TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: SATU Indonesia Awards 2016

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label SATU Indonesia Awards 2016. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SATU Indonesia Awards 2016. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Desember 2016

Sensasi Menanam Gaharu Bersama Astra di Bukit Kasur Cianjur




Yulian Warman menyerahkan bantuan secara simbolis

PT Astra International Tbk kembali mengadopsi 1.200 pohon produktif yang memiliki manfaat besar bagi masyarakat di wilayah Batu Kasur, kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kegiatan itu dilakukan pagi tadi, Kamis (22/12) bersama keluarga besar Astra, perwakilan penduduk setempat, media, dan blogger.

Batu Kasur merupakan wilayah baru yang ditanami Astra. Sebelumnya, salah satu kelompok usaha terbesar di Tanah Air itu sudah melakukannya di desa Tunggilis dan desa Sarongge yang sama-sama berada di Cianjur. Total, sejak 2010, Astra telah menanam 5.700 pohon yang tersebar di kabupaten Cianjur.

Nah, yang istimewa, dari 1.200 bibit pohon hari ini, 500 di antaranya bibit gaharu. Seketika, saya jadi ingat pepatah lawas, "sudah cendana, gaharu pula". Kebetulan, sejak masih di Kalimantan, saya sudah mengenal pohon yang harganya "wah" ini bersama cendana dan ulin.

Ini jadi sansasi tersendiri bagi saya yang kali pertama bisa menanam gaharu. Maklum, saat panen atau setelah ditanam, gubal atau lapisan hitam pada gaharu ini nilainya mencapai Rp 30-50 juta per pohon!

Bayangkan nilainya. Itu untuk satu pohon. Sementara, Astra menyumbang 500 pohon yang bisa dikalikan sendiri karena mencapai "Em-eman". Alhasil, kontribusi mulia perusahaan yang berdiri sejak 1957 ini mendapat apresiasi banyak pihak. Khususnya, dari pemerintah setempat di Cianjur.

Gaharu selama ini tumbuh liar di pedalaman Nusa Tenggara Barat (NTB). Pohon yang memiliki nama latin Gyrinops Versteegii ini bisa tumbuh hingga puluhan meter dengan diameter rata-rata 40 hingga 60 cm. Nah, gaharu liar yang telah ratusan tahun hidup di hutan seperti itu, gubalnya mencapai Rp 500 juta per kilogram yang setara dengan harga emas.

Biasanya, gubal dijadikan produk wewangian  seperti parfum, dupa, dan lainnya dengan kualitas yang sangat bagus. Jika di rumah kita mengoleksi parfum bermerek, beberapa di antaranya bahan bakunya berasal dari gubal gaharu.

Selain gaharu, 700 bibit pohon lainnya terdiri dari nangka, alpukat, jeruk bali, dan jengkol yang memiliki manfaat cukp besar untuk masyarakat. Sama seperti di dua desa sebelumnya, tujuan Astra menanam pohon buah itu demi konservasi lingkungan atau penanaman kembali area yang gundul. Sekaligus, untuk memberikan nilai tambah yang ekonomis bagi petani di sekitar area penanaman.

Itu diakui Iskandar, salah satu warga setempat yang saya temui. Menurutnya, upaya yang dilakukan Astra memberi harapan bagi mereka. "Saya berterima kasih dengan kontribusi Astra di daerah kami. Tiga atau beberapa tahun ke depan, kawasan ini akan menjadi lebat. Imbasnya kepada kami yang warga sekitar ya bisa menghasilkan rupiah untuk menambah dapur tetap ngebul," tutur Iskandar.

Dari biaya Rp 100 ribu per pohon yang diadopsi, para petani akan mendapat bagian sebesar 35%. Itu bisa digunakan untuk berternak kelinci, ayam atau kambing sebagai bentuk dari investasi jangka pendek. Sehingga, dengan program ini akan memberdayakan para petani di sekitar wilayah tersebut untuk juga dapat berternak.

