TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol

Sabtu, 19 Desember 2015

Artha Graha Peduli Gelar Pasar Murah Paket Sembako Rp 25.000


Yayasan Artha Graha Peduli gelar pasar murah paket sembako


"Saya ga bawa aslinya. Ada fotokopi KTP aja, pak."

"Maaf bu, harus yang asli. Nanti kan datanya kami verifikasi dengan foto."

"Waduh, tetangga saya lagi sakit. Dia ga bisa dateng, gimana dong mbak?"

"Bisa diwakilin keluarga, kerabat, atau tetangga. Yang penting bawa KTP asli. Tenang aja kok bu, waktunya sampe jam dua siang."

Demikian percakapan yang saya dengar saat berada di kantor kelurahan tempat saya tinggal di kawasan Jakarta Barat, Kamis (17/12). Kebetulan, pagi itu saya sedang ada keperluan untuk mengurus sesuatu. Saat antre di depan loket, tepat di sampingnya terdapat kerumunan warga. Mereka berbaris rapi dengan beberapa di antaranya menggenggam kupon yang saya duga untuk ditukar dengan paket sembilan bahan pokok (Sembako).

Ternyata, perkiraan saya benar. Itu setelah saya bertanya kepada petugas kelurahan yang jaga di loket. Menurutnya, ada kerja sama antara pemerintah provinsi DKI Jakarta dengan Yayasan Artha Graha Peduli (AGP) untuk menggelar pasar murah. Kebetulan, kelurahan yang merupakan domisili saya berada mendapat jadwal pada 17 Desember.

Sebagai blogger yang juga jurnalis warga, pemandangan antrean itu tentu sangat menarik untuk diliput. Yaitu, dibuat reportasenya di blog pribadi, sebab untuk dimuat di media tempat saya bekerja tidak mungkin. Itu mengingat tidak adanya kaitan dengan olahraga.

Setelah menyelesaikan administrasi di depan loket, saya pun beranjak menuju antrean tersebut dengan memasuki salah satu ruangan. Langsung saja saya keluarkan "peralatan tempur", yaitu ponsel dari saku celana untuk memotret gambar, rekam video yang  saya unggah di Youtube, dan merekam suara. Saat itu, ratusan warga sedang menunggu giliran untuk membeli paket sembako. Mereka menukarkan kupon yang sudah dibagikan beberapa hari sebelumnya dengan satu bungkusan.

"Lumayan mas, murah. Ini (paket sembako) kita beli cuma jigo -Rp 25.000-, padahal kalo di hitung di luaran harganya dua kali lipat," kata seorang ibu yang menggendong bayinya kepada saya. "Ya kita sih sebagai warga pengennya sering-sering dah mereka ngadain program kayak gini. Kalo bisa mah setiap hari, kan bikin kita irit belanja kebutuhan pokok. Ga apa-apa deh antre, yang penting kita sebagai rakyat kecil mah bisa beli sembako murah."

Sontak, pernyataan itu mendapat sambutan meriah dari beberapa warga lainnya yang turut nunggu giliran untuk ditukar kupon. Saya pun meminta izin kepada ibu tersebut untuk "membongkar" isi paket sembako ketika berada di luar ruangan. Dengan ramah, beliau mempersilakan saya untuk memotret sejenak.

Dalam paketnya terdapat beberapa bungkusan yang meliputi beras, gula pasir, minyak sayur, terigu atau sagu (saya lupa), dan tiga bungkus mie instan. "Semuanya kalo dihitung lebih dari 50 (Rp 50.000) mas. Isinya variasi sama kayak waktu puasa lalu," Salah satu warga yang berdiri di depan pintu turut menambahkan.

Usai ritual pembongkaran selesai, saya pun mengucapkan terima kasih kepada ibu tersebut seraya kembali masuk ke ruangan. Saat bertanya kepada beberapa warga lainnya, baik kaum wanita dan pria dengan berbagai usia, saya mendapati jawaban yang seragam: Harganya memang murah untuk ukuran kebutuhan sehari-hari.

Sebagai pembanding, tak lupa, saya juga berusaha mengkonfirmasi kepada pihak terkait. Yaitu, salah satu perwakilan dari Artha Graha Peduli yang berhubung sedang ramai saya lupa menanyakan namanya hingga hanya saya panggil "pak".

"Program pasar murah ini lanjutan dari program sebelumnya pada Ramadan dan Idul Fitri. Kali ini, untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru," Perwakilan Artha Graha Peduli menjelaskan.

