering.


Baik itu "jualan langsung", via agen, atau aplikasi BO.


Sedih sih. 


Namun, ya mau gimana lagi. Gw memahami tindakan mereka.


Toh, orang yang hanyut di sungai akan meraih apa saja benda yang lewat di depannya. Jangankan batang pohon atau dahan, bahkan rumput pun bakal dipegangnya.


Sebenarnya, masih banyak yang mau gw ceritain. Hanya, karena satu dan hal lain, gw sudahi cukup sampai di sini.


Mungkin, jika situasi sudah kondusif, gw bakal ceritera panjang lebar. Termasuk, tentang raja-raja kecil yang royal dan menggemaskan itu.


Selamat Idul Fitri 1447 H.

Salam dari kami, kelompok marjinal yang kerap terlupakan.***



*       *       *


- Jakarta, 16 Maret 2026





Jumat, 13 Maret 2026

Mengetuk Pintu Langit


POLA macet di Jakarta dan mayoritas kota Indonesia lainnya kemungkinan berubah saat Ramadan. Pada hari-hari biasa, jalanan padat sejak pukul 16.00 WIB hingga 20.00 WIB.


Sementara, pada Ramadan ada pergeseran waktu. Demikian catatan saya sebagai ojek online (ojol) saat menjelajah di empat kotamadya ibu kota, minus Jakarta Timur.


Kemacetan berlangsung sejak pukul 15 00 WIB. Puncaknya, pada pukul 17.00 WIB hingga jelang maghrib dengan aktivitas warga yang ingin pulang cepat untuk buka di rumah, beli takjil, ngabuburit, hingga reuni buka bersama (bukber).


Nah, usai buka puasa, justru jalanan lenggang. Baik itu Sudirman, Daan Mogot, Thamrin, Gatot Subroto, dan jalan raya lainnya minus tol yang tentu saya tidak catat.


Biasanya, saat itu warga sudah sampai di rumah atau tempat bukber. Dilanjutkan tarawih berjamaah.


Setelah pukul 20.00 WIB, macet kembali. Jalanan pun merayap lagi hingga pukul 23.00 WIB sepanjang Ramadan.



*       *       *


USAI mengantar penumpang di Stasiun Cawang atas, tiba-tiba sepeda motor saya agak berat pas turunan MT. Haryono. Saya pun menepikan si kuda besi adalan sehari-hari ini.


Ternyata, ban bocor. Ada paku ukuran sedang yang menancap.


Untungnya tubeless. Jadi, saya masih bisa mengendarai hingga ke tambal ban terdekat.


Beda lagi kalo pakai ban dalam. Jika bocor ya harus langsung ditambal.


Saat lagi mencet ban, ada sedan mewah asal Jepang yang merupakan sub brand untuk pasar Amerika Serikat (AS). Mobil tersebut berhenti di samping saya yang memang kebetulan lenggang karena baru jam berbuka puasa.


Seorang pria muda sekitar usia 30 tipis-tipis keluar. Saya yang baru saja memencet ban langsung berdiri.


Kirain saya, pria ini mau tanya alamat. Di pintu samping keluar wanita yang kemungkinan istrinya diikuti pintu belakang dengan anak perempuan.


"Kenapa bro, motornya?" kata pria itu mengawali percakapan dengan ramah.


"Biasa mas, bocor," saya menjelaskan.


"Wah itu ada pakunya ya," tuturnya ikutan jongkok.


"Iya, untung paku biasa. Nancap masih bisa jalan, kalo paku jari-jari payung yang dalamnya berongga, bisa abis ban."


"Ada tambal ban di sini?"


"Banyak mas. Ini masih aman."


"Bro udah buka puasa?"


"Udah mas. Terima kasih."


Pria itu kemudian seperti kasih kode ke anak perempuannya yang membawa bungkusan besar makanan cepat saji.


"Oom, ini buat buka puasa bareng keluarga Oom?" Anak yang kemungkinan masih TK atau SD ini menyodorkan bungkusan plastik besar berwarna putih itu dengan ramah.