Tak hanya itu, para petani juga diberikan pelatihan manajemen pengolahan uang serta penanaman pohon. Agar, program ini dapat berjalan dengan baik serta memberikan keuntungan yang maksimal. Dari kegiatan itu, diperkirakan petani dapat memanen buah-buahnya dalam tiga hingga empat tahun mendatang.

*      *      *
SELAIN menanam pohon, saya yang tergabung dalam 100 peserta juga mengikuti diskusi tentang pelestarian lingkungan di Saung Sarongge. Nah, ini menarik mengingat narasumbernya merupakan penerima Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2014, Maharani.

Awalnyal, saya pikir saat pertama kali mendengar namanya itu wanita. Eh, ga tahunya pria. Ini kali ketiga saya mendapat ilmu dari pemenang SATU Awards setelah 27 Oktober lalu bersama Darwis Akbar dan Ridwan Nojeng di yang merupakan pemenang tahun ini.

"Indonesia baru memasok 10% dari bahan baku parfum dunia. Gaharu salah satu andalan ekspor masa depan yang bisa membuat petani lebih sejahtera," kata Maharani.

Sementara, Head of Public Relations Astra, Yulian Warman, mengatakan, "Kami melakukan ini rutin sejak tujuh tahun lalu di Sarongge. Alhamdulillah, upaya Astra bersama pemerintah setempat, GIF (Green Initiative Foundation), dan berbagai pihak lainnya mendapat apresiasi positif. Sarongge jadi program unggulan dari Kementerian Perhutanan. Bahkan pada 2013, pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono/ Presiden RI keenam) sampai mengunjungi Sarongge karena ingin tahu daerah yang awalnya kritis kini jadi hutan lindung."

Apa yang dikatakan Warman beralasan. Sejak 2008, Astra telah menanam 3.616.085 pohon di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Cianjur. Kegiatan tersebut jadi bagian dari salah satu pilar kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) Astra yang terdiri dari Pendidikan, Usaha Kecil & Menengah (UKM), Lingkungan serta Kesehatan.

Nah, selain menanam pohon, Astra juga melaksanakan kegiatan lain di bidang lingkungan, seperti:

- Kampanye gaya hidup ramah lingkungan bersama Astra, Astra Green Lifestyle (AGL) yang dilakukan di enam kota besar. Dalam kegiatan ini dilaksanakan lomba lari ramah lingkungan Astra Green Run (AGR) di Jakarta dan Bali. Serta, kamapnye melalui jalan sehat, senam, dan fun run di Pekanbaru, Palembang, Bandung, dan Yogyakarta.

- Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dilakukan bersama pemerintah daerah dengan melakukan pembangunan dan pengembangan 33 hutan dan 13 taman kota yang dilakukan Grup Astra di seluruh nusantara.

- Pencegahan abrasi pantai dengan melakukan pembangunan tanggul dan penanaman 843.296 mangrove di seluruh Indonesia.

- Membangun kawasan hutan terpadu Grup Astra seluas 200 Ha yang akan jadi tempat pembelajaran tentang kehutanan, keanekaragaman hayati, serta pendidikan lingkungan tentang hutan tropis Indonesia, Haroto Pusako, Astra Forest, di Babakan Madang, Sentul. Di kawasan ini dikhususkan area seluas 4 Ha untuk konservasi 3.925 pohon dari 23 jenis tanaman buah langka.

- Mengelola program pemberdayaan masyarakat dan konservasi sungai Ciliwung bernama Astra Eco Edu River di empat wilayah yaitu, Depok, Jawa Barat, hingga Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan.

- Kampung Berseri Astra (KBA), pengembangan implementasi empat pilar CSR Astra. Yaitu, Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan, dan Kesehatan di kampung atau daerah tertentu secara terpadu yang diberi nama Kampung Berseri (Bersih, Sehat, Cerdas, dan Produkti). Mereka tersebar di 43 wilayah di Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua.

- Pengembangan 17 Bank Sampah yang dibina Astra di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Timur.

