TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: Cinta Ditolak Opik Bertindak

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label Cinta Ditolak Opik Bertindak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta Ditolak Opik Bertindak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Oktober 2021

Di Suatu Desa dengan Penumpang Random

Catatan Harian Ojol V

Di Suatu Desa dengan Penumpang Random

Ilustrasi @roelly87


KORONAVIRUS kembali meningkat di berbagai wilayah di Tanah Air sepanjang Juni-Juli ini. Meledaknya Covid-19 membuat beberapa daerah harus melakukan pembatasan aktivitas. Termasuk, di DKI Jakarta yang berlaku 14 hari terhitung sejak 21 Juni hingga 5 Juli yang berlanjut dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada 3-20 Juli mendatang.

Belasan titik keramaian pun dipangkas mulai pukul 21.00 WIB sampai subuh. Misalnya, kawasan yang gw kerap kunjungi sebagai ojek online (ojol) yang terbiasa ngalong alias beroperasi sore hingga pagi. Itu meliputi Asia Afrika, Melawai, Kemang, Sabang, hingga Pantai Indah Kapuk (PIK).

Memang, pembatasan ini sangat berpengaruh dalam hal orderan. Namun, wajar mengingat ini merupakan upaya pemerintah, baik pusat maupun daerah demi menekan laju meledaknya Koronavirus.

Gw juga sangat bersyukur karena pembatasan ini ada pengecualian bagi ojol. Dengan syarat, ada orderan baik penumpang, beli makanan, atau kirim barang.

Pun demikian dengan warga sekitar lokasi pembatasan yang masih bisa lewat. Gw berharap, upaya ini bisa efektif. Tentu, diiringi dengan disiplin masyarakat, salah satunya selalu pakai masker jika di luar rumah.

Plok...

Bunyi tepokan telapak tangan gw dengan nyamuk membuyarkan lamunan gw. Ya, kebetulan gw habis nganter makanan di salah satu perumahan elite di Kemang. 

Mau kembali ke basecamp yang terletak di Barat Laut ibu kota, sepertinya males. Maklum, kalo balik narik terus kosong, rasanya percuma. 

Hanya habisin bensin. Makanya, gw pengen cari orderan yang searah pulang. Setidaknya, ke daerah barat atau pusat. 

Mumpung, masih tergolong sore. Waktu di hp gw menunjukkan 00.15 WIB. Biasanya, jam segini di Kemang rame dengan orderan. 

Apalagi, sebelum pandemi, aplikasi ojol gw sering merah pertanda banyak tawaran untuk anter makanan atau penumpang. Maklum, lokasinya memang strategis di kelilingi restoran, kafe, pasar, pusat perbelanjaan, hingga apartemen.

Ketika asyik menyeruput kopi hitam yang dibeli di starling dengan harga murah meriah, Rp 3.000 per gelas, ditemani udut, tampak kilau cahaya mendatangi. Wow...

Supercar asal negeri piza berhenti di trotoar. Warnanya, merah mencolok dengan emblem khas. Yaitu, mirip dengan logo jadul klub favorit gw, Juventus, yang kini sudah berganti dengan "J".

Njir... Ini mobil teope begete. 

Made in Italy.

Supercar.

Harga pasti Em-eman.

Atap bisa dilipat.

Yang pasti, pemiliknya kalo bukan orang kaya ya orang kaya banget. Kelas sultan lah.

Tapi, penilaian itu sementara gw pending. Sebab, sosok yang mendatangi gw justru terkesan 'b aja'.

"Mas, bisa minta tolong ga?" ujar wanita yang turun dari supercar tersebut. 

Menariknya, pakaian yang dipakai biasa saja. Mengenakan kaos berlogo imut hello kitty dengan paduan hijau, celana jin biru yang robek di lutut, tas gemblok hijau, dan sneaker putih-hitam. Andai ada warna kuning, udah kayak pelangi aja nih outfit-nya. 

"Iya kak?"

"Mas, bantuin gw cari makanan yang unik dong."

"Maksudnya?"

"Gw laper. Lagi bosen menu di rumah. Mau cari yang unik."

"Lah, itu di ujung ada resto cepat saji. Di pinggir jalan ada masakan serba digoreng, sate, dan sebagainya."

"Duh, bosen gw. Udah seminggu makanan itu-itu aja sejak pembatasan."

"Ya udah, pake aplikasi ojek online aja. Untuk beberapa resto, ada yang buka 24 jam meski pembatasan seperti ini."

"Males. Jauh-jauh. Sampe rumah gw biasanya udah dingin. Gw pengen cari yang anget. Enakan makan di tempat."

"Yaelah, lagi pembatasan begini jarang ada yang nyediain makan di tempat. Mayoritas bawa pulang atau lewat aplikasi ojol."

"Kelamaan. Lo lagi ngapain mas?"

"Tidur."

"Yeeeee. Dia tuh ditanya beneran."

"Lah serius."

"Ga ngojol?"

"Lah ini gw lagi ngojol. Ga lihat jaket, helm, sama aplikasi ini lagi nyala," jawab gw memperlihatkan layar hp tanda aplikasi ojol sedang on.

"Tuh kan, dodol! Ditanya ngapain jawab tidur. Tapi tadi bilang lagi ngojol."

"Ya abis, masa lo ga liat gw lagi nunggu orderan. Mau ngojek?"

"Kaga. Gw mau syuting!" 

Wanita itu pun tampak bersungut-sungut. Meski sedang cemberut, gayanya tetap menarik.

"Ya udah kak, lanjut syuting. Ttdj ya," pungkas gw sambil kembali menatap layar hp terkait Euro 2020. 

Kebetulan, gw memang lagi nyari info mengenai Piala Eropa yang sudah memasuki fase knock-out. Maklum, tahun ini gw belum pernah sekalipun menyaksikan siarannya. 

Salah satu faktornya akibat pandemi yang meniadakan nonton bareng (nonbar). Biasanya, kalo ada Euro atau Piala Dunia, gw sangat antusias. 

Namun, entah kenapa untuk edisi sekarang jadi kurang bergairah. Kali terakhir gw nonton bola secara full pada 10 Maret lalu. Tepatnya, saat Juventus tersingkir dari 16 besar Liga Champions 2020/21. 

Setelah itu, paling hanya baca-baca berita. Termasuk, ketika final yang mempertemukan dua wakil Liga Primer yang hasilnya sekadar gw intip dari berita online.

"Yaelah, pan tadi gw nanya lagi ngojol ga? Kalo iya, gw mau order nih," suara dari balik kemudi tersebut melanjutkan.

"Lah, masih di sini. Gw pikir udah jalan?"

"Duh, ini orang rempong."

"Iye.. Iye... Mau order apa?" jawab gw tersenyum sembari menghampiri.