"Terima kasih dik, Om udah makan. Ini mau lanjut lagi," saya menolak dengan halus.


Anak tersebut kembali melihat ayahnya. Ga lama mengangguk.


"Oom ga apa-apa, ini buat keluarga Oom juga di rumah. Tadi kami beli banyak."


"Iya bro, tadi kita udah makan di tempat. Masih ada beberapa bungkus. Ambil aja buat keluarga di rumah ya."


"Bener mas, ini saya juga baru beli pas abis maghrib," saya memotong.


Saya pun membuka jok motor yang berisi bungkusan gorengan dan kolak biji salak yang saya beli usai buka. Saya memang punya kebiasaan beli takjil sesudah maghrib ke pedagang yang dagangannya masih banyak atau sepi.


Ya, untuk ikut melariskan dagangan mereka. Sumpah, kita beli takjil ke pedagang yang sepi atau yang masih banyak saat maghrib lewat itu feelnya beda dibanding saat kita beli ke pedagang yang ramai atau laku sebelum maghrib.


Sebab, pedagang akan melayani dengan sangat khidmat saat kita beli di dagangan yang sepi atau usai maghrib. Ini udah saya lakuin dalam beberapa tahun terakhir.


Secara, ibu saya dulu dagang takjil yang bahkan pernah ga habis hingga tarawih yang rahasianya baru terbongkar usai tidak jualan lagi. Jadi, saya berusaha untuk ikut melariskan dagangan yang sepi atau masih banyak seusai maghrib.


Artikel terkait: Belilah Kolak dan Cemilan Buka Puasa di Pedagang yang Sepi (https://www.roelly87.com/2024/03/belilah-kolak-dan-cemilan-buka-puasa-di.html)


"Udah bro, ga apa-apa. Anak saya tadi puasa full, jadi minta bukber di luar. Nah, kebetulan kami beli banyak. Mubazir kalo ga dimakan," pria itu melanjutkan.


Karena ga enak untuk menolak pemberian tulusnya, saya pun menerima. Apalagi, bocah perempuan itu megangnya agak berat karena bungkusan warna putih isinya terlihat beberapa nasi, ayam, dan minuman cup.


"Terima kasih ya dik," kata saya menyambut uluran bocah tersebut.


"Sama-sama Oomnya."


"Kuat dik puasanya? Udah berapa hari full?"


Bocah itu menghitung jemari tangannya. Tingkahnya sungguh lucu.


"Delapan hari om. Adiknya full kalo libur sekolah aja. Kalo masuk, setengah hari. Namun, beberapa kali dipaksain sendiri sampe kuat," sang istri menimpali dengan semringah.


"Iya Oom. Delapan hari," bocah itu memperlihatkan angka delapan lewat jemari pada kedua tangannya.


"Ih keren. Masih kecil udah banyak full. Mantul ya dik," kata saya tersenyum. 


Saya ga maksud memuji. Namun, seusianya udah puasa full seharian itu bagus. 


Sebab, saat saya sepantaran bocah itu dulu, pada dekade 90-an, saya aja sering bolong puasanya.


Ha... Ha... Ha...


"Iya oom. Terima kasih ya," kata sang bocah sambil menggamit adiknya -kemungkinan balita- yang ikut turun dari mobil.


"Terima kasih ya dik. Terima kasih ya mas dan ka," kata saya menjura sambil bersiap menaruh bungkusan itu ke dashboard motor.


"Iya mas. Hati-hati di jalan," kata sang pria dan istrinya kompak. Sementara, bocah perempuan dan adiknya turut 'dadah' di balik pintu belakang dengan jendela yang dibuka seperempat.


Sedan itu berlalu secara perlahan. Saya pun siap menuju tambal ban.


Namun, saya merasa ada yang aneh.


Ketika mengecek ban dan sekitar motor tidak ada yang janggal. Begitu juga dengan area sekitar yang tidak ada ketinggalan sesuatu dari keluarga tersebut.


Ternyata...


Saat pandangan saya tertuju ke plastik, di bawahnya ada amplop dengan selotip yang nempel. 


Hah?


