TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Kelas Blogger

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Kelas Blogger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelas Blogger. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2016

Turnamen Domino Antarblogger Perdana di Dunia

Dede Ariyanto, "korban pertama" turnamen gaple antarblogger

"Yang kuat dan merasa punya kemampuan. Yuk, ikutan turnamen domino antarblogger untuk kali pertama diselenggarakan di dunia. Yang gak kuat... Minggir!"

Demikian, pernyataan Rulli Nasrullah dalam statusnya di facebook pada 25 Agustus lalu. Pemilik blog www.dosengalau.com ini memang menantang blogger untuk saling unjuk kemampuan. Eitsss, ini bukan soal kompetisi ngeblog dan sebagainya. Melainkan, untuk mengikuti turnamen domino (gaple) antarblogger yang mungkin pertama kali diselenggarakan di Indonesia dan dunia.

Bisa dipahami mengingat biasanya, blogger hanya mengikuti kompetisi ngeblog, menulis cepat, bikin puisi, video blogging, desain blog, dan sebagainya. Namun, apa yang dilakukan pria yang akrab disapa Kang Arul ini lain daripada yang lain. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, karena dilakukan semalam suntuk dengan tantangan yang sungguh luar biasa!

Turnamen antarblogger ini diselenggarakan di Tebing Adventure, tokonya yang menjual perlengkapan untuk mendaki gunung yang sehari-hari jadi markas komunitas Kelas Blogger, Sabtu (27/8). Permainan gaple diawali dengan empat blogger yang saling unjuk gigi.

Kang Arul, Satto Raji, Dede Ariyanto, dan Kholis Indra. Saat itu, hukumannya masih enteng karena hanya memakai helm dan dicoret pipi dengan memakai lipstik. Lipstik? Ya, pewarna merah pada bibir itu jadi media yang tepat untuk mewarnai pipi pemain yang kalah.

"Pake helm dan dicoret sih enteng. Tapi, malunya itu..." kata Dede yang jadi korban perdana. Saat itu, pria yang biasa jadi tutor acara blogger dengan kategori video blogging (vlog) ini mendapat coretan istimewa dari istrinya, Farichatul Jannah.

Ya, turnamen domino ini tidak hanya diikuti blogger pria saja. Melainkan juga wanita, seperti Farichatul, Liswanti Pertiwi, dan Lita Chanlai. Namun, keberadaan mereka tentu bukan untuk bermain gaple. Melainkan untuk bantu-bantu dengan menyediakan cemilan seperti gorengan dan jagung, minuman ringan, lipstik, dan sebagainya.

Menjelang tengah malam, turnamen gaple yagn diselenggarakan dalam rangka mengisi HUT RI ke-71 ini dimeriahkan kehadiran beberapa rekan blogger lainnya. Termasuk, Cahyanto Chan, Imam Mahmudi, Nur Aliem, dan sebagainya yang menyusul. Dengan tambahan amunisi itu, membuat tensi permainan kartu jadi lebih "panas"!

Terbukti, Dede tidak sendirian yang jadi "korban". Sebab, seluruh blogger yang hadir saat itu turut kebagian memakai helm dengan wajah berhiaskan noktah merah. Mulai dari Kholis, Satto, hingga Arul yang jadi tuan rumah. Begitu juga dengan saya yang "apes" karena belum lima menit main menggantikan Satto, sudah harus merelakan pipinya dihiasi warna merah sambil memakai helm.

"Turnamen gaple ini diadakan untuk lebih mendekatkan antarblogger, Tidak hanya di dunia maya saja, tapi juga di kehidupan sehari-hari," Arul, menjelaskan.

Apa yang dikatakan penulis buku Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi ini beralasan. Sebab, selain aktif di dunia maya seperti sosial media, grup aplikasi chat, dan blog, mereka juga kerap menyelenggarakan berbagai acara di dunia nyata. Mulai dari belajar membuat video dari smartphone, teknik fotografi, menulis skenario film, wisata bersejarah ke Pangkal Pinang, dan sebagainya.