Njir... Mobilnya gila banget. Buatan Negeri Piza memang luar biasa. Seketika, gw ingat dua film bertema balapan. Yaitu, Legend of Speed yang dibintangi aktor Hong Kong favorit gw, Ekin Cheng, dan Ford vs Ferrari.

"Bantuin gw cari makanan yang unik bang."

"Boleh. Di mana?"

"Terserah."

"Ebuset. Gw paling ngeri kalo denger jawaban terserah darj kaum hawa. Soalnya, ambigu banget. Ntar gw tunjukin A, lo maunya Z."

"Ga. Swear!

"Ok... Gw pandu dari depan. Lo bawa mobil jangan ngebut ya. Ikutin motor gw."

"Siap, komandan!"

Wanita itu pun menyalakan mesin mobilnya. Supercar memang beda. Suaranya ngebas banget, tapi terdengar merdu.

"Eh gini aja deh mas. Daripada ribet, mending motor lo taroh, terus lo ikut gw di samping."

"Malem gini parkir di mana? Mal depan? Rugi. Per jamnya dua ribu. Kalo flat sih oke."

"Lo taroh di garasi gw aja. Aman. Ada securitynya. CCTV 24 jam. Rumah gw arah jam empat dari sini."

"Serius naroh tempat lo?"

"Beneran. Aman 100 persen. Gw jamin."

"Dih... Ogah banget. Mending gw taroh depan mal."

"Yaudah terserah. Cepat ya. Gw tunggu sini. Sama ini, untuk biaya parkir."

"Banyak amat? Ga apa-apa nih?"

"Ga. Ya udah gw tunggu."

"Ok, bentar ya."

Gw pun menerima dua lembar merah. Njir, mayan banget. Ini sama aja gw ngojol dua hari. Apalagi, parkir motor tergolong murah, Rp 2.000 per jam. Kalo tiga jam aja paling enam ribu. Mentok ceban. Masih ada sisa banyak.

Terkait penolakan naroh motor di tempat tuh cewek seperti yang ditawarkan, tentu ada alasannya. Gw selalu hati-hati jika menyangkut hal penting. Maklum, motor merupakan nyawa kedua gw, yang utama di jalan.

Gw enggan gegabah dengan menitipkan ke orang yang tidak dikenal. Sekalipun, ini cewek yang memang tajir dan siap menjamin keamanannya.

Namun, siapa yang tahu jika di belakang ada udang di balik bakwan. Salah satunya terkait konspirasi. Misalnya, ternyata dia bagian dari sindikat, mafia, c3pu, hingga gangster.

Bisa mampus gw. 

Kebetulan, gw memang ga pernah percaya sama orang. Apalagi yang baru kenal. Bisa dipahami mengingat kali terakhir gw percaya penuh, gw nyaris kehilangan segalanya.

*       *       *

"LAMA amat mas. Sampe ngantuk gw nunggu. Hampir aja gw tinggal," tutur si cewek memberondong saat gw menghampiri.

"Yaelah, kan harus nyari spot strategis. Maklum, parkiran umum," jawab gw yang langsung terhenti depan mobilnya.

"Ngapain lo bengong? Ayo masuk."

"Lewat mana?"

"Yaelah, tinggal buka pintu aja. Nih. Gini. Manja banget sih."

"He he he. Maklum, gw norak. Seumur-umur belom pernah duduk di mobil sultan kayak gini. Liat di jalan aja jarang."

"Biasa aja. Ntar lama-lama juga udah ga aneh."

Untuk kali pertama dalam lebih dari seperempat abad bernafas di kolong langit, gw merasakan sensasi empuk supercar. 

Emang sih, gw sering liat di internet, baik ig, fb, atau youtube. Namun, untuk duduk, bahkan di samping bidadari lagi, ini kali perdana. 

Kalo ga salah, mobil paling mewah yang pernah gw tumpangin juga dari Eropa. Tepatnya, Peugeot 404. 

Anjrit. Itu aja udah keren. Tapi, ini puluhan kali lebih wah...

"Eh, ini atapnya ga ditutup? Musim hujan lo..."

"Ah eh ah eh... Gw punya nama, keleus."

"Oh iya ya... Sorry. Gw Ekalaya," gw menjulurkan tangan tanda kenalan. Ha ha ha, mirip salken di basecamp dengan sesama ojol.

"Raden Ayu Dyah Sita. Biasa dipanggil Sita."

"Panjang amat tuh nama. Rempong kalo bikin paspor apalagi pas ngajuin visa."

"Romo gw yang kasih dari lahir."

"Lo keturunan darah biru ya? Roman-romannya ada garis dari kesultanan di Jawa. Surakarta atau Yogyakarta?"

"Woi... Nanya terus. Ini ga jalan-jalan kitanya. Ayo, mau kemana?"

"Yaelah. Pan lo yang mau nyari makan."

"Pengetahuan gw soal area kuliner terbatas di Kemang, PangPol, Fatmawati, sama Blok M, doang. Lo kan ojol. Pasti, tahu lebih."

"Lah, apalagi gw. Biasa makan warteg."

"Aduh... Yaudah, kita jalan dulu. Bisa stress gw ngadepin lo."

"Biasa aje kale. Bibirnya diomonyongin gitu. Sexy kagak, buluk mah iye."

Sita pun tertawa mendengar celotehan gw.

"Tapi, tetep cakep kan," ujarnya sambil tangan kirinya mengusap rambut belakang yang tergerai.

"Iye aja. Biar cepet."

"Ha ha ha."

Aneh memang makhluk yang disebut wanita ini. Dalam sekejap bisa berubah tergantung mood. Tadi awalnya cemberut, kini malah ngakak.

"Ini kita lewat mana? Bangka atau Antasari?" Sita bertanya ketika kami berada di pertigaan Kemang Raya-Kemang 1.

"Antasari aja. Ntar kita ke Blok M, Melawai, sampe Mayestik. Mentok-mentok ya ke Patal Senayan, banyak sate taichan."

"Wah boleh tuh Ka. Udah lama gw ga makan di tempat panas-panas. Kalo beli online, nyampe rumah gw biasanya udah dingin."

"Siap tuan ratu. Ntar gw nemenin lo sambil jagain mobil lo."

"Makan aja bareng gw."

"Ogah ah."

"Serius. Gw bayarin."

"Gw ga begitu doyan. Di antara jenis sate, urutan pertama Madura, Padang, Kambing, baru deh taichan. Itu pun kalo terpaksa ga ada pilihan."

"Yeee... Dodol. Kalo lo ga mau makan, ngapa ngajakin gw ke Patal.

*       *       *

DINI hari WIB begini, jalanan ibu kota cenderung lenggang. Apalagi, ada pembatasan seperti ini. Kecuali, malam Sabtu dan Minggu, tetap ramai. 

Maklum, dua malam itu, para bocil dan alay bergerilya. Baik konvoi, pamer knalpot bising, hingga balap liar yang sangat gw benci hingga tulang sumsum.