- Pembinaan 51 sekolah Adiwiyata di seluruh Indonesia. Binaan Astra berhasil meraih predikat Adiwiyata Mandiri sebanyak dua sekolah dan Adiwiyata Nasional 15 sekolah.

- Pembangunan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Astra telah membangun lima RPTRA di lima wilayah DKI Jakarta, yaitu Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu.

"Pada prinsipinya, di mana pun instalasi Astra berada, harus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Itu sesuai dengan butir pertama filosofi Catur Dharma, yaitu "Menjadi Milik yang Bermanfaat bagi Bangsa dan Negara'," Warman, mengungkapkan.


*      *      *
Pemandangan Bukit Batu Kasur

*      *      *
Suasana jelang penanaman pohon

*      *      *
Maharani memperlihatkan cara penanaman gaharu

*      *      *
Rekan blogger Hazmi Srondol memotret titik koordinat tanamannya

*      *      *
Sepanjang areal yang ditanami pohon dari 100 peserta

*      *      *
Foto bersama yang bakal jadi cerita istimewa untuk anak dan cucu nanti

*      *      *
Salah satu pengalaman berkesan bagi saya sepanjang 2016 (Foto: @metreg)

*      *      **      *      *
*      *      **      *      *
*      *      **      *      *

*      *      **      *      *
*      *      **      *      *
*      *      **      *      *

*      *      **      *      *
*      *      **      *      *
*      *      **      *      *

*      *      *

Artikel Grup Astra Sebelumnya:

Di Balik Julukan Pahlawan Lembah Hijau Rumbia
Yuk, Berkunjung ke Museum Astra
Apresiasi Astra untuk Guru dan Sekolah di Tanah Air pada Hari Guru Nasional
Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016
Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya?
7 Alasan Harus Memiliki Daihatsu Sigra
Keceriaan di Booth Daihatsu GIIAS 2016
Menikmati Sensasi Perjalanan Bersama "Si Biru" Grand New Avanza
Magnet Grand New Veloz dan Grand New Avanza di GIIAS 2015
Belajar Disiplin (Lagi) Berkat Mengunjungi Pabrik Toyota TMMIN
Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak hanya Memproduksi Mobil
Kopdar Kokgituya.com yang Menambah Pengetahuan Blogger
Ke Kalimantan Aku Kan Kembali
Pengalaman Ekstrem di Pedalaman Sumatera

*      *      *
- Sarongge (Cianjur), 22 Desember 2016
Ditulis dalam perjalanan pulang dan diedit Jumat (23/12) dini hari WIB

Sabtu, 10 Desember 2016

Di Balik Julukan Pahlawan Lembah Hijau Rumbia


Ridwan Nojeng peraih penghargaan SATU Indonesia Awards 2016

SETITIK air yang menetes di batu karang mungkin tidak berarti. Namun, jika tetesan air itu berlangsung secara terus menerus bisa menghancurkan karang. Demikian adagium lawas yang tepat untuk Ridwan Nojeng.

Pria 32 tahun ini merupakan penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2016. Yaitu, penghargaan dari PT Astra International kepada anak bangsa yang berlangsung sejak 2010.

Kebetulan, saya mendapat kehormatan untuk bisa menghadiri pengumuman ketujuh pemenang. Tepatnya, di Kantor Pusat Astra di Sunter, Jakarta Utara, Kamis (27/10). Saat itu ada lima kategori individu dan satu kelompok.

Ridwan mendapat penghargaan dalam bidang lingkungan sebagai "Pahlawan Lembah Hijau Rumbia". Untuk bidang pendidikan diraih Zainul Arifin, kesehatan (Yoga Andika), teknologi (Dewis Akbar), dan kewirausahaan dengan dua pemenang (Muhammad Aripin dan Akhmad Sobirin). Sementara, untuk kelompok diraih Yayasan Pendidikan Kemaritiman Indonesia sebagai Pelopor Rumoh Tiram Kampung Tibang.