*       *       *
Mungkin, ini turnamen gaple antarblogger pertama kali di Indonesia dan dunia

*       *       *
Memakai helm sebagai hukuman tambahan  

*       *       *
Dede menyerahkan estafet "helm kehormatan" kepada Kholis 

*       *       *
Satto dipakaikan make-up layaknya aktor sambil disorot kamera

*       *       *
Ini Arul, "dosen galau" yang benar-benar galau dengan wajah penuh gincu

*       *       *
Saya pun tak ketinggalan "melukis" dengan lipstik untuk peserta yang kalah :)

*       *       *
Hukuman terberat setelah sesi lipstik dan helm berakhir: Yang kalah minum segelas air mineral!

*       *       **       *       *
*       *       **       *       *

Video kemeriaha Turnamen Domino Antarblogger Perdana di Dunia

*       *       *
Artikel Terkait:
- Tapak Tilas Zaman Sekolah Bersama Kelas Blogger #6: Belajar Fotografi dan Vlog

*       *       *
- Jakarta, 28 Agustus 2016

Senin, 18 April 2016

Bulan Dirgantara Indonesia 2016: Dekatkan Tentara dengan Rakyat


Dua dari tujuh pesawat tempur Jupiter Aerobatic Team sedang melukis langit


"NANTI kita bareng saja sama mbak Ety (Budiharjo) dan teman-teman dari #KelasBlogger. Acaranya mulai jam 9.00 WIB sampe malam," demikian penjelasan rekan blogger, Liswanti Pertiwi, dalam perbincangan di media sosial pada Jumat pagi (15/4).

Berkat pemilik blog www.liswantipertiwi.com ini, akhirnya saya berkesempatan menghadiri acara yang diselenggarakan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Sebagai blogger, saya kerap mengikuti event yang diadakan TNI, Kepolisian, dan instansi dari pemerintah atau non, seperti Badan Narkotika Nasional (BNN), serta kementerian lainnya.

Sebelumnya, saya menghadiri acara bertema militer pada 5 Oktober 2013. Tepatnya, ketika TNI merayakan HUT ke-68 di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Saat itu, saya bisa mengetahui lebih dalam mengenai seluk beluk tentara mulai dari atribut, personel, kendaraan operasional, hingga alat utama sistem senjata (Alutsista).

Bahkan, saya sampai berkeliling Monas dengan menumpang Panser Anoa yang jadi salah satu pengalaman berkesan dalam lebih dari seperempat abad hidup saya. Itu mengapa ketika Liswanti memberi informasi mengenai Bulan Dirgantara Indonesia 2016 untuk menyambut HUT TNI ke-70 pada 9 April lalu, saya langsung antusias.

Lantaran bisa menambah wawasan saya tentang militer, khususnya dari Angkatan Udara yang dapat saya tuangkan dalam tulisan di blog. Kebetulan, saya mengenal dua tokoh dari TNI AU yang merupakan blogger. Yaitu, Chappy Hakim yang merupakan mantan Kepala Staf TNI AU (KSAU) dan Prayitno Ramelan. Beberapa kali saya mengikuti acara yang dihadiri mereka yang berkaitan dengan dunia blog.

*        *        *
PAGI itu, Sabtu (16/4) langit ibu kota tampak cerah. Dengan semangat 45, dari kediamaan saya di utara Jakarta, saya membelah sepanjang jalan yang empat di antaranya menggunakan nama pahlawan dari TNI. Mulai dari Jalan Letjend S. Parman, Jenderal Gatot Subroto, Letjend M.T. Haryono, hingga Marsda Halim Perdanakusuma.