Gw pribadi punya pantangan tak tertulis bersama rekan-rekan ojol di basecamp atau kenalan di jalan. Yaitu, ogah menolong jika ada pengendara yang kecelakaan akibat sok ngebut, balap liar, dan knalpot bising.

Beberapa kali gw menyaksikan seperti itu. Namun, gw bergeming. 

Ogah membantu. Lebih baik cabut.

Secara, membantu mereka sama kayak nolong anjing kejepit. Usai ditolong malah menggigit. 

Itu yang gw alamin saat memapah korban di Cilandak.

Dulu...

"Woi... ngelamun."

Sontak, gw menoleh ketika bahu gw dicolek disertai adanya suara merdu.

"Kaga. Ngantuk aje. Lagian malem gini atap lo buka. Semilir angin bikin ngantuk."

"Ini di Semanggi. Kita mau kemana?"

"Ebuset... Cepet bener."

"Lo bengong aja sih. Gw jadi ngomong sendiri dari tadi."

"Lo ga jadi ke Patal, Sit? Katanya mau makan taichan? Ini udah lewat."

"Ogah makan sendiri. Lo cariin dah, kita makan bareng."

"Warteg mau?"

"Gw sering makan gituan. Tapi kali ini, no! Gw pengen makanan yang unik."

"Warteg Warmo di Tebet sama Gang Mangga di Glodok, juga unik."

"Please, Lay. Gw ga anti sama warteg. Ge juga ga gengsi makan di warteg karena sering. Tapi, seperti gw bilang tadi. Malam ini gw mau cari masakan yang unik. Titik!"

"Lay? Siapa?"

"Lo, Lay. Ekalaya."

"Ebuset... Gw biasa dipanggil Eka dari kecil. Baru kali ini ada yang nyebut Lay. Ga sekalian Lay... Lay... Lay... panggil aku si Jabrik."

"Yaudah deh. Apa aja. Banyak intermezzo dah lo."

"Ha ha ha. Lo ngomel hidung makin kembang kempis!"

Sita hanya cemberut sambil menaikkan alisnya saat menanggapi ledekan gw. Asli, ngeliat mukanya yang memerah kayak kepiting rebus bikin gw ngakak.

Seketika gw jadi membandingkannya dengan Dresnala dan Dewi. Mereka bertiga memang beda satu sama lain. 

Namun, punya kemiripan. Yaitu, sama-sama wanita!

Duh, error gw nih.

"Selain lo, berapa orang yang punya Portofino di Indonesia?" gw bertanya untuk memecah kecanggungan Sita. 

"Tau!"

"Kali, lo tahu gitu Sit..."

"Emang gw dealer!"

Njir, kumat nih cewek. Paling males gw ngadepin situasi seperti ini. 

Meski, kadang demen juga sih. Secara, bikin gw tertantang untuk menaklukkannya!

Maksud gw, bikin dia kembali ceria. Minimal, ga badmood lagi.

"Setahu gw nih. Bukan sotoy ya... Tapi, Portofino emang jarang mengaspal di Jakarta."

"Mobil ini ga semahal yang lo kira, kali."

"Ga mahal. Tapi juga ga semua orang tajir mampu beli. Selain harga OTR, juga harus dihitung pajak tahunan, sparepart, asuransi, dan lain-lain."

"Kayaknya, lo tahu banyak soal mobil."

"Ya, nggak lah. Kebetulan aja."

"Lo penggemar sportcar?"

"Ebuset, gw aje ngojek pake motor matic yang belinya kredit."

"Ya, emang beli mobil kayak gini harus cash? Ngga lah. Banyak juga yang nyicil," Sita, mulai tersenyum.

"Ini gw sotoy ya. Jangan lo anggap serius. Prediksi gw, kali ya. Harus ada 5-6 em buat nebus Portofino seri terbaru."

"Yupz... Ini punya Romo gw. Kebetulan, beliau memang kolektor. Kalo punya gw mah cukup Livina. Itu gw beli hasil keringat sendiri dari kerjaan banting tulang hingga keluar air mata, keringat, dan darah. Ha ha ha."

"Lo penggemar Nissan ya, Sit? Jarang ada cewek pake tuh mobil buat sehari-hari. Biasa, Jazz, Agya, atau Ayla, dan sebagainya."

"Ga juga sih. Tapi di rumah, ada Infiniti dan Navara. Romo gw suka tuh merek. Meski, ga fanatik juga. Ada Mini sama Audi buat beliau sehari-hari."

"Wow... Cadas."

"Lo sendiri hobi otomotif?"

"Nonton balapan, F1 dan MotoGP di tv, iya. Kalo sehari-hari cuma ada Vario aja. Mobil belom."

"Ya, optimistis ke depannya lo bisa barengan gw di jalan dengan roda empat. Punya mobil impian?"

"Banyak. Eh lo ngapain berenti di sini. Ntar diusir satpol pp," gw coba cegah Sita yang meminggirkan kendaraan di seberang Tugu Selamat Datang."

"Udah malem. Kali aja ga ada razia. Gw ngerokok bentar. Asem," Sita membuka pintu sambil nyender menghadap air mancur.

Tampak, hanya 1-2 kendaraan yang lewat. Starling juga tumben ga lalu-lalang.

*       *       *

"NONGKI di pinggir pantai kayaknya enak. Ka, cari resto yang ada bakar-bakaran di utara yuk?" Sita menoleh ke gw usai menaruh hapenya ke saku.

"Di mana? Ancol? Pan tutup, ada pembatasan."

"Yang buka di mana? Mumpung masih jam 12an. Cuaca juga cerah."

"Kalo bakaran yang segar sih di Muara Angke. Itu berbagai macam tangkapan, kayak ikan, kepiting, udang, deelel banyak.

"Ogah ah. Amis. Gw sering ke sana. Apalagi repot parkirnya kalo bawa mobil."

"Yeee, di mane lagi."

"PIK aja."

"Emang buka?"

"Coba dulu, keleus."

"Ya udah, pan gw cuma nemenin."

"Ok, kita cuss."

Sita pun melajukan mobilnya ke arah utara. Di sisi jalan tampak banyak galian terkait pembangunan MRT Fase 2. Ya, meski ada pembatasan akibat pandemi, proyek nasional yang menghubungkan Tugu Selamat Datang hingga Stasiun Kota, harus tetap jalan.

Tak lama usai sering berpapasan dengan berbagai truk, kami sampai di kawasan elite di utara ibu kota.

"Lah, disuruh putar balik nih Ka. Ga bisa ke jembatan," ucap Sita.

"Ya gimana lagi, pan sedang pembatasan. Terpaksa kita balik."

"Duh, tanggung banget. Nyari makanan dari selatan ke sini, kalo ga dapat sama sekali."

"Resto 24 jam ada beberapa di sini, Sit. Cuma, ga tahu sesuai selera lo apa nggak."

