TyyiccClcSK3IvRCDh0sKBc4_Sg roelly87.com: #CatatanHarianOjol

Serial Catatan Harian Ojol

Serial Catatan Harian Ojol
Serial Catatan Harian Ojol
Tampilkan postingan dengan label #CatatanHarianOjol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #CatatanHarianOjol. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juni 2026

Pertamax Naik, Ojol pun di Persimpangan

SPBU di Fatmawati, Jakarta Selatan (Foto: dok.pribadi/@roelly87)


PAGI ini, Jumat (12/6) dikabarkan akan ada unjuk rasa dari saudara kita, mahasiswa-mahasiswi di beberapa kota di Tanah Air. Demikian info dari berita arus utama, media sosial (medsos), hingga grup watshapp dalam beberapa hari terakhir.

Tujuannya, memprotes inkonsistensi efisiensi pengeluaran pemerintah, korupsi, Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga naiknya Bahan Bakar Minyak (BBM) dan harga pokok lainnya. 

Saya pribadi sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, mempersilakan siapa pun untuk demo. Boleh dong. 

Hak asasi manusia. Kebebasan berpendapat dijamin dalam Undang Undang Dasar.

Justru kalo kita melarang demo, bakal aneh ini negara. Seperti pemerintahan komunis atau tirani.

Anda mau, Presiden Prabowo Subianto jadi diktator seperti Vladimir Putin, Xi Jinping, dan Kim Jong Un?

Saya sih ogah. Biarpun saya pemilih Prabowo pada tiga edisi pilpres beruntun, ga mau negara ini kembali ke masa orde baru.

No!

Di sisi lain, demo juga ada aturan. Harus izin APH dan waktunya ditentukan hingga petang. 

Yang terpenting, jangan anarkis! Saya mengetik artikel ini, Kamis (11/6) dini hari WIB sambil menyimak berita pembukaan Piala Dunia 2026 disela-sela nunggu orderan ojek online (ojol).

Sebelumnya, pada 25 Agustus lalu saya menyaksikan langsung adanya provokasi dan penyusup saat unjuk rasa di kawasan Slipi dengan melempar batu. Di sisi lain, saya juga melihat dengan mata kepala sendiri, betapa polisi gampang terpancing hingga berlaku represif kepada massa.

Bisa disimak dalam rekaman video yang saya unggah di tiktok: 

- https://vt.tiktok.com/ZSAvXorX8/

- https://vt.tiktok.com/ZSQfmgvTX/

- https://vt.tiktok.com/ZSQfmfkkY/

Saya berharap, demo nanti berlangsung positif. Ada perwakilan pemerintah dan DPR yang menyerap aspirasi mahasiswa serta berbagai elemen bangsa.

Sebagai bloger yang masuk golongan nokturnal, saya jelas tidak kuat ikut demo. Namun, saya berusaha untuk menuangkan pendapat, ide, gagasan, dan kritik yang membangun lewat tulisan.

Baik di blog pribadi, www.roelly87.com maupun blog keroyokan sejak 2010, www.kompasiana.com/roelly87.

Itu yang biasanya saya lakukan disela-sela aktivitas ojol setiap harinya. Menulis jadi hobi positif saya jelang menyambut kepala empat untuk tetap semangat menjalani hidup.


*           *           *


PERTAMAX naik jadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300. Alias, melonjak 32,1 persen dengan per liter Rp 3.950.

Jelas ini alarm bagi saya sebagai ojol. Serius.

"Lha, kan seliter cuma 16 ribuan. Ga sampe 20 ribu? Kopi di kafe kekinian aja segelas 20-50 ribu sanggup, masa Pertamax ga mampu?"

Demikian ucapan buzzer laknat di medsos yang memperkeruh suasana.

Sebab, beli BBM untuk kendaraan itu bukan hanya seliter. Contoh, motor saya, Vario 125cc tahun 2020 (jadul banget, hehehe), itu tangki bisa full 5,5 liter.

Sebelum naik, saya biasa isi Pertamax genapin, 50 ribu. Alias, dengan selembar gocapan biru, saya dapat empat liter lebih yang bisa untuk jelajah 100-200 km.

Di atas kertas, konsumsi per liter BBM motor saya, Vario 125cc estimasinya 51.7 km. Namun, di jalanan, aslinya hanya 40-an km. 

Tergantung rute macet atau ga dan beban yang dibawa. Itu berarti 4 liter Pertamax bisa mencapai 160-an km.

Cukup buat ngojol dari sore hingga subuh atau fajar.

Nah, sejak Pertamax naik 32,1 persen pada Rabu (10/6), dengan selembar uang 50 ribu, saya hanya dapat 3,07 liter. 

Alias, jarak tempuh saya sehari kini hanya mencapai 120 km. Berkurang 40 km akibat kenaikan Pertamax yang berarti menyusut seliter. 

YA, BEDA SELITER!

CUMA SELITER!

SELITER!

Bagi kalangan menengah ke bawah, termasuk saya, kenaikan Pertamax ini sangat berarti. 

Mungkin, kalangan buzzer laknat ada yang menyanggah. "Kan bisa pakai Pertalite?"

Hello...

Saya ojol yang bergerak di bidang pelayanan dan jasa.

Saya berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi diri pribadi, pelanggan ojol, dan motor.

Itu mengapa, meski sudah enam tahun, motor saya masih nyaman dipakai. Sebab, saya rutin merawatnya. 

Ganti oli setiap dua pekan sekali (tiga pekan jika bokek), servis di bengkel resmi per dua bulan, sparepart orisinal semua. 

Termasuk, ban tubeless yang paling boros, ban depan ganti per 9-12 bulan dan ban belakang per enam bulan. Keduanya merek Michelin yang konon paling mahal, tapi berdasarkan pengalaman saya sangat awet. 

Maklum, ban termasuk komponen vital untuk motor. Sering aus atau botak. Merek ternama bikin saya aman jika kena paku atau ranjau paku payung di jalanan. Terakhir apes kena ranjau H2 Idul Fitri depan Stasiun Cawang atas.


*           *           *


KEMBALI ke BBM. Memang, motor saya bisa pakai Pertalite yang merupakan jenis subsidi dengan Ron 90. Sementara, Pertamax Ron 92 dan Pertamax Turbo Ron 98.

Namun, berdasarkan buku petunjuk manual di motor, rekomendasi bengkel, dan saran dari sesama ojol, Vario 125 saya lebih baik menggunakan Pertamax. Salah satu alasannya, terkait rasio kompresi mesin agar optimal.

Itu mengapa, sejak kali perdana memakainya pada Februari 2020, alias sebulan sebelum Pandemi, saya selalu menggunakan Pertamax. Tujuannya, demi keawetan motor yang terasa hingga kini tetap bandel sebagai mesin pencari nafkah.

Tentu, saya pernah pakai Pertalite. Beberapa kali malah. Namun, itu hanya karena terpaksa. 

Misal, saat Covid 19 yang berujung sulit orderan, mau ga mau, saya harus menekan pengeluaran dengan salah satunya pakai Pertalite. 

Juga, saat ke SPBU tapi stok Pertamax kosong, truknya lagi di jalan, atau masih diisi, jelas saya lebih milih Pertalite ketimbang nunggu lama.

Itu mengapa, kenaikan harga Pertamax bikin saya dan rekan-rekan ojol lainnya dilema. Serius. 

Secara, banyak ojol yang menggunakan motor di atas 125cc. Misalnya, Vario 160, Nmax, PCX, ADV, dan banyak lagi yang di aplikasi ojol masuk kategori Comford atau XL. Tarif sedikit lebih mahal.

Nah, naiknya Pertamax juga berkelindan dengan meroketnya harga-harga lainnya. Misal, air mineral botol ukuran 1.500ml di warung madura turut melonjak.

- Oasis kini Rp 5.000 dari sebelumnya Rp 4.000

- Vit dan Sanqua (Rp 4.500 dari 4.000)

- Aqua (Rp 6.000 dari Rp 5.000)

- Le Minerale (Rp 6.500 dari 5.500)

Begitu juga dengan gorengan seperti tempe, tahu isi, bala-bala, risol, cireng, dan sebagainya. Dulu, Rp 5.000 bisa dapat empat biji. Sekarang, mayoritas satuannya Rp 2.000, alias selembar Rp 10.000 hanya dapat lima aja.

Banyak lagi yang naik, oh iya oli juga euy saya dapat info dari bengkel, Sabtu kemarin sebelum ke GBK ada event Indonesia Open 2026, Kpop, dll. 

Banyak deh, cape saya bikin list-nya.

Wkwkwkwk.


*           *           *


IRONISNYA, ketika hidup masyarakat kian sulit akibat harga-harga pada naik, justru para pejabat memamerkan kemewahan dan hambur-hamburkan uang pajak.

Tone deaf.

Miris banget.

MBG hanya jadi bahan bancakan para elite saja.

Sebenarnya saya sudah nulis panjang hingga 2.000-2.500 kata di artikel ini dalam dua hari terakhir. Termasuk, reaksi saya dalam menjalankan orderan ojol yang ironisnya makin murah dengan adanya layanan hemat.

Namun, karena satu dan hal lainnya, saya pangkas jadi hanya setengahnya. Intinya, saya berharap para pejabat (eksekutif, legislatif, yudikatif) bisa memahami penderitaan masyarakat yang kian tercekik.

Saya ga mau terjadi, seperti isu yang ramai di medsos, jika kelak Pertalite naik akan berujung chaos. 

Harapan saya sebagai bagian dari masyarakat, agar pemerintah, termasuk presiden ga terlalu lama di menara gading hingga abai terhadap penderitaan rakyatnya.

Asa saya ini terkesan terlalu muluk-muluk, sebab mayoritas dari pejabat pada tone deaf. Namun, sebagai makhluk yang logis, saya percaya masih ada beberapa pejabat yang kompeten.

Ya, pepatah mengatakan, "selama gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar". Alias, selagi napas masih tertiup, masih ada waktu untuk menyaksikan negeri ini lebih baik lagi.

Aamiin!***


*           *           *


Artikel Terkait:


- Sisi Lain Kerusuhan 28-31 Agustus: Demo Silakan, Anarkis Jangan! (https://www.roelly87.com/2025/09/sisi-lain-kerusuhan-28-31-agustus-demo.html)

- Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat (https://www.roelly87.com/2026/04/anak-cowok-jadi-homo-yang-cewek-pelakor.html)

- Terjebak di Toilet SPBU Kuningan (https://www.roelly87.com/2024/10/terjebak-di-toilet-spbu-kuningan.html)

- Lulusan SMA Dibekali Senjata Itu Bernama Polisi (https://www.roelly87.com/2025/02/lulusan-sma-dibekali-senjata-itu.html)

- Saya Ga Menyesal Pilih Prabowo, Memang Kemampuannya B Aja (https://www.roelly87.com/2025/04/saya-ga-menyesal-pilih-prabowo-memang.html)

- Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit (https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html)

- Prabowo Gemoy, tapi Tangannya Berlumuran Darah (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-gemoy-tapi-tangannya-berlumuran.html)

- Prabowo Presiden 2024, Ganjar Mendagri, Anies Menlu, dan AHY Menhan (https://www.roelly87.com/2023/12/prabowo-presiden-2024-ganjar-mendagri.html)

- Anies adalah Liu Bei, Mega = Sun Quan, dan Jokowi = Cao Cao? (https://www.roelly87.com/2024/08/anies-adalah-liu-bei-mega-sun-quan-dan.html)

- Dhani, Rizieq, dan Ahok Bersatu demi Indonesia

- 9 Naga dan 3 Capres

- Prabowo dan Kedaulatan Selera

- Prabowo Kembali ke Setelan Pabrik

- Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona (https://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html)

- Palagan Pamungkas Prabowo: Menyelami Hati, Pikiran...

- Manusia Lebih Anjing daripada Anjing

- Di Bandung, Jokowi Kalah Populer Dibanding Ridwan Kamil

- Jokowi, Sang Gubernur Gaul

- Soe Hok Gie: Prabowo Cerdas tapi Naif


*           *           *


- Jakarta, 12 Juni 2026

Selasa, 09 Juni 2026

Piala Dunia 2006: Akhir Generasi Emas dan Debut Calon Legenda

Piala Dunia 2006: Akhir Generasi Emas dan Debut Calon Legenda

Selebrasi skuat Italia di Piala Dunia 2006 (Foto: Fifa.com)


PIALA Dunia 2026 tinggal menghitung hari. Ya, turnamen sepak bola antarnegara terakbar di kolong langit itu berlangsung pekan ini.

Tepatnya, Kamis (11/6) hingga 19 Juli mendatang yang diselenggarakan di tiga negara. Itu meliputi Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko.

Bagi saya pribadi, seperti dua edisi sebelumnya, Piala Dunia 2026 seperti ada yang kurang. Maklum, ini kali ketiga beruntun Italia gagal lolos setelah 2022 dan 2018.

