TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Nila Moeloek

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Nila Moeloek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nila Moeloek. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Agustus 2018

Ini Pesan Menkes kepada Blogger


Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek dalam sembutan peluncuran
ASEAN Car Free Day
(Klik untuk perbesar gambar atau geser untuk melihat foto lainnya)



"IBU, kami dari blogger izin untuk foto bersama," kata saya kepada Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek usai peluncuran Hari Tanpa Kendaraan Bermotor ASEAN (ASEAN Car Free Day) pada 5 Agustus lalu.

Wanita kelahiran 11 April 1949 ini dengan antusias menjawab, "Oh, ayo mas. Sini ajak blogger lainnya selfie (swafoto)."

"Siap bu. Kami yang hadir di sini dari blogger," saya mengenalkan diri.

"Ya, era sekarang blogger punya peranan penting. Bahkan, mengabarkan sesuatu lebih cepat dari media. Karena blogger lebih update dengan situasi sekitar dan informasi terkini. Mari, kita sama-sama menyebarkan berita positif termasuk tentang Hari Tanpa Kendaraan Bermotor ASEAN ini kepada masyarakat," Nila, memberi pesan.

Yupz, saya setuju dengan pernyataan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut. Pada era keterbukaan informasi ini, blogger (dan jurnalis warga) bisa menyampaikan informasi terkini Bersanding dengan media mainstream.

Misalnya, ketika terjadi bencana Blogger dan jurnalis warga mengunggah situasi secara real time di media sosia (medsos). Tak jarang, foto atau video unggahan tersebut dikutip media mainstream. Meski bukan ditujukan sebagai pengganti jurnalis profesional, peran blogger saat ini sudah bisa bersanding.

Termasuk, ketika ada acara baik yang diselenggarakan. Kementerian, instansi pemerintah, hingga swasta. Kebetulan, saya pernah merasakan ketika jadi bagian dari blogger yang diajak Kementerian Sekretariat Kabinet untuk meninjau Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong .

Itu mengapa, Nila sangat antusias saat mengetahui ada blogger yang turut meliput Hari Tanpa Kendaraaan Bermotor ASEAN. Istri dari Farid Anfasa Moeloek yang menjabat sebagai Menkes pada 1998-1999 ini berharap blogger bersama media mainstream ikut gencar menyebarkan berita positif kepada masyarakat.

"Kementerian Kesehatan sangat mendukung program ini karena sejalan dengan semangat Gerakan Masyarakat Kehidupan Sehat atau Germas. Sebagaimana kita ketahui, praktek gaya hidup sehat seperti olahraga merupakna bagian dari upaya pencegahan penyakit karena menjadikan tubuh kita lebih bugar dan pikiran lebih positif," ujar Nila dalam sambutannya di Ruang Heritage Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jalan Medan Merdeka Barat No 3, Jakarta Pusat, Senin (5/8).

Dalam kesempatan itu, turut hadir beberapa nara sumber terkait. Yaitu, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sigit Priohutomo, Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kesehatan Acep Soemantri, dan Sekretaris Jenderal ASEAN Dato Lim Jock Hoi.

Lebih lanjut, Nila menyampaikan harapan agar peluncuran ASEAN Car Free Day sekaligus dapat menyediakan ruang gerak yang luas bagi kolaborasi multi-sektor yang solid di tingkat nasional dan Asia Tenggara. Itu dalam rangka mempromosikan gaya hidup sehat dan menciptakan masyarakat yang damai, inklusif,  tangguh, sehat,dan harmonis.

Nila melalui Kementerian Kesehatan turut memperkenalkan logo ASEAN Car Free Day yang akan digunakan pada tingkat regional ASEAN. Logo ini dimaksud mewakili tekad ASEAN untuk bekerja sama dalam meningkatkan kualitas udara yang bersih pada negara-negara anggota. Apalagi, Indonesia mendapat kepercayaan lead country untuk mencanangkan ASEAN Car Free Day.

"Pertama kalinya dalam sejarah ASEAN, kita mencanangkan Hari Bebas Kendaraan Bermotor di ASEAN Ini merupakan sebuah kehormatan bagi Indonesia yang mendapat kepercayaan dari masyarakat ASEAN," Nila, menambahkan.