"Lo tahu?""

"Ya iyalah. Pan gw ojol. Sering ngebid di sini. Hanya, menunya ya gitu. Mayoritas masakan cepat saji atau digoreng."

"Ga apa-apa deh. Daripada balik ke Kemang tanpa hasil. Lagian, gw juga udah laper banget.

Gw pun ketok jidat menyaksikan ulah salah satu makhluk Tuhan paling seksi ini...

*       *       *

LALU lalang kendaraan benar-benar memekakkan telinga. Meski ini sedang pembatasan dan pada beberapa titik terdapat penyekatan yang dilakukan aparat gabungan, tidak menyurutkan keinginan warga untuk bepergian.

Termasuk, dengan kendaraan roda empat yang hilir-mudik di kawasan elite ini. Mulai dari supercar hingga mobil antik tampak wara-wiri di jalanan yang sejatinya tidak mulus amat. 

Bahkan, cenderung bergelombang. Ya, kalau tidak ingin disebut bopeng sana-sini. Kontras dengan imej elite pada kawasan yang terkenal tersebut.

Saat asyik menoleh ke teras, gw kaget karena di hadapan gw terdengar suara. Bukan dari ucapan Sita, melainkan tangan kirinya yang mengadukan sumpit dengan piring. 

Yee, gw lupa. Doi ternyata kidal. Pantas apa-apa megang dengan tangan kiri. 

Ga semua sih yang gw perhatiin, tapi mayoritas. Termasuk saat mengemudikan mobilnya. 

Setahu gw orang kidal punya ciri khas tersendiri. Contohnya, Kurt Cobain dan Lionel Messi.

"Woi... Ka."

"Iye, bawel ih."

"Jadi begini, Ka. Gw pengen cerita sesuatu sama lo. Gw harap, lo bisa jadi pendengar yang baik."

"Siap." Sambil tersenyum, gw menjawab dengan kalimat template khas ojol terhadap customer.

"Gw serius Ka. Sangat serius."

"Iye, Sita. Gw kan ga nyelak omongan lo. Gw cuma bilang siap."

"Hmm..."

"Silakan, lanjut."

"Gw ga peduli kalo lo mau ngasih saran, pendapat, nasihat, atau pertimbangan ke gw soal cerita ini. Yang pasti, gw butuh sosok yang mau mendengar unek-unek gw selama ini."

Sita memainkan sumpit di tangan kirinya sambil memilin mie. Di sampingnya tampak pramusaji menuangkan cocktail ke gelasnya yang sejak awal sudah tandas.

Gw sekadar melihat di meja. Kembali melanjutkan pandangan ke arah Sita dengan khusyuk.

"Jadi begini. Lo kan tahu, status gw anak tunggal. Single. Usia udah lebih 20 pula. Nah, Romo gw udah siapin..."***

*      *      *


Serial Catatan Harian Ojol (Semesta Ekalaya)
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part III: Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah
- Part IV: Sebuah Kisah Klasik yang Tak Berujung
- Part VI: Di-Ghosting Kang Parkir
- Part VII: Ada Amer di Balik Modus Baru Costumer
- Part VIII: Debt Collector Juga Manusia
- Part IX: Penumpang Rasa Pacar

Prekuel
- Kamaratih
- Kisah Klasik Empat Insan di Kamar Hotel

Spin-Off
- Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- Ketika Manusia Memanggilku Lonte

Ekalaya Universe
- Mukadimah
- Daftar Tokoh
- Epilog

*      *      *

*Inspired by True Event
- Jakarta, 13 Juli 2021 (Edited 20/10)

Selasa, 18 Mei 2021

Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah

 Antara Aku, Kau, dan Mantan Terindah


Ilustrasi www.roelly87.com


LEMBAYUNG di ufuk barat, tampak merona. Keindahan alam sore ini kian semarak dengan lalu-lalang jalanan di seberang basecamp tempat gw nyantai. Tampak, anak-cucu Adam tengah asyik beraktivitas. Ada yang berangkat, pulang kerja, pergi makan, beli cemilan untuk buka, ngerokok, dan sebagainya.

Memang, lokasi basecamp yang terletak di pemukiman padat penduduk barat ibu kota ini tergolong strategis. Dekat jalan raya yang mengarah ke pusat perbelanjaan, kuliner, pergudangan, hingga pabrik. Alhasil, cukup menunggu di basecamp, maka orderan pun sering datang dengan sendirinya. 

"Ebuset, nyantai aja. Gw pikir lo masih lanjut," ujar Irawan yang baru tiba.

"Abis tektokan. Nganter ke Karawaci, pas balik di Cimone dapat arah Kalideres. Ya udah, sekalian istirahat nunggu buka puasa," jawab gw.

"Sama nih. Gw buka di sini aja lah. Mau pulang, bahaya. Kalo udah di rumah, bawaannya males keluar.

"Lah lo ngapain ngojol. Kontrakan bejibun, ortu tajir, rekening di atm melimpah. Lo kan ngojek cuma sebagai simbol aja, biar ga dibilang nganggur sama tetangga."

"Ha ha ha. Si goblok."

TENG NENG NONG TENG...

HP gw bunyi. Gw baru inget, tadi belom nonaktifkan aplikasi.

Orderan food. Anter ke Tanjung Duren. Argo hampir selembar biru. Termasuk kakap. Meski sudah siap-siap mau buka puasa, gw cocol.

"Kemana bro?" ujar Irawan melihat gw mengemasi kembali bungkusan kolak sagu rangi, es buah, gorengan, dan sebotol air mineral.

"Food. TanDur. Kakap, mayan. Gw buka di depan resto aja sambil nunggu makanan jadi."

"Dewi Wilutama. Ratingnya 4,9 dari 20 orderan. Anter ke Kostan Sriwedari, Tanjung Duren. Tunai," Irawan yang kepo turut membacakan keterangan di aplikasi.

"Mayan tuh. Penghuni kostan sana biasanya royal. Minggu kemaren gw dapat tip 50k," lanjut Irawan.

"Iya sih, gw juga sering nganter ke sana. Tapi, ini belinya banyak juga. Hampir 500 ribu, belom ongkirnya," gw menjawab terkait orderan makanan cepat saji hingga 10 bungkus.

"Mungkin buat bukber kali bro," sahut Irawan, asal.

"Lah, emangnya resto pesulap. Makanan kan dibuat dulu, estimasi 15-30 menit. Itu belom dihitung di perjalanan. Ya, sejam lah baru sampe lokasi. Pan ini bentar lagi beduk," gw menjelaskan.

"Gw cabut dulu ya bro."

"Sip, Ka. Gw mau siap-siap buka nih."

*       *       *

USAI menempuh perjalanan dari restoran sekitar seperminuman teh yang diselingi seteguk air mineral untuk buka puasa, gw pun sampe di Kostan Sriwedari.

