PI vs GI (Versi Ojol)
![]() |
| Aura old money dan Orang Kaya Lama sangat terasa di PI (Foto: dokumentasi pribadi/@roelly87) |
KELINCI Merah (Chituma) yang terbaik di antara kuda. Untuk pendekar, ada Lu Bu.
Ucapan Perdana Menteri Han Cao Cao pada abad 2 yang saya kutip ulang di artikel tiga tahun lalu berjudul Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona (https://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html).
Maksudnya, Lu Bu tak terkalahkan pada pengujung kejayaan Dinasti Han. Dalam novel Sam Kok/Kisah Tiga Negara, bahkan sukses menempur tiga bersaudara, Zhang Fei, Guan Yu, dan Liu Bei.
Sementara, Kelinci Merah merupakan nama kuda asal Ferghana, Asia Tengah. Dikenal dengan kawasan penghasil kuda terbaik yang banyak diimpor Cina saat itu.
Nah, artikel yang saya tulis ini bukan soal pendekar atau kuda. Melainkan, mal, plaza, atau pusat perbelanjaan yang bisa disebut terbaik di Jakarta.
Namun, ini banyak versi. Alias, bisa jadi debat kusir tak berujung terkait subyektivitas.
Sebagai ojol (ojek online), saya sudah pernah menyinggungnya sedikit dalam beberapa artikel:
- https://www.roelly87.com/2024/06/daftar-mal-elite-di-jakarta-dan-yang.html
- https://www.roelly87.com/2025/05/hilang-motor-akibat-parkir-liar-salah.html
- https://www.roelly87.com/2020/02/pi-pp-dan-ta-ini-daftar-mal-yang-kurang.html
- https://www.roelly87.com/2023/11/menara-kadin-yang-memanusiakan-manusia.html
Oke, menurut saya ada delapan mal elite di ibu kota -minus Jakarta Timur- dengan beragam variabel. Ini objektif saat saya hadir sebagai pengunjung atau ketika ambil orderan ojol.
1. Plaza Indonesia (Jakarta Pusat)
2. Plaza Senayan (Jakarta Pusat)
3. Pondok Indah Mal (Jakarta Selatan)
4. Grand Indonesia (Jakarta Pusat)
5. Senayan City (Jakarta Pusat)
6. Pacific Place (Jakarta Selatan)
7. Central Park (Jakarta Barat)
8. Mal Kelapa Gading (Jakarta Utara)
Btw, dari tujuh mal elite itu dan puluhan lainnya di ibu kota -minus Jakarta Timur yang jarang saya jelajahi-, versi saya paling favorit adalah Mal Ciputra di Grogol, Jakarta Barat.
Wajar, mengingat lokasinya hanya seperlemparan batu dari rumah saya. Kalo yang lempar batunya Hulk atau Thor... He he he!
Mal yang beken disebut Citra Land (CL) ini jadi favorit saya sejak masih kanak-kanak hingga rekan sebaya sudah punya banyak anak. Mulai dari tempat nongki, main game, bolos, cinmot alias cinta monkey, liatin pelajar tawuran, hingga ngabuburit di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung.
Era 1990-an hingga pertengahan 2000-an, CL jadi tempat suci bagi anak Jakbar. Bahkan, hingga kini saya jadi ojol, sering datang karena ada parkir gratis yang luas. (Sumber: https://vt.tiktok.com/ZSxeWtM43/ @roelly87)
Selain CL, favorit saya juga ada Topaz (kini ganti Roxy Square imbas Tragedi 1998), ITC Roxy Mas (dulu ada MCD yang jadi favorit), Plaza Gajah Mada (ada kolam renang), Mal Puri Indah, Golden Truly Gunung Sahari, dan Ratu Plaza.
Ketujuh mal itu jadi favorit saya hingga kini yang punya memori membekas.
* * *
![]() |
| Parkir khusus ojol dan kurir paket di P2 (Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87) |
ADA dua mal elite yang bersebelahan atau berhadapan di Jakarta Pusat. Yaitu, Plaza Indonesia (PI) dengan Grand Indonesia (GI) yang sama-sama terletak di Jalan M.H. Thamrin.