"Rencananya sampai kapan pak? Lokasinya banyak selain di kelurahan ini?" ucap saya sambil memberondong berbagai pertanyaan.

"Ga hanya di sini mas, tapi juga di berbagai tempat lainnya, bisa kelurahan, kecamatan, atau di pasar. Untuk teknisnya, bisa mas tanya langsung ke kantor kami. Yang saya tahu, program Pasar Murah AGP ini ada di 2.000 titik di seluruh Tanah Air dari 13 sampai 31 Desember mendatang. Untuk sembako murah, kami telah menjual satu juta paket dalam setahun terakhir."

"Ini untuk masyarakat umum atau yang kurang mampu? Tadi saya lihat banyak yang pulang karena gagal menukarkan kupon?"

"Jadi begini. Setiap warga yang sudah dibagikan kupon dari pengurus RT/RW setempat, wajib membawa KTP asli dan difoto. Gunanya, sebagai verifikasi data agar tidak ada yang mendapat dua kali. Untuk yang sedang sakit atau berhalangan, dapat diwakilkan pada anggota keluarga atau tetangga. Syaratnya ya itu, harus bawa KTP asli."

"Setelah ini, masih ada program lanjutan?"

"Tentu. Untuk 2016 akan ada lagi yang tidak hanya Ramadan, Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru saja. Melainkan juga pada hari-hari biasa. Ini sebagai wujud kepedulian AGP yang jadi bagian dari Artha Graha Network untuk berkontribusi kepada masyarakat di seluruh Tanah Air."

*       *       *

Video Liputan Artha Graha Peduli Gelar Pasar Murah Paket Sembako
*       *       *
Scan KTP dan foto warga untuk penukaran kupon

*       *       *
Kupon Pasar Murah Artha Graha peduli
*       *       *
Paket Sembako Artha Graha Peduli

*       *       *
Isi paket sembako: Beras, Gula Pasir, Terigu/Sagu, Minyak Goreng, dan Mie Instan

*       *       *
*       *       *

- Jakarta, 19 Desember 2015

Kamis, 17 Desember 2015

(Esai Foto) Anugerah Jurnalistik Aqua V: Apresiasi untuk Blogger




SORE itu, Selasa (15/12) saya menghadiri acara Malam Penganugerahan Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA V) kelima di Thamrin Nine Ballroom, UOB Plaza, Jakarta Pusat. Kedatangan saya sebagai undangan blogger yang 25 April lalu kebetulan pernah mengunjungi pabrik Aqua di Ciherang, Bogor, Jawa Barat.


*          *         *

PIMPINAN Aqua Grup, Parmaningsih Hadinegoro memberi sambutan sekaligus mengucapkan terima kasih kepada tamu undangan. Khususnya, pemenang dalam acara Malam Penganugerahan Anugerah Jurnalistik Aqua (AJA) V.

"Tema untuk tahun ini, 'Kelestarian Air dan Lingkungan sebagai Tanggung Jawab Bersama', diharapkan membuat banyak pihak untuk tergerak dalam pelestarian air dan lingkungan di Indonesia," Presiden Direktur PT. Aqua Golden Missisipi ini mengungkapkan.

*          *         *

KETUA Dewan Juri AJA V, Yadi Hendriana, mengaku senang dengan kontribusi Aqua untuk menyelenggarakan acara tersebut. Menurut sosok yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) ini, terkumpul 2.545 karya dari berbagai kategori. Seperti karya tulis cetak/online untuk blogger dan media, foto, televisi, hingga radio yang pertama kali diadakan tahun ini.

"Kami sebagai juri sangat senang karena minat masyarakat untuk berpartisipasi pada AJA V begitu antusias," tutur Yadi, 40 tahun. "Apalagi, saat ini media massa dan sosial memiliki peran penting dalam pelestarian air serta lingkungan. Untuk itu, sepantasnya jika ada penghargaan yang mengapresiasi mereka. Semoga apa yang dilakukan selama ini mampu memberi inspirasi pada masyarakat luas."