"Mereka dengan segenap tenaga dan pikiran telah bekerja nyata untuk kemajuan wilayahnya. Melihat inovasi, semangat, serta manfaat yang telah dilakukan para pemuda ini, Astra, senantiasa mendukung kegiatan mereka agar semakin banyak mutiara-mutiara yang menginspirasi masyarakat untuk terus berkarya membangun bangsa," kata Presiden Direktur Astra Prijono Sugiarto.

Selain mendapat plakat dan sertifikat, masing-masing pemenang juga menerima Rp 55 juta sebagai apresiasi dari Astra. Mereka berasal dari wilayah barat hingga timur Indonesia dengan pencarian sejak Maret 2016. Tahun ini terdapat 2.341 pendaftar yang lebih banyak dibanding 2015 (2.071 pendaftar).

"Kita punya orang-orang muda luar biasa yang selama ini tidak terangkat ke permukaan. Mereka bisa jadi contoh bagi pemuda-pemudi lain untuk kemajuan Indonesia," tutur Onno W. Purbo, salah satu juri yang merupakan pakar Teknologi Informasi.

*          *         *
LANGKAHNYA tegap dengan pembawaan yang sederhana. Mengenakan kemeja berwarna putih dengan celana jeans biru. Sejak namanya diumumkan sebagai salah satu penerima SATU Indonesia Awards 2016, Ridwan tak hentinya menyunggingkan senyum. Ketika turun dari panggung sambil membawa piala, dengan ramah dia menerima saya yang ingin memotretnya.

"Saya bangga mendapat penghargaan dari Astra," tutur Ridwan menjawab berbagai pertanyaan saya. "Tidak hanya untuk saya pribadi, tapi juga kepada masyarakat Jeneponto secara keseluruhan. Saya tidak akan ada di panggung (menerima penghargaan SATU Indonesia Awards) tanpa peran dari mereka selama ini."

Apa yang dikatakan pria kelahiran Battamua ini beralasan. Sebab, prestasi itu berkat dukungan dari masyarakat Tompobulu yang merupakan desa di wilayah pegunungan kecamatan Rumbia, kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Di tanah kelahirannya itu, Ridwan berhasil mengubah wilayah yang awalnya gersang jadi Desa Wisata Lembah Hijau Rumbia sejak diresmikan pada 2011.

Tentu, untuk menjadikan wilayah yang awalnya tandus hingga kini subur itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Itu diakui Ridwan kepada saya melalui sambungan telepon, pagi tadi (10/12). Menurutnya, butuh kerja keras yang memakan waktu, tenaga, pikiran, hingga materi. Maklum, Ridwan memulainya secara seorang diri.

Tepatnya, sejak 2010, dia merintis produksi pupuk organik dari kotoran sapi di desa Tompobulu. Melalui pupuk organik hasil produksinya itu, Ridwan melakukan penghijauan yang dimulai dari pekarangan rumahnya. Lalu, berkembang dengan memotivasi warga untuk ikut serta mengembangkan daerah mereka.

Seperti kata pepatah, hasil tidak pernah mengkhianati proses. Saat ini, Ridwan dan warga desa sudah memetik kerja kerasnya. Lantaran kampungnya banyak didatangi turis lokal dan mancanegara. Termasuk, pupuk organiknya dengan merek Lembah Hijau Rumbia sudah banyak dipesan pelanggan.

"Awalnya, saya dianggap kurang waras sama masyarakat," kata Ridwan tersenyum mengenang awal-awal kegiatannya. "Mereka tidak mau pupuk organik yang saya buat karena berasal dari kotoran ternak. Mayoritas mengatakan itu hanya kotoran ternak dan bukan pupuk. Tapi, diam-diam saya taruh pupuk organik pada tanaman masyarakat. Sepekan kemudian, saya tunjukkan perbedaan antara tanaman yang diberi pupuk dengan warna hijau mengkilat dan tidak diberi pupuk yang berwarna kuning. Sejak saat itu, masyarakat baru percaya."