Satu lagi di Jalan Asia Afrika, yaitu Plaza Senayan (PS) dengan Senayan City (Sency). Namun, kedua mal yang terletak di Kecamatan Tanah Abang ini mungkin akan saya bahas nanti.
Untuk PI dan GI, ternyata lokasinya di Kecamatan Menteng. Saya pikir, dulu keduanya ada di Kecamatan Tanah Abang.
Namun, setelah cek google maps, ternyata masuk Menteng. Meski, untuk GI, sebagian ada Tanah Abang, tepatnya di di West Mal yang merupakan pintu masuk untuk parkir motor.
Kendati ruangan utama (East Mal) tetap masuk Menteng bersama Hotel Kempinski dan Menara BCA.
Kesan saya ke GI?
Rame poll. Apalagi, jika ambil orderan makanan atau paket di East Mal. Harus olahraga karena parkiran adanya di basement West.
Secara keseluruhan, GI lebih familiar bagi saya.
Istilahnya, lebih merakyat. Wkwkwkwk!
Sementara, PI?
Wow... Auranya beda!
Ketika menginjakkan kaki di lobinya, atmosfer OKL atau Crazy Rich pun menyapa. Saya bukan tipe inferioritas, tapi PI memang auranya berkelas banget.
Mungkin sedikit atau setara dengan Plaza Senayan (PS) dan Pondok Indah Mal (PIM). Ga perlu dibandingkan dengan GI, Sency, Pacific Place (PP), Central Park (CP), hingga Mal Kelapa Gading (MKG).
Jujur, itu yang saya rasakan.
Itu mengapa, PI tidak menyediakan parkiran motor untuk umum baik pengunjung maupun karyawan. Alias, hanya roda empat ke atas.
Jika pengunjung ingin masuk, terpaksa harus parkir di GI yang cukup jauh tapi resmi dengan nontunai Rp 2.000 per jam. Atau, bayar Rp 5.000 - 10.000 untuk parkir liar di Jalan Kebon Kacang XXX.
Saya pernah menulisnya sebelum pandemi dulu https://www.roelly87.com/2020/02/pi-pp-dan-ta-ini-daftar-mal-yang-kurang.html.
Untungnya, ojol dan kurir paket disediakan parkir di P2. Meski harus bayar secara nontunai.
Minusnya, parkirannya sempit dan berbagi space dengan kendaraan niaga di loading dock. Jadi, kalo mau keluar, harus ekstra sabar.
Sebab, gate-nya hanya 1 yang bergiliran dengan mobil bak, box, hingga truk. Beberapa kali mesin tap parkir error. Ampun dah ngantrenya.
Pun demikian saat kartu emoney ga kebaca. Ya, wassalam...
Btw, bagi pengunjung atau karyawan jangan coba-coba parkir motor di P2. Sebab, bakal diusir security di pintu masuk.
Secara, mereka selalu mengecek setiap motor yang melintas gerbang. Ojol pun dilihat orderannya apa dan wajib buka jok motor.
Tapi emang securitynya saya akui ramah-ramah. Kalo kita ga tahu bakal diinfokan secara detail parkir di mana, aturan malnya apa, dan lantai yang dituju.
Untuk aturan, seperti yang saya ulas dua tahun lalu, https://www.roelly87.com/2024/06/daftar-mal-elite-di-jakarta-dan-yang.html, ojol harus lepas jaket dan ditaruh di motor. Alias, tidak boleh ditenteng atau dibalik seperti mayoritas mal lainnya, termasuk GI yang masih memperbolehkan jaket ojol dibalik.
Saya pribadi ga masalah dengan aturan ini. Secara, sebagai tamu, saya harus ikut ketentuan tuan rumah.
Hanya, beberapa kali ada kejadian kocak. Tepatnya, ketika keluar dari lift barang di lantai LB, G, 1, 2, dan seterusnya menuju toko yang dituju. Nah, saya sering nanya alamat jika tidak tahu ke toko sekitar.
Berhubung saya ga boleh bawa atribut ojol dan terkadang hanya mengenakan kemeja atau batik serta celana bahan, alhasil saya disangka mau belanja. Diajak masuk ke tokonya yang isinya mayoritas premium untuk lihat-lihat hingga ditawarkan berbagai koleksinya.