*          *         *

PEMBERIAN piagam juara dari Pepih untuk para pemenang. Total terdapat enam kategori sebagai berikut:

Kategori Karya Foto Umum (Media Sosial)
Juara 1: Wisnu Yudowibowo
Juara 2: Dede Sudiana
Juara 3: Komarudin

Kategori Karya Tulis Umum (Media Sosial)
Juara 1: Bayu M. Wicaksono
Juara 2: Evrina Budiastuti
Juara 3: Wandari Auliya Izzati

Kategori Karya radio:
Juara 1: RRI Pro 1
Juara 2: RRI Pro 3
Juara 3: Suara Surabaya

Kategori Karya Televisi:
Juara 1: DAAI TV
Juara 2: Metro TV
Juara 3: Trans 7

Kategori Foto Jurnalis:
Juara 1: Antara Foto
Juara 2: Merdeka (dot) com
Juara 3: Tempo

Kategori Karya Tulis Jurnalis:
Juara 1: Pos Kupang
Juara 2: Kompas
Juara 3: Suara Merdeka

*          *         *

EVRINA (ketiga dari kiri) meraih juara dua kategori media sosial. Wanita kelahiran 29 April ini memang konsisten menulis tentang lingkungan hidup di blog pribadi yang beralamat di evrinasp (dot) com. Itu mengapa, artikelnya yang berjudul "Bahu Membahu Melestarikan Air dan Lingkungan" mendapat apresiasi dari juri.

"Awalnya ga nyangka bisa menang. Alhamduliillah, semoga apa yang saya tulis bisa bermanfaat bagi pembaca," kata Evrina yang didampingi suaminya. "Artikel ini mengajak kita secara bersama melestarikan sumber daya air (SDA) dan lingkungan. Karena, memang menjaga kelestarian air dan lingkungan bukan merupakan tanggung jawab perorangan, kelompok, atau suatu lembaga saja. Tapi juga merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi dari hulu hingga hilir."

*          *         *

ALAT musik angklung yang kami mainkan serempak sebelum pengumuman juara pertama. Sayangnya, hingga detik ini, saya gagal meng-upload video di youtube karena file terlalu besar.

*          *         *


ADA kejutan dalam AJA V. Selain enam kategori tersebut, ternyata Aqua memberi penghargaan non-kompetisi Media Kreatif dan inspiratif kepada dua media. Yaitu, Harian Republika dan Majalah National Geographic Indonesia.

Republika dipilih karena karena karyanya yang menggugah publik saat menampilkan halaman depan yang seolah tertutup asap hingga tidak terbaca dengan jelas pada edisi Kamis, 8 Oktober 2015. Secara tidak langsung, mereka mengingatkan kepada pemerintah agar segera turun tangan. Sebab, apa yang dilakukan Republika memang mendapat dukungan dari masyarakat luas. Terutama di media sosial.

Sementara, National Geographic mendapat penghargaan pada edisi November yang terbit tanpa foto sama sekali pada cover-nya. Alias hanya kuning polos dengan teks: "Maaf. Tak ada gambar indah untuk perubahan iklim: Mampukah kita bertahan?" Bagi saya, ini menarik mengingat National Geographic dikenal sebagai majalah yang identik dengan keindahan foto pada halaman depan.

"Kami sangat terkesan dengan apa yang dilakukan kedua media itu yang mengkomunikasikan betapa besarnya dampak lingkungan kepada masyarakat lewat cara sederhana. Namun, justru efektif, sekaligus kreatif, dan inspiratif. pesan yang disampaikan itu sepenuhnya sejalan dengan tema AJA V yang ingin mengajak semua lapisan masyarakat untuk melestarikan lingkungan," kata Parmaningsih, semringah saat memberi penghargaan.

*          *         *

*          *         *

*          *         *

Artikel tentang Aqua sebelumnya:
- Aqua Tak Hanya Sekadar Memproduksi Air Mineral

Artikel tentang Lingkungan sebelumnya
- Tenggelamnya Tiang Gawang Kami
- Sosok Pemungut Sampah yang Terlupakan
- Pelabuhan Sunda Kelapa: Banyak Sampah dan Airnya Tercemar Limbah
- Perlunya Peraturan Tegas Pemerintah dalam Menangani Banjir
- "Jakarta Banget": Mengupas Sisi Lain Kehidupan Jakarta 
- Pengalaman Ekstrem di Pedalaman Sumatera
- Ketika Sepak Bola Tinggal Kenangan
- Serunya Menanam Pohon di Hutan Kota
- Nangkring Bareng Newmont: Menepis Stigma Negatif Pertambangan
- Menyaksikan Keindahan Pelabuhan Sunda Kelapa yang Termahsyur
- Waspadai Pohon Tumbang Mengancam Kendaraan Kita

Artikel tentang Esai Foto sebelumnya
- Membongkar "Rahasia" Bea Cukai
- Headlines Kompasiana: Realita Kehidupan
- Ketika Iron Man Buka Topeng Aslinya
- Terobosan Kompas.com dengan Foto Virtual ala Tokoh Idola
- Penampilan Tokoh Kartun dan Video Game