Dalam sejarahnya, Indonesia memang negara pertama di Asia Tenggara yang menerapkan Car Free Day. Itu berlangsung sejak diresmikan pada 2002 silam di Jakarta. Selanjutnya, kegiatan serupa dilaksanakan di berbagai daerah lainnya di Tanah Air.

"Awalnya, Car Free Day dilakukan sebulan sekali. Melihat antusiasme yang besar dari masyarakat, Hari Bebas Kendaraan ditambah jadi dua kali dalam sebulan yang akhirnya kini setiap pekan. Keberadaan Car Free Day ini berhasil mendorong masyarakat untuk melakukan aktivitas fisik," kata Nila, optimistis.***

*          *          *
Yupz, sebagai blogger, mari kita sama-sama sebarkan berita positif

*          *          *
Sesi diskusi nara sumber dengan rekan blogger terkait Asean Car Free Day

*          *          *
Nila dan nara sumber lainnya memamerkan bendera ASEAN dan
pin logo ASEAN Car Free Day

*          *          *
Foto bersama blogger dan bu menteri

*          *          *
Sebagai blogger, saya terpacu untuk menerapkan pesan dari bu menteri

*          *          *
- Jakarta, 7 Agustus 2018

Sabtu, 30 Juli 2016

Cegah Hilangnya Generasi akibat Kurang Gizi



Menteri Kesehatan Nila Moeloek membuka Dialog Nasional, Rabu (27/7)

"ANAK mewakili segmen masyarakat yang paling rentan dibandingkan dewasa. Baik dari risiko penyakit maupun kematian. Peningkatan kualitas kesehatan anak merupakan ukuran kemajuan suatu masyarakat atau bangsa sebagai bentuk kontribusi pada pengurangan beban penyakit global. Oleh karena itu, kesehatan anak jadi tanggung jawab bersama dengan selalu memberi perhatian dan komitmen nyata."

Demikian, pernyataan Menteri Kesehatan Nila Moeloek, dalam sambutannya pada Dialog Nasional Kurang Gizi Terselubung Menuai Generasi Hilang, di Kantor Kemenkes, Rabu (27/7). Acara ini merupakan rangkaian dari peringatan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli.

Seminar yang diinisiasi Kemenkes dan Gerakan Makan Sehat Anak Sekolah (Gemass) ini melibatkan undangan dari berbagai elemen masyarakat, seperti instansi pemerintah, guru, dokter, hingga blogger.

Salah satunya, saya yang turut menyimak diskusi di Auditorium  Prof. Dr. Siswabessy, Gedung Prof Sujudi, Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan. Sejatinya, bagi saya pribadi, diskusi ini lumayan berat untuk dicerna. Terutama karena saya belum berumah tangga yang tentu belum memiliki anak. Apalagi, tema acaranya tentang asupan gizi yang boro-boro saya ngerti.

Namun, justru itulah yang jadi tujuan saya mendatangi diskusi yang mayoritas diisi kaum hawa. Sebab, bagaimanapun saya bakal jadi calon kepala keluarga, yang tentu harus memerhatikan asupan gizi untuk anak-anak kelak.

*        *        *

MESKI awalnya sempat merasa asing ketika tiba di lokasi, pada akhirnya saya jadi lebih terbiasa. Terutama karena seminar yang dimoderasi Ayu Diah Pasha dan Junaidi Lesmana ini bisa memberikan pelajaran dan pengalaman saya saat jadi ayah untuk lebih memerhatikan asupan gizi. Khususnya, mengenai dampak memakan gorengan yang ternyata memiliki efek negatif dalam perkembangan anak.

Itu diungkapkan Dr. dr. Saptawari Bardosono, M.Sc. yang jadi salah satu pembicara. Kebetulan, saya pribadi menggemari makanan atau cemilan yang digoreng seperti bala-bala (bakwan), tempe, tahu, dan sebagainya.

Menurut Saptawati, jika dikonsumsi secara normal, gorengan tidak memiliki dampak panjang. Namun, sebaliknya jika dimakan terus-menerus, misalnya, setiap hari. Apalagi, jika itu terjadi pada bayi yang bisa sangat berbahaya bagi perkembangan gizi ke depannya.