Tampak, fasad gedung ini sangat megah. Modern dengan tinggi empat lantai.

Konon, harga sewa kost per bulan berkisar Rp 3-5 juta. Meski mahal, tapi wajar mengingat penghuninya rata-rata mahasiswa dan pekerja kantoran di kawasan Tanjung Duren yang terkenal strategis.

"Saya sudah di depan pos security, kak," tulis gw di chat aplikasi ketika sampai di gerbang.

Beberapa detik kemudian, balasan dari customer.

"Tunggu pak. Saya keluar."

Sambil menunggu customer keluar, gw pun asyik menyulut tembakau. Nikmat sekali hembusan dari rokok pertama sejak kali terakhir mengisapnya 14 jam lalu saat jelang imsak.

Hanya, tunggu tinggal tunggu, hingga 15 menit berlalu, tidak nampak customer tersebut keluar kostan untuk menyambut makanan. Chat yang gw kirim pun centang satu.

Alias, tidak dibaca. Pun demikian dengan telepon. Tersambung, tapi tak diangkat.

Perasaan gw pun merasa tidak enak. Tepat 30 menit sejak chat konfirmasi tiba yang tak digubris customer, gw langsung menuju pos security.

Petugas keamanan tersebut mengiyakan untuk memanggil si customer setelah melihat data di aplikasi yang tertera nama, harga makanan yang harus dibayar beserta ongkos dan kamar kost.

Tak lama...

"Iya, pak. Saya yang bernama Dewi Wilutama," ujar wanita muda berparas ayu yang menghampiri gw didampingi temannya. Sementara, security tadi mengawasi dari depan pos sambil ngelepus dan pandangan mata tertuju pada hp-nya.

"Ini kak, pesanannya," jawab gw memperlihatkan 10 bungkus makanan cepat saji.

"Hah? Saya ga mesan apa-apa bang," katanya dengan nada heran.

"Waduh, ini di aplikasi tertera nama kakak. Dewi Wilutama. Kostan Sriwedari. Kamar 378," gw menjelaskan.

"Kalo nama dan kamar kostan, memang benar. Namun, sumpah saya ga sedang pesan makanan."

"Nah, ini siapa dong kak?" gw pun garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

"Wi, coba lo cek aplikasi. Siapa tahu kepencet," temannya menimpali.

"Ga kok. Nih lihat," tutur Dewi memperlihatkan layar aplikasi yang terbuka di hpnya.

Gw pun mengecek datanya di akun customer Dewi.

Dewi Wilutama.

dewi_wiloetama94@rocketmail.com

085612345678

Gw pun inisiatif telepon ke nomor customer yang tadi tidak diangkat-angkat. Hingga beberapa kali, juga sama.

Sekilas, gw lihat Dewi dan temannya saling lirik.

"Kak, bisa minta izin," tanya gw dengan sopan.

"Silakan bang."

"Bisa telepon ke nomor saya dari hp kakak. Ini sebagai konfirmasi saja. Ni nomor saya, 081387879999."

"Siap bang."

Di layar hp gw tertera panggilan masuk. Nomornya 085612345678.

Gw coba telepon balik. Dewi pun mengangkatnya.

Namun, ketika gw telepon ke nomor customer, tidak ada tanda-tanda di layar hp Dewi.

Memang, sejak setahun terakhir ini aplikator menyamarkan nomor telepon antara driver ojol dan customer. Tujuannya demi privasi karena dulu sering disalahgunakan oknum ojol dan customer.

"Saya cuma pake satu nomor saja bang," Dewi kembali memperlihatkan settingan di hpnya yang hanya memuat satu SIM card.

Gw pun kembali menyulut rokok. Sebagai penenang dalam situasi rumit ini.

"Ini gimana ya, nama dan alamat tujuan sama tapi beda orang," gw menggumam.

"Emang berapa bang totalnya?" teman Dewi bertanya.

"Semuanya Rp 543.000. Pesanan Rp 495 ribu dan ongkos kirimnya 48 ribu."

"Buset... Banyak amat bang. Saya ga ada uang segitu. Kirain cuma Rp 100an ribu, saya berani talangin biar abang ga rugi. Tapi, kalo di atas gope, maaf saya tidak punya uang," Dewi, mengungkapkan.

"Ri, lo ada berapa? Gw ada 100 ribu. Patungan yuk, kasihan abang ojol ini," lanjut dara dengan rambut panjang semampai ini kepada temannya yang bernama Siti Sundari.

"Sama, Wi. Gw juga ada cepe..." Sundari, menimpali.

"Jangan, kak. Ga usah..." gw memotong percakapan mereka.

"Biar saya telepon customer service aplikator aja. Agar, pesanan ini dibatalkan karena order fiktif," tambah gw.

"Emang bisa bang? Ga rugi?" Dewi bertanya.

"Saya coba kak. Kalo bisa, mohon tetap di sini untuk klarifikasi ke aplikatornya," kata gw yang langsung diiyakan Dewi dan Sundari.

*       *       *

HINGGA 10 menit kemudian, telepon tersambung ke operator. 

"Selamat malam, dengan Arimbi. Ada yang bisa kami bantu," terdengar suara dari cs aplikator.

"Malam bu. Saya, Ekalaya, driver ojol. Domisili Jakarta Barat. Nomor telepon 081387879999," gw memperkenalkan diri.

"Ada yang bisa kami bantu, pak?"

"Saya dapat order fiktif atas nama Dewi Wilutama dari restoran cepat saji senilai Rp 543 ribu. Sebelumnya, customer aktif di chat. Namun, ketika saya sampai lokasi, dichat tidak balas dan ditelepon tidak jawab hingga 30 menit lebih," gw menjelaskan secara rinci.

Dewi yang berada di hadapan gw terus menatap. Mungkin, banyak pertanyaan di benak wanita berkulit kuning langsat ini. Pada saat yang sama, tangan kiri Sundari asyik memainkan sebatang rokok yang menari di jarinya.

"Sampai di lokasi, memang ada yang bernama Dewi Wilutama dan kamar kostnya pun seperti di aplikasi. Namun, ternyata yang bersangkutan sama sekali tidak pesan. Sampai detik ini saya chat dan hubungi, tidak ada respons dari customer. Saya khawatir ini opik," lanjut gw.

"Sebentar ya pak, akan kami cek datanya terlebih dahulu. Mohon telepon tidak ditutup" jawab cs.

Gw pun kembali menyalakan rokok. Ini batang kelima yang gw hisap. Sejatinya, rokok memang tidak memberi kenyamanan bagi penggunanya. 

Jika ada yang mengatakan menghisap rokok bikin rileks dalam menghadapi masalah, itu hanya suges saja. Namun, meski sudah tahu seperti itu, entah kenapa, gw tetap tidak lepas dari mild putih ini.

Tak lama berselang, sambungan telepon dari operator pun kembali.