*          *         *
- Jakarta, 17 Desember 2015

Selasa, 15 Desember 2015

SMLYAC 2015 dan Harapan untuk Calon Arsitek Masa Depan


Juara kategori Commercial Depelopment SMLYAC 2015 (sumber foto: dokumentasi Sinarmasland.com)

SETAHUN lalu, Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) menyelenggarakan pameran di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 17-30 September 2014. Kebetulan, saya turut jadi saksi acara yang saat itu bertujuan untuk memperingati 55 tahun IAI di Galeri Cipta III TIM.

Event yang berlangsung selama dua pekan itu nengajak kami masyarakat umum untuk berkenalan dengan berbagai karya dari tokoh-tokoh yang ikut membangun fondasi pendidikan arsitektur di Indonesia. Tentu, acara tersebut "haram" dilewatkan bagi saya yang sejak kecil memang sempat bercita-cita sebagai arsitek.

Beberapa yang saya kenal sebagai pelopor di antaranya seperti Frederich Silaban (perancang Masjid Istiqlal), Liem Bwan Tjie, Achmad Noe'man, Soejoedi Wirjoatmojo,  Han Hoo Tjwan, Kusuma Pamuntjak, dan lainnya.

*       *       *

LEBIH dari setahun berselang, IAI kembali menyelenggarakan acara. Namun dengan tema yang berbeda. Yaitu, kompetisi arsitek bagi mahasiswa yang diprakarsai Sinar Mas Land, salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia. Ajang bertajuk "Sinar Mas Land Young Architect Competition 2015 (SMLYAC)" ini merupakan edisi kedua yang diselenggarakan dengan skala nasional.

Sayembara SMLYAC 2015 sudah berlangsung dalam empat bulan terakhir. Tepatnya, ketika diumumkan ke publik pertama kali pada 9 Juli lalu hingga ditutup 2 November. Untuk pengumumannya, sudah berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Sabtu (5/12).

Pada acara yang bertempat di gedung konvensi dan ekshibisi terbesar di Asia Tenggara yang Agustus lalu sempat saya kunjungi saat menghadiri Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2015 ini menghasilkan sembilan pemenang untuk tiga kategori berbeda.

Kategori Residential:
Juara 1: Tim Estevantra Sunandirjaya dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) yang mendapat hadiah uang Rp 100 juta.
Juara 2: Tim Antonius Richard Rusli dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) menerima hadiah uang RP 75 juta.
Juara 3: Tim Lucky Fachrurozi dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih hadiah uang Rp 50 juta.

Kategori Commercial:
Juara 1: Tim Dena Hilmi Fauzi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) sukses menggondol hadiah uang Rp 100 juta.
Juara 2: Tim Dian Indah dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) berhasil membawa pulang hadiah uang Rp 75 juta.
Juara 3: Tim Azki Muhammad dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (JAJY) ketiban pulung hadiah uang Rp 50 juta.

Kategori Resort:
Juara 1: Tim Silvanus Andi Saputra dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) akhirnya ditahbiskan untuk menerima hadiah uang Rp 100 juta.
Juara 2: Tim Gideon Sutanto dari Universitas Pelita Harapan (UPH) berhak mendapat hadiah uang Rp 75 juta.
Juara 3: Tim Reynaldo Theodore dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) meraih hadiah uang Rp 50 juta.

Sekadar informasi, pada 2 Desember lalu, terdapat 15 finalis terbaik yang sudah mempresentasikan karyanya di hadapan dewan juri yang kompeten di bidangnya. Mereka adalah:

Juri Kategori Residential: Sukendro Sukendar dari IAI (Founder Nataneka Architect), Andra Matin (Founder Andra Matin Architect), dan Jefry Budiman (Founder Grain and Green).
Juri Kategori Commercial: Ardi Jahya praktisi dari IAI, Rafael David (Principal Aboday Architect), dan Sofial Sibarani (praktisi AECOM).
Juri Kategori Resort: Prasetyo Adi (praktisi PDW Architect) dan Robert Day (WATG).

Dalam kesempatan itu, CEO Strategic Development and Services Sinar Mas Land, Ishak Chandra, menyebut, pihaknya bersyukur sekaligus bangga. Itu karena mereka dapat memberikan kesempatan kepada calon-calon arsitek terbaik di Tanah Air untuk berkarya di masa depan.

