TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Prijono Sugiarto

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Prijono Sugiarto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prijono Sugiarto. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Desember 2016

Di Balik Julukan Pahlawan Lembah Hijau Rumbia


Ridwan Nojeng peraih penghargaan SATU Indonesia Awards 2016

SETITIK air yang menetes di batu karang mungkin tidak berarti. Namun, jika tetesan air itu berlangsung secara terus menerus bisa menghancurkan karang. Demikian adagium lawas yang tepat untuk Ridwan Nojeng.

Pria 32 tahun ini merupakan penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2016. Yaitu, penghargaan dari PT Astra International kepada anak bangsa yang berlangsung sejak 2010.

Kebetulan, saya mendapat kehormatan untuk bisa menghadiri pengumuman ketujuh pemenang. Tepatnya, di Kantor Pusat Astra di Sunter, Jakarta Utara, Kamis (27/10). Saat itu ada lima kategori individu dan satu kelompok.

Ridwan mendapat penghargaan dalam bidang lingkungan sebagai "Pahlawan Lembah Hijau Rumbia". Untuk bidang pendidikan diraih Zainul Arifin, kesehatan (Yoga Andika), teknologi (Dewis Akbar), dan kewirausahaan dengan dua pemenang (Muhammad Aripin dan Akhmad Sobirin). Sementara, untuk kelompok diraih Yayasan Pendidikan Kemaritiman Indonesia sebagai Pelopor Rumoh Tiram Kampung Tibang.

"Mereka dengan segenap tenaga dan pikiran telah bekerja nyata untuk kemajuan wilayahnya. Melihat inovasi, semangat, serta manfaat yang telah dilakukan para pemuda ini, Astra, senantiasa mendukung kegiatan mereka agar semakin banyak mutiara-mutiara yang menginspirasi masyarakat untuk terus berkarya membangun bangsa," kata Presiden Direktur Astra Prijono Sugiarto.

Selain mendapat plakat dan sertifikat, masing-masing pemenang juga menerima Rp 55 juta sebagai apresiasi dari Astra. Mereka berasal dari wilayah barat hingga timur Indonesia dengan pencarian sejak Maret 2016. Tahun ini terdapat 2.341 pendaftar yang lebih banyak dibanding 2015 (2.071 pendaftar).

"Kita punya orang-orang muda luar biasa yang selama ini tidak terangkat ke permukaan. Mereka bisa jadi contoh bagi pemuda-pemudi lain untuk kemajuan Indonesia," tutur Onno W. Purbo, salah satu juri yang merupakan pakar Teknologi Informasi.

*          *         *
LANGKAHNYA tegap dengan pembawaan yang sederhana. Mengenakan kemeja berwarna putih dengan celana jeans biru. Sejak namanya diumumkan sebagai salah satu penerima SATU Indonesia Awards 2016, Ridwan tak hentinya menyunggingkan senyum. Ketika turun dari panggung sambil membawa piala, dengan ramah dia menerima saya yang ingin memotretnya.

"Saya bangga mendapat penghargaan dari Astra," tutur Ridwan menjawab berbagai pertanyaan saya. "Tidak hanya untuk saya pribadi, tapi juga kepada masyarakat Jeneponto secara keseluruhan. Saya tidak akan ada di panggung (menerima penghargaan SATU Indonesia Awards) tanpa peran dari mereka selama ini."

Apa yang dikatakan pria kelahiran Battamua ini beralasan. Sebab, prestasi itu berkat dukungan dari masyarakat Tompobulu yang merupakan desa di wilayah pegunungan kecamatan Rumbia, kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Di tanah kelahirannya itu, Ridwan berhasil mengubah wilayah yang awalnya gersang jadi Desa Wisata Lembah Hijau Rumbia sejak diresmikan pada 2011.

Tentu, untuk menjadikan wilayah yang awalnya tandus hingga kini subur itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Itu diakui Ridwan kepada saya melalui sambungan telepon, pagi tadi (10/12). Menurutnya, butuh kerja keras yang memakan waktu, tenaga, pikiran, hingga materi. Maklum, Ridwan memulainya secara seorang diri.

Tepatnya, sejak 2010, dia merintis produksi pupuk organik dari kotoran sapi di desa Tompobulu. Melalui pupuk organik hasil produksinya itu, Ridwan melakukan penghijauan yang dimulai dari pekarangan rumahnya. Lalu, berkembang dengan memotivasi warga untuk ikut serta mengembangkan daerah mereka.