Sebagai fan Gli Azzurri, jelas saya merasa World Cup ke-23 ini agak biasa aja. Tetap bakal nonton di tv atau streaming, tapi ga ada ekspektasi apa-apa.

Terlebih, dengan kegagalan Indonesia di kualifikasi zona Asia. Sumpah, meski udah lewat lama, tapi keselnya masih terasa sampe sekarang.

Andai aja STY ga dipecat...

Andai bukan PK yang gantiin...

Andai John Herdman lebih awal ditunjuk...

Andai... Aa... Aa... Aku jadi konglomerat! Btw, ini lirik lagu Oppie Andaresta, ya. Hehehe...

Yaudahlah, move on! 

Btw, Piala Dunia 2026 ini merupakan edisi kesembilan yang saya ikuti. Wow!

Ketahuan tuanya dong.

Yongkru.

Saya kali perdana kenal Piala Dunia pada 1994. Saat itu, gol bunuh diri Andres Escobar, selebrasi gendong bayi ala Bebeto, dan tendangan ke langit dari eksekusi penalti Roberto Baggio, sangat diingat bagi saya hingga kini.

Empat tahun berselang, usai krismon, saya dan ratusan juta rakyat Indonesia dapat hiburan sebulan penuh dari Negeri Menara Eiffel.

Nah, pada Piala Dunia 2022 ini, jam tayangnya paling bersahabat. Sebab, diselenggarakan di Asia yang banyak pertandingan berlangsung sore.

Puncaknya, di Piala Dunia 2006. Italia juara diiringi kontroversi Zinedine Zidane yang kena kartu merah.

Sumpah, bagi saya pribadi, 20 tahun silam itu jadi momen paling berkesan. Itu mengapa, saya menobatkan Piala Dunia 2006 di Jerman sebagai yang terbaik 

Terlepas saya sebagai fan Italia, faktanya di Piala Dunia 2006 itu seperti estafet. Akhir dari generasi emas seperti Zidane, Ronaldo Nazario, Luis Figo, David Beckham, Michael Ballack, Juan Román Riquelme, Hidetoshi Nakata, dan banyak legenda lainnya yang melakoni edisi pamungkas di World Cup.

Di sisi lain, muncul berbagai bintang yang kelak bersinar sebagai legenda besar sepak bola. Mulai Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Arjen Robben, Andres Iniesta, dan sebagainya.

Beberapa dari mereka masih aktif. Bahkan, Piala Dunia 2026 ini bisa disebut sebagai tarian terakhir Ronaldo dan Messi.

Siapa yang akan juara, bagi saya ga penting. Absennya Indonesia dan Italia membuat saya cukup menikmati Piala Dunia 2026 sebagai penonton yang duduk manis depan layar tv atau hp.

Ya, World Cup memang bukan sekadar turnamen sepak bola saja. Melainkan, hiburan bagi masyarakat luas di tengah ketidapastian situasi sulit saat ini.

Saya pribadi, enggan memprediksi tim yang juara, jadi kuda hitam, atau pemain terbaik. Namun, kalo menyimak perkembangan dalam beberapa tahun terakhir, Spanyol, Prancis, dan Argentina berpeluang paling kuat.

Atau, bisa jadi ada kuda hitam.

Toh, dua dekade silam, mayoritas pencinta sepak bola, termasuk saya mengakui Brasil (sebagai juara bertahan), Jerman (tuan rumah), Argentina, Prancis, Belanda, dan Portugal yang berpeluang kuat juara. Faktanya, justru Italia yang mengangkat trofi usai menang adu penalti secara dramatis di Piala Dunia 2006

Padahal, waktu itu terkuak calciopoli. Skandal memalukan di Serie A yang melibatkan klub favorit saya, Juventus.

Pengadilan pun memutuskan I Bianconeri harus degradasi di Serie B 2006/07. Keputusan itu mengguncang skuat Italia yang ditangani Marcello Lippi karena diperkuat mayoritas pemain Juve.

Namun, di tengah suasana kelam, justru Italia juara. Mengubur mimpi indah Zidane yang ingin mengakhiri karier dengan trofi Piala Dunia keduanya setelah 1998.

Ah, ga terasa udah 20 tahun berlalu sejak momen dramatis di Berlin saat Alessandro Del Piero dan kawan-kawan angkat trofi...


Edisi - Tuan Rumah - Juara (Rating pribadi)

1994: Amerika Serikat (Brasil) ***

1998: Prancis (Prancis) ****

2002: Korea Selatan-Jepang (Brasil) ****

2006: Jerman (Italia) *****

2010: Afrika Selatan (Spanyol) *

2014: Brasil (Jerman) ****

2018: Rusia (Prancis) **

2022: Qatar (Argentina) *

2026: AS-Kanada-Meksiko (?)


*          *          *


- Jakarta, 9 Juni 2026

Minggu, 31 Mei 2026

Mimpi Basah The Gunners, Juve-Milan di Liga Malam Jumat

Mimpi Basah The Gunners, Juve-Milan di Liga Malam Jumat

Percakapan dengan fan Arsenal
di chat aplikasi ojol
(@roelly87)


KOMPETISI antarklub Eropa 2025/26, khususnya di "Big 6" telah selesai. Bagi yang menyimak perjalanan musim lalu, nyaris tidak ada kejutan.

Liga Primer Inggris dimenangkan Arsenal, diikuti La Liga Spanyol (Barcelona), Serie A Italia (Inter), Bundesliga Jerman (Bayern Muenchen), Ligue 1 Prancis (Paris Saint-Germain/PSG), dan Eredivisie Belanda (PSV Eindhoven).

Sebagai Juventini -julukan bagi fan Juventus- saya menilai wajar jika Inter scudetto. Skuat asuhan Cristian Chivu lebih matang dari rival-rivalnya. 

Termasuk, Juve yang ironisnya terlempar dari empat besar Serie A 2025/26 hingga gagal ke Liga Champions musim depan. 

Itu akibat Kenan Yildiz dan kawan-kawan harus puas finis di posisi enam di bawah AC Milan, Como, AS Roma, Napoli, dan Inter.

Kocak sih, sekelas Juve dikangkangi Como. Klub "anak bawang" yang baru promosi ke Serie A pada 2024/25.

Alhasil, Juve harus puas tampil di Liga Europa 2026/27 yang dijuluki "Liga Malam Jumat". Sebab, mainnya memang Kamis sore waktu Eropa atau Jumat dini hari WIB.

Julukan "Badut Eropa" seperti yang sering saya tulis di blog ini (Selengkapnya: Prabowo: Sang Penculik yang Berharap Mandat Langit - https://www.roelly87.com/2023/09/prabowo-sang-penculik-yang-berharap.html) memang nyata.

Saya Juventini. Sejak 1993 hingga mungkin akhir menutup mata tetap merupakan penggemar "Si Nyonya Besar".

Namun, saya tetap objektif. Bagus ya saya  bilang bagus. Jelek? Ya, harus terima dikatain jelek.

Nah, selain Juve yang gagal lolos ke Liga Champions musim depan, ada satu klub lagi yang juga mengalami nasib sama: Milan yang finis di posisi lima Serie A 2025/26.

Wkwkwk.

Sumpah, waktu kali pertama baca info ini, saya kaget. Kok bisa, sekelas "Pangeran Eropa" bersanding dengan "Badut". 

Namun, setelah melihat ulang rekaman perjalanan musim lalu, Milan memang 11/12 dengan Juve. Pantas, "Setan Merah" tertinggal jauh dari rival sekotanya, Inter yang justru scudetto.

Untuk liga di Eropa selain Serie A, yang menarik saya bahas ada Liga Primer berkat keberhasilan Arsenal. Sebenarnya, klub berjulukan "The Gunners" itu ga aneh untuk juara.

Sebab, dalam tiga musim beruntun (2022/23, 2023/24, dan 2024/25), Arsenal finis sebagai runner-up. Bahkan, dalam periode itu, sejak awal hingga sepertiga musim, Meriam London mendominasi.

Arsenal hanya gagal pada pekan-pekan terakhir hingga harus tergelincir di posisi kedua. Ya, mereka seperti apes aja. 

Padahal, dalam periode itu, Manchester City dan Liverpool toh ga kuat-kuat banget. Nah, musim ini, Arsenal konsisten sejak awal hingga akhir kokoh di puncak Liga Primer.

Yang mengesankan, keberhasilan pasukan Mikel Arteta ini mengakhiri puasa gelar dalam 22 tahun! Ya, kali terakhir Arsenal juara Liga Primer 2003/04 saat diarsiteki Arsene Wenger.

Alias, lebih dari dua dekade silam, penggemar harus menantikan momentum pada Selasa (19/5) atau Rabu (20/5) dini hari WIB. Tepatnya, pada pekan ke-37 saat Man. City diimbangi Bournemouth 1-1 dan sebelumnya Arsenal mengalahkan 1-0.

Hasil kontras itu membuat Arsenal mantap dengan 82 poin diikuti Man. City (78). Dengan sisa satu pertandingan lagi, selisih poin kedua tim sudah tidak bisa berubah.

*         *         *

SORE itu, Rabu (20/5) jalanan ibu kota seperti biasa. Macet.

Saya baru saja menurunkan penumpang di Stasiun LRT Dukuh Atas. Ga lama, aplikasi bunyi. 

Ada orderan menuju Kemang. Namun, masalahnya posisi jemput penumpang yang berada di gedung perkantoran Jalan Satrio. Jaraknya sekitar 2 km lebih. 

Plus macet total karena jam pulang kerja. Estimasi di Google Maps 20 menit.

Saya pun minta foto untuk afirmasi bahwa penumpang sudah di lokasi. Sebab, banyak customer ajaib. 

Jemput jauh, macet, plus layanan hemat, tapi pas saya di lokasi, eh penumpangnya masih di atas gedung. Entah lantai 10, 19, 25, 37, dan sebagainya. Kalo sudah gitu ya saya cancel.

Bagi saya, penumpang seperti itu ga layak untuk diantar. Ironisnya, mayoritas dari mereka pendidikan tinggi, jabatan mentereng, dan penampilan necis. 

Namun, atitudenya justru nol. Padahal, adab lebih tinggi daripada ilmu. 

Sebagai bloger yang berprofesi ojek online (ojol), saya berusaha untuk memanusiakan manusia. 

Ga mau menyusahkan orang lain. Di sisi lain, ogah juga disusahkan orang lain.

Alhasil, saya selalu tekankan kepada penumpang, bahwa etika dijemput itu menunggu, bukan ditunggu. Itu bare minimum bagi penumpang. 

Toh, jika naik kereta atau pesawat, penumpang yang harus menunggu kehadiran kereta atau pesawat. Bukan sebaliknya. Kalo telat, ya bakal ditinggal. 

Kecuali kalo penumpang itu statusnya pejabat, tentu kereta bahkan pesawat bakal rela menunggu.

Pun demikian dengan saya saat dapat orderan, langsung berangkat ke lokasi. Ga harus ngopi dulu. Otw.

Btw, saya pernah ngalamin saat puasa lalu, jemput orderan di Stasiun Tanah Abang dari Patung Kuda. Saya udah di lokasi setelah 10 menit menembus kemacetan jelang maghrib, eh, penumpangnya masih di kereta. 

Tepatnya mau masuk Stasiun Kebayoran Lama. Itu berarti, masih dua stasiun lagi, sebab setelahnya itu Palmerah diikuti Tanah Abang.

"Saya mau bukber mas di mal ***. Kalo pesan sudah di stasiun (Tanah Abang), biasanya nunggu lama. Makanya, ini saya order di kereta," jawaban penumpang saat itu yang bikin saya geleng-geleng kepala.

Udah jemput jauh, macet parah karena bertepatan jam pulang kerja + jelang buka puasa, ongkos hemat, eh masih harus nunggu lagi di lokasi.

Lalu?

Seru!

Drama banget... 

Nantikan di artikel selanjutnya tentang sisi lain dunia ojol.

*         *         *

"BAJU putih Arsenal," kata penumpang di Satrio memberi konfirmasi usai kirim foto lokasi.

"ARSENAL?" ujar saya menjawab dengan huruf kapital. Maklum, capslock jebol!

Saya lanjut ketik, "OK SAYA BERI RESPEK UNTUK YANG AKHIRI PUASA 22 TAHUN!"

Penumpang itu ketawa lebar. Dia merupakan customer kedua saya hari itu yang memakai atribut Arsenal.

Keduanya sama. Sangat gembira menyaksikan akhirnya tim kesayangan meraih gelar Liga Primer. Trofi yang diidamkan lebih dari dua dekade!

"Gila, mas... Gw berasa ini mimpi," ujar penumpang cowo yang tujuannya ke kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

"Ini gw mau rapat di kafe kekinian. Kata bos gw, mau sekalian party ngerayain tim favorit gw juara," lanjutnya 

Meski bukan penggemar Liga Primer, apalagi Arsenal, tentu saya ikut girang. Bagaimanapun, menunggu 22 tahun itu bukan sebentar.