"Kami ucapkan selamat kepada seluruh pemenang. Semoga sayembara SMLYAC 2015 dapat meningkatkan semangat kalian untuk terus berkarya memajukan industri properti dan arsitektur di seluruh nusantara," tutur Ishak, 45 tahun. "Bagi yang belum berhasil meraih juara, jangan putus asa dan patah semangat. Karena, kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda."

*       *       *

APA yang dikatakan sosok yang bergelut di dunia properti sejak 1992 itu beralasan. Sebab, untuk SMLYAC 2015 ini memang diserbu peminat. Selain faktor hadiah yang tergolong wah hingga mencapai total Rp 625 juta yang meningkat dari SMLYAC 2014 (525 juta). Juga karena gengsi tersendiri di antara peserta, khususnya tim dari universitas terkait.

Bisa dipahami mengingat nama besar Sinar Mas Land yang memang sudah memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun dalam bidang pengembangan properti di Indonesia. Seperti yang saya kutip dari situs resminya, www.sinarmasland.com, mereka telah memiliki 50 proyek besar di penjuru Tanah Air dengan 10.000 ha land bank.

Hingga kini, sudah puluhan penghargaan yang diraih perusahaan yang merupakan anak dari Sinarmas Group (sinarmas.com) yang memiliki multiunit usaha. Mulai dari keuangan dan perbankan seperti Bank Sinarmas, kertas (Asia Pup and Papper dengan Sinar Dunia yang jadi merek generik di masyarakat), agribisnis dan makanan (Filma minyak goreng), telekomunikasi (Smartfren), hingga media (Orange TV dan Genflix).

Sementara, mengenai Sinar Mas Land, beberapa produk yang sangat familiar bagi publik seperti BSD City yang di dalamnya termasuk ICE yang memiliki luas 117 ribu meter persegi dan dinobatkan sebagai gedung terbesar kelima di Asia. Selain proyek kota dalam kota serta perumahan terintegrasi, Sinar Mas Land juga identik dengan pusat perbelanjaan seperti ITC (Mangga Dua, Roxy Mas, Fatmawati, Kuningan), dan perhotelan (Grand Hyatt serta La Grandeur).


*       *       *
Juara Resort Depelovment SMLYAC 2015 (sumber foto: dokumentasi Sinarmasland.com)

*       *       *
Foto bersama panitia dan juri SMLYAC 2015 (Sinarmasland.com)

*       *       *
Suasana peringatan 55 tahun IAI di TIM (dokumentasi pribadi)

*       *       *
Saya turut menuliskan ucapan selamat
*       *       *
Saya mencoba belajar arsitek lagi

*       *       *


*       *       *
- Padang, 15 Desember 2015

Senin, 14 Desember 2015

Tujuh Rahasia Inter Sukses Dominasi Seri A Musim Ini




FC Internazionale sukses mendominasi Seri A Italia musim ini. Skuat asuhan Roberto Mancini itu melenggang sendirian di puncak klasemen sementara. Itu setelah mereka menekuk Udinese dengan empat gol tanpa balas di Stadion Friuli, Sabtu (12/12) atau Minggu dini hari WIB. Mauro Icardi jadi bintang kemenangan Inter berkat dua golnya pada menit ke-23 dan 83 diikuti Stevan Jovetic (31), dan Marcelo Brozovic (86).

Yang menarik, tak lama berselang, rival mereka justru gagal mendulang kemenangan. Napoli diimbangi AS Roma tanpa gol dan Fiorentian ditekuk Juventus 1-3. Alhasil, kini Inter kian mantap sebagai pemuncak klasemen dengan 36 poin dari 16 pertandingan. "I Nerazzurri" mengungguli Fiorentina dan Napoli yang sama-sama mengoleksi 32 poin, Juventus (30 poin), dan Roma (29 poin).

Apa saja rahasia Inter bisa mendominasi Seri A musim ini? Sebagai Juventini -julukan fan Juventus- saya akan "membongkarnya" satu per satu:

1. Erick Thohir
Musim ini, skuat Inter bertabur bintang. Wajar saja mengingat mereka menggelontorkan dana hingga 85 juta euro (sekitar Rp 1,3 triliun) pada bursa transfer musim panas lalu. Sosok di balik ambisi besar itu tentu saja Erick Thohir. Ya, pria 45 tahun ini memang tidak pernah tanggung-tanggung untuk mengembalikan kejayaan Inter di Eropa setelah terakhir kali meraih "Treble Winners" 2009/10. Sekadar informasi, Erick merupakan pengusaha muda sekaligus taipan media asal Indonesia. Termasuk menjabat sebagai board of commisioner VIVA Group yang membawahi TVOne, ANTV, viva.co.id.