Seperti kata pepatah, hasil tidak pernah mengkhianati proses. Saat ini, Ridwan dan warga desa sudah memetik kerja kerasnya. Lantaran kampungnya banyak didatangi turis lokal dan mancanegara. Termasuk, pupuk organiknya dengan merek Lembah Hijau Rumbia sudah banyak dipesan pelanggan.

"Awalnya, saya dianggap kurang waras sama masyarakat," kata Ridwan tersenyum mengenang awal-awal kegiatannya. "Mereka tidak mau pupuk organik yang saya buat karena berasal dari kotoran ternak. Mayoritas mengatakan itu hanya kotoran ternak dan bukan pupuk. Tapi, diam-diam saya taruh pupuk organik pada tanaman masyarakat. Sepekan kemudian, saya tunjukkan perbedaan antara tanaman yang diberi pupuk dengan warna hijau mengkilat dan tidak diberi pupuk yang berwarna kuning. Sejak saat itu, masyarakat baru percaya."

*          *         *
SELALU ada pelangi setelah badai. Demikian, yang dialami Ridwan untuk meyakinkan masyarakat sekitarnya. Berbagai penolakan hingga dianggap gila tidak membuatnya putus asa. Sebaliknya, Ridwan kian tertantang untuk bisa memberi kontribusi yang terbaik di wilayahnya. 

Bahkan, dia rela mengeluarkan uang hingga Rp 20 juta untuk menyiapkan bibitnya. Enam tahun silam, jumlah tersebut sangat besar. Tapi, bagaimanapun, Ridwan enggan menyerah. Dia percaya, desanya yang gersang bisa jadi subur jika seluruh masyarakat kompak. Itu semua diawali dengan menyuburkan pekarangan masing-masing.

"Saya mengadakan pertemuan dan diskusi dengan masyarakat. Kepada mereka, saya katakan bahwa tanah di wilayah kita perlu peremajaan. Caranya, antara lain dengan penanaman pohon dan pengolahan tanah secara organik. Bisa dipahami mengingat daerah saya dikenal tandus dan tercatat sebagai kabupaten termiskin di Sulawesi Selatan. Untuk itu, saya ingin mengubahya dengan menghijaukan dan mengembangkan potensi yang ada," Ridwan, mengungkapkan.

Terbukti, setelah berhasil meyakinkan masyarakat mengenai program pupuk organik, Ridwan langsung berinisiatif bersama masyarakat setempat. Mereka menyulap lahan produksi pupuknya jadi tempat wisata. Kebetulan, saya pribadi memang sempat melewati daerah tersebut pada 2015 lalu ketika melaksanakan tugas kantor. Menurut saya, daerah tersebut memang memiliki pemandangan indah serta udara yang sejuk.

Berkat keuletan Ridwan dan masyarakat sekitar, tempat wisata lembah hijau rumbia berdiri. Bahkan, saat ini sudah ada kolam renang, cottage, kafe, aula, dan sarana pendukung lain. Tak heran jika laman resmi kabupaten Jeneponto menjadikan Lembah Hijau Rumbia sebagai salah satu destinasi wisata andalan (Sumber: jenepontokab.go.id).

Yang menarik, Ridwan juga membeberkan hadiah yang diterima dari Astra. Ternyata, tidak sepeser pun masuk ke dalam kantong pribadinya. Padahal, nominalnya lumayan besar mencapai Rp 55 juta. Termasuk, ketika saya bergurau jumlah tersebut bisa untuk kembali jalan-jalan ke Jakarta lagi.

"Tidak lah. Buat apa? Saya sudah puas dua hari diajak keliling Jakarta sama Astra setelah menerima pernghargaan. Ha ha ha," ujar Ridwan yang ketika saya telepon sedang berada di ladangnya. "Rp 20 juta saya bagi kepada teman-teman dan masyarakat yang selama ini membantu kami. Sisanya, saya pakai untuk membangun lokasi. Kan saya tidak mau Jeneponto mendapat julukan kabupaten termiskin di Sulawesi Selatan."

Ridwan mengakui kian termotivasi setelah mendapat penghargaan dari Astra. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya benar-benar pantas menerima julukan sebagai mutiara penerang bangsa. Untuk itu, Ridwan enggan berhenti sampai di sini. Dia memiliki banyak proyek ke depan yang sedang digarap bersama masyarakat setempat.