"Maaf sudah lama menunggu ya pak. Setelah kami cek data lebih lanjut, ternyata akun atas nama Dewi Wilutama tidak terindikasi fiktif. Akun ini sudah melakukan lebih dari 20 pemesanan dengan penilaian dari driver cukup bagus," demikian suara cs aplikator yang memang sesuai dengan data di aplikasi yang sudah gw lihat sebelumnya.

Bahwa, akun bernama Dewi Wilutama ini telah 20 kali melakukan orderan yang ratingnya 4,9. Tergolong bagus bagi ukuran customer. 

Biasanya, gw atau mayoritas ojol lainnya paling senang dapat customer dengan rating di atas 4,7 hingga bintang 5. Sementara, rating 4,1-4,6 tergolong "b aja" dan 3,5-4 itu buruk. 

Bagaimana dengan customer yang ratingnya 3,5 ke bawah? Biasanya, itu parah banget. 

Kalo ga orangnya bawel, judes, emosional, dan lainnya. Bisa juga terkait lokasinya sulit dijangkau, seperti apartemen yang harus nunggu lama, komplek perumahan elite yang ribet di pos masuk, atau rumah susun yang kadang kami harus jalan kaki menyusuri tangga hingga lantai lima!

"Apakah pak Eka sudah sampai ke lokasi sesuai pesanan di aplikasi?" tanya cs.

"Sudah bu. Ini saya bersama orang yang bernama Dewi Wilutama. Namun, saya sudah cek aplikasinya tidak ada pemesanan untuk hari ini."

"Baik pak Eka. Mohon ditunggu ya. Kami akan crosscheck data terlebih dulu."

"Siap bu."

Gw pun menatap ke arah Dewi.

"Kak bentar ya. Lagi dikonfirmasi sama cs-nya."

"Iya bang ga apa-apa. Semoga cepat selesai. Ngeri banget kalo dapat opik hingga 500 ribu."

"Wi, gw ambil snack dulu ya. Gw dari buka belom ngemil nih. Sekalian kita kasih abangnya," Sundari menimpali.

Dari kejauhan tampak sosoknya lenggak-lenggok bak putri keraton. Secara fisik, gw akui Sundari memang body goal banget yang mengungguli Dewi. Ini berdasarkan penilaian gw sebagai naluri lelaki.

Hanya, entah mengapa, gw lebih tertarik kepada Dewi. Perawakannya memang biasa aja. Namun, Dewi punya keunggulan dibanding wanita lainnya. Lesung pipit nan indah dipadu gingsul yang mewarnai senyuman khasnya. Apalagi, dengan alisnya yang sangat kereng.

Kalo gw nilai, Sundari sangat seksi. Sementara, Dewi merupakan sosok wanita yang anggun.

Dalam Kamus Besar Naluri Pria (KBNP) yang disusun berdasarkan imajinasi gw, terdapat lima penilaian terhadap wanita.

Itu meliputi:

5. Cantik
4. Seksi
3. Manis
2. Ayu
1. Anggun

Njir, gw ngapain malah mikirin yang nggak-nggak. Padahal, ini lagi nunggu konfirmasi cs terkait orderan yang fiktif atau bukan. Geblek!

Beruntung, telepon yang gw tuju kepada cs aplikator tersambung lagi.

"Mohon maaf pak Eka sudah lama menunggu. Setelah kami crosscheck lebih lanjut, memang akun atas nama Dewi Wilutama ini benar adanya. Sudah 20 kali order layanan baik penumpang, makanan, dan kirim barang. Hanya, biasanya alamatnya di Perumahan Amarta Indah, Jakarta Pusat, dan perkantoran Pringgadani East Bay, Jakarta Utara," terdengar suara cs, menjelaskan sambil gw loudspeaker.

Gw yang menyimak pun menoleh ke Dewi. Ternyata, dia sangat kaget. Raut wajahnya tampak keheranan. Romannya memperlihatkan tanda tanya ketika mendengar alamat yang biasanya dilakukan si pengorder atas namanya.

Bahkan, tertangkap jelas, Dewi memainkan alisnya yang tebal diikuti anggukan Sundari.

Tidak perlu jadi Elon Musk yang genius untuk merekonstruksi keganjilan ini. Jelas, gw menyimpulkan ada yang aneh terkait Dewi. Entah dirinya pribadi atau masa lalunya.

"Kami sudah menghubungi pemesan, tapi hingga kini tidak ada jawaban. Kami juga sudah mengecek riwayat chat pemesan dengan pak Eka yang tidak ada keanehan. Kami putuskan, akan menutup orderan ini. Pak Eka bisa memberikan makanan ini ke panti asuhan, orang tak mampu, atau dimakan sendiri. Untuk biaya pesanan akan kami ganti di aplikasi dengan nontunai kepada pak Eka dalam 1x24 jam," cs membeberkan.

"Ada lagi yang ingin disampaikan, pak? Kalau tidak ada, telepon kami akhiri dan terima kasih," lanjut cs.

"Ga ada bu. Terima kasih," jawab gw lega karena tidak jadi merugi karena aplikator akan bertanggung jawab untuk menggantinya.

*       *       *

USAI mendengar penuturan cs, gw langsung memandang ke arah Dewi yang tatapannya jauh ke depan. Sementara, Sundari asyik mengunyah seblak yang dibawanya beserta potongan gorengan di piring.

Dewi pun seketika menunduk. Pada saat yang sama, Sundari beranjak menghampiri gw.

"Gw yang jelasin ya Wi. Mukadimah aja. Sisanya lo," kata Sundari.

TIIIN... TIIIN... TIIIIIN!

"Woi Ka! Lo bukan nganter food malah mojok!"

Terdengar teriakan dari suara yang sangat gw kenal. Njir...

"Ka, minta cireng ya satu," ujar suara tak asing lagi yang ternyata... Irawan!

"Eh goblok. Bukan punya gw itu. Punya kakak ini," jawab gw yang ga asing dengan ulah nyeleneh sohib gw tersebut sambil menatap ke Sundari.

"Eh kakak. Maaf. Gw minta ya. Satu lagi deh, enak juga. Gw buka puasa tadi cuma sama kwetiuw dan pangsit doang. Kurang nendang," Irawan kembali nyerocos.

"Eh cakep banget kakak ini. Waduh, ada satu lagi. Yang ini, manis bener. Kayak ada gula-gulanya di wajahmu," lanjut Irawan yang membuat suasana pecah setelah tadi sempat awkward.

"Silakan bang. Makan aja, kita udah dari tadi," ucap Sundari yang terkekeh mendengar celetukan Irawan.

Dewi? Tampak mengulum senyumnya yang tersipu malu akibat pujian Irawan. Njir, nih cewe, sumpah manis bener.

"Eh lo ngapain sama dua makhluk bidadari ini?" tanya Irawan yang tak hentinya mengunyah combro.