*          *         *
SELALU ada pelangi setelah badai. Demikian, yang dialami Ridwan untuk meyakinkan masyarakat sekitarnya. Berbagai penolakan hingga dianggap gila tidak membuatnya putus asa. Sebaliknya, Ridwan kian tertantang untuk bisa memberi kontribusi yang terbaik di wilayahnya. 

Bahkan, dia rela mengeluarkan uang hingga Rp 20 juta untuk menyiapkan bibitnya. Enam tahun silam, jumlah tersebut sangat besar. Tapi, bagaimanapun, Ridwan enggan menyerah. Dia percaya, desanya yang gersang bisa jadi subur jika seluruh masyarakat kompak. Itu semua diawali dengan menyuburkan pekarangan masing-masing.

"Saya mengadakan pertemuan dan diskusi dengan masyarakat. Kepada mereka, saya katakan bahwa tanah di wilayah kita perlu peremajaan. Caranya, antara lain dengan penanaman pohon dan pengolahan tanah secara organik. Bisa dipahami mengingat daerah saya dikenal tandus dan tercatat sebagai kabupaten termiskin di Sulawesi Selatan. Untuk itu, saya ingin mengubahya dengan menghijaukan dan mengembangkan potensi yang ada," Ridwan, mengungkapkan.

Terbukti, setelah berhasil meyakinkan masyarakat mengenai program pupuk organik, Ridwan langsung berinisiatif bersama masyarakat setempat. Mereka menyulap lahan produksi pupuknya jadi tempat wisata. Kebetulan, saya pribadi memang sempat melewati daerah tersebut pada 2015 lalu ketika melaksanakan tugas kantor. Menurut saya, daerah tersebut memang memiliki pemandangan indah serta udara yang sejuk.

Berkat keuletan Ridwan dan masyarakat sekitar, tempat wisata lembah hijau rumbia berdiri. Bahkan, saat ini sudah ada kolam renang, cottage, kafe, aula, dan sarana pendukung lain. Tak heran jika laman resmi kabupaten Jeneponto menjadikan Lembah Hijau Rumbia sebagai salah satu destinasi wisata andalan (Sumber: jenepontokab.go.id).

Yang menarik, Ridwan juga membeberkan hadiah yang diterima dari Astra. Ternyata, tidak sepeser pun masuk ke dalam kantong pribadinya. Padahal, nominalnya lumayan besar mencapai Rp 55 juta. Termasuk, ketika saya bergurau jumlah tersebut bisa untuk kembali jalan-jalan ke Jakarta lagi.

"Tidak lah. Buat apa? Saya sudah puas dua hari diajak keliling Jakarta sama Astra setelah menerima pernghargaan. Ha ha ha," ujar Ridwan yang ketika saya telepon sedang berada di ladangnya. "Rp 20 juta saya bagi kepada teman-teman dan masyarakat yang selama ini membantu kami. Sisanya, saya pakai untuk membangun lokasi. Kan saya tidak mau Jeneponto mendapat julukan kabupaten termiskin di Sulawesi Selatan."

Ridwan mengakui kian termotivasi setelah mendapat penghargaan dari Astra. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya benar-benar pantas menerima julukan sebagai mutiara penerang bangsa. Untuk itu, Ridwan enggan berhenti sampai di sini. Dia memiliki banyak proyek ke depan yang sedang digarap bersama masyarakat setempat.

Maklum, berkat tangan dinginnya, warga desa dan sekitarnya mau berbenah memperbaiki wilayahnya. Termasuk, mengembangkan berbagai usaha di sektor makanan, kerajinan, dan lain-lain di sekitar tempat wisata. Bahkan, Ridwan juga memperkerjakan anak-anak yang putus sekolah. Secara tidak langsung, berkat pupuk organik yang berkembang jadi taman hijau rumbia berhasil menggerakkan perekomian masyarakat sekitar.