Refleks, saya ambil langsung amplop itu. Khawatir ketinggalan punya keluarga tersebut.


Hanya, saya tertegun.


Di depannya ada stiker bertulisan yang seperti sudah diprint.


"Selamat berbuka puasa ya bro/sis ojol. Ini sedikit dari kami untuk bro/sis ojol dan keluarga. Salam hangat."


Saya raba amplopnya. Pas dibuka ternyata ada wajah Dwitunggal hingga lima lembar.


Ebuset.


Seketika, saya mau kejar keluarga tersebut untuk mengembalikannya. Namun, mobilnya sudah tidak terlihat.


Entah mereka muter balik di samping Polsek Jatinegara, arah Kalimalang, atau masuk tol. 


Jelas, saya ga bisa mengejarnya.


Yang pasti, saya memang berniat mengembalikan uang ini. Serius.


Saya bukannya menolak rezeki. Saya terbuka untuk menerima pemberian orang lain.


Entah itu makanan atau sembako saat ramadan atau hari biasa. 


Memang, saya memegang teguh adagium, "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."


Namun, sebagai manusia yang hidup di jalan, saya harus fleksibel. 


Khususnya, saat menjalankan pekerjaan ojol. Setiap hari pasti ada yang memberi tip.


Tentu, saya ga bisa nolak. Secara, tip itu kan tanda kepuasan customer atas pelayanan ojol.


Hal sama berlaku jika saya memesan ojol atau beli makanan. Sudah pasti saya beri tip untuk rekan seperjuangan.


Apalagi, jika tipnya dari customer itu via nontunai. Kan saya ga bisa mengembalikan ke penumpang yang sudah naik kereta, bis, atau sampai rumah.


Jadi, saya harus adaptif. 


Yang utama, pantang bagi saya untuk minta-minta.


Di luar tip penumpang, saya juga sering dikasih makanan atau sembako dari orang lewat. Tentu, saya ga enak hati jika sampai menolak pemberian mereka.


Toh, mereka niat berbagi. Tanpa kamera atau video yang didokumentasikan.


Artikel terkait: Terima Kasih, Orang Baik (3) (https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html)


Namun, selain pemberian pria tadi yang sudah terlanjur pergi, saya sudah tiga kali dikasih uang. 


Ya, tiga kali.


Dua diantaranya, saya tolak langsung dengan sopan.


Bukan bermaksud sok kaya, gengsi, atau apa. Namun, bagaimanapun saya ojol.


Saya kerja.


Saya harus jaga marwah profesi ini.


Dua pemberian uang itu -di Roxy dan Gunawarman- saya tolak secara halus.


Sementara, satunya di Pluit, saya terima. Dengan penjelasan sang pemberi yang masuk akal.


Sebab, karena satu hal mereka bernazar. Jika ***nya sudah *** akan menyisihkan rezeki untuk dibagi-bagi ke sekian orang yang ditemui langsung sebagai wujud syukur.


Kebetulan, saya ga sengaja ketemu. Kendati, saya udah nolak beberapa kali.


Namun, mendengar penjelasan kedua pemberi itu yang masuk akal, akhirnya saya pun luluh.


Pasalnya, mereka sudah berusaha, berikhtiar, dan berdoa. Ketika segala upaya mengetuk pintu langit terwujud, mereka pun langsung menunaikan nazarnya.


Saya terharu saat itu. Betapa perjuangan mereka bertahun-tahun untuk menanti kehadiran sang buah hati akhirnya kesampaian.


Alhasil, saya pun menerima pemberian tulus dari mereka. Saling mendoakan yang terbaik.***


*       *       *

- Jakarta, 13 Maret 2026


*       *       *


Senin, 09 Maret 2026

Orderan Hemat, Jemput Jauh, dan Alasan Ojol Cancel Penumpang

Orderan Hemat, Jemput Jauh, dan Alasan Ojol Cancel Penumpang


...


MENJELANG waktu berbuka puasa merupakan momen yang penuh warna. Khususnya bagi ojek online (ojol) yang bergelut di jalanan setiap harinya.