Sebagai Juventini, saya pernah merasakan usai "I Bianconeri" degradasi ke Serie B 2006/07 akibat Calciopoli. Butuh enam tahun untuk melihat Juve kembali scudetto pada 2011/12.

"Gw bangun pagi, pas lihat hasil Man. City imbang, hampir ga percaya. Bagi gw dan fan Arsenal di kolong langit, akhir musim ini seperti mimpi basah di siang bolong," penumpang itu menuturkan.

"Bayangin, 22 tahun nunggu dari gw masih bocah sampe sekarang rekan kerja gw udah pada punya bocah, akhirnya kesampean lihat Arsenal juara. Apalagi kalo akhir bulan bisa kawinin gelar Liga Champions, wah itu sesuatu," kata penumpang itu sambil melambaikan jersey lawas Arsenal dengan logo O2.

Saya yang melihatnya di spion pun ikut tersenyum. Kelak, mungkin saya akan melakukan hal yang sama jika Juventus juara Liga Champions.

Maklum, kali terakhir La Vecchia Signora mengangkat trofi UCL pada 1995/96. Alias, lebih dari 30 tahun lalu.

"Mas, lo Juventini kan, gw doain moga impian lo terwujud ke depannya," kata penumpang dengan sungguh-sungguh. "Menurut lo, final Liga Champions bakal gimana?"

Saya jawab dengan lugas, "Skuat PSG lebih merata. Namun, Arsenal punya momentum yang pas buat diledakkan. Gw Juventini bro, ga milih kedua tim. Hanya, gw juga pengen lihat Arsenal juara musim ini setelah PSG udah tahun kemaren."

Ya, final Liga Champions 2025/26 akan berlangsung akhir pekan, Minggu (30/5). Siapa pun yang menang, saya berharap kedua tim tampil impresif.

Untuk hati, cenderung pilih Arsenal.

*         *         *

EDIT, artikel ini dibuat pada 21-26 Mei lalu yang batal dipublish akibat kesibukan ojol. Ternyata, dini hari WIB tadi, PSG yang juara Liga Champions 2025/26 usai mengalahkan Arsenal via adu penalti.

Selamat untuk fan PSG yang sukses mempertahankan gelar.

Selamat juga bagi fan The Gunners yang sudah mengakhiri puasa Liga Primer 22 tahun.

Salam dari Juventini!***

Saling respek antar
penggemar sepak bola


*         *         *

Artikel terkait: 

- Selamat untuk Inter, Salam dari Juventini (https://www.roelly87.com/2025/05/selamat-untuk-inter-salam-dari-juventini.html)

-  Tanpa Mourinho, AS Roma Tak Lagi Sama (https://www.roelly87.com/2024/01/tanpa-mourinho-as-roma-tak-lagi-sama.html)

- (Galeri Foto) Jadi Saksi Kekalahan Juventus dari Madrid di Final Liga Champions 2016/17 (https://www.roelly87.com/2017/06/saksi-juventus-di-final-liga-champions.html)

- Abu-abu dalam Derby della Madonnina (https://www.roelly87.com/2017/10/abu-abu-dalam-derby-della-madonnina.html)

-

- Pria Sejati Tidak Akan Pernah Tinggalkan Kekasihnya (https://www.roelly87.com/2021/03/pria-sejati-tidak-tinggalkan-kekasihnya.html)

- Juve yang Sekarang Bukan Juve yang Dulu (https://www.roelly87.com/2021/05/juve-yang-sekarang-bukan-juve-yang-dulu.html)

- Wawancara Eksklusif Andrea Pirlo (https://www.roelly87.com/2014/09/wawancara-eksklusif-andrea-pirlo.html)

- Wawancara Eksklusif Giorgio Chiellini (https://www.roelly87.com/2014/09/wawancara-eksklusif-giorgio-chiellini.html)

- Wawancara Eksklusif Claudio Marchisio (https://www.roelly87.com/2014/10/wawancara-eksklusif-claudio-marchisio.html)

-

- (Kilas Balik) Juventus Tur di Indonesia 2014 (https://www.roelly87.com/2017/04/kilas-balik-juventus-tur-di-indonesia.html)

- Trofi Liga Champions yang Dekat di Mata tapi Jauh di Hati (https://www.roelly87.com/2017/04/trofi-liga-champions-yang-dekat-di-mata.html)

- Akhir Tragis dari Strategi Memunggungi Sungai ala Han Xin (Bei Shui Yi Zhan) (http://www.roelly87.com/2016/03/akhir-tragis-dari-strategi-memunggungi.html)

- Diego Milito dan Angka 22 (http://www.roelly87.com/2014/11/diego-milito-dan-angka-22.html)

-


*         *         *

- Jakarta, 31 Mei 2026

Kamis, 28 Mei 2026

Kecewa dengan BCA, Kartu Tertelan Tanpa Solusi

Kecewa dengan BCA, Kartu Tertelan Tanpa Solusi

Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87


BANK Central Asia (BCA) merupakan bank swasta terbesar di Indonesia. Baik dari segi aset maupun cabang yang tersebar di penjuru Tanah Air.

Termasuk, di Jakarta yang Kantor Cabang (KC), Kantor Cabang Pembantu (KCP), dan gerai Anjungan Tunai Mandiri/Automatic Teller Machine (ATM), sangat banyak. Mulai dari perkantoran, pusat perbelanjaan, rumah sakit, pasar tradisional, kampus, hingga sekolah.

Sebagai nasabah sejak nyaris tiga dekade silam, keberadaan BCA sangat membantu saya. Mulai dari tabungan, transaksi sehari-hari, cicilan, dan sebagainya.

Seperti tulisan saya sebelumnya, 23 Tahun sebagai Nasabah BCA (https://www.roelly87.com/2021/11/23-tahun-sebagai-nasabah-bca.html), saya memiliki banyak hal terkait BCA. Tabungan, jelas dari 1 April 1998 yang diikuti kartu ATM (Debit BCA). 

Lalu, kartu kredit yang sudah saya tutup sejak pandemi demi penghematan. Selanjutnya, Kartu Uang Elektronik (KUE) atau e-Money yang biasa saya gunakan untuk bayar parkir, yaitu Flazz BCA. 

Seiring berjalannya waktu, BCA mengikuti arus dengan mengembangkan aplikasi BCA Mobile dan myBCA. Kedua aplikasi itu bisa digunakan untuk pembayaran lewat Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Terlebih, mengingat profesi saya sebagai ojek online (ojol). Jelas, saya butuh BCA untuk top up saldo ke aplikasi atau transfer.

Hanya, tiada gading yang tak retak. Demikian pengalaman saya bersama BCA dalam 28 tahun terakhir ini sedikit ternoda.

Noda?

Baju, kali!

He... He... He...


*         *         *

ITU terjadi, kemarin sore, Rabu (27/5) di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, saat saya mau ganti kartu debit. Kebetulan, beberapa hari lalu, ada notif di WA saya.

Yaitu, masa berlaku Kartu Debit BCA saya akan berakhir. Saya cek pengirimnya, terverifikasi dengan centang biru dari Meta disertai link resmi.

Pertanda, bukan nomor individu, melainkan resmi perusahaan. Maklum, zaman sekarang banyak penipuan. Takutnya, pas diklik, phising atau scam.

Saya pun refleks lihat kartu. Ternyata, benar berakhir bulan ini.

Di link, ada beberapa opsi untuk ganti kartu. Baik itu ke Kantor Cabang atau CS Digital.

Nah, karena kemarin merupakan hari libur nasional Idul Adha 1447 H, otomatis KC atau KCP BCA tutup. Jadi, opsi kedua yang saya pilih.

Tepatnya, usai menganter paket ke salah satu gerai di Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Sekalian, top up Kartu Flazz yang rutin saya lakukan Rp 100.000 per bulan.

Maklum, sebagai ojol, saya sering keluar-masuk mal, pasar, apartemen, perkantoran, diskotik, bar, dan sebagainya untuk mengantar orderan. Jadi, sebulan saya sisihkan cepe ceng dari pendapatan saya untuk biaya parkir. 

Eh, pas depan ATM hendak top up Flazz, saya terhenyak. Tentu, saya ga lihat hantu. Masih sore. Lagian, saya lebih takut bokek alias ga punya uang ketimbang takut setan dan makhluk halus.

Kalo setan dibacain kitab suci bakal kabur. Nah, kalo bokek? Harus dicari!


*         *         *


SINGKATNYA, ternyata, saldo saya di rekening hanya ada 52 ribu. Ini mah, boro-boro mau top up Flazz 100 ribu, saldo aja cuma setengahnya. 

Alhasil, saya hanya top up 25 ribu. Cukuplah, mengingat sebelumnya saldo Flazz saya masih 31 ribu. Minimal untuk parkir sepekan ke depan teratasi.

Sebab, mayoritas mal, pasar, apartemen, dan sebagainya hanya mengenakan tarif Rp 2.000 untuk parkir motor. 

Kecuali, beberapa pasar yang dikelola PD Pasar Jaya -BUMD tapi mencekik rakyat- yang mematok Rp 3.000 seperti Glodok Jaya dan Asemreges. Keduanya berlokasi di Jakarta Barat. 

Satu lagi yang sering saya datangi terkait order ojol, di mal atau diskotik/bar di Jalan Gajah Mada, yaitu Paragon Mal, parkir motor Rp 3.000. Mahal juga!

Untuk saat ini, rekor parkir motor termahal di Indonesia jatuh kepada...

Ya, kalian pasti ga nyangka.

Yaitu, Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya, yang sekali masuk motor dikenakan Rp 4.000! Ampun dah. 

Kalah PI, GI, PS, PIM, Sency, dan sebagainya...

Namun, ini akan saya ulas lengkap di artikel berikutnya.

Btw, kalo saya ambil/antar orderan paket dan makanan di Polda Metro, saya selalu chat ke anggota bahwa parkir motornya TERMAHAL DI INDONESIA.

Lanjut...

Usai transaksi Flazz di mesin ATM, saya geser ke sebelahnya. Yaitu, mesin CS Digital ganti kartu yang ada satu-satunya dibanding mesin atm (ada enam)

Sebelum memulai, saya perhatikan dengan seksama tutorial di video layarnya.

Pertama, memasukkan KTP di atas scanner. Berhasil!

Lalu, sidik jari dengan telunjuk kiri. Beres!

Ketiga, masukkan Kartu Debit BCA disertai pin.

Dan...


"Aku tertipu aku terjebak

Aku terperangkap muslihatmu..."


Btw, itu penggalan lagu berjudul Ular Berbisa karya band Hello.

Demikian perasaan saya saat membaca info di layar.

"Untuk sementara mesin tidak dapat digunakan."

Apa?

Huff...

Dalam sepersekian detik, saya seperti orang linglung melihat kartu debit tertelan. Bingung mau berbuat apa.

Saya bergeming di depan mesin ganti kartu menunggu Kartu Debit BCA saya yang ga kunjung keluar. 

Hening.


"Kuingin marah melampiaskan 

tapi kuhanyalah sendiri disini

Ingin kutunjukkan 

pada siapa saja yang ada

bahwa hatiku kecewa..."


Potongan lirik Kecewa dari Bunga Citra Lestari menggambarkan perasaan saya saat itu.

Sebab, saya lihat sekeliling tidak ada petugas BCA. Maklum, tanggal merah.

Yang ada hanya pegawai malnya. Udah mau tutup, saat itu pukul 21.40 WIB.

Ada telepon dan intercom di sisi mesin ganti kartu. Namun, ga ada petunjuk penggunaan. 

Saya pun menarik napas panjang. Berusaha untuk rileks.

Setelah tenang, ada tiga opsi:


- Phone a Friend

- Ask the Audience

- 50:50


He... He... He...

Ga deh, itu mah kuis Who Wants to Be a Millionaire? yang populer era 2000-an.

Bercanda!


*         *         *

Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87


TINDAKAN saya dengan buka myBCA. Bisa dipahami mengingat di aplikasi itu ada fitur telepon bebas pulsa. Alias gratis.

Hanya, usai melakukan perbincangan dengan Customer Service (CS) via myBCA, ternyata ga ada solusi.

Apa ekspektasi saya ketinggian terhadap bank swasta terbesar di Tanah Air ini?

Entahlah.

Dalam dialog seperminuman teh itu, CS myBCA hanya menyarankan blokir kartu yang juga memutus akses ke internet banking serta Mbanking tanpa adanya solusi cepat.

Saya menolak rekening diblokir. Sebab, khawatir ada perlu bayar ini-itu pakai QRIS di sisa saldo yang memang hanya ada 27 ribu.

Ya, karena dikit, saya ga takut disalahgunakan orang. Maklum, saldonya cuma seuprit.

Sejak jadi ojol, rekening BCA saya jarang ada saldo mengendap ratusan ribu. Maklum, pendapatan ojol harian, bukan bulanan, dan mayoritas customer bayar tunai.