Maklum, berkat tangan dinginnya, warga desa dan sekitarnya mau berbenah memperbaiki wilayahnya. Termasuk, mengembangkan berbagai usaha di sektor makanan, kerajinan, dan lain-lain di sekitar tempat wisata. Bahkan, Ridwan juga memperkerjakan anak-anak yang putus sekolah. Secara tidak langsung, berkat pupuk organik yang berkembang jadi taman hijau rumbia berhasil menggerakkan perekomian masyarakat sekitar.

"Saya berterima kasih kepada Astra. Berkat penghargaan itu, desa kami jadi sering diliput media secara positif. Rencananya, saya akan mengadakan event budaya yang melibatkan 25 negara di Jeneponto pada Agustus 2017. Makanya, mulai sekarang, saya dan teman-teman sudah berbenah betul untuk membangun lapangan untuk kegiatan teater," Ridwan, mengungkapkan.***

*          *         *
Ridwan seusai menerima penghargaan dari Presiden Astra Prijono Sugiarto

*          *         *
Artikel Grup Astra Sebelumnya:
Yuk, Berkunjung ke Museum Astra
Apresiasi Astra untuk Guru dan Sekolah di Tanah Air pada Hari Guru Nasional
Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016
Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya?
7 Alasan Harus Memiliki Daihatsu Sigra
Keceriaan di Booth Daihatsu GIIAS 2016
Menikmati Sensasi Perjalanan Bersama "Si Biru" Grand New Avanza
Magnet Grand New Veloz dan Grand New Avanza di GIIAS 2015
Belajar Disiplin (Lagi) Berkat Mengunjungi Pabrik Toyota TMMIN
Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak hanya Memproduksi Mobil
Kopdar Kokgituya.com yang Menambah Pengetahuan Blogger
Ke Kalimantan Aku Kan Kembali

Artikel Sosok yang Menginspirasi Sebelumnya
- Kota Roma Tidak Dibangun dalam Semalam
Ngeblog sebagai Terapi Otak
- Menguak Rahasia Tong Setan
- Malu Itu Tidak ada Dalam Hidupnya

*          *         *
- Jakarta, 10 Desember 2016

Kamis, 27 Oktober 2016

Astra Umumkan Tujuh Penerima SATU Indonesia Awards 2016


Ketujuh penerima Satu Indonesia Awards 2016 bersama Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Prijono Sugiarto 

Setelah tujuh bulan  menyeleksi, akhirnya PT Astra International Tbk menemukan "Tujuh Mutiara" terbaik untuk menerangi bangsa ini di masa depan. Mereka berasal dari wilayah barat hingga timur Indonesia dengan proses pencarian sejak Maret hingga Oktober 2016.

Ya, mereka lolos dalam proses penjurian Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards 2016. Saya mendapat kehormatan untuk melihat langsung "ketujuh mutiara" itu saat menghadirinya di Kantor Pusat Astra, Sunter, pagi tadi (27/10).

Sebab, apa yang dilakukan mereka, benar-benar out of the box. Dalam arti, usaha dan perjuangan ketujuh orang itu sungguh di luar dugaan saya. Tak heran jika Astra memberi apresiasi mereka untuk menerima penghargaan SATU Indonesia Awards 2016.

Mereka dinilai memiliki sumbangsih yang bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya. Itu sejalan dengan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa. Kebetulan, 20 Februari 2017, perusahaan yang kini dipimpin Prijono Sugiarto sebagai presiden direktur itu genap 60 tahun.

Tentu, enam dekade bukan waktu yang singkat. Perjalanan lebih dari setengah abad itu dilalui Astra dengan konsisten untuk turut berkontribusi kepada negeri ini. Termasuk mengadakan SATU Indonesia Awards 2016 yang pemberian anugerahnya bertepatan pada Hari Blogger Nasional sekaligus sehari jelang Peringatan Sumpah Pemuda.

"Sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda, hari ini kita kembali menyaksikan hadirnya sosok-sosok pejuang muda dari pelosok nusantara," tutur Prijono. "Mereka dengan segenap tenaga dan pikiran telah bekerja nyata untuk kemajuan wilayahnya. Melihat inovasi, semangat, serta manfaat yang telah dilakukan para pemuda ini, Astra, senantiasa mendukung kegiatan mereka agar semakin banyak mutiara-mutiara yang menginspirasi masyarakat untuk terus berkarya membangun bangsa."