Aplikasi Global Positioning System (GPS) di ponsel saya memperlihatkan jarak 21 km dengan waktu tempuh menggunakan sepeda motor sekitar satu jam. Beruntung, pada 2012-2015 saya sering mengunjungi kawasan Bandar Udara (Bandara) Halim Perdanakusuma dalam rangka tugas jurnalistik dari kantor.

Tepatnya di lapangan Sutasoma 77 yang kerap menggelar berbagai acara yang berkaitan dengan sepak bola. Seperti latihan tim nasional (timnas) U-19 dan Liga TopSkor. Saya tidak pernah lupa dengan Evan Dimas dan kawan-kawan ketika latihan di lapangan tersebut saat masih tidak dikenal, mulai populer, berada di puncak, hingga kini tak terdengar namanya lagi.

Setelah memarkirkan sepeda motor, saya menuju lokasi dengan membeli tiket seharga Rp 20.000. Sambil ngobrol dengan beberapa personel TNI AU untuk mencari informasi lebih lanjut, tak lama datang Liswanti dan Ety. Kami pun langsung menjelajahi seluruh area Pameran Bulan Dirgantara Indonesia 2016 khusus pengunjung tanpa ada sejengkal tanah pun yang terlewat.

Mulai dari panggung hiburan raksasa yang siang harinya menampilkan puluhan artis ternama, area display pesawat static show, food court yang berisi puluhan penjual makanan dan minuman yang murah meriah, alutsista non pesawat, areal edukasi safety riding dalam berkendara, tenda Youth Multi Community Event, dan tentunya tenda utama.

Isinya, berbagai macam booth dari TNI AU sendiri, pemerintah, BUMN/ BUMD, dan swasta. Seperti Korps Pasukan Khas (Paskhas), Badan SAR Nasional (Basarnas), Lion Air Group, asuransi hidup FWD, Nikon Kamera, dan sebagainya.

Sebagai pria, khususnya karena sejak remaja kerap bermain game perang-perangan seperti Contra dan Metal Slug di dingdong atau Counter Strike serta Point Blank, di komputer, sudah pasti saya antusias berlama-lama di booth Paskhas. Apalagi, personel yang jaga sangat ramah kepada pengunjung.

Bahkan, saya baru tahu perbedaan baret di antara satuan TNI justru dari mereka. Menurut salah satu personel yang sayangnya saya lupa namanya, Paskhas identik dengan baret jingga, Kopassus (baret merah), Marinir (baret ungu), Kostrad (baret hijau), Propam (baret biru), dan sebagainya.

Selain itu, beliau juga memberi tahu jika alutsista dari TNI AU, khususnya Paskhas, banyak yang berasal dari PT Pindad. Mendengarnya saya bangga mengingat Pindad merupakan perusahaan dalam negeri yang memiliki reputasi hingga mendunia. Saya jadi teringat dengan Panser Anoa yang saya naiki di Monas dulu juga berasal dari Pindad.

*        *        *
RATUSAN pengunjung berjejer rapi di sepanjang landasan. Termasuk, saya, Liswanti, dan Ety, yang antusias menyaksikan parade pesawat tempur dari Paskhas - SAR Tempur dan Jupiter Aerobatic Team.

Sebelumnya, kami disuguhkan aksi Kolone Senapan yang menampilkan keterampilan prajurit TNI dalam menggunakan senjata diiringi beragam musik. Salah satunya, Supermassive Black Hole dari MUSE yang saya rekam dan unggah di youtube. Dari sisi kanan, sayup-sayup terdengar percakapan di antara pengunjung yang mayoritas masih muda.

"Eh lihat, pesawatnya udah deket tuh. Yuk, foto-foto."

"Mas, mbak, jangan desak-desakan dong."

"Kapal... Minta duit..."

"Hussh, emang lu kira apaan."

"He he he, ini ane jadi ingat waktu kecil. Kalo ada kapal lewat pada teriak minta duit."

"Maaf ya, bapak-bapak, ibu-ibu, mas, mbak, dan adik sekalian. Mohon, jangan lewat garis kuning ini ya, berbahaya. Harap, kalian mundur beberapa jengkal ke belakang demi keamanan."

"Iya pak. Maaf. Ini kami munduran."

"Ssst... Si bapaknya macho ya."

"Ho oh. Pangkatnya tinggi tuh. Ada WA-nya ga? Atau BBM lah?"

"Huuu... Lah kalian mah ga boleh liat yang bening-bening, matanya langsung ijo."

"Yaelah, mbak. Kayaknya keren tuh punya cowo TNI. Gagah banget."

"Bener. Bisa lah kalo kita jadi bokin-nya diajak naik pesawat terus. Keliling Indonesia deh."

"Eh tuh, lihat di atas awan ada yang kecil-kecil turun."

"Turun? Hujan ya non?"

"Hujan pala lu peang. Itu tuh."

"Kagak keliatan sih. Eh bentar, itu yang melayang apaan."

"Ih, keren. Parasutnya kok bisa ada dua orang?"

"Tuh lihat, Jupiter-nya bisa bikin love-love."

"Wah, iya, pesawatnya kayak melukis hati di langit."

"Iya, dua pesawat aja bisa saling melukis hati di langit. Hati lo kapan gue lukis?"

"Aiiih, gile lo Ndro. Modus aja."

"Ha ha ha."

*        *        *
TIADA perjamuan yang tak berakhir. Setelah menyaksikan atraksi Paskhas - SAR tempur yang dilanjutkan Jupiter Aerobatic Team, kami pun mengundurkan diri menuju kawasan Cawang untuk menghadiri undangan lainnya. Meski harus berpanas-panasan, tapi, saya pribadi sangat puas akhirnya bisa menyaksikan berbagai parade dari TNI AU dalam rangka Bulan Dirgantara Indonesia 2016.

Bagi saya, acara untuk memperingati HUT ke-70 TNI AU ini bukan sekadar pameran saja. Melainkan, benar-benar mendekatkan tentara dengan masyarakat. Dalam hal ini, mereka yang berada di Halim, tidak segan-segan memberi informasi mengenai kedirgantaraan. Itu membuktikan, kalimat "Bersama rakyat, TNI kuat. TNI adalah kita," bukan hanya slogan saja.

Ya, selamat ulang tahun ke-70 TNI AU, Swa Bhuwana Paksa!


*        *        *
Ayah yang rela panas-panasan demi menyenangkan buah hatinya yang ingin dipotret dengan latar pesawat tempur


*        *        *
Membidik terjun payung


*        *        *
Atraksi Kolone Senapan


*        *        *
Berbagai makanan dan minuman yang murah meriah


*        *        *
Kapan lagi bisa menyentuh pesawat militer kalau bukan di acara Bulan Dirgantara Indonesia 2016?


*        *        *
Liswanti dan Ety yang antusias sepanjang acara


*        *        *
Isi daftar hadir sekaligus ngobrol bareng di booth Basarnas


*        *        *
Yupz, sebagai blogger, saya setuju: Pameran Dirgantara untuk mendekatkan tentara dengan rakyat


*        *        *
Booth Paskhas dengan berbagai atribut 


*        *        *
Semoga antusiasme bocah perempuan ini tercapai jadi jenderal wanita di TNI AU pada masa depan


*        *        *
Kendaraan Paskhas yang bikin saya ingin menerobos batas saking penasaran lihat dalamannya


*        *        *
Pesawat tempur keluar dari hanggar


*        *        *
Bagaikan mimpi, akhirnya sepanjang seperempat abad lebih hidup saya bisa memotret pesawat tempur dari dekat


*        *        *
Biar kata panas, laper, dan sempat dehidrasi, memotret mah jalan terus


*        *        *
"Kapal... Minta duit..."


*        *        *
Bingung saya mau mendeskripsikan apa mengenai pemandangan ini. Satu kata: Fantastis!


*        *        *
"Tuh kan, penerjun payung saja duet di langit. Dirimu dan aku kapan duet di bumi?"


*        *        *
Antusiasme masyarakat untuk menyaksikan parade Atraksi Paskhas -  SAR Tempur


*        *        *
Bersama Rakyat, TNI kuat: Terima kasih untuk para petugas yang membuat acara Bulan Dirgantara Indonesia 2016 jadi lebih bersih  tanpa sampah yang berserakan


*        *        *        *        *        *

Video di Youtube: Atraksi Kolone Senapan TNI AU
*        *        *        *        *        *

Video di Youtube: Atraksi Paskhas - SAR Tempur
*        *        *        *        *        *

Video di Youtube: Atraksi terjun payung TNI AU

*        *        *        *        *        *
Hitam-Putih TNI Sebelumnya:
Semarak HUT TNI ke-68 di Monas
Pengalaman Seru Naik Panser Anoa TNI
- Mengenang Jenderal Soedirman
Sepenggal Kisah di Museum Abdul Haris Nasution
50 Tahun Gugurnya Ade Irma Suryani dalam Kenangan Sang Kakak
- Mengenang Ade Irma Suryani
3 Nafas Likas dan Sosok di Balik Kehebatan Jenderal Djamin Ginting
Semoga Tidak ada Lagi Paswalyur: Pasukan TNI Pengawal Sayur
- Pramoedya Ananta Toer: Saya Ga Suka Militer Indonesia
Sisi Lain Paspampres yang Berprestasi
Apresiasi untuk Kejelian Paspampres
- Intip Buku Prayitno Ramelan

Artikel Hitam-Putih Kepolisian Sebelumnya:
(Esai Foto) Jakarta Metropolitan Police Expo 2016: Demi 3M untuk Masyarakat
Sisi Lain Krishna Murti: Catatan Polisi di Mata Blogger
Opini di Fan Page Facebook Divisi Humas Polri: Polisi Siap Dikoreksi
Sisi Lain Budi Waseso (Buwas): Pasukan Khusus, Ceplas-ceplos, dan Kritik
Profil Anang Iskandar: Calon Kapolri yang Merupakan Blogger Aktif
Profil Enam Calon Kapolri dan Plus-Minusnya
Presiden dan Kepala BNN Kompak: Bandar Narkoba harus Dihukum Mati
HUT Polantas ke-60: Dengarlah Aspirasi Masyarakat
Pengalaman Sehari di Mabes Polri
Polisi Menggugat
Ketika Polwan Beraksi di Atas Moge
Tidak Semua Polisi Berprilaku Kurang Baik
Benarkah Polisi Segan dengan Dosen, Tentara, dan Wartawan?
Kucing-kucingan Antara Pengendara dan Penjaga Jalur Busway
Balap Liar: Sensasi Mengejar Gengsi di Balik Maut

Artikel Terkait (BNN dan sebagainya):
Buwas yang Kian Buas: BNN Gagalkan Transaksi Sabu 39,6 Kg
BNN Tangkap Pilot dan Pramugari Lion Air

Sinergi BNN dan Blogger untuk Mengatasi Darurat Narkoba
Kenapa Harus Blogger yang Kampanye?
Membongkar "Rahasia" Bea Cukai
Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat?

*       *        *
- Jakarta, 18 April 2016

Senin, 21 Maret 2016

(Esai Foto) Tapak Tilas Zaman Sekolah Bersama Kelas Blogger #6: Belajar Fotografi dan Vlog

(Esai Foto) Tapak Tilas Zaman Sekolah Bersama Kelas Blogger #6: Belajar Fotografi dan Vlog



"KETUA yayasannya kang Arul (Rully Nasrullah). Kalau Kepsek (kepala sekolah) pak Syaifuddin Sayuti. Itu istilah di Kelas Blogger. Ada ketua kelas, murid, guru BP, dan lain-lain," demikian jawaban dari Liswanti Pratiwi, beberapa hari lalu saat saya bertanya informasi mengenai Kelas Blogger, yang mengingatkan saya saat sekolah dulu.

Kebetulan, 11 Maret lalu, saya baru saja terpilih untuk mengikuti Kelas Blogger #6 yang bertema Praktik Membuat Vlog (Video Blogging) dengan Kamera Handphone. Karena saat itu masih awam, jadi saya bertanya kepada Liswanti yang menjelaskannya secara rinci.

Sebenarnya, saya sudah lama mengenal Kelas Blogger, bahkan sejak edisi perdana pada 15 November lalu sempat mau ikut ketika kang Arul men-share di Facebook. Namun, karena saat itu bertepatan dengan "One Day Challenge" sebagai pemenang lomba yang diselenggara Toyota Astra Motor (TAM) di Pasar Ah Poong, Sentul, Jawa Barat. Alhasil, saya pun mengurungkan niat untuk daftar Kelas Blogger.

Pada edisi kedua bertema infografis -yang saat ini antusias untuk dipelajari- saya kembali mendaftar. Sayanngya terlambat, karena kuota sudah penuh. Meski begitu, saya tetap antusias menyimaknya di lini masa twitter. Pada Kelas Blogger #3 dan #5 saya kembali lewatkan karena bertepatan dengan event lain yang sudah saya ikuti.

Pun dengan edisi keempat di Pulau Bangka yang -lagi-lagi- nyaris ikut. Hanya, saat membaca ketentuannya harus punya akun Path dan follower Instagram di atas 500, saya langsung mengibarkan bendera putih.

Hingga, benar yang disebutkan dalam adagium lawas, "Selama gunung masih menghijau dan air sungai tetap mengalir, masih ada waktu untuk bersama lagi".

*        *        *

Pagi itu, Minggu (20/2) dengan mata yang kondisinya lima watt, saya menuju gedung Nutrifood Inspiring Center (NIC) di kawasan Menteng Square, Jakarta Pusat. Yupz, meski kurang tidur karena subuh harinya begadang untuk nonton bareng (nonbar) AS Roma versus FC Internazionale di Sency, akhirnya saya bisa mengikuti Kelas Blogger #6 untuk perdana.

Setelah sempat muter-muter nyari lokasinya, beruntung saya ketemu Sari Novita yang menunjukkan NIC. Oh ya, wanita yang menolak saya panggil "bu" melainkan cukup "mbak" ini, yang mengajak saya bergabung dengan Kelas Blogger, dua pekan lalu.
*        *        *

Kelas Blogger #6 dibuka Dudi Iskandar yang sharing Komposisi Foto bertema "Praktik Mengabadikan Peristiwa Melalui Kamera Handphone. Bagi saya ini menarik, mengingat foto merupakan salah satu andalan blogger selain artikel, video, dan infografis. 

Terutama saat pria yang akrab disapa kang Dudi ini berbagi info mengenai esai foto. Kebetulan, dalam beberapa bulan terakhir saya sering menggunakannya untuk artikel di blog

Bahkan, saat itu rekan blogger Kornelius Ginting bertanya kepada saya mengenai esai foto yang sering saya tulis. Saya jawab, sebenarnya, esai foto yang sering saya tulis -termasuk artikel ini- bukan esai foto. Lebih tepatnya, -seperti yang diungkapkan rekan blogger sekaligus jurnalis senior yang juga mengelola suatu komunitas- menyebutnya sebagai kronologis foto

Namun, karena menurut beliau tidak ada genre tersebut, jadi artikel saya mengenai esai foto juga bisa disebut sebagai esai foto. Dengan catatan, tidak pyur esai foto. Beda dengan esai foto yang pernah saya buat empat tahun lalu di Kompasiana yang benar-benar foto bercerita.

Berkat kang Dudi, saya jadi tertarik bikin foto dengan gambar hitam-putih. Apalagi, pemilik blog www.kangdudi.com ini membeberkan rahasia membuat foto hitam-putih agar lebih menarik. Salah satunya dengan teknik EDFAT yang merupakan akronim dari Entire, Detail, Frame, Angle, dan Time. Suatu tambahan ilmu yang bermanfaat bagi saya setelah mengikuti Kelas Blogger #6.

*        *        *

"Untuk yang mendapatkan buku I Am Hope, Choirul Huda," demikian pengumuman Syaifuddin yang membuat saya kaget. Wow... Baru pertama kali ikut, sudah dapat doorprize! Apalagi, buku ini yang saya idamkan dari bulan lalu tapi hingga kini belum sempat ke toko buku. Tepatnya saat menyaksikan film yang diproduseri Wulan Guritno ini.
*        *        *

Sesi selanjutnya, bertema "Pemanfaatan Aplikasi Video" dari Dede Ariyanto dan "Merencanakan Laporan Vlog" (Fachiratul Jannah). Kolaborasi suami-istri ini mengingatkan saya dengan duet blogger lainnya yang saya kenal sejak aktif di Kompasiana. Beberapa di antaranya seperti Yusep Hendarsyah-Uli Harti, Teddy Rustandi-Reni Marthauli, dan Erri Subakti-Vema Syafei.
*        *        *

Saya baru tahu, ternyata dengan aplikasi gratisan di ponsel android, bisa membuat video dengan kualitas terbaik. Itu setelah kolaborasi Dede-Icha berbagi info kepada peserta Kelas Blogger untuk praktik Vlogging dengan aplikasi Kine Master.
*        *        *

Dua rekan blogger, Nur Aliem Halvaima dan Agung Handoyo sangat antusias untuk praktik vlogging melalui aplikasi Kine Master. Oh ya, meski awalnya rumit, namun aplikasi ini tergolong mudah dipahami. Asalkan, tekun dan mau mencoba. Bahkan, ada beberapa blogger yang langsung mencobanya dengan baik. Termasuk saya yang -sedikitnya- bisa dengan menggabungkan beberapa video di ponsel. Hanya suara yang belum mampu dikreasikan dengan baik. *belajar lagi di rumah

*        *        *

Setelah praktik foto dan video, kami pun rihat sejenak. Ada yang ngopi-ngopi ganteng -karena ngopi-ngopi cantik sudah terlalu mainstream-, ngeteh, ngemil, hingga mencicipi berbagai makanan yang ada.
*        *        *

Oh ya, ternyata makanan yang ada di meja ini merupakan bawaan masing-masing peserta Kelas Blogger. Ada cilok, kue, ketan, buah, dan sebagainya. Terus saya bawa apa? Untuk sementara, saya cuma bawa diri saya sendiri dan pakaian dua stel. *alias tangan kosong :)
*        *        *

Langit di atas ibu kota kian cerah memasuki pukul 13.30 WIB. Seusai rihat sejenak untuk ngopi-ngopi ganteng, peserta Kelas Blogger pun kembali untuk menyimak rangkaian acara. Di sisi lain, saya pamit kepada Ketua Yayasan, Kepsek, Guru, dan anggota lainnya, karena harus kembali ke kantor.

Tidak lama setelah tiba di kawasan Senayan, datang telepon dari kang Arul yang kembali mengajak untuk mengikuti Kelas Blogger #7. Namun, karena suatu hal, akhirnya saya -lagi-lagi- tidak bisa ikut. Meski begitu, untuk Kelas Blogger edisi #8, #9, #10, dan seterusnya -jika tidak bertepatan dengan hari kerja- saya siap kembali untuk menimba ilmu bersama mereka.

Dari kejauhan, tampak hamparan gunung yang menghijau dengan di sisinya gemericik sungai yang mengalir...
*        *        *
- Jakarta, 21 Maret 2016