2. Diuntungkan Jadwal Eropa
Ya, di antara posisi lima besar klasemen saat ini, Inter memang benar-benar diuntungkan. Sebab, Fiorentina dan Napoli harus terpecah karena tampil di Liga Europa. Begitu juga dengan Juventus dan Roma yang berpartisipasi di Liga Champions. Sementara, Inter yang musim lalu finish di posisi delapan, sudah pasti tidak lolos ke kompetisi Eropa. Namun, itu justru membuat Joao Miranda dan kawan-kawan lebih fokus di Seri A. Hasilnya terbukti, hingga pekan ke-16 musim ini, mereka merupakan tim yang paling konsisten.

3. Strategi Tidak bisa Ditebak
La Gazzetta dello Sport pernah menyebut Inter musim ini bermain bak bunglon. Betapa tidak, nyaris setiap pekan, Mancini selalu mengubah strateginya. Adakalanya menggunakan 4-3-3, 4-3-1-2, 4-2-3-1, atau bahkan 3-5-2! Misalnya, saat mengalahkan Genoa 1-0 (6/12), Inter memasang Rodrigo Palacio sebagai ujung tombak. Sepekan kemudian, Mancini malah menurunkan pola 4-2-3-1 dengan Icardi dibantu tridente Eropa Timur: Ivan Perisic-Jovetic-Adem Ljajic.

4. Faktor Mancini
Publik Eropa menjuluki Mancini sebagai "raja midas" di dunia sepak bola. Tentu, ini bukan hiperbola, melainkan nyata. Sebab, dari lima klub yang sudah dilatih sebelumnya, selalu berujung gelar. Tidak percaya? Simak, faktanya: Fiorentina pada 2001/02 sukses meraih Piala Italia pada akhir musim, Lazio 2002-2004 (Piala Italia 2003/04), Inter periode pertama 2004-2008 sukses memberikan tujuh trofi, termasuk tiga Seri A beruntun.

Selepas dari Italia, tangan dingin pria 51 tahun itu berlanjut bersama Manchester City 2009-2013 dengan tiga gelar, khususnya Liga Primer 2011/12 yang mengakhiri penantian panjang 44 tahun! Terakhir, Mancini sukses menjuarai Piala Turki 2013/14 bersama Galatasaray. Apakah tradisi ini berlanjut dengan Inter pada akhir musim mendatang?

5. Tangguhnya Handanovic
Hanya kebobolan sembilan gol dari 16 pertandingan musim ini. Catatan itu menjadikan pertahanan Inter yang terbaik di top lima kompetisi Eropa. Yaitu, Seri A Italia, Liga Primer Inggris, La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman, dan Ligue 1 Prancis. Sudah pasti, gelar protagonista layak disematkan kepada Samir Handanovic. Kiper asal Slovenia ini ditahbiskan sebagai yang tertangguh di Eropa! Handanovic menyisihkan nama-nama tenar seperti penjaga gawang Juventus, Gianluigi Buffon, Gianluigi Donnarumma (AC Milan), Claudio Bravo (Barcelona), dan David De Gea (Manchester United).

6. Icardi telah Kembali
Inter tidak hanya kuat di lini belakang. Klub yang bermarkas di Pinetina, Milan, ini juga dahsyat di sektor depan. Memang, musim ini mereka baru mengemas 22 gol, alias masih kalah dibanding empat tim di lima besar klasemen. Namun, jangan lupa, Inter memiliki Icardi yang sukses meraih capocannoniere -gelar pencetak gol terbanyak di Seri A- musim lalu. Saat ini, kolaborasinya dengan Jovetic sudah menghasilkan 10 gol. Fakta itu lebih dari cukup untuk menggetarkan setiap lawan yang dihadapi.

7. Tifosi Sabar
Ini rahasia pamungkas dari kesuksesan Inter musim ini. Ya, betapa tidak, Interisti -julukan fan Inter- begitu sabar menunggu tim kesayangannya kembali merajai Seri A sejak terakhir kali juara pada 2009/10. Alias, sudah lima tahun mereka menunggu yang jika dianalogikan pacaran, mungkin sudah putus-nyambung. Bahkan, dalam periode itu, Inter menjelma sebagai "tim kelas dua"! Lantaran, selalu di bawah Juventus dan Milan yang mendominasi Seri A sejak 2010/11 hingga musim lalu.