"Saya berterima kasih kepada Astra. Berkat penghargaan itu, desa kami jadi sering diliput media secara positif. Rencananya, saya akan mengadakan event budaya yang melibatkan 25 negara di Jeneponto pada Agustus 2017. Makanya, mulai sekarang, saya dan teman-teman sudah berbenah betul untuk membangun lapangan untuk kegiatan teater," Ridwan, mengungkapkan.***

*          *         *
Ridwan seusai menerima penghargaan dari Presiden Astra Prijono Sugiarto

*          *         *
Artikel Grup Astra Sebelumnya:
Yuk, Berkunjung ke Museum Astra
Apresiasi Astra untuk Guru dan Sekolah di Tanah Air pada Hari Guru Nasional
Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016
Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya?
7 Alasan Harus Memiliki Daihatsu Sigra
Keceriaan di Booth Daihatsu GIIAS 2016
Menikmati Sensasi Perjalanan Bersama "Si Biru" Grand New Avanza
Magnet Grand New Veloz dan Grand New Avanza di GIIAS 2015
Belajar Disiplin (Lagi) Berkat Mengunjungi Pabrik Toyota TMMIN
Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak hanya Memproduksi Mobil
Kopdar Kokgituya.com yang Menambah Pengetahuan Blogger
Ke Kalimantan Aku Kan Kembali

Artikel Sosok yang Menginspirasi Sebelumnya
- Kota Roma Tidak Dibangun dalam Semalam
Ngeblog sebagai Terapi Otak
- Menguak Rahasia Tong Setan
- Malu Itu Tidak ada Dalam Hidupnya

*          *         *
- Jakarta, 10 Desember 2016

Kamis, 27 Oktober 2016

Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016


Ketujuh penerima Satu Indonesia Awards 2016 bersama Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Prijono Sugiarto 

Setelah tujuh bulan  menyeleksi, akhirnya PT Astra International Tbk menemukan "Tujuh Mutiara" terbaik untuk menerangi bangsa ini di masa depan. Mereka berasal dari wilayah barat hingga timur Indonesia dengan proses pencarian sejak Maret hingga Oktober 2016.

Ya, mereka lolos dalam proses penjurian Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards 2016. Saya mendapat kehormatan untuk melihat langsung "ketujuh mutiara" itu saat menghadirinya di Kantor Pusat Astra, Sunter, pagi tadi (27/10).

Sebab, apa yang dilakukan mereka, benar-benar out of the box. Dalam arti, usaha dan perjuangan ketujuh orang itu sungguh di luar dugaan saya. Tak heran jika Astra memberi apresiasi mereka untuk menerima penghargaan SATU Indonesia Awards 2016.

Mereka dinilai memiliki sumbangsih yang bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya. Itu sejalan dengan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa. Kebetulan, 20 Februari 2017, perusahaan yang kini dipimpin Prijono Sugiarto sebagai presiden direktur itu genap 60 tahun.

Tentu, enam dekade bukan waktu yang singkat. Perjalanan lebih dari setengah abad itu dilalui Astra dengan konsisten untuk turut berkontribusi kepada negeri ini. Termasuk mengadakan SATU Indonesia Awards 2016 yang pemberian anugerahnya bertepatan pada Hari Blogger Nasional sekaligus sehari jelang Peringatan Sumpah Pemuda.

"Sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda, hari ini kita kembali menyaksikan hadirnya sosok-sosok pejuang muda dari pelosok nusantara," tutur Prijono. "Mereka dengan segenap tenaga dan pikiran telah bekerja nyata untuk kemajuan wilayahnya. Melihat inovasi, semangat, serta manfaat yang telah dilakukan para pemuda ini, Astra, senantiasa mendukung kegiatan mereka agar semakin banyak mutiara-mutiara yang menginspirasi masyarakat untuk terus berkarya membangun bangsa."