Beda saat masih kerja yang gajian lewat transfer rekening. Itu mengapa, satu dekade lalu saya bisa lolos bikin visa ke Inggris untuk nonton Final Liga Champions 2016/17. 

Pasalnya, salah satu persyaratan bikin visa UK, minimal harus punya saldo mengendap di rekening Rp 50 juta.

(Selengkapnya: <Galeri Foto> Jadi Saksi Kekalahan Juventus dari Madrid di Final Liga Champions 2016/17 - https://www.roelly87.com/2017/06/saksi-juventus-di-final-liga-champions.html)


*         *         *

Foto: Dokumentasi pribadi/
@roelly87


SELANJUTNYA, CS myBCA menyarankan untuk urus ke Kantor Cabang terdekat. Saya cek, bukanya hanya Jumat (29/5). Berarti, hari ini, Kamis (28/5) masih tanggal merah. BCA baru normal lagi Selasa (2/6).

Sebab, Sabtu-Minggu merupakan weekend yang perbankan memang tutup. Sementara, Selasa (1/6) Hari Lahir Pancasila.

(Sumber: https://www.bca.co.id/id/tentang-bca/media-riset/pressroom/siaran-pers/2026/05/26/07/20/cuti-bersama-iduladha-waisak-dan-hari-lahir-pancasila-2026)

Yang bikin saya agak gimana gitu, CS myBCA menjelaskannya secara datar. Nyaris tanpa ekspresi dan terkesan buru-buru tanpa memberi solusi.

Itu di luar ekspektasi saya. Wajar, mengingat saya pernah mengunjungi BCA Learning Institute (BLI) yang terletak di Jalan Pakuan, Bogor, Jawa Barat, pada 2018 silam yang diakui sebagai kawah candradimuka bagi setiap pegawai BCA. 

(Selengkapnya: https://www.roelly87.com/2018/07/lebih-dekat-dengan-bca-lewat-galeri-bca.html)

Namun, ya sudahlah. Salah saya juga yang sok-sokan ganti kartu di KCP BCA di Grand Indonesia yang tiada petugas karena hari libur.

Semoga, besok, Jumat (29/5) masalah saya bisa teratasi saat mendatangi KCP BCA terdekat. Atau, Selasa (2/6) ketika situasi sudah normal.

Sambil menunggu fajar di selatan ibu kota yang sejuk usai orderan kakap ojol, saya pun menonton rekaman Serie A musim ini. 

Juventus, klub favorit saya benar-benar kayak badut. Boro-boro bersaing scudetto, yang ada malah finis di peringkat enam!

"Si Nyonya Besar" kalah dengan Como 1907 yang lolos ke Liga Champions musim depan berkat finis di posisi empat Serie A 2025/26. 

Btw, Como dan BCA itu satu pemilik yang pekan depan turun gunung di blantika bulu tangkis dunia lewat Polytron Indonesia Open 2026. 

(Sumber: https://www.roelly87.com/2026/03/menanti-clbk-grup-djarum-pbsi-di.html)

Hanya, sejak insiden kartu tertelan tanpa solusi, rasa saya terhadap BCA dan grupnya mungkin tidak lagi sama.***


*         *         *


- Megamendung (Bogor) 28 Mei 2026


Sabtu, 16 Mei 2026

Kalian Tim PI atau Tim GI (Plaza Indonesia Vs Grand Indonesia)

PI vs GI (Versi Ojol)

Aura old money dan Orang Kaya Lama
sangat terasa di PI
(Foto: dokumentasi pribadi/@roelly87)


KELINCI Merah (Chituma) yang terbaik di antara kuda. Untuk pendekar, ada Lu Bu.

Ucapan Perdana Menteri Han Cao Cao pada abad 2 yang saya kutip ulang di artikel tiga tahun lalu berjudul Brigitte Lin Ching-hsia yang Memesona (https://www.roelly87.com/2023/12/brigitte-lin-ching-hsia-yang-memesona.html).

Maksudnya, Lu Bu tak terkalahkan pada pengujung kejayaan Dinasti Han. Dalam novel Sam Kok/Kisah Tiga Negara, bahkan sukses menempur tiga bersaudara, Zhang Fei, Guan Yu, dan Liu Bei.

Sementara, Kelinci Merah merupakan nama kuda asal Ferghana, Asia Tengah. Dikenal dengan kawasan penghasil kuda terbaik yang banyak diimpor Cina saat itu.

Nah, artikel yang saya tulis ini bukan soal pendekar atau kuda. Melainkan, mal, plaza, atau pusat perbelanjaan yang bisa disebut terbaik di Jakarta.

Namun, ini banyak versi. Alias, bisa jadi debat kusir tak berujung terkait subyektivitas.

Sebagai ojol (ojek online), saya sudah pernah menyinggungnya sedikit dalam beberapa artikel:

- https://www.roelly87.com/2024/06/daftar-mal-elite-di-jakarta-dan-yang.html

- https://www.roelly87.com/2025/05/hilang-motor-akibat-parkir-liar-salah.html

- https://www.roelly87.com/2020/02/pi-pp-dan-ta-ini-daftar-mal-yang-kurang.html

- https://www.roelly87.com/2023/11/menara-kadin-yang-memanusiakan-manusia.html

Oke, menurut saya ada delapan mal elite di ibu kota -minus Jakarta Timur- dengan beragam variabel. Ini objektif saat saya hadir sebagai pengunjung atau ketika ambil orderan ojol.

1. Plaza Indonesia (Jakarta Pusat)

2. Plaza Senayan (Jakarta Pusat)

3. Pondok Indah Mal (Jakarta Selatan)

4. Grand Indonesia (Jakarta Pusat)

5. Senayan City (Jakarta Pusat)

6. Pacific Place (Jakarta Selatan)

7. Central Park (Jakarta Barat)

8. Mal Kelapa Gading (Jakarta Utara)

Btw, dari tujuh mal elite itu dan puluhan lainnya di ibu kota -minus Jakarta Timur yang jarang saya jelajahi-, versi saya paling favorit adalah Mal Ciputra di Grogol, Jakarta Barat.

Wajar, mengingat lokasinya hanya seperlemparan batu dari rumah saya. Kalo yang lempar batunya Hulk atau Thor... He he he!

Mal yang beken disebut Citra Land (CL) ini jadi favorit saya sejak masih kanak-kanak hingga rekan sebaya sudah punya banyak anak. Mulai dari tempat nongki, main game, bolos, cinmot alias cinta monkey, liatin pelajar tawuran, hingga ngabuburit di Toko Buku Gramedia dan Gunung Agung.

Era 1990-an hingga pertengahan 2000-an, CL jadi tempat suci bagi anak Jakbar. Bahkan, hingga kini saya jadi ojol, sering datang karena ada parkir gratis yang luas. (Sumber: https://vt.tiktok.com/ZSxeWtM43/ @roelly87)

Selain CL, favorit saya juga ada Topaz (kini ganti Roxy Square imbas Tragedi 1998), ITC Roxy Mas (dulu ada MCD yang jadi favorit), Plaza Gajah Mada (ada kolam renang), Mal Puri Indah, Golden Truly Gunung Sahari, dan Ratu Plaza.

Ketujuh mal itu jadi favorit saya hingga kini yang punya memori membekas.

*          *          *

Parkir khusus ojol dan kurir paket di P2
(Foto: Dokumentasi pribadi/@roelly87)


ADA dua mal elite yang bersebelahan atau berhadapan di Jakarta Pusat. Yaitu, Plaza Indonesia (PI) dengan Grand Indonesia (GI) yang sama-sama terletak di Jalan M.H. Thamrin.

Satu lagi di Jalan Asia Afrika, yaitu Plaza Senayan (PS) dengan Senayan City (Sency). Namun, kedua mal yang terletak di Kecamatan Tanah Abang ini mungkin akan saya bahas nanti.

Untuk PI dan GI, ternyata lokasinya di Kecamatan Menteng. Saya pikir, dulu keduanya ada di Kecamatan Tanah Abang.

Namun, setelah cek google maps, ternyata masuk Menteng. Meski, untuk GI, sebagian ada Tanah Abang, tepatnya di  di West Mal yang merupakan pintu masuk untuk parkir motor. 

Kendati ruangan utama (East Mal) tetap masuk Menteng bersama Hotel Kempinski dan Menara BCA.

Kesan saya ke GI? 

Rame poll. Apalagi, jika ambil orderan makanan atau paket di East Mal. Harus olahraga karena parkiran adanya di basement West. 

Secara keseluruhan, GI lebih familiar bagi saya. 

Istilahnya, lebih merakyat. Wkwkwkwk!

Sementara, PI?

Wow... Auranya beda!

Ketika menginjakkan kaki di lobinya, atmosfer OKL atau Crazy Rich pun menyapa. Saya bukan tipe inferioritas, tapi PI memang auranya berkelas banget.

Mungkin sedikit atau setara dengan Plaza Senayan (PS) dan Pondok Indah Mal (PIM). Ga perlu dibandingkan dengan GI, Sency, Pacific Place (PP), Central Park (CP), hingga Mal Kelapa Gading (MKG).

Jujur, itu yang saya rasakan. 

Itu mengapa, PI tidak menyediakan parkiran motor untuk umum baik pengunjung maupun karyawan. Alias, hanya roda empat ke atas. 

Jika pengunjung ingin masuk, terpaksa harus parkir di GI yang cukup jauh tapi resmi dengan nontunai Rp 2.000 per jam. Atau, bayar Rp 5.000 - 10.000 untuk parkir liar di Jalan Kebon Kacang XXX.

Saya pernah menulisnya sebelum pandemi dulu https://www.roelly87.com/2020/02/pi-pp-dan-ta-ini-daftar-mal-yang-kurang.html.

Untungnya, ojol dan kurir paket disediakan parkir di P2. Meski harus bayar secara nontunai. 

Minusnya, parkirannya sempit dan berbagi space dengan kendaraan niaga di loading dock. Jadi, kalo mau keluar, harus ekstra sabar. 

Sebab, gate-nya hanya 1 yang bergiliran dengan mobil bak, box, hingga truk. Beberapa kali mesin tap parkir error. Ampun dah ngantrenya. 

Pun demikian saat kartu emoney ga kebaca. Ya, wassalam...

Btw, bagi pengunjung atau karyawan jangan coba-coba parkir motor di P2. Sebab, bakal diusir security di pintu masuk. 

Secara, mereka selalu mengecek setiap motor yang melintas gerbang. Ojol pun dilihat orderannya apa dan wajib buka jok motor.

Tapi emang securitynya saya akui ramah-ramah. Kalo kita ga tahu bakal diinfokan secara detail parkir di mana, aturan malnya apa, dan lantai yang dituju.

Untuk aturan, seperti yang saya ulas dua tahun lalu, https://www.roelly87.com/2024/06/daftar-mal-elite-di-jakarta-dan-yang.html, ojol harus lepas jaket dan ditaruh di motor. Alias, tidak boleh ditenteng atau dibalik seperti mayoritas mal lainnya, termasuk GI yang masih memperbolehkan jaket ojol dibalik.

Saya pribadi ga masalah dengan aturan ini. Secara, sebagai tamu, saya harus ikut ketentuan tuan rumah.

Hanya, beberapa kali ada kejadian kocak. Tepatnya, ketika keluar dari lift barang di lantai LB, G, 1, 2, dan seterusnya menuju toko yang dituju. Nah, saya sering nanya alamat jika tidak tahu ke toko sekitar. 

Berhubung saya ga boleh bawa atribut ojol dan terkadang hanya mengenakan kemeja atau batik serta celana bahan, alhasil saya disangka mau belanja. Diajak masuk ke tokonya yang isinya mayoritas premium untuk lihat-lihat hingga ditawarkan berbagai koleksinya. 

Wkwkwkw!

Jujur, belanja di PI bukan level saya yang masih kelas mendang-mending. Berbagai busana di sana, seperti celana panjang branded harganya bisa dua minggu pendapatan saya ngojol!

Alhasil, saya pun memberikan gestur menolak tawaran itu. Sembari, memperlihatlan orderan ojol di layar hp untuk tanya alamat. 

Pas tahu saya ojol yang hanya ingin tanya lokasi toko atau resto, pramuniaga itu pun jadi likat. Akhirnya, kami sama-sama tertawa.

Btw, untuk kesan-kesan saya masuk PI dan GI baik sebagai ojol atau pengunjung, komparasinya ada di bawah ini.

Nah, kalian sebagai sesama ojol serta kurir paket dan pengunjung umum, pilih jadi Tim PI atau Tim GI?