"Misalnya, bayi yang lahir dengan berat badan lebih atau kurang. Kalau kurang, orang tuanya tentu akan mengejar supaya jadi gemuk. Nah, kalau lahir sudah besar atau giant baby itu akan terus gemuk hingga dewasa jika faktor lingkungan tidak dijaga," Saptawati, mengungkapkan.

Pernyataan dari Departemen Ilmu Gizi FK UI RSCM itu beralasan. Banyak kasus seperti itu yang terjadi di Tanah Air. Untuk itu, wanita yang akrab disapa Tati ini memberi solusi kepada kami yang hadir, terutama bagi yang memiliki bayi. Agar, setiap hari konsumsi kamanan yang mengandung minyak tidak lebih dari lima sendok makan.

Selain Saptawati, dialog nasional itu juga menampilkan tiga pembicara yang kompeten di bidangnya masing-masing:

Prof. Dr. Ratna Djuwita
(Prodi Epidemiologi FKM-UI)
Kandungan Omega-3 pada anak-anak Indonesia dan pengaruh kekurangan Omega-3 pada tumbuh kembang anak (Brain Development)

Dr. dr. Rini Sekartini, SP.A (K)
(Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UI RSCM)
Perkembangan dan perilaku anak: Peran nutrisi dan stimulasi

Prof. Dr. dr. Endang L. Anchadi
(Prodi Gizi FKM UI)
Peran Food Education di sekolah dan rumah dalam mewujudkan generasi unggul.

*        *        *

Ibu kenapa ku dilahirkan
Ayah kenapa ku dibesarkan
Teman kenapa ku dikucilkan
Teman kenapa ku diabaikan

Ingatlah aku, aku… Juga ciptaan Nya
Lihat aku tunjukkan
Lihat aku buktikan
Dan lihatlah aku, aku…. Anak istimewa

Tanpa mata ku dapat melihat
Tanpa kaki ku dapat berlari
Tanpa suara ku dapat bernyanyi,
Percayalah, aku.... Anak istimewa

SEKETIKA, tangan saya menjadi kaku. Begitu juga dengan kaki yang seperti dipantek sesuatu. Lebih dari lima menit saya bergeming di sisi kursi tanpa mampu memencet tombol shutter kamera untuk merekam. Saat itu, sukar dilukiskan dengan kata-kata saat menyaksikan paduan suara dari adik-adik Yayasan Pembina Anak Cacat (YPAC) Jakarta di sela-sela diskusi nasional.

Tentang, bagaimana mereka yang berkebutuhan khusus juga mampu berprestasi. Apa yang dilakukan adik-adik dari YPAC Jakarta itu seperti memberi sindiran kepada kami saat itu. Bahwa, mereka mampu mengubah kekurangan jadi kelebihan.

*        *        *
Gedung Prof. Dr. Sujudi, Kemenkes

*        *        *
Kampanye cuci tangan di bus milik Kemenkes

*        *        *
Banner anjuran dari Kemenkes

*        *        *
Undangan Diskusi Nasional

*        *        *
Reshuffle penting, tapi kelangsungan generasi mendatang juga penting

*        *        *
Rekan blogger Novita Maria, sarapan jelang dimulainya acara

*        *        *
Menu sarapan sehat: Serba direbus

*        *        *
Empat rekan blogger antusias men-share diskusi nasional via twitter

*        *        *
Nita: Kesehatan anak, tanggung jawab bersama

*        *        *
Paduan suara dari adik-adik YPAC yang bikin terharu

*        *        *
Dari kiri ke kanan: Ayudia, Asih, Rini, Saptawati, Ratna, dan Junaidi

*        *        *
Ratna melakukan presentasi mengenai keutamaan Omega-3

*        *        *
Perwakilan Gerakan Makan Sehat Anak Sekolah (GEMASS)

*        *        *
Rekan blogger Agung Han mendapat doorprize dari Veronica Tan, istri Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama

*        *        *
Rekan-rekan blogger mendapat doorprize menjelang acara berakhir
*        *        *
Artikel terkait:

- Diskusi tentang Perempuan dan Anak Bersama Serempak.or.id dan KPPPA
- Ngobrol Bareng Christie Damayanti: Ngeblog sebagai Terapi Otak

*        *        *
- Jakarta, 30 Juli 2016