SATU Indonesia Awards 2016 merupakan edisi ketujuh sejak kali pertama diselenggarakan pada 2010. Dalam periode itu, Astra membuka lebar kesempatan kepada putra-putri bangsa untuk berperan aktif terhadap lingkungan sekitarnya melalui website www.satu-indonesia.com. Tahun ini, terdapat 2.341 pendaftar yang berasal dari Banda Aceh hingga Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Proses seleksi dimulai dari jenjang administrasi, penilaian program, verifikasi, hingga presentasi di hadapan dewan juri yang sangat berpengalaman di bidangnya, yaitu:

- Emil Salim (Dosen Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universistas Indonesia)
- Nila Moeloek (Menteri Kesehatan)
- Fasli Jalal (Guru Besar Pascasarjanan Universitas Negeri Jakarta)
- Tri Mumpuni (Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan)
- Onno W. Purbo (Pakar Teknologi Informasi)
- Bambang Harymurti (Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk)
- Yulian Warman (Head of Public Relations Division Astra International)
- Riza Deliansyah (Head of Environment & Social Responsibility Division Astra International)

"Kita punya orang-orang muda luar biasa yang selama ini tidak terangkat ke permukaan. Mereka bisa jadi contoh bagi pemuda-pemudi lain untuk kemajuan Indonesia," tutur Onno, optimistis.

Apa yang dikatakannya beralasan mengingat jumlah pendaftar yang mencapai 2.341 peserta meningkat dibanding tahun lalu (2.071). Itu membuktikan SATU Indonesia Awards jadi wadah kreativitas pemuda dan pemudi di Tanah Air untuk bisa berpartisipasi dalam membangun negeri.

Fakta itu diakui Emil dalam sambutannya yang memuji SATU Indonesia Awards 2016 sudah lebih baik dari sebelumnya, "Pada tahun-tahun berikut, akan lebih baik lagi jika persebaran pendaftar lebih merata. (Terutama) dari daerah yang semula belum pernah masuk."

Pernyataan sama diungkapkan Tri. Menurutnya, potensi para pemuda sekarang ini jauh lebih menjanjikan karena didukung teknologi informasi yang kian berkembang. Sehingga, mampu memberikan nilai tambah atas aktivitasnya.

"Yang perlu dipikirkan sekarang, bagaimana Satu Indonesia Awards mampu menjadikan kegiatan para pemenang ini menjadi suatu gerakan berskala nasional," Tri, menambahkan. Saya setuju dengan wanita yang pada 2011 lalu mendapat Ramon Magsaysay Award tersebut. Ini jadi tugas pemerintah untuk bisa memaksimalkan potensi ketujuh peraih Satu Indonesia Awards 2016 demi kelangsungan bangsa.

Bertepatan dengan Hari Blogger Nasional, saya pribadi, berharap suatu saat nanti, di panggung ada rekan blogger yang menerima Satu Indonesia Awards. Entah itu 2017, 2018, 2019, atau seterusnya. Berikut, profil singkat dari ketujuh penerima penghargaan Satu Indonesia Awards 2016:

Bidang Pendidikan

1. "Sang Seniman Nasionalis", Zainul Arifin - Lumajang, Jawa Timur
Sejak 10 November 2007 menggagas program "Pengenalan Pendidikan Kearifan Lokal melalui Sadar Wisata dan Musik Tradisional Daerah". Program Zainul ini ditujukan untnuk menumbuhkan usaha ekonomi baru dengan keterampilan yang dimiliki masyarakat sekitar.

Bidang Kewirausahaan

2. "Wiraushawan Kreatif dari Banjarmasin", Muhammad Aripin - Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Sejak akhir 2015, mendirikan Yayasan Rumah Kreatif untuk mewadahi kegiatan yang meliputi usaha di bidang teknik, kerajinan tangan, dan seni budaya. Saat ini, produknya sudah dipasarkan ke berbagai saluran seperti Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) hingga terjual ke mancanegara lewat media online.

3. "Pemberdaya Gula Semut dari Banyumas", Akhmad Sobirin - Banyumas, Jawa Tengah
Mempelopori masyarakat di daerahnya untuk memproduksi gula semut setelah mendapat peluang pasar ekspor. Berkat tangan dinginnya, kini penghasilan petani di daerahnya meningkat pesat dan sekarang lebih sejahtera.