Tim PI vs Tim GI versi ojol:


Plaza Indonesia 

+ Ada parkiran khusus ojol/kurir paket (berbayar nontunai)

+ Mudah ke toko/tenant/merchant dari parkiran P2

+ Auranya beda (sekelas dengan PS dan PIM)

+ Customer mayoritas ganti biaya parkir


- Jaket harus dilepas (tidak boleh ditenteng/dibalik)

- Parkiran ojol/kurir paket sempit

- Mesin parkir sering error

- Masuk parkiran jauh, di Kebon Kacang 30, bukan di Jalan Thamrin


Grand Indonesia

+ Parkiran luas terlindungi dari panas dan hujan (nontunai untuk umum/ojol/kurir paket)

+ Jaket boleh ditenteng atau dibalik

+ Aura malnya bersahabat untuk semua kalangan (di bawah PI, PS, dan PIM, tapi masih sedikit di atas Sency, PP, CP, CL, Emporium, dan sebagainya)

+ Customer mayoritas ganti biaya parkir


- Lokasi parkiran jauh di basement West Lobby (jalan jauh kalo ambil order di East)

- Masuk parkiran muter di Jalan Teluk Betung I, bukan di Jalan Thamrin

- Ada 2 lobi (West/Arjuna dan East/Rama, harus diperhatikan detail orderannya agar tidak olahraga terlalu jauh)


=========✓=========✓=========✓


PI vs GI (versi umum/pengunjung)


Plaza Indonesia

+ Premium (aura berkelas yang setara atau lebih dari PS dan PIM)

+ Branded (produk yang dijual mayoritas kalangan elite)

+ Strategis di pinggir jalan raya

+ Akses transportasi umum (samping Halte TJ dan Stasiun MRT)


- Tidak ada parkiran motor (adanya parkir liar di pinggir kali)


Grand Indonesia

+ Parkiran luas terlindungi dari panas dan hujan (nontunai untuk umum/ojol/kurir paket)

+ Ada parkir eksklusif untuk taruh helm, jaket, dan sebagainya (berbayar Rp 20 ribu)

+ Aura malnya bersahabat untuk semua kalangan (di bawah PI, PS, dan PIM, tapi masih sedikit di atas Sency, PP, CP, CL, Emporium, dan sebagainya)


- Akses di lobi utama bagi pejalan kaki (West/Arjuna dan East/Rama) jauh di Jalan Teluk Betung

- Kurang integrasi ke transportasi umum (harus olahraga dari/ke Halte TJ dan Stasiun MRT)


#FaktaMenarik: PI jauh lebih tua karena diresmikan pada 24 November 1990 oleh Presiden Ke-2 RI Soeharto. Berselang 19 tahun, Grand Indonesia (20 Mei 2009) diresmikan Presiden Ke-7 RI Susilo Bambang Yudhoyono.


*          *          *


- Jakarta, 16 Mei 2026


Rabu, 29 April 2026

Rambut Memutih dalam Semalam

Rambut Memutih dalam Semalam


Ilustrasi gambar hanya pemanis (@roelly87)


(POV: SANDI)

IBU, istri, dan anak. Demikian prioritas dalam hidup saya yang berawal dari masa lalu, menjalani masa kini, dan menatap masa depan.

Ibu atau orang tua (ayah sudah meninggal) yang telah melahirkan, mendidik, dan membesarkan saya hingga kini.

Istri yang kini populer saya juluki MBG alias MyBiniGue merupakan pendamping hidup yang setia. Kami sudah melewati pahit manis kehidupan dalam belasan tahun pernikahan.

Anak? Masa depan kami semua. Saya punya dua anak yang masih dalam pertumbuhan. Sulung, laki-laki berseragam SMP. Sementara, bungsu, perempuan masih SD.

Begitu juga dengan mertua. Ayah dan ibu dari MBG. Keduanya sudah meninggal. Sang ibu wafat sebelum pandemi. Berselang tahun, babeh -panggilan akrab saya kepada ayah mertua- berpulang.

MBG sebagai anak tunggal mewarisi harta yang cukup peninggalan orang tuanya. Itu berupa beberapa kendaraan dan rumah.

Maklum, babeh merupakan saudagar ternama dari seberang. Masih memiliki hubungan darah dengan salah satu raja termasyhur di pulau itu. 

Meski begitu, istri enggan memanfaatkan status ningratnya. Bahkan, sejak lulus kuliah sudah mandiri untuk bekerja di kantor akuntan ternama.  

*         *         *

SEMUA baik-baik saja. Hingga, babeh meninggal akibat penyakit kronis. 

Berpulang dengan tersenyum. Kami pun ikhlas melepasnya.

Sayangnya, kami hidup di dunia nyata. Alias, bukan dongeng.

Sebab, masalah justru baru dimulai.

Usai tujuh harian, istri dan saya yang merupakan pegawai swasta mencoba mengumpulkan aset almarhum babeh dan enyak.

Kami dibantu beberapa sepupu dan keponakan istri.

....

Singkat kata, mayoritas aset sudah berganti nama jadi istri. Kecuali satu.

Ya, rumah berukuran sedang di Kota B. Sudah lama dihuni eks sopir yang dulu bekerja kepada babeh, sebut saja Gilman.

Namun, dia keluar akibat kecelakaan yang menyebabkan jadi tunadaksa. Itu karena kaki sebelahnya harus diamputasi.

Insiden berlangsung saat Idul Fitri. Alias, beliau sedang pulang kampung.

Karena kakinya sudah tidak bisa berfungsi untuk membawa mobil, dia pun mengajukan resign. Babeh dengan berlinang air mata menyetujui. 

Turut memberikan pesangon yang sangat besar. Meski kecelakaan bukan saat kerja, alias ketika cuti lebaran, tapi babeh tetap bertanggung jawab.

Bahkan, kelima anaknya disekolahkan hingga kuliah. Dua lulus, satu DO, dan dua kabur.

Ini fakta. Bukan mengada-ada. Memang babeh dan enyak semasa hidupnya sangat baik. 

Termasuk mewakafkan tanahnya di Kota M dan P untuk dibuat Panti Asuhan.

Nah, di Kota B, babeh ada rumah yang sempat ditempati sepupunya. Namun, setelah anak dari paman babeh itu berkeluarga, hijrah ke ibu kota meninggalkan rumah itu yang kosong.

Ujug-ujug Gilman tahu dan mendatangi babeh untuk menumpang di rumah tersebut. Babeh sifatnya ga tegaan. 

Apalagi, Gilman yang bersandar tongkat datang bersama istri dan ketiga anaknya yang masih kecil. Babeh pun mengizinkan.

Sebulan, dua bulan, setengah tahun, hingga puluhan purnama saat babeh meninggal, rumah itu masih ditempati Gilman.

...

Istri bersama sepupu dan keponakannya menemui Gilman. Maksudnya untuk silaturahmi sekaligus menengok rumah tersebut.

Gilman tahu babeh yang merupakan mantan bosnya meninggal. Turut mengucapkan duka cita dan minta maaf ga bisa hadir karena kondisinya.

Kami pun memaklumi keadannya. 

Nah, ketika MBG tiba, kagetlah melihat rumahnya. Sebab, dulunya saat ada babeh dan enyak, sangat terawat, kini jadi semrawut.

Pasalnya, di depan pekarangan hingga jalanan dipenuhi lapak dagangan. Rumah pun disekat untuk jadi kontrakan. 

Ternyata, itu disewakan kepada orang terdekat Gilman atau tetangganya.

Uang sewanya? Masuk kantong Gilman!

Yang lebih membagongkan, MBG, sepupu, dan keponakannya seperti tidak dianggap di rumahnya. Gilman layaknya bos besar hanya menerima di depan lapak pekarangan. 

Seperti mengusir secara halus. Bahkan, ketika keponakan istri nanya izin ke kamar mandi, tidak diberikan. Malah disuruh ke pom bensin.

Sontak, istri yang baru kehilangan ayahnya itu langsung naik pitam. Ditambah, perlakuan tidak sopan dari Gilman dan keluarganya.

Niat awal istri untuk mengecek rumah, jadi ingin mengambil alih. Wajar, punya orang tua sendiri.

Tahu jawaban Gilman?

"Enak aja, Ayah kamu yang kasih saya rumah ini untuk dikelola. Kamu jangan lancang, baru datang langsung mau rebut?"

Familiar?

Ya, mereka ini seperti bangsa Israel yang kabur dari Eropa dan izin menumpang kepada rakyat Palestina. Namun, berbalik jadi ingin menguasai tanah orang.

Jahat.

Gilman berkacak pinggang mengusir istri saya dan kedua saudaranya. Disertai teriakan dari keluarganya.

Dunia benar-benar udah terbalik.

MBG pun ga tinggal diam. Doi memberi ultimatum sebelum pergi: Pekan depan rumah harus dikosongkan dan utuh seperti semula.

*         *         *

TUJUH hari berselang, saya yang mendampingi istri untuk menenangkannya justru mendapat perlakuan ajaib dari Gilman.

Kami berdua dituding ingin menyerobot rumah orang di depan pengurus wilayah yang dihadirkan sebagai saksi. Gila!

Istri pun mengluarkan satu kartu truf: SHM sebagai legalitas kepemilikan tanah dan bangunan yang ditempati.

Toh, tetangga dan pengurus wilayah sudah tahu tentang babeh alias ayah dari istri saya itu.

Gilman membelokkan situasi. Disebut sudah diberi almarhum babeh secara lisan.

Stres!

Mana ada orang yang kasih rumah secara cuma-cuma. 

Ditanya buktinya apa, Gilman menjawab tanya aja di dalam kuburan babeh. Ironisnya, istrinya dan anak-anaknya turut mengamini.

Sungguh keluarga ga tahu diri.

Sampe sini, saya udah emosi. Namun, berusaha untuk menenangkan istri.

Benar-benar keluarga dajjal! Bangsa Israel yang mengejawantah ke diri Gilman dan keluarganya.

...

Singkatnya, deadlock.

Pengurus wilayah ga berani kasih solusi. Nah, di sinilah plot twist.

Ternyata, ada oknum pejabat setempat yang coba mengail di air keruh. Diimingi 'badu' alias bagi dua dengan Gilman atas hak kepemilikan rumah lewat duplikasi SHM.

Kini, musuh kami tidak hanya Gilman saja. Melainkan, oknum pengurus wilayah dan pejabat rakus. 

Hingga ke meja hijau berbulan-bulan, masih sengketa. Saya ingin turun tangan sendiri untuk menyelesaikan persoalan ini.

Namun, istri mencegah. Doi tahu, kalau saya sudah turun gunung, urusan bisa panjang.

Ya, saya pun coba untuk sabar. Berusaha untuk menguatkannya.

Bagaimanpun, itu rumah peninggalan orang tuanya. Kami, menantu dan anak tentu harus berjuang untuk mendapatkannya kembali.

Meski, prosesnya ga mudah. Sampe istri beberapa kali cuti dari pekerjaannya akibat fokus ke Gilman dan kroninya.

*         *         *

USAI makan malam, saya dan istri berbincang sejenak depan tv. Saat itu, kedua anak kami sudah tidur.

Obrolan ringan yang biasa kami lakukan jelang istirahat. Topiknya, beragam mulai dari drakor dan kpop kesukaan MBG, band, musik, pekerjaan di kantor masing-masing.

Istri cerita, ada saudara jauh, yaitu anak dari sepupu ayahnya siap membantu. Profesinya pengacara ternama yang sering tampil di tv.

Karena masih keluarga, alias kakek yang sama, pengacara itu turut menawarkan tanpa dibayar. Alias pro bono.

Istri pun menolak. Menurutnya, darah ya darah. Namun, ini sudah masuk urusan bisnis. Harus bayar.

Istri bersikeras untuk membayar sesuai tarif karena memang sanggup. Pengacara itu pun mengiyakan.

Usai cerita, kami istirahat ke ranjang. Istri langsung tidur karena seharian lelah di kantor dan pikirannya terganggu akibat sengketa rumah.

Saya belum ngantuk. Iseng nonton dracin yang singkat tapi menghibur. Beda dengan drakor yang episodenya panjang. Sementara untuk kisah seram sekaligus lawak, ada di drathai (Drama Thailand).

Saking serunya hingga ketiduran beberapa jam. Ternyata saya ngantuk juga. Langsung pasang alarm bangun subuh dan cas hape di pinggir kasur.

Tak lupa menutup selimut MBG tersayang yang sedang terlelap.

Namun, alangkah kagetnya pas melihat istri tampak berbeda. Rambutnya memutih...

Ini serius. Doi istri saya. Bukan hantu. 

Wajahnya tidak berubah. Hanya rambutnya yang tadinya hitam kini jadi putih.

Saya mencolek tangan kiri sendiri. Berasa.

Mencubit pipi kanan. Sakit.

Ini bukan mimpi.

Ya Tuhan, hanya dalam semalam rambut istri saya berubah jadi putih.

Sekelebatan saya ingat pada sosok Lian Nichang dalam novel Pek Hoat Mo Lie/Baifa Monü Zhuan, karya Liang Yusheng yang saya baca sejak 1990-an. 

Atau, Maria Antoinette, permaisuri Raja Prancis Louis XVI yang rambutnya memutih akibat frustrasi gagal kabur hingga akhirnya dipenggal.

...

Refleks saya ingin bangunkan istri. Namun, saya urungkan karena ga tega setelah melihatnya terlelap.