Wkwkwkw!
Jujur, belanja di PI bukan level saya yang masih kelas mendang-mending. Berbagai busana di sana, seperti celana panjang branded harganya bisa dua minggu pendapatan saya ngojol!
Alhasil, saya pun memberikan gestur menolak tawaran itu. Sembari, memperlihatlan orderan ojol di layar hp untuk tanya alamat.
Pas tahu saya ojol yang hanya ingin tanya lokasi toko atau resto, pramuniaga itu pun jadi likat. Akhirnya, kami sama-sama tertawa.
Btw, untuk kesan-kesan saya masuk PI dan GI baik sebagai ojol atau pengunjung, komparasinya ada di bawah ini.
Nah, kalian sebagai sesama ojol serta kurir paket dan pengunjung umum, pilih jadi Tim PI atau Tim GI?
Tim PI vs Tim GI versi ojol:
Plaza Indonesia
+ Ada parkiran khusus ojol/kurir paket (berbayar nontunai)
+ Mudah ke toko/tenant/merchant dari parkiran P2
+ Auranya beda (sekelas dengan PS dan PIM)
+ Customer mayoritas ganti biaya parkir
- Jaket harus dilepas (tidak boleh ditenteng/dibalik)
- Parkiran ojol/kurir paket sempit
- Mesin parkir sering error
- Masuk parkiran jauh, di Kebon Kacang 30, bukan di Jalan Thamrin
Grand Indonesia
+ Parkiran luas terlindungi dari panas dan hujan (nontunai untuk umum/ojol/kurir paket)
+ Jaket boleh ditenteng atau dibalik
+ Aura malnya bersahabat untuk semua kalangan (di bawah PI, PS, dan PIM, tapi masih sedikit di atas Sency, PP, CP, CL, Emporium, dan sebagainya)
+ Customer mayoritas ganti biaya parkir
- Lokasi parkiran jauh di basement West Lobby (jalan jauh kalo ambil order di East)
- Masuk parkiran muter di Jalan Teluk Betung I, bukan di Jalan Thamrin
- Ada 2 lobi (West/Arjuna dan East/Rama, harus diperhatikan detail orderannya agar tidak olahraga terlalu jauh)
=========✓=========✓=========✓
PI vs GI (versi umum/pengunjung)
Plaza Indonesia
+ Premium (aura berkelas yang setara atau lebih dari PS dan PIM)
+ Branded (produk yang dijual mayoritas kalangan elite)
+ Strategis di pinggir jalan raya
+ Akses transportasi umum (samping Halte TJ dan Stasiun MRT)
- Tidak ada parkiran motor (adanya parkir liar di pinggir kali)
Grand Indonesia
+ Parkiran luas terlindungi dari panas dan hujan (nontunai untuk umum/ojol/kurir paket)
+ Ada parkir eksklusif untuk taruh helm, jaket, dan sebagainya (berbayar Rp 20 ribu)
+ Aura malnya bersahabat untuk semua kalangan (di bawah PI, PS, dan PIM, tapi masih sedikit di atas Sency, PP, CP, CL, Emporium, dan sebagainya)
- Akses di lobi utama bagi pejalan kaki (West/Arjuna dan East/Rama) jauh di Jalan Teluk Betung
- Kurang integrasi ke transportasi umum (harus olahraga dari/ke Halte TJ dan Stasiun MRT)
#FaktaMenarik: PI jauh lebih tua karena diresmikan pada 24 November 1990 oleh Presiden Ke-2 RI Soeharto. Berselang 19 tahun, Grand Indonesia (20 Mei 2009) diresmikan Presiden Ke-7 RI Susilo Bambang Yudhoyono.
* * *
- Jakarta, 16 Mei 2026


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Maaf ya, saat ini komentarnya dimoderasi. Agar tidak ada spam, iklan obat kuat, virus, dan sebagainya. Silakan komentar yang baik dan pasti saya kunjungi balik.
Satu hal lagi, mohon jangan menaruh link hidup...
Terima kasih :)