Bidang Lingkungan

4. "Pahlawan Lembah Hijau Rumbia", Ridwan Nojeng - Jeneponto, Sulawesi Selatan
Sejak enam tahun silam merintis produksi pupuk organik dari kotoran sapi di tempat asalnya, Desa Tompobulu, Jeneponto, Sulawesi Selatan. Hasilnya, Desa Tompobulu menjelma jadi Desa Wisata Lembah Hijauh Rumbia yang banyak didatangi turis lokal serta mancanegara.

Bidang Kesehatan

5. "Laskar Pencerah dari Pasuruan", Yoga Andika - Pasuruan, Jawa Timur
Pria 27 tahun ini mencetuskan berdirinya "Posyandu Remaja" di Desa Tosari, Jawa Timur. Tujuannya, untuk mencegah pernikahan dini serta melakukan penyuluhan bahaya seks pranikah, efek negatif miras dan nikotin.

Bidang Teknologi

6. "Penggagas Gamelan Elektronik dari Garut", Dewis Akbar - Garut, Jawa Barat
Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini membimbing anak sekolah di daerahnya untuk lebih mengenal teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Salah satunya, dengan membangun lab "Komputer Mini" Raspberry P.i., yang jadi wadah bagi anak-anak untuk menggali secara dalam manfaat serta kegunaan TIK.

Kategori Kelompok 
7. "Pelopor Rumoh Tiram Kampung Tibang", Yayasan Pendidikan Kemaritiman Indonesia - Banda Aceh, Aceh
Ihsan Rusydi bersama 10 mahasiswanya di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, mengembangkan teknologi budidaya tiram bermodalkan ban bekas. Hasil temuan mereka sangat membantu masyarakat Kampung Tibang, Banda Aceh, karena tidak lagi harus berendam di bawah terik matahari atau menginjak tajamnya koloni tiram. Petani pun bisa menghasilkan jumlah dan ukuran tiram yang lebih besar hingga membuat olahan tiram dengan nilai ekonomi yang maksimal.


*        *        *
Pengumuman SATU Indonesia Awards 2016 di Kantor Pusat Astra yang bertepatan dengan Hari Blogger Nasional

*        *        *
Prijono memberikan penghargaan kepada Emil Salim dan juri SATU Indonesia Awards 2016 lainnya

*        *        *
Beberapa juri SATU Indonesia Awards di atas panggung

*        *        *
Pengumuman penghargaan SATU Indonesia Awards memadukan unsur lokal dan modern

*        *        *
Parade tari nusantara

*        *        *
Atraksi Punakawan dalam acara Mencari Mutiara untuk Menerangi Bangsa

*        *        *
Ratusan peserta dari berbagai instansi pemerintah, media, dan blogger 

*        *        *
Sekilas, atraksi punakawan mengingatkan saya pada Teater Broadway di New York, Amerika Serikat

*        *        *
Prijono memberi penghargaan kepada Muhammad Arifin 

*        *        *
Foto bersama penerima Satu Indonesia Awards, juri, dan manajemen Astra

*        *        *
Lea Simanjuntak menutup rangkaian acara bertema Inspirasi 60 Tahun Astra

*        *        *
Ridwan Nojeng bercerita mengenai usahanya "menyulap" desa tandus jadi destinasi wisata

*        *        *
Aripin berbagi inspirasi kepada hadirin melalui Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar

*        *        *
Melalui lab mini, Dewis Akbar mengenalkan TIK kepada anak-anak di lingkungannya

*        *        *
Artikel terkait:
Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya?
Keceriaan di Booth Daihatsu GIIAS 2016
Menikmati Sensasi Perjalanan Bersama "Si Biru" Grand New Avanza
Magnet Grand New Veloz dan Grand New Avanza di GIIAS 2015
Belajar Disiplin (Lagi) Berkat Mengunjungi Pabrik Toyota TMMIN
Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak hanya Memproduksi Mobil
Kopdar Kokgituya.com yang Menambah Pengetahuan Blogger
Ke Kalimantan Aku Kan Kembali

*        *        *

- Jakarta, 27 Oktober 2016