SATU Indonesia Awards 2016 merupakan edisi ketujuh sejak kali pertama diselenggarakan pada 2010. Dalam periode itu, Astra membuka lebar kesempatan kepada putra-putri bangsa untuk berperan aktif terhadap lingkungan sekitarnya melalui website www.satu-indonesia.com. Tahun ini, terdapat 2.341 pendaftar yang berasal dari Banda Aceh hingga Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Proses seleksi dimulai dari jenjang administrasi, penilaian program, verifikasi, hingga presentasi di hadapan dewan juri yang sangat berpengalaman di bidangnya, yaitu:

- Emil Salim (Dosen Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universistas Indonesia)
- Nila Moeloek (Menteri Kesehatan)
- Fasli Jalal (Guru Besar Pascasarjanan Universitas Negeri Jakarta)
- Tri Mumpuni (Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan)
- Onno W. Purbo (Pakar Teknologi Informasi)
- Bambang Harymurti (Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk)
- Yulian Warman (Head of Public Relations Division Astra International)
- Riza Deliansyah (Head of Environment & Social Responsibility Division Astra International)

"Kita punya orang-orang muda luar biasa yang selama ini tidak terangkat ke permukaan. Mereka bisa jadi contoh bagi pemuda-pemudi lain untuk kemajuan Indonesia," tutur Onno, optimistis.

Apa yang dikatakannya beralasan mengingat jumlah pendaftar yang mencapai 2.341 peserta meningkat dibanding tahun lalu (2.071). Itu membuktikan SATU Indonesia Awards jadi wadah kreativitas pemuda dan pemudi di Tanah Air untuk bisa berpartisipasi dalam membangun negeri.

Fakta itu diakui Emil dalam sambutannya yang memuji SATU Indonesia Awards 2016 sudah lebih baik dari sebelumnya, "Pada tahun-tahun berikut, akan lebih baik lagi jika persebaran pendaftar lebih merata. (Terutama) dari daerah yang semula belum pernah masuk."

Pernyataan sama diungkapkan Tri. Menurutnya, potensi para pemuda sekarang ini jauh lebih menjanjikan karena didukung teknologi informasi yang kian berkembang. Sehingga, mampu memberikan nilai tambah atas aktivitasnya.

"Yang perlu dipikirkan sekarang, bagaimana Satu Indonesia Awards mampu menjadikan kegiatan para pemenang ini menjadi suatu gerakan berskala nasional," Tri, menambahkan. Saya setuju dengan wanita yang pada 2011 lalu mendapat Ramon Magsaysay Award tersebut. Ini jadi tugas pemerintah untuk bisa memaksimalkan potensi ketujuh peraih Satu Indonesia Awards 2016 demi kelangsungan bangsa.

Bertepatan dengan Hari Blogger Nasional, saya pribadi, berharap suatu saat nanti, di panggung ada rekan blogger yang menerima Satu Indonesia Awards. Entah itu 2017, 2018, 2019, atau seterusnya. Berikut, profil singkat dari ketujuh penerima penghargaan Satu Indonesia Awards 2016:

Bidang Pendidikan

1. "Sang Seniman Nasionalis", Zainul Arifin - Lumajang, Jawa Timur
Sejak 10 November 2007 menggagas program "Pengenalan Pendidikan Kearifan Lokal melalui Sadar Wisata dan Musik Tradisional Daerah". Program Zainul ini ditujukan untnuk menumbuhkan usaha ekonomi baru dengan keterampilan yang dimiliki masyarakat sekitar.

Bidang Kewirausahaan

2. "Wiraushawan Kreatif dari Banjarmasin", Muhammad Aripin - Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Sejak akhir 2015, mendirikan Yayasan Rumah Kreatif untuk mewadahi kegiatan yang meliputi usaha di bidang teknik, kerajinan tangan, dan seni budaya. Saat ini, produknya sudah dipasarkan ke berbagai saluran seperti Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) hingga terjual ke mancanegara lewat media online.

3. "Pemberdaya Gula Semut dari Banyumas", Akhmad Sobirin - Banyumas, Jawa Tengah
Mempelopori masyarakat di daerahnya untuk memproduksi gula semut setelah mendapat peluang pasar ekspor. Berkat tangan dinginnya, kini penghasilan petani di daerahnya meningkat pesat dan sekarang lebih sejahtera.