Ebuset, ini gorengan punya Sundari udah ludes dicomotin Irawan.

"Gw dapat opik. Untung ada dua kakak ini..." jawab gw.

"Opik apaan?" Irawan bertanya yang langsung gw potong.

"Si anjir. Orang mau ngomong dipotong terus. Bentar, tunggu gw sama kak Sundari dan kak Dewi jelasin, baru lo tanya. Lagian, lo bukan narik sono, rempong amat pake ketemu di sini," lanjut gw men-skak mat Irawan.

Sundari terbahak-bahak mendengar omongan gw. Sementara, Dewi tersenyum ngikik sambil menutup hidungnya.

Sepertinya, baru pertama dalam hidup mereka bertemu makhluk seaneh Irawan. Sosok yang sotoy, apalagi kalo depan cewe. Juga penakut jika berhadapan dengan makhluk halus.

Namun, berubah telengas jika berhadapan dengan musuh. Bahkan, tahun lalu, Irawan ga gentar berhadapan dengan tiga begal yang semuanya bawa senjata tajam di Sunter.

"Iye... Iye. Gw penasaran dapat opik apaan, Ka. Ini gw nyimak deh. Janji," Irawan menjawab dengan memperlihatkan jari telunjuk dan tengah.

*       *       *

SETENGAH jam, kemudian...

"Njir, itu cowo katrok banget. Cinta ditolak, opik bertindak. Mau gw ramein ga, Dew? Sun? Ntar gw samperin sama anak-anak ojol lainnya biar kapok," ucap Irawan berapi-api setelah lebih dari sepernanakan nasi hanya jadi pendengar saja.

Ya, Sundari menjelaskan bahwa 99 persen yang melakukan opik adalah Laksmana Kumara. Yaitu, mantan Dewi yang ternyata masih menyimpan perasaannya hingga kini.

Bahkan, meski sudah lewat puluhan purnama. Apalagi, dalam periode itu, keduanya sama-sama sudah mendapat pacar lagi.

Dewi dengan Pancala yang tak lama putus. Sementara, Laksmana dengan Utari yang tidak diketahui kabar selanjutnya.

"Kalo kata gw sih, ga perlu, Ir. Ga usah lah. Apalagi, jika bawa-bawa nama ojol. Terlebih, masalah udah selesai. Tadi kan cs aplikator udah mastiin orderan gw diganti. Jadi, ya clear," gw menanggapi seruan Irawan.

"Iya juga sih. Tapi, emang geregetan juga sama tuh cowo yang mentalnya pecundang banget," lanjut Irawan tampak emosional sambil tangan kanannya mengunyah combro.

"Njrit. Pedes banget. Kampret, isinya ada cabe rawit," Irawan berseru akibat kepedasan.

Tawa pun meledak diantara kami bertiga yang melihat aksi konyol secara natural tersebut.

"Ini bang, minum. Jangan ngomong dulu ya, ntar keselekan," kata Dewi sambil menyodorkan air mineral ukuran gelas yang tadi dibawa Sundari.

Gw juga turut menyeruput es buah yang tadi gw bawa dan belum habis. Tak lupa, kembali menyalakan rokok yang kini suasananya lebih rileks usai kehadiran Irawan.

Tampak, sohib gw itu sudah segar setelah sebelumnya matanya berair akibat tak sengaja menggigit cabe rawit.

"Dew. Eh, kak Dew..." kata Irawan kepada Dewi.

"Dewi aja bang. Ga usah pake sapaan kak, segala. Umur kita kan ga beda jauh," Dewi memotong.

"Iye sih. Tapi kalo lagi ngojol, kita emang selalu manggil kak ke customer. Iye ga Ka?" jawab Irawan yang memandang gw.

"Yongkru."

"Eh, Dew... Gw penasaran nih. Emang lo sama si cowo itu jadian berapa lama?" Irawan kembali berkicau.

Seketika suasana hening.

Gw menatap Dewi yang kembali tertunduk. Sementara, Sundari menyalakan rokok menthol.

Baru saja Irawan ingin memberondong kembali pertanyaan, Dewi sudah memotong, "Lima tahun bang."

"Anjrit! Itu pacaran apa kredit motor? Matic gw aja ga sampe tiga tahun udah lunas. Motor si Ekalaya malah cuma dua tahun," Irawan, menukas.

"Si goblok, orang lagi serius malah dihubungin ke kreditan," gw mengomentari celotehan Irawan.

"Tapi bener kan Ka. Gw kredit tiga tahun, lo dua tahun. Jangan-jangan lo gengsi depan dua bidadari ini kalo motor buat ojol aja nyicil," kata Irawan, terbahak-bahak.

"Njir. Yang penting mah, bisa narik orderan. Biar kata kredit juga, intinya kita sama-sama gacor," gw mengomentari sambil tertawa.

"Iya, bang. Lama juga. Tapi, emang putus nyambung," jawab Dewi yang ikut menyalakan rokok mild. Beda dengan Sundari yang jenisnya menthol.

Kami sempat beradu pandangan meski beberapa detik. Tak lama, Dewi melanjutkan.

"Kami terakhir pisah 2018, pas gw mau daftar relawan Asian Games. Abis itu, gw pacaran lagi sama temen kantor, ya setahunan. Sedangkan, Laksmana yang gw tahu sempat dua kali pacaran."

"Lah, Dew... Lo udah lama putus, tapi tahu bener sama kehidupan dia. Bener-bener mantan terindah," samber Sundari.

"Ya... Gitu lah, Sun. Gw emang saling follow medsos-nya, di IG, FB, dan Twitter. Tapi, emang ga nyangka udah hampir tiga tahun putus, dia ngajak balikan," ucap Dewi yang sepertinya likat.

Gw bayangin, goblok banget tuh cowok yang sampe melepas sosok nyaris sempurna seperti Dewi. Apalagi, pacaran udah kayak Repelita zaman Orde Baru.

Tapi, gw penasaran kenapa mereka bisa putus. Sempat ingin menanyakan langsung ke Dewi, hanya segan. Terlebih, sebenarnya urusan gw dengannya terkait opik udah selesai.

Untungnya ada Irawan. Tanpa tedeng aling-aling, dia nyeletuk lagi.

"Lo bubar kenapa Dew? Dicampakkin doi?" tanya Irawan.

"Ih... Nggak bang," potong Dewi, gercep.

"Gw yang mutusin, kok."

"Alesannya Dew?" tanya gw spontan yang membuat ketiga orang itu secara serempak memandang ke arah gw.

Anjir... Malu banget dah gw. Berasa dihakimin akibat penasaran dengan kisah percintaan Dewi dan Laksmana.

"Yaelah, lo kepo juga ya Ka," ucap Irawan, menyindir sambil tergelak tawa.

"Jangan-jangan, bang Eka ini... Wi..." timpal Sundari terkekeh sambil memberi kode kepada Dewi.