Beruntung, Inter tidak PHP. Lantaran musim ini tampil konsisten hingga sukses melaju ke puncak dengan meraih 11 kemenangan, tiga imbang, dan hanya menelan dua kekalahan. Termasuk, saat menekuk Milan 1-0, Roma 1-0, dan imbang dengan Juventus 1-1. Sekadar informasi, di Tanah Air terdapat dua komunitas terbesar Interisti: Inter Club Indonesia (ICI) dan Indonesia Nerazzurra.

*        *        *
Artikel tentang Inter sebelumnya:
- Erick Thohir: Inter Incar Liga Champions
- Wawancara Eksklusif Erick Thohir: Saya Percaya Loyalitas Dua Arah
- Kilas Balik 2014: Berakhirnya Pahlawan "Treble Winners" 2009/10
- Diego Milito dan Angka 22
- Kisah Ponsel Dua Presiden Seri A: Erick Thohir dan Andrea Agnelli
- Fakta Menarik Ivan Zamorano dan Kostum No 1+8
- Cinta Lama Bersemi Kembali

Artikel tentang Interisti
- Giuseppe Meazza Pindah ke Jakarta
- ICI Syukuran HUT ke-11
- Buka Bersama ICI: Dari, Oleh, dan Untuk Interisti
- Satu Dekade ICI: Semangat Kekeluargaan dari Interisti
- Ultah Kelima IN Distretto Jakarta

Artikel tentang Seri A:
- Kenangan Bersama Andrea Pirlo saat Masih Perkuat Juventus
- Chiellini: Antara Suarez, Indonesia, dan Kedekatannya dengan Juventini
- Demam The Avengers Melanda Skuat Juventus
- Kembalinya "Il Sette Magnifico"
- We are Rival, but Not Enemy

*        *        *

- Padang, 14 Desember 2015

Sabtu, 12 Desember 2015

Tentang Rezeki yang Tak ke Mana-mana





SALAH satu "godaan ternikmat" bagi kaum pria yaitu ketika menunaikan Salat Jumat. Secara jujur, saya harus mengakuinya. Terutama saat mendengar kutbah. Entah kenapa, nyaris setiap mengikuti Jumatan, seperti ada perang yang berkecamuk. Padahal, ketika berangkat ke Masjid, mata saya sangat segar. Pun begitu berwudu, benar-benar semangat.

Tapi, ketika menyelesaikan salat sunah yang berganti kutbah, tiba-tiba mata selalu diserang kantuk. Adakalanya, saya kuat menahan godaan untuk tidak tertidur dari mulai masuk hingga keluar masjid. Tapi, pernah juga saya "kalah" karena terlelap sementara hingga ikamah tiba.

Itu seperti yang terjadi kemarin, Jumat (11/12). Ironisnya, ketika menuju rumah, seperti ada yang mengipasi angin di atas kepala saya, tiba-tiba langsung segar lagi.

*      *      *

SIANG itu, seperti biasa menjelang kerja, saya menyempatkan diri untuk menikmati secangkir kopi hitam untuk memanjakan mata di beranda rumah. Sambil memandang hilir mudik masyarakat yang bekerja, saya asyik menyeruput kopi khas Lampung yang diberi teman, bulan lalu. Tak lupa, keberadaan saya saat itu ditemani koran olahraga nasional dan harian umum yang mengisi rutinitas setiap siang.

Sambil menikmati perkembangan berita di Tanah Air bersama seteguk dua teguk kopi, saya dikagetkan suara dari jarak sekitar lima meter. Ketika menoleh, saat itu berdiri seorang pria berusia lanjut dengan memikul dagangannya.

Bagi saya, sosok tersebut tentu tidak asing lagi yang disebut sebagai tukang sol. Lantaran sering melihatnya saat menjajakan jasanya yang melewati rumah saya. Saat saya masih kanak-kanak, saya sering menyaksikan banyak tukang sol sepatu baik dipikul atau memakai sepeda bersama vermak jeans. Namun, seiring perkembangan zaman, hanya beliau yang masih bertahan.

"Jang, ceuk si ibu aya tas nu dijahit?" demikian kata pria yang dari dulu akrab kami panggil pak Solihin kepada saya dalam bahasa sunda sehari-hari. Seketika saya mangangguk dan beringsut ke rumah untuk mengambil tas yang bagian atas dekat sleting sudah jebol.