Apalagi, Ramadan tahun ini bertepatan dengan musim hujan. Alhasil, tiap sore, ibu kota pun basah kuyup diguyur air yang turun dari langit.


Bagi ojol, hujan punya dua sisi. Pertama, jelas gacor alias gampang cari orderan. 


Sisi lainnya, jemput terlalu jauh. Apalagi, jika hujan menjelang maghrib yang bertepatan dengan jam pulang kerja karyawan dan yang ingin buka bersama (bukber), ngabuburit, atau beli takjil.


Bagi penumpang? Hujan saat sore plus suasana Ramadan ini untuk mendapatkan ojol jadi cobaan yang dicobain.


Baik itu untuk pesan orderan penumpang, kirim paket, makanan, atau jastip. 


*       *       *


"MAS, kenapa sih dari tadi susah dapat ojol? Saya udah setengah jam lebih ga dapat-dapat," ujar penumpang yang saya jemput di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, menuju stasiun moda transportasi berbasis rel.


Saat itu, jalanan yang saya lewati benar-benar macet sejak siang. Mulai dari Jalan Daan Mogot, Tomang, Thamrin, Sudirman, Satrio, hingga Rasuna Said.


"Saya udah pake empat aplikasi. Go***, Gr**, Max**, dan Indriv**. Ga ada yang dapat," pelanggan itu melanjutkan. "Malah banyak dicancel duo ijo dengan alasan jemput kejauhan dan pakai layanan hemat atau voucher. Sampe pasrah saya mau ke stasiun."


Saya mendengarkan dengan khidmat. Enggan memotong hingga penumpang itu benar-benar selesai bicaranya.


"Emang ini gara-gara saya pake hemat ya? Jadi dicancel terus sama ojolnya?" katanya lagi.


"Lah, ini saya lagi bawa Anda. Ini layanan hemat kan ga saya cancel?"


"Iya, mas. Ini saya baru dapat setelah belasan kali dicancel di duo ijo. Kalo dua aplikasi lainnya malah muter-muter terus."


"Saya kan ga cancel. Mau itu layanan hemat, reguler (biasa), atau penjemputan prioritas yang lebih mahal, saya tetap bawa. Yang penting jadi uang. Toh, keluarga saya ga pernah nanya, tiap hari saya bawa penumpang yang pakai layanan hemat itu berapa. Mereka hanya nanya, gimana hari ini ngojol, 'ramai apa nggak?' Kalo ramai, ya alhamdulillah. Kalo sepi yang dijalanin aja," saya menjelaskan.


Penumpang itu terkekeh mendengar jawaban saya. Situasi tampak likat baginya.


Usai seperminuman teh, customer itu melanjutkan.


"Iya, saya baca di medsos, katanya ojol Go*** dan Gr** pada ga mau bawa orderan hemat. Padahal kan itu emang udah disediakan dari aplikasinya untuk penumpang," pelanggan yang usianya berkisar seperempat abad tipis-tipis ini menuturkan. "Emang salah ya mas, kalo kami sebagai penumpang pilih orderan hemat?"


Pertanyaan itu merupakan yang ke sekian kali ditujukan penumpang kepada saya. Jawaban saya, tetap template.


"Ga salah dong ka. Hak customer untuk pilih layanan hemat yang memang disediakan aplikasi."


"Terus, kenapa banyak ojol yang cancel. Bahkan, saya dengar di medsos, katanya ojol jijik kalo dapat orderan hemat."


"Nah, ini buktinya si kakak pesan hemat. Saya tetap ambil kan?"


"Iya sih, kadang ada yang kayak mas, mau ambil orderan hemat. Namun, lebih banyak lagi yang cancel. Bahkan nolaknya ketus banget."


"No comment, dah kalo itu. Kalo saya sih nilai, hak setiap masing-masing ojol untuk mau ambil atau nolak orderan hemat. Bebas aja. Kami ini kan mitra. Bukan karyawan aplikasi. Buktinya, setiap hari saya dapat 10-20 orderan penumpang, mayoritas hemat. Biasa aja. Mau itu hemat atau reguler bahkan yang mahal pun. Yang penting, saya pulang bawa uang."