Dewi yang baru ngeh dengan sikap gw pun tertunduk. Namun, gw tahu mukanya memerah. Mungkin, saking likat.

"Gw akuin, dia tuh cowo idaman. Namun..." kata Dewi dengan nada pelan.

Sontak, gw, Irawan, dan Sundari menyimak.

"Dia ganteng banget. Lulusan S1 perguruan tinggi negeri ternama. Nyokapnya desainer yang punya banyak butik. Bokapnya anggota dewan pada dapil strategis dari partai yang masuk tiga besar pemilu 2019. Ada keturunan darah biru. Rumah keluarganya di kawasan Menteng yang elite. Kostannya di Kemang. Gw akuin, orangnya sangat baik," Dewi berturur sambil menghela nafas.

"Orangnya royal banget, baik sama gw atau teman-temannya. Wajar, mengingat statusnya sebagai anak tunggal yang setahu gw dikasih jajan sama ortunya per bulan 30 juta. Mobilnya dua, sedan merek Peugeot asal Prancis dan Nissan Navara yang biasa diajak turing. Motor, jangan ditanya. Dari NMax, Vespa, Ducati, hingga Harley Davidson, tersedia di garasi pribadinya."

Gw cuma melongo mendengar penuturannya itu. Gw yakin, Irawan dan Sundari juga setengah kati delapan tahil dengan gw.

"Tunggu Wi. Ada yang aneh dengan cerita lo," Sundari, nyeletuk.

Gw dan Irawan pun seketika menoleh ke arahnya. Namun, tidak dengan Dewi yang tampak santai.

"Kalo lo tahu dia orangnya baik, tajir, dan keturunan darah biru, kenape lo putusin?" tanya Sundari.

"Apa jangan-jangan lo udah dapat cowo yang lebih sultan dari doi?" lanjutnya memberondong.

"Yaelah, Romlah... Ga semua hal di dunia ini bisa dinilai dengan materi, termasuk uang," jawab Dewi, diplomatis.

"Iye, gw tahu Dew. Tapi, sayang banget kalo..." Sundari kembali mengatakan yang langsung dipotong Dewi.

"Makanya, dengerin cerita gw sampe selesai dulu, atuh. Ini mah belom apa-apa udah di-cut," kata Dewi.

Mendengar celotehan Dewi yang kini sudah lebih blak-blakan membuat kami tambah melongo. Mungkin, sekarang dia sudah jauh lebih rileks ketimbang di awal. Terlihat dari gaya bicaranya yang lebih lepas.

"Jadi gini, ceritanya," kata Dewi, santai dengan nada menggantung.

"Gw minta putus karena gw lihat Laksmana terlalu manja. Sebagai pacar, jelas dia sangat ideal. Namun, tidak jika jadi suami atau kepala rumah tangga. Contoh, hal kecil aja. Laksmana harus memanggil tukang ketika bohlam di kamar apartemennya padam. Begitu juga saat mantek paku buat pasang pigura. Semua dilakukan orang," Dewi, mengungkapkan.

"Padahal kan itu sudah kodrat pria. Sama halnya wanita yang meski sudah ada pesan antar makanan online, tapi tetap harus bisa masak dan menjahit. Itu yang minus dari Laksmana. Sebab, dari kecil, dia sudah dimanjakan kedua orangtuanya dengan berbagai fasilitas. Jujur, gw berat ketika minta putus mengingat Laksmana nyaris punya segalanya. Namun, demi masa depan, gw harus rela. Gw pengen cari pacar yang kelak jika resmi bisa jadi imam di rumah tangga."

*       *       *

ARLOJI di tangan kiri gw menunjukkan pukul 21.45 WIB. Alias, hampir tiga jam gw habiskan di depan kostan Dewi dan Sundari. Plus, kehadiran Irawan yang sukses mencairkan suasana.

Setelah mendengarkan yang Dewi menumpahkan segala keluh kesahnya, gw pun meminta pamit. Tidak lupa, bungkusan makanan hasil opik gw bagi-bagi. 

Dewi, Sundari, security kostan, gw, dan Irawan masing-masing satu. Dua lagi untuk anak-anak di basecamp. 

Sisanya, gw minta Irawan agar membagikannya ke marbot musala tempat kami untuk sahur. Kebetulan, makanan cepat saji itu tidak bakal basi jika dipanaskan terlebih dulu.

Usai pisah dengan Irawan yang balik kandang, gw pun menyalakan kembali aplikasi ojol. Berselang beberapa detik, bunyi tanda orderan.

Gw pun bergegas menuju resto terdekat. Hanya, tak lama, hp gw kembali bunyi. 

Kali ini bukan notifikasi dari aplikasi ojol. Melainkan, pesan masuk di WA.

"Terima kasih ya, Ka. Maaf, udah ngerepotin lo."

Gw amati nomornya tak dikenal. Pun dengan foto profil yang masih kosong. Alias, gw dan si pengirim pesan tidak saling simpan kontak.

Namun, sekelebat gw ingat sesuatu. Gw pun cek log on telepon. Ada panggilan masuk tak dikenal dari nomor 085612345678. Historinya pukul 19.11 WIB.

Gw pun save nomor tersebut. Luwi. Alias, anagram dari sang pemilik nomor.

Usai direfresh kontak, foto profil pun kini tidak lagi kosong. Tampak, sosok anggun dengan senyum memesona di kontak tersebut.

"Siap Wi. Sami2," balasan gw yang segera centang biru pertanda pesan langsung dibaca.

Gw menengadah ke langit, tampak cerah. Samar-samar seperti ada bintang jatuh.

"Next gw bakal traktir lo sebagai ganti udah ngerepotin. Waktu dan tempat gw persilakan. Btw, ttdj ya Ka."

Demikian jawaban Dewi. Seketika langkah gw jadi sangat ringan. Tanpa sadar, senyum gw pun merekah usai menbalas WA Dewi.

Ya... Mestakung!***

*       *       *


Serial Catatan Harian Ojol (Semesta Ekalaya)
- Part I: Ceritera dari SPBU Kosong
- Part II: Ada Rawarontek di Balik Keberingasan Begal
- Part IV: Di-Ghosting Kang Parkir
- Part V: Di Suatu Desa
- Part VI: Ada Amer di Balik Modus Baru Costumer
- Part VII: Debt Collector Juga Manusia
- Part VIII: Penumpang Rasa Pacar

Prekuel
- Kamaratih
- Kisah Klasik Empat Insan di Kamar Hotel

Spin-Off
- Kisah Wanita dengan Blazer Hitam I
- Ketika Manusia Memanggilku Lonte

Ekalaya Universe
- Mukadimah
- Daftar Tokoh
- Epilog

*       *       *

Artikel Terkait Catatan Harian Ojol (#CHO):


*       *       *

*Inspired by True Event
- Jakarta, 18 Mei 2021