Perlahan, jari saya arahkan ke hidungnya. Alhamdulillah, bernafas.

Pun dengan denyut nadi. Normal.

Nyaris saja...

Hufft!

Saya perlahan ke westafel. Cuci muka. Hilang segala kantuk usai menyaksikan perubahan MBG tersayang.

Saya tatap dari kursi di seberang ranjang. Memandang dari dekat.

Bergeming.

Hingga, sinar matahari perlahan masuk ke celah jendela. Saya yang sedang mematung kaget karena istri balik menatap saya.

"Belum tidur?" katanya.

"Udah. Ini baru bangun," jawab saya berbohong yang pasti sudah diketahuinya.

Istri memandangi saya dengan likat. Hingga tersadar saat melihat rambutnya yang terurai. Langsung tarik napas.

Saya memberinya minum untuk menenangkan. Tidak ada perubahan pada wajahnya.

Namun, dari guratannya tidak bisa berbohong bahwa itu merupakan kesedihan yang nyata. Saya merangkul istri. 

Doi pun memeluk saya. Air mata tampak jatuh dari wajahnya. 

Rambutnya yang memutih terurai tidak bisa membuyarkan kecantikannya. Doi merupakan belahan hati saya dalam belasan tahun ini hingga nanti kami dipisahkan Sang Khalik.

Pagi itu jadi saksi sejoli yang sedang menjalani takdir.

Usai seperminuman teh, saat situasi sudah tenang, istri pun cerita. Ternyata, dalam beberapa hari ini doi mendapat teror yang diperlihatkan pada chat di hapenya.

Secara halus hingga brutal. Intinya, untuk "mengikhlaskan" rumahnya kepada para maling.

...

Sambil menyuapi teh manis yang masih hangat kuku, saya menguatkan hatinya. Sebagai suami, saya tentu akan melindunginya.

Saya ga sudi ada pihak yang melukai istri. 

"Tenang aja De," ucap saya perlahan sambil membelai rambut di kening istri yang sudah berhenti nangis. "Aku ga akan 'berada di bawah matahari yang sama' dengan para maling itu  Namun, tenang aja, aku akan bereskan dengan 'penuh kelembutan'!"

Pernyataan tegas yang merupakan reaksi saya sebagai kepala keluarga. Ya, seperti halnya sikap Sun Quan kepada Cao Cao yang ingin menginvasi wilayahnya dalam Sam Kok (Romance of the Three Kingdoms).

Di hadapan istri, saya berusaha untuk mengambil alih rumahnya dari para maling dengan damai meski secara hukum belum ada penyelesaian hingga kini. Namun, di lubuk hati yang daling dalam, saya bersumpah ga akan memaafkan Gilman dan para pencuri. 

Termasuk, ternak, anjing, dan tikus di rumah mereka akan saya sapu. Berapa pun harga yang harus saya bayar.

Kehormatan istri merupakan segalanya bagi pria.

Bersambung***


*         *         *

(Diceritakan ulang oleh suami yang sayang keluarga dengan modifikasi dan editing sewajarnya)

*         *         *

- Jakarta, 29 April 2026


*         *         *

Artikel Selanjutnya:

- Si Pengkor yang Cacat Otak


Kamis, 16 April 2026

Konflik dengan Ojol dan Pria Tanpa Kepala di Basement

Konflik dengan Ojol 

dan Pria Tanpa Kepala di Basement


(POV: AGUS)

GW cuma bisa menghela napas melihat rekan ojek online (ojol) bersandar di pos security. Ya, dia baru aja dapat opik (order fiktif) dari oknum customer laknat.

Orderannya ayam geprek dengan nominal 300 ribu. Ojol itu memperlihatkan orderan dan isi chat ke gw sebagai security di pintu masuk gedung.

Alamatnya benar. Namun, ga ada untuk kantor apa, lantai berapa, unit, atau divisi. 

Jelas, kami ga bisa terima. Apalagi, ini orderan COD alias cash on delivery.

Biasanya, customer langsung yang nemuin ojol untuk ambil makanan atau barang dari kurir paket. Maklum, ini gedung yang diisi banyak kantor. Jadi, lobi dan pos security ga terima titipan apa pun.

Gw lihat chat ojol dengan customer laknat itu lancar. Namun, untuk percakapan terakhir hanya centang dua. Alias, sekadar dibaca saja oleh customer tanpa dibalas.

Ini sudah lebih sepenanakan nasi. Gw kasian sama ojol itu. Namun, ga bisa apa-apa. Secara, customernya ga beri petunjuk kantor, unit, atau lantai berapa.

Ditelepon puluhan kali pun ga diangkat. Kayak ngeledek dan ngerjain, ini mah.

...

Sekilas, gw lihat nama customer sangat agamis. Namun, kelakuan mirip dajjal. 

Ya, bisa jadi, nama palsu. 

Secara, customer bebas pilih nama di aplikasi. Entah itu Ksatria Baja Hitam, Tuxedo Bertopeng, Maria Mercedes, Son Goku, atau Pangeran Hormutz.

Setelah dua jam tanpa kepastian, sebelum pamit ke gw dan tim security yang jaga, ojol itu menghubungi customer service aplikasi. Disarankan untuk diserahkan ke panti asuhan terdekat.

Gw pun memandang ojol dari kejauhan dengan tatapan pilu. Nunggu dua jam, ga tahunya opik dan harus jalan lagi ke panti asuhan.

*        *        *

SEBAGAI security, gw punya hubungan erat dengan ojol. Itu karena setiap hari kami bersinggungan. 

Apalagi, dua ponakan gw juga ojol dan kurir paket. Beberapa rekan kerja juga ada yang nyambi jadi ojol. Baik itu sesama security, OB, hingga level manajemen.

Jadi, gw sangat respek dengan profesi ojol.

Meski, beberapa kali pernah adu bacot. He... He... He...

Salah satunya, pekan lalu gara-gara ojol berhenti di tengah pintu keluar usai nurunin penumpang. Gw udah bilang baik-baik untuk majuan.

Namun, karena siang bolong, mungkin ojol itu ga diterima. Disangkanya, gw mengusir.

Padahal, maksud gw benar. Ada mobil yang akan keluar.

Gw yang sedang menjalankan SOP pun menghampirinya. Dengan baik-baik.

Hanya, entah ada masalah di rumah terbawa ke kerjaan, ojol itu malah teriak-teriak. Nyaris gw kepancing.

Beruntung, ada rekan ojol lainnya yang jaketnya sama turut memisahkan. Membela gw karena memang ada mobil yang mau keluar dari gedung.

...

Ojol itu pun berlalu dengan mengeluarkan kata-kata mutiara dari kebon binatang. Ya, terserah aja. 

Secara, gw cuma memberitahu agar tidak berhenti di pintu keluar.

Insiden itu ga cuma sekali. Namun, gw dan sesama security lain biasanya menanggapi dengan kepala dingin.

Biasanya, ojol dan kurir paket pun respek ke kami sebagai petugas.

Toh, di antara kami sama-sama sedang cari nafkah untuk keluarga.

*        *        *

SELAIN dengan ojol, ada konflik tak kalah serunya yang kerap dialami security. Yaitu, dengan makhluk halus 

Serius.

Entah itu jurik, dedemit, poci, neng kunti, soket, hantu, dan sebangsanya. Jujur, nyaris semua security pasti pernah ngalamin. 

Apalagi, jika dinas malam. Termasuk, gw di tempat kerja dulu di gedung perkantoran pusat kota, sebelum Covid 19.

Ceritanya, gw dan rekan, sebut aja bang SC alias Stone Cold. Secara, beliau perawakannya mirip pegulat WWE, Steve Austin, yang plontos tapi komuknya gahar.

Biasanya, tiap beberapa jam sekali, kami keliling ke gedung parkiran. Khususnya, yang tidak terjangkau CCTV.

Maklum, saat itu ramai pencurian spion mobil. Apalagi, jika jenis sedan yang jadi incaran empuk para pencoleng.

Juga pernah ada kasus mobil goyang. Pas dicek ada yang lagi indehoy. Hadeuh!

Punya mobil tapi ga mampu sewa hotel. Mana viral lagi. Untung karena faktor U, sebut aja UANG jadi "bisa diselesaikan dengan baik-baik".

...

Gw inget betul. Saat itu, malam Selasa kliwon. Cuaca di luar rinai. Pandemi pula. Udah ketahuan sepinya gimana.

Namun, ada beberapa pegawai *** yang masih meeting. Mobilnya pada parkir rapi di basement.

Gw dan Stone Cold pun patroli. Berdua. Sebab, untuk memudahkan jika terjadi apa-apa ketimbang sendirian di area yang lumayan luas ini.

Btw, bang SC yang karakternya di industri gulat hiburan berani lawan bos seperti Vince McMahon, Triple H, hingga The Undertaker. Di kalangan tim security, beliau ini dikenal pemberani.

Jangankan makhluk halus, bahkan ormas paling menyeramkan pun disikat saat ketahuan kasih proposal bukber. 

Alasannya untuk donasi anak yatim. Faktanya, buat mabok dan judol. Sial! 

Latar belakang bang SC emang keturunan jawara tapi orangnya sangat baik, rendah hati, suka menolong, dan rajin menabung.

"Kuping gw kayak ada yang niup," kata bang SC sebelum patroli rutin.

"Neng Kunti di pojokan kali bang," jawab gw asal.

Maklum, gedung ini dulunya dibangun di atas pemakaman. Jadi, hal-hal di luar nalar udah jadi santapan sehari-hari bagi kami.

"Eh biji kedondong. Asal jeblak aje lo. Mau didatengin si eneng kunti di pojokan kayak yang ditemuin si Rojali pas takbiran?"

"Ogah bang. Makasih deh."

"Ha... Ha..." Bang SC tertawa puas meledek gw. "Kita mau ke basement dulu atau parkiran atas?"

"Terserah lo bang, senior. Gw mah ikut."

"Lantai *** dulu aja kali ya baru basement. Biar ga bolak-balik. Apalagi, cuacanya gerimis gini. Kalo udah selesai kita pesan nasi uduk di Mpok Gayong."

"86 'Dan'!"

*        *        *

SEPEMBAKARAN hio berlalu saat kami keliling di lantai atas. Ga ada yang aneh. 

Kami pun menuju basement. Parkiran ini biasa untuk supplier yang akses keluar masuknya cukup mudah bagi mobil ukuran besar, bak, maupun box.

Seklias, ga ada yang aneh. Gw pake senter keliling ditemani bang SC sambil bersiul ala Axl Rose saat menyanyikan Patience.

Tiba-tiba senandungnya berhenti. 

"Gus, coba lo senter itu orang," kata bang SC.

Gw refleks menyorot orang nunduk sambil bersandar seperti mau kencing ke mobil di ujung parkiran dengan membelakangi kami. Gw pikir mabuk.

Udah ga aneh di kawasan ini. Meski pandemi, mabok dan party merupakan harga mati bagi sebagian pegawai elite.

Tiba-tiba angin bertiup kencang. Belakang telinga gw kayak ada yang niup.

Bulu kuduk gw pun berdiri.

Spontan gw lirik bang SC. Eh, dia pun sama. Kami saling tatap kayak di sinetron remaja. 

Etapi ga aneh-aneh, secara gw dan bang SC, normal. Kami cowo tulen dan masing-masing udah punya anak, njir!

Pas menoleh, pria di mobil itu menghampiri kami.

Anjing!

Ga ada kepalanya!

Demi apa pun itu, ini kali pertama gw lihat penampakan. Namun, ini nyata.

Jalannya diseret kayak zombie. Perlahan.

Hingga berjarak dua tombak, terlihat jelas.

Sekilas mengingatkan gw pada film Pengabdi Setan yang rilis dua tahun sebelum gw lahir.

Tapi ini nyata.

Ga ada kepala.

Woi, orang ini ga ada kepala. Bukan sulap bukan sihir. Cuma badan, kaki, tangan, dan leher sambil jalan mendatangi kami.

Gw yang agnostik seketika langsung ingat Tuhan. Refleks baca-baca doa pengusir setan.

Bang SC? Tampak tenang dengan membaca doa yang gw tahu Ayat Kursi.

Bulir-bulir keringat sebesar jagung menetes di dahi bang SC. Namun, gw kagum karena dia tetap tenang.

Beda sama gw yang mandi keringat. Gemeteran. Sumpah.

...

Anjir, pria itu lehernya dibelatungin. Tanpa kepala woi.

Srek... Srek... Srek...

Dia lewat depan kami. 

Eh, berhenti.

Gw mau kabur ga bisa. Tangan gw kaku. Apalagi kaki, kayak mati rasa. 

Mulut mau muntah saking baunya tuh makhluk. Anjir banget.

Baru kali ini -setelah sekian lama- gw inget Tuhan. Berharap makhluk tanpa kepala itu segera pergi.

Sumpah, biasanya gw ga takut hantu. Secara, gw lebih takut bokek alias ga punya duit. 