"Serius mas? Jawaban ini ga ada 'gula-gulanya' kan?"


Saya pun menepikan sepeda motor di jalan yang populer dijuluki "Orchard-nya Jakarta". Sambil mengambil hp di holder untuk memperlihatkan riwayat orderan di aplikasi kepada penumpang.


"Nih, lihat di aplikasi. Bukan screenshot ya. Hari ini saya udah dapat 19 order dari start setelah imsak. Tuh, mayoritas hemat ada 15 termasuk yang berjalan saat ini. Kan ada logonya, di aplikasi antara orderan hemat, reguler, prioritas, atau instan."


"Iya ya. Berarti mas ga masalah ambil orderan hemat?"


"Yang masalah itu kalo dapat penumpang ga bayar. Alias kabur."


"Serius?"


"Ya, udah beberapa kali. Baik layanan penumpang, makanan, atau jastip. Ya, risiko pekerjaan."


"Gimana ceritanya mas?"


"Next ajalah. Mending kita fokus pada pembahasan hemat ini."


"Ok..."


*       *       *


SEBAGAI ojol, saya beberapa kali ditinggal kabur penumpang yang ga bayar. Ya, mau gimana lagi, namanya kerja pasti ada risiko.


Anggap aja, lagi kurang beruntung. Toh, saya sering dapat tip dari penumpang dengan nominal yang wah.


Jadi, saya anggap subsidi silang. Penumpang A kabur ga bayar. Ga lama, ada customer B yang kasih tip berkat pelayanan yang memuaskan. 


Nanti pada artikel selanjutnya saya ceritakan.


"Mas, mau tahu ga alasan kenapa saya dan penumpang lainnya banyak pake hemat?" ujarnya lagi.


"Ga. Itu hak penumpang. Bebas aja."


"Kok gitu?"


"Lah, mau jawaban gimana? Mau saya ngeluh gitu karena ongkos hemat lebih murah? No! Itu penggiringan opini."


"He... He..."


"Gini ya. Saya kan dulu pernah kerja sebelum jadi ojol. Jadi, saya paham, untuk ongkos transportasi seperti ojol, taksi online (taksol), taksi konvensional, TJ, KRL, MRT, hingga LRT itu maksimal 30 persen dari pengeluaran. Sisanya, untuk bayar cicilan, baik rumah, paylater, kebutuhan sehari-hari, listrik, kuota, asuransi, dan sebagainya."


Dari kaca spion, tampak sang pelanggan  mengangguk. 


"Saya sering dapat penumpang yang tinggal di Cikarang, Bekasi, kerjanya di utara Jakarta. Sehari itu mereka untuk pp (pergi-pulang) transportasi bisa 100 ribu. Mulai dari naik ojol dari rumah ke stasiun, KRL, lanjut TJ, terus dari halte TJ pesan ojol ke tempat kerja dan sebaliknya saat pulang. Bisa dibayangkan dikali 26 hari kerja."


Obrolan terhenti karena banyak kaum primata yang menyalakan petasan di tengah jalan. Manusia-manusia tolol ini memang meresahkan. 


Sampah masyarakat ini ga tahu situasi, jalanan lagi ramai eh malah masang petasan yang membahayakan pengendara dan orang lewat. Giliran diciduk Polkis, ntar playing victim dengan menyebut tradisi Ramadan.


"Jadi, kalo penumpang pake hemat itu wajar. Agar mereka bisa menekan pengeluaran dari naik ojol. Sama seperti waktu itu ada penumpang cerita, naik LRT nunggu hingga pukul 20.00 WIB demi ongkos di luar jam sibuk Rp 10 ribu. Sah-sah aja. Ekonomi lagi sulit, alhasil kita harus berhitung dengan cermat."


"Wah, mas ini bijak ya. "


"Ga juga. Tapi, sebagai ojol, saya harus adaptif. Toh, kita lihat sesuatu harus dua sisi."