Entah memang sudah jadul karena kalau saya tidak salah ingat, adik saya memberinya sebagai kado ulang tahun pada seperlima abad. Atau, memang bekas kena paku hingga jahitannya sedikit terkelupas. Biasanya, saya memang kurang memerhatikan. Sebab, masih nyaman dipakai dan bolongnya bukan pada tempat yang penting seperti di bagian bawah.

Usai menyerahkan tas untuk dijahit pak Solihin, saya kembali melanjutkan aktivitas membaca dua surat kabar tersebut. Kebetulan, yang lagi hangat mengenai diduga publik figur berinisal NM dan PR serta mengenai wakil Seri A Italia yang lolos ke babak 16 besar Liga Champions.

Setelah selesai membolak-balik halaman demi halaman, saya iseng menengok ke samping. Saat itu, jemari pak Solihin terlihat asyik menari di antara jarum dan benang yang disimpulkan pada tas saya. Seketika, timbul keinginan  untuk memotret.

Saya pikir, beliau tidak memerhatikan saya. Ternyata, pria yang berasal dari Jawa Barat ini tersenyum saat saya mengarahkan ponsel, "Nanaonan atuh jang. Jiga euweuh pagawean wae motret-motret segala."

"He he he, da si bapak mah serius amat atuh," jawab saya segera memasukkan ponsel ke saku celana.

"Ya, serius teu serius. Ngarana geh keur gawe. Iyeu (tas ini) geus kelar. Naon deui nu disol?"

"Iya pak, nanti saya tanya di rumah dulu, ada yang mau disol lagi apa nggak," jawab saya dengan bahasa Indonesia. Meski ada keturunan sunda, tapi saya belum berani bicara sama yang lebih tua dengan memakai bahasa sunda. Alias masih kagok. Malah beberapa tahun silam saat tinggal di kota yang identik dengan cemilan tahu, saya sempat disemprot akibat menawarkan makan dengan "dahar" dan bukan "tuang".

Beruntung pak Solihin mengerti kesulitan saya dengan membalas obrolan yang dicampur bahasa Indonesia. Sambil mengerjakan sol sepatu milik tetangga, dengan ramah beliau menjawab beberapa pertanyaan saya. Salah satunya mengenai sudah berapa lama menjajakan jasa sol.

Yang menarik, jawabannya justru membuat saya terhenyak. "Ari saya mah keliling beginian jauh sebelum ujang -maksudnya saya- lahir. Dulu, banyak teman seangkatan saya yang juga jadi tukang sol. Tapi, sekarang banyak yang alih profesi dagang lain. Juga ada yang pulang kampung menikmati hari tua."

"Pak Solihin belum ada rencana pensiun?"

"Lah, ngapain? Di rumah, anak udah pada besar, cucu juga udah pada SMA. Kalau saya di rumah aja, pasti mereka ga ngebolehin dagang. Padahal, saya dari muda ga bisa diam, harus gerak. Apalagi sekarang sudah tua,  jadi harus banyak beraktivitas biar ga pikun."

"Sekarang, agak sepi ya pak, dibanding dulu."

"Iya sih. Tapi rezeki mah kan kayak jodoh, jang. Enggak ke mana-mana, tapi dicarinya harus di mana-mana. Selama saya masih kuat, saya mah terus aja bakal keliling."

"Iya juga sih pak. Lagian, lumayan juga sih kalo banyak pelanggan."

"Nah itu dia jang. Sekarang, jarang ada tukang sol. Yang muda-muda, mana mau keliling kayak saya. Jadi biar kata untungnya dikit, tapi pemasukan setiap hari lancar. Lumayan buat jajan cucu di rumah."

*      *      *

KETIKA melirik jarum jam, sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Itu berarti, saya harus bersiap menuju tempat kerja. Sambil mengucapkan terima kasih, saya pun pamit kepada pak Solihin dengan membereskan gelas dan lembaran koran. Beliau mengangguk diiringi senyum dengan jemari masih menari di sisi luar sepatu.

Saat melangkah menuju rumah, sayup-sayup terdengar obrolan dari beberapa orang yang sedang antre. Ada yang ingin sepatunya disol, tas, hingga sendal kulit. Ya, seperti kata pak Solihin. Rezeki memang tidak ke mana-mana karena sudah ada yang mengatur. Namun, jangan lupa. Untuk mendapatkannya, tentu kita harus mencarinya di mana-mana.

*      *      *
Artikel terkait:
- Malu Itu Tidak Ada dalam Hidupnya
- Menguak Rahasia Tong Setan

*      *      *
- Jakarta (12/12)