Sebab, MBG alias My Bini Gw bisa ngamuk kalo gajian ga gw setorin full. Maklum, gw punya dua bocah yang sedang masa pertumbuhan dengan hobi jajan.

Namun, ini setan tanpa kelapa sumpah sungguh menyeramkan. Di batang lehernya uget-ugetan belatung.

Baunya?

Jangan ditanya.

Meski ga sebau jempol kuku kaki kanan yang gw sering korek dan cium. Alamak, sedapnya!

*        *        *

"KITA beda alam. Jika ada urusan duniawi yang belum diselesaikan, silakan lakukan saja," ujar bang SC di samping makhluk itu. "Kami berdua sedang patroli menjalankan kewajiban untuk mencari nafkah. Nafsi-nafsi ya..."

Gw yang dengar aja gemeteran. Padahal, gw waktu muda ga takut ngadepin bajingan sekalipun. Termasuk, kang parkir liar, ormas, hingga warlok yang minta jatah reman.

Namun, di hadapan makhluk tanpa kepala ini, gw seperti pengecut. Boro-boro mau melawan dengan nonjok atau tendangan berputar mengingat gw punya basic Muaythai.

Lah, ini kaki dan tangan gw aja kaku. Andai ga ada bang SC, mungkin gw udah sipat kuping atau bahkan, pingsan kali.

Makhluk tanpa kelapa itu seperti mengangguk usai mendengar penuturan bang SC. Tak lama setelah berhenti di hadapan kami, lanjut melangkah ke pintu keluar.

Gw melihat secara nyata. Ini bukan mimpi.

Juga bukan tipuan trik semata. Apalagi, AI murahan.

Dari suara langkah kakinya, bau, hawa suram, itu memang nyata.

Gw bahkan masih menyaksikan makhluk itu belok ke lorong yang di atasnya banyak CCTV. Sementara, gw bergeming terpaku hingga bang SC menyadarkan.

"Udah, ga apa-apa. Doi cuma numpang lewat. Kebetulan berpapasan dengan kita. Yuk Gus, kita ke pos," tutur bang SC sambil memencet pundak gw dengan keras biar sadar.

Dengan sisa-sisa tenaga yang masih lunglai gw pun bergegas mengikuti bang SC. Pas di tikungan, gw penasaran menoleh.

...

*        *        *

(Diceritakan ulang dari security yang ngaku wajahnya mirip Tao Ming Se)


*        *        *


- Jakarta, 16 April 2026


Senin, 13 April 2026

Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat

Anak Cowok Jadi Homo, yang Cewek Pelakor, dan Istri Kabur dengan Berondong: Kisah Tragis Eks Pejabat


(POV Mama Lisa)

ALHAMDULILLAH mudik tahun ini berlangsung sukses. Ya, gw bersama misua -anagram dari suami- dan kedua anak merayakan Idul Fitri 1447 H di timur ibu kota.

Tepatnya, di kampung halaman misua yang identik dengan kuliner berkuah nan khas. Kami menginap di rumah mertua selama delapan hari.

Menikmati eksotisnya alam dan suasana segar minim polusi ketimbang di Jakarta. Saking nyamannya, selama sepekan ini badan gw jadi melar.

Habisnya, tiap hari cuma makan, main dengan dua bocah di air terjun, mandi di sungai, keliling pematang, balik makan lagi, dan tidur.

Banyak cerita menarik di tempat kelahiran My Misua. Apalagi, ini kali pertama kami mudik dalam tiga tahun terakhir.

Sebab, 2024 justru mertua yang mendatangi kami. Katanya, "kangen cucu".

Padahal, kami udah siap-siap berangkat. Namun, semalam sebelumnya, umi -panggilan kepada ibu mertua- bilang bersama abi justru mau ke Jakarta.

Tahun kemarin kami juga tidak pulkam. Secara, mertua umrah jelang lebaran.

Jadi, betapa senangnya My Misua waktu tiba di kampung halamannya setelah dua tahun absen. Meski udah dewasa, namanya laki ya kelakuannya kayak bocah.

Main kelereng bareng anak-anak kecil. Ikutan Galasin. Kejar layangan. Hingga kecemplung di pematang sawah akibat sok-sokan balap egrang.

Sontak, pakaianya berlumur lumpur semua bersama beberapa teman masa kecil -kini udah setengah baya- dan anak-anak. Namun, justru itu kebahagian My Misua yang terpancar sangat girang.

Gw dan kedua bocah pun antusias mengiringi My Misua. Pokoknya, di kampung itu, kami benar-benar kayak makhluk tanpa beban.

Hepi terus bawaanya.

*         *         *


HUKUM Karma.

Demikian celetuk gw saat suami cerita eks pejabat daerah di kampung sebelah. Sosok yang dulu "berkuasa dan bergelimang uang" kini terbujur di ranjang kayu.

Tiap hari berharap belas kasihan orang lain. Beruntung ada saudara jauh yang masih setia merawatnya.

Itu karena sedikit kebaikan dari sang pejabat saat berkuasa dulu.

Mirip yang dilakukan Penasihat Dinasti Han, Cai Yong yang menangisi mayat Perdana Menteri Dong Zhuo nan lalim dalam Romance of the Three Kingdoms.

Gw yang dengar ceritera dari suami sampe menghela nafas. Kok ada ya, orang seperti pejabat itu.

Awalnya My Misua main ke tempat teman masa kecil di kampung sebelah. Nah, saat nongki-nongki itu, salah satu sohibnya cerita kalo tidak jauh dari lokasi ada rumah eks pejabat X.

Dulunya, pejabat itu yang juga kerap dijuluki -raja kecil- sangat berkuasa. 

Zalim.

Menginjak hak masyarakat.

Tukang serobot tanah warga.

Memupuk kekayaan sendiri sementara lingkungan diabaikan. Termasuk, jalan rusak ga peduli.

Dibenci anak buah akibat kikir.

Paket lengkap deh.

...

Nah, ga lama usai jabatannya habis, tiba-tiba Mr X jatuh dari tangga. Diagnosis medis menyatakan stroke.

Uang simpanannya yang menggunung pun akhirnya tersedot. Baik untuk pengobatan medis maupun alternatif.

Hingga sekarang belum sembuh.

Warga sekitar menyebut kena hukum karma. Akibat disumpahin masyarakat yang menderita saat Mr X masih menjabat.

Setelah bertahun-tahun berobat tanpa hasil dengan biaya yang besar, akhirnya Mr X pun jatuh miskin. Rumah besar, kontrakan, sawah, kebun, mobil, hingga motor dijual.

Dari sini karma kian kencang.

Sebab, istrinya terpincut berondong asal kota sebelah. Kabur dengan bawa perhiasan dan sisa harta.

Selentingan kabar mengatakan, istrinya ogah mengurus suami ga berguna.

Anak sulungnya yang perempuan, pun 11/12 dengan sang ibu. Kabur dari rumah usai digerebek bersama laki orang hingga viral di medsos.

Putra bungsu? Jadi homo. Alias gay.

Itu akibat tekanan mental dibully warga yang dulunya tertindas. Dunia berbalik 180 derajat. 

...

Kini, sekeluarga harus siap merasakan karma. Dulunya, mereka hidup bermewah-mewahan.

Orang pertama di kawasan itu yang punya parabola. Rumah besar. Sawah berhektar-hektar.

Namun, dibalik gemerlap mereka, banyak sisi negatif. Menjijikan kalo kata warga sekitar.

Asisten rumah tangga (ART) banyak yang digaji minim. Bahkan, seikhlasnya. Padahal kerja rutin. 

...

Suka menyerobot tanah tetangga. Mengandalkan ormas yang bisa dibayar, Mr X enteng aja mematok lahan warga.

Pokoknya, banyak hal negatif dari Mr X yang kalo dibuat buku bisa berjilid-jilid.

Bukti, bahwa karma itu berlaku. 


*         *         *


(Diceritakan ulang dari IRT yang anaknya penggemar Blackpink dengan editing sewajarnya)


- Jakarta, 13 April 2026

Senin, 16 Maret 2026

Nelangsa Pekerja Malam Saat Ramadan

Nelangsa Pekerja Malam Saat Ramadan


(POV: Miss G)


HAI, gw Miss G. Huruf ke tujuh dalam alfabet itu merupakan inisial nama asli gw.


Ya, bisa Gadis, Gladys, Gina, Gince, Gani, Gunawan...


Eh, yang terakhir itu nama cowo. Gw kan cewe, hehehe.


Namun, kalian juga bisa manggil gw Agni. Dalam bahasa sanskerta disebut api. 


Pun demikian dalam kisah wayang atau Mahabharata, Agni merupakan Dewa Api. 


Sebagaimana air yang bisa membuat perahu berlayar tapi juga dapat menenggelamkannya. Begitu juga dengan api yang merupakan sumber kehidupan sekaligus kematian.


Ingat pembakaran Hutan Khandava oleh Agni? Peristiwa itu nyaris membuat Raja Dewa Indra dengan tega membunuh dua makhluk utama, Arjuna dan Kresna.


Nama pertama bisa dibilang "anak biologis" Indra hasil hubungannya dengan Kunti secara niyoga. Sementara, Kresna merupakan awatara Dewa Wisnu, sang pemelihara alam.


Hanya, akibat keinginan Agni untuk melahap Hutan Khandava menyebabkan Arjuna dan Kresna nyaris dilenyapkan Indra jelang Bharatayuda.


Yes! Panggil gw Miss G atau Agni.


Cukup sekian dan terima gaji!



*       *       *


MAYORITAS umat muslim sangat bersedih ketika tahu Ramadan akan pergi. Namun, gw termasuk sedikit yang justru senang.


Ya, saat ini udah masuk sepertiga Ramadan. Alias, kurang dari sepekan lagi Idul Fitri.


Bukannya gw ga menghargai bulan suci ini. Namun, jujur aja gw benar-benar mengharapkan Ramadan cepat berlalu.


Alasannya sederhana. Gw kerja di dunia malam.


Asal kalian tahu, pembaca artikel ini yang budiman. Sepanjang Ramadan, tempat kerja gw di Red District Jakarta Barat full ditutup.


Gw sedih.


Secara, gw ga bisa nafkahin keluarga.


Bukan cuma gw. Rekan seprofesi juga pada nganggur.


Termasuk LC, dancer, bartender, kasir, security, dan sebagainya. Selama sebulan ini, mereka ga dapat pemasukan.


Itu akibat peraturan pemerintah yang melarang tempat hiburan malam beroperasi sepanjang Ramadan. Niatnya mulia, untuk menghormati bulan suci.


Hanya, efek dominonya terasa. Kami, maksudnya gw dan pekerja malam, ga punya pemasukan untuk menyambut lebaran.


Gw pribadi ga punya keahlian. Mau kerja apa?


Zaman sekarang kan anomali. Jangankan yang halal, yang haram aja susah!


Untung gw masih punya sedikit tabungan sebagai mitigasi yang udah gw lakukan sejak pandemi. Juga memiliki hubungan dekat dengan pejabat daerah yang kami juluki raja-raja kecil.


Mereka ini kerap mengirim angpao untuk menambah kebutuhan sehari-hari gw dan keluarga.


Alhamdulillah, rezeki anak sholeh...


*       *       *


HANYA, ga semua pekerja malam beruntung seperti gw.


Btw, ga usah nanya gw kerjanya apaan ya. Juga, jangan nebak gw sebagai LC, dancer, dll.


Yang pasti, gw kerja di dunia malam. Tepatnya, di tempat hiburan yang kerap dijuluki sekeping kenikmatan bagi kaum pria.


Hanya, lokasinya dekat pemukiman penduduk yang sangat padat. Itu mengapa, tempat kerja gw ditutup full selama bulan suci.


Beda cerita jika lokasinya tidak berdampingan dengan warga seperti yang dimiliki kakak bos gw. Di sana, aman sentosa ga bakal dirazia.


Bahkan, bila ada pengunjung yang datang Jumat sore bisa bebas pulang Senin pagi.


Atau, milik sepupu bos gw yang lokasinya di hotel bintang empat. Masih bisa beroperasi karena sesuai peraturan.


Memang, bos gw sempat punya niat untuk buka. Ya, kucing-kucingan lah dengan aparat.


Toh, di dunia yang abu-abu ini, dengan uang bisa lebih mudah. Tinggal setor ke "kepala", wasit, ormas, dan pemilik wilayah, sudah dipastikan 99% tempat usaha kami beroperasi.


Namun, niat itu diurungkan. Sebab, bos gw memiliki ipar di pemerintahan dan besan calon dewan 2029.


Tentu, mereka sudah memberi sinyal agar bos gw sementara mengerem. Bos gw yang gw tahu dulunya bandit tanpa ampun yang biasa membunuh orang tanpa berkedip layaknya Cao Cao dalam Sam Kok, ternyata masih punya liangsim.