"Nah itu mas. Nih, tahu ga, dari kantor saya ke stasiun itu saya pake hemat bayar 16 ribu. Kalo yang reguler 35 ribu. Terus, kalo mau dapat ojol yang lebih cepat harus nambah 4 ribu. 35 + 4 = 39 ribu. Jauh banget kan bedanya sama hemat?"


Saya mengiyakan. Memang, di aplikasi customer tertera seperti itu. Untuk jam sibuk dan hujan, tarif reguler ada kenaikan harga. Fluktuasi. Tergantung ramainya orderan. 


Di sisi lain, untuk layanan hemat, argonya tidak berubah.


"Ketimbang bayar uang 35 ribu atau 39 ribu, atuh mending saya keluar 16 ribu yang hemat. Toh, biasanya saya selalu kasih tip untuk ojol," ucap sang penumpang.


"Bagi saya dan mungkin penumpang hemat lainnya, lebih baik kasih tip ke ojolnya 5-10 ribu ketimbang layanan reguler yang tarifnya dua kali lipat. Saya salah ga mas?"


Saya mengangguk.


"Ga dong. Kan udah dijelasin dari awal. Hak penumpang untuk pilih layanan, baik hemat, reguler, atau prioritas. Bahkan, ga harus kasih tip juga. Ntar penumpang merasa itu kewajiban yang malah jadi memberatkan," kata saya.


"Terkait ojol yang cancel, itu akibat jemputnya jauh. Misal, tadi saya jemput Anda aja 1.7 km. Posisi saya saat itu di Mampang. Sementara, Anda di Mega Kuningan. Tahu sendiri kan, macetnya Tendean kalo sore? Tapi, tetap saya ambil. Masih masuk hitungannya," lanjut saya.


"Beda lagi jika jaraknya 2 km lebih. Otomatis saya cancel. Bahkan, kalo sore gini jam pulang kerja, jemputnya bisa 3 hingga 5 km. Tanpa drama, langsung saya cancel. Terlalu jauh. 


Kecuali kalo pelajar, mahasiswa, atau penyandang disabilitas. Saya punya pertimbangan khusus untuk tetap ambil.


Itu jadi alasan ojol cancel. Secara, jemput itu ga dikenakan tarif. Jadi, kalo jemputnya jauh, wajar jika ojol cancel karena rugi bensin dan macet. Apalagi kalo jarak jemputnya 5 km dan ongkos hanya 10 ribu? Saya pun ga mau. 


Kami sebagai ojol kan kerja untuk nyari uang, bukan nyari berkah, pahala, atau tiket ke surga. Jadi, mohon kepada Anda dan customer lain untuk sama-sama dipahami. Bahwa, ojol cancel orderan bukan berarti malas atau akibat customer pakai layanan hemat. Melainkan karena jemputnya terlalu jauh yang jaraknya ga masuk akal."


Setelah melewati jalanan yang dipenuhi sampah masyarakat, alias pak ogah di kedua sisi dan juru parkir liar yang bikin macet, kami pun sampai.


"Terima kasih ya mas atas informasi yang mendalam. Sekarang saya jadi paham alasan dicancel ojol akibat jemputnya terlalu jauh," ucap penumpang sambil turun dari motor.


"Terima kasih kembali. Sama-sama ka. Oh ya, kalo lagi mendesak atau penting, penumpang juga bisa datangin ojol yang nongkrong atau lewat dengan masukin kode untuk langsung berangkat."


"Oh, seperti di stasiun ya?"


"Ya, ada Go*** Instan dan Gr** Now. Nanti customer kasih kode biar diinput ojolnya. Hanya, harga memang sedikit lebih mahal dibanding tarif biasa apalagi hemat. Namun, ini sangat berguna jika kita sedang buru-buru ke acara atau keadaan mendesak."


Penumpang itu pun mengangguk usai memberikan helm untuk masuk. Suasana di jalan jelang maghrib pun kian ramai.


Selain klakson motor, mobil, dan bus, juga kata-kata mutiara dari kebon binatang yang keluar antarpengendara akibat ada yang lawan arah serta berhenti tengah jalan. Ah, sungguh sore yang syahdu...



*       *       *


- Jakarta, 9 Maret 2026