Bidang Lingkungan

4. "Pahlawan Lembah Hijau Rumbia", Ridwan Nojeng - Jeneponto, Sulawesi Selatan
Sejak enam tahun silam merintis produksi pupuk organik dari kotoran sapi di tempat asalnya, Desa Tompobulu, Jeneponto, Sulawesi Selatan. Hasilnya, Desa Tompobulu menjelma jadi Desa Wisata Lembah Hijauh Rumbia yang banyak didatangi turis lokal serta mancanegara.

Bidang Kesehatan

5. "Laskar Pencerah dari Pasuruan", Yoga Andika - Pasuruan, Jawa Timur
Pria 27 tahun ini mencetuskan berdirinya "Posyandu Remaja" di Desa Tosari, Jawa Timur. Tujuannya, untuk mencegah pernikahan dini serta melakukan penyuluhan bahaya seks pranikah, efek negatif miras dan nikotin.

Bidang Teknologi

6. "Penggagas Gamelan Elektronik dari Garut", Dewis Akbar - Garut, Jawa Barat
Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini membimbing anak sekolah di daerahnya untuk lebih mengenal teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Salah satunya, dengan membangun lab "Komputer Mini" Raspberry P.i., yang jadi wadah bagi anak-anak untuk menggali secara dalam manfaat serta kegunaan TIK.

Kategori Kelompok 
7. "Pelopor Rumoh Tiram Kampung Tibang", Yayasan Pendidikan Kemaritiman Indonesia - Banda Aceh, Aceh
Ihsan Rusydi bersama 10 mahasiswanya di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, mengembangkan teknologi budidaya tiram bermodalkan ban bekas. Hasil temuan mereka sangat membantu masyarakat Kampung Tibang, Banda Aceh, karena tidak lagi harus berendam di bawah terik matahari atau menginjak tajamnya koloni tiram. Petani pun bisa menghasilkan jumlah dan ukuran tiram yang lebih besar hingga membuat olahan tiram dengan nilai ekonomi yang maksimal.


*        *        *
Pengumuman SATU Indonesia Awards 2016 di Kantor Pusat Astra yang bertepatan dengan Hari Blogger Nasional

*        *        *
Prijono memberikan penghargaan kepada Emil Salim dan juri SATU Indonesia Awards 2016 lainnya

*        *        *
Beberapa juri SATU Indonesia Awards di atas panggung

*        *        *
Pengumuman penghargaan SATU Indonesia Awards memadukan unsur lokal dan modern

*        *        *
Parade tari nusantara

*        *        *
Atraksi Punakawan dalam acara Mencari Mutiara untuk Menerangi Bangsa

*        *        *
Ratusan peserta dari berbagai instansi pemerintah, media, dan blogger 

*        *        *
Sekilas, atraksi punakawan mengingatkan saya pada Teater Broadway di New York, Amerika Serikat

*        *        *
Prijono memberi penghargaan kepada Muhammad Arifin 

*        *        *
Foto bersama penerima Satu Indonesia Awards, juri, dan manajemen Astra

*        *        *
Lea Simanjuntak menutup rangkaian acara bertema Inspirasi 60 Tahun Astra

*        *        *
Ridwan Nojeng bercerita mengenai usahanya "menyulap" desa tandus jadi destinasi wisata

*        *        *
Aripin berbagi inspirasi kepada hadirin melalui Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar

*        *        *
Melalui lab mini, Dewis Akbar mengenalkan TIK kepada anak-anak di lingkungannya

*        *        *
Artikel terkait:
Astra Berusia 60 Tahun, Selanjutnya?
Keceriaan di Booth Daihatsu GIIAS 2016
Menikmati Sensasi Perjalanan Bersama "Si Biru" Grand New Avanza
Magnet Grand New Veloz dan Grand New Avanza di GIIAS 2015
Belajar Disiplin (Lagi) Berkat Mengunjungi Pabrik Toyota TMMIN
Sisi Lain Toyota (TMMIN): Tidak hanya Memproduksi Mobil
Kopdar Kokgituya.com yang Menambah Pengetahuan Blogger
Ke Kalimantan Aku Kan Kembali

*        *        *

- Jakarta, 27 Oktober 2016