Bos pun benar-benar tutup total usahanya. Sebab, jika memaksa buka yang berujung diketahui publik hingga viral, bakal membuat susah ipar dan besannya.


H-5 Ramadan sebelum pengumuman resmi pemerintah, bos memberi seluruh karyawannya uang saku yang dianggap cukup untuk pengganti libur. 


Nominalnya setara UMR.


Sayangnya, kami yang biasa kerja di dunia malam, sudah terlena mendapatkan uang melimpah dengan mudah. Alhasil, uang saku dari bos justru banyak yang sudah habis saat awal Ramadan.


Termasuk, gw yang biasa mengandalkan tip dari tamu. Khususnya, saat raja-raja kecil datang.


He he he...


Nah, seperti yang gw utarain di awal, ga semua karyawan beruntung kayak gw yang punya hubungan dengan raja-raja kecil itu.


Alhasil, mereka lintang pukang dalam menyambut Ramadan 1447 H ini. Sebisa mungkin beberapa kali gw bantu mereka dengan membelikan makanan untuk sahur atau buka.


Atau, ada yang anaknya nangis minta baju lebaran. Kalo harganya masih masuk akal, gw bantu belikan online.


Sedihnya, karena gw dan beberapa teman yang beruntung ga bisa terus-terusan kasih mereka. Maklum, kami terkendala keterbatasan dana.


Alhasil, beberapa ada yang kembali nyebur. Padahal, gw dan mereka sebelumnya udah lama kering.


Baik itu "jualan langsung", via agen, atau aplikasi BO.


Sedih sih. 


Namun, ya mau gimana lagi. Gw memahami tindakan mereka.


Toh, orang yang hanyut di sungai akan meraih apa saja benda yang lewat di depannya. Jangankan batang pohon atau dahan, bahkan rumput pun bakal dipegangnya.


Sebenarnya, masih banyak yang mau gw ceritain. Hanya, karena satu dan hal lain, gw sudahi cukup sampai di sini.


Mungkin, jika situasi sudah kondusif, gw bakal ceritera panjang lebar. Termasuk, tentang raja-raja kecil yang royal dan menggemaskan itu.


Selamat Idul Fitri 1447 H.

Salam dari kami, kelompok marjinal yang kerap terlupakan.***



*       *       *


- Jakarta, 16 Maret 2026





Jumat, 13 Maret 2026

Mengetuk Pintu Langit


POLA macet di Jakarta dan mayoritas kota Indonesia lainnya kemungkinan berubah saat Ramadan. Pada hari-hari biasa, jalanan padat sejak pukul 16.00 WIB hingga 20.00 WIB.


Sementara, pada Ramadan ada pergeseran waktu. Demikian catatan saya sebagai ojek online (ojol) saat menjelajah di empat kotamadya ibu kota, minus Jakarta Timur.


Kemacetan berlangsung sejak pukul 15 00 WIB. Puncaknya, pada pukul 17.00 WIB hingga jelang maghrib dengan aktivitas warga yang ingin pulang cepat untuk buka di rumah, beli takjil, ngabuburit, hingga reuni buka bersama (bukber).


Nah, usai buka puasa, justru jalanan lenggang. Baik itu Sudirman, Daan Mogot, Thamrin, Gatot Subroto, dan jalan raya lainnya minus tol yang tentu saya tidak catat.


Biasanya, saat itu warga sudah sampai di rumah atau tempat bukber. Dilanjutkan tarawih berjamaah.


Setelah pukul 20.00 WIB, macet kembali. Jalanan pun merayap lagi hingga pukul 23.00 WIB sepanjang Ramadan.



*       *       *


USAI mengantar penumpang di Stasiun Cawang atas, tiba-tiba sepeda motor saya agak berat pas turunan MT. Haryono. Saya pun menepikan si kuda besi adalan sehari-hari ini.


Ternyata, ban bocor. Ada paku ukuran sedang yang menancap.


Untungnya tubeless. Jadi, saya masih bisa mengendarai hingga ke tambal ban terdekat.


Beda lagi kalo pakai ban dalam. Jika bocor ya harus langsung ditambal.


Saat lagi mencet ban, ada sedan mewah asal Jepang yang merupakan sub brand untuk pasar Amerika Serikat (AS). Mobil tersebut berhenti di samping saya yang memang kebetulan lenggang karena baru jam berbuka puasa.


Seorang pria muda sekitar usia 30 tipis-tipis keluar. Saya yang baru saja memencet ban langsung berdiri.


Kirain saya, pria ini mau tanya alamat. Di pintu samping keluar wanita yang kemungkinan istrinya diikuti pintu belakang dengan anak perempuan.


"Kenapa bro, motornya?" kata pria itu mengawali percakapan dengan ramah.


"Biasa mas, bocor," saya menjelaskan.


"Wah itu ada pakunya ya," tuturnya ikutan jongkok.


"Iya, untung paku biasa. Nancap masih bisa jalan, kalo paku jari-jari payung yang dalamnya berongga, bisa abis ban."


"Ada tambal ban di sini?"


"Banyak mas. Ini masih aman."


"Bro udah buka puasa?"


"Udah mas. Terima kasih."


Pria itu kemudian seperti kasih kode ke anak perempuannya yang membawa bungkusan besar makanan cepat saji.


"Oom, ini buat buka puasa bareng keluarga Oom?" Anak yang kemungkinan masih TK atau SD ini menyodorkan bungkusan plastik besar berwarna putih itu dengan ramah.


"Terima kasih dik, Om udah makan. Ini mau lanjut lagi," saya menolak dengan halus.


Anak tersebut kembali melihat ayahnya. Ga lama mengangguk.


"Oom ga apa-apa, ini buat keluarga Oom juga di rumah. Tadi kami beli banyak."


"Iya bro, tadi kita udah makan di tempat. Masih ada beberapa bungkus. Ambil aja buat keluarga di rumah ya."


"Bener mas, ini saya juga baru beli pas abis maghrib," saya memotong.


Saya pun membuka jok motor yang berisi bungkusan gorengan dan kolak biji salak yang saya beli usai buka. Saya memang punya kebiasaan beli takjil sesudah maghrib ke pedagang yang dagangannya masih banyak atau sepi.


Ya, untuk ikut melariskan dagangan mereka. Sumpah, kita beli takjil ke pedagang yang sepi atau yang masih banyak saat maghrib lewat itu feelnya beda dibanding saat kita beli ke pedagang yang ramai atau laku sebelum maghrib.


Sebab, pedagang akan melayani dengan sangat khidmat saat kita beli di dagangan yang sepi atau usai maghrib. Ini udah saya lakuin dalam beberapa tahun terakhir.


Secara, ibu saya dulu dagang takjil yang bahkan pernah ga habis hingga tarawih yang rahasianya baru terbongkar usai tidak jualan lagi. Jadi, saya berusaha untuk ikut melariskan dagangan yang sepi atau masih banyak seusai maghrib.


Artikel terkait: Belilah Kolak dan Cemilan Buka Puasa di Pedagang yang Sepi (https://www.roelly87.com/2024/03/belilah-kolak-dan-cemilan-buka-puasa-di.html)


"Udah bro, ga apa-apa. Anak saya tadi puasa full, jadi minta bukber di luar. Nah, kebetulan kami beli banyak. Mubazir kalo ga dimakan," pria itu melanjutkan.


Karena ga enak untuk menolak pemberian tulusnya, saya pun menerima. Apalagi, bocah perempuan itu megangnya agak berat karena bungkusan warna putih isinya terlihat beberapa nasi, ayam, dan minuman cup.


"Terima kasih ya dik," kata saya menyambut uluran bocah tersebut.


"Sama-sama Oomnya."


"Kuat dik puasanya? Udah berapa hari full?"


Bocah itu menghitung jemari tangannya. Tingkahnya sungguh lucu.


"Delapan hari om. Adiknya full kalo libur sekolah aja. Kalo masuk, setengah hari. Namun, beberapa kali dipaksain sendiri sampe kuat," sang istri menimpali dengan semringah.


"Iya Oom. Delapan hari," bocah itu memperlihatkan angka delapan lewat jemari pada kedua tangannya.


"Ih keren. Masih kecil udah banyak full. Mantul ya dik," kata saya tersenyum. 


Saya ga maksud memuji. Namun, seusianya udah puasa full seharian itu bagus. 


Sebab, saat saya sepantaran bocah itu dulu, pada dekade 90-an, saya aja sering bolong puasanya.


Ha... Ha... Ha...


"Iya oom. Terima kasih ya," kata sang bocah sambil menggamit adiknya -kemungkinan balita- yang ikut turun dari mobil.


"Terima kasih ya dik. Terima kasih ya mas dan ka," kata saya menjura sambil bersiap menaruh bungkusan itu ke dashboard motor.


"Iya mas. Hati-hati di jalan," kata sang pria dan istrinya kompak. Sementara, bocah perempuan dan adiknya turut 'dadah' di balik pintu belakang dengan jendela yang dibuka seperempat.


Sedan itu berlalu secara perlahan. Saya pun siap menuju tambal ban.


Namun, saya merasa ada yang aneh.


Ketika mengecek ban dan sekitar motor tidak ada yang janggal. Begitu juga dengan area sekitar yang tidak ada ketinggalan sesuatu dari keluarga tersebut.


Ternyata...


Saat pandangan saya tertuju ke plastik, di bawahnya ada amplop dengan selotip yang nempel. 


Hah?


Refleks, saya ambil langsung amplop itu. Khawatir ketinggalan punya keluarga tersebut.


Hanya, saya tertegun.


Di depannya ada stiker bertulisan yang seperti sudah diprint.


"Selamat berbuka puasa ya bro/sis ojol. Ini sedikit dari kami untuk bro/sis ojol dan keluarga. Salam hangat."


Saya raba amplopnya. Pas dibuka ternyata ada wajah Dwitunggal hingga lima lembar.


Ebuset.


Seketika, saya mau kejar keluarga tersebut untuk mengembalikannya. Namun, mobilnya sudah tidak terlihat.


Entah mereka muter balik di samping Polsek Jatinegara, arah Kalimalang, atau masuk tol. 


Jelas, saya ga bisa mengejarnya.


Yang pasti, saya memang berniat mengembalikan uang ini. Serius.


Saya bukannya menolak rezeki. Saya terbuka untuk menerima pemberian orang lain.


Entah itu makanan atau sembako saat ramadan atau hari biasa. 


Memang, saya memegang teguh adagium, "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah."


Namun, sebagai manusia yang hidup di jalan, saya harus fleksibel. 


Khususnya, saat menjalankan pekerjaan ojol. Setiap hari pasti ada yang memberi tip.


Tentu, saya ga bisa nolak. Secara, tip itu kan tanda kepuasan customer atas pelayanan ojol.


Hal sama berlaku jika saya memesan ojol atau beli makanan. Sudah pasti saya beri tip untuk rekan seperjuangan.


Apalagi, jika tipnya dari customer itu via nontunai. Kan saya ga bisa mengembalikan ke penumpang yang sudah naik kereta, bis, atau sampai rumah.


Jadi, saya harus adaptif. 


Yang utama, pantang bagi saya untuk minta-minta.


Di luar tip penumpang, saya juga sering dikasih makanan atau sembako dari orang lewat. Tentu, saya ga enak hati jika sampai menolak pemberian mereka.


Toh, mereka niat berbagi. Tanpa kamera atau video yang didokumentasikan.


Artikel terkait: Terima Kasih, Orang Baik (3) (https://www.roelly87.com/2024/03/terima-kasih-orang-baik-3.html)


Namun, selain pemberian pria tadi yang sudah terlanjur pergi, saya sudah tiga kali dikasih uang. 


Ya, tiga kali.


Dua diantaranya, saya tolak langsung dengan sopan.


Bukan bermaksud sok kaya, gengsi, atau apa. Namun, bagaimanapun saya ojol.


Saya kerja.


Saya harus jaga marwah profesi ini.


Dua pemberian uang itu -di Roxy dan Gunawarman- saya tolak secara halus.


Sementara, satunya di Pluit, saya terima. Dengan penjelasan sang pemberi yang masuk akal.


Sebab, karena satu hal mereka bernazar. Jika ***nya sudah *** akan menyisihkan rezeki untuk dibagi-bagi ke sekian orang yang ditemui langsung sebagai wujud syukur.


Kebetulan, saya ga sengaja ketemu. Kendati, saya udah nolak beberapa kali.


Namun, mendengar penjelasan kedua pemberi itu yang masuk akal, akhirnya saya pun luluh.


Pasalnya, mereka sudah berusaha, berikhtiar, dan berdoa. Ketika segala upaya mengetuk pintu langit terwujud, mereka pun langsung menunaikan nazarnya.


Saya terharu saat itu. Betapa perjuangan mereka bertahun-tahun untuk menanti kehadiran sang buah hati akhirnya kesampaian.


Alhasil, saya pun menerima pemberian tulus dari mereka. Saling mendoakan yang terbaik.***


*       *       *

- Jakarta, 13 Maret 2026


*       *       *