TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Gojek

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Gojek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gojek. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 April 2021

Kenapa Ojol Wajib Divaksin?

Kenapa Ojol Wajib Divaksin?

Saya saat divaksin pada Kamis (29/4)



SEBAGAI ojek online (ojol), mendapat vaksinasi Covid-19 jadi salah satu momen yang paling saya tunggu sepanjang 2021 ini. Terutama, sejak koronavirus mewabah pada awal tahun lalu yang hingga kini masih berdampak.

Itu mengapa, saya sangat antusias ketika aplikator tempat saya nencari nafkah, Gojek, memberikan tiket untuk vaksinasi pertama. Undangan tersebut terdapat di pesan aplikasi saya pada 26 April lalu.

Saya pun bergegas untuk daftar lewat aplikasi Halodoc yang terjadwal pada 29 April. Sangat mudah, karena setiap ojol dengan KTP DKI Jakarta yang diundang mendapat kode khusus.

Lokasinya, ada dua:

1. JIExpo Kemayoran Parkir Hall C, Jakarta Utara

2. West One Cengkareng, Jakarta Barat

Saya pun memilih yang pertama. Waktunya, kemarin, pukul 13.00 WIB. Alasannya jelas, sehabis vaksinasi, rencananya saya langsung ngebid hingga menunggu waktu berbuka puasa. Ya, sambil menyelam minum air tebu.

Kebetulan, kawasan Kemayoran, ramai untuk mengambil berbagai orderan. Itu meliputi GoRide alias penumpang, GoFood (makanan), GoSend (kirim barang), GoShop (belanja), dan sebagainya.

*       *       *

SIANG itu, Kamjs (29/4), cuaca di ibu kota sangat terik. Sambil membelah jalanan dari kawasan barat, saya pun akhirnya tiba di JIExpo. Arloji di saku kiri saya menampakkan pukul 12.31 WIB. Alias, masih ada waktu untuk registrasi vaksinasi Covid-19.

Saya pun ikut antrean dengan ratusan rekan ojol lainnya. Ada beberapa tahap sebelum vaksinasi. 

Pertama, registrasi dengan membawa KTP asli dan fotokopi. Sekaligus, mengisi data diri yang formulir dan kertas sudah disiapkan Gojek.

Selanjutnya, memperlihatkan undangan yang tercantum di Halodoc. Kurang dari seperminuman teh, kami pun bergiliran untuk divaksin dengan membawa sepeda motor masing-masing. 

Setelah itu, tinta sejarah turut mencatat. 

Ya, vaksinasi sangat singkat. Usai disuntik, saya pun diminta istirahat sekitar 30 menit. Tujuannya, untuk mengetahui apakah ada dampak lebih lanjut. Sekaligus, mendengar arahan dari perwakilan Gojek terkait vaksinasi kepada kami, mitranya.

Bisa dipahami mengingat tidak semua pihak setuju dengan adanya vaksinasi. Namun, menurut saya ini wajar. Toh, bagian dari dinamika kehidupan.

Bagi saya pribadi, mengikuti vaksinasi yang diselenggarakan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa yang merupakan induk dari Gojek yang berkolaborasi dengan PT Media Dokter Investama (Halodoc) ini merupakan kewajiban.

Mengapa?

Alasannya jelas. Itu mengingat saya sebagai ojol yang merupakan mitra Gojek. Tentu, saya ingin memberikan yang terbaik terhadal partner saya.

Setidaknya, ada tiga alasan versi saya pribadi terkait kewajiban vaksinasi.

1. Ini sangat penting bagi kesehatan saya sendiri dan keluarga. Sebab, saya harus melindungi keluarga di rumah. Dengan sudah divaksin, setidaknya saya tidak khawatir lagi saat pulang seusai ngebid. Tentu, saat ngojol, saya tetap mengikuti protokol kesehatan (prokes)  Itu meliputi memakai masker, sarung tangan, dan bawa hand sanitizer.

2. Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah. Ya, saat ini, pemerintah sedang melakukan program vaksinasi sebagai upaya penanggulangan virus Covid-19. 

Sejak awal tahun, vaksinasi diberikan kepada masyarakat lanjut usia (lansia) dan petugas layanan publik. Nah, saya dan rekan-rekan ojol lainnya yang merupakan mitra Gojek termasuk dalam kategori tersebut.

Kelompok ini, masuk dalam prioritas pemerintah. Mengapa? Sebab, kita-kita ojol ini, memiliki interaksi dan mobilitas tinggi yang berhubungan dengan masyarakat.

Apakah, Gojek mewajibkan mitranya? Saya tidak bisa menjawab. Setidaknya, hingga saat ini. 

Yang pasti, sebagai mitra, alias bukan karyawan dari PT Karya Anak Bangsa, tentu kita punya hak untuk setuju atau menolak. Pilihan ada pada diri kita masing-masing. 

Namun, saya pribadi meyakini, vaksin merupakan solusi untuk keluar dari pandemi. 

Ya, selain profesi sebagai ojol, saya juga blogger. Jelas, kangen dengan situasi yang berkaitan dengan acara offline. Apalagi, bertepatan dengan Ramadan. Biasanya, sebelum 2020, saya kerap ikut buka puasa bersama (bukber) dengan rekan-rekan blogger lainnya.

Lalu, apakah kita akan mendapat sanksi dari Gojek jika tidak ikut vaksinasi. Ini kabar burung yang saya dengar.

Kenyataannya adalah tidak. Gojek sudah pasti tidak akan sewenang-wenang memberikan sanksi kepada mitranya yang menolak vaksinasi.

Secara, vaksinasi merupakan program pemerintah, alias bukan Gojek atau PT Karya Anak Bangsa. Namun, sebagai ojol, kita memang dianjurkan untuk mengikuti arahan pemerintah.

Kenapa? Sebab, vaksinasi ini bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tapi juga demi melindungi keluarga kita, orang terdekat, tetangga, masyarakat di Tanah Air, hingga warga dunia. Itu karena target vaksinasi adalah kekebalan kelompok atau herd immunity.

3. Yeeei, poin kedua pada paragraf di atas, panjang pake banget. Saya pun yang mengetiknya sambil ngalong di salah satu kawasan kuliner di jantung ibu kota, jadi lupa nulis.

Yupz. Alasan ketiga saya ikut vaksinasi demi memastikan rasa aman dan nyaman kepada customer. Sebab, bagaimana pun, sebagai ojol, tentu kita akan berinteraksi dengan customer baik langsung atau tak langsung.

Contoh, dalam layanan GoRide, saya kerap bersentuhan saat memberikan helm, haircap, dan hand sanitizer. Nah, dengan kepastian sudah divaksinasi, setidaknya tidak membuat customer was-was. 

Apalagi, ketika saya tempel stiker pemberian Gojek bertuliskan, "Saya Sudah Divaksin!" di depan sepeda motor, banyak customer (GoRide) yang antusias. Bahkan, mereka memberi apresiasi, bahwa ojol memang jadi salah satu garda terdepan dalam situasi pandemi ini.

Saya pribadi, tentu bangga. Kendati hanya setitik di samudera, setidaknya saya sudah turut ikut berkontribusi dalam perputaran ekonomi bangsa ini melalui antar penumpang kerja, sekolah, kuliah, makanan, kirim dokumen, dan sebagainya.

Nah, saya sudah divaksin. Saya tunggu cerita dari rekan-rekan ojol lainnya!

*       *       *

Saya Sudah Divaksin!


*       *       *

Dapat suvenir dari Gojek berkat menceritakan kesan usai 
divaksin pada postingan instagram, @roelly87


*       *       *

Perwakilan Gojek foto dengan latar "Saya Sudah Divaksin"


*       *       *

Usai divaksin, saya dapat SMS
untuk jadwal kedua, bulan depan


*       *       *

Sertifikat Vaksinasi Covid-19 yang bisa diunduh
pada laman pedulilindungi.id


*       *       *

Stiker "Saya Sudah Divaksin" yang jadi nilai lebih
di mata customer


*       *       *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):


Artikel Terkait Covid-19

- Pentingnya Vaksinasi di Tengah Pandemi
- Bersama Halodoc Cegah Covid 19 secara Dini

*       *       *

DISKLAIMER: Artikel ini merupakan murni reportase saya sehari-hari sebagai blogger yang independen alias tidak terkait dengan pihak mana pun. Juga tanpa bermaksud menggurui.

Referensi:
- https://mui.or.id/berita/29845/fatwa-mui-nomor-13-tahun-2021-vaksinasi-injeksi-tak-membatalkan-puasa

Seluruh foto/gambar merupakan dokumentasi pribadi (www.roelly87.com)

*       *       *

- Jakarta, 30 April 2021

Selasa, 16 Juli 2019

Narik Go-Jek Pakai Suzuki GSX R-150






NARIK Go-Jek menggunakan sepeda motor sport? Yes, susah-susah mudah... Namun, karena tidak ada pilihan, terpaksa saya jalanin.

Secara, satu-satunya sepeda motor yang saya punya, merek Suzuki GSX-R150. Sebelumnya, saya sudah tanya-tanya ke beberapa rekan senior, yang sudah lebih dulu jadi Go-Ride alias pengemudi ojek online dengan bendera Go-Jek.

Menurut mereka, tak masalah. Hanya, dibanding sepeda motor jenis bebek atau matic, jelas sport lebih sulit. Fakta itu yang saya alami dalam tiga hari terakhir.

Tepatnya, sejak kali perdana narik pada Sabtu (13/7). Sebab, saya harus memilih calon penumpang. Biasanya, kaum hawa, terutama ibu-ibu kesulitan.

Itu karena jok GSX tinggi dibanding bebek atau matic. Apalagi, tidak ada untuk menaruh barang. Misalnya, matic dengan mengaitkan tas di leher kemudi.

Alhamdulillah, dari puluhan order, baru dua -semoga tidak nambah- yang cancel. Alasannya, wajar. Kedua calon penumpang itu kesulitan untuk duduk.

Saya pun memahami dengan meminta maaf dan bersedia cancel. Nah, yang menarik, justru mayoritas bersedia meski di jalan jadi susah.

Salah satunya, seorang wanita paruh baya yang tak keberatan dibonceng meski joknya kecil. Bahkan, beliau harus memegang dua plastik, di kanan berisi makanan beberapa dus dan kiri belasan buku tulis.

"Ga apa-apa mas. Saya kalau sudah pesan, ga enak untuk batalin," kata ibu tersebut saat saya jemput di kawasan Pasar Pagi, Jakarta Barat, Sabtu (13/7).

Saya beberapa kali mengajukan untuk cancel karena khawatir merepotkan. Justru, beliau bergeming. Sambil tertawa mengatakan, "Saya belum pernah naik motor seperti ini. Sekali-sekali jajal."

Sepanjang jalan menuju asrama salah satu angkatan di pinggir ibu kota, beliau pun sangat ramah. Termasuk, menceritakan buku tersebut untuk anaknya yang masih sekolah. Sementara, makanan untuk suguhan acara halal bi halal di kompleksnya.

Sampai tujuan, saya kaget. Sebab, ibu itu masih memberi tip. Padahal, beliau sepertinya juga pegal akibat kedua tangan menopang belanjaan. Ketika saya beri kembalian, ibu itu menolak karena biasanya kalau naik ojek online memang tidak mengambil kembalian.

Sejauh ini, saya memang mencari penumpang di kawasan yang ramai. Biasanya, di seputar SCBD, Senayan, Sarinah, Menteng, hingga Kuningan. Nah, lima kawasan itu yang menurut saya "gemuk". Alias, banyak order meski malam hari.

Ya, memang saya biasa narik sekitar pukul 23.00 WIB usai pulang kerja hingga 05.00 WIB dini hari. Bangun tidur, sekitar pukul 12.00 WIB, saya cari 3-5 orderan yang sedapatnya sebelum masuk kerja.

Kalau dihitung, berkisar 10 jam di jalan yang sehari bisa narik belasan penumpang. Bahkan, Minggu lebih ramai karena ada CFD di beberapa titik ibu kota.***

Ditulis sambil menunggu penumpang di kawasan Taman Menteng, Jakarta Pusat

- Jakarta, 16 Juli 2019

Sabtu, 13 Juli 2019

Pengalaman Daftar Driver Go-Ride Gojek


Antrean calon pelamar Go-Jek




JADI driver alias pengemudi ojek online? Dulu, saya nyaris daftar. Tepatnya, ketika booming ojek onlie pada 2015 silam.

Kebetulan, kantor saya lokasinya di kawasan Gelora Bung Karno (GBK). Hampir setiap hari, sebelum kerja, saya melihat antrean calon pengemudi online daftar.

Sempat terpikir untuk ikutan. Hanya, kesibukan rutinitas sehari-hari membuyarkan angan tersebut. Hingga, empat tahun berselang, saya berkesempatan jadi driver ojek online.

Tepatnya, setelah melakukan pendaftaran secara online kepada Go-Jek lewat laman https://daftar.go-ride.co.id/. Yaitu, dengan mengisi formulir dengan mengunggah empat dokumen.

Syarat-syarat Daftar Go-Jek
- SKCK Asli
- KTP Asli
- Surat Izin Mengemudi (SIM) Asli
- Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) Asli

Nah, untuk bisa membuat SKCK, saya wajib bikin surat laporan ke RT dan RW. Setelah itu, dibawa ke Kelurahan disertai materai satu lembar (Rp 6.000). Jika selesai, langsung ke kantor Kepolisian Sektor (Polsek) terdekat.

Oh ya, biayanya Rp 30.000. Ini tarif resmi dan flat se-Tanah Air.

Syarat-syarat Bikin Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK):
1. Foto kopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)
2. Foto kopi Kartu Keluarga (KK)
3. Foto kopi Akte Lahir
4. Foto kopi Ijazah Terakhir
5. Foto berwarna ukuran 4x3 sebanyak tiga lembar
6. Surat Pengantar Kelurahan (PM1)

Usai melengkapi dokumen, tinggal isi formulir online. Tak lama berselang ada balasan pesan pendek (SMS) dari Go-Jek. Saya daftar pada Jumat (28/6) pukul 14.39 WIB.

Kurang dari dua pekan, setelah data saya terverifikasi, muncul SMS dari Go-Jek.

"Hai Choirul, jadwal undangan pendaftaran GOJEK Anda 11 Juli 2019. Pastikan datang ke Jl. Kemang Timur No. 21, Jakarta Selatan sesuai tanggal pada jam 09.00-15.00. Bawa & tunjukkan KTP, SIM, STNK dan SKCK Asli."

Esoknya, Kamis (11/7) sekitar pukul 11.30 WIB, saya menuju kantor Go-Jek. Namun, ternyata kuota pendaftaran sudah penuh. Menurut petugas keamanan yang mengatur pelamar, per hari Go-Jek menerima 1.000 calon driver. Saya disarankan untuk datang lagi esoknya, pagi-pagi.

Jumat (12/7), saya berangkat dari rumah pukul 06.00 WIB yang kurang dari sejam kemudian tiba di kantor Go-Jek. Ternyata, pagi itu juga sudah ramai. Bahkan, ada yang sudah tiba sejak pukul 04.00 WIB.

Oh ya, alasan kehadiran mereka itu bermacam-macam. Ada yang melamar driver seperti saya, mengurus dokumen, mengambil jaket dan helm, dan lainnya.





Yuppiiiiii



Akhirnya, sekitar pukul 09.15 WIB (operasional kantor Go-Jek buka 08.00 WIB) saya mendapat nomor urut 389. Jangan bayangkan antrenya lama, sebab sekali dipanggil bisa 50 orang. Jadi, duduk sebentar, giliran saya dan pemilik nomor urut 351-400 tiba.

Saat dipanggil, saya cukup menyerahkan empat dokumen asli untuk dicel ulang dan verifikasi. Juga foto setengah badan untuk profil driver di aplikasi Go-Jek.

Petugas mengatakan, jaket dan helm bisa diambil akhir bulan. Selanjutnya, membuat rekening Bank CIMB yang jadi mitra Go-Jek untuk pencairan Go-Pay. Selesai.

Ternyata, mudah. Saya pun resmi jadi driver Go-Jek. Hanya, saya tidak langsung mencari penumpang. Sebab, siang itu ada acara hingga sore yang berlanjut ke kantor.

Pagi harinya, Sabtu (13/7), saya perdana sebagai driver Go-Jek.

Nah, bagaimana pengalaman jadi Go-Ride? Nantikan edisi berikutnya di blog ini, www.roelly87.com atau www.catatanseorangojol.com.

Ditulis sambil menunggu penumpang di kawasan SCBD, Jakarta Selatan
- Jakarta, 